27 Maret 2016

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, Yusi Avianto Pareanom





Kisah-kisah petualangan atau pengembaraan hampir tak pernah gagal menarik minat setiap orang, karena pada dasarnya manusia menyukai cerita-cerita, dan cerita yang paling menyenangkan adalah cerita-cerita tentang petualangan atau pengembaraan. Karena di dalamnya sudah barang tentu tersaji seluruh hal yang patut dimiliki oleh sebuah cerita yang bagus: peristiwa-peristiwa menegangkan, ketidakpastian situasi yang menerbitkan rasa penasaran, kekacauan, karakter-karakter unik dengan misi yang bisa saling berbentrokan, kejutan di sana-sini, dan pergolakan emosi setiap tokoh-tokohnya.

Itulah persisnya yang ditawarkan oleh Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, novel perdana Yusi Avianto Pareanom. Sejauh ini, Yusi lebih dikenal sebagai penulis cerita pendek. Cerita-ceritanya cerkas dan penuh kelucuan. Kebanyakan mengambil bentuk tutur seperti sebuah dongeng. Beberapa di antaranya dapat dibaca dalam kumpulan cerita Rumah Kopi Singa Tertawa, buku Yusi yang terbit lima tahun sebelum novel pertamanya. Novelnya, tak lain dan tak bukan adalah perpanjangan dari beberapa cerita di dalam kumpulan itu, jika tidak merupakan induknya.

Pencerita utama atau narator dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah seorang pemuda bernama Sungu Lembu. Ia tangkas karena dibekali ilmu bela diri oleh pamannya, Banyak Wetan, yang adalah seorang perwira. Ia juga pintar dan berwawasan karena ilmu pengetahuan yang ia dapat dari buku-buku milik ayahnya, Lembu Kuning, yang merupakan pejabat pemerintahan di istana sebuah kerajaan kecil di suatu kawasan pesisir bernama Banjaran Waru. Kehidupan Sungu Lembu baik-baik saja sampai suatu tragedi meluluhlantakkan dirinya. Sekelompok prajurit Gilingwesi, kerajaan besar yang telah berkuasa atas wilayah Banjaran Waru, membuat kekacauan di desanya.

Dalam tragedi tersebut, Banyak Wetan ditangkap. Karena ia dianggap terlibat dalam persekongkolan kelompok pemberontak Banjaran Waru yang menyimpan amarah pada kekuasaan Gilingwesi, ia terancam hukuman pancung. Meski demikian, untuk beberapa alasan, hukuman tersebut baru akan dilaksanakan setahun kemudian. Sungu Lembu, menjadi saksi hidup tragedi yang mengubah hidupnya itu, bertekad untuk melakukan apapun demi membebaskan pamannya. Ia memulai perjalanannya dan pada suatu hari bertemu dengan Raden Mandasia, salah seorang pangeran Gilingwesi. Dari sana ia mendapat kesempatan untuk membayarkan dendamnya terhadap Gilingwesi. Menggunakan Raden Mandasia, ia akan mengincar kepala Watugunung, raja Gilingwesi.

Sayang sekali rencana Sungu Lembu tak berjalan semulus yang ia kira. Ia masih muda, baru berusia dua puluh tahun, sebab itu amarahnya lebih besar dan lebih hebat dari kemampuannya menyusun rencana yang matang. Dalam perjalanan bersama Raden Mandasia, kejadian-kejadian tak terkira mengambil tempat dan membelokkan takdir hidupnya. Salah satu perkara unik yang membuat nasibnya makin tak bisa ditebak adalah hobi aneh sang pangeran Raden Mandasia, yakni mencuri daging sapi. Hobi ganjil ini membawa Sungu Lembu kepada serangkaian kesialan, yang jika dilihat dari arah lain bisa jadi mungkin juga keberuntungan,  karena pada akhirnya ia mendapat kesempatan untuk membalaskan dendamnya.

Seperti ditulis di sampul bukunya, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah sebuah dongeng. Penuh fantasi dan peristiwa-peristiwa yang dikarang, tapi karena peristiwa-peristiwa tersebut terasa begitu nyata, mungkin saja semua sungguh-sungguh terjadi. Tokoh-tokohnya selain tokoh utama pun sangat unik, seperti Nyai Manggis pemilik rumah judi yang amat cantik namun tak seorang pun berani menyentuhnya karena auranya, atau Putri Tabassum yang keelokan parasnya membuat lingkungan kerajaan kosong dari cermin-cermin, sebab cermin-cermin itu bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya. Sebagaimana dongeng yang kita dengar sewaktu kecil tentang Si Kancil atau Timun Mas, karakter-karakter beserta kejadian di Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi mungkin hanya karangan, atau bualan, tapi saking bagusnya bualan itu, kita berharap bualan tersebut benar-benar terjadi.

Di samping kisah pengembaraan Sungu Lembu bersama Raden Mandasia yang di dalamnya dipenuhi peristiwa-peristiwa seru, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi juga merupakan serangkaian kisah penaklukan. Kerajaan besar Gilingwesi, misalnya, yang bermula dari kesaktian seorang pendekar bernama Watugunung, sebelumnya sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan. Kerajaan itu keropos karena pejabatnya hanya senang memperkaya diri. Watugunung yang tadinya diminta membantu Medang Kamulan, berbalik menyerang kerajaan tersebut karena suatu pengkhianatan kecil. Di bawah kekuasaan Watugunung, Medang Kamulan berubah jadi Gilingwesi. Kekuasaan, seperti kita tahu, tak pernah kenal kata cukup. Gilingwesi kemudian menaklukkan hampir seluruh kerajaan kecil di wilayah sekitarnya, termasuk Banjaran Waru, tempat Sungu Lembu, si narator cerita, tinggal.

Sebagian besar kisah Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi dibangun melalui narasi, sebagaimana dongeng dikisahkan. Meski demikian, tak absen pula dialog-dialog jenaka yang bikin perut terkocok dan ketawa ngakak. Umpatan-umpatan semacam “…simbahmu koprol” atau “sarapan dengkulmu meleset” beserta banyak variannya bertebaran di sepanjang cerita, bikin tertawa tak bisa habis. Deskripsi tentang beragam masakan di dalamnya, misalnya daging sapi yang dibakar usai dicuri, membuat air liur berlinang. Berlimpah pula kosakata yang jarang ditemui, menunjukkan usaha penulisnya berkelit dari diksi yang klise dan basi. Bahkan si penulis memunculkan frasa-frasa seperti “sepenanakan nasi” sebagai ukuran satuan waktu dan “lima ratus tombak” sebagai cara mengukur jarak. Walau asing, frasa tersebut tak terlihat aneh karena memang sesuai dengan konteks cerita.

Jika ada yang mengurangi kenikmatan membaca, itu adalah bagian penghujung cerita yang tampak terlalu lekas dituntaskan. Padahal ada peristiwa besar di sana, yakni perang antara dua kerajaan besar di dua sudut dunia yang berjauhan, Gilingwesi dan Gerbang Agung, yang kemudian menjadi titik puncak usaha pembalasan dendam si tokoh utama. Adegan-adegan perang, meski dilukiskan cukup rinci, terasa kurang menggugah imajinasi karena kebanyakan dituturkan dengan cara telling, bukan showing, sebagaimana sebagian besar isi Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi diceritakan.

Bagaimanapun, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah kabar baik bagi setiap penikmat cerita. Ia mengembalikan satu kebahagiaan yang senantiasa digemari manusia: kenikmatan menyimak cerita. Rasa-rasanya siapapun dapat menyelesaikan membaca buku ini dalam sehari atau paling lama tiga malam. Sebab sebagaimana dongeng-dongeng sewaktu kecil membuat kita tenggelam dalam arus dan alur kisahnya, petualangan dua pemuda penuh kegelisahan Sungu Lembu dan Raden Mandasia juga niscaya menyeret kita dalam keseruan aksi mereka menghadapi musibah, menyaksikan hal-hal menakjubkan, dan menghayati perjalanan panjang bernama kehidupan. ***


3 komentar:

Sin mengatakan...

Saya juga sudah baca bukunya. Buku yang entah mengapa membuat saya merasa betapa bacaan saya selama ini masih "miskin". Berharap semoga karya seperti ini yang lebih banyak diterbitkan (bukan lagi bacaan menye-menye pada umumnya).

Nice review, anyway! ^^

benz mengatakan...

Sin: Bacaan menye-menye, seperti juga bacaan yang tidak menye-menye, punya penikmatnya sendiri. Saya kira tak masalah. Kalau semua bacaan tidak menye-menye, nanti para penikmat menye-menye terdiskriminasi dong. :D

Terima kasih sudah menyempatkan membaca!

Fandhy Achmad Romadhon mengatakan...

Dari penuturan dan review buku ini saya semakin tertarik dan penasaran untuk membeli dan membacanya. Saya belum membaca buku ini :))