28 Juni 2016

Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights, Salman Rushdie



Persis setahun yang lalu, saya membaca The Satanic Verses. Sebelumnya, saya membeli beberapa buku Salman Rushdie sekaligus. Hanya dua, sebenarnya. The Satanic Verses dan Midnight Children. Saya memilih untuk terlebih dahulu membaca yang pertama. Agaknya pilihan saya keliru. Buat saya, The Satanic Verses sangat melelahkan. Ketika saya curhat ke seorang teman pembaca, dia bilang The Satanic Verses memang tidak begitu bagus, novel itu hanya ramai karena kontroversinya, dan menurutnya Midnight Children jauh lebih baik. Sayang sekali saya sudah keburu lelah untuk membaca karya Salman Rushdie lagi. Saya sempat membaca The Satanic Verses hingga halaman 250-separuh novel-dan belum melanjutkannya hingga sekarang.

Tetapi, saya masih punya rasa penasaran yang besar dan butuh dituntaskan. Tidak mungkin, saya pikir, Salman Rushdie bisa begitu terkenal dan dielu-elukan dunia sastra internasional kalau semua bukunya melelahkan seperti The Satanic Verses. Maka, ketika saya tahu Rushdie merilis buku baru, saya segera tertarik membacanya. Walaupun sempat jiper gara-gara harga bukunya mahal sekali (edisi hard cover di Aksara hampir menyentuh angka lima ratus ribu!), akhirnya saya bisa mendapatkan buku itu dengan diskon separuh harga. Saya mencoba menuntaskan rasa penasaran terhadap Salman Rushdie dengan membaca novel terbarunya: Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights.

Sebelum membaca Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights, saya sudah membaca penggalannya di The Newyorker. Salman Rushdie merilisnya sebagai cerita pendek berjudul The Duniazát, yang adalah cuplikan dari bab pembuka novelnya. Cerpen itu sendiri menarik. Ceritanya tentang seorang filsuf yang tidak bisa mendakwahkan filosofinya, orang-orang yahudi yang tidak bisa menyebut dirinya yahudi, dan seorang gadis cantik yang ternyata perwujudan jin-diberi nama oleh si filsuf “dunia”. Si filsuf kawin dengan jin perempuan dan melahirkan banyak anak, banyak sekali hingga garis keturunannya hampir menjadi sebuah bangsa sendiri. Keturunan jin perempuan itu dinamai duniazát.

Secara singkat, novel terbaru Salman Rushdie ini adalah kisah tentang perang jin. Tidak murni perang antarjin, karena juga melibatkan manusia. Kisah dituturkan oleh narator omnipotent, yang menyebut dirinya secara tidak begitu jelas dengan petunjuk-petunjuk tertentu bahwa mereka (we, jamak) adalah manusia di zaman yang baru (aktual). Kisah perang antarjin yang melibatkan manusia telah terjadi ribuan tahun lampau, dan inilah yang diceritakan di dalam novel.

Seperti cerita pendek The Duniazát, novelnya juga dibuka dengan kisah serupa. Penggambaran si filsuf dan kehidupannya bersama Dunia, si jin perempuan. Dunia senang mendengarkan cerita-cerita yang dituturkan si filsuf dan si filsuf, selayaknya Syahrazad, menjadi pendongeng yang baik bagi pasangannya. Tentu saja dongeng itu bukan sekadar dongeng, tetapi dongeng yang ia karang sembari menyelundupkan gagasan-gagasan rasionalistisnya, termasuk pandangannya tentang eksistensi Tuhan dan fungsi agama. Sebagai makhluk dari dunia gaib, Dunia sering tidak sependapat dengan si filsuf, tetapi tidak lantas membuatnya membantah apa yang diceritakan pasangannya itu.

Lantas, bagaimana perang dimulai? Semua bermula dari aktivitas di dunia lain, yakni dunia jin. Syahdan, dunia jin dan dunia manusia berada bersisian tetapi terpisah. Namun, suatu hari terdapat “sobekan di langit” yang membuat kedua dunia tersebut menjadi terhubung. Jin dari berbagai golongan pun turun ke bumi dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan terhadap umat manusia. Rushdie, pada bagian pembuka novel, melalui kami-narator memberikan pemaparan yang cukup panjang mengenai asal-usul dan jenis-jenis jin. Pemaparan itu mengerucut pada klasifikasi jin: jin jahat dan jin baik. Jin jahat mempengaruhi manusia untuk menguasai mereka sekaligus menghancurkannya, sementara jin baik mencegah hal tersebut terjadi. Kira-kira begitulah.

Dunia, jin perempuan yang menjadi “istri” si filsuf, memiliki seorang ayah, yang tentu saja adalah seorang jin. Raja jin, begitu. Sang ayah tewas karena-ini salah satu bagian menarik-cerita. Ia meninggal karena diperlihatkan sebuah kotak berisi cerita-cerita yang merupakan alegori dari ketakutan-ketakutan dan ketidakpuasannya sendiri terhadap anak sematawayangnya, Dunia. Ketika tahu tentang ini, Dunia berang dan mulai memburu para pembunuh ayahnya, empat sekawan jin jahat, para ifrits. Dunia mengumpulkan keturunannya, duniazat, dan memberitahu mereka bahwa mereka adalah keturunan separuh jin, lantas Dunia memberi mereka tugas untuk menumpas para ifrits, yang saat ini melancarkan serangannya demi penghancuran umat manusia.

Sama seperti The Satanic Verses, novel terbaru Salman Rushdie ini juga ditulis dengan narasi yang padat. Seringkali muncul kata-kata dalam bahasa Inggris yang belum pernah saya temui, dan akhirnya membuat saya terpaksa sesekali membuka google translate atau kamus ponsel Merriam-Webster. Tetapi, berbeda dengan The Satanic Verses yang bikin pusing karena alur waktu, latar tempat, dan kronologinya tidak jelas, Two Years Eight Monts and Twenty-Eight Nights jauh lebih tertata dan jelas apa siapa di mana mengapa bagaimananya. Sehingga, walaupun banyak kata-kata sulit, membaca ceritanya sendiri tidak begitu sulit, malah relatif mudah.

Pada kulit luarnya, Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights (omong-omong, ini adalah “pelesetan” dari seribu satu malam; kalau enggak percaya bisa coba hitung sendiri) adalah cerita seru tentang pertempuran antarjin yang juga melibatkan manusia. Tetapi, tentu saja secara keseluruhan, novel ini tidak hanya punya kulit luar. Di balik kulitnya, pada lapisan yang lebih dalam, novel Rushdie yang meskipun tetap mengandung cukup banyak kata-kata sulit namun tetap enak dibaca ini adalah sebuah paparan tentang pertentangan gagasan: gaib dan rasional, eksistensi Tuhan dan fungsi agama, keberadaan sesuatu yang liyan, juga tidak luput sindiran-sindiran terhadap persoalan sosial dan politik, termasuk di dalamnya tindak korupsi dalam birokrasi (ada tokoh seorang bayi keturunan jin yang punya kemampuan istimewa: siapapun koruptor yang berada di dekatnya akan mengalami keanehan penyakit kulit pada wajahnya, sehingga ia menjadi semacam detektor koruptor).

Membaca novel-novel Salman Rushdie membuat saya setengah teringat pada novel favorit saya semasa kecil, serial Harry Potter. Saya suka membaca novel genre fantasi, karena di dalamnya terdapat dunia antah-berantah dan makhluk-makhluk mitikal, sihir dan mantra-mantra, juga keajaiban-keajaiban yang tidak bisa saya temukan di bacaan-bacaan lain. Namun, kegemaran membaca novel fantasi tidak terbawa ketika saya beranjak dewasa, untuk alasan yang hingga hari ini tidak saya pahami. Saya tidak tertarik membaca novel fantasi selain Harry Potter (Lord of the Rings, Nicholas Flamel, Eragon? Tidak, maaf.)

Syukurlah, saya bertemu Neil Gaiman dan Salman Rushdie. Bagi jiwa pencinta kisah-kisah dunia antah-berantah dan makhluk-makhluk mitikal di dalam diri saya, buku-buku mereka seperti novel-novel fantasi untuk orang dewasa. Meski, tentu saja di balik balutan kisah fantasi itu terdapat gagasan-gagasan lain yang menjadi permenungan, kritik terhadap dunia dan manusia, serta pengetahuan lebih mendalam tentang suatu topik.


Buat pencinta novel fantasi, bacalah novel-novelnya Salman Rushdie. ***

2 komentar:

Loganue Saputra Jr. mengatakan...

Saya sedikit merasa senasib ketika membaca bagian terakhir tuluisan ini...entah karena usia, cerita fantasi jadi tidak terlalu menarik lagi saya baca heheehee

Namun kayaknya novel ini bagus ya, nanti deh tak coba cari :)

benz mengatakan...

Loganue: Membaca novel fantasi untuk dewasa kayaknya bikin capek. Jadi baca yang begini saja. Capek juga sih tapi seru.