29 September 2016

Delusi (Atas) Tuhan, Richard Dawkins




Tidak sebelum memasuki usia seperempat abad saya memiliki ketertarikan untuk membaca buku-buku tentang agama, tuhan, atau ketuhanan. Buku pertama yang saya baca adalah Sejarah Tuhan, Karen Armstrong. Saya menyukainya. Pengantar yang bagus untuk memasuki percakapan-percakapan dengan tema seperti itu. Buku itu, secara ringkas, adalah kumpulan informasi mendasar dan umum soal sejarah tiga agama samawi-Yahudi, Kristen, Islam-juga kepercayaan lain yang muncul sebelum maupun sesudah kelahiran tiga agama itu (paganisme dan ateisme).

Buku berikutnya yang saya baca adalah The God Delusion, Richard Dawkins (judul yang dipakai penerbitnya masih berbahasa Inggris). Sama seperti buku Karen Armstrong, saya membaca buku ini dalam terjemahan bahasa Indonesia. Juga sama seperti Karen Armstrong, saya tidak punya pengetahuan awal tentang sosok Richard Dawkins. Saya mengetahui latar belakang pendidikan Dawkins dan siapa dirinya seiring membaca buku tersebut. Saya hanya tahu buku ini populer (dan belakangan baru tahu ternyata juga kontroversial).

Karena satu-satunya referensi yang saya punya akan buku bertema agama dan ketuhanan adalah Sejarah Tuhan, mau tidak mau saya sering membandingkan The God Delusion dengan buku itu, dan membangun ekspektasi saya berdasarkan buku itu. Saya mengira Richard Dawkins membahas tema serupa dalam lingkup yang sama dengan Karen Armstrong di Sejarah Tuhan, hanya menggunakan cara pembahasan yang berbeda. Tetapi, perkiraan ini keliru.

*

Richard Dawkins secara tegas menyatakan dirinya ateis dan mendorong orang-orang (setidaknya yang membaca bukunya) untuk meninggalkan agama. Dalam The God Delusion, Dawkins memaparkan argumen-argumen yang menyatakan bahwa keyakinan akan keberadaan Tuhan adalah sebentuk igauan (delusi). Tak ada alasan logis dan kuat untuk terus mempertahankan keyakinan akan adanya Tuhan.

Dalam mengatakan hal tersebut, Dawkins menggunakan teori evolusi Darwin. Ia mendekati permasalahan-permasalahan (yang ada dalam tubuh) agama dengan cara pandang Darwinian. Dawkins juga memaparkan alasan-alasan apa saja yang dipakai orang-orang berkeyakinan (believer) demi mendukung keyakinan Tuhan itu ada, dan apa yang menurut Dawkins sangat keliru tentang alasan-alasan itu.

Berbeda dengan Karen Armstrong yang meleburkan seluruh referensi teorinya ke dalam narasi yang enak dibaca, penjelasan Dawkins diselingi kutipan sumber lain di sana-sini. Kadang-kadang sulit melacak opini asli Dawkins karena kerap kali ia mengutip teori orang-orang lain sebagai pendukung maksudnya, tanpa berusaha memasukkannya ke dalam elaborasi yang mulus seperti Armstrong lakukan. Meski demikian, nada bicaranya yang keras dan tajam buat saya sangat menghibur, sehingga saya tetap bisa menyelesaikan seluruh buku tanpa macet.

*

Saya memasuki buku The God Delusion Dawkins sebagai pembaca dan pemeluk sebuah agama. Dalam hal ini, Islam. Sehingga saya setengah berharap Dawkins membahas Tuhan yang diyakini orang-orang Islam. Sayangnya untuk yang satu ini saya harus agak kecewa.

Dawkins sedikit sekali menyinggung agama Islam, saking sedikitnya hingga bisa dianggap tidak ada. Hampir seluruh isi The God Delusion ditulis Dawkins untuk orang-orang Kristen. Dawkins melontarkan kritik pedas terhadap keyakinan pemeluk agama Kristen, muatan injil, para pendeta, dan gereja sebagai institusi. Tentang Islam, Dawkins seakan sengaja menghindar untuk tidak menyentuhnya (kabarnya Dawkins takut, tapi saya belum mencari lebih jauh tentang ini)

Jadi, kadang-kadang seiring membaca, saya tidak merasa buku ini ditujukan buat saya. Berbeda dengan Sejarah Tuhan yang membahas cukup banyak soal Islam, baik itu sekilas sejarah Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT-Tuhan dalam konsepsi orang-orang Islam-maupun muatan kitab sucinya: Al-Quran. Kritik Karen Armstrong mengena di pikiran saya sebagai seorang muslim. Sementara celaan dan sergahan Dawkins tidak sungguh-sungguh menyentuh batin saya, karena saya bukan orang Kristen.

Tetapi, pendapat-pendapat Dawkins tetap menarik bagi saya sebagai seorang believer, dan terus terang kebanyakan pendapatnya yang masuk akal. Saya kira, tujuan Dawkins menulis The God Delusion adalah untuk membuka “kesadaran” manusia-dalam bahasa Dawkins, menyingkap burka-menggunakan sains, demi memperlihatkan bahwa apa yang selama ini diyakini manusia sebagai Tuhan tidak lebih dari sebuah delusi. Lebih jauh lagi: bahwa manusia sebenarnya tidak butuh Tuhan (dan atau agama) untuk menjadi manusia baik dan menjalani kehidupan yang baik.

*

Salah satu bagian yang menarik bagi saya adalah ketika Dawkins berkata bahwa sebaiknya anak kecil tidak dicekoki orangtuanya hal-hal mengenai agamanya. Kira-kira begini bunyi bagian itu: “Seorang anak bukan anak Islam, atau anak Kristen, atau anak Yahudi, melainkan anak dari orangtua yang Islam, Kristen, atau Yahudi.” Menurut Dawkins, anak-anak tak selayaknya dibebani label agama sampai mereka dapat berpikir dan memilih untuk dirinya sendiri.

Saya tidak berniat bersepakat atau menentang pendapat-pendapat Dawkins di tulisan ini. Saya hanya ingin menggambarkan apa yang ditulis Dawkins di dalam bukunya. Bagi saya topik ini adalah pencarian panjang, yang belum tentu ada ujungnya, tetapi saya senang menjalaninya. Saya senang berbicara dengan orang yang punya ketertarikan serupa terhadap tema-tema agama dan ketuhanan. Tapi tidak di tulisan saya sendiri. Belum.

Ketika baca The God Delusion, saya teringat saat suatu hari mengunggah foto Sejarah Tuhan di Instagram. Seseorang semacam curhat di kolom komentar foto itu dan berkata bahwa temannya menuduh dia sudah berubah jadi ateis hanya karena temannya menemukan ia membaca buku tersebut. Saya sama sekali tidak merasa Sejarah Tuhan punya kemampuan mengubah seorang teis jadi ateis. Buku Dawkins lebih punya kekuatan untuk tujuan itu. Semata-mata karena dia terang-terangan mendorong pembacanya meninggalkan agama dan keyakinan terhadap Tuhan mereka, tak seperti Armstrong yang hanya memberi kronologi.

Kalau sudah pernah baca Sejarah Tuhan sebagai pengantar, The God Delusion bisa jadi bacaan lanjutan yang bagus. Tentu memasuki bukunya harus dengan santai. Kalau gampang tersulut, baru masuk pembukaan barangkali sudah tidak berselera lagi untuk melanjutkan sampai selesai. Rileks saja dan ikuti apa yang coba disampaikan Dawkins. Secara personal, saya menganggap The God Delusion buku yang penting dibaca, terutama bagi para teis (agnostik dan ateis kayaknya sudah tidak butuh baca ini lagi-tetapi Dawkins beberapa kali juga memberi kritik kepada rekan-rekannya yang ateis)

Alih-alih menjadi ateis, sebagaimana saya kira yang paling diharapkan Dawkins dari pembaca The God Delusion, saya malah jadi pengin baca buku-buku Biologi. Dulu, sebagai anak IPA, Biologi mata pelajaran yang paling saya sukai. Saya bahkan sempat mengikuti tes masuk universitas dan mengambil program studi MIPA Biologi. Hal yang paling menarik dari Biologi adalah, saya belajar tentang diri saya sendiri. Tubuh saya sendiri. Apa yang tampak dari luar sebagai sesuatu yang sederhana, ternyata di dalamnya begitu rumit dan hampir-hampir ajaib.


Kegemaran belajar Biologi itu membuat saya semakin lama semakin takjub pada siapapun (atau apapun) yang menciptakannya. Karena satu-satunya nama yang saya tahu adalah Tuhan, maka semakin lama belajar Biologi semakin saya kagum sama Tuhan. Rada-rada kontradiktif dengan harapannya Dawkins ya?

2 komentar:

RK Awan mengatakan...

"Seseorang semacam curhat di kolom komentar foto itu dan berkata bahwa temannya menuduh dia sudah berubah jadi ateis hanya karena temannya menemukan ia membaca buku tersebut. "

hal seperti ini pernah saya alami.karena saya menggambar sesuatu, teman saya jadi berprasangka :D

Rada-rada kontradiktif dengan harapannya Dawkins ya?
tiap produk teks mungkin memang tak selalu berhasil mencapai tujuan seperti yang diharapkan penciptanya.


mas bara, kalau boleh sekalian saya promosi cerita saya di wattpad, NALARANGKA Bait astavaca https://www.wattpad.com/story/87068825/parts

idhan hulwah mengatakan...

Kalau mau diskusi mengenai agama, si mas agung redpel qultumedia kantor montong, asik dibuat diskusi kok Bara :)