9 April 2016

Parade Ironi Anton Chekhov



 
Keburukan terbesar manusia bukanlah ketika ia dengan sengaja berbuat jahat, tetapi tatkala ia menjadi sosok yang munafik. Barangkali ini yang coba dikatakan oleh Anton Pavlovich Chekhov, atau lebih dikenal sebagai Anton Chekhov, raja cerita pendek Rusia melalui kisah-kisah yang ia tulis dalam kumpulan cerita Pengakuan. Ia memotret kemunafikan para manusia. Sikap munafik itu, rata-rata, terbit ketika mereka dihadapkan pada satu benda paling keramat di dunia: uang.

Anton Chekhov lahir tahun 1860, sekitar tiga dekade setelah kelahiran Leo Tolstoy, dan empat dekade setelah Fyodor Dostoyevsky-- dua raksasa sastra Rusia, jika tidak dunia. Sepanjang usianya yang terhitung tidak begitu panjang, yakni empat puluh empat tahun, Anton Chekhov menulis tak kurang dari ratusan judul cerita pendek, belasan naskah drama, beberapa novela, dan juga karya nonfiksi. Buku Pengakuan, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Rusia oleh almarhum Koesalah Soebagyo Toer adik sastrawan Pramoedya Ananta Toer ini berisi dua puluh lima cerita pendek yang dipilih dari sekian banyak karya Anton Chekhov itu.

Kedua puluh lima cerita pendek Anton Chekhov dalam Pengakuan terbilang berukuran amat pendek, mengingatkan pada cerita-cerita super pendek para penulis Amerika Latin, meski tidak persis sama-terutama soal humor. Jika sebagian cerita penulis Amerika Latin terasa lucu karena sarkasme dan situasi komikal, humor Chekhov terletak pada ironi dan hipokrisi manusia-manusianya.

Hal tersebut seolah telah diperingatkan Chekhov sejak pembukaan. Dalam cerita berjudul “Munafik”, ia menulis, “Jangan percaya kepada Yudas-Yudas, bunglon-bunglon! Di zaman kita ini orang lebih mudah kehilangan kepercayaan daripada sarung tangan tua.” Cerita itu sendiri berkisah tentang seorang pegawai kantor yang sosoknya senantiasa mengiba, pendiam, pemurung, manutan, tetapi suatu hari kepergok atasannya sedang mengomel berkomentar pedas tentang politik dan kebebasan berpendapat.

Ironi yang kental hadir hampir di setiap cerita Anton Chekhov. Salah satu yang sangat pekat ada dalam cerita “Pengakuan”, yang judulnya diambil sebagai buku ini. Cerita itu berkisah tentang seorang kasir yang korup, tetapi menemukan dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang tadinya tak peduli padanya. Orang-orang mendekatinya karena ia punya banyak uang. Mereka memandang jijik pada si kasir ketika muncul gosip bahwa ia korupsi, tetapi mereka berkata demikian setelah mendapatkan bagian dari hasil korupsi si kasir.

Cerita berjudul “Satu-satunya Cara Berkenaan dengan Proses Organisasi Perkreditan Petersebug” cukup menggelitik. Dalam cerita tersebut seakan-akan Anton Chekhov mencoba memberi solusi atas praktik korupsi. Tokoh utama cerita itu juga seorang kasir. Ia kasir kesepuluh yang diangkat di kantornya setelah sembilan kasir sebelumnya dipecat lantaran ketahuan korupsi. Mencoba mencari akal agar kasir kesepuluh ini tidak korupsi, jejeran atasan organisasinya menaikkan gaji si kasir tiga kali lipat dan memberinya tiket teater, cerutu, sampanye-semua secara cuma-cuma.

Di samping kemunafikan dan korupsi, Chekhov juga menyoroti persoalan praktik suap. “Dalam Pertunjukan Hipnotis” memperlihatkan adegan seorang penonton yang menjadi sukarelawan pesulap. Di atas panggung, ia dihipnotis agar tidur, tapi karena itu bualan belaka, ia tetap terjaga. Lantas, saat memejam, tiba-tiba saja ada seseorang menyelipkan lembaran uang ke tangannya dan seketika itu ia pun tertidur.

Sifat humoris Chekhov terlihat di cerita “Cermin Perot” dan “Pergi”, sekadar menyebut dua dari beberapa yang lucu, jika tidak seluruhnya. Yang pertama disebut berkisah tentang seorang istri yang senang mematut diri di hadapan cermin perot karena cermin itu justru membuat dirinya yang buruk rupa menjadi cantik, sementara yang terakhir tentang seorang istri yang mengomeli praktik korupsi tapi ternyata suaminya mengaku bahwa ia membeli barang-barang si istri menggunakan uang hasil korupsi-si istri pergi, tetapi bukan meninggalkan si suami, melainkan hanya masuk ke kamar.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

Kumpulan cerita Pengakuan diterjemahkan dengan baik oleh Koesalah Soebagyo Toer (alm.). Terdapat beberapa jargon yang terdengar asing, terutama istilah-istilah jabatan dalam pemerintahan pada masa tsar Rusia. Namun, catatan kaki di halaman-halaman tertentu cukup membantu, selain juga penerjemah berusaha mencari padanan langsung dari istilah-istilah tersebut, sehingga tak mengganggu kenyamanan membaca.

Para penulis dapat belajar dari buku ini bagaimana menciptakan karakter yang menarik. Bukan melalui deskripsi, melainkan mengungkap apa yang mereka sembunyikan. “Hidup yang sesungguhnya dan yang paling menarik dari setiap orang adalah yang berlangsung dalam selubung rahasia, seperti dalam selubung malam,” kata Anton Chekhov di salah satu ceritanya. Selain itu, dapat pula belajar bagaimana merangkai dialog yang tidak sekadar percakapan tanpa arti, tetapi mengungkap watak masing-masing karakter dan membuat cerita bergerak maju.

Buku yang bagus memang tidak hanya menyajikan cerita yang bagus dengan isu yang penting, tetapi juga secara tidak langsung memperlihatkan bagaimana cara membuat cerita yang bagus.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

Cerita-cerita pendek Anton Chekhov memanfaatkan situasi untuk mengungkap watak asli karakter-karakternya. Ia tidak mendeskripsikan sifat suatu karakter melalui kata-kata, tetapi memperlihatkan bagaimana karakter tersebut bereaksi pada situasi tertentu. Dalam pada ini adalah kemunafikan dan hipokrisi manusia yang tadinya seperti tak kasatmata, tapi kemudian muncul ke permukaan tatkala dihadapkan pada harta dan kemungkinan-kemungkinan yang menguntungkan posisinya.

Dalam Pengakuan, Realisme Chekhov dikemas bagaikan fragmen-fragmen, dan jika seluruh fragmen tersebut disusun menjadi satu cerita panjang, maka akan terbentuklah secara lebih lengkap keadaan masyarakat Rusia jelang abad keduapuluh yang kala itu dipandang Chekhov sedang membusuk. Kemunafikan, praktik suap dan penjilatan, serta korupsi di mana-mana.

Korupsi, kolusi, nepotisme-- trisula keburukan manusia ini, ditambah dengan hipokrisi dan sosok-sosok “penjilat” demi posisi, harta, dan kekuasaan, menjadi serangkaian pertunjukan dalam parade ironi yang menyedihkan. Melalui cerita-ceritanya yang amat ringkas, Anton Chekhov dengan sukses menyajikan potret kebusukan dan kemuraman manusia, sambil barangkali diam-diam berharap agar pada akhirnya manusia sadar bahwa satu-satunya jalan keluar dari semua itu hanyalah melakukan perubahan radikal atas mentalitas yang bobrok dan juga  mempertajam nurani.

Dibanding para pendahulunya seperti Tolstoy dan Dostoyevsky, Chekhov lebih humoris, meski tentu saja dengan gayanya sendiri. Tetapi seperti dua raksasa sastra Rusia pendahulunya itu, cerita-cerita Chekhov juga bisa dibilang abadi.

Cerita-cerita dalam Pengakuan ditulis Chekhov tak kurang dari satu abad lalu. Kendati cerita-cerita tersebut telah berumur satu abad, mereka tetap relevan pada masa kini. Kemunafikan, aksi manipulasi, praktik suap dan korupsi, tak hanya terjadi di abad kesembilan belas atau kedua puluh, tetapi juga sekarang, di zaman digital abad duapuluh satu.

Begitulah salah satu, jika tidak satu-satunya, ciri cerita yang bagus. Selain memiliki nilai universal dan tingkat relevansi tinggi yang membuatnya dapat menjejak di belahan dunia bagian mana pun, kapanpun ia dibaca, cerita-cerita bagus mengandung urgensi yang takkan pudar ditelan zaman. Ia relevan ketika dibaca pada masanya, dan ia tetap relevan saat dibaca seratus, dua ratus, bahkan mungkin tiga ratus tahun kemudian. ***

3 komentar:

Mochammad I H mengatakan...

Wahhh sastra rusia panjang juga ya sejarahnya

Loganue Saputra Jr. mengatakan...

Wah bisa nih.....di terbitkan oleh KGP ya....thks share nya

Anonim mengatakan...

Nggak banyakin baca buku romance aja bang?