Langsung ke konten utama

Terkokang dan Terkunci (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger.


*


Ia berdiri di sana di tengah-tengah gang, sekitar dua puluh meter dariku, kain keffiyeh menyelubungi wajahnya, dan ia mencoba melakukan provokasi dengan bergerak mendekat: “Zspecial Force bangsat,” ia berteriak, logat Arabnya kental.

“Kenapa, oi, pahlawan? Bosmu yang mata satu itu menyodomimu terlalu kasar? Kau jadi susah lari, ya?” Ia membuka risleting celana dan menunjukkan penisnya: “Kenapa, Zspecial Force? Kontolku kurang oke ya buatmu? Tapi cukup oke buat adik perempuanmu, kan? Cukup oke buat ibumu, kan? Cukup oke buat temanmu itu, Abutbul. Gimana kabar dia, Abutbul itu? Sudah baikan si pemuda malang itu? Kemarin kulihat helikopter zspecial mengangkut dia pergi. Dia mengejarku seperti orang gila. Setengah blok dia mengejarku seperti seorang majnun. Blatsh! Mukanya pecah kayak buah semangka.”

Aku menggeser senapanku, sampai aku mendapatkan titik tewasnya dalam arah tembakku.

“Tembak aku, homo!” ia berteriak, kemudian melepaskan pakaiannya dan memancingku. “Tembak di sini.” Ia menunjuk letak jantung di dadanya.

Aku melepas pengaman, kemudian menahan napas. Ia menunggu dengan berkacak pinggang, tampak tidak peduli sama sekali. Jantungnya berada jauh di balik kulit dan dagingnya, terletak dengan sempurna tepat di garis tembakku.

“Kau tak mungkin menembak, pengecut bangsat. Tapi kali-kali saja kalau kau menembak komandanmu yang mata satu itu, dia tak bakal menyodomimu lagi, ya tidak?”

Aku menurunkan senapanku, dan ia kembali menunjukkan sikap penuh kebencian. “Yallah-cepatlah, aku mau balik, nih, bangsat. Besok aku akan ke sini lagi. Kapan kau ditugaskan untuk berpatroli di sini lagi? Jam dua lewat sepuluh? Sampai ketemu besok.” Ia berbalik, beranjak menyusuri gang, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia menoleh ke arahku sambil mencengir: “Titip salam buat Abutbul ya, bilang dari Hamas. Katakan ke dia kami benar-benar minta maaf soal lemparan bata itu.”

“Kenapa, oi, homo?” ia berteriak lagi. “Otakmu rusak gara-gara disodomi terlalu sering oleh komandanmu si mata satu itu?”

Kemudian, aku menyobek kain pelapis seragam lapanganku dan menyelubungi wajahku dengannya. Kini yang tampak hanya sepasang mataku. Aku mengambil senapanku, mengokangnya, dan memastikan pengamannya terpasang. Aku memegang gagang senapan dengan kedua tangan, mengangkatnya ke atas kepala dan mengayunnya beberapa kali, lalu melepaskannya dengan tiba-tiba. Benda tersebut terbang, melayang-layang, kemudian mendarat di tanah, tergeletak tepat di antara kami.

Kini aku persis seperti dirinya. Kini, aku pun memiliki kesempatan untuk menang.

“Itu buatmu, ya majnun,” aku berteriak.

Untuk beberapa saat ia hanya menatapku, terheran-heran. Kemudian, ia bergegas menuju senapan itu. Ia bergerak hendak mengambilnya, dan dalam waktu bersamaan aku berlari ke arahnya. Ia lebih cepat dariku. Ia akan mendapatkannya lebih dulu.

Tapi aku akan menang, karena kini aku persis seperti dirinya, dan dengan senapan di tangannya, ia jadi persis seperti diriku. Ibunya dan adik perempuannya akan jadi orang Yahudi, teman-temannya akan terkapar di ranjang-ranjang rumah sakit, dan ia akan berdiri di sana memandangiku seperti seorang bangsat dengan senapan di tangannya, dan ia tidak akan mampu berbuat apa-apa.

Mana bisa aku kalah?

Ia mengambil senapan itu, kemudian melepas pengamannya-aku terlambat sejauh lima meter. Sebelah kaki menekuk, ia meninting dan menarik pemicu.

Dan kemudian ia melihat apa yang aku lihat sepanjang beberapa bulan berada di tempat ini, di lubang neraka ini:

Senapan itu cuma sampah. Besi seberat tiga setengah kilo yang tak berguna. Betul-betul tidak berfungsi. Percuma saja mencoba. Sebelum ia dapat bangkit, aku sudah menendangnya dengan keras tepat di hidung. Saat ia terguling, aku menjambak rambutnya dan mencopot keffiyeh-penutup wajahnya. Aku menatapnya lekat-lekat. Kemudian, seperti orang sinting, aku menghantamkan wajahnya ke tiang telepon. Lagi dan lagi, lagi dan lagi, lagi dan lagi.


Sekarang mari serahkan dia ke komandan bermata satu untuk disodomi. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.