31 Desember 2016

20 Buku Terbaik 2016

Dibanding dua hingga tiga tahun sebelumnya, tahun ini saya membaca lebih sedikit. Jauh lebih sedikit. Sepertinya semakin tahun jumlah buku yang saya baca semakin berkurang. Saya enggak tahu apa alasannya. Mungkin karena tahun ini saya lebih banyak menulis, atau menonton film (saya menonton kurang-lebih seratus film). Barangkali saya memang sedang malas saja. Saya juga membeli buku lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, saya tetap gembira karena hampir semua buku yang saya baca tahun ini adalah buku-buku bagus. Menurut statistik di Goodreads tempat saya mencatat buku-buku yang saya baca, saya membaca 38 buku. Saya nyaris memutuskan tidak lagi membuat daftar buku terbaik tahun ini karena sulit memilih beberapa dari seluruh buku yang saya baca sebagai buku terbaik, karena bagi saya hampir semuanya bagus. Namun, toh saya tetap membuat daftar ini, karena tradisi blog ini saja.

Sebelumnya saya sudah membuat tulisan Dosa Besar yang Membuat Saya Berkeliling Dunia, semacam usaha merekomendasikan buku-buku favorit saya dengan cara yang agak berbeda. Namun, akhirnya saya merasa ingin memilih buku-buku paling bagus dari daftar favorit saya itu. Maka jadilah tulisan ini. Berikut daftar 20 buku terbaik yang saya baca di tahun 2016, lintas genre mulai dari fiksi, puisi, hingga nonfiksi:





Tahun ini saya menantang diri sendiri untuk membaca karya sastra klasik. Bayang-bayang bahwa karya sastra klasik itu berat dan membosankan ternyata runtuh oleh buku pengarang besar Rusia ini. Saya mulai membacanya setelah terlebih dahulu menonton Karamazovi, film tahun 2008 karya sutradara Ceko, Petr Zelenka. Usai menonton film itu saya langsung tertarik baca novelnya. Ternyata novelnya sangat seru. Ceritanya tentang parricide, pembunuhan yang terjadi di dalam keluarga oleh anggota keluarga sendiri (dalam hal ini keluarga Karamazov). Saya menyukai karakter-karakternya dan percakapan-percakapan di novel ini. Perbincangan mengenai moral, ketuhanan, dan skandal percintaan mendominasi salah satu karya terbaik Fyodor Dostoyevsky ini.



Saya menggemari Orhan Pamuk sejak tahun lalu ketika selesai membaca novelnya My Name Is Red. Semenjak itu saya mencari dan membaca buku-bukunya yang lain. Buku ini salah satu karya nonfiksinya. Berisi kuliah umum yang ia sampaikan di sebuah universitas atas permintaan seorang temannya. Pamuk menceritakan tentang apa yang ia lihat dari sebuah novel ketika menjadi pembaca, dan apa yang ia pikirkan ketika menulis novel. Berangkat dari esei Schiller tentang puisi dan seni, Pamuk membuat teorinya tentang novel menggunakan cara pandang yang sama: naive dan sentimental. Buku ini sangat menarik bagi siapapun yang ingin belajar membaca dan menulis novel memakai kacamata seorang pemenang nobel kesusastraan.

Belum pernah saya merasa sepuas ini membaca novel Indonesia. Raden Mandasia bikin perhatian saya terjerat sejak paragraf pembuka dan saya tidak bisa melepaskan novel ini tanpa memikirkannya. Adegan-adegannya sangat filmis, bikin saya membayangkan sebuah film laga kolosal, dengan humor yang meledak di sana-sini. Petualangan Sungu Lembu dan Raden Mandasia bikin saya memimpikan memiliki perjalanan seru serupa bersama seorang sahabat, tentu saja di tengah-tengahnya saya berharap bertemu seorang Nyai Manggis. Buku ini mengembalikan kesenangan murni membaca cerita yang telah lama hilang dari diri saya. Barangkali salah satu novel Indonesia terbaik yang pernah saya baca seumur hidup. Ini tidak berlebihan.

Terjemahan bahasa Indonesia dari Timequake (1997). Saya muntah empat kali sepanjang membaca buku ini, enggak bohong. Vonnegut bikin saya ngakak dari awal sampai akhir, mulai dengan ejekannya pada karya Ernest Hemingway hingga teka-teki tentang kotoran burung. Ceritanya sendiri bernuansa fiksi sains. Cara menulis Vonnegut yang seperti bermain-main mungkin salah satu hal yang membuat buku ini sangat menghibur. Selera humor Vonnegut ampun-ampunan. Leluconnya gelap. Ia meledek perang dan lain-lainnya, sembari menekankan betapa pentingnya peran sebuah keluarga besar.

Buku lain dari Kurt Vonnegut yang bikin saya ngakak. Kali ini ceritanya rada waras. Masih bernuansa fiksi sains, tentang perburuan komponen kimiawi yang bisa membekukan cairan dan menciptakan kiamat. Tendensi Vonnegut untuk bermain-main dengan topik yang serius dan menggunakan cara pandang yang humoris dalam melihat sesuatu adalah hal yang paling saya sukai dari penulis Amerika satu ini. Selain membahas perang, di Cat's Cradle Vonnegut juga menyinggung tentang agama dan Tuhan.

Terjemahan Indonesia dari In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos (2005), tentang reportase Richard semasa penugasannya di Indonesia dalam kurun 1996-1998. Richard Lloyd Parry adalah koresponden luar negeri untuk The Independent. Dalam buku ini ia melaporkan dengan sangat detail peristiwa konflik di Jakarta, Papua, dan Kalimantan Barat jelang turunnya Soeharto. Saya membaca buku ini ketika melakukan riset literatur untuk Metafora Padma. Membaca buku Richard seperti membaca novel, karena deskripsinya sangat filmis dan cara bertuturnya sangat enak dibaca, meskipun tentu saja peristiwa yang ia laporkan begitu kelam dan menyedihkan. Salah satu bacaan penting tentang 1998.

Kumpulan cerita pendek tentang cinta. Buat saya, Raymond Carver salah satu contoh paling baik penulis yang menulis cerita cinta, karena ia begitu subtil. Carver tidak menjual drama dan menyampaikan konflik di antara tokoh-tokohnya secara eskplisit, melainkan memberi situasi-situasi yang membuat kita mengerti bahwa sedang terjadi masalah. Cerita-ceritanya terkesan sederhana, tetapi di dalamnya terdapat konflik yang kompleks, seperti cinta itu sendiri.

Memoar tentang kota Istanbul dari kacamata penulis yang tinggal di sana selama tidak kurang dari setengah abad. Dalam suatu wawancara, Orhan Pamuk pernah berkata bahwa penulis-penulis lain mendapatkan inspirasinya dari bepergian ke negara-negara lain, sementara Pamuk selama lima puluh tahun tidak pernah keluar Turki. Ia melihat Istanbul sebagai kota yang diselimuti melankoli, kota yang masih menyimpan sisa-sisa keagungan masa lalu, menolak kalah, tetapi tidak dapat menghindar dari keruntuhan dan kesenduan yang membungkusnya. Seperti buku Pamuk yang lain, buku ini bikin saya memasukkan Turki sebagai negara yang sangat ingin saya kunjungi sebelum saya mati.

Penulis yang paling banyak saya baca bukunya tahun ini. Saya membaca lima kumpulan cerita pendek Keret dan satu memoarnya. Buku memoar ini adalah yang terbaik. Keret menggunakan kelihaiannya bercerita untuk menuturkan fragmen-fragmen menarik dalam hidupnya. Tujuh tahun yang dimaksud dalam memoar ini adalah tahun-tahun di antara kelahiran anak pertama Keret dan kematian ayahnya. Periode yang, disebut Keret sebagai "Masa di mana saya merasakan menjadi ayah dari seorang anak dan anak dari seorang ayah". Saya berkali-kali tersentuh oleh cerita-cerita Keret di buku ini. Optimisme dari seorang sinis yang mengharukan dan humor yang menyenangkan adalah dua dari sekian hal yang saya sukai di buku ini.

Terjemahan Indonesia dari La casa de papel (2002), novela penulis Argentina Carlos Maria Domínguez. Buku dari dan untuk para pencinta buku. Sama seperti buku-buku penulis Amerika Latin lainnya, tidak ada satu halaman pun yang membosankan dari buku ini. Misteri dan percakapan-percakapan tentang buku di dalam buku ini bikin saya ketawa dan haru di saat yang sama. Penerjemah Ronny Agustinus bekerja dengan sangat baik, tidak ada kata-kata atau kalimat yang membingungkan sepanjang saya menikmati membaca novela ini. Novela terbaik setelah Pedro Paramo.

Buku yang menegaskan tentang kekejaman Tuhan, seenggaknya saya melihatnya demikian. Ini buku pertama yang saya baca dari penulis Brazil. Saya tidak punya banyak penulis perempuan favorit, dan karena novel tipis ini Lispector masuk ke dalam daftar penulis perempuan favorit saya. Ia menulis tentang seorang gadis lugu di perkampungan Brazil bernama Macabéa, dan bagaimana gadis tersebut menemui ajalnya.

Etgar Keret dari versi negara seberang. Hassan Blasim menyajikan cerita-cerita brutal tentang perang di Irak. Kadang-kadang cerita-ceritanya bernuansa sureal, sama seperti cerita-cerita Keret. Saya sering menyarankan kepada beberapa orang teman untuk membaca kumpulan cerita pendek Etgar Keret dan Hassan Blasim berdampingan. Sensasinya unik. Saya membeli buku ini tanpa pikir panjang setelah membaca cerita pembukanya, tentang sekumpulan teroris yang tidak ingin menyebut diri mereka teroris, melainkan pelaku seni, karena mereka membunuh dan memajang mayat-mayat di seantero kota layaknya membuat sebuah pameran. Kumpulan cerita yang brutal dan penuh ironi.

Buku yang mengubah cara pandang saya terhadap agama, Tuhan, dan ketuhanan. Buku yang bagus, tetapi tidak cukup ampuh untuk membuat saya jadi seorang ateis. Richard Dawkins memaparkan dengan teratur (seringkali disertai rujukan pendapat orang-orang lain) beragam alasan mengapa menurutnya Tuhan tidak lebih dari sebentuk delusi di dalam kepala manusia. Salah satu buku yang penting dibaca bagi siapapun yang sedang berada dalam pencarian Tuhan dan kebenaran agama.

Novel Indonesia kedua terbaik setelah Raden Mandasia. Absurd seabsurd-absurdnya, tetapi sangat menyenangkan untuk dibaca. Ditulis dengan cara bertutur orang gila, dalam format buku nonfiksi panduan (how to) dan dilengkapi beragam gambar, tabel, dan grafik yang sama ngawurnya, yang berisi ejekan dan kritik terhadap banyak hal, di antaranya peran pegawai negeri sipil dan gaya hidup manusia modern. Novel yang bikin kamu merasa hidupmu baik-baik saja sebelum membacanya.

Novela tentang cinta dan obsesi. Meskipun isinya serius, tapi saya berkali-kali ngakak bacanya, karena merasa punya kesamaan dengan Juan Pablo Castel, pelukis yang terobsesi sama seorang perempuan dan overthinking abis. Dia enggak berbuat banyak tapi pikirannya luar biasa bawel. Paranoid dan terlalu banyak pertimbangan daripada beraksi. Meskipun buat saya menghibur, tapi sebenarnya novela ini tragis dan depresif.

Saya enggak pernah menyangka bahwa selain punya dunia hiburan yang sangat sukses, Korea juga punya sastra yang keren. Kemenangan Han Kang dalam penganugerahan Man Booker Prize International 2016 (menyingkirkan Orhan Pamuk, Kenzaburo Oe, dan Eka Kurniawan) adalah salah satu buktinya. Meminjam prolog The Metamorphosis Kafka, Kang menuturkan cerita seorang perempuan usia tigapuluhan yang mengalami perubahan signifikan di dirinya, dalam usaha membersihkan bekas-bekas kekerasan yang pernah terjadi di masa lalu. Sedikit informasi kecil: Han Kang sendiri hanya pernah jadi vegan, sekarang ia sudah makan daging demi alasan kesehatan.

  • Sergius Mencari Bacchus, Norman Erikson Pasaribu
Buku puisi Indonesia terbaik yang terbit tahun ini. Norman mengangkat tema-tema LGBT dengan bentuk pengucapan yang belum pernah saya lihat, semacam campuran antara puisi dan prosa, tetapi kian menarik karena ia sering menggunakan kata-kata yang barangkali tidak dianggap cukup puitis untuk dimasukkan ke teks puisi. Gaya bahasanya segar, jauh dari bikin ngantuk. Norman menulis puisi-puisi menggunakan kosakata dari masa kini dan alusi yang jauh ke belakang hingga abad ke-4. Penyair muda yang bikin saya optimistis sama masa depan dunia puisi Indonesia.

Cerita tentang laki-laki India yang ingin membebaskan diri dari jerat kemiskinan. Gaya bertutur Aravind Adiga yang selengean dan bertabur umpatan bikin saya merasa seperti sedang membaca The Wondrous Life of Oscar Wao, Junot Díaz. Novel ini menyenangkan sekali, dan sangat page-turner. Aravind Adiga memperlihatkan sisi kelam India, dan di beberapa tempat saya bahkan merasa seperti sedang membaca cerita tentang Indonesia.

Terjemahan Indonesia dari La Pyramide atau Piramida (1992) karya penulis Albania, tentang pembangunan piramida baru oleh firaun muda yang berubah dari tidak menginginkan simbol kekuasaan apapun, menjadi terobsesi dengannya. Kadaré menekankan topik ironi kekuasaan lewat firaun Cheops dan kesengsaraan serta kebanggaan warga Mesir yang terlibat dalam pembangunan piramid tersebut. Buku yang bikin saya berkali-kali nahan napas membayangkan piramid yang gigantik dan kekacauan berdarah yang berlangsung dalam proses pembuatannya.

Kumpulan cerita terfavorit saya tahun ini. Cerita-cerita Lahiri tentang India sangat sederhana dan universal, sehingga membuat saya sangat mudah merasa related dengan manusia-manusia yang ia kisahkan. Lahiri sangat detail dalam menggambarkan suasana dan saya menyukainya. Konflik dalam cerita-ceritanya hadir begitu subtil, sekaligus intens. Selain cerita yang menjadi judul buku ini, cerita lain yang saya sukai adalah A Temporary Matter, karena bikin saya teringat pada masa kecil ketika seisi kompleks mati lampu dan kami bermain-main di luar rumah. Karena buku ini juga, saya memasukkan Jhumpa Lahiri ke daftar penulis perempuan favorit saya, dan saya berencana membaca buku-bukunya yang lain tahun depan.

- - -

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang juga penikmat buku bertanya kepada saya, "Kamu ingin baca apa tahun depan?" Saya sempat berpikir sejenak karena tidak bisa segera menjawab. Saya tidak punya target khusus selain berharap bisa membaca lebih banyak buku bagus. "Mungkin ingin baca karya-karya klasik lagi," jawab saya akhirnya. Semoga saja harapan itu tercapai. Tapi kalian tahu lah saya ini Cancer. Saya senang berencana tapi enggak merasa masalah kalau menyeleweng dari rencana awal untuk memberi ruang bagi hal-hal menarik yang datang. Maksudnya, saya bisa saja membuat daftar membaca tahun 2017, tapi sangat mungkin di tengah-tengah saya membaca buku lain yang tidak pernah masuk daftar tersebut. Intinya, sih, fleksibel saja.

Kalau kalian, bagaimana buku-buku bacaan kalian tahun ini? Apakah kalian membuat daftar seperti ini? Buku-buku apa yang ingin kalian baca tahun depan? Share di kolom komentar ya.

Selamat tahun baru!


5 komentar:

Yunita Dwi Kurnia mengatakan...

Dari keduapuluh bukumu, yang aku baca hanya satu: Rumah Kertas. Isinya 'gila' juga ya :D

Nur Atika mengatakan...

Tahun depan mau baca buku "Untuk Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan" 😁😁😁 dan buku Bang Bara lainnya. I love it 😍

rayhebat2010 mengatakan...

Udah ada delapan buku yang sudah saya baca dari daftar yang di atas:
- Raden Mandasia
- Timequake
- What We Talk About When We Talk About Love
- The Seven Good Years
- The House of Paper
- The Tunnel
- The Vegetarian
- Sergius Mencari Bacchus

Nisa Rahmah mengatakan...

Yang baru kubaca Rumah Kertas :D dan jadi salah satu buku terbaikku juga tahun ini. Punya Raden Mandasia dan The Seven Good Years, akan dibaca dalam waktu dekat.

Barusan di blog buat seperti ini juga :) dan lima buku favorit tahun ini adalah:

1. Meniti Bianglala (Mitch Albom)
2. The Miraculous Journey of Edward Tulane (Kate Dicamilio) Ini buku anak-anak yang ngena banget sama orang dewasa
3. Dunia Maya (Jostein Gaarder)
4. A Man Called Ove (Fredrik Backman)
5. Rumah Kertas (Carlos María Domínguez)

benz mengatakan...

Yunita: Iya, salah satu buku favorit saya di 2016 lalu.

Nur: Terima kasih!

Ray: Tos.

Nisa: Pengin coba baca juga bukunya Jostein Gaarder.