Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Pemesanan Awal Elegi Rinaldo

Gambar
Novel terbaru saya, Elegi Rinaldo, sudah bisa dipesan (pre-order) di beberapa toko buku daring. Untuk pemesanan awal yang berlangsung 24 November - 9 Desember ini, tersedia 300 buku bertandatangan. Bukunya sendiri baru akan masuk toko-toko buku jaringan sekitar akhir Desember.
Berikut adalah daftar toko buku yang melakukan pre-order Elegi Rinaldo. Kamu bisa memesan novel saya di salah satunya (klik nama toko buku):
Bukabuku Bukubukularis Manakala Bukukita Parcelbuku Demabuku (IG: @demabuku)

Buku Bagi Penggila Buku

Gambar
Saya senang membaca buku. Dari banyak hal yang saya senangi-memotret, mendengar musik, mengendus seprei baru, membersihkan kipas angin, makan, minum kopi, berbincang santai, berdiam diri, memandangi orang-membaca buku adalah hal yang paling saya senangi. Jika saya membuat daftar tentang hal-hal menyenangkan dalam hidup saya, tanpa ragu saya akan meletakkan “buku” di urutan teratas.
Sebagai orang yang senang membaca buku, saya ingin orang-orang lain juga suka membaca buku. Namun, ternyata gampang-gampang susah untuk menunjukkan kepada orang lain betapa menyenangkannya membaca buku. Lebih susah lagi memberitahu mereka yang tidak punya hobi membaca buku tentang bagaimana setumpuk kertas yang dijilid, seperti kata Carlos María Domínguez dalam novela Rumah Kertas, “…mengubah takdir hidup orang-orang.”
Barangkali saya kurang pandai menunjukkan ke teman-teman saya bagaimana buku merupakan salah satu benda paling menyenangkan di dunia. Saya sekadar berkata bahwa baca buku itu asyik. Mereka t…

Buku Baru! Elegi Rinaldo

Gambar
Buku saya ke-10. Novel keempat. "Elegi Rinaldo" terbit bulan depan (Desember 2016), Falcon Publishing.Elegi Rinaldo sudah bisa dipesan pracetak (pre-order) di toko buku daring berikut:

Bukabuku Bukubukularis Manakala Bukukita Parcelbuku Demabuku (IG: @demabuku)

Kredo Keret

Gambar
Salah satu ranjau darat yang diletakkan penulis bagi pembacanya adalah narasi yang terlalu panjang dan sia-sia. Kita bisa mati di sana. Bukan mati terhormat, tapi mati konyol. Seperti mati terinjak lumpur isap yang di baliknya tumpukan kotoran sapi. Sudah konyol, bau pula. Seorang penulis bisa menghabiskan sepuluh halaman novelnya dengan narasi amat panjang yang tidak mengatakan apa-apa. Tuhan melindungi kita dari penulis-penulis semacam ini (jika penulis itu saya, semoga Tuhan melindungi anda sekalian)
Untunglah Tuhan baik. Ia turunkan Etgar Keret sebagai nabi para pencerita yang membawa sepuluh perintah. Sembilan perintah terakhir tidak penting. Perintah pertama yang paling krusial: Dilarang menyia-nyiakan kata-kata. Itu yang Etgar Keret lakukan dan beri contoh kepada siapapun yang ingin menjadi pencerita. Ketika orang lain membuat novel tebal yang dipanjang-panjangkan, Keret tahu perbuatan tersebut adalah dosa besar, sehingga apa yang bisa ia ucapkan dalam satu paragraf, ia sampai…

Berbohong Cara Etgar Keret

Gambar
"Kebohongan itu seperti pisau. Kalau kau pakai pisau buat menusuk orang, ya itu salah. Tapi kalau pisau itu kau pakai pisaumu untuk mengoles mentega ke roti, enggak ada yang salah dengan itu.
Saya pernah suatu kali terbang dari Berlin ke Milan. Turbulensinya sangat parah. Penerbangan yang buruk sekali. Lalu, saya dengar seorang perempuan menangis, dan berteriak dalam bahasa Italia. Dia pakai baju dengan simbol salip. Saya berharap ada pramugari menghampirinya dan menenangkan perempuan itu. Namun, pas saya lihat ke belakang, dua pramugari semuanya menangis.
Perempuan tadi terus menangis histeris dan berteriak-teriak. Saya pikir, harus ada yang berbuat sesuatu.
Saya lihat kursi di sebelah perempuan itu kosong. Saya buka seat belt, saya pindah ke sebelahnya, saya pasang seat belt. Saya genggam tangan perempuan itu dan saya bilang ke dia:
'Coba liat saya, saya keliatan ketakutan tidak?'
'Tidak,' kata perempuan itu. 'Kenapa Anda tidak ketakutan?'
'Karena saya tek…

Metafora Padma, The Jakarta Post (14/11)

Gambar
"'I think that a strong story comes from something that is actually experienced by its writer,' he said.

The short stories [in Metafora Padma] are fictional, but are inspired by true events, such as the deadly ethnic conflict between the Dayak and Madurese people in 1996 in Anjongan village in Pontianak, West Kalimantan; his place of birth.

The title, Metafora Padma, is taken from one of the 14 short stories. It's about a rendezvous between a woman named Padma, who witnesses 1996 bloody conflict, and a man, who later realizes that the woman he talks to is a ghost.

For Bernard, writing about a ghost was not without reason.

'When I was little, I lived in a village where mystical things and supernatural beings existed,' he said."

Metafora Padma: A journey back in time, The Jakarta Post (14/11).