Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

20 Buku Terbaik 2016

Gambar
Dibanding dua hingga tiga tahun sebelumnya, tahun ini saya membaca lebih sedikit. Jauh lebih sedikit. Sepertinya semakin tahun jumlah buku yang saya baca semakin berkurang. Saya enggak tahu apa alasannya. Mungkin karena tahun ini saya lebih banyak menulis, atau menonton film (saya menonton kurang-lebih seratus film). Barangkali saya memang sedang malas saja. Saya juga membeli buku lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, saya tetap gembira karena hampir semua buku yang saya baca tahun ini adalah buku-buku bagus. Menurut statistik di Goodreads tempat saya mencatat buku-buku yang saya baca, saya membaca 38 buku. Saya nyaris memutuskan tidak lagi membuat daftar buku terbaik tahun ini karena sulit memilih beberapa dari seluruh buku yang saya baca sebagai buku terbaik, karena bagi saya hampir semuanya bagus. Namun, toh saya tetap membuat daftar ini, karena tradisi blog ini saja.

Sebelumnya saya sudah membuat tulisan Dosa Besar yang Membuat Saya Berkeliling Dunia, sem…

Dosa Besar yang Membawa Saya Keliling Dunia

Gambar
1
Dari daftar tujuh dosa besar, rasa iri adalah dosa yang seperti mendarah-daging di dalam diri saya. Saya gampang merasa iri dengan hal-hal yang menurut saya keren. Saya iri pada orang-orang yang bisa menyanyi, melukis, bermain musik, dan jago sepakbola. Saya iri pada orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak saya miliki. Lebih parah lagi, saya masih merasa iri pada orang-orang yang punya ketertarikan sama dengan saya. Misalnya orang-orang yang senang baca buku dan menulis. Saya iri pada teman-teman saya yang bacaannya lebih bagus dan menulis lebih baik.
Untungnya, rasa iri itu jarang menghancurkan saya. Alih-alih, justru membuat saya ingin melakukan apa yang mereka lakukan. Dalam hal ini membaca buku-buku bagus. Sebenarnya baru tiga tahun belakangan saya mulai membaca “buku-buku bagus” (mari tidak berdebat sekarang tentang bagus, kapan-kapan saja lah kalau kita bertemu langsung). Terhitung terlambat kalau dibandingkan teman-teman saya yang sudah membaca buku-buku bagus sejak z…

Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos

Gambar
Kamu pernah membayangkan jadi anak seorang gangster? Saya belum pernah, tapi tertarik memikirkannya. Gimana ya kalau bapak saya dedengkot penjahat? Gimana rasanya tinggal di rumah besar dengan halaman luas yang dibeli hasil bisnis senjata api ilegal dan membunuh orang, punya banyak orang yang jadi bodyguard, melihat bapak saya menyuap para pejabat dan sesekali kedatangan kiriman potongan anggota tubuh dari kaki-tangan yang dibunuh pihak musuh? Tampak seperti kehidupan yang kacau dan menarik.
Omong-omong, kehidupan semacam tadi dimiliki Tochtli, seorang bocah berusia tujuh tahun (sekira kelas 2 SD) yang tinggal bersama ayahnya, seorang gembong narkoba di Meksiko, dalam novela karya Juan Pablo Villalobos, Down the Rabbit Hole. Buku ini debut Villalobos, penulis kelahiran 1973 berkebangsaan Meksiko, yang hingga saat ini telah menerbitkan tiga buku (termasuk Quesadillas dan I’ll Sell You a Dog)
Kali pertama saya melihat buku Villalobos yang ini di sebuah toko buku kecil di kawasan Pasar …

The Seven Good Years, Etgar Keret

Gambar
Apa yang bisa kita pelajari dari membaca buku? Banyak hal. Mengetahui tentang sejarah, belajar bagaimana cara menghadapi penderitaan, atau mengembangkan imajinasi (atau mengembalikan kemampuan berimajinasi yang semakin soak seiring bertambahnya usia). Buku bagus selalu membuat kita belajar sesuatu. Namun, apa yang bisa kita pelajari dari buku yang bercerita secara spesifik tentang hidup orang lain? Apa yang bisa kita dapatkan dari membaca sebuah biografi, otobiografi, atau memoar?
Tahun ini saya membaca cukup banyak buku Etgar Keret. Malah, Etgar Keret satu-satunya penulis yang bukunya paling banyak saya baca tahun ini. Ada lima. Empat di antaranya kumpulan cerita pendek. Satu, yang justru paling saya sukai, adalah buku memoarnya, The Seven Good Years. Isinya tentang fragmen–fragmen pengalaman hidup Keret dalam rentang waktu tujuh tahun, sejak kelahiran anak pertamanya dan kematian ayahnya. Tahun-tahun yang, kata Keret, “Satu-satunya masa ketika saya merasakan jadi ayah bagi seorang …