2 April 2016

Panduan Membaca Haruki Murakami (1)



Tulisan ini dibuat untuk yang ingin mulai membaca Haruki Murakami.

Di Twitter, mungkin gara-gara saya sendiri keseringan mengoceh tentang Haruki Murakami, saya jadi sering menerima pertanyaan mengenai penulis tersebut. Paling sering pertanyaan seperti: “Kalau mau baca Haruki Murakami, bagusnya mulai dari bukunya yang mana ya?” Saya akan berpikir barang sejenak sebelum mengetik balasan. Saya tak segera menjawabnya, karena pertanyaan itu tricky.

Kenapa saya bilang tricky, karena saya tidak yakin apa yang diinginkan oleh si penanya. Apakah ia bertanya buku Haruki Murakami yang mana yang paling saya suka, sehingga ia ingin saya merekomendasikan buku tersebut, ataukah ia bermaksud meminta saya memberi saran buku apa sebaiknya yang dibaca oleh seseorang yang baru mulai membaca Haruki Murakami.

Kebingungan saya ini, pertama-tama, didasarkan pada asumsi bahwa buku-buku Murakami yang saya sukai belum tentu akan disukai oleh si penanya, sehingga saya jadi ragu untuk memberi rekomendasi. Tetapi, buku-buku Murakami yang tidak begitu saya senangi, bisa jadi akan disukai oleh si penanya dan membuatnya membaca buku Murakami yang lain, yang mana adalah harapan saya sebagai penggemar Murakami, tetapi hal itupun sulit bagi saya karena saya tidak mungkin merekomendasikan buku yang tidak benar-benar saya sukai.

Jadi, mari saya bikin saja panduan membaca Haruki Murakami ini.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

Sedikit pengantar mengenai profil Haruki Murakami: Ia adalah penulis Jepang yang merayakan Barat. Ia lahir di Kyoto, tahun 1949. Menurut pengakuannya di berbagai wawancara, ia kali pertama menulis novel pada usia ke-33, seusai menonton pertandingan baseball (pada suatu momen home run, ia mendadak mendapat ilham bahwa ia bisa menulis novel). Hingga saat ini ia telah menulis dan menerbitkan tidak kurang dari 20 buku, fiksi dan nonfiksi (memoarnya What I Talk About When I Talk About Running buku pegangan yang bagus buat penulis). Haruki Murakami beberapa kali digadang-gadang meraih Nobel Kesusastraan, meski hingga hari ini tidak terjadi juga. Tapi, ia tak risau.

Sekarang, mari masuk ke karyanya.

Dari 20 buku Murakami yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, saya membaca 14 (beberapa di antaranya saya baca dalam versi bahasa Indonesia). Saya akan menulis keempatbelas buku itu secara acak (saya tidak ingat bagaimana urut-urutan Murakami yang saya baca) kemudian memilih yang terbaik menurut saya, lalu memberi sedikit penjelasan mengenai bukunya dan mana yang sebaiknya dibaca terlebih dahulu. Sekali lagi, ini hanya percobaan, jadi tidak harus dituruti.

      1.     Dengarlah Nyanyian Angin
2.     Pinball, 1972
3.     A Wild Sheep Chase
4.     Norwegian Wood
5.     The Wind-Up Bird Chronicle
6.     Kafka on the Shore
7.     Hard-Boiled Wonderland and the End of the World
8.     After the Quake
9.     After Dark
10.  Blind Willow, Sleeping Woman
11.  1Q84
12.  Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
13.  The Strange Library
14.  What I Talk About When I Talk About Running

Personal favourite saya adalah: 5, 6, 7. Tapi, seringkali saya menyarankan kepada yang belum pernah membaca Murakami, untuk mulai membaca dengan: 4.

Kenapa begitu?

Begini.

Supaya gampang, saya akan memisahkan buku-buku Murakami menjadi dua kategori: Realis dan surealis. Umumnya, Murakami itu surealis abis. Tapi ketika dia lagi capek menulis buku yang surealis, dia bikinlah tuh buku yang realis, yang membuat saya sadar bahwa ternyata Murakami bisa menulis buku yang biasa-biasa saja. Ya, saya sedang berbicara tentang Norwegian Wood.

Nomor 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, adalah buku-buku Murakami yang bernuansa surealis. Pendek kata, hampir semua. Tapi sekali waktu Murakami menulis juga novel realis, seperti Norwegian Wood dan Colorless Tsukuru. Saya tidak begitu menyukai buku-buku itu, bukan karena ditulis dengan jelek, tapi semata karena menurut saya Murakami adalah seorang yang surealis, dan kekuatannya muncul di dalam cerita-cerita surealis, seperti di The Wind-Up Bird Chronicle, Kafka on the Shore, dan Hard-Boiled Wonderland, tiga novel favorit saya.

Kembali ke pertanyaan: “Kalau mau baca Haruki Murakami, bagusnya mulai dari bukunya yang mana ya?”

Sebagai diri saya sendiri, tentunya saya akan menyebut The Wind-Up Bird Chronicle, Kafka on the Shore, dan Hard-Boiled Wonderland. Tapi saya khawatir apakah si penanya juga menyukai cerita-cerita surealis dengan adegan-adegan seperti ikan sarden tumpah dari langit, kucing yang dibelah perutnya dan diambil jantungnya, atau langit dengan dua bulan purnama. Jika ternyata tidak, maka si penanya takkan repot-repot mencoba membaca buku Murakami yang lain.

Baik, apakah mungkin saya sarankan saja membaca novel Murakami yang realis, seperti Norwegian Wood? Oke, mungkin aman. Tapi ini pun tak menyelamatkan saya dari perasaan khawatir berikutnya: Jika si penanya ternyata menyukai Norwegian Wood, ia akan kaget atau setidak-tidaknya bingung begitu memasuki dunia Kafka on the Shore atau The Wind-Up Bird Chronicle karena perbedaan semesta yang kentara. Lalu memutuskan untuk tidak lagi membaca Murakami.

Pelik, pelik.

Jadi, begini saja. Bagi yang menyukai cerita-cerita sureal (kalau bingung sureal itu seperti apa, bayangkan saja cerita fantasi yang tiba-tiba ada hal nggak masuk akal muncul dalam cerita-walaupun sureal dan fantasi sebetulnya berbeda) bacalah The Wind-Up Bird Chronicle, Kafka on the Shore, dan Hard-Boiled Wonderland. Ketiga buku itu sepertinya baru tersedia dalam bahasa Inggris, kecuali Kafka on the Shore yang baru-baru ini saya lihat terjemahan bahasa Indonesia di toko buku, berjudul Dunia Kafka.

Bagi yang tidak begitu bisa menikmati cerita-cerita sureal, bacalah Norwegian Wood. Novel ini konon yang membuat nama Murakami dikenal secara luas. Selain muatannya yang juga terasa seperti buku roman populer (a la Murakami tentunya, jadi tetap akan ada karakter-karakter dengan aura aneh), juga karena novel ini diadaptasi ke layar lebar (di Youtube ada cuplikannya). Norwegian Wood sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Apakah itu cukup membantu?


. . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tentu saja, apa yang saya suka tak harus kamu suka. Jika ternyata ada beberapa atau banyak orang tak dapat menikmati dunia fiksi Murakami, kenapa pula saya harus repot-repot mengubah pikiran mereka. Memang akhirnya perkara selera saja. Tapi, saya rasa adalah hal yang menyenangkan juga kalau saya mencoba berbagi dan menjelaskan pengalaman saya dengan Murakami, serta mengapa saya menyukai buku-bukunya. Bukan hal aneh pula saya kira, jika saya berharap orang-orang lain juga menyukai buku-buku dan penulis yang saya suka.

Ini adalah salah satu usaha itu.

(Pada kesempatan berikutnya, saya akan mencoba menulis tentang bagaimana cara menikmati dunia fiksi Murakami).




  • ·      Apa kamu sudah pernah membaca buku-buku Haruki Murakami? Buku apa yang pertama kamu baca? Apa kamu menyukainya? Bagaimana kesan selama membaca Murakami? Share pengalaman kamu di kolom komentar ya. Saya tunggu!

25 komentar:

artha kusuma mengatakan...

Buku yang sudah saya seperti Norwegian Wood, Dengarlah Nyanyian Angin, Kafka on the Shore dan 1Q84. Bila saya membaca cerita yang ditulis murakami, saya selalu teringat akan film-film produksi Ghibli Studio. Seperti Sprited Away yang memunculkan banyak karakter aneh.

Aulia Putri mengatakan...

Buku yang sudah saya baca adalah Norwegian Wood (berdasarkan rekomendasi Kak Bara) Saya cukup menyukai ceritanya yang sebenarnya sampai saat ini saya belum paham apa yang akan disampaikan oleh Murakami sendiri. Saya pernah membaca sebuah resensi tentang Norwegian Wood bahwa karakter di dalamnya mencirikan post-modern dan semacamnya. Tulisan Murakami itu sulit untuk dimengerti dan aneh tetapi entah mengapa saya rindu ingin membaca karya Murakami yang lain.

Sin mengatakan...

Baru akan membaca Norwegian Wood. Sudah pernah membaca karyanya sebelumnya tapi berupa cerpen bukan novel. Baca post ini semacam diberi "kompas" ketika hendak berkelana (dalam alam fiktif rekaan Murakami). Btw foto koleksinya bikin ngiler sekaligus iri. Sebagai pencinta bacaan yang berbau surealis, saya pengin comot semua bukunya (andai bisa dicomot dari layar laptop). Waduh!

Mari baca caa caaa caaaa caaaaa! ^^

effendityas mengatakan...

Baru baca Kafka on the Shore sama Norwegian Wood. Suka! Definitely my kind of perfect. Penasaran juga sama A Wild Sheep Chase. Rencananya setahun ini mau baca Murakami aja. Hehe. Sekarang lagi cari-cari The Wind-Up Bird Chronicle yang covernya kayak punya Bara itu. Susah carinya :")

benz mengatakan...

Artha: Ya, tokoh-tokoh Murakami memang watak yang rada-rada aneh kalau dibandingkan dengan manusia yang pada umumnya kita kenal. Tapi bisa jadi juga mereka sebenarnya adalah representasi yang bisa jadi cukup tepat atas manusia modern Jepang sekarang.

Aulia: Aneh memang. Ha, ha, ha. Coba baca "Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage", mungkin bisa lebih relate karena isinya tentang persahabatan.

Sin: Saya suka cerpen-cerpennya Murakami. Kadang-kadang berpikir Murakami lebih bagus menulis cerpen ketimbang novel. Efek sureal dan terjangan pelurunya lebih terasa. Di novel dia kadang seperti berpanjang-panjang.

Effendi: Kalau suka "Kafka on the Shore", mungkin akan suka juga "The Wind-Up Bird Chronicle" (coba cari di Aksara). Kalau "A Wild Sheep Chase" itu buku ketiga dalam Trilogy of the Rat (bersama "Dengarlah Nyanyian Angin" dan "Pinball").

fibay mengatakan...

Saya pernah membaca 3 karya Murakami, yaitu Dengarlah Nyanyian Angin, Norwegian Wood & Kafka on The Shore. Meski sudah membaca 3 buku baik yang realis maupun surealis jujur saya tetap tidak bisa memahami apa maksud Murakami dibalik karya-karyanya.
Benar kata kamu Bara, ini kembali ke masalah selera. Setelah membaca 3 karya Murakami, saya tetap tidak bisa terpikat.

Ahmad Muwafiq Setiawan Aisfillah mengatakan...

Saya sudah baca Dengarlah Nyanyian Angin, norwegian Wood, Dunia Kafka dan 1q48. Paling suka Dengarlah Nyanyian Angin bang...dan paling terbata-bata sama 1q48 (Eka Kurniawan mengibaratkan 1q48 seperti Mie instan yang kelewat matang hehe)
Ouh ya bang Bara kan ngefans banget sama Murakami, kenapa tak mencoba untuk baca penulis Jepang lainnya bang? Ryonosuke Akutagawa dan Edogawa Rampo juga bagus banget bang, Yasunari Kawabata juga tapi prosanya terlalu liris...hehe

Ahmad Muwafiq Setiawan Aisfillah mengatakan...

Saya sudah baca Dengarlah Nyanyian Angin, norwegian Wood, Dunia Kafka dan 1q48. Paling suka Dengarlah Nyanyian Angin bang...dan paling terbata-bata sama 1q48 (Eka Kurniawan mengibaratkan 1q48 seperti Mie instan yang kelewat matang hehe)
Ouh ya bang Bara kan ngefans banget sama Murakami, kenapa tak mencoba untuk baca penulis Jepang lainnya bang? Ryonosuke Akutagawa dan Edogawa Rampo juga bagus banget bang, Yasunari Kawabata juga tapi prosanya terlalu liris...hehe

benz mengatakan...

Fibay: Rata-rata cerita Murakami adalah potret manusia yang mempertanyakan eksistensinya sendiri. Apa makna keberadaan dia di dunia? Apa tujuan hidupnya? Apakah ia harus punya tujuan hidup? Karakter-karakter dalam cerita-cerita Murakami mengalami keterlepasan diri dari masyarakat dan bergerak bagai mayat hidup-- tanpa motivasi, hasrat, ambisi-- sampai, biasanya, ada tokoh sampingan yang membuat karakter tersebut mulai memikirkan makna keberadaannya.

Ahmad: Saya membaca Kawabata, dan sangat terpikat dengan kelembutan narasinya. Tapi kalau sudah ketemu Murakami atau penulis-penulis lain yang fast-paced rasa-rasanya jadi sulit untuk bisa kembali menikmati narasi yang super pelan seperti Kawabata. Ha, ha, ha. Tapi saya tetap berharap bisa membaca penulis-penulis Jepang yang lain. Dalam waktu dekat mungkin akan mulai dengan Akutagawa.

Ifan Afiansa mengatakan...

pertama baca murakami yang dengarlah nyanyian angin, dan ternyata suka banget sekaligus bingung kenapa suka novel ini. soalnya setelah itu baca 1Q84, Norwegian Wood, After The Quake dan sekrang lagi baca Kafka On The Shore (baru sampe hal 50an juga ternyata suka). dalam bebrapa buku tersebut aku masih bisa jelasin kenapa suka buku buku itu, namun dengarlah nyanyian angin punya kasus yang berbeda.

mungkin mas bara bisa share, apa suka dengan buku itu ? dan kenapa?

Loganue Saputra Jr. mengatakan...

Aku udah baca 1Q84, Norwegian Wood, Denganrlah nyanyian Angin, dan Dunia Kafka. Semua buku itu terjemahan bahasa Indonesia....Ketika membaca itu semua aku jatuh cinta setengah mati pada Murakami, secara aku juga kalau nulis fiksi tak jauh lah dari surealis juga. Berharap novel-novel yang lainnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia lagi.

Dunia Murakami adalah dunia para kesepian, sejauh novelnya yang aku baca sih. Demikian juga dalam beberapa cerpennya juga selalu mengangkat tentang kesepian, kesendirian, dan ditinggalkan. Dari sekian banyak keanehan yang ditampilkan oleh Murakami entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan yang membuat aku jatuh cinta saja dengan semua tulisannya. Mungkin kata tepatnya tersihir hehehe

Ah, semoga yang merasakan ini tidak hanya aku saja :)

Antika Sari Rezki mengatakan...

Sudah lama sekali saya menyelesaikan Norwegian Wood. Sampai sekarang, saya masih jatuh cinta dengan Toru Watanabe "Manusia yang tak bisa memahami sesuatu tanpa menulisnya". Lalu saya mendapatkan 1Q84, saya belum punya yg edisi 1. Edisi 2 dan 3 saya tidak terlalu militan membacanya seperti Norwegian wood. Sekarang saya sedang baca dunia kafka. Sepertinya seru.

Evita Mf mengatakan...

Gara-gara penasaran kenapa kak Bara selalu nulis tentang Murakami di twitter, aku akhirnya baca buku Murakami. Aku juga baca Norwegian Wood sebagai permulaan (berdasarkan saran kak Bara). Ternyata aku suka tulisannya, walau sepanjang baca Norwegian Wood bertanya-tanya, 'ini tuh konfliknya apa, maunya gimana, akhirnya bakal kaya apa'. Ah mendadak jadi kangen Watanabe.

benz mengatakan...

Ifan: "Dengarlah Nyanyian Angin" menjadi menyenangkan karena ia tak punya ambisi menyajikan apapun yang orang-orang anggap sebagai sesuatu yang bermakna/berarti. Cerita begitu saja, tentang sepasang sahabat menghabiskan minggu-minggu libur. Saya suka bagaimana Murakami menuturkan isi kepala tokoh Aku, yang tampak ngalor-ngidul tanpa arah, dan saya kira jangan-jangan memang begitu cara berpikir anak muda Jepang pada masanya.

Loganue: Benar. Dunia Murakami adalah dunia yang soliter. Terasing atau bahkan mengasingkan diri dari masyarakat dan Murakami menyajikan banyak "pembenaran" atas logika kesendiriannya. Tokoh-tokohnya selalu lepas dari lingkungan sekeliling, sampai akhirnya bertemu dengan tokoh-tokoh pendukung yang biasanya membuat tokoh-tokoh utama mulai memikirkan makna keberadaannya sendiri.

Antika: Novel "1Q84" tentu saja mesti dibaca dari bagian pertama, bagian ketiga malah nggak terlalu penting. Coba "Dengarlah Nyanyian Angin". "Kafka on the Shore" favorit saya, tapi nggak tahu apakah hasil terjemahan bahasa Indonesia dari buku itu bagus.

Evita: Ya, memang nggak jelas konfliknya apa seperti yang saya urai di atas. Ha ha ha. Tapi itulah intinya dunia fiksi Murakami: menikmati ketidakjelasan arah. Manusia kelewat butuh tujuan hidup sampai-sampai kaget kalau tujuan hidupnya mendadak hilang. Tokoh-tokoh Murakami menyajikan alternatif menjalani hidup tanpa tujuan dan apakah manusia masih bisa menikmatinya.

Frida Kurniawati mengatakan...

Blind Willow, Sleeping Woman adalah yg pertama saya baca, disusul Sputnik Sweetheart. Saya langsung suka gaya surealis di percobaan pertama, terlebih saya terkesima dg caranya bikin pembaca penasaran lalu di akhir menggantungnya begitu saja, sehingga membuat saya berpikir keras, seperti cerpen Nausea-apa-tuh dan cerpen tentang menghilangnya seorang pria di tangga apartemen (saya lupa judulnya). Di Sputnik Sweetheart, meski ada sempalan adegan yg dijadikan cerpen di Blind Willow, novel itu tetap bikin penasaran dan merinding (adegan feeris wheel), dan yah, bikin mikir. Nah, haters Murakami bilang kalau gayanya niru Ryunosuke Akutagawa, kan, Bang, jadi saya coba baca jg karya blio, yg In The Grove, Rashomon, dan apa lagi saya lupa. Memang ada aura yg mirip sih, mungkin dark-nya atau apa. Tapi nggak sama, tentu saja. Oh ya, semuanya saya baca versi ebook bhs Inggris. Sekian, tulisan yg membantu, Bang!

benz mengatakan...

Frida: Belum pernah baca Akutagawa. Tapi saya rasa orang-orang Jepang memang punya kecenderungan yang sama, baik di era kuno maupun modern. Nuansa psikologis individunya mudah mengarah ke suicidal thoughts, to put it simply (hahaha). Jadi tiap baca penulis Jepang akan menemukan aura yang gelap. Kadang-kadang capek juga bacanya, jadi perlu diimbangi dengan yang kocak-kocak (Vonnegut, Keret).

casualbookreader mengatakan...

Hi Bara,

Pertama, thanks for sharing this post. Teman-teman saya sering banget tanya ke saya, buku apa yang pertama kali sebaiknya dibaca dari Murakami. Biasanya sih saya bilang After Dark. Atau Tsukuru. Tapi walaupun (((koleksi))) buku-buku Murakami, jujur saya belum membaca semua. Saya pertama kali membaca Dengarkan Nyanyian Angin, tidak ingat yang pasti kenapa, pokoknya suka. Saya melewatkan Norwegian Wood beberapa tahun dengan alasan ogah mainstream dan baru saja membacanya di tahun ini. Lagi-lagi lupa ceritanya, tapi yang paling berkesan utk saya adalah Sputnik Sweetheart. Saya selalu bilang saya akan mau membaca ulang Sputnik Sweetheart kalau saya sudah siap jatuh cinta lagi #eeaaa.

Short long story, saya membaca Murakami untuk recharge energy, misalkan saat terlalu sering berkomunikasi dengan orang banyak. Ngomong-ngomong setuju sama komenmu di atas, orang-orang Jepang punya kecenderungan sama yang mengarah ke suicidal thoughts, dan terbukti dengan banyaknya penulis Jepang yang bunuh diri. Saya pernah ngobrol dengan seorang teman and we were like "Tinggal nunggu Murakami bunuh diri, nih!" #heh

Nurmanto Swasono mengatakan...

Karya Murakami yg pertama saya baca itu cerpen nya yg judulnya seeing 100% perfect girls apa gitu (bahasa indonesia)Saya sudah baca beberapa cerpen Murakami (bahasa Indonesia) tentu bahasa Indonesia yg saya baca, itu pun saya masih mereka reka, apa maksud dari ceritanya, tapi dari cerpen itulah saya makin suka sama karya2 Murakami yg lain. Novel pertama yg saya baca dengarlah nyanyian angin. Saya suka sama novel pertama yg saya baca dan novel pertama karangan Murakami (meskipun itu gak begitu dianggap sebagai karangan pertamanya)dari situ saya lanjut baca ke norwegian wood, dan when I talk about running. Jujur aja saya gak terlalu suka surealis, tapi cara Murakami menyampaikan kata2 nya itu ajaib bgt. Suram, tapi filosofis he he he. Thanks bang benz penjelasan diatas rinci bgt tuh. Gambarnya bikin hati "deg deg ser" kalo suatu saat benci sama semua koleksi bukunya, saya siap nampung :D

Tusitala mengatakan...

Karya Murakami yang pertama kali saya baca adalah Dengarlah Nyanyian Angin. dan saya tau inilah penulis yang saya cari. jadi saran saya sebelum baca yang lain-lain, baca buku ini dulu. semua tulisan Murakami bisa dijelaskan di buku ini.

benz mengatakan...

Casualbookreader: Saya juga suka Sputnik Sweetheart, dan sampai hari ini masih geregetan dan kesal sama Murakami gara-gara bikin bagian "bolong" sangat besar ketika Sumire menghilang. Menarik sekali membaca alasan kamu tentang recharge energy saat membaca Murakami. Kalau saya, justru membaca Murakami untuk mempertajam perasaan sendu saya. Hahaha.

Nurmanto: Memang. Cerita-cerita Murakami suramnya minta ampun. Tapi memang dengan begitu dia sedang mencoba untuk memperlihatkan salah satu sisi manusia yang mau enggak mau juga harus diterima. Manusia modern yang dipenuhi keriuhan ternyata enggak sebahagia yang dikira.

Tusitala: Betul. Dasar karya Murakami ada di buku pertamanya. Saya suka banget sama novela debutnya itu!

Erick Kamaruddin mengatakan...

Pertamakali kenal Murakami dari Norwegian wood. Jatuh cinta? Iya, candu? Iya. Murakami mengubah polapikir dan terutama gendre bacaan. Hati-hati, tahap gila di 1Q84 lumayan bikin khayalan tingkat tinggi. Hahaha

muhammad harits mengatakan...

saya pertama kali baca "Kafka on The Shore" kemudian lanjut ke cerpen-cerpennya, dan yang jadi favorit saya town of cats & On seeing the 100% perfect girl. Kemudian saya coba membaca norwegian wood untuk membedakan gimana sih kalau Haruki Murakami nulis bergaya realis,dan hasilny capek. Baca norwegian wood terasa lebih capek ketimbang baca kafka on The Shore. Padahal kalau dilihat lebih tebal Kafka on The Shore (597hlm vs 426hlm). Kalau menurut pendapat pribadi sih karena tempo ceritanya terlalu lambat. Ngomong-ngomong saya penasaran ingin baca Sputnik Sweetheart, tapi dimana ya bisa beli yang terjemahan Indonesianya? soalnya kalau cuma di gramed cuma ada Kafka on The Shore, 1Q84, & Norwegian Wood. hehehe. Mungkin kakak tau tempat2nya. Makasih.

Dini Sekar Langit mengatakan...

Saya mencoba dari The Strange Library dan langsung paham yang surealis itu seperti apa.

Septiani Kusherawanti mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
hanifah3100 mengatakan...

viagra asli
obat kuat viagra
jual viagra