2 April 2016

Panduan Membaca Haruki Murakami (2)


Photograph by Glo



Pertanyaan: Bagaimana cara menikmati dunia fiksi Haruki Murakami?

Tulisan ini dibuat untuk yang sudah membaca Haruki Murakami dan tidak dapat menikmatinya dan bertanya-tanya bagaimana cara menikmati buku Murakami. Tulisan ini juga merupakan lanjutan dari bagian sebelumnya, Panduan Membaca Haruki Murakami (1). Di tulisan tersebut, saya mencoba memberi rekomendasi buku Haruki Murakami yang mana yang sebaiknya dibaca bagi mereka yang ingin mulai mengenal dunia fiksi Murakami.

Kini, setelah masing-masing memegang buku Murakami untuk kali pertama dan sudah mulai membaca dan ternyata mengernyit mengalami kesulitan mengikuti semesta fiksi Murakami, saya akan coba sedikit memberikan panduan sederhana, bagaimana kiranya kita dapat memahami, atau setidaknya menikmati dunia fiksi Murakami.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .
  • Murakami = Sureal, Absurd

Seperti saya sebut dalam Panduan Membaca Haruki Murakami (1), secara umum dunia fiksi Murakami adalah dunia yang sureal. Harap dibedakan antara sureal dan fantasi. Fantasi, secara sederhana, adalah cerita yang di dalamnya terdapat makhluk mitikal, dan manusia menyadari status mitikal makhluk tersebut. Tapi sureal merupakan situasi yang absurd, tidak berada dalam lingkup nalar dan logika umumnya-namun diciptakan penulisnya dengan intensi agar situasi absurd tersebut diterima sebagai kewajaran, setidak-tidaknya tidak dipandang sebagai hal yang fantastis/mitikal (dalam pengertian cerita fantasi).

Contoh paling jamak, dan kemudian menjadi trademark Murakami, adalah kehadiran kucing yang bisa bicara. Jika kucing bicara ini hadir di novel Lord of the Rings atau Harry Potter, ia akan dipandang sebagai makhluk mitikal, setidak-tidaknya mengandung sihir atau terkena sihir-dan memang demikian intensi penulisnya. Tetapi kucing bicara pada cerita-cerita Murakami merupakan bagian kewajaran dalam semesta karakternya, dan penulisnya menyajikan absurditas tersebut dengan intensi agar dipandang secara wajar pula. Thus, kucing bicara di cerita Murakami adalah sesuatu yang absurd, sementara di novel fantasi tidak.

Kunci pertama: Hilangkan harapan akan bertemu hal-hal wajar dan normal. Normal adalah kata yang tak pernah eksis dalam dunia fiksi Murakami.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

  • Murakami = Landai, Ngalor-Ngidul


Jika kamu menyenangi cerita dengan plot yang bergerak cepat a la kisah detektif macam Dan Brown atau kepastian misi seperti dimiliki karakter-karakter dalam novel fantasi, hampir pasti kamu akan dibuat bosan oleh Murakami.

Tatkala cerita dibuka, tokoh utama novel-novel Murakami (maupun cerpen-cerpennya) tampak tak memiliki tujuan hidup-dan memang begitu kiranya, karena di situ lah poinnya (kita bicara ini di kesempatan lain). Tanpa tujuan, tokoh-tokoh Murakami akan melakukan kegiatannya sehari-hari: memasak spageti, membaca novel, jalan-jalan naik bus atau kereta atau taksi tanpa tahu ingin ke mana sebenarnya, pergi ke toko buku, mampir di kafe, semuanya tanpa maksud dan makna. Sekilas ini tampak menyalahi aturan menulis Kurt Vonnegut, yang berkata bahwa setiap tokoh harus memiliki keinginan, sekalipun itu hanya segelas air.

Tokoh-tokoh Murakami tak punya kenginan.

Inilah yang membuat alur cerita Murakami sekilas terlihat seperti ngalor-ngidul nggak jelas arahnya, dan inilah kiranya yang membuat beberapa pembaca jadi bosan. Mereka berharap menemukan dengan segera apa yang ingin diceritakan Murakami, tetapi setiap halaman yang dibalik dan dibaca hanya menyajikan hal-hal yang entahlah apakah ini akan membawa mereka ke satu tujuan yang sejak awal mereka harapkan.

Murakami sendiri berkata, di satu wawancara, ia menulis cerita-ceritanya seperti mengamati sebuah sumur: Ia sama sekali tak tahu benda apa yang akan muncul ke permukaan, sampai benda tersebut muncul. Seperti itu pula tokoh-tokohnya. Tidak menentukan tujuan hidup, tidak merasa harus memiliki tujuan hidup. Tokoh-tokoh Murakami adalah kasus sempurna dari slogan go with the flow. Begitu pula yang mesti kita lakukan untuk menikmati dunia fiksi Murakami.

Kunci kedua: Hilangkan harapan akan goal cerita yang jelas dan gamblang.

Go with the flow.

Enjoy the ride.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

  • Murakami = Kejutan


Jangan salah. Pada bagian-bagian awal, dan ini memang bisa berlangsung sangat panjang bahkan mungkin hingga sepertiga atau separuh buku, dunia fiksi Murakami memang terasa landai dan ngalor-ngidul. Tapi bertahanlah. Kamu akan sampai di satu titik ketika absurditas dimulai, keanehan-keanehan perlahan bermunculan, dan puncaknya adalah kejutan yang menyenangkan.

Tentu saja kejutan ini pun hadir dalam situasi yang absurd, tentu saja.

Poin dari membaca Murakami adalah, salah satunya, menikmati absurditas. Jika kita sudah dapat menerima kehadiran absurditas, situasi-situasi di luar logika, niscaya akan lebih mudah menikmati dunia fiksi Murakami. Pembaca yang sudah terbiasa dengan novel-novel fantasi saya kira akan lebih terbantu. Bukan berarti yang tidak membaca novel-novel fantasi akan kesulitan menikmati Murakami. Tetapi yang ingin saya katakan adalah, penting untuk memiliki kemampuan menikmati absurditas, karena hal tersebut saya kira merupakan bekal utama dalam memasuki dunia fiksi Murakami.

Kunci ketiga: Membuka diri terhadap ketidakjelasan.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

“Don’t pointless things also have their place in this imperfect world?” (Haruki Murakami)

Saya kira, kalimat retorik itu adalah kredo kepengarangan Murakami, jika tidak satu-satunya berarti salah satunya. Memasuki dunia fiksi Murakami berarti memasuki dunia yang (tampak) tak penting, tak jelas, dan membosankan. Tetapi, seperti ia katakan, bukankah hal-hal tak penting juga memiliki tempatnya di dunia yang toh tak sempurna ini? Melalui hal-hal tak penting dan tak jelas itulah Murakami mempertanyakan hal mendasar dalam hidup: Apa tujuan manusia hidup? Apa tujuan dan makna keberadaan manusia di dunia, jika tujuan dan makna itu memang ada?

Tapi kita akan bahas tentang ini lebih dalam lain kali, lengkap dengan contoh-contoh langsung dari tokoh-tokoh di novel-novelnya.



  • ·      Bagian apa yang paling kamu sukai dari buku-buku Murakami? Bagian mana yang tidak dapat kamu pahami? Apa yang membuat kamu kesulitan menikmati cerita-cerita Murakami? Share pendapat kamu di kolom komentar ya. Saya tunggu!



13 komentar:

Gita Prista mengatakan...

Aha! Sepertinya dengan membaca postingan ini mendapat pencerahan untuk bisa menikmati Murakami. Saya sudah baca Dengarlah Nyanyian Angin. kesannya: saya tak terkesan walau sudah baca ulang lagi. rasanya saya sudah mempersiapkan diri sebelum baca dengan tak banyak ekspektasi, legowo,tetap saja tak nikmat. Untuk novel ini yang masih gak jelas ya-terus-kenapa dengan Aku, kekasihnya yang penjaga toko kaset, sahabat Aku, penyiar radio, terus pada kenapa gitu? apa karena buku ini masuk trilogi jadi masih gak jelas? tapi setelah baca postingan ini, benar kata bara, tokoh-tokoh di novel Murakami seperti tak punya tujuan hidup. kalau untuk absurditas, sepertinya saya masih bisa menerimanya. dan saya juga masih punya niat (mulia) untuk membaca karya Murakami lainnya.

Maria Niken Mardani Puspitasari mengatakan...

Kenapa bang bara tak memasukkan Sputnik Sweetheart? Padahal menurutku buku itu masuk kategori yg lebih "light" sama seperti Norwegian Wood, meskipun endingnya pun tak jelas apa makna nya. Btw, yang bikin aku sangat suka Murakami adl tokoh utama nya kebanyakan menikmati kesendirian. Seakan Murakami ingin menegaskan (ato ini perasaan saya aja haha) kalo sendiri itu g bikin mati kok. Sendirian itu juga menyenangkan. Dengan sendiri pun km jg bisa bahagia. Dg sendiri km punya waktu untuk bs mengamati lbh dunia sekitarmu. Ngrasa bahwa buku2 Murakami itu "saya banget" yang cenderung introvert ini. Haruki Murakami seperti "penyelamat" buat saya karna mengubah mindset saya bahwa tak selamanya sendirian itu buruk, bahwa bahagia tak melulu soal orang2 yg membuatmu bahagia tp cukup dg km menikmati sendiri mu dg hal2 yg sangat simpel dan kamu sukai. Itulah bahagia yg hakiki, ketika kits sangat nyaman dg diri kita sendiri. It makes me love Murakami even more! Saat ini sedang membaca seperempat dr Norwegian Wood. Semoga next bisa lebih banyak membaca karya dr Haruki Murakami ♥

Tri Eka Okta Selly mengatakan...

Iya, Bang! Saya penyuka novel-novelnya Dan Brown yang alurnya cepat banget. Lalu penasaran sama bukunya Murakami. Buku pertama yang saya baca 1Q84. Dengan alur yang lama, saya agak bosan juga. Akhirnya baru selesai sebulan atau dua bulan. Sekarang baru mau baca Norwegian Wood dan Kafka on the Shore. Kira-kira gimana caranya biar gak bosan dan biar gak gampang terdistraksi sama buku lain ya? Kasih tips Bang Baraaa. ��

benz mengatakan...

Gita: Letak kenikmatan membaca "Dengarlah Nyanyian Angin" justru pada ketidakjelasannya itu. Ha ha ha. Itu novel nggak jelas banget memang. Tapi sebenarnya ia membicarakan juga tentang tragedi tokoh-tokohnya (Aku punya mantan yang semuanya mati bunuh diri, temannya si Aku anak orang tajir tapi membenci orang-orang tajir dan cuma percaya sama buku yang ditulis oleh orang yang udah mati), meskipun semua tragedi itu ditulis seperti sesuatu yang biasa-biasa saja, seolah nggak ngasih efek penting bagi tokoh-tokohnya. Bagi mereka ada tragedi atau nggak ada tragedi, hidup ya begitu-begitu aja.

Maria: Benar. "Sputnik Sweetheart" termasuk jenis novel Murakami yang cukup kasual, seperti "Norwegian Wood". Tapi ada sejumlah keganjilan di novel itu, misalnya saja keganjilan paling major yaitu hilangnya Sumire yang nggak terjelaskan bahkan sampai akhir cerita. Ada bolong yang besar di "Sputnik Sweetheart" sehingga membuat novel ini, meski bernuansa kasual, tetap berada di area yang berbeda dengan "Norwegian Wood". Tentang kesendirian, saya sempat membahas sedikit di sini: http://www.bisikanbusuk.com/2013/12/kesepian-dan-kesendirian-murakami.html

Tri: Memulai membaca Murakami dengan "1Q84" memang rada salah langkah karena bisa jengah duluan. Ha ha ha. "Norwegian Wood" lebih santai, "Kafka on the Shore" juga kalau nggak siap dengan keanehannya bisa bikin bosen. Soal distraksi, sih, tiap orang punya cara sendiri. Distraksi paling kuat saya adalah Twitter. Solusinya, tiap sepuluh halaman baca ngetweet aja. Jadi bacanya dapet, ngetweetnya dapet. Hahaha.

Muh Aldhyansah mengatakan...

Saya baru selesai menamatkan buku Haruki yang Norwegian Wood, menurut saya bukunya menarik. Tetapi menurut saya juga, Haruki seperti ingin mensugesti pembacanya untuk menjadi manusia tanpa ambisi yang penyendiri, maka wanita akan berdatangan dengan sendirinya. Jumlah bunuh diri yang terlampau banyak dalam buku ini juga membuat ceritanya semakin suram, ditambah lagi latar tahun akhir 60-annya membuat saya merasa terisolir dari dunia saya sendiri. Norwegian Wood berhasil membuat saya melewatkan malam minggu yang memang saya ingin lewatkan, walaupun tetap tidak berhasil untuk membuat saya melewatkan El Clasico semalam :). Ini komentar pertama saya di blog ini, sebagai sesama mahasiswa perantauan UII selamat sukses bang :)

Muh Aldhyansah mengatakan...

Btw, menurut saya Haruki sepertinya menjadikan Toru Watanabe sebagai alter egonya dalam cerita ini. Setelah membaca Norwegian Wood saya jadi membayangkan kalau Haruki waktu muda adalah jenis orang seperti Watanabe ini, tahun lahir dari Watanabe juga 1949 sama seperti Haruki.

Frida Kurniawati mengatakan...

Yang saya suka dari karya blio persis dg poin-poin yg Abang tulis di artikel ini. Oh ya, plus aura muram dan soliternya (mungkin krn saya introver, kali ya, jadi semacam menemukan penghiburan di dunia yg mengagungkan karakter ekstrover ini u_u).

Frida Kurniawati mengatakan...

Oh iya, Bang, satu cerpen yg saya gagal pahami adalah Blind Willow, Sleeping Woman.

benz mengatakan...

Aldhyansah: Saya rasa tokoh-tokoh utama novel Murakami memang merupakan alter ego dari dirinya sendiri. Saya membayangkan aslinya Murakami juga seperti tokoh-tokoh yang ia tulis: Penyendiri dan aneh.

Frida: Saya lupa persisnya cerita "Blind Willow, Sleeping Woman" tapi kalau nggak salah itu tentang dua orang abang-beradik mengunjungi seorang perempuan di rumah sakit. Perempuan itu tidur di ranjangnya dan bermimpi sedang berada di hutan willow dan masuk ke sebuah rumah. Tapi lupa persisnya tentang apa. Buku-buku Murakami bicara tentang logika seorang yang soliter dan mempertanyakan makna keberadaan dirinya di dunia.

Noor Rachmi Mahbubie mengatakan...

Pertama kali membaca novel Murakami judulnya "Norwegian Wood" 3 tahun yang lalu saya langsung suka, setelah itu "Dunia Kafka". Ketika membaca "Norwegian Wood" sata gak tahu sama sekali mengenai penulisnya, waktu itu hanya memilih secara random di perpustakaan. Gak lama setelah saya selesai membacanya Bang Bara sering membahas Murakami di akun twiiternya, baru saya tau kalau Murakami itu penulis yang karya-karyanya bisa disebut surealis. Saya ngerasa gak bisa menikmati kalau membaca novel murakami dengan berbagai judul sekaligus, saya senang membacanya satu persatu perlahan-lahan sambil menikmati keabsurdannya. Dan untuk membaca novel selanjutnya saya perlu jeda, supaya tidak terlalu terbawa suasana suramnya.

Anonim mengatakan...

Masih belum paham knp 1Q84 harus di tulis sepanjang itu (3 buku dalam terjemahan Indonesia). Krn awal nya baca Norwegian Wood, novel Murakami yg 'normal' terus aga kaget pas baca 1Q84 yg banyak kejadian surealisnya. Tp setuju sama Bang Bernard, saya suka sama kejutan2 yg dikasih di novel2nya Murakami. Selain itu, saya juga ush selesai baca Kafka on the Shore & Dengarlah Nyayian Angin.

Fuad Akbar Adi mengatakan...

Tulisan yang sungguh mencerahkan Bang. Udah frustrasi saya bacanya.

benz mengatakan...

Noor Rachmi: Betul, Rachmi. Membaca buku Murakami tidak bisa secara beruntun. Kalau sudah beres baca satu novel, bahkan hanya baca satu cerita pendek, butuh jeda beberapa lama dulu baru bisa lanjut baca cerita dan buku berikunya. Energi habis terserap sama nuansa gelapnya Murakami. Hati dan pikiran bisa capek. Hawanya jadi gloomy dan enggak enak. Tapi entah kenapa pengin terus membaca cerita-ceritanya.

Anonim: Sama, saya juga enggak mengerti kenapa bagian ke-3 1Q84 itu harus ada di sana. Menurut saya dua bagian pertama itu sudah cukup dan enggak perlu dipaksakan menjadi lebih panjang.

Fuad: Haha. Terima kasih sudah membaca.