20 Desember 2016

Saling Menumbuhkan, Bukan Mematahkan

Source: Bloglovin


Biologi adalah mata pelajaran favorit saya waktu SMA.

Salah satu yang saya ingat dipelajari waktu itu adalah tentang ragam hubungan antar dua makhluk hidup. Ada tiga macam: Simbiosis mutualisme, parasitisme, dan komensalisme.

Simbiosis mutualisme berarti menguntungkan kedua belah pihak, seperti burung jalak yang memakan kutu dari badan kerbau dan kerbau diuntungkan karena badannya jadi bersih. Simbiosis parasitisme adalah hubungan yang salah satunya diuntungkan sementara yang lain merugi, seperti cacing perut dalam usus manusia yang mengambil saripati makanan; cacing perut untung, manusianya rugi. Simbiosis komensalisme seperti hubungan anggrek dengan pohon mangga. Anggrek dapat untung menumpang tempat tinggal, tapi pohon mangga enggak dapat apa-apa.

Dari ketiga jenis hubungan tersebut, tahukah kamu dan pacarmu masuk ke jenis yang mana?

Idealnya, tentu saja hubungan yang baik adalah hubungan mutualisme. Kamu dan pasanganmu membuat satu sama lain bertumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Semakin berkualitas secara pikiran, karakter, dan jiwa. Kamu mengubah dirimu jadi sosok yang lebih baik karena pengaruh baik dari pasanganmu, begitupun sebaliknya. Jika kamu dan pasanganmu berada dalam simbiosis mutualisme seperti burung jalak dan kerbau, bersyukurlah. Kamu beruntung. Jaga baik-baik hubungan itu.

Tapi bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau ternyata hubungan yang kamu miliki serupa hubungan cacing perut dengan usus manusia? Terserah siapakah yang cacing perut dan siapa yang usus manusia. Intinya kamu dan pasanganmu salah satunya diuntungkan sementara yang lain dirugikan. Kalau kamu adalah manusia yang ususnya dirugikan cacing perut, maka kamu harus membunuhnya dengan mengonsumsi obat cacing. Kamu tidak sebaiknya memelihara parasit dalam hubunganmu. Begitupun sebaliknya, kamu tidak boleh jadi parasit bagi pasanganmu. Jika kamu punya hubungan seperti itu, selesaikan sekarang juga.

Meskipun keduanya jelas berbeda, berada dalam hubungan mutualisme ataupun parasitisme masih lebih baik daripada punya hubungan komensalisme.

Kenapa begitu?

Tidak ada yang perlu dilakukan saat kamu punya hubungan yang baik dan saling menguntungkan, selain menjalaninya saja dengan rasa syukur dan merawatnya. Kalau kamu merasa dirugikan dalam hubunganmu, itu juga mudah. Pilihannya sudah jelas: bertahan dengan risiko terus merugi atau segera memutuskannya.

Tapi bagaimana kalau kamu berada dalam hubungan yang membuat pacarmu terus berkembang, sementara kamu sendiri tidak mendapat manfaat apapun?

Berada dalam hubungan itu akan sulit. Karena pihak yang tidak diuntungkan akan merasa dirinya baik-baik saja, karena toh ia tidak dirugikan. Namun, tanpa ia sadari, hubungan tersebut telah memerangkapnya. Ia sedang berada di situasi yang menyedot seluruh energinya demi kepuasan pasangannya, sementara bagi dirinya sendiri tidak ada kebaikan yang pasangannya berikan. Jika hal ini tidak lekas disadari, ia akan pelan-pelan mati dari dalam, dan tetap merasa hubungan itu baik-baik saja. Padahal tidak.

Beberapa orang menguras energi demi mengembangkan sayap pasangannya, tetapi lupa pada sayapnya sendiri yang tidak pernah diurus, sehingga kehilangan kekuatannya dan layu bahkan lama-lama patah.

Beberapa orang bertahan dalam sebuah hubungan karena merasa berhasil mengubah pasangannya jadi lebih baik, tetapi mereka lupa bahwa pasangannya tidak memberi kebaikan apapun kepada mereka. Rasa berbangga diri setelah mengubah pasangan jadi orang yang lebih baik ini bisa jadi jebakan, karena bikin seseorang lupa bahwa perubahan baik tersebut ternyata tidak berjalan dua arah.

Hubungan yang baik memberi manfaat bagi kedua orang dalam hubungan itu. Jika cuma satu orang yang dapat manfaat dan satunya dirugikan, well.

Sampai kapan kira-kira hubungan itu masih layak dipertahankan?

Hidup terlalu singkat untuk berlama-lama berada di dalam hubungan yang tidak membuatmu menjadi manusia yang lebih baik. Karena cinta yang baik, selain memberimu kebahagiaan, juga akan mengeluarkan bagian-bagian yang terbaik dari dirimu. Tentunya kamu ingin memiliki hubungan yang seperti itu?


Renungkan kembali hubungan yang kamu miliki saat ini. Apakah kamu burung jalak atau kerbau; cacing perut atau usus manusia; anggrek atau pohon mangga?

5 komentar:

PAK.SABARUDDIN DI PADANG mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
taufik barli mengatakan...

Bang Bara, tolonglah komentar sampah/spam yang akhir-akhir ini kerap mampir ke tulisan sampeyan dihapus. Biar orang yang mengira ada perbincangan lanjutan di kolom komentar jadi tak kecewa.

benz mengatakan...

Taufik: Selalu saya hapus, tapi selalu datang lagi. Enggak nemu cara memfilternya.

aulia afifah mengatakan...

Halo kak bara, aku satu di antara siswa sma di Pontianak yang suka banget sama tulisan kaka

Anisa Nbe mengatakan...

in love with this post!:))