21 Februari 2016

Keluarga Santini Terbang (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger.

 *


Italo melambai dengan tangan kirinya, dan suara drum yang mengganggu pun berhenti. Ia menarik napas panjang dan memejam. Tepat pada saat aku melihatnya dengan kostum yang berkilauan, berdiri tegak lurus di ujung papan loncat, kepalanya nyaris menyentuh langit-langit tenda; seketika semuanya menjadi jelas. Aku akan meninggalkan rumah dan bergabung dengan regu sirkus! Aku juga akan menjadi salah satu dari Santini yang terbang, aku akan melesat di udara seperti seorang setan, aku akan bergelantung pada tali trapeze menggunakan gigiku!

Italo berputar dua setengah kali di udara, dan saat memasuki putaran ketiga, ia melepaskan genggamannya dari Enrico, Santini termuda. Seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan dengan keras. Ayah mengambil kotak popcorn milikku dan melemparkannya ke udara, isinya berjatuhan ke atas kepalaku.

Anak-anak lain sampai harus kabur dari rumah mereka tengah malam untuk bergabung dengan regu sirkus, tapi Ayah malah mengantarku dengan mobilnya sendiri. Ia dan Ibu membantuku mengepak perlengkapan di dalam koper. “Ayah bangga denganmu, Nak,” katanya seraya memelukku, beberapa saat sebelum aku mengetuk pintu mobil caravan milik Papa Luigi Santini. “Sampai jumpa, Ariel-Marcello Santini. Dan ingatlah Ayah dan Ibu setiap kali kamu terbang melayang di atas lantai sirkus.”

Papa Luigi membuka pintu karavan. Ia mengenakan celana panjang berkilau-kilau-kostum sirkusnya-dan baju piyama dengan motif garis-garis.

“Saya ingin bergabung, Papa Luigi,” aku berbisik. “Saya juga ingin jadi Santini Terbang.”

Papa Luigi melihatku, dari atas sampai bawah, dengan tatapan yang optimis, kemudian meremas-remas otot lenganku yang ramping dengan ketertarikan tertentu, dan akhirnya mempersilakanku masuk.

“Banyak sekali anak-anak yang ingin jadi Santini Terbang,” ia berkata setelah sejenak hening. “Apa yang membuatmu berbeda?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya menggigit bibirku dan diam.

“Apa kau pemberani?” tanya Papa Luigi.

Aku mengangguk.

Dengan sangat tiba-tiba, Papa Luigi melayangkan satu pukulan ke arah wajahku. Aku tidak bergerak sedikit pun, bahkan tidak juga berkedip.

“Hmm…,” Papa Luigi mengusap-usap dagunya. “Apa kau gesit?” ia bertanya. “Kau pasti tahu Santini Terbang terkenal dengan kegesitannya.”

Lagi, aku mengangguk, seraya menggigit bibir bawahku.

Papa Luigi merentangkan tangan kanannya, di atas telapaknya satu koin seratus lira, dan ia memberiku isyarat dengan alisnya yang berwarna perak. Aku berhasil merebut koin sebelum ia kembali mengepalkan tangan. Papa Luigi mengangguk dengan bangga.

“Satu ujian lagi,” ia menyergah, “ujian kelenturan badan. Kau harus menyentuh jempol kakimu tanpa menekuk lutut.”

Aku merilekskan tubuhku, menghela napas panjang, memejam, persis seperti abangku Italo ketika malam itu ia menggelar pertunjukannya. Aku membungkuk dan mengulurkan tangan. Aku bisa melihat ujung-ujung jemariku hanya berjarak beberapa milimeter dari tali sepatuku, nyaris menyentuhnya. Tubuhku menegang penuh seperti seutas tali yang sewaktu-waktu bisa putus—tapi aku tidak menyerah. Empat milimeter saja yang memisahkanku dengan keluarga Santini. Aku tahu aku harus menerobos batas tersebut.

Dan kemudian, tiba-tiba saja, aku mendengar suara itu. Seperti suara kayu dan kaca retak dalam waktu bersamaan, begitu nyaring hingga memekakkan telinga. Ayah, yang sedang menunggu di luar, terkejut dengan suara tersebut dan tergopoh-gopoh masuk ke dalam karavan.

“Kamu baik-baik saja?” ia bertanya dan mencoba memapahku.

Aku tidak bisa meluruskan punggungku. Papa Luigi menggendongku dengan tangannya yang kokoh, dan kami semua pergi ke rumah sakit.

Hasil rontgen menunjukkan ada sekeping lempengan terselip di antara titik L2 dan L3 tulang punggungku. Saat aku melihat foto rontgen dengan bantuan lampu, aku bisa melihat semacam bercak hitam, seperti tetesan kopi, pada tulang punggung yang berwarna transparan. Pada amplop cokelat, tertulis dengan pena-nama “Ariel Fledermaus”. Bukan Marcello, bukan pula Santini-hanya tulisan jelek tersebut.


“Kau, kan, bisa saja menekuk lututmu,” bisik Papa Luigi seraya mengusap airmatanya. “Kau bisa saja menekuk lututmu sedikit. Aku tidak akan melarangnya.” ***

2 komentar:

Muhae Man mengatakan...

ceritanya etgar keret bagus-bagus, sindiran kayak gimana gitu, sejauh ini saya cuma baca cerpennya di blog bang bara, aku suka yang supir bis sama terkokang terkunci itu. sayang gak ada bukunya yang diterjemahin ke indonesia, karena lebih enak baca dari buku, kalau beli yang bahasa inggris pasti mahal hahah... terjemahin jadi buku dong bang.

benz mengatakan...

belum kepikiran buat menerjemahkan satu buku. untuk saat ini, cerpen saja.