19 November 2016

Buku Bagi Penggila Buku




Saya senang membaca buku. Dari banyak hal yang saya senangi-memotret, mendengar musik, mengendus seprei baru, membersihkan kipas angin, makan, minum kopi, berbincang santai, berdiam diri, memandangi orang-membaca buku adalah hal yang paling saya senangi. Jika saya membuat daftar tentang hal-hal menyenangkan dalam hidup saya, tanpa ragu saya akan meletakkan “buku” di urutan teratas.

Sebagai orang yang senang membaca buku, saya ingin orang-orang lain juga suka membaca buku. Namun, ternyata gampang-gampang susah untuk menunjukkan kepada orang lain betapa menyenangkannya membaca buku. Lebih susah lagi memberitahu mereka yang tidak punya hobi membaca buku tentang bagaimana setumpuk kertas yang dijilid, seperti kata Carlos María Domínguez dalam novela Rumah Kertas, “…mengubah takdir hidup orang-orang.”

Barangkali saya kurang pandai menunjukkan ke teman-teman saya bagaimana buku merupakan salah satu benda paling menyenangkan di dunia. Saya sekadar berkata bahwa baca buku itu asyik. Mereka tidak bisa memahami hanya dengan penjelasan tersebut. Itu bahkan bukan sebuah penjelasan. Gimana lagi dong? Baca buku itu emang asyik. Kadang saya merasa enggak perlu menjelaskan lebih jauh karena bagi orang yang suka baca buku penjelasan saya enggak diperlukan, dan bagi yang enggak suka baca buku, penjelasan saya enggak berguna.

Tapi, sekarang saya sudah punya alat bantu. Sebuah buku bagus berjudul Rumah Kertas karya penulis Amerika Latin, Carlos María Domínguez (judul asli bukunya La casa de papel, bahasa Inggris: The House of Paper). Bukunya tipis sekali, hanya 76 halaman. Namun, after effect-nya seperti habis membaca novel 700 halaman.

Karena novelnya sangat tipis, jadi kurang bijak jika saya memberi tahu tentang ceritanya. Jika saya mengatakannya tidak akan ada lagi yang tersisa untuk anda baca. Sebagai gambaran umum kira-kira begini saja: Seorang laki-laki menerima kiriman buku, tapi karena merasa pengirimnya salah alamat, ia menelusuri jejak si pengirim untuk mengembalikan bukunya, dan dalam penelusurannya itu ia menemukan cerita-cerita yang menakjubkan.

(Gambaran di atas tidak begitu akurat, tetapi kalau saya bikin lebih akurat lagi saya terpaksa memberi spoiler)

Saya merasa novela Rumah Kertas adalah buku yang ditulis dari dan untuk para pencinta buku. Orang-orang yang senang membaca buku akan memahami apa yang sedang disampaikan si penulis dalam buku tipis ini. Tidak, senang adalah kata yang kurang akurat. Gila, mungkin lebih tepat. Orang-orang yang gila buku, yang tidak hanya senang membaca buku tetapi juga mengoleksinya, menumpuk, mengendus; orang-orang yang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli dan memburu buku; orang-orang yang rela kelaparan asal masih bisa membaca buku; orang-orang seperti ini niscaya akan merasa terwakili perasaannya oleh buku Carlos María Domínguez.

Novela pengarang asal Buenos Aires, Argentina ini diterjemahkan dengan sangat enak oleh Ronny Agustinus (saya lebih senang memakai kata enak daripada baik untuk menggambarkan hasil terjemahan). Sebelum Rumah Kertas saya membaca dua-tiga buku terjemahan Ronny Agustinus, semuanya fiksi karya para penulis Amerika Latin. Ketika awal memutuskan akan membeli buku ini pun salah satu alasannya karena penerjemahnya Ronny.

Jadi, apakah buku ini bisa dinikmati oleh mereka yang tidak amat suka membaca buku? Atau setidaknya, tidak sampai gila dengan buku? Saya kurang yakin. Tapi mungkin saja dengan membaca Rumah Kertas anda jadi bisa membayangkan mengapa ada orang-orang yang gila dengan setumpuk kertas dijilid dan dijual dengan harga mahal yang terlihat tidak memberikan manfaat apa-apa selain dua sampai lima jam waktu tersia-siakan di atas tempat tidur, bangku kafe, atau sofa ruang tamu.

Ada banyak referensi buku yang disebut penulisnya dalam Rumah Kertas. Lewat dialog-dialog antartokohnya, nama-nama seperti Dostoyevsky, Conrad, Tolstoy, Faulkner, Hugo, beserta karya-karya mereka menjadi bahan diskusi utama yang juga menjadi bagian dari inti atau tujuan untuk apa buku ini ditulis. Banyak juga sindiran pedas terhadap dunia sastra serta para pelakunya (termasuk industri penerbitan), yang meskipun konteksnya terjadi di Buenos Aries, menurut saya sangat relevan dengan situasi di Indonesia, dan barangkali juga di negara-negara lain.

Supaya saya tidak dianggap pelit, saya kasih secuil percakapan dari buku Rumah Kertas. Dari sini anda bisa membayangkan kira-kira bagaimana isi bukunya. Part yang saya ambil ini terjadi saat protagonis bertemu seorang pencinta buku yang merupakan sahabat dekat dari orang yang sedang ia cari.

“Berapa banyak buku yang Anda punya?” tanyaku.

“Jujur saja, saya sudah berhenti menghitung. Tapi saya rasa pasti ada sekitar delapan belas ribu. Sejauh yang saya ingat, saya sudah lama membeli buku di sana sini. Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka.”

“Saya kurang begitu paham,” sahutku.

“Anda tambahkan terus buku-buku ke rak dan kelihatan banyak, tapi kalau boleh saya bilang, itu cuma ilusi. Kita ikuti tema-tema tertentu, dan sesudah suatu waktu, kita temukan bahwa kita sedang merumuskan dunia; atau bila Anda suka, bahwa kita sedang menapak tilas jejak-jejak sebuah perjalanan, dan untungnya jejak-jejak tersebut masih bisa kita lestarikan. Ini tidak gampang lho. Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. Kendati harus saya akui bahwa pembacaan saya sendiri sangat terbatas. Saya perlu membaca semua catatan yang ada di sebuah buku untuk menjernihkan makna tiap-tiap konsep, jadi sulit bagi saya untuk duduk membaca buku tanpa ditemani dua puluh buku lain di sampingnya, kadang hanya untuk menafsirkan satu bab saja secara utuh. Tapi tentu saja, justru kerepotan inilah yang memukau saya.”

Ia menyungging senyum tahu-sama-tahu yang membuatku ikut tersenyum.

Sepanjang membaca Rumah Kertas, saya seolah-olah saling bertukar senyum tahu-sama-tahu dengan Carlos María Domínguez. Anda tahu, kan, rasanya ketika ketawa bareng teman gara-gara jokes internal yang hanya dimengerti oleh kita sendiri? Rumah Kertas seperti 76 halaman jokes internal yang hanya dimengerti oleh para pencinta buku. Itu tadi sebab saya bilang bahwa Rumah Kertas seperti buku yang ditulis oleh dan untuk para pencinta buku. Tidak, para penggila buku.


Namun, bukan tidak mungkin buku ini juga memikat orang-orang yang tidak gila buku. Ingat bahwa Rumah Kertas ditulis oleh pengarang Amerika Latin, dan saya belum pernah membaca buku jelek dari pengarang Amerika Latin. Cara mereka menulis sangat efektif, diksi dan kalimatnya akurat, seringkali penuh humor, dan demi alasan-alasan tersebut buku bagus ini menjadi lebih menyenangkan lagi untuk dibaca. ***

1 komentar:

cerita kata mengatakan...

Bang dapet novel ini dimana? Susah sekali carinya. Banyak yg habis di toko online :(