Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Buku Baru! Elegi Rinaldo

Buku saya ke-10. Novel keempat. "Elegi Rinaldo" terbit bulan depan (Desember 2016), Falcon Publishing.   Elegi Rinaldo sudah bisa dipesan pracetak ( pre-order ) di toko buku daring berikut: Bukabuku Bukubukularis Manakala Bukukita Parcelbuku Demabuku  (IG: @demabuku)

Metafora Padma, The Jakarta Post (14/11)

"'I think that a strong story comes from something that is actually experienced by its writer,' he said. The short stories [in Metafora Padma] are fictional, but are inspired by true events, such as the deadly ethnic conflict between the Dayak and Madurese people in 1996 in Anjongan village in Pontianak, West Kalimantan; his place of birth. The title, Metafora Padma, is taken from one of the 14 short stories. It's about a rendezvous between a woman named Padma, who witnesses 1996 bloody conflict, and a man, who later realizes that the woman he talks to is a ghost. For Bernard, writing about a ghost was not without reason. 'When I was little, I lived in a village where mystical things and supernatural beings existed,' he said." Metafora Padma: A journey back in time, The Jakarta Post (14/11) .

Tidak Benar-Benar Sendirian (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari buku Suddenly, A Knock on the Door * Tiga laki-laki yang pacaran dengannya pernah mencoba bunuh diri. Ketika menceritakan hal tersebut, ia terdengar sedih, tetapi juga agak bangga. Satu dari mereka bahkan berhasil melakukannya: melompat dari atap gedung fakultas humaniora. Tubuhnya ambyar tak keruan, walaupun jika dilihat dari agak jauh dia tampak utuh, bahkan sepertinya mati dengan tenang. Ia tidak ke kampus di hari pemuda itu mati. Teman-temannya yang memberi kabar. Kadang-kadang, saat ia sedang di rumah sendirian, ia bisa merasakan kehadiran pemuda itu; di ruang tamu bersamanya, memperhatikannya. Ketika itu terjadi, mula-mula ia merasa agak takut, tetapi ia senang. Karena ia tahu bahwa ia tidak benar-benar sendirian. Aku? Oh, ia sangat menyukaiku. Suka, tetapi tidak tertarik. Dan hal itu membuatnya sedih, seperti aku yang bahkan merasa lebih sedih. Karena ia sangat ingin tertarik dengan orang sepertiku. Seseorang yang pintar, santun, dan sungguh-s

Beli Metafora Padma

Buku terbaru saya, Metafora Padma , sudah terbit sejak 15 Agustus 2016. Saat ini sudah tersebar ke toko-toko buku di 25 kota di Indonesia: Gramedia, Toga Mas, Jendela, dan toko-toko buku lain. Bagi yang ingin memiliki buku ini, selain dengan mendatangi toko-toko buku tersebut, juga bisa membelinya di toko-toko buku daring. Kelebihan membeli buku di toko buku daring adalah, kamu tidak perlu repot-repot pergi ke toko buku, buku langsung diantar ke alamat, dan biasanya diberi harga diskon. Tentu saja ada ongkos kirim yang mesti ditanggung pembeli. Berikut adalah daftar toko buku daring yang menyediakan Metafora Padma.  Twitter: @kedaiboekoe (085891444731), @katalisbooks (085793042909), @hematbuku20 (087781853710) Instagram: @demabuku (085881449998), @warnabuku (087882023533), @yukbelibukuori (087853358866), @goarbuku (081288456447), @buku_plus (089628519266) Web: www,bukabuku.com , www.bukubukularis,com Hingga hari ini, Metafora Padma sudah tersebar hampir merata di seluru

Peluncuran "Metafora Padma"

Hari Minggu, 31 Juli 2016, buku kesembilan saya, kumpulan cerita Metafora Padma resmi diluncurkan. Bertempat di Gramedia Central Park, Jakarta, buku tersebut untuk kali pertama dijual. Terima kasih untuk Egha Latoya dan Eka Kurniawan, yang juga turut hadir dan bicara pada acara tersebut, masing-masing sebagai ilustrator isi dan perancang sampul bukunya. Metafora Padma akan tersebar merata di toko-toko buku pada tanggal 15 Agustus 2016.

Dua Buku, Sampul Baru

Kabar gembira dari penerbit. Dua buku saya, kumpulan cerita Milana dan novel Surat untuk Ruth sedang dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama. Edisi cetak ulang ini menggunakan wajah baru, sampul hasil rancangan Muhammad Taufiq alias eMTe. Saya sangat suka dengan sampul yang baru ini, terasa lebih suram dan misterius, seperti kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Bagi yang belum sempat memiliki kedua buku ini, sekarang kesempatan baik untuk memilikinya. Namun, jika sudah punya, tetap boleh beli untuk koleksi. Keduanya akan terbit tanggal 15 agustus 2016, bersamaan dengan Metafora Padma .

Metafora Padma: Ilustrasi

Berikut adalah tiga dari empat belas ilustrasi yang akan ada di dalam buku terbaru saya, kumpulan cerita Metafora Padma . Dibuat oleh Egha Latoya , salah satu personel duo penyanyi "The Fatima" yang berada di bawah arahan Manajemen Republik Cinta Ahmad Dhani. Banyak yang mengenal Egha, atau El, sebagai entertainer -- penyanyi dan model-- tetapi belum banyak yang tahu bahwa ia juga menggambar dengan sangat bagus. Itulah yang membuat saya mengajaknya berkolaborasi membuat ilustrasi pendamping cerpen-cerpen di buku terbaru saya. Karya-karya Egha atau El bisa dilihat di galeri instagram: [at]artfromel. Buku Metafora Padma akan terbit lewat Gramedia Pustaka Utama tanggal 15 Agustus 2016.

Metafora Padma

Desain cover oleh Eka Kurniawan . Buku kesembilan saya, kumpulan cerita Metafora Padma, terbit 15 Agustus 2016.

Persoalan Sementara (Jhumpa Lahiri)

Diterjemahkan dari buku  Interpreter of Maladies   (Mariner, 1999) - Surat pemberitahuan bilang ini cuma persoalan sementara: selama lima hari ke depan akan ada pemadaman listrik di tempat mereka, mulai pukul delapan malam dan berlangsung selama satu jam. Satu jalur listrik rusak akibat badai salju terakhir, dan demi memperbaikinya teknisi menggunakan saat-saat malam hari yang cuacanya relatif lebih aman. Pekerjaan perbaikan itu hanya akan berdampak pada rumah-rumah di jalanan yang sunyi dengan barisan pohon di pinggir-pinggir, dekat dengan sederet ruko berdindingkan bata dan tempat troli, yang salah satunya ditinggali oleh Shoba dan Shukumar selama tiga tahun terakhir. “Baik sekali mereka mau memberitahu kita,” Shoba berucap pasrah usai membaca pengumuman itu keras-keras, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri alih-alih terhadap Shukumar. Ia menggeser tali tas kecilnya, yang penuh naskah, hingga terlolos dari pundak, dan membiarkannya tergeletak di lantai dekat pintu masuk

Eka Kurniawan: Aku Menunggu Buku yang Menggangguku

Saya mewawancarai Eka Kurniawan tentang beberapa hal, termasuk novelnya yang terbaru, O.  Hasil wawancara selama kurang lebih dua jam itu kali pertama tayang di Pindai.org .  Ilustrasi: Damar N. Sosodoro Tulisan disunting oleh: Fahri Salam "SETIDAKNYA ada tiga hal,” kata laki-laki itu dengan nada santai tatkala seseorang bertanya kepadanya perihal alasan apa yang selama ini membuatnya menulis, “Pertama, untuk mencatat. Kedua, untuk membagi catatan itu kepada orang lain. Ketiga, mungkin yang terlihat sepele tapi bagiku penting, yaitu untuk bermain-main. Tanpa yang terakhir itu, semuanya akan terasa sekadar aktivitas mekanik.” Kamis, 28 April 2016, saya bertemu Eka Kurniawan di Yogyakarta. Hari itu selepas azan asar, saya sedang duduk santai di pelataran Radio Buku bersama Fairuzul Mumtaz dan Faiz Ahsoul ketika Eka muncul di hadapan kami. Ia mengenakan sepatu hitam, jin biru, dan kaus Joger biru telur asin (bertuliskan “HIDUP INI BISA JADI TAMBAH INDAH, JIKA KITA