Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Apalah yang Kita Tahu Soal Cinta?

Gambar
“What do any of us really know about love?”  
Saya selalu tertarik untuk mengetahui apa yang dikatakan para penulis tentang satu kata misterius ini: “cinta”. Orhan Pamuk, dalam The Museum of Innocence, memperlihatkan cinta sebagai sesuatu yang bisa terlarang namun kekal, atau setidaknya berusia panjang, serta memantik sejenis kegilaan bagi manusia yang mengalaminya. Mario Vargas Llosa, dalam In Praise of the Stepmother, menunjukkan cinta yang penuh hasrat. Sedangkan Haruki Murakami, menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang terlihat ganjil, absurd, tampak sederhana namun sekaligus rumit. Lantas, bagaimana cinta menurut Raymond Carver?
Carver mengatakan apa yang ia katakan saat ia mengatakan tentang cinta lewat 17 cerita pendek dalam kumpulan What We Talk About When We Talk About Love. Omong-omong soal judulnya yang catchy, saya mendadak teringat pada buku berjudul mirip: What I Talk About When I Talk About Running, memoar yang bagus dari Haruki Murakami tentang berlari maraton dan menu…

Mengenal Rumah Sendiri Dari Mulut Orang Asing

Gambar
Richard Lloyd Parry adalah jurnalis asal Inggris yang menjadi koresponden Asia untuk The Times London; sebelumnya ia bekerja di The Independent, harian milik Inggris, dan dalam kurun waktu itu ia menulis reportase dari berbagai negara di kawasan benua Asia. Pada 1998 ia melaporkan kejatuhan Suharto, juga tragedi berdarahyang berlangsung menyusul referendum kemerdekaan Timor Timur. Ia juga menulis tentang kanibalisme dan konflik antar-etnis di Kalimantan Barat.
Hasil reportase itu yang terkumpul dalam buku nonfiksi Zaman Edan: Indonesia Di Ambang Kekacauan (Serambi, 2008)-diterjemahkan dengan sangat enak dari versi bahasa Inggris In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos (Vintage, 2005). Buku ini terdiri atas tiga bab utama, masing-masing mengenai kanibalisme dan konflik Dayak-Madura di Kalimantan Barat pada 1997 dan 1999, demonstrasi mahasiswa dan tragedi Trisakti menyusul jatuhnya Suharto pada 1998, dan kekacauan referendum kemerdekaan Timor Timur pada 1999.
Meskipun in…

Lanzarote, Michel Houellebecq

Gambar
Seorang teman pernah berkata: “Kota diciptakan bagi penghuninya, bukan turis.” Ia tidak mengucapkan kalimat itu langsung kepada saya, melainkan di satu kanal media sosial dan karena saya mengikutinya di sana, terbacalah oleh saya. Teman saya itu seorang pelancong. Ia telah berkunjung ke banyak negara di dunia. Ia juga seorang penulis dan untuk alasan itu ia sering menuliskan pengalaman perjalanannya di blog, majalah, maupun buku. Dalam berbagai kesempatan yang sempat saya hadiri, baik di jejaring media sosial maupun pertemuana kopi darat, ia tidak bosan-bosan menegaskan kalimat tadi, yang dengan satu dan lain cara menjadi semacam kredo baginya sebagai seorang pelancong.
Bentuk lebih lengkap kalimat itu kira-kira seperti ini: “Kota diciptakan bagi penghuninya, bukan turis. Maka setiap kota dibentuk sesuai kenyamanan dan kebutuhan penduduknya sendiri, bukan para pelancong yang datang ke sana.” Seingat saya, ia melontarkan kredo itu di kanal media sosialnya menyusul ribut-ribut seorang …

Chekhov dan Orang-Orang Pintar yang Putus Asa

Gambar
Orang-orang skeptis sesungguhnya adalah orang-orang optimis yang pernah dikecewakan. Saya membaca kalimat itu di internet dan setelah melihat sembari sedikit mempelajari orang-orang di dunia maya yang terlihat skeptis, atau sinis, saya merasa ada kebenaran dalam kalimat tersebut. Membaca cerita-cerita pendek Anton Chekhov dalam kumpulan Ruang Inap No.6 adalah bertemu dengan orang-orang skeptis, bahkan putus asa. Orang-orang skeptis sebetulnya masih memiliki keyakinan meski secuil, tetapi orang-orang putus asa betul-betul telah melepaskan harapannya pada apapun di dunia.
Tidak seluruh cerita dalam buku Ruang Inap No.6 memperlihatkan tokoh-tokoh yang putus asa, tapi hal tersebut kentara terpancar di dalam dua cerita yang panjangnya nyaris seukuran sebuah novelet. “Ruang Inap No. 6” dan “Riwayat yang Membosankan” menjadi cerita pembuka dalam kumpulan ini dan mereka menyampaikan keputusasaan dengan nuansa yang terasa depresif lagi kelam.
Tujuh cerita lainnya, “Pertaruhan”, “Manusia dalam…

Parade Ironi Anton Chekhov

Gambar
Keburukan terbesar manusia bukanlah ketika ia dengan sengaja berbuat jahat, tetapi tatkala ia menjadi sosok yang munafik. Barangkali ini yang coba dikatakan oleh Anton Pavlovich Chekhov, atau lebih dikenal sebagai Anton Chekhov, raja cerita pendek Rusia melalui kisah-kisah yang ia tulis dalam kumpulan cerita Pengakuan. Ia memotret kemunafikan para manusia. Sikap munafik itu, rata-rata, terbit ketika mereka dihadapkan pada satu benda paling keramat di dunia: uang.
Anton Chekhov lahir tahun 1860, sekitar tiga dekade setelah kelahiran Leo Tolstoy, dan empat dekade setelah Fyodor Dostoyevsky-- dua raksasa sastra Rusia, jika tidak dunia. Sepanjang usianya yang terhitung tidak begitu panjang, yakni empat puluh empat tahun, Anton Chekhov menulis tak kurang dari ratusan judul cerita pendek, belasan naskah drama, beberapa novela, dan juga karya nonfiksi. Buku Pengakuan, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Rusia oleh almarhum Koesalah Soebagyo Toer adik sastrawan Pramoedya Ananta Toerini b…

Cat’s Cradle, Kurt Vonnegut

Gambar
Novel ini bercerita tentang seorang penulis bernama Jonah. Pada bagian pembuka ia mengatakan kepada kita bahwa ia sedang mengerjakan sebuah buku. Ia juga bilang ia beragama Kristen, atau lebih tepat: pernah beragama Kristen. Ia kini menganut kepercayaan “Bokononisme”. Bokononisme diciptakan oleh seseorang bernama Bokonon dan penganut Bokononisme disebut Bokonis. Cat’s Cradle bercerita tentang bagaimana perjalanan si penulis bertemu orang-orang yang menjadi narasumber untuk buku yang sedang ia tulis: “The Day the World Ended”, dan kemudian membuatnya menjadi penganut Bokononism, dan menyaksikan akhir dunia.
Sebelum membaca novel ini, saya membaca novel Vonnegut yang lain, Gempa Waktu. Novel itu benar-benar lucu. Sumpah. Saya nggak menghitung berapa kali tertawa sepanjang membacanya. Yang saya tahu, menjelang selesai, saya sampai buru-buru keluar dari kamar untuk muntah-saya bahkan nggak sempat ke toilet. Separah itu, memang. Gempa Waktu mirip otobiografi parodi, karena di dalamnya Kur…