22 September 2016

Mencari yang Terbaik dalam Ketidakterbatasan



Saya berusia 12 tahun ketika pertama kali naksir seseorang. Teman satu sekolah. Saya menyukainya karena terbiasa melihatnya di kelas, kantin, dan lapangan. Ia tidak sangat cantik, tetapi pintar. Di usia 13 tahun, saya naksir adik kelas. Sayang sekali tidak sempat pacaran karena saya telat nembak. Waktu SMA, saya naksir beberapa kali dengan adik kelas, teman seangkatan, maupun kakak kelas. Semua berada di sekolah yang sama. Saya tidak punya referensi lain selain apa yang bisa saya lihat sehari-hari di sekolah.

Semua itu terjadi dalam kurun tahun 2001-2007. Saya hanya punya ponsel Nokia 8250, tanpa internet maupun media sosial. Tidak ada Facebook dan Twitter. Ada Friendster, tetapi saya bukan pengguna setia. Orang-orang yang saya taksir saya temukan di dunia nyata, di dalam ruang lingkup kegiatan sehari-hari: sekolah.

Pilihannya tentu saja terbatas, tetapi saya tidak memikirkan hal itu. Gadis-gadis idola di sekolah hampir pasti sudah ditaksir oleh teman-teman atau senior yang lebih tampan dan populer. Saya tidak masuk ke dalam dua kategori tersebut. Saya cowok biasa anggota ekskul kelompok debat bahasa Inggris, tidak bisa main basket dan bukan pengurus paskibra; tidak juga badass seperti anak-anak siswa pencinta alam. Saya tidak punya daya tawar untuk menggaet cewek-cewek cantik populer di sekolah. Praktis, jika pengin punya pacar, saya cuma bisa nekat cari perhatian ke mereka yang belum digaet senior. Ini membuat pilihan semakin terbatas.

Saya akhirnya punya pacar. Adik kelas yang konon menyukai saya ketika melihat saya menabuh triol saat pameran ekskul drum band. Kami pacaran tiga tahun.

*

Sepuluh tahun kemudian, empat mantan dan empat patah hati kemudian, benda asing bernama Internet dan media sosial yang kini tidak asing lagi dan menjadi kebutuhan primer manusia, telah mengubah seseorang yang tadinya hanya bisa naksir orang-orang di lingkup kegiatannya di dunia nyata-sekolah, kampus, kantor-menjadi seorang pengembara yang dapat menemukan cinta di mana pun ia ingin, tanpa terkekang batasan-batasan geografis.

Saya yang berada di Yogyakarta bisa jatuh hati pada seorang gadis berkacamata yang sedang membaca buku dan minum kopi di satu sudut coffee shop di Jakarta, atau seorang mahasiswi yang menunggu bus di sebuah halte di Jerman. Selama kami berada di dalam Internet, kami saling terkoneksi, lebih-lebih jika kanal-kanal media sosial kami saling terhubung. Praktis tidak ada batasan pencarian calon jodoh.

Perubahan seperti ini sangat membantu bagi seseorang seperti saya yang tidak punya ruang lingkup tertentu untuk bersosial dan berkegiatan. Saya penulis, tiap hari bekerja hanya dengan laptop dan bloknot; tanpa manusia. Saya tidak punya teman kantor sehingga mustahil bisa cinta lokasi. Seakan itu belum cukup parah, saya juga penyendiri. Saya punya banyak teman yang tinggal sekota tetapi jarang hangout. Sesekali mungkin, tetapi saya bukan jenis yang menghabiskan hari-harinya dalam sebuah kumpulan, baik itu untuk pekerjaan maupun bersuka-ria.

Dari mana saya bisa dapat pacar jika tidak pernah bertemu manusia di dunia nyata? Zaman digital menjawabnya: Internet dan media sosial, saudara-saudara.

*

Apakah dengan eksis di Twitter, Facebook, dan Tinder, otomatis seseorang bisa lebih mudah mendapatkan jodoh ketimbang ketika ia hidup di zaman ketika hal-hal itu belum ada? Jawabannya ternyata rada kontradiktif dengan kemungkinan-kemungkinan menyenangkan yang jejaring sosial tersebut tawarkan.

Jika kamu punya uang satu juta rupiah dan ingin membeli sepatu di sebuah toko yang hanya menyediakan dua jenis pasang sepatu yang keduanya seharga satu juta, kemungkinan kamu akan memilih satu dari mereka. Tetapi ketika kamu tahu bahwa ada toko lain, dalam jumlah sangat banyak hingga tidak terbatas, yang menyediakan sepatu seharga serupa dengan jenis-jenis lebih beragam lagi, kemungkinannya adalah kamu tidak akan buru-buru menyerahkan satu juta milikmu kepada toko pertama. Kamu menunggu kesempatan datang ke toko lain dan menemukan jenis yang lebih baik atau terbaik bagimu (atau seleramu).

Kesadaran bahwa ada pilihan lain di luar sana membuat kita tidak bisa dengan segera menentukan pilihan. Bahkan setelah kita merasa bahwa pilihan yang ada di hadapan kita sudah terbaik. Kita akan berpikir, “Jangan-jangan ada yang lebih terbaik lagi.” Jika benar terbukti demikian, bukankah kita telah menyia-nyiakan waktu bersama seseorang yang kita kira sudah terbaik padahal tidak lebih baik dari kemungkinan lain yang bisa kita dapatkan?

*

Sebagian dari kita barangkali akan merespons ilustrasi barusan dengan berkata: “Yang terbaik selalu ada, tetapi kita harus tahu kapan berhenti.” Pernyataan yang harus saya akui terdengar amat bijak, meskipun di sisi lain rada menjebak. Sikap seperti itulah yang memunculkan kasus-kasus di mana seseorang bertahan pada hubungan yang tidak membahagiakannya. Dia telah berhenti, pada yang ia kira sudah terbaik. Sementara akal pikirannya tahu persis dunia begitu luas dan di dalamnya ada terlalu banyak pilihan lebih baik yang, ia juga tahu, bisa dicapai.

Pilihan yang sempit membuat seseorang lebih mudah memilih. Pilihan yang tak terbatas membuat seseorang terjebak dalam kerangka berpikir bijaksana yang mengatakan kepadanya bahwa ia harus berhenti di satu orang, pada waktu yang sama menyadari bahwa ada lebih banyak pilihan yang bisa dan sangat mungkin diperoleh.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Saya, sih, pragmatis saja. Seorang teman pernah berkata, jika sedang bergembira, zoom in kegembiraanmu dan nikmati detailnya, tetapi jika bersedih, zoom out dari kesedihanmu untuk melihat “gambar besar” yang telah dirancang sangat baik oleh Tuhan-dengan kata lain, diam-diam Tuhan sudah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagimu dan karenanya kamu tidak perlu bersedih.

Saya mengubah sedikit kerangka berpikir tersebut dengan meletakkannya pada konteks mencari jodoh di zaman digital. Hasilnya kira-kira begini: Jika sudah dan sedang punya pacar yang di dalam hubungan itu kamu berbahagia, maka nikmati detailnya dan lupakan bahwa mungkin ada seseorang di luar sana yang jauh jauh jauh lebih baik daripada pacarmu.

Namun, jika kamu bersedih karena baru saja putus atau ditolak oleh seseorang yang sangat kamu sukai, ingat bahwa di zaman Internet kamu tinggal log in ke Twitter atau Tinder untuk menemukan sosok yang, saya berani bertaruh segelas double shots iced shaken espresso atau lebih mahal lagi, lebih menarik dari orang yang dengan tega hati memutuskan atau menolak cintamu.

Dunia ini sempit sekaligus luas, luas tetapi sempit dalam pengertiannya masing-masing. Agar dapat menikmatinya, jadilah seorang Cancer yang fleksibel-untuk tidak menyebut plin-plan-sehingga bisa menyesuaikan pengaturan cara pandang terhadap dunia berdasarkan situasi-situasi tertentu yang sedang ia alami. Kalau takdir sudah sedemikian jahat tidak melahirkanmu sebagai Cancer, maka kamu masih bisa mengubah hidupmu jadi lebih baik, yakni dengan jatuh cinta kepada seorang Cancer.


***

10 komentar:

MICHI mengatakan...

Bang kehidupan percintaan saya lebih buruk saya dibanding cerita saya

darul azis mengatakan...

Tulisan ini menampar saya. Berkali-kali. Tai..!!πŸ˜‚

Nur Atika mengatakan...

Kalimat terakhirnya, mancing bangetπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

rizkyjessica ayustephanie mengatakan...

Mengarahkan cursor ke tombol log in atau sign up memang mampu membuat kita sadar bahwa ada yang lebih menarik dan jauh "lebih berbobot" dari yang pernah atau masih mengisi hati

Tapi apakah rasa senang itu, tertawa keras itu hanya kehilangan dan kesedihan yang sedang berakting?

Jujur dan ikhlas saya rasa jawaban yg tepat untuk mendatangkan yg terbaik ada di hadapan kita bang

Redy Redyantino mengatakan...

Udah jenuh dgn kesibukan "mencari yang terbaik". Sudah saatnya bergerak "menjadi yang terbaik" πŸ˜‹

Karra mengatakan...

Kabar nyinyirin aku (yang juga cancer) ya?

Dian Hendrianto mengatakan...

oooh... sebagai canser memang demikian kenyataanya.. ehehe

wilda maria mengatakan...

Ampun cancer ampun

Anonim mengatakan...

dihianatin sm cancer. gmn dong? :(

Riri Arifin mengatakan...

Aku cancer, bang bara gak mau coba jatuh cinta sm aku? πŸ˜‚πŸ˜‚