Langsung ke konten utama

Metafora Padma: Ilustrasi




Berikut adalah tiga dari empat belas ilustrasi yang akan ada di dalam buku terbaru saya, kumpulan cerita Metafora Padma. Dibuat oleh Egha Latoya, salah satu personel duo penyanyi "The Fatima" yang berada di bawah arahan Manajemen Republik Cinta Ahmad Dhani.

Banyak yang mengenal Egha, atau El, sebagai entertainer-- penyanyi dan model-- tetapi belum banyak yang tahu bahwa ia juga menggambar dengan sangat bagus. Itulah yang membuat saya mengajaknya berkolaborasi membuat ilustrasi pendamping cerpen-cerpen di buku terbaru saya. Karya-karya Egha atau El bisa dilihat di galeri instagram: [at]artfromel.

Buku Metafora Padma akan terbit lewat Gramedia Pustaka Utama tanggal 15 Agustus 2016.

Komentar

Fatah Anshori mengatakan…
jadi semakin penasaran Bang, dengan bukunya. saya suka cara Bang Bara menulis. meski baru membaca buku Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. hehe
Bernard Batubara mengatakan…
Fatah: Terima kasih. Semoga tertarik membaca Metafora Padma.

Postingan populer dari blog ini

[Cerpen] Senja di Jembrana

Senja di Jembrana Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Itu yang dikatakan oleh ibu sehari sebelum dia meninggal. Saat itu, saya tidak tahu ia sedang berbicara tentang ayah yang pergi meninggalkan kami dan tidak pernah kembali lagi. Namun sekarang saya paham semuanya. Terutama karena saya mengalami sendiri perasaan yang dulu ibu alami.

[ manuskrip ] sarif & nur

Nyaris setahun yang lalu, editor saya di penerbit Bukune (sekarang ia sudah pindah ke penerbit GagasMedia, masih satu kelompok penerbit), Widyawati Oktavia mengirimi saya surel yang isinya tentang ajakan untuk sebuah proyek novel. Nama proyek tersebut adalah “Love Cycle”. Konsepnya sederhana: Enam penulis membuat novel yang jika disusun maka akan menjadi urut-urutan konflik yang biasanya dialami dalam sebuah relationship. Saya mendapat urutan di tengah, yang artinya saya diminta menulis novel tentang konflik pada saat relationship itu sedang dibangun alias masa-masa pacaran. Dalam hati saya protes. Pasalnya, pada saat itu saya sedang single . Proyek ini sebetulnya adalah proyek kedua yang ditawarkan Iwied (panggilan akrab Widyawati Oktavia) kepada saya. Dengan berbagai alasan, proyek pertama gagal saya kerjakan. Di proyek “Love Cycle” ini, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal serupa. Maka, saya mulai menulis. Tahap pertama adalah melaksanakan riset. Saya sempat mela

surat untuk ruth

                                            Ubud,  6 Oktober 2012 Ruth, Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth? JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu. Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.