31 Maret 2016

Serbuan Lelucon Gelap Kurt Vonnegut



Buku ini membuat saya terpingkal-pingkal hingga muntah, dua kali semburan.

Itu saja dulu yang penting untuk dikatakan tentang buku ini. Di samping hal-hal lain yang sebentar lagi akan saya uraikan.

Gempa Waktu (judul asli: Timequake) adalah novel, yang tidak terlihat layaknya novel, karena penulisnya Kurt Vonnegut hadir di dalam cerita sebagai narator dan menceritakan karakter utama di novelnya, yakni Kilgore Trout, yang mana merupakan alter egonya sendiri, dan dengan demikian memiliki profil mirip-mirip Kurt Vonnegut.

Kilgore Trout adalah penulis fiksi-ilmiah (seperti juga Kurt Vonnegut) yang sudah uzur dan bukunya tidak dicetak lagi. Gempa Waktu berisi kisah hidup Kilgore Trout, yang karena dituturkan oleh Kurt Vonnegut, menjadi seperti satu karya otobiografi parodi.

Premisnya menarik: Bagaimana jika suatu hari semua orang tiba-tiba terlempar ke sepuluh tahun yang lalu, dan mengulang lagi apa yang sudah mereka lakukan selama sepuluh tahun belakangan, tanpa perbedaan dan perubahan apapun? Itu yang, oleh Kilgore Trout, dinamai “gempa waktu” (jangan lupa ia adalah alter-ego Kurt Vonnegut, penulis novel ini, yang juga hadir dalam cerita sebagai narator). “Gempa waktu” membuat semua orang kehilangan kehendak bebas dan berada dalam kendali otomatis. Semacam déjà vu massal.

Seperti dikisahkan Vonnegut, “Gempa waktu” terjadi tahun 2001 dan membuat semua orang kembali ke tahun 1991. Vonnegut menceritakan apa yang terjadi sepanjang pemutaran ulang (kala “gempa waktu” berlangsung) maupun setelah pemutaran ulang selesai, tatkala kehendak bebas telah kembali dan orang-orang bisa menggerakkan dirinya sendiri untuk kali pertama usai terjadinya “gempa waktu”.

Konsep “gempa waktu” inilah yang kemudian menjadi landasan bagi seluruh lawakan Vonnegut. Ya, buku ini penuh dengan lawakan. Jika tidak bagaimana saya bisa ketawa sampai muntah-muntah, dua kali semburan? Bahkan Vonnegut membuat saya terbahak sejak bagian prolog novel ini, ketika ia membukanya dengan kalimat: “Pada 1951 Ernest Hemingway menulis sebuah cerita pendek yang panjang berjudul The Old Man and the Sea di majalah Life.”

The Old Man and the Sea, sebuah cerita pendek yang panjang!

Ya, salah satu dari banyak bahan lawakan Vonnegut adalah penulis-penulis yang sudah dikenal dunia. Ernest Hemingway, TS Eliot, Günter Grass, Ray Bradbury, J. D. Salinger. Tidak dalam pengertian melecehkan mereka, tentu, tapi menyisipkan nama-nama tersebut dalam rangkaian lawakannya, bisa di posisi set up bisa juga sebagai punchline. Ya, selain sebagai karya novel, saya memandang Gempa Waktu juga sebagai panggung melawak berdiri (nggak enak banget ya terjemahannya) atau stand-up comedy Kurt Vonnegut. Dan percayalah, ia sangat, sangat lucu.

Ingat bahwa saya tertawa hingga muntah ketika membaca buku ini.

Dua kali semburan.


*

Kurt Vonnegut menulis humor gelap, tentang banyak hal, terutama dalam novel Gempa Waktu adalah perihal perang (tidak terutama, sih, tapi ia menekankan hal ini karena membahasnya dalam porsi cukup banyak). Pada salah satu bab (total di bukunya ada 63 bab yang panjangnya pendek-pendek) ia membuat lelucon tentang pesawat pembom pada peristiwa Perang Dunia Kedua yang tak jadi menjatuhkan bomnya dan kembali ke pangkalan, membuat orang-orang melompat keluar jendela dan sebagian terkencing-kencing di celana. Peristiwa menggemparkan itu diangkat ke pengadilan militer. Semua orang terpingkal-pingkal tatkala mendengar apa yang terjadi dan hakim ketua memukulkan palunya dan mengatakan bahwa pengadilan tersebut “bukan bahan tertawaan”. Kilgore Trout lah, seperti dituturkan oleh Kurt Vonnegut sebagai narator, yang menulis cerita ini.

Jadi secara teknis, Gempa Waktu adalah Kurt Vonnegut menceritakan apa yang ditulis oleh Kilgore Trout, selain di sana-sini ia juga menyisipkan cerita dirinya sendiri (yang kelihatannya benar-benar terjadi di dunia nyata, itu sebabnya saya menyebut buku ini sebagai otobiografi parodi).

Bab yang paling bikin saya ngakak sampai mau mampus adalah ketika Vonnegut sebagai narator menceritakan tentang kebiasaan Kilgore Trout mengeluarkan respons unik, yakni kalimat “Ting-a-ling” setiap kali ada orang yang menyapanya dengan berbasa-basi. Vonnegut bertanya kepada Trout dari mana asal kalimat itu, “Ting-a-ling”? Trout menjawab: Kala ia terlibat dalam perang, ketika suatu rentetan tembakan artileri yang ia kehendaki mendarat tepat di sasaran, ia mengucapkan itu, “Ting-a-ling! Ting-a-ling!” Sebenarnya Vonnegut sudah puas dengan jawabannya, tapi Trout kemudian bertanya kepadanya apakah ia benar-benar ingin tahu asal-usul “Ting-a-ling”? Trout lalu bercerita satu kisah yang bikin saya ngakak sampai mau mampus, tapi tidak jadi karena saya masih mencintai kehidupan dan akhirnya hanya muntah-muntah dua kali semburan.

Bagaimanakah cerita asal-usul “Ting-a-Ling” itu, silakan baca sendiri bukunya.

Vonnegut, sekali lagi melalui Kilgore Trout, juga membuat lelucon yang sangat lucu tentang Hitler, beserta anak, istri, dan pasukannya. Bagian favorit saya dari buku menyenangkan setebal 250 halaman ini adalah kapanpun Vonnegut, melalui Trout maupun dirinya sendiri, membuat lelucon atas seni, atau lebih tepatnya atas para kritikus seni. Sinismenya terhadap kemuliaan manusia, juga poin lebih mula-mula dari hal itu yakni penciptaan manusia, membuat orang-orang (atau mungkin saya sendiri) merasa diri mereka (atau saya sendiri) yang terlalu serius memikirkan misi mulia menjadi manusia tiba-tiba merasa konyol.

Selalu menyenangkan melihat seorang jenius, dengan caranya yang unik dan tak terduga, membuat orang-orang serius di sekitarnya tampak konyol.

Kalau ini bukan hal yang menyenangkan, lalu apa?


*


Lelucon Vonnegut satir dan sikapnya terhadap beberapa hal di dunia begitu sinis, misalnya dalam memandang perkembangan zaman dan perilaku manusia modern. Tetapi dalam beberapa hal lain ia juga terlihat positif, seperti tatkala ia membicarakan pentingnya kehadiran cinta dan keluarga besar bagi manusia. Menurutnya, ada banyak masalah dan tragedi yang dapat dibatalkan, seandainya setiap orang memiliki satu atau sekaligus dua kemewahan hidup tersebut: cinta dan keluarga besar.

Sebagai tambahan yang mungkin cukup penting, buku ini diterjemahkan dengan baik. Saya dapat merasakan lelucon penulisnya tanpa mengernyit akibat kalimat-kalimat ganjil yang meleset dari bahasa aslinya. Tentu saya hanya bisa yakin ada kalimat meleset jika sudah membaca versi aslinya, tapi kita bisa kok menemukan kalimat ngaco hanya dengan mengandalkan feeling. Nah, di buku ini tak ada hal semacam itu. Buku-buku terjemahan berbahasa Indonesia, seperti buku-buku terjemahan dalam bahasa lain, dapat dinikmati salah satunya karena terjemahan yang bagus. Gempa Waktu ini diterjemahkan dengan bagus.

Selain itu, kalau kau senang menulis, kau dapat belajar banyak tentang membuat metafora yang segar dan lebih-lebih lagi, kocak, lewat novel ini. Saya tak akan memberi contohnya dalam tulisan ini, tapi mungkin saya akan membahasnya di tulisan lain.

Terakhir. Saya menyebut kegiatan membaca buku ini sebagai “usaha bunuh diri yang bisa berhasil jika kau nekat membacanya hingga dua kali atau lebih”. Dan mengingat bahwa saya terpingkal-pingkal hingga muntah, dua kali semburan, saat membaca buku ini, kelihatannya “tertawa sampai mati” bukanlah sekadar slogan atau efek dari racun anggrek hantu dalam dongeng Raden Mandasia.


TING-A-LING!


Ulasan ini dimuat harian Jawa Pos dalam versi yang telah disunting.

4 komentar:

Rahul Syarif mengatakan...

Sedang berburu buku ini, ssembari membaca Cantik Itu Luka yang juga di rekomenin. Rekomen dan ulasannya keren-keren, bdw.

benz mengatakan...

Rahul: Terima kasih.

Runi Santika mengatakan...

hi kak bara! waktu itu beli buku ini dimana ya? sudah dicari di toko buku terdekat tidak ada, terimakasih :)

Ifan Afiansa mengatakan...

Btw standup comedy diterjemahkan jadi komedi tunggal. Thanks reviewnya