29 Agustus 2016

The Hour of The Star, Clarice Lispector




Sebagai anak kecil, saya selalu berpikiran baik tentang Tuhan. Artinya, di mata saya, Tuhan selalu bersikap baik terhadap manusia ciptaannya. Tidak mungkin Tuhan jahat, apalagi kejam dan sadis. Rezeki manusia, itu Tuhan yang kasih karena Dia baik. Manusia kejatuhan sial, itu bukan ulah Tuhan. Mungkin hasil usilnya setan atau iblis. Manusia dapat nasib buruk lalu mati konyol? Itu bukan Tuhan yang bikin, tetapi mungkin manusia sudah tergoda setan atau iblis sampai berjalan di jalan yang bengkok-bengkok (tidak lurus) sehingga jeblos ke lubang keterpurukan. Adalah tidak mungkin bagi nalar saya sebagai anak kecil, Tuhan berbuat jahat. Tidak ada hal lain yang masuk akal bagi saya selain Tuhan = baik.

Tetapi, semakin beranjak dewasa, secara perlahan dan pasti saya justru memiliki kecenderungan memandang Tuhan sebagai entitas yang sebenarnya rada-rada negatif juga. Akarnya adalah slogan “Semua terjadi atas kehendak-Nya” yang sudah sering saya dengar sejak bocah sampai sekarang. Dulu saya enggak pernah mencerna benar makna dari kalimat itu, tetapi ketika otak saya sudah cukup bisa disuruh mikir, ternyata frasa tersebut terdengar ganjil. Jika semua terjadi atas kehendak Tuhan, berarti bocah-bocah tewas dihantam bom di Aleppo itu atas kehendak Tuhan? Mereka tidak sempat hidup cukup panjang untuk berbahagia dan membahagiakan orangtuanya itu atas kehendak Tuhan? Bayi mati dibunuh orangtuanya sendiri, anak gadis mati diperkosa bapaknya sendiri, istri dibacok sampai tewas sama suaminya sendiri, itu semua terjadi atas kehendak Tuhan juga?

Ajegile, kejam betul Tuhan ini.

Tapi apa boleh buat, namanya saja Yang Maha Kuasa. Suka-suka Dia lah. Dia yang punya power. Kita manusia bisa apa. Paling-paling cuma bisa mencari hikmah dari segala yang terjadi dan berusaha semampu mungkin menolong satu sama lain. Pada Tuhan yang kejam itulah kita juga tetap akan berdoa, berpengharapan, dan menyandarkan sepenuhnya hidup-mati kita. Pada Tuhan yang mengizinkan peperangan dan pemusnahan manusia itulah kita juga tetap akan memohon keselamatan, masa depan yang baik, dan dunia yang lebih indah buat anak-cucu kita. Apakah Tuhan di sana (atau di sini, atau di mana saja) mendengarkan doa-doa itu dan mengabulkannya? Dirasa-rasa sendiri saja.

Kenapa saya merepet tentang Tuhan, menuduhnya kejam pula? Karena saya baru selesai membaca novelnya Clarice Lispector, The Hour of the Star. Dalam novel ini protagonisnya bikin iba. Lebih iba karena yang bersangkutan enggak merasa dirinya perlu dikasihani. Dia enggak merasa ada yang salah atau kurang dalam hidupnya. Padahal kalau kita baca ceritanya, dengan nalar kita sebagai manusia yang hidup “normal”, kita akan segera saja tahu bahwa hidup Macabéa, seorang gadis yang jadi protagonis novel ini, punya nasib yang betul-betul bikin sedih dan sangat layak dikasihani.

Sedikit informasi tentang penulisnya. Clarice Lispector adalah penulis asal Brasil. Ia sudah meninggal pada tahun 1977 di Rio de Janeiro. Lispector lahir di Ukraina dan langsung dibawa ke Brasil ketika ia masih bayi. The Hour of the Star ditulis dalam bahasa Portugis (saya baca terjemahan bahasa Inggris Benjamin Moser, terbitan New Directions), termasuk satu dari beberapa karya terakhirnya. Buku yang diterbitkan posthumous ini, menurut beberapa reviu, merupakan salah satu karya terbaik Lispector. Buku-buku Lispector mulai banyak diterjemahkan ulang ke bahasa Inggris ketika Benjamin Moser menulis biografi tentang dia dalam buku berjudul Why This World: A Biography of Clarice Lispector.

Kembali ke The Hour of the Star. Ini adalah novel tipis (belakangan saya lebih suka menyebut “novel tipis” ketimbang “novela”/“novelet”) setebal 77 halaman yang bercerita tentang nasib buruk seorang gadis baik dan kekejaman Tuhan. Protagonisnya, tadi sudah saya sebut, bernama Macabéa. Macabéa gadis belia yang tinggal di kawasan miskin di Rio de Janeiro. Ia bekerja sebagai tukang ketik dan meski miskin, ia tidak merasa hidupnya kekurangan. Macabéa adalah gadis lugu yang bukan saja tidak mengetahui tentang banyak hal di dunia luar, tetapi juga tidak mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh kekurangan: kurang harta, kurang cinta, dan kurang (bahkan sama sekali tidak pernah memiliki) harapan.

Alur ceritanya tidak begitu panjang. Sangat pendek malah. Dibuka oleh narator serba tahu (omniscience), kita mulai memasuki kehidupan Macabéa. Suara narator mendominasi keseluruhan isi novel. Kemungkinan besar, yang menjadi narator adalah Clarice Lispector sendiri, karena pada beberapa bagian terdapat petunjuk bahwa si narator adalah seseorang yang menuliskan kisah ini (kisah di dalam The Hour of the Star). Tidak hanya menceritakan tokoh-tokohnya, tetapi si narator pun memiliki karakter, dan dari narasinya kita bisa mengetahui kondisi psikologis narator serta bagaimana ia berempati pada protagonisnya, si gadis lugu Macabéa.

Lalu, suatu hari Macabéa jatuh cinta (tetapi sebenarnya dia tidak benar-benar mengerti jatuh cinta itu bagaimana) pada seorang cowok machismo, seorang gali bernama Olímpico. Hubungan mereka terlihat seperti cinta bertepuk sebelah tangan, karena hanya Macabéa yang menunjukkan afeksinya buat Olímpico, sementara si cowok terus-terusan mengoceh tentang ambisinya (ia akan jadi orang paling disegani sedunia, punya pengikut dan berkuasa) dan kerap berkata kasar ke Macabéa. Olímpico juga sering jengkel pada Macabéa karena di matanya Macabéa seperti gadis bodoh dan aneh. Tetapi sebetulnya Macabéa hanya punya logika yang agak unik karena wawasan dan kesadarannya sempit. Pada beberapa adegan malah terlihat Olímpico yang tidak begitu cerdas dan Macabéa punya nalar yang lebih kritis (ia banyak bertanya tentang istilah-istilah asing yang ia dengar dari stasiun radio).

Hubungan Macabéa tidak berjalan lancar karena Olímpico lebih naksir teman kerja Macabéa, cewek bernama Glória yang bertubuh subur dan semlohay. Buat Olímpico, cewek kayak Glória ini yang bisa memberinya keturunan kualitas wahid, bukan gadis kurus tak terurus seperti Macabéa. Macabéa pun patah hati (tetapi ia tertawa saat diputusin Olímpico). Glória, didorong rasa bersalah, merekomendasikan kepada Macabéa seorang peramal yang bisa membuatnya punya nasib mujur. Macabéa pergi ke peramal itu dan memang akhirnya peramal bilang dirinya akan bernasib baik. “Setelah keluar dari tendaku, seorang cowok tampan akan jatuh cinta padamu, dan kau akan berbahagia dengannya.”

Macabéa merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya: secercah harapan. Gelembung kesadarannya bocor tipis dan angin dunia luar yang hangat masuk ke dalam kepalanya dan membuatnya tahu bahwa ada hal lebih di luar kehidupannya selama ini. Harapan.

Tetapi ketika melangkahkan kaki keluar tenda peramal, Macabéa malah ditabrak mobil. Tewas di tempat.

Selesai perkara. Selesai.


Tidakkah tadi sudah saya katakan bahwa novel bagus ini bercerita tentang gadis bernasib buruk dan Tuhan yang kejam?

8 komentar:

Ami mengatakan...

Akhir yang kejam :( meskipun justru bikin aku semakin penasaran dengan bukunya. Realita hidup memang seringkali nggak bisa diterima tapi aku yakin kalau di balik semua itu ada pelajaran yang bisa diambil atau pemicu untuk memperbaiki diri.

Ngomong-ngomong, setelah membaca review Bang Bara untuk buku ini, aku ingat sebuah film berlatar Australia, para tokohnya kalau tidak salah mengalami masalah di tengah hutan, tapi begitu akhirnya bisa keluar dari hutan, malah ketabrak truk. Trus udah.

Atau film Wigald tentang seseorang yang berusaha keras untuk mengakhiri hidup, tapi nggak mati-mati. Di percobaan kesekian, dia kaburdari bangunan bertingkat menggunakan tangga, eh malah kepleset. Trus the end.

benz mengatakan...

Ami: Nasib manusia Tuhan yang pegang memang. Suka-suka dia mau berbuat apa sama ciptaannya. Huh.

Anonim mengatakan...

Nasib para tokoh dalam cerita-pun dipegang oleh pengarang. Pengarang bisa begitu sadis membuat tokoh tertentu unsignificant, cuma sekedar lewat, atau lahir lalu setelah itu mati. Seperti tidak ada artinya. Tapi itu dibutuhkan pengarang untuk membuat "cerita".

Cerita Secangkir Kopi Mengendap mengatakan...

akhir-akhir ini saya lebih suka membaca review buku demi buku, sedikit banyak inspirasipun bermunculan, terima kasih bang!

fatah anshori mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Fatah Anshori mengatakan...

Ada hal lebih di luar kehidupan yakni Harapan. betul juga ya Bang. bukankah kita masih bisa berharap yang baik-baik untuk masa mendatang. meski sekarang semuanya tidak terlihat baik.

sekalian mengucapkan terimakasih banyak untuk acara di #PadiMeetup Surabaya. karena telah di kasih Buku Metafora Padma dan ttd nya pula. terimakasih banyak Bang!

Anonim mengatakan...

Terimakasih Mas Bara atas reviewnya yang menarik. Jadi ingin baca bukunya juga tetapi apa boleh buat, tak memungkinkan bagi saya :)

Dan soal pernyataan Anda dalam empat paragraf dalam artikel ini yang berkaitan dengan hal-hal teologis secara khusus penderitaan, bagaimanapun, memang telah menjadi diskusi hangat kebanyakan orang kalau tak boleh disebut perdebatan kolot, yang bahkan masih terus berlangsung sampai dewasa ini, untuk entah sampai kapan.

Saya seorang teis, dan saya menerima argumentasi tak langsung yang Anda bubuhkan. Sebab, pendapat Anda memang rasional.

Namun, konteks penerimaan saya dalam hal ini adalah bahwa itu hanya valid dalam tataran "pure" logika. Sedangkan kesimpulan yang salah bisa didapat dari premis yang (tampak) benar.

Izinkan saya lebih mengerucut: (1) pembahasan mengenai hal ini tidak bisa diselesaikan HANYA dengan menggunakan pendekatan "pure" logika dan interpretasi sifat-sifat Tuhan (yang sepertinya kontradiktif satu sama lain) tanpa disertai pendekatan lain dan (2) seseorang harus menanggalkan semua paradigma tertentu (tidak mencampur-adukkan paradigma) untuk mendapatkan objektivitas kesimpulan.

Apa itu pendekatan lainnya? Misalnya ilmu pengetahuan alam seperti fisika.

Apa itu paradigma tertentu? Sebagai contoh: anggapan bahwa manusia beribadah untuk mendapatkan pahala (ini tidak sepenuhnya benar dan bisa dibantah).

Persoalan penderitaan ini menjadi lebih rancu karena banyak yang suka campur sana campur sini. Banyak yang misleading.

Kenyataannya, menurut saya tidak semudah itu untuk mengambil kesimpulan atas persoalan ini. Saya sendiri masih mencari jawabannya ^_^

Dari saya cuma itu :)

Semoga sukses terus ke depannya ya, Mas Bara! :)

Restu Kurniawan mengatakan...

"Akarnya adalah slogan “Semua terjadi atas kehendak-Nya” yang sudah sering saya dengar sejak bocah sampai sekarang. Dulu saya enggak pernah mencerna benar makna dari kalimat itu, tetapi ketika otak saya sudah cukup bisa disuruh mikir, ternyata frasa tersebut terdengar ganjil."

Trilemma Epicurus? :)