9 Februari 2016

Etgar Keret Sang Pengejek



Jika Anda membaca cerpen-cerpen Etgar Keret yang ukurannya bisa dikatakan super pendek (mengingatkan saya kepada cerpen-cerpen penulis Amerika Latin) Anda akan menemukan selera humor yang menyenangkan dari seorang laki-laki Yahudi, yang, di beberapa cerpennya tampak menghindar dari hasrat membahas kondisi sosial politik secara mentah tetapi memilih mengarang situasi-situasi fiksional yang amat imajinatif dan sering tidak tertebak juntrungannya. Sebentar saja Anda akan tahu, ketika membaca cerpen-cerpen Keret, bahwa orang ini gemar mengejek. Ia mengejek banyak hal: situasi, cara pandang, bahkan rasa optimis dan kebahagiaan. Tetapi di lain kesempatan ia juga, tanpa ambisius dan lebih kepada efek alamiah yang muncul di alur cerita-ceritanya, menumbuhkan kepercayaan baru pada hal-hal baik dan bersahaja.

Dua hal itulah yang setidaknya saya tangkap ketika membaca cerpen-cerpennya di kumpulan cerpen The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Kumpulan tersebut berisi 22 cerpen dengan satu di antaranya berukuran sepanjang novela, yakni Kneller’s Happy Campers, yang jadi salah satu cerita favorit saya dalam buku ini. Sebagian besar diterjemahkan dari bahasa Ibrani oleh Miriam Shlesinger-penerjemah yang sama untuk kumpulan cerpen The Girl on the Fridge, beberapa yang lain diterjemahkan oleh Margaret Weinberger-Rotman, Anthony Berris, Dan Ofri, dan Dalya Bilu. Tidak diberi keterangan rinci cerpen yang mana diterjemahkan oleh siapa, tapi sepanjang membaca saya tidak merasa ada perbedaan hasil terjemahan yang kentara antara satu cerpen dengan yang lain. Menunjukkan bahwa kualitas hasil terjemahannya merata.

Kembali ke persoalan mengejek. Pada awalnya saya mengira Etgar Keret hanya seorang cerpenis yang punya selera humor bagus, tapi ketika membaca ulang cerpen-cerpennya, kurang tepat rasanya jika dikatakan bahwa karakter humoris Etgar Keret dipandang muncul sebagai hasil dari kemampuannya melucu, karena ia tidak sedang melucu-ia mengejek. Melucu dan mengejek adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama dilakukan dengan tujuan ingin membuat orang lain tertawa, sementara yang terakhir dilakukan benar-benar untuk melecehkan atau merendahkan sesuatu. Jika akhirnya ejekan tersebut memunculkan kelucuan dan membuat kita tertawa, tentu saja kemampuan si pengejek patut diacungi jempol. Itu menunjukkan, saya kira, si pengejek telah menyentuh sesuatu yang berada di balik kesadaran kita. Ia menyentuh sesuatu yang tadinya tidak pernah kita hirau, atau mungkin sesuatu yang diam-diam ingin kita ejek juga tetapi kita terlalu penakut untuk mengejek hal tersebut, karena barangkali itu sesuatu yang juga terlihat mulia.

Kegemaran Etgar Keret mengejek sudah terlihat dari cerpen pertama dalam The Bus Driver Who Wanted to be God, yang berjudul kurang lebih sama dengan bukunya: The Story About a Bus Driver Who Wanted to be God. Ceritanya tentang, ya, seorang sopir bus yang dulunya ingin menjadi Tuhan tapi gagal dan kini jadi sopir bus. Meski demikian ia tetap bahagia karena menjadi sopir adalah cita-cita keduanya setelah menjadi Tuhan. Sopir bus ini punya aturan ketat mengenai keterlambatan penumpang: ia tidak mau memperlambat busnya bagi siapapun yang terlambat naik. Prinsip hidup si sopir bus kemudian dibentrokkan dengan jalan hidup seorang pemalas bernama Eddie. Mungkin tak tepat disebut pemalas, tapi Eddie orangnya pasrahan dan tak pernah mengejar apapun dalam hidupnya. Ia tidak punya ambisi atau keinginan menggebu terhadap apapun. Sampai suatu hari ia bertemu dengan Kebahagiaan (‘secicip Kebahagiaan’, Keret mengoreksi narasinya) dalam wujud seorang gadis. Ia menyukai si gadis. Mereka membuat janji bertemu. Dalam usahanya menepati janji temu itulah Eddie terhambat oleh si sopir bus yang sama sekali tidak toleran terhadap siapapun yang telat naik bus (Eddie punya “penyakit” selalu bangun sepuluh menit terlambat dari alarm yang telah ia pasang sendiri) Tapi kemudian di akhir cerita kita ditunjukkan bahwa Eddie gagal menemui Kebahagiaan karena Kebahagiaan telah memiliki pacar, dan si sopir bus teringat akan cita-citanya dulu yang ingin menjadi Tuhan, dan ia akhirnya melanggar prinsipnya sendiri dan menjadi sopir bus yang pengasih dan pengampun-seperti sosok Tuhan yang dahulu ia inginkan-- kala ia menunggu Eddie yang berjalan lunglai menuju halte sepulang dari pertemuannya dengan Kebahagiaan yang gagal total. Tentu saja semua ini disampaikan melalui gaya bernarasi yang santai dan kadang-kadang cenderung nyeleneh.

Cerita kedua yang saya kira dapat menjadi contoh untuk meneliti kegemaran Keret mengejek sesuatu adalah cerita berjudul Hole in the Wall-- tentang seorang remaja yang bertemankan malaikat. Dikisahkan begini: ada mitos yang mengatakan bahwa jika seseorang meneriakkan keinginannya di hadapan sebuah lubang antah-berantah di satu sisi dinding di sudut kota (lubang ini, kata narator, tadinya bekas mesin ATM yang sudah dicabut gara-gara tak pernah ada yang pakai) keinginannya akan terkabulkan. Tokoh utama cerita berteriak ia ingin seorang sahabat berupa malaikat, dan ternyata keinginannya itu benar-benar terwujud. Tapi karena ini adalah cerita yang ditulis oleh Etgar Keret, kita tentu tidak akan berharap malaikat yang muncul adalah sosok malaikat pada umumnya yang terlihat indah, menawan, megah, dan dapat melakukan hal-hal ajaib. Malaikat dalam cerita ini seorang hunchback, kerap mengenakan mantel untuk menyembunyikan sepasang sayapnya, dan sering minta duit. Suatu hari tokoh utama menyuruh si malaikat terbang, karena sepanjang tahun-tahun pertemanan mereka si malaikat sama sekali tak pernah terbang-sesuatu yang tentu saja terlihat ganjil karena siapapun tahu malaikat seharusnya bisa terbang. Si malaikat enggan terbang sebab ia tidak ingin ada yang melihatnya terbang, jika tidak sosok malaikatnya akan terbongkar. Adegannya adalah mereka berdua sedang duduk-duduk malas di atas atap rumah. Tokoh utama memancing si malaikat untuk berdiri di tepian atap, lalu sekonyong-konyong mendorongnya hanya agar si malaikat terpaksa harus terbang. Tapi apa yang terjadi, ternyata si malaikat jatuh ke jalanan, ambruk menghantam aspal “bagai sekarung kentang”. Ketika itu tokoh utama kita sadar bahwa si malaikat bukanlah malaikat, hanya pembual yang memiliki sepasang sayap.

Melalui dua cerpen tadi Keret mengejek impian manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Lewat narasinya yang santai, ia mendorong saya dari tepian atap rumah hingga ambruk menghantam aspal, hanya agar saya sadar bahwa Kebahagiaan tidak selalu hadir lewat situasi-situasi yang utopis, melainkan mewujud dalam sesuatu yang realistis yang, kadangkala, tidak muncul secara megah ataupun berbunga-bunga. Bahkan dalam cara pandang lebih ekstrem, kita bisa menganggap Keret sedang berkata bahwa tidak ada yang namanya malaikat, dan tidak ada yang namanya Kebahagiaan. Lalu apa yang ada? Yang ada adalah kesialan, nasib buruk, dan kebaikan yang muncul dari perbuatan remeh-temeh orang lain (seperti sopir bus yang melanggar prinsipnya dan menunggu Eddie).


Banyak yang diejek Keret dalam cerpen-cerpennya: politik, paradigma, perang, kematian-- tapi saya rasa Anda akan lebih senang jika membaca sendiri cerpen-cerpennya dan mungkin menemukan hal selain yang saya temukan. Buku bagus selalu memberi efek yang beragam bagi setiap pembaca dan pembacaan. Saya harap Anda menemukan kesenangan dalam cerpen-cerpen Etgar Keret karena ia adalah penulis cerpen yang barangkali, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, akan menjadi cerpenis favorit saya sepanjang masa. ***

1 komentar:

kharis alimoerdhoni arief mengatakan...

Dan saya mulai membaca tulisan Etger Keret di NewYorker. SUKA