17 November 2016

Kredo Keret




Salah satu ranjau darat yang diletakkan penulis bagi pembacanya adalah narasi yang terlalu panjang dan sia-sia. Kita bisa mati di sana. Bukan mati terhormat, tapi mati konyol. Seperti mati terinjak lumpur isap yang di baliknya tumpukan kotoran sapi. Sudah konyol, bau pula. Seorang penulis bisa menghabiskan sepuluh halaman novelnya dengan narasi amat panjang yang tidak mengatakan apa-apa. Tuhan melindungi kita dari penulis-penulis semacam ini (jika penulis itu saya, semoga Tuhan melindungi anda sekalian)

Untunglah Tuhan baik. Ia turunkan Etgar Keret sebagai nabi para pencerita yang membawa sepuluh perintah. Sembilan perintah terakhir tidak penting. Perintah pertama yang paling krusial: Dilarang menyia-nyiakan kata-kata. Itu yang Etgar Keret lakukan dan beri contoh kepada siapapun yang ingin menjadi pencerita. Ketika orang lain membuat novel tebal yang dipanjang-panjangkan, Keret tahu perbuatan tersebut adalah dosa besar, sehingga apa yang bisa ia ucapkan dalam satu paragraf, ia sampaikan lewat satu paragraf saja.

Penyakit lain yang dimiliki penulis selain tidak tahu kapan harus memulai adalah kapan harus berhenti. Banyak cerita bagus yang memuakkan hanya karena tidak diakhiri dengan tepat. Penulisnya merasa pembaca terlalu dungu untuk paham apa yang ingin ia sampaikan, atau memang dasarannya ia tidak tahu bagaimana cara menutup mulut. Tidak seperti Keret. Keret tahu betul kapan harus berhenti bicara.

Sejauh ini saya membaca tiga kumpulan cerita Keret. Buku yang terakhir saya baca, Suddenly, A Knock on the Door, buat saya yang terbaik. Ini buku kedua terbaru dari Keret sebelum memoar The Seven Good Years. Secara bentuk tidak jauh beda dengan dua kumcer sebelumnya, The Bus Driver Who Wanted to be God dan The Girl on the Fridge. Masih super pendek, ringkas. Tapi di buku ini Keret menyampaikan gagasannya dengan jauh lebih efektif, mengena, dan ibarat peluru senapan penembak jitu, daya hancurnya lebih besar dari yang pernah ada.

Ada 35 cerita di buku ini. Pembukanya, “Suddenly, A Knock on the Door” tentang penulis yang ditodong tiga orang laki-laki dengan pistol dan dipaksa menulis cerita. Saya kira cerita pembuka ini adalah kredo kepengarangan Keret. Bukan hanya tentang tekanan dari luar yang memaksa ide-ide kreatif (bikin saya mau tidak mau teringat pada dongeng Syahrazad yang bercerita di bawah ancaman hukum penggal raja Syahriar), tetapi juga ada clue di dalamnya tentang mengapa Keret memilih menuliskan cerpen-cerpennya sangat pendek, terkadang absurd, imajinatif, dan mengandung unsur fantasi. Itu semua pilihan yang berasal dari pengalaman Keret hidup dalam situasi di Israel.

Lihat salah satu dialog menarik ini dalam cerita tersebut (saya terjemahkan ke bahasa Indonesia): “Ayolah, beri kami cerita. Yang pendek-pendek aja, gak usah beranalisis. Hidup udah susah, tahu. Pengangguran, bom bunuh diri, orang-orang Iran. Semua orang butuh hal lain. Kau pikir kami ke rumahmu ini kenapa? Kami desperate, tahu. Desperate!”

Si penulis, sang protagonis cerita, berdeham dan mengulang karangannya. Tiba-tiba salah satu dari penodong kembali protes. “Oi, itu bukan cerita. Itu laporan pandangan mata. Kau cuma ngasih tahu apa yang saat ini sedang terjadi. Kami setengah mati menjauh dari hal-hal itu-dari kenyataan-tahu tidak? Jangan kau limpahkan kami dengan cerita kenyataan kayak mereka itu sampah. Pakailah imajinasimu itu. Ciptakan hal baru.”

Cerpen-cerpen Keret kadang-kadang memang terasa seperti eskapisme. Israel hadir dalam cerpen-cerpennya dengan beragam sisi konflik yang ia miliki, tetapi mereka senantiasa diiringi humor, absurditas, situasi-situasi komikal, dan unsur-unsur fantasi yang membuat mereka bergeser dari jalan realisme. Ternyata itu bukan sebuah kebetulan, seperti saya catat tadi.

Kemarin saya menonton wawancara Keret di Youtube. Pewawancara, Michael Chabon, memberi pertanyaan-pertanyaan sederhana dan menarik. Selain nama “Etgar” yang ternyata unik bagi orang Israel, Chabon juga membahas tentang salah satu cerpen Keret berjudul “Lieland” (ada di buku Suddenly, A Knock on the Door). Premis cerpen itu: tentang kebohongan. Ketika kita berbohong, ada dunia lain yang hadir paralel sebagai manifestasi dari kebohongan-kebohongan kita.

Bagi Keret, kebohongan merupakan sesuatu yang esensial. Hidup dalam situasi konflik perang membuat Keret menyadari apa makna sebuah penghiburan. Lie, kebohongan, menjadi eskapisme.

“Suatu hari aku naik pesawat yang turbulensi parah. Aku duduk di sebelah perempuan Italia. Aku bilang kepadanya bahwa aku teknisi pesawat, dan kita sedang naik pesawat paling aman di dunia. Aku berbohong. Tapi perempuan yang tadinya berteriak-teriak histeris itu jadi tenang dan kemudian ia berterima kasih.” Di video lain yang saya tonton, Keret menceritakan pengalamannya berbohong. “Jenis kebohongan seperti ini, aku tidak keberatan melakukannya. Kalaupun hari itu pesawat kami jatuh dan kami mati, buatku lebih baik mati setelah seseorang di sampingmu mengatakan hal-hal baik, daripada mati dalam kondisi histeris.”

Cerpen-cerpen Keret adalah kebohongan-kebohongan yang menghibur. Tentu saja di antara kebohongan-kebohongan tersebut kita tetap bisa melacak realitas. Tetap ada duka kematian karena perang, kehilangan orang yang dicintai, bahkan perceraian. Bukankah cerita yang bagus seperti itu? Menyodorkan serangkaian kebohongan, situasi-situasi yang dikarang belaka, untuk menyampaikan secuil kebenaran dan realitas? Yang barangkali kita semua sudah tahu, tetapi rasanya akan berbeda jika realitas itu masuk kembali ke kesadaran kita melalui cerita.

Cerita favorit saya di buku Suddenly, A Knock on the Door adalah “Pick a Color”. Menurut saya ini cerita terbaik tentang rasisme. Apapun yang berkaitan dengan konflik identitas terangkum dalam dan terwakili dengan sangat baik oleh cerita ini.

Kadang-kadang cerita Keret tidak menyampaikan gagasan apapun, selain ingin membawa kita ke sebuah petualangan ringkas yang menyenangkan. Saya kira itu bentuk paling murni dari cerita. Kita tenggelam dalam cerita itu sendiri tanpa perlu mencari tahu apa sebenarnya yang ingin disampaikan si pencerita. Karena memang tidak ada. Membaca cerita seperti mengupas bawang bombay untuk pertama kali dan penasaran ada apa di intinya. Jawabannya: tidak ada apa-apa.


Namun, selesai membaca cerita-selesai mengupas sisik-sisik bombay-kita tanpa sadar bisa berurai airmata. Ada efek samping yang hadir. Tidak lagi penting apa sesungguhnya yang ingin disampaikan sebuah cerita, karena cerita itu sendiri sudah mengubah satu bagian dari diri kita sebagai manusia. ***

2 komentar:

adin dilla mengatakan...

Pembahasan buku yang menarik dari karya yang keren. Saya masih butuh banyak belajar untuk bisa menikmati buku kumpulan cerpen.

Fatah Anshori mengatakan...

barangkali seperti kumpulan cerpen Eka Kurniawan 'Corat-Coret Di Toilet' ketika saya membaca kumpulan cerpen tersebut. saya merasa setting yang Eka buat sangat kuat. lantas saya mengira pasti cerpen-cerpen tersebut dibuat melalui riset terlebih dahulu. tentang sejarah dan sebagainya. tapi setelah membaca artikel Bang Bara barusan, tidak menutup kemungkinan setting yang dibuat itu hanyalah kebohongan belaka. apa seperti itu Bang?