Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Keluarga Santini Terbang (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger.
 *

Italo melambai dengan tangan kirinya, dan suara drum yang mengganggu pun berhenti. Ia menarik napas panjang dan memejam. Tepat pada saat aku melihatnya dengan kostum yang berkilauan, berdiri tegak lurus di ujung papan loncat, kepalanya nyaris menyentuh langit-langit tenda; seketika semuanya menjadi jelas. Aku akan meninggalkan rumah dan bergabung dengan regu sirkus! Aku juga akan menjadi salah satu dari Santini yang terbang, aku akan melesat di udara seperti seorang setan, aku akan bergelantung pada tali trapeze menggunakan gigiku!
Italo berputar dua setengah kali di udara, dan saat memasuki putaran ketiga, ia melepaskan genggamannya dari Enrico, Santini termuda. Seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan dengan keras. Ayah mengambil kotak popcorn milikku dan melemparkannya ke udara, isinya berjatuhan k…

puisi buat seorang perempuan yang memintaku menulis puisi tentang bagaimana jika aku sebentuk hujan

: g

jika aku jadi hujan aku akan jadi hujan yang menjebak dua kekasih di dalam kamar ketika salah satunya ingin pulang menemui kekasihnya yang lain.
jika aku jadi hujan aku akan jadi hujan yang memberi waktu bagi dua kekasih di sudut kedai kopi ketika salah satunya ingin mengucapkan selamat tinggal dan bersiap pergi.
jika aku jadi hujan aku hujan yang menyembunyikan sepi bagi seorang perempuan di dekat jendela yang menunggu lelakinya kembali dari pertemuannya dengan perempuan lain.
jika aku jadi hujan aku hujan yang memekarkan bunga bagi dada seorang lelaki di beranda yang menunggu perempuannya pulang dari pertemuannya dengan lelaki lain.
jika aku jadi hujan aku menyimpan rahasia-rahasia kata-kata dan doa-doa tak terucap erat dalam basah tubuhku
jika aku jadi hujan aku biarkan luka dan cinta dan rindu menjadi panjang, kekal dalam dingin dan deras jatuhku

2016

The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoyevsky

Gambar
Membaca karya sastra klasik adalah sesuatu yang belum pernah saya lakukan. Terlalu banyak hal yang membuat saya enggan, atau setidaknya terus menunda membaca karya-karya sastra klasik, dan semua itu berakar pada macam-macam prasangka: semua buku sastra klasik “berat”, ukurannya terlalu tebal, bahasanya sulit dimengerti, dan seterusnya. Sebagai penulis, saya merasa “harus” membaca karya sastra klasik, untuk alasan yang juga tidak benar-benar saya pahami. Mungkin karena beberapa penulis kesukaan saya membaca banyak karya sastra klasik. Sebagai pembaca, saya menganggap membaca karya sastra klasik sebagai suatu tantangan, yang cepat atau lambat harus saya jawab. Saya memutuskan tahun ini adalah waktunya untuk menjawab tantangan itu.
Karya sastra klasik pertama yang saya baca: The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoyevsky (1821-1881). Ia penulis Rusia, dan novel tersebut merupakan karya terakhirnya. Sepanjang 60 tahun usianya, ia menulis cukup banyak buku, sekitar 20 hingga 30. Beberapa yang…

tentang melamun

Gambar
menyimak manusia di jalan raya itu kegiatan yang menyenangkan.
meski lebih sering kerja di dalam ruangan, saya senang berada di luar. merasakan panas matahari dan angin yang berembus. melihat orang-orang, motor, dan mobil yang bergerak.
saya suka melihat sesuatu yang bergerak. karenanya saya senang memperhatikan jalanan. di jalan semuanya bergerak. pergerakan itu memperlihatkan sesuatu yang hidup. saya senang berdiam dan memperhatikan orang-orang lain bergerak. saya suka membayangkan apa yang sedang mereka lakukan, atau ke mana mereka menuju.
di luar ruangan, di jalan raya, semuanya tampak hidup, karena semuanya bergerak. ada yang santai, banyak yang tergesa-gesa. tapi kalau kita perhatikan, sebenarnya orang-orang tidak pernah berhenti bergerak. bahkan ketika tubuh kita berhenti, perasaan dan pikiran kita bergerak.
*
kalau belum pernah, coba sesekali pergi ke tempat makan/minum di luar ruangan dekat jalan raya. lalu cari seseorang dan perhatikan rautnya. kalau sering nongkrong di kaf…

Istanbul, Orhan Pamuk

Gambar
Terutama bagi perantau seperti saya, sulit untuk menulis tentang sebuah kota. Maksudnya menulis secara komperehensif, bukan hanya soal keindahannya atau bukan pula semata mengutuki kesemrawutannya. Seperti misalnya: mudah bagi seseorang menulis panjang-lebar tentang kemacetan Jakarta, tapi bagaimana dengan sisi-sisinya yang lain? Sisi-sisi yang indah, menarik, dan menyedot setiap orang dari berbagai tempat di Indonesia hingga mendatangi kota tersebut. Tapi, mungkin menulis tentang sebuah kota memang persoalan memilih, sama seperti menulis tentang hal-hal lain. Menulis seperti memotret, kita memilih mana yang ingin kita perlihatkan dan mana yang tidak ingin kita perlihatkan.
Orhan Pamuk, dalam memoarnya Istanbul: Memories and the City (Vintage, 2006: terjemahan bahasa Inggris oleh Maureen Freely) memilih satu hal: Melankoli. Dari banyak yang bisa ia tulis tentang kota di Turki yang telah ia tinggali selama lebih dari setengah abad itu, ia memilh subyek melankoli. Kenapa melankoli? Men…

The Naïve and the Sentimental Novelist, Orhan Pamuk

Gambar
Berangkat dari esei Friedrich Schiller (penyair, filsuf, dan sejarawan asal Jerman) berjudul, dalam bahasa Inggris, On Naïve and Sentimental Poetry, yang ditulis tahun 1795-1796, Orhan Pamuk menuliskan eseinya sendiri. Esei tersebut sebetulnya adalah materi kuliah umum yang ia sampaikan di Harvard University sekitar tahun 2010 (tak ada keterangan khusus soal ini sebetulnya, saya hanya menebak demikian karena seperti ditulis Pamuk dalam epilog bukunya, pada Oktober 2009 ia bertemu dengan seorang teman yang mengajaknya memberi kuliah di Harvard dan ia masih menggodok konsep materinya, jadi mungkin ia menyampaikan kuliah tersebut di tahun 2010). Materi kuliah umum Pamuk itu kemudian dibukukan dan terbit dengan judul mirip esei Schiller yang ia jadikan inspirasinya: The Naïve and the Sentimental Novelist (Vintage, 2010).
Saya belum membaca esei Schiller itu, tapi jika melihat apa yang disampaikan Pamuk lewat bukunya, barangkali kita bisa juga membayangkan isi esei Schiller kurang-lebih s…