21 Februari 2016

Keluarga Santini Terbang (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris di buku The Bus Driver Who Wanted to be God (Riverhead Books, 2015). Terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger.

 *


Italo melambai dengan tangan kirinya, dan suara drum yang mengganggu pun berhenti. Ia menarik napas panjang dan memejam. Tepat pada saat aku melihatnya dengan kostum yang berkilauan, berdiri tegak lurus di ujung papan loncat, kepalanya nyaris menyentuh langit-langit tenda; seketika semuanya menjadi jelas. Aku akan meninggalkan rumah dan bergabung dengan regu sirkus! Aku juga akan menjadi salah satu dari Santini yang terbang, aku akan melesat di udara seperti seorang setan, aku akan bergelantung pada tali trapeze menggunakan gigiku!

Italo berputar dua setengah kali di udara, dan saat memasuki putaran ketiga, ia melepaskan genggamannya dari Enrico, Santini termuda. Seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan dengan keras. Ayah mengambil kotak popcorn milikku dan melemparkannya ke udara, isinya berjatuhan ke atas kepalaku.

Anak-anak lain sampai harus kabur dari rumah mereka tengah malam untuk bergabung dengan regu sirkus, tapi Ayah malah mengantarku dengan mobilnya sendiri. Ia dan Ibu membantuku mengepak perlengkapan di dalam koper. “Ayah bangga denganmu, Nak,” katanya seraya memelukku, beberapa saat sebelum aku mengetuk pintu mobil caravan milik Papa Luigi Santini. “Sampai jumpa, Ariel-Marcello Santini. Dan ingatlah Ayah dan Ibu setiap kali kamu terbang melayang di atas lantai sirkus.”

Papa Luigi membuka pintu karavan. Ia mengenakan celana panjang berkilau-kilau-kostum sirkusnya-dan baju piyama dengan motif garis-garis.

“Saya ingin bergabung, Papa Luigi,” aku berbisik. “Saya juga ingin jadi Santini Terbang.”

Papa Luigi melihatku, dari atas sampai bawah, dengan tatapan yang optimis, kemudian meremas-remas otot lenganku yang ramping dengan ketertarikan tertentu, dan akhirnya mempersilakanku masuk.

“Banyak sekali anak-anak yang ingin jadi Santini Terbang,” ia berkata setelah sejenak hening. “Apa yang membuatmu berbeda?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya menggigit bibirku dan diam.

“Apa kau pemberani?” tanya Papa Luigi.

Aku mengangguk.

Dengan sangat tiba-tiba, Papa Luigi melayangkan satu pukulan ke arah wajahku. Aku tidak bergerak sedikit pun, bahkan tidak juga berkedip.

“Hmm…,” Papa Luigi mengusap-usap dagunya. “Apa kau gesit?” ia bertanya. “Kau pasti tahu Santini Terbang terkenal dengan kegesitannya.”

Lagi, aku mengangguk, seraya menggigit bibir bawahku.

Papa Luigi merentangkan tangan kanannya, di atas telapaknya satu koin seratus lira, dan ia memberiku isyarat dengan alisnya yang berwarna perak. Aku berhasil merebut koin sebelum ia kembali mengepalkan tangan. Papa Luigi mengangguk dengan bangga.

“Satu ujian lagi,” ia menyergah, “ujian kelenturan badan. Kau harus menyentuh jempol kakimu tanpa menekuk lutut.”

Aku merilekskan tubuhku, menghela napas panjang, memejam, persis seperti abangku Italo ketika malam itu ia menggelar pertunjukannya. Aku membungkuk dan mengulurkan tangan. Aku bisa melihat ujung-ujung jemariku hanya berjarak beberapa milimeter dari tali sepatuku, nyaris menyentuhnya. Tubuhku menegang penuh seperti seutas tali yang sewaktu-waktu bisa putus—tapi aku tidak menyerah. Empat milimeter saja yang memisahkanku dengan keluarga Santini. Aku tahu aku harus menerobos batas tersebut.

Dan kemudian, tiba-tiba saja, aku mendengar suara itu. Seperti suara kayu dan kaca retak dalam waktu bersamaan, begitu nyaring hingga memekakkan telinga. Ayah, yang sedang menunggu di luar, terkejut dengan suara tersebut dan tergopoh-gopoh masuk ke dalam karavan.

“Kamu baik-baik saja?” ia bertanya dan mencoba memapahku.

Aku tidak bisa meluruskan punggungku. Papa Luigi menggendongku dengan tangannya yang kokoh, dan kami semua pergi ke rumah sakit.

Hasil rontgen menunjukkan ada sekeping lempengan terselip di antara titik L2 dan L3 tulang punggungku. Saat aku melihat foto rontgen dengan bantuan lampu, aku bisa melihat semacam bercak hitam, seperti tetesan kopi, pada tulang punggung yang berwarna transparan. Pada amplop cokelat, tertulis dengan pena-nama “Ariel Fledermaus”. Bukan Marcello, bukan pula Santini-hanya tulisan jelek tersebut.


“Kau, kan, bisa saja menekuk lututmu,” bisik Papa Luigi seraya mengusap airmatanya. “Kau bisa saja menekuk lututmu sedikit. Aku tidak akan melarangnya.” ***

20 Februari 2016

puisi buat seorang perempuan yang memintaku menulis puisi tentang bagaimana jika aku sebentuk hujan



: g


jika aku jadi hujan
aku akan jadi hujan yang menjebak
dua kekasih di dalam kamar
ketika salah satunya
ingin pulang
menemui kekasihnya yang lain.

jika aku jadi hujan
aku akan jadi hujan yang memberi waktu
bagi dua kekasih di sudut kedai kopi
ketika salah satunya
ingin mengucapkan selamat tinggal
dan bersiap pergi.

jika aku jadi hujan
aku hujan yang menyembunyikan sepi
bagi seorang perempuan di dekat jendela
yang menunggu lelakinya kembali
dari pertemuannya
dengan perempuan lain.

jika aku jadi hujan
aku hujan yang memekarkan bunga
bagi dada seorang lelaki di beranda
yang menunggu perempuannya pulang
dari pertemuannya
dengan lelaki lain.

jika aku jadi hujan
aku menyimpan rahasia-rahasia
kata-kata dan doa-doa tak terucap
erat dalam basah tubuhku

jika aku jadi hujan
aku biarkan luka dan cinta dan rindu
menjadi panjang, kekal dalam dingin
dan deras jatuhku


2016

13 Februari 2016

The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoyevsky




Membaca karya sastra klasik adalah sesuatu yang belum pernah saya lakukan. Terlalu banyak hal yang membuat saya enggan, atau setidaknya terus menunda membaca karya-karya sastra klasik, dan semua itu berakar pada macam-macam prasangka: semua buku sastra klasik “berat”, ukurannya terlalu tebal, bahasanya sulit dimengerti, dan seterusnya. Sebagai penulis, saya merasa “harus” membaca karya sastra klasik, untuk alasan yang juga tidak benar-benar saya pahami. Mungkin karena beberapa penulis kesukaan saya membaca banyak karya sastra klasik. Sebagai pembaca, saya menganggap membaca karya sastra klasik sebagai suatu tantangan, yang cepat atau lambat harus saya jawab. Saya memutuskan tahun ini adalah waktunya untuk menjawab tantangan itu.

Karya sastra klasik pertama yang saya baca: The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoyevsky (1821-1881). Ia penulis Rusia, dan novel tersebut merupakan karya terakhirnya. Sepanjang 60 tahun usianya, ia menulis cukup banyak buku, sekitar 20 hingga 30. Beberapa yang sering disebut: Crime and Punishment, The Idiot, Notes from Underground, dan karya terakhirnya yang ternyata berukuran paling tebal di antara seluruh karyanya, The Brothers Karamazov.

Saya rasa hal berikut penting untuk disampaikan. Sebetulnya saya memutuskan untuk mulai membaca The Brothers Karamazov setelah menonton sebuah film berjudul Karamazovi. Film tersebut rilis tahun 2008, dibuat oleh Petr Zelenka, seorang sutradara asal Republik Ceko. Ceritanya tentang satu kelompok teater yang sedang rehearsal pementasan untuk tampil di suatu festival (tapi festival ini tidak ditampilkan). Mereka menampilkan adaptasi dari novel The Brothers Karamazov. Jadi, film Karamazovi bukan adaptasi novel The Brothers Karamazov, melainkan film tentang sekelompok pemain teater yang mementaskan adaptasi dari The Brothers Karamazov. Filmnya menarik sekali, dan karena itu saya jadi tertarik untuk mulai membaca novelnya. Karya yang bagus selalu mendorong kita untuk menikmati karya bagus lain.

Meski hanya mengambil cuplikan dari novelnya, Karamazovi cukup mewakili apa yang diceritakan Dostoyevsky dalam The Brothers Karamazov (tentu saja mereka tidak bisa menampilkan keseluruhan novel dan siapapun yang masih berharap versi film dari novel harus persis seperti novelnya lebih baik mulai mengganti hobi menonton film jadi, misalnya, memelihara kukang). Karakter-karakter pada novel terwakili dengan baik wataknya oleh para pemain Karamazovi. Emosi yang begitu intens membuat saya seakan-akan dapat segera memahami apa saja yang dibicarakan Dostoyevsky dalam novelnya.

Sepulang dari menonton Karamazovi, saya segera mengambil dari rak di kamar, The Brothers Karamazov, dan mulai membacanya.

Dalam keterkejutan saya, prasangka buruk saya sendiri yang utama terhadap karya sastra klasik gugur sudah. The Brothers Karamazov tidak melelahkan, ribet, ataupun membuat saya terseret-seret membacanya, seperti awalnya saya khawatirkan (saya ingat saya mengkhawatirkan hal sama ketika kali pertama membaca Bumi Manusia). Halaman demi halaman terbaca begitu saja tanpa henti. Narasi di bab awal memaparkan karakter Fyodor Karamazov seketika saja menarik saya ke dalam dunia The Brothers Karamazov. Rasa penasaran langsung muncul. Ketika sebuah buku telah berhasil menumbuhkan rasa penasaran di kepala pembaca, saya menganggap buku itu sudah menang. Sisanya menikmati.

Pada kulitnya, The Brothers Karamazov adalah cerita parricide-pembunuhan yang dilakukan anggota keluarga terhadap anggota keluarga lain. Dalam pada ini, anak kepada ayahnya. Tiga bersaudara Karamazov: Dmitri Karamazov, Ivan Karamazov, Alexey (Alyosha) Karamazov, dicurigai telah bertanggungjawab atas kematian ayah mereka, Fyodor Karamazov. Novel dibuka dengan penjelasan dari narator tentang kematian Fyodor Karamazov. Namun, The Brothers Karamazov bicara lebih banyak dari sekadar kasus pembunuhan. Ia berbicara perihal sifat-sifat dasar manusia mulai dari keinginan berbuat baik maupun buruk, keadilan, agama, tuhan dan ketuhanan, sampai keberadaan dan ketidakberadaan tuhan.

Semua yang dibicarakan Dostoyevsky di dalam The Brothers Karamazov terurai lewat percakapan-percakapan di antara karakter-karakternya, yang, harus saya katakan, amat menarik. Karakter-karakter Dostoyevsky, saya kira, tidak hanya mewakili diri mereka sendiri, melainkan menjadi simbol dan representasi dari banyak manusia lain yang memiliki sifat dasar serupa. Dmitri Karamazov yang tukang mabuk dan main perempuan tapi senantiasa mempertahankan harga diri dan martabatnya; Ivan Karamazov yang apatis terhadap kebaikan dan ketuhanan tapi pada akhirnya melakukan hal baik terhadap saudaranya; Alyosha yang bijak dan religius tapi kerap dibuat bingung oleh beragam manusia yang ia temui; juga Fyodor Karamazov yang gemar menyalahkan dan mendramatisir dirinya sendiri. Belum lagi karakter-karakter lain yang tidak kalah berkesan: Smerdyakov anak “tidak sah” dari Fyodor Karamazov dengan seorang perempuan gila, Agrafena Syvetlov alias Grushenka si perempuan yang manipulatif, Katerina si perempuan terdidik, dan seluruh karakter pendukung lain termasuk Kolya Krassotskin si bocah cerdas dan Ilusha, temannya.

Kata seorang pengacara pada akhir novel, Karamazov bersaudara memiliki sejenis ekstremitas internal yang membuat mereka dapat melakukan dua hal berlawanan (baik dan buruk, misalnya) di waktu yang berdekatan, jika tidak bersamaan. Bukankah “ekstremitas internal” semacam begini sebetulnya dimiliki secara inheren oleh seluruh manusia?

Selain karakter-karakternya yang berkesan, bagian yang sangat perlu dinikmati saat membaca The Brothers Karamazov adalah dialog-dialognya. Hampir seluruh plot digerakkan oleh dialog. Dari dialog kita dapat mengetahui jalan pikiran watak tokoh-tokohnya. Melalui dialog oleh tokoh-tokohnya pula, Dostoyevsky menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Salah satu favorit saya adalah bab The Grand Inquisitor, dialog antara Ivan Karamazov dengan Alexey Karamazov alias Alyosha, walaupun sebetulnya hampir tidak bisa disebut sebagai dialog karena pada bagian tersebut Ivan bermonolog (kepada Alyosha) tentang isi pikirannya sendiri-ia bicara soal tuhan, kebaikan, kejahatan, dan ketidakmengertiannya pada kekejaman atas anak-anak.

Meski datang dari Rusia, menulis dengan bahasa Rusia, dan menamai tokoh-tokoh novelnya dengan nama Rusia, serta beberapa kali menyebut-nyebut Rusia dalam narasinya, sebetulnya Dostoyevsky tidak berbicara tentang Rusia. Seperti semua novel bagus, The Brothers Karamazov mengandung universalitas, yang membuat semua orang yang membacanya dapat seketika merasa terhubung dan memahami apa yang tengah ia bicarakan meski tidak berasal dari Rusia dan tak tahu apa-apa tentang budaya dan situasi Rusia. Semua novel bagus memiliki nilai universalitas semacam itu. Hal tersebut yang membuat suatu novel terus dibaca bahkan setelah berabad-abad, melampaui zaman ketika ia dituliskan.


“Berat”, bertele-tele, melelahkan, sukar dicerna, bahasanya ribet, dan seterusnya dan seterusnya-tidak satu pun dari semua prasangka itu terbukti, ketika saya selesai merampungkan The Brothers Karamazov. Segala yang terjadi hanyalah kebalikannya. Novel ini serunya sama seperti menonton film Hollywood dengan aktor orang-orang Rusia yang bercakap-cakap tentang hal-hal yang saya sukai. Singkat kata, pengalaman pertama saya membaca karya sastra klasik membuat saya belajar setidaknya satu hal penting: prasangka buruk adalah hal yang sama sekali tidak perlu dan sia-sia. Baik kepada manusia maupun kepada buku. ***

tentang melamun



menyimak manusia di jalan raya itu kegiatan yang menyenangkan.

meski lebih sering kerja di dalam ruangan, saya senang berada di luar. merasakan panas matahari dan angin yang berembus. melihat orang-orang, motor, dan mobil yang bergerak.

saya suka melihat sesuatu yang bergerak. karenanya saya senang memperhatikan jalanan. di jalan semuanya bergerak. pergerakan itu memperlihatkan sesuatu yang hidup. saya senang berdiam dan memperhatikan orang-orang lain bergerak. saya suka membayangkan apa yang sedang mereka lakukan, atau ke mana mereka menuju.

di luar ruangan, di jalan raya, semuanya tampak hidup, karena semuanya bergerak. ada yang santai, banyak yang tergesa-gesa. tapi kalau kita perhatikan, sebenarnya orang-orang tidak pernah berhenti bergerak. bahkan ketika tubuh kita berhenti, perasaan dan pikiran kita bergerak.

*

kalau belum pernah, coba sesekali pergi ke tempat makan/minum di luar ruangan dekat jalan raya. lalu cari seseorang dan perhatikan rautnya. kalau sering nongkrong di kafe beramai-ramai, coba sesekali pergi sendir, tapi nggak ke kafe di dalam ruangan, melainkan suatu tempat di luar.

bisa melipir ke minimarket 24 jam lalu parkir di situ. duduk di pelatarannya kalau ada kursi. atau makan di warung yang bisa melihat ke jalan. duduk sendirian, sambil ngemil atau minum kopi.

lalu diam dan simak sekeliling.

lihat orang-orang lewat, menikmati apapun yang sedang terjadi dalam momen tersebut. kalau beruntung, kamu akan menemukan peristiwa menarik. mungkin interaksi antara dua orang yang asing bagimu. atau sekadar kejadian sepele yang tidak akan menarik jika tidak kamu perhatikan, tapi karena kini kamu memperhatikannya, dengan satu dan lain cara kamu melihat hal menarik.

kalau kamu punya pasangan yang juga senang melamun, lebih asyik lagi. bisa melamun bareng. tapi, melamun sendirian juga amat nyaman.

*

menurut saya penting menyediakan waktu melamun untuk menyimak sekeliling, karena kadang-kadang kita terlalu sibuk dengan diri sendiri. saat terlalu sibuk dengan diri sendiri, kita jadi lupa bahwa ada banyak hal yang sedang terjadi di sekitar kita. hal-hal yang menarik pula.

sesekali perlu melupakan diri sendiri untuk menikmati hal-hal kecil yang terjadi di sekeliling-- di luar diri kita. karena, kadang-kadang saat kita memiliki pertanyaan untuk diri sendiri, sebetulnya jawabannya bisa kita temukan dari hal-hal di sekeliling.

nggak harus juga menyimak orang-orang. duduk melamun juga bisa sambil memperhatikan awan bergerak, daun-daun bergoyang-- mengawasi alam.

*

nggak harus juga berusaha mencari peristiwa menarik saat melamun. kadang, kita melakukannya sekadar untuk 'menyadari' keberadaan hal-hal.

saat sibuk sendiri dengan pekerjaan, rencana-rencana, pertemuan-pertemuan, dan semuanya-- kita nggak sadar, di langit sana awan lagi bergerak. kita nggak sadar daun-daun bergoyang ditiup angin; pasir dan debu beterbangan dilewatin mobil. bahkan kita nggak sadar kita lagi bernapas. kita nggak sadar; di dalam tubuh kita, semua organ dari yang besar sampai yang kecil sedang bekerja. jantung lagi memompa darah. paru-paru lagi memompa oksigen dan mengeluarkan karbondioksida; sel-sel darah lagi mengangkut nutrisi ke seluruh tubuh; lambung mencerna.

semuanya bekerja untuk kehidupan kita, tanpa pernah kita sepenuhnya sadari.

diam, melamun, dan menyimak-- membuat kita menyadari bahwa selain hidup kita sendiri, ada banyak hal kecil yang penting sedang berlangsung di waktu bersamaan.

ketika sudah mulai menyadari hal-hal yang jarang kita sadari, hidup dengan segala tantangannya adalah pengalaman indah dan layak disyukuri.  setelah melamun, biasanya jadi dapat suntikan energi untuk menjalani hidup lagi, menghadapi masalah-masalah lagi. jiwa jadi terisi.

*

tentu saja, kadang-kadang melamun juga bikin sedih. itu karena saat melamun kita juga jadi punya kesempatan mendalami perasaan diri sendiri. tapi percayalah, apakah membuat kamu sedih atau bersyukur, berdiam dan melamun akan bikin kamu lebih meresapi hidup. dan, itu menyenangkan. apalagi kalau kamu merasa sudah terlalu hectic dengan kegiatan sehari-hari. ciptakan satu momen 'hening' buat dirimu sendiri. hentikan semuanya untuk sementara waktu.

mari menjadi para pelamun!

*

diskusi, membaca, nonton, bekerja, olahraga-- semua bikin kepala, dompet, dan kesehatan terjaga-- tapi jiwa? jiwa bisa 'terisi' dengan melamun.

ada tiga hal di diri manusia yang, kalau ia ingin baik-baik saja dan merasa lengkap, semuanya harus terisi: yakni pikiran, tubuh, dan jiwa. pikiran (otak) diisi dengan asupan ilmu. informasi dari riset, bacaan, tontonan, diskusi-diskusi dengan orang-orang berilmu, dan berpikir. fisik (tubuh) -- 'diisi' dengan berolahraga. kemampuan motorik anggota tubuh dijaga dengan memfungsikannya, menggunakannya secara rutin. jiwa -- diisi dengan sesuatu yang spiritual. kalau punya agama, diisi dengan beribadah, membangun hubungan sama tuhan.

selain dengan beribadah, bagi saya, 'mengisi jiwa' juga bisa dilakukan dengan cara melamun sendirian. menyimak alam dan lingkungan sekeliling.

seseorang hanya bisa stabil ketika tiga hal tersebut-- pikiran, tubuh, dan jiwa-- berada dalam keseimbangan. semuanya diberi 'nutrisi'. kalau pikiran dan tubuh kamu sudah terisi, tapi jiwa tidak, mungkin di saat-saat tertentu kamu akan merasa seperti 'kosong' atau 'hampa'. kalau pikiran dan jiwa kamu sudah terisi, tapi tubuh tidak, suatu waktu akan jatuh sakit karena kesehatan nggak terjaga. kalau jiwa dan tubuh kamu terisi, tapi pikiran tidak, mungkin kamu bisa ketinggalan dengan semua informasi di dunia yang berjalan cepat.

kalau dalam islam, semua yang ada di alam ini bertasbih kepada tuhan. jadi saat kita menyimak alam, kita sedang mendengarkan mereka bertasbih. mendengarkan alam bertasbih mungkin sama seperti mendengarkan orang lain bertasbih atau mengaji, kita cuma dengar tapi kecipratan pahala.

*

mari menarik diri sejenak dari kesibukan dan arus waktu. bungkus diri sendiri dengan selubung transparan. melamun. menikmati suasana sekitar. menyadari pergerakan alam.


menyimak diri sendiri dengan mencermati sekitar.

10 Februari 2016

Istanbul, Orhan Pamuk




Terutama bagi perantau seperti saya, sulit untuk menulis tentang sebuah kota. Maksudnya menulis secara komperehensif, bukan hanya soal keindahannya atau bukan pula semata mengutuki kesemrawutannya. Seperti misalnya: mudah bagi seseorang menulis panjang-lebar tentang kemacetan Jakarta, tapi bagaimana dengan sisi-sisinya yang lain? Sisi-sisi yang indah, menarik, dan menyedot setiap orang dari berbagai tempat di Indonesia hingga mendatangi kota tersebut. Tapi, mungkin menulis tentang sebuah kota memang persoalan memilih, sama seperti menulis tentang hal-hal lain. Menulis seperti memotret, kita memilih mana yang ingin kita perlihatkan dan mana yang tidak ingin kita perlihatkan.

Orhan Pamuk, dalam memoarnya Istanbul: Memories and the City (Vintage, 2006: terjemahan bahasa Inggris oleh Maureen Freely) memilih satu hal: Melankoli. Dari banyak yang bisa ia tulis tentang kota di Turki yang telah ia tinggali selama lebih dari setengah abad itu, ia memilh subyek melankoli. Kenapa melankoli? Menurut Pamuk, hal itulah yang melekat pada Istanbul dan para Istanbullus-penghuni Istanbul.

Tetapi melankoli yang Pamuk bahas bukanlah sejenis melankoli personal, yang biasa melanda kita secara tiba-tiba saat mengenang atau memikirkan sesuatu dengan alasan yang bisa unik di masing-masing orang-melainkan, Pamuk sedang bicara soal “melankoli kolektif”. “Melankoli kolektif” ini adalah sejenis melankoli yang dialami secara bersama-sama oleh seluruh Istanbullus. Melankoli tersebut datang dari keruntuhan besar kekaisaran Ottoman di masa lalu. Dalam bahasa Turki ada kata yang, menurut Pamuk, dapat mewakili lebih tepat: Hüzun, yang kurang-lebih artinya juga kesedihan atau melankoli. Melankoli inilah yang menyelubungi setiap sudut kota Istanbul. Ke mana pun seseorang melemparkan pandangannya, yang ia lihat hanyalah sisa-sisa kejayaan kekaisaran di masa lalu.

Meski berbicara tentang melankoli kolektif suatu kota dan para pemukimnya, Pamuk tak memulai memoarnya dengan membicarakan Istanbul. Ia lebih dahulu menceritakan dirinya sendiri beserta keluarganya. Ia bertutur tentang masa kecilnya; bagaimana ia kerap membayangkan ada Orhan lain di suatu tempat yang selalu bahagia dan punya kehidupan berbeda dengan dirinya (saya teringat mitos doppleganger); bagaimana ia sering bersaing dengan abangnya, bahkan sampai bertengkar, dalam usaha mengambil perhatian ibunda dan sang nenek; bagaimana keluarga besarnya tinggal di satu apartemen; bagaimana saat muncul permasalahan di hubungan perkawinan kedua orangtuanya dan berujung pada perceraian; bagaimana ia punya cita-cita ingin menjadi pelukis; dan seterusnya.

Dari memori masa kecil itu, barulah Pamuk bergerak ke kota. Ia menggambarkan dengan filmis bagaimana lanskap Bosphorus tempat ia sering melihat kapal-kapal melintas dan sekali waktu bertabrakan sehingga membuat seluruh warga Istanbul berkumpul menontonnya (saya teringat orang-orang Indonesia yang gemar menonton musibah seperti misalnya kecelakaan atau ledakan bom). Ia juga mendeskripsikan sudut-sudut jalan Beyoglu yang masih menyimpan rumah para pasha.

Selebihnya, Pamuk bercerita tentang bagaimana para penulis dan seniman lukis kesukaannya memandang dan memaknai Istanbul. Ia menyebut, misalnya saja, Antoine Ignace Melling (1763-1831) pelukis kelahiran Karlsruhe, Jerman, yang melukis lanskap Bosphorus dengan, seperti kata Pamuk, “detail sehari-hari dan nuansa arsitektur yang tidak pernah dicapai seniman Eropa mana pun.” Dalam usaha melengkapi penjelasannya tentang hüzun atau melankoli kolektif Istanbul, Pamuk menyebut beberapa penulis Turki (semuanya hidup di abad ke-18 dan ke-19)-Yahya Kemal (1884-1958), Resat Ekrem Koçu (1905-1975), Abdülhak Sinasi Hisar (1887-1963), dan Ahmet Hamdi Tanpinar (1901-1962-lantas menggambarkan bagaimana keempat penulis tersebut mendiskusikan hüzun-nya masing-masing. Barangkali Pamuk melakukan ini untuk menegaskan bahwa ia tidak merasakan melankoli itu sendirian.

Saya melihat Istanbul: Memories and the City sebagai rekam sejarah keluarga, kota, dan daftar seniman kesukaan Pamuk. Secara konstan, Pamuk berpindah-pindah dari ingatan masa kecilnya ke sejarah Istanbul dan kehidupan seniman-seniman kesukaannya saat mereka tinggal atau sekadar berkunjung ke Istanbul.

Ketika membaca sebuah buku tentang suatu kota, hal pertama yang saya lihat adalah siapa penulisnya. Maksud saya, siapakah dia kaitannya dengan kota yang ia tuliskan. Apakah si penulis warga asli kota tersebut, peneliti atau sejarawan yang tidak berasal dari kota itu, ataukah sekadar turis? Tentu saja ini penting setidaknya bagi saya, untuk membuat saya yakin bahwa semua yang ditulis dalam buku tersebut dapat dipercaya. Dalam pada itu, yang membuat Istanbul dapat dipercaya, selain karena ia ditulis oleh seorang Istanbullus, tetapi juga ditulis oleh seorang Istanbullus yang tidak pernah tinggal di mana pun di luar Istanbul selama tidak kurang dari 50 tahun (kecuali saat Pamuk pernah dipaksa keluar dari Turki saat ia bicara tentang pembantaian massal suku Armenia oleh kekaisaran Ottoman; tapi ia balik lagi ke Turki). Sehingga, misalnya, meski bukan ditulis oleh seorang sejarawan, saya kira Istanbul dapat disejajarkan dengan buku-buku lain tentang sejarah Turki secara umum atau Istanbul secara khusus.

Selain memori personal dan melankoli sejarah, hal lain yang menarik dalam memoar Pamuk ini adalah bagaimana di suatu bagian ia bercerita tentang kehidupan orang-orang kelas atas Istanbul. Pamuk sendiri sebetulnya berasal dari keluarga kaya-raya (meski ia menyebut keluarganya sempat mengalami kebangkrutan, tapi sepertinya tak terlalu berpengaruh terhadap kehidupannya). Anehnya, Pamuk ternyata mengejek kebiasaan dan perilaku orang-orang kaya Istanbul. Pamuk mengacu pada para keluarga kaya-raya Istanbul yang lebih kaya dari keluarganya. Ia mengejek kegemaran orang-orang kaya Istanbul bergosip dan pamer harta-benda dengan bergaya mewah. Ia juga tidak suka melihat  bagaimana ibunya berusaha untuk masuk ke dalam lingkaran orang-orang kaya itu. Di titik ini saya teringat salah satu tokoh di novel Dengarlah Nyanyian Angin, Haruki Murakami, yang kerap menyatakan kebenciannya terhadap orang-orang kaya meski dirinya sendiri berasal dari keluarga kaya-raya.

Salah satu hal konyol yang Pamuk temukan pada orang-orang kaya Istanbul ini adalah bagaimana mereka berusaha untuk menjadi “modern”. Sejak keruntuhan kekaisaran Ottoman di masa lalu yang jauh, Mustafa Kemal Ataturk-founding father Republik Turki-membawa ide modernisasi ke hadapan rakyat Turki. Modernisasi ini dilakukan pertama-tama dengan melenyapkan apa-apa yang berasal dari “ketimuran” Ottoman: pakaian, rumah-rumah kayu, atribut-atribut lain yang menyimpan nuansa kekaisaran. Dari sana segala melankoli bermula. Sayangnya modernisasi ini, seperti dikatakan Pamuk, masih berkutat pada yang berada di kulit: pakaian, peralatan rumah tangga, industrialisasi, benda-benda.


Seorang reporter Inggris pernah bertanya kepada Pamuk di suatu wawancara apakah menurutnya modernisasi di Turki berhasil. Pamuk menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain: “Apa arti modernitas? Jika itu berarti pertumbuhan ekonomi dan industri, bisa jadi Turki sudah modern. Tapi jika modernitas berarti sekularisme, demokrasi, dan respek terhadap setiap individu, saya tidak yakin apakah Turki sudah modern atau belum.” Mendengar pernyataan Pamuk itu, saya kira apa yang ia gelisahkan tidak hanya relevan pada situasi terkini di Turki, melainkan juga negara-negara lain yang saat ini membanggakan modernitas tapi toh penduduknya masih saja selalu rusuh setiap menemui perbedaan. ***

9 Februari 2016

The Naïve and the Sentimental Novelist, Orhan Pamuk




Berangkat dari esei Friedrich Schiller (penyair, filsuf, dan sejarawan asal Jerman) berjudul, dalam bahasa Inggris, On Naïve and Sentimental Poetry, yang ditulis tahun 1795-1796, Orhan Pamuk menuliskan eseinya sendiri. Esei tersebut sebetulnya adalah materi kuliah umum yang ia sampaikan di Harvard University sekitar tahun 2010 (tak ada keterangan khusus soal ini sebetulnya, saya hanya menebak demikian karena seperti ditulis Pamuk dalam epilog bukunya, pada Oktober 2009 ia bertemu dengan seorang teman yang mengajaknya memberi kuliah di Harvard dan ia masih menggodok konsep materinya, jadi mungkin ia menyampaikan kuliah tersebut di tahun 2010). Materi kuliah umum Pamuk itu kemudian dibukukan dan terbit dengan judul mirip esei Schiller yang ia jadikan inspirasinya: The Naïve and the Sentimental Novelist (Vintage, 2010).

Saya belum membaca esei Schiller itu, tapi jika melihat apa yang disampaikan Pamuk lewat bukunya, barangkali kita bisa juga membayangkan isi esei Schiller kurang-lebih sama dengan milik Pamuk, hanya berbeda topik. Jika Pamuk bicara tentang novelis (dan di beberapa tempat ia juga bicara tentang membaca novel), maka Schiller bicara tentang puisi, atau seperti dijelaskan Pamuk, dapat dilihat sebagai esei panjang tentang karya seni secara umum. Catatan ini tentu saja tidak akan membahas esei Schiller. Tapi keterangan soal esei Schiller penting disampaikan, seperti Pamuk menyampaikannya, dalam rangka memperlihatkan bahwa satu karya seorang penulis dipengaruhi oleh karya penulis yang lain.

Jadi, mari kita mulai membicarakan buku nonfiksi Orhan Pamuk ini.

Secara umum, apa yang dibicarakan Pamuk terangkum oleh judul dan tagline bukunya: The Naïve and the Sentimental Novelist: Understanding What Happens When We Write and Read Novels (diterjemahkan dari bahasa Turki oleh Nazim Dikbas). Dalam bukunya yang termasuk tipis itu (tidak sampai 200 halaman) Pamuk berbicara cukup banyak tentang jenis-jenis penulis. Lebih tepatnya dua, yakni penulis yang naif dan yang sentimental. Selain itu, Pamuk juga berceloteh tentang apa saja yang ia alami ketika membaca novel. Saya kira ini yang membuat bukunya terasa lebih menyenangkan; ia tidak hanya menjelaskan bagaimana seorang penulis ketika menuliskan novelnya, tapi juga bagaimana pengalaman otentik seorang penulis ketika membaca buku.

Soal penulis yang naif dan yang sentimental, Pamuk menjelaskan lewat narasi yang sangat mengalir (setiap membaca tulisan Pamuk kita akan selalu merasa ia sedang bicara langsung kepada kita) bahwa yang pertama adalah penulis yang menuliskan novelnya dalam kondisi ekstatik, atau mabuk, sedang yang terakhir adalah yang menuliskan novelnya dengan kesadaran tinggi, ketelitian akut, dan bahkan kesediaan untuk merepotkan diri menulis sekaligus membaca referensi demi keabsahan dan kekuatan teks novelnya. Penulis naif adalah penulis yang membiarkan dirinya mengalir bersama inspirasi, goes with the flow, sedang penulis sentimental adalah penulis yang perlu menyiapkan semua hal sebelum menulis: bahan riset, sinopsis, kerangka novel, dan seterusnya (apakah di titik ini Anda mulai mengira-ngira jenis penulis yang manakah diri Anda?)

Selain memaparkan pengertian penulis naif dan penulis sentimental, seperti saya katakan tadi, Pamuk juga meletakkan definisi tersebut dalam konteks membaca novel (atau bisa juga buku pada umumnya). Ada pembaca yang naif, ada yang sentimental. Sedikit mengulang penjelasan di paragraf sebelum ini, pembaca naif adalah mereka yang membaca dengan perasaan tenggelam sepenuhnya, terbawa oleh arus plot, percakapan, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam buku; sedang pembaca sentimental adalah mereka yang, sembari membaca buku, terus meneliti, mencatat, menilai, serta membedah misalnya, bagaimana cara penulis menyusun dialog-dialog, merangkai plot, membuat pembuka dan penutup cerita, dan seterusnya. Secara singkat bisa dirangkum begini: penulis/pembaca yang naif adalah yang menulis/membaca dengan “mabuk”, sedang penulis/pembaca yang sentimental adalah yang menulis/membaca sembari menganalisis.

Di bagian-bagian lain, Pamuk juga bercerita tentang masa-masa mudanya saat ia melahap banyak novel, yang kelak jadi bahan bakar inspirasinya sendiri sebagai penulis. Selebihnya-- dan ini ditulis dengan cukup rinci, saya kira-- Pamuk tanpa ragu memaparkan bagaimana cara ia menuliskan novel-novelnya selama ini, secara teknis maupun konseptual. Pada bab “Literary Character, Plot, Time” ia menjelaskan bagaimana protagonis dalam novelnya muncul, terkait dengan tujuan penciptaan dan fungsi karakter itu sendiri, serta bagaimana karakter menjalani kehidupan menggunakan alur waktu tertentu yang telah diciptakan untuknya; bab “Words, Pictures, Objects” menjelaskan bagaimana novel ditulis dengan pendekatan visual dan dinikmati dengan cara serupa; bab “Museums and Novels” menjelaskan bagaimana novel dapat berfungsi seperti sebuah museum dalam hal mengabadikan objek-objek dan budaya dari suatu bangsa di kurun waktu zaman tertentu; dan terakhir bab “The Center” membongkar tentang apa itu pusat-inti novel dan bagaimana pentingnya seorang penulis menemukan atau menciptakan pusat-inti novelnya. Semua ini, saya kira, sangat menarik dibaca jika Anda sendiri adalah seorang penulis atau setidaknya ingin tahu bagaimana seorang penulis bekerja.

Dalam pemaparan mengenai elemen-elemen novel, untuk mendukung teorinya, Pamuk kerap menggunakan, sebagai contoh, karya dari penulis-penulis yang ia sukai: Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky, Gustave Flaubert, Homer, James Joyce, Miguel de Cervantes, Herman Melville, dan tidak luput pula Ahmed Hamdi Tanpinar, penulis Turki seperti dirinya. Berkali-kali ia mengutip bagian dari Anna Karenina, dan tidak kurang seringnya memuji betapa bagusnya novel tersebut. Ia juga menyebut The Brothers Karamazov, Ulysses, Moby-Dick, dan mengambil bagian yang relevan dari buku-buku itu untuk menjelaskan apa yang sedang ia bicarakan. Sehingga buku The Naïve and the Sentimental Novelist ini bisa juga dilihat sebagai rekomendasi bacaan dari Pamuk sendiri, dan sejujurnya bagian yang paling saya sukai dari buku ini adalah ya, ini. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendapat daftar bacaan dari penulis yang kita sukai. Karena tentu saja dari buku-buku yang direkomendasikan secara tidak langsung itu, kita dapat belajar lebih banyak hal lagi.

The Naïve and the Sentimental Novelist adalah buku nonfiksi Pamuk pertama yang saya baca. Saya sangat menikmatinya, dan meski secara format merupakan karya nonfiksi, Pamuk menuliskannya dengan cara bernarasi yang mirip novel. Jika kita memasang mode “sentimental” saat membaca bukunya ini, kita dapat melihat bahwa Pamuk benar-benar menyusun alur materi kuliah umumnya sebagaimana ia merancang plot sebuah novel: mulai dari pembuka yang umum, materi yang lebih kompleks, hingga ke penutup yang merangkum keseluruhan ide bukunya. Saya bahkan sempat menggumam, Pamuk sebetulnya tidak sedang menulis buku nonfiksi, melainkan novel. The Naïve and the Sentimental Novelist adalah novel yang disamarkan dengan label nonfiksi.


Saya termasuk yang tidak begitu percaya seorang penulis dapat seketika menjadi penulis yang baik hanya dengan membaca tips menulis dari orang lain, tapi saya ingin bilang bahwa buku Pamuk ini dapat jadi pegangan bagus bagi siapa saja yang mau belajar menulis novel. ***