22 Mei 2016

Interpreter of Maladies, Jhumpa Lahiri




Sebetulnya saya nggak pernah memikirkan hal ini, tetapi gara-gara membaca tulisan wawancara yang dilakukan seorang penulis terhadap seorang penulis lain (saya mengenal dan menyukai karya kedua penulis tersebut) saya jadi turut memikirkan salah satu bahasan dalam wawancara itu, yakni soal berapa banyak buku penulis perempuan yang dibaca oleh si narasumber. Saya bertanya sendiri, berapa banyak ya buku penulis perempuan yang saya baca? Nggak butuh waktu lama buat mengingat, saya langsung tahu bahwa selama ini buku yang saya baca lebih banyak ditulis oleh laki-laki ketimbang perempuan.

Lantas, memangnya kenapa? Ya, nggak kenapa-kenapa. Saya yang tadinya nggak kepikiran jadi penasaran saja, tapi rasa penasaran itu pun nggak tahu diarahkan ke mana. Respons saya atas pertanyaan tersebut sederhana: mengambil dari rak perpustakaan pribadi di kamar, sebuah buku yang ditulis perempuan. Ada cukup banyak sebenarnya novel maupun buku nonfiksi oleh penulis perempuan dalam rak saya, tetapi karena sedang nggak selera baca novel, puisi, maupun nonfiksi, akhirnya saya memutuskan mengambil sebuah kumpulan cerita: Interpreter of Maladies, karya Jhumpa Lahiri.

Interpreter of Maladies adalah karya debut Jhumpa Lahiri yang terbit pada tahun 1999 dan setahun kemudian langsung diganjar penghargaan Pulitzer. Buku ini berisi sembilan cerita pendek yang hampir seluruhnya sempat dimuat di media semacam The New Yorker dan The Louisville Review. Novel pertama Lahiri, The Namesake, juga melejitkan kepopulerannya seiring alihwahana novel tersebut ke film berjudul sama yang disutradarai Mira Nair, perempuan India seperti Lahiri. Tidak cuma itu, karya lainnya pun memenangi penghargaan: kumpulan cerita Unaccustomed Earth untuk Frank O’ Connor International Short Story Award dan The Lowland dinominasikan untuk Man Booker. Hampir tidak ada karya Lahiri yang tidak menyentuh penghargaan.

Dengan catatan gemilang semacam itu, saya bertanya-tanya lagi ke diri sendiri, kenapa saya belum membacanya ya? Ya, sudahlah. Mungkin belum tergerak saja, sebagaimana puluhan buku lain dalam rak perpustakaan pribadi saya yang juga belum dibaca. Intinya saya sudah akan mulai membaca Jhumpa Lahiri, penulis India-Amerika berzodiak Cancer-seperti saya-yang pada usianya ke-48 tahun sudah mendulang banyak penghargaan. Mari kita lihat bagaimana isi buku debutnya ini.

Saya terbiasa membaca kumpulan cerita secara urut, itu artinya membaca dari yang pertama, kedua, hingga terakhir. Cerita pendeknya panjang-panjang, sama seperti cerita-cerita yang umumnya dimuat di The New Yorker (kecuali semacam Etgar Keret) sekira lima belas halaman kalau diketik ulang di Word. Kendatipun demikian, saya membaca seluruh ceritanya dengan mengalir, santai saja. Setiap hari saya membaca satu cerita, menepis waktu yang sebenarnya masih tersedia untuk membaca cerita berikutnya, demi meresapi yang baru selesai saya baca.

Cerita pertama, A Temporary Matter, adalah kisah dengan konflik rumahtangga. Dua tokoh utamanya, pasangan muda Shoba dan Shukumar, menghabiskan hari-hari mereka saling menghindari. Usut punya usut, ternyata masalahnya berakar pada peristiwa meninggalnya bayi mereka. Semenjak tragedi tersebut, mereka jarang bicara lagi, suasana di rumah mulai berubah nggak nyaman, dan begitu terus sampai suatu hari datang surat pemberitahuan dari perusahaan listrik yang mengatakan bahwa di kompleks mereka akan kena pemadaman sementara akibat jalur listrik rusak terkena badai salju, dan semenjak itu mereka mulai bisa mengobrol baik sampai akhirnya terungkap bahwa sang istri ingin berpisah.

When Mr. Pirzada Came to Dine bercerita tentang hubungan satu keluarga India di Amerika dengan seorang warga India bernama Mr. Pirzada, yang terpisah dari istri dan anak-anaknya karena konflik politik di India. Cerita ini ditulis dengan latar pemisahan kerajaan Inggris-India tahun 1947 atau disebut Partition; memisahkan kerajaan itu menjadi kerajaan Pakistan-yang kelak terpisah lagi menjadi Pakistan dan Bangladesh-dan menyebabkan pembentukan negara Republik India. Dituturkan dari kacamata seorang anak perempuan yang tidak tahu menahu tentang konflik politik tersebut.

Cerita yang judulnya diambil menjadi judul buku, Interpreter of Maladies, berkisah tentang seorang sopir cum pemandu perjalanan yang mengantar satu keluarga keturunan India tetapi lahir di Amerika (pasutri itu mengutarakan info ini dengan rasa bangga) berkeliling di India. Melalui adegan demi adegan, kita tahu bahwa si sopir, Mr. Kapasi, ternyata punya pekerjaan sampingan yaitu sebagai penerjemah yang bekerja pada seorang dokter. Ia membantu para pasien yang orang India menyampaikan keluhan mereka kepada dokter yang hanya bisa berbahasa Inggris. “Penerjemah luka”, kalau saya boleh mengartikannya asal. Di tengah cerita Mr. Kapasi mulai naksir Mrs. Das, kliennya sendiri, yang ternyata menyimpan masalah serius mengenai rumahtangganya.

Menggunakan narasi yang sederhana dan sangat mengalir, Lahiri menunjukkan ketegangan-ketegangan subtil di dalam diri manusia maupun hubungan antar dua orang manusia atau lebih, yang lahir karena pertentangan budaya, dalam hal ini India dengan Amerika. Tokoh-tokohnya kebanyakan bersentuhan dengan konflik yang muncul karena pertentangan semacam itu. Kadang-kadang hadir potret sebentuk culture shock seperti di bagian-bagian tertentu dalam cerita saat keterangan simpel keluar dari celetukan narator tentang, misalnya, setir mobil di India yang terletak sebelah kanan (sementara di Amerika orang mengemudi di kiri). Atau, di momen-momen lain, Lahiri seolah menampilkan budaya India sebagai sesuatu yang menjadi terasing di tempat baru, kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang tergerus karena modernitas negara maju. Semua ini keluar dengan cara yang begitu halus, tidak ambisius, dalam deskripsi situasi yang sangat rinci.

Kembali ke persoalan penulis perempuan. Saya tidak tahu apakah karena Lahiri seorang perempuan sebab itu narasi miliknya terasa halus jika tidak lembut. Kita membaca Harper Lee dan tidak menemukan cara bertutur serupa. J. K. Rowling pun tidak. Jadi, ya, baiklah ini bukan tentang perempuan atau laki-laki. Ini soal pilihan cara bertutur dan teknik menulis yang pas. Lagipula saya sendiri nggak tahu kenapa awalnya saya mulai membaca dan menilai buku dari segi gender penulisnya. Oh iya, tadi ceritanya saya baru sadar kalau begitu sedikit membaca buku-buku dari penulis perempuan. Tetapi sebenarnya menarik juga kalau kita mencoba membaca lebih teliti dan membuat semacam perbandingan antara cara menulis penulis perempuan dan penulis laki-laki. Kapan-kapan deh ya.


Apapun itu, saya suka dengan kumpulan cerita Jhumpa Lahiri ini. Cerita-cerita Lahiri sangat enak dibaca, nggak bikin penat, tetapi meski terlihat sederhana sama sekali nggak sederhana. Kalau mau cari yang menulis dengan cara agak mirip, coba baca cerita-ceritanya Raymond Carver. Nah, Lahiri menulis kira-kira dengan pendekatan yang sama, walaupun jauh lebih rinci dan utuh daripada Carver. Selesai membaca Interpreter of Maladies, saya menemukan di dalam rak perpustakaan pribadi saya dua buku lain Lahiri, The Namesake dan Lowland, yang sepertinya akan jadi buku-buku berikutnya dalam daftar baca saya. ***

1 komentar:

j mengatakan...

perkenalan saya dengan Jhumpa Lahiri. bakal jadi fansnya beliau, sepertinya. hehe. Terimakasih Mas..