9 Februari 2016

The Naïve and the Sentimental Novelist, Orhan Pamuk




Berangkat dari esei Friedrich Schiller (penyair, filsuf, dan sejarawan asal Jerman) berjudul, dalam bahasa Inggris, On Naïve and Sentimental Poetry, yang ditulis tahun 1795-1796, Orhan Pamuk menuliskan eseinya sendiri. Esei tersebut sebetulnya adalah materi kuliah umum yang ia sampaikan di Harvard University sekitar tahun 2010 (tak ada keterangan khusus soal ini sebetulnya, saya hanya menebak demikian karena seperti ditulis Pamuk dalam epilog bukunya, pada Oktober 2009 ia bertemu dengan seorang teman yang mengajaknya memberi kuliah di Harvard dan ia masih menggodok konsep materinya, jadi mungkin ia menyampaikan kuliah tersebut di tahun 2010). Materi kuliah umum Pamuk itu kemudian dibukukan dan terbit dengan judul mirip esei Schiller yang ia jadikan inspirasinya: The Naïve and the Sentimental Novelist (Vintage, 2010).

Saya belum membaca esei Schiller itu, tapi jika melihat apa yang disampaikan Pamuk lewat bukunya, barangkali kita bisa juga membayangkan isi esei Schiller kurang-lebih sama dengan milik Pamuk, hanya berbeda topik. Jika Pamuk bicara tentang novelis (dan di beberapa tempat ia juga bicara tentang membaca novel), maka Schiller bicara tentang puisi, atau seperti dijelaskan Pamuk, dapat dilihat sebagai esei panjang tentang karya seni secara umum. Catatan ini tentu saja tidak akan membahas esei Schiller. Tapi keterangan soal esei Schiller penting disampaikan, seperti Pamuk menyampaikannya, dalam rangka memperlihatkan bahwa satu karya seorang penulis dipengaruhi oleh karya penulis yang lain.

Jadi, mari kita mulai membicarakan buku nonfiksi Orhan Pamuk ini.

Secara umum, apa yang dibicarakan Pamuk terangkum oleh judul dan tagline bukunya: The Naïve and the Sentimental Novelist: Understanding What Happens When We Write and Read Novels (diterjemahkan dari bahasa Turki oleh Nazim Dikbas). Dalam bukunya yang termasuk tipis itu (tidak sampai 200 halaman) Pamuk berbicara cukup banyak tentang jenis-jenis penulis. Lebih tepatnya dua, yakni penulis yang naif dan yang sentimental. Selain itu, Pamuk juga berceloteh tentang apa saja yang ia alami ketika membaca novel. Saya kira ini yang membuat bukunya terasa lebih menyenangkan; ia tidak hanya menjelaskan bagaimana seorang penulis ketika menuliskan novelnya, tapi juga bagaimana pengalaman otentik seorang penulis ketika membaca buku.

Soal penulis yang naif dan yang sentimental, Pamuk menjelaskan lewat narasi yang sangat mengalir (setiap membaca tulisan Pamuk kita akan selalu merasa ia sedang bicara langsung kepada kita) bahwa yang pertama adalah penulis yang menuliskan novelnya dalam kondisi ekstatik, atau mabuk, sedang yang terakhir adalah yang menuliskan novelnya dengan kesadaran tinggi, ketelitian akut, dan bahkan kesediaan untuk merepotkan diri menulis sekaligus membaca referensi demi keabsahan dan kekuatan teks novelnya. Penulis naif adalah penulis yang membiarkan dirinya mengalir bersama inspirasi, goes with the flow, sedang penulis sentimental adalah penulis yang perlu menyiapkan semua hal sebelum menulis: bahan riset, sinopsis, kerangka novel, dan seterusnya (apakah di titik ini Anda mulai mengira-ngira jenis penulis yang manakah diri Anda?)

Selain memaparkan pengertian penulis naif dan penulis sentimental, seperti saya katakan tadi, Pamuk juga meletakkan definisi tersebut dalam konteks membaca novel (atau bisa juga buku pada umumnya). Ada pembaca yang naif, ada yang sentimental. Sedikit mengulang penjelasan di paragraf sebelum ini, pembaca naif adalah mereka yang membaca dengan perasaan tenggelam sepenuhnya, terbawa oleh arus plot, percakapan, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam buku; sedang pembaca sentimental adalah mereka yang, sembari membaca buku, terus meneliti, mencatat, menilai, serta membedah misalnya, bagaimana cara penulis menyusun dialog-dialog, merangkai plot, membuat pembuka dan penutup cerita, dan seterusnya. Secara singkat bisa dirangkum begini: penulis/pembaca yang naif adalah yang menulis/membaca dengan “mabuk”, sedang penulis/pembaca yang sentimental adalah yang menulis/membaca sembari menganalisis.

Di bagian-bagian lain, Pamuk juga bercerita tentang masa-masa mudanya saat ia melahap banyak novel, yang kelak jadi bahan bakar inspirasinya sendiri sebagai penulis. Selebihnya-- dan ini ditulis dengan cukup rinci, saya kira-- Pamuk tanpa ragu memaparkan bagaimana cara ia menuliskan novel-novelnya selama ini, secara teknis maupun konseptual. Pada bab “Literary Character, Plot, Time” ia menjelaskan bagaimana protagonis dalam novelnya muncul, terkait dengan tujuan penciptaan dan fungsi karakter itu sendiri, serta bagaimana karakter menjalani kehidupan menggunakan alur waktu tertentu yang telah diciptakan untuknya; bab “Words, Pictures, Objects” menjelaskan bagaimana novel ditulis dengan pendekatan visual dan dinikmati dengan cara serupa; bab “Museums and Novels” menjelaskan bagaimana novel dapat berfungsi seperti sebuah museum dalam hal mengabadikan objek-objek dan budaya dari suatu bangsa di kurun waktu zaman tertentu; dan terakhir bab “The Center” membongkar tentang apa itu pusat-inti novel dan bagaimana pentingnya seorang penulis menemukan atau menciptakan pusat-inti novelnya. Semua ini, saya kira, sangat menarik dibaca jika Anda sendiri adalah seorang penulis atau setidaknya ingin tahu bagaimana seorang penulis bekerja.

Dalam pemaparan mengenai elemen-elemen novel, untuk mendukung teorinya, Pamuk kerap menggunakan, sebagai contoh, karya dari penulis-penulis yang ia sukai: Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky, Gustave Flaubert, Homer, James Joyce, Miguel de Cervantes, Herman Melville, dan tidak luput pula Ahmed Hamdi Tanpinar, penulis Turki seperti dirinya. Berkali-kali ia mengutip bagian dari Anna Karenina, dan tidak kurang seringnya memuji betapa bagusnya novel tersebut. Ia juga menyebut The Brothers Karamazov, Ulysses, Moby-Dick, dan mengambil bagian yang relevan dari buku-buku itu untuk menjelaskan apa yang sedang ia bicarakan. Sehingga buku The Naïve and the Sentimental Novelist ini bisa juga dilihat sebagai rekomendasi bacaan dari Pamuk sendiri, dan sejujurnya bagian yang paling saya sukai dari buku ini adalah ya, ini. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendapat daftar bacaan dari penulis yang kita sukai. Karena tentu saja dari buku-buku yang direkomendasikan secara tidak langsung itu, kita dapat belajar lebih banyak hal lagi.

The Naïve and the Sentimental Novelist adalah buku nonfiksi Pamuk pertama yang saya baca. Saya sangat menikmatinya, dan meski secara format merupakan karya nonfiksi, Pamuk menuliskannya dengan cara bernarasi yang mirip novel. Jika kita memasang mode “sentimental” saat membaca bukunya ini, kita dapat melihat bahwa Pamuk benar-benar menyusun alur materi kuliah umumnya sebagaimana ia merancang plot sebuah novel: mulai dari pembuka yang umum, materi yang lebih kompleks, hingga ke penutup yang merangkum keseluruhan ide bukunya. Saya bahkan sempat menggumam, Pamuk sebetulnya tidak sedang menulis buku nonfiksi, melainkan novel. The Naïve and the Sentimental Novelist adalah novel yang disamarkan dengan label nonfiksi.


Saya termasuk yang tidak begitu percaya seorang penulis dapat seketika menjadi penulis yang baik hanya dengan membaca tips menulis dari orang lain, tapi saya ingin bilang bahwa buku Pamuk ini dapat jadi pegangan bagus bagi siapa saja yang mau belajar menulis novel. ***

3 komentar:

zahra firdausiah mengatakan...

bang, kira-kira ada versi terjemahan indonesianya nggak ya...heheheh

benz mengatakan...

Zahra: Sepertinya belum. Tapi saya berencana untuk menerjemahkan sedikit dari buku ini.

Abdi Mulia Lubis mengatakan...

Kalau sudah cetak, aku pesan satu ya bang benz.