1 April 2016

Pamer Kecepatan Membaca




Seberapa cepat kamu bisa menyelesaikan membaca sebuah buku? Tentu saja jawabannya akan sangat relatif pada jenis buku, tebal buku, topik atau muatan buku, dan faktor-faktor lain. Itu saya paham.

Tapi, seberapa cepat kamu bisa menyelesaikan membaca sebuah buku?

Novel yang paling cepat saya rampungkan membacanya tahun ini adalah Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, novel setebal 448 halaman dan saya selesaikan dalam dua hari. Lebih cepat dari itu adalah Harry Potter dan Batu Bertuah,  tebalnya 384 halaman, selesai saya baca dalam satu hari. Ada juga beberapa novel yang selesai saya baca dalam waktu dua hingga tiga jam. Sedangkan, novel paling lama yang saya baca adalah The Satanic Verses, setebal 561 halaman, sudah tiga bulan dan baru separuhnya-kini sementara saya tinggalkan. Novel terakhir yang sudah menghabiskan waktu membaca saya hingga dua bulan penuh dan belum beres-beres juga adalah War and Peace, setebal 1417 halaman-terakhir saya berhenti sejenak di halaman ke-400 sekian.

Saya sering menemukan, baik sebagai pembaca maupun penulis, atau sekadar pengamat numpang lewat, beberapa penikmat buku memamerkan kemampuan mereka membaca buku dengan sangat cepat. “Saya baca itu cuma tiga jam.”, “Oh, itu sih aku sehari aja udah beres.” Tentu saja kalimat-kalimat semacam begitu, dalam beragam topik perbincangan mengenai buku, tidak mesti diterjemahkan sebagai usaha memamerkan kemampuan membaca buku dengan cepat. Bisa saja makna di balik kalimat-kalimat tersebut adalah bahwa si pembaca benar-benar menikmati buku yang ia baca, sehingga tidak membutuhkan waktu lama dalam merampungkannya. Iya, kan?

Atau bisa juga memang lagi pamer, walaupun saya sendiri juga nggak tahu apa sebetulnya yang layak dipamerkan dari hal tersebut.

Membaca cepat itu biasa saja.

Pertanyaan lebih mendasar yang pengin saya ajukan: Pentingkah membaca buku dengan cepat?

*

KARENA ini bukan tulisan interaktif, saya terpaksa menjawab sendiri pertanyaan saya. Kendati demikian, kata “saya” pada bagian ini dapat diganti dengan “kamu”.

Misalnya begini:

Cara menjawabnya, pertama-tama, saya kira saya (kamu) harus mencari tahu apa yang membuat saya (kamu) membaca buku dengan cepat. Apakah memang dasarnya saya (kamu) memang membaca buku apapun dengan cepat, atau saya (kamu) membaca cepat karena buku-buku tertentu, dengan satu dan lain sebab yang akan saya (kamu) cari sebentar lagi, membuat saya (kamu) mau tak mau tak bisa membacanya dengan lambat?

Oke, sudah oke ya? Kalau nggak menangkap ya sudah lupakan saja, baca tulisan ini sebagaimana kelihatannya. Mau baca aja kok musti repot-repot, ya nggak.

Kembali ke pertanyaan barusan.

Apa yang membuat buku-buku tertentu dapat kelar dibaca dalam waktu singkat? Beberapa hal dapat menjadi penyebab, di antaranya:


1. Bukunya seru

Bahasa gaulnya, a page-turner. Buku-buku yang page-turner rata-rata memiliki narasi yang tidak sulit dibaca, ini berarti diksi atau pemilihan kata penulisnya nggak aneh-aneh. Lihat buku-buku best-seller atau mega best-seller atau national best-seller atau best-mega-national-hyper-teta-tetrapack-omega-ultra-best-seller, hampir bisa dipastikan semuanya memiliki narasi yang nyaman dibaca, dalam artian nggak bikin kepala spaneng cuma buat memahami maksud dari pilihan kata dalam ceritanya. Selain diksi dan narasi, “bukunya seru” juga bisa berarti buku tersebut memiliki cerita yang terus bergerak dalam plot yang juga berkelit ke sana dan ke sini dan dengan demikian membuat kita terus tertarik untuk mengetahui ke mana cerita akan membawa kita.


2. Bukunya nggak seru

Woiya. Jangan salah, buku yang nggak seru juga dapat kelar dibaca dalam waktu singkat. Bagaimana caranya? Ya, skimming lah. Saya pernah membaca beberapa buku (novel) hanya dalam waktu satu-dua jam, atau bahkan tiga puluh menit, bukan karena ceritanya seru tapi lantaran saya tak merasa ada hal penting pada saat itu yang perlu saya resapi. Saya membaca sekadar pengin tahu apa yang ditulis oleh penulisnya.


Jadi, jikalau seseorang berkata: “Oh, itu sih aku sehari juga udah beres.” dan ia merujuk pada suatu buku, baik tatkala kamu mendengar kalimat itu sebagai pembaca, penulis, ataupun pengamat selewat kayak saya, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut membawa makna buku yang ia baca adalah buku yang bagus. Belum tentu. Bisa jadi dia membaca buku itu dengan cepat karena ia skimming, apakah itu skimming karena bukunya nggak layak dibaca dengan lamban dan seksama, atau justru ia skimming karena pengin buru-buru pamer ke orang lain bahwa ia sudah kelar membaca buku itu.

Atau, ya, memang bukunya bagus seperti poin pertama, punya cerita seru, sangat seru, sehingga tak ada cara untuk memperlambat pembacaan.

*

SEKARANG tentang membaca dengan lambat.

Bicara tentang pamer, kadang-kadang telinga saya yang penuh prasangka buruk dan berjiwa sinis ini juga mendeteksi nada pamer pada beberapa orang yang berkata:

“Saya nggak bisa baca buku cepet. Saya pembaca yang lambat.”

Lagi-lagi, bisa jadi saya keliru. Bisa jadi sama sekali tak ada yang sedang pamer dalam pembahasan ini, kecuali telinga saya yang terlalu sinis dan suudzon. Mungkin saya sesuka hati aja menuduh orang-orang pamer kecepatan atau kelambatan membaca semata-mata karena saya merasa insecure sebab ternyata saya sendiri yang diam-diam di masa lalu, kini, atau nanti bakalan pamer kecepatan membaca (atau kelambatan). Woiya dong, bisa jadi.

Tapi for the sake of argument, mari asumsikan memang demikian yang terjadi. Ada orang-orang yang pamer kecepatan membaca mereka (atau kelambatan), dan dengan demikian saya yang seorang Cancer dan tersebab itu kelewat sensitif ini merasa terusik dan mulai mempertanyakan penting-tidaknya membaca buku dengan cepat atau lambat, dan itulah yang membuat tulisan ini lahir.

Oke, tentang membaca lambat. Seperti sebelumnya, mari kita coba cari apa yang membuat buku-buku tertentu dibaca dengan lambat. Mungkin begini:


1. Bukunya berat

Bukan, bukan berat kilogramnya. “Berat” dalam frasa “bukunya berat” biasanya merujuk pada konten, pembahasan, isu, atau wacana yang dimuat di buku itu. “Berat” kadang-kadang mengacu pada muatan yang mengandung isu-isu sosial-politik, sains, agama, atau wacana mana pun yang tergolong “serius”. Berat. Sehingga membacanya pun tak bisa main kebut begitu saja. Setiap halaman mesti direnungi, mau tak mau. Perlu diingat, “berat” di sini bisa memiliki makna positif maupun negatif. Perhatikan percakapan berikut:

A: “Kamu udah baca buku anu belum?”

B: “Udah, baru dikit sih, nggak bisa cepet bacanya. Bahasannya berat.”

Pernyataan singkat “…bahasannya berat.” dari B bisa bermakna dua hal: Ia malas membaca buku itu karena bahasannya terlalu berat bagi dia, atau ia tetap ingin meneruskan membaca karena masih tertarik dengan buku itu, kendati bagi dia pembahasannya berat. Dalam makna yang mana pun, bagi B, ia membaca buku anu dengan lambat.


2. Bukunya bikin puyeng

Contoh terbaik pada poin ini, jika mengambil pengalaman membaca saya sendiri, adalah novel The Satanic Verses. Kamu bisa melakukan kroscek atas apa yang akan saya katakan terhadap novel itu saat kamu membacanya sendiri. Tapi kira-kira beginilah kesan-kesan ringkas saya terhadap novel yang sempat dibakar oleh sekelompok orang itu karena muatannya yang dianggap kontroversial: Narasinya dipenuhi diksi yang sulit, timeline cerita tidak jelas, mana realitas dan bukan tidak jelas, tujuan hidup tokoh-tokoh utamanya tidak jelas.

Tapi jangan salah, saya tetap berniat meneruskan membacanya, kok. Sekadar menuntaskan rasa penasaran.

Saya hanya ingin bilang bahwa suatu buku dibaca dengan lambat sekali bisa jadi bukan karena ia mengandung sesuatu yang penting yang perlu direnungkan, tapi memang karena bukunya ribet aja. Susah dicerna, bukan dalam hal konteks, tapi bahkan teksnya pun bikin mata keliyengan, lebih-lebih kepala, dan lama-lama mungkin bisa bikin gangguan kandung kemih (nggak, nggak, ini saya lebay kok).

(Semoga lucu)

Jadi, kira-kira begitu!

*

Yang pengin saya katakan sebenarnya adalah, tingkat kecepatan membaca nggak selalu punya korelasi positif terhadap mutu pembacaan maupun mutu buku itu sendiri. Seperti sudah sempat diuraikan tadi, buku yang kelar dibaca begitu lekas belum tentu bagus, karena bisa jadi pembaca melakukan skimming atasnya dengan alasan tak ada hal penting dari buku itu yang perlu direnungi.

Begitupun buku yang membacanya butuh waktu lama, bahkan tersendat, belum tentu bukunya jelek. Bisa jadi ada sesuatu yang butuh dicerna lama. Atau, bisa jadi juga memang narasinya bikin pusing, struktur kalimatnya nggak enak, alur waktunya nggak jelas (padahal maksud si penulis pengin bikin itu jadi jelas), dan seterusnya.

Buat saya, yang penting bukan membaca cepat, tetapi membaca nikmat. Hal utama dalam membaca buku bukanlah seberapa cepat kamu merampungkannya, tapi seberapa paham kamu sama isi buku itu.

Jikalau kamu dapat membaca buku dengan sangat cepat, tetapi nggak ada dari buku itu yang diserap dan membekas di memori kamu, percuma. Ketimbang begitu, mending membaca pelan saja dan serap isinya sedikit demi sedikit.

Kecuali, tentu saja, bukunya seasyik dan seseru itu sampai bisa rampung hanya dalam semalam. Apa boleh buat, kan? Pastinya ada buku-buku seperti ini, yang membuat kita enggan berhenti membacanya saking seru dan bagus isinya, sehingga tak perlu waktu lama merampungkan membacanya. Kalau ketemu buku yang seperti ini, bersyukurlah. Dan baca ulang! Karena kenikmatan membaca adalah kamu dapat merasakan kenikmatan ini lagi dan lagi dan lagi dan lagi (kecuali buku yang kamu baca hasil minjem, buruan balikin oi!)

Terakhir. Supaya bisa di­-quote di Twitter:
Bukan seberapa cepat atau lambat kamu membaca buku, tapi seberapa banyak buku yang kamu baca mempengaruhi dirimu sebagai manusia.

Yaksiptul!



  • Kalau kamu sendiri, apakah kamu termasuk pembaca yang cepat atau pembaca yang lambat? Apa yang membuat kamu membaca buku-buku tertentu dengan cepat atau lambat? Share pengalaman membaca kamu di kolom komentar ya. Saya tunggu!

21 komentar:

Rahul Syarif mengatakan...

Pembaca yang lambat. Kadang kalau nemu buku yang berat, baca bentar aja ngantuk. Kadang juga, nemu buku ringan, eh, malah gak tegaan ngabisinnya. Takut pas habis baca, bacaan seru udah ga ada lagi..

Sin mengatakan...

idem sama penjelasan di atas. bisa jadi pembaca cepat, bisa juga pembaca lambat. tergantung buku yang dibaca.

senang sekaligus sedih ketika mengkhatamkan buku yang tergolong page-turner, kayak "O" - Eka Kurniawan dan "Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi" - Yusi Avianto Pareanom. Senang sekaligus sedih karena ceritanya kelewatan bagus! untuk mengobati rasa sedih tak lain dan tak bukan ya baca ulang bukunya (dan masih sembari berkhayal bukunya secara ajaib bertambah tebal sampe ribuan halaman).

benz mengatakan...

Rahul: Beli buku lagi, atau yang juga enak: Baca ulang! :D

Sin: Ha, ha, ha. Khayalan sekaligus harapan yang sama: Tiba-tiba buku bagus yang enak banget dibaca itu secara ajaib bertambah beberapa ratus halaman lagi.

Ifan Afiansa mengatakan...

hmm kadang aku malah sengaja memperlambat kecepatan membaca untuk beberapa buku yg seru,yah walau kadang harus tertekan rasa penasaran cuma buat nggak menghabiskan bukunya terlalu cepat.
cukup sering membaca dua buku dalam sekali duduk, dan kebanyakan buku yg bagus dalam waktu setengah jam, lebih sedikit halaman yang dihabiskan, dibandingkan dengan buku yg biasa/jelek

benz mengatakan...

Ifan: Ya, itu adalah penderitaan yang lain. Terpaksa melambatkan membaca karena bukunya terlalu bagus dan kita terlalu sedih untuk bersegera merampungkannya.

Ahmad Muwafiq Setiawan Aisfillah mengatakan...

Saya juga termasuk pembaca lamban bang....emmh uniknya saya butuh waktu satu Minggu untuk membaca Baju Bulan nya JokPin tapi hanya butuh dua malam untuk menuntaskan Raden Mandasia...:-D apa buku puisi cenderung butuh waktu lama ya bang ? Hehe

benz mengatakan...

Ahmad: Ya, saya rasa buku puisi punya kasus unik. Kita tidak membacanya seperti sebuah cerita, tapi lebih seperti saat menikmati sebuah lukisan abstrak. Banyak bagian yang perlu dibaca berulang kali dan ditafsirkan dengan cara berbeda. Itu yang membuatnya lebih lamban dibaca (dan bukannya kita tidak buru-buru membaca puisi?)

Ahmad Muwafiq Setiawan Aisfillah mengatakan...

Iya juga ya bang...mungkin lebih tepatnya puisi itu tidak "dibaca" tapi "dinikmati"... Buku puisi kontemporer yang sangat saya nikmati sejauh ini " Melihat Api Bekerja"nya Aan Mansyur...pengen menikmati "Angsa-angsa Ketapang"nya bang Bara tapi belum punya... Hehehe

Ahmad Muwafiq Setiawan Aisfillah mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
willy akhdes mengatakan...

Benar sekali bung Bernard, tidak selalu buku yang bagus bisa saya baca dengan cepat dan juga tidak selalu buku itu jelek karena saya membacanya lambat. Terkadang karena bukunya bagus saya betah berlama-lama tenggelam di dalamnya.

benz mengatakan...

Ahmad: "Angsa-Angsa Ketapang" tersedia twitter (at)indiebookcorner atau web: http://bukuindie.com Silakan.

Willy: Ya, begitu memang. Yang penting membaca nikmat. :D

Andri Mulyahadi mengatakan...

Mungkin saya bisa fleksibel ketika membaca, dalam hal kecepatan maupun kelambatan dalam membaca. Saya pernah membaca novel thriller yg isinya mengandung cerita detektif, jadi saya membaca cepat ketika pada bagian yg memang harus cepat, atau skimming dan sya membaca lambat pada bagian yg memang ceritanya bersinggungan dengan detektif jdi tidak hanya ceritanya yg harus dianalisis, tapi membacanya juga. Menurut bang bara, bagaimana sebaiknya membaca buku yg seperti itu, apa dengan cepat atau lambat?

Wulan Ayu mengatakan...

Menurut bang bara buku bukunya pak Pramoedya Ananta Toer itu bagaimana?

Cholifah kimyosan mengatakan...

Lambat, Tujuan membaca:'ini buku bisa punya pengaruh apa?' penghayatan tepatnya, tentang pengaruh dan manfaat yang terdapat dalam sebuah buku apapun jenis bukunya.

Andri Mulyahadi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
benz mengatakan...

Andri: Buku paling mendekati genre tersebut yang pernah saya baca adalah "The Da Vinci Code" dan "Inferno" Dan Brown. Saya membacanya cepat, karena ceritanya seru banget. Di bagian-bagian tertentu sempat berhenti, sekadar buat googling nama-nama tempat yang disebutkan di situ. Cepat atau lambat lagi-lagi bergantung pada si pembaca dan buku yang dibaca. Kalau saya sendiri, ya itu tadi, baca novel-novel Dan Brown cepat karena seru.

Wulan: Pram novelis terbaik Indonesia yang pernah saya baca. Saya menulis beberapa ulasan tentang buku-bukunya di blog ini. Salah satunya bisa dibaca di sini: http://www.bisikanbusuk.com/2014/07/tetralogi-buru-pramoedya-dan-karya.html

Cholifah: Ya, membaca yang enak. Kenikmatan membaca bisa terletak pada kecepatan maupun kelambatan, yang jelas pada konten yang menarik dan cerita yang bagus.

Cita Tri Kusuma mengatakan...

Pembaca lambat. Karena hanya mengandalkan waktu-waktu luang dimana pekerjaan dan sosialisasi dengan lingkungan dapat saya kesampingkan sejenak sehingga saya mempunyai quality time bersama buku-buku yang hendak saya baca.

benz mengatakan...

Cita: Membaca lambat sering lebih nikmat memang. :D

bintang permata mengatakan...

Rekor membaca cepatku adalah untuk buku Tere Liye - Hujan dengan ketebalan 320 halaman. Buku ini berhasil aku selesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam. Memang bener sih, salah satu faktor membaca cepat juga terletak pada isi atau muatan buku. Terkadang isi buku yang menarik dan cocok dengan selera kita, akan membuat kita enggan untuk berhenti membacanya. Malah nagih terus.
Tapi, entah itu lambat atau cepat, yang namanya membaca intinya cuma satu: nikmat! Hehe. Budayakan membaca ~
Oh iya, anak Kak Bara nanti juga harus dididik membaca ya, hehe.

rahmat suardi mengatakan...

Cepat atau lambatnya seseorang dalam menamatkan sebuah buku sih tergantung individunya sendri. Apakah tujuannya membaca hanya untuk menggenapkan kewajiban karena sudah terlanjur membaca si buku (bagi yg pengen cepat2 kelar membaca) atau memang ada sesuatu yang dia cari dalam buku tersebut sehingga perlu waktu yang lama untuk menamatkan buku.
Saya sendiri menamatkan buku Ayat-Ayat Cinta 2 yang tebalnya hampir 700 halaman itu hanya dalam waktu 2 hari. Selain makan, beribadah, mandi, dan sedikit tidur yg saya lakukan hanya membaca buku tersebut. Alasannya, karena saya tertarik dengan kontennya. Apa lagi saya membaca buku tersebut, ketika sudah berlabel best seller.
Saat ini saya juga sedang membaca Bumi Manusia milik Pram, dan sudah sebulan belum kelar. Alasannya, kerumitan bahasa yang digunakan Pram sehingga kecepatan membaca saya agak berkurang.
Dan entah mengapa saya jauh lebih senang membaca buku kumpulan Essai. Seperti buku terbitan Mojok atau Pindai. Serta buku-buku Travelling. Selain diksinya yang lebih mudah dipahami, juga lebih informatif.

benz mengatakan...

Bintang: Betul, yang penting membaca dengan nikmat!

Rahmat: Ada sedikit perbedaan memang antara membaca buku-buku fiksi dengan nonfiksi. Membaca novel yang tebalnya sama dengan buku nonfiksi bisa jadi lebih cepat baca novel karena novel relatif lebih punya unsur menghibur, sementara membaca nonfiksi kita mencari informasi.