18 April 2016

Lanzarote, Michel Houellebecq




Seorang teman pernah berkata: “Kota diciptakan bagi penghuninya, bukan turis.” Ia tidak mengucapkan kalimat itu langsung kepada saya, melainkan di satu kanal media sosial dan karena saya mengikutinya di sana, terbacalah oleh saya. Teman saya itu seorang pelancong. Ia telah berkunjung ke banyak negara di dunia. Ia juga seorang penulis dan untuk alasan itu ia sering menuliskan pengalaman perjalanannya di blog, majalah, maupun buku. Dalam berbagai kesempatan yang sempat saya hadiri, baik di jejaring media sosial maupun pertemuana kopi darat, ia tidak bosan-bosan menegaskan kalimat tadi, yang dengan satu dan lain cara menjadi semacam kredo baginya sebagai seorang pelancong.

Bentuk lebih lengkap kalimat itu kira-kira seperti ini: “Kota diciptakan bagi penghuninya, bukan turis. Maka setiap kota dibentuk sesuai kenyamanan dan kebutuhan penduduknya sendiri, bukan para pelancong yang datang ke sana.” Seingat saya, ia melontarkan kredo itu di kanal media sosialnya menyusul ribut-ribut seorang pelancong Indonesia terkenal-yang juga penulis buku-yang misuh-misuh perihal masalah yang ia hadapi ketika berkunjung ke suatu negara. Si pelancong ngomel panjang lebar tentang betapa tak becusnya negara tersebut dalam satu-dua hal, lantas, jika ingatan saya tak menipu, ia membandingkan pula ketidakbecusan negara itu dengan kehebatan negara lain.

Hal itulah yang kali pertama melintas di kepala tatkala saya mulai membaca Lanzarote. Ini novel tipis yang ditulis oleh Michel Houellebecq, seorang penulis asal Prancis. Ceritanya tentang seorang laki-laki dewasa-mungkin berusia sekira empat puluh tahun-yang karena merasa malam pergantian tahun akan menjadi saat-saat buruk baginya, secara impulsif pergi ke agen perjalanan dan kemudian membeli paket liburan ke suatu tempat. Setelah petugas memberinya rekomendasi ini dan itu, akhirnya ia memutuskan menerima tawaran paket liburan ke sebuah pulau terpencil di kawasan Spanyol, dekat Samudera Atlantik. Pulau itu bernama Lanzarote. Tetapi sepanjang perjalanan ke sana, sang narator mengoceh tentang hal-hal di tempat itu yang baginya nggak oke.

Secara singkat, Lanzarote adalah cerita tentang pengalaman berlibur si narator ke pulau tersebut. Tetapi tentu saja ini bukan sekadar cerita pelesir tak penting. Sebaliknya, meski tipis (hanya 87 halaman), ada satu-dua hal krusial disinggung Houellbecq melalui naratornya. Di antaranya adalah perkara stereotip penduduk beberapa negara Eropa dan sentimen negatif terhadap Islam.

Perlu diingat bahwa narator cerita adalah seorang pria Prancis. Prancis memang punya masalah dengan orang Arab, atau lebih khusus lagi, Islam. Saat membaca Lanzarote, saya teringat The Stranger – Albert Camus, di mana tokoh utamanya Meursault menembak mati seorang pria Arab di suatu pantai, dan terus saja menembakinya meski tahu pria itu sudah mati. Narator dalam Lanzarote juga bicara terang-terangan tentang ketidaksukaannya terhadap Arab/Islam, bahkan sejak pembuka buku. Itu salah satu penyebab petugas agen perjalanan akhirnya memberi rekomendasi pulau Lanzarote yang hedon dan tanpa orang Arab/Islam.

Di Lanzarote, narator kita bertemu dengan sepasang lesbian yang orang Jerman, dan seorang polisi asal Brussels, Belgia. Pasangan lesbian itu, Pam dan Barbara, dua perempuan yang berbahagia dan menjalani hidup dengan ringan. Sebaliknya si polisi, Rudi, terlihat begitu depresif. Sang narator, Pam, Barbara, dan Rudi berada dalam satu kelompok tur selama beberapa hari di Lanzarote. Lewat percakapan dengan Rudi, narator kita mengetahui polisi berusia nyaris setengah abad itu sedang amat terpuruk setelah ditinggal istri dan anaknya, ditambah pekerjaannya sebagai polisi di Brussels yang baginya merupakan pengalaman buruk. Belgia sendiri bagi dia “…an absurd country in steep decline; it is a country which should never have existed.” Rudi, didorong oleh kondisi psikis sekaligus pengalaman buruk dalam hidup dan pemikiran kritis-depresifnya, belakangan bergabung dengan sekte Azraelian-aliran kepercayaan yang meyakini manusia merupakan kreasi alien bernama Anakim.

Michel Houellbecq sendiri adalah penulis yang sering dikecam karena dianggap kerap menyebarkan hate speech terhadap komunitas muslim, begitu yang saya temukan di Internet. Namun, terlepas dari teks dalam Lanzarote yang memang menunjukkan hal tersebut, novela ini lucu. Selain mengoceh tentang stereotip orang-orang Italia (mata keranjang), Inggris (retorik), bahkan Prancis sendiri (egosentris), sang narator juga menyindir terang-terangan sifat umum penduduk asli suatu negara (native) yang tak mampu melihat keindahan negerinya sendiri sebelum ditunjukkan oleh para turis. Sang narator berkata, penduduk asli suatu negeri baru sadar kalau keindahan negerinya dikasih lihat oleh turis, dan setelah sadar mereka mengeksploitasinya dengan berbagai cara demi keuntungan besar.

Setelah mengoceh seputar stereotip dan menyindir sifat buruk penduduk asli suatu negara, pembicaraan bergeser ke soal keyakinan-agama alternatif, dalam hal ini. Sekte Azraelian yang percaya bahwa manusia diciptakan oleh alien bernama Anakim telah memutuskan untuk membangun satu kawasan yang akan dijadikan tempat mendaratnya Anakim, demi melihat progres hasil ciptaannya. Saya teringat sekte Bokononisme di novel Gempa Waktu – Kurt Vonnegut. Pencipta sekte Azraelian adalah kolumnis surat kabar Prancis bernama Philippe Leboueuf, yang di akhir buku tampil untuk memberi klarifikasi atas satu skandal terkait aliran kepercayaan ciptaannya.

Lanzarote ditutup, masih oleh sang narator menggunakan sudut pandang orang pertama, dengan informasi pecahnya skandal seks yang dilakukan oleh penganut Azraelian. Para penganut Azraelian melakukan praktik inses dan sebagiannya adalah pelaku pedofilia. Di antara yang kemudian diadili dan disorot pers adalah Rudi, teman sang narator semasa berlibur di Lanzarote, si polisi Brussels yang depresi usai ditinggal istrinya, seorang perempuan Moroko beragama Islam. Anehnya, tidak satu pun dari para pelaku pedofilia dan inses itu merasa bersalah atas perbuatan mereka. Mereka menganggap hal itu merupakan keputusan terbaik yang dapat manusia ambil demi mencapai kemanusiaan yang lebih baik. “We have given pleasure to our children. From earliest childhood we have taught them to experiene pleasure and to give pleasure to others. We have completely fulfilled out duty as parents,” merupakan opini umum penganut Azraelian yang tertangkap melakukan kekeliruan seksual.

Bagian yang juga menarik dari buku tipis ini adalah bab berisi surat yang ditulis oleh Rudi kepada sang narator, tatkala polisi itu check out dari hotel dan bergabung dengan sekte Azraelian. Dalam surat tersebut, Rudi mengucapkan terima kasih atas kebaikan sang narator selama mereka berlibur di Lanzarote, sembari menjelaskan apa yang terjadi padanya dan mengapa ia bergabung dengan sekte Azraelian. Menurutnya, Azraelian mengambil sikap lebih baik atas kebenaran penciptaan dan hubungan manusia dengan Yang Tertinggi, karena mereka berpikir menggunakan dasar-dasar sains yang inovatif dan radikal. Dan merupakan sesuatu yang ganjil apabila orang-orang beragama konvensional menuduh mereka sesat, di saat agama konvensional menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar menggunakan cara-cara yang metaforik dan irasional. ***

2 komentar:

si Mamba Hitam mengatakan...

Saya selalu menikmati ulasan buku dari Bang Bernard, tulisannya begitu ngalir dan gak bikin bosan. Memangnya tulisan saya, duh.. Tapi kenapa harus benci sama Islam, sih? Kan jadinya rada benci juga. Kayaknya bukunya travelling, deh, beuh.. kutipan yang tadi bagus, Bang..

benz mengatakan...

Mamba: Ya, Prancis kan memang punya masalah dengan Islam.