31 Maret 2016

Serbuan Lelucon Gelap Kurt Vonnegut



Buku ini membuat saya terpingkal-pingkal hingga muntah, dua kali semburan.

Itu saja dulu yang penting untuk dikatakan tentang buku ini. Di samping hal-hal lain yang sebentar lagi akan saya uraikan.

Gempa Waktu (judul asli: Timequake) adalah novel, yang tidak terlihat layaknya novel, karena penulisnya Kurt Vonnegut hadir di dalam cerita sebagai narator dan menceritakan karakter utama di novelnya, yakni Kilgore Trout, yang mana merupakan alter egonya sendiri, dan dengan demikian memiliki profil mirip-mirip Kurt Vonnegut.

Kilgore Trout adalah penulis fiksi-ilmiah (seperti juga Kurt Vonnegut) yang sudah uzur dan bukunya tidak dicetak lagi. Gempa Waktu berisi kisah hidup Kilgore Trout, yang karena dituturkan oleh Kurt Vonnegut, menjadi seperti satu karya otobiografi parodi.

Premisnya menarik: Bagaimana jika suatu hari semua orang tiba-tiba terlempar ke sepuluh tahun yang lalu, dan mengulang lagi apa yang sudah mereka lakukan selama sepuluh tahun belakangan, tanpa perbedaan dan perubahan apapun? Itu yang, oleh Kilgore Trout, dinamai “gempa waktu” (jangan lupa ia adalah alter-ego Kurt Vonnegut, penulis novel ini, yang juga hadir dalam cerita sebagai narator). “Gempa waktu” membuat semua orang kehilangan kehendak bebas dan berada dalam kendali otomatis. Semacam déjà vu massal.

Seperti dikisahkan Vonnegut, “Gempa waktu” terjadi tahun 2001 dan membuat semua orang kembali ke tahun 1991. Vonnegut menceritakan apa yang terjadi sepanjang pemutaran ulang (kala “gempa waktu” berlangsung) maupun setelah pemutaran ulang selesai, tatkala kehendak bebas telah kembali dan orang-orang bisa menggerakkan dirinya sendiri untuk kali pertama usai terjadinya “gempa waktu”.

Konsep “gempa waktu” inilah yang kemudian menjadi landasan bagi seluruh lawakan Vonnegut. Ya, buku ini penuh dengan lawakan. Jika tidak bagaimana saya bisa ketawa sampai muntah-muntah, dua kali semburan? Bahkan Vonnegut membuat saya terbahak sejak bagian prolog novel ini, ketika ia membukanya dengan kalimat: “Pada 1951 Ernest Hemingway menulis sebuah cerita pendek yang panjang berjudul The Old Man and the Sea di majalah Life.”

The Old Man and the Sea, sebuah cerita pendek yang panjang!

Ya, salah satu dari banyak bahan lawakan Vonnegut adalah penulis-penulis yang sudah dikenal dunia. Ernest Hemingway, TS Eliot, Günter Grass, Ray Bradbury, J. D. Salinger. Tidak dalam pengertian melecehkan mereka, tentu, tapi menyisipkan nama-nama tersebut dalam rangkaian lawakannya, bisa di posisi set up bisa juga sebagai punchline. Ya, selain sebagai karya novel, saya memandang Gempa Waktu juga sebagai panggung melawak berdiri (nggak enak banget ya terjemahannya) atau stand-up comedy Kurt Vonnegut. Dan percayalah, ia sangat, sangat lucu.

Ingat bahwa saya tertawa hingga muntah ketika membaca buku ini.

Dua kali semburan.


*

Kurt Vonnegut menulis humor gelap, tentang banyak hal, terutama dalam novel Gempa Waktu adalah perihal perang (tidak terutama, sih, tapi ia menekankan hal ini karena membahasnya dalam porsi cukup banyak). Pada salah satu bab (total di bukunya ada 63 bab yang panjangnya pendek-pendek) ia membuat lelucon tentang pesawat pembom pada peristiwa Perang Dunia Kedua yang tak jadi menjatuhkan bomnya dan kembali ke pangkalan, membuat orang-orang melompat keluar jendela dan sebagian terkencing-kencing di celana. Peristiwa menggemparkan itu diangkat ke pengadilan militer. Semua orang terpingkal-pingkal tatkala mendengar apa yang terjadi dan hakim ketua memukulkan palunya dan mengatakan bahwa pengadilan tersebut “bukan bahan tertawaan”. Kilgore Trout lah, seperti dituturkan oleh Kurt Vonnegut sebagai narator, yang menulis cerita ini.

Jadi secara teknis, Gempa Waktu adalah Kurt Vonnegut menceritakan apa yang ditulis oleh Kilgore Trout, selain di sana-sini ia juga menyisipkan cerita dirinya sendiri (yang kelihatannya benar-benar terjadi di dunia nyata, itu sebabnya saya menyebut buku ini sebagai otobiografi parodi).

Bab yang paling bikin saya ngakak sampai mau mampus adalah ketika Vonnegut sebagai narator menceritakan tentang kebiasaan Kilgore Trout mengeluarkan respons unik, yakni kalimat “Ting-a-ling” setiap kali ada orang yang menyapanya dengan berbasa-basi. Vonnegut bertanya kepada Trout dari mana asal kalimat itu, “Ting-a-ling”? Trout menjawab: Kala ia terlibat dalam perang, ketika suatu rentetan tembakan artileri yang ia kehendaki mendarat tepat di sasaran, ia mengucapkan itu, “Ting-a-ling! Ting-a-ling!” Sebenarnya Vonnegut sudah puas dengan jawabannya, tapi Trout kemudian bertanya kepadanya apakah ia benar-benar ingin tahu asal-usul “Ting-a-ling”? Trout lalu bercerita satu kisah yang bikin saya ngakak sampai mau mampus, tapi tidak jadi karena saya masih mencintai kehidupan dan akhirnya hanya muntah-muntah dua kali semburan.

Bagaimanakah cerita asal-usul “Ting-a-Ling” itu, silakan baca sendiri bukunya.

Vonnegut, sekali lagi melalui Kilgore Trout, juga membuat lelucon yang sangat lucu tentang Hitler, beserta anak, istri, dan pasukannya. Bagian favorit saya dari buku menyenangkan setebal 250 halaman ini adalah kapanpun Vonnegut, melalui Trout maupun dirinya sendiri, membuat lelucon atas seni, atau lebih tepatnya atas para kritikus seni. Sinismenya terhadap kemuliaan manusia, juga poin lebih mula-mula dari hal itu yakni penciptaan manusia, membuat orang-orang (atau mungkin saya sendiri) merasa diri mereka (atau saya sendiri) yang terlalu serius memikirkan misi mulia menjadi manusia tiba-tiba merasa konyol.

Selalu menyenangkan melihat seorang jenius, dengan caranya yang unik dan tak terduga, membuat orang-orang serius di sekitarnya tampak konyol.

Kalau ini bukan hal yang menyenangkan, lalu apa?


*


Lelucon Vonnegut satir dan sikapnya terhadap beberapa hal di dunia begitu sinis, misalnya dalam memandang perkembangan zaman dan perilaku manusia modern. Tetapi dalam beberapa hal lain ia juga terlihat positif, seperti tatkala ia membicarakan pentingnya kehadiran cinta dan keluarga besar bagi manusia. Menurutnya, ada banyak masalah dan tragedi yang dapat dibatalkan, seandainya setiap orang memiliki satu atau sekaligus dua kemewahan hidup tersebut: cinta dan keluarga besar.

Sebagai tambahan yang mungkin cukup penting, buku ini diterjemahkan dengan baik. Saya dapat merasakan lelucon penulisnya tanpa mengernyit akibat kalimat-kalimat ganjil yang meleset dari bahasa aslinya. Tentu saya hanya bisa yakin ada kalimat meleset jika sudah membaca versi aslinya, tapi kita bisa kok menemukan kalimat ngaco hanya dengan mengandalkan feeling. Nah, di buku ini tak ada hal semacam itu. Buku-buku terjemahan berbahasa Indonesia, seperti buku-buku terjemahan dalam bahasa lain, dapat dinikmati salah satunya karena terjemahan yang bagus. Gempa Waktu ini diterjemahkan dengan bagus.

Selain itu, kalau kau senang menulis, kau dapat belajar banyak tentang membuat metafora yang segar dan lebih-lebih lagi, kocak, lewat novel ini. Saya tak akan memberi contohnya dalam tulisan ini, tapi mungkin saya akan membahasnya di tulisan lain.

Terakhir. Saya menyebut kegiatan membaca buku ini sebagai “usaha bunuh diri yang bisa berhasil jika kau nekat membacanya hingga dua kali atau lebih”. Dan mengingat bahwa saya terpingkal-pingkal hingga muntah, dua kali semburan, saat membaca buku ini, kelihatannya “tertawa sampai mati” bukanlah sekadar slogan atau efek dari racun anggrek hantu dalam dongeng Raden Mandasia.


TING-A-LING!


Ulasan ini dimuat harian Jawa Pos dalam versi yang telah disunting.

27 Maret 2016

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, Yusi Avianto Pareanom





Kisah-kisah petualangan atau pengembaraan hampir tak pernah gagal menarik minat setiap orang, karena pada dasarnya manusia menyukai cerita-cerita, dan cerita yang paling menyenangkan adalah cerita-cerita tentang petualangan atau pengembaraan. Karena di dalamnya sudah barang tentu tersaji seluruh hal yang patut dimiliki oleh sebuah cerita yang bagus: peristiwa-peristiwa menegangkan, ketidakpastian situasi yang menerbitkan rasa penasaran, kekacauan, karakter-karakter unik dengan misi yang bisa saling berbentrokan, kejutan di sana-sini, dan pergolakan emosi setiap tokoh-tokohnya.

Itulah persisnya yang ditawarkan oleh Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, novel perdana Yusi Avianto Pareanom. Sejauh ini, Yusi lebih dikenal sebagai penulis cerita pendek. Cerita-ceritanya cerkas dan penuh kelucuan. Kebanyakan mengambil bentuk tutur seperti sebuah dongeng. Beberapa di antaranya dapat dibaca dalam kumpulan cerita Rumah Kopi Singa Tertawa, buku Yusi yang terbit lima tahun sebelum novel pertamanya. Novelnya, tak lain dan tak bukan adalah perpanjangan dari beberapa cerita di dalam kumpulan itu, jika tidak merupakan induknya.

Pencerita utama atau narator dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah seorang pemuda bernama Sungu Lembu. Ia tangkas karena dibekali ilmu bela diri oleh pamannya, Banyak Wetan, yang adalah seorang perwira. Ia juga pintar dan berwawasan karena ilmu pengetahuan yang ia dapat dari buku-buku milik ayahnya, Lembu Kuning, yang merupakan pejabat pemerintahan di istana sebuah kerajaan kecil di suatu kawasan pesisir bernama Banjaran Waru. Kehidupan Sungu Lembu baik-baik saja sampai suatu tragedi meluluhlantakkan dirinya. Sekelompok prajurit Gilingwesi, kerajaan besar yang telah berkuasa atas wilayah Banjaran Waru, membuat kekacauan di desanya.

Dalam tragedi tersebut, Banyak Wetan ditangkap. Karena ia dianggap terlibat dalam persekongkolan kelompok pemberontak Banjaran Waru yang menyimpan amarah pada kekuasaan Gilingwesi, ia terancam hukuman pancung. Meski demikian, untuk beberapa alasan, hukuman tersebut baru akan dilaksanakan setahun kemudian. Sungu Lembu, menjadi saksi hidup tragedi yang mengubah hidupnya itu, bertekad untuk melakukan apapun demi membebaskan pamannya. Ia memulai perjalanannya dan pada suatu hari bertemu dengan Raden Mandasia, salah seorang pangeran Gilingwesi. Dari sana ia mendapat kesempatan untuk membayarkan dendamnya terhadap Gilingwesi. Menggunakan Raden Mandasia, ia akan mengincar kepala Watugunung, raja Gilingwesi.

Sayang sekali rencana Sungu Lembu tak berjalan semulus yang ia kira. Ia masih muda, baru berusia dua puluh tahun, sebab itu amarahnya lebih besar dan lebih hebat dari kemampuannya menyusun rencana yang matang. Dalam perjalanan bersama Raden Mandasia, kejadian-kejadian tak terkira mengambil tempat dan membelokkan takdir hidupnya. Salah satu perkara unik yang membuat nasibnya makin tak bisa ditebak adalah hobi aneh sang pangeran Raden Mandasia, yakni mencuri daging sapi. Hobi ganjil ini membawa Sungu Lembu kepada serangkaian kesialan, yang jika dilihat dari arah lain bisa jadi mungkin juga keberuntungan,  karena pada akhirnya ia mendapat kesempatan untuk membalaskan dendamnya.

Seperti ditulis di sampul bukunya, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah sebuah dongeng. Penuh fantasi dan peristiwa-peristiwa yang dikarang, tapi karena peristiwa-peristiwa tersebut terasa begitu nyata, mungkin saja semua sungguh-sungguh terjadi. Tokoh-tokohnya selain tokoh utama pun sangat unik, seperti Nyai Manggis pemilik rumah judi yang amat cantik namun tak seorang pun berani menyentuhnya karena auranya, atau Putri Tabassum yang keelokan parasnya membuat lingkungan kerajaan kosong dari cermin-cermin, sebab cermin-cermin itu bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya. Sebagaimana dongeng yang kita dengar sewaktu kecil tentang Si Kancil atau Timun Mas, karakter-karakter beserta kejadian di Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi mungkin hanya karangan, atau bualan, tapi saking bagusnya bualan itu, kita berharap bualan tersebut benar-benar terjadi.

Di samping kisah pengembaraan Sungu Lembu bersama Raden Mandasia yang di dalamnya dipenuhi peristiwa-peristiwa seru, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi juga merupakan serangkaian kisah penaklukan. Kerajaan besar Gilingwesi, misalnya, yang bermula dari kesaktian seorang pendekar bernama Watugunung, sebelumnya sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan. Kerajaan itu keropos karena pejabatnya hanya senang memperkaya diri. Watugunung yang tadinya diminta membantu Medang Kamulan, berbalik menyerang kerajaan tersebut karena suatu pengkhianatan kecil. Di bawah kekuasaan Watugunung, Medang Kamulan berubah jadi Gilingwesi. Kekuasaan, seperti kita tahu, tak pernah kenal kata cukup. Gilingwesi kemudian menaklukkan hampir seluruh kerajaan kecil di wilayah sekitarnya, termasuk Banjaran Waru, tempat Sungu Lembu, si narator cerita, tinggal.

Sebagian besar kisah Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi dibangun melalui narasi, sebagaimana dongeng dikisahkan. Meski demikian, tak absen pula dialog-dialog jenaka yang bikin perut terkocok dan ketawa ngakak. Umpatan-umpatan semacam “…simbahmu koprol” atau “sarapan dengkulmu meleset” beserta banyak variannya bertebaran di sepanjang cerita, bikin tertawa tak bisa habis. Deskripsi tentang beragam masakan di dalamnya, misalnya daging sapi yang dibakar usai dicuri, membuat air liur berlinang. Berlimpah pula kosakata yang jarang ditemui, menunjukkan usaha penulisnya berkelit dari diksi yang klise dan basi. Bahkan si penulis memunculkan frasa-frasa seperti “sepenanakan nasi” sebagai ukuran satuan waktu dan “lima ratus tombak” sebagai cara mengukur jarak. Walau asing, frasa tersebut tak terlihat aneh karena memang sesuai dengan konteks cerita.

Jika ada yang mengurangi kenikmatan membaca, itu adalah bagian penghujung cerita yang tampak terlalu lekas dituntaskan. Padahal ada peristiwa besar di sana, yakni perang antara dua kerajaan besar di dua sudut dunia yang berjauhan, Gilingwesi dan Gerbang Agung, yang kemudian menjadi titik puncak usaha pembalasan dendam si tokoh utama. Adegan-adegan perang, meski dilukiskan cukup rinci, terasa kurang menggugah imajinasi karena kebanyakan dituturkan dengan cara telling, bukan showing, sebagaimana sebagian besar isi Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi diceritakan.

Bagaimanapun, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah kabar baik bagi setiap penikmat cerita. Ia mengembalikan satu kebahagiaan yang senantiasa digemari manusia: kenikmatan menyimak cerita. Rasa-rasanya siapapun dapat menyelesaikan membaca buku ini dalam sehari atau paling lama tiga malam. Sebab sebagaimana dongeng-dongeng sewaktu kecil membuat kita tenggelam dalam arus dan alur kisahnya, petualangan dua pemuda penuh kegelisahan Sungu Lembu dan Raden Mandasia juga niscaya menyeret kita dalam keseruan aksi mereka menghadapi musibah, menyaksikan hal-hal menakjubkan, dan menghayati perjalanan panjang bernama kehidupan. ***


O, Eka Kurniawan



Di suatu hutan di sudut Rawa Kalong, tempat satu koloni monyet hidup tentram, seekor betina bernama O ingin menikah dengan kekasihnya, pejantan bernama Entang Kosasih. Janji telah diikrarkan. Bulan baik pun telah ditetapkan. O berbahagia membayangkan ia dan kekasihnya itu akan segera menikah. Tetapi semuanya berubah ketika Entang Kosasih, monyet jantan yang keras kepala dan senantiasa dipenuhi mimpi-mimpi itu, pada suatu hari menyampaikan keinginan luhurnya kepada O: ia ingin menjadi seorang manusia.

Keinginan Entang Kosasih menjadi manusia muncul setelah berulang kali ia, bersama monyet-monyet muda lain, mendengar dongeng dari para monyet tua tentang seekor monyet legendaris bernama Armo Gundul. Diceritakan bahwa Armo Gundul adalah satu dari sedikit monyet yang berhasil menjadi manusia. Entang Kosasih tersihir oleh gagasan tersebut. Semenjak itu, tujuan hidupnya hanya satu, yaitu menjadi manusia. O dibuat gusar olehnya, karena itu berarti ia harus bersiap rencana pernikahan mereka terhadang oleh beragam masalah. Sebabnya tentu saja karena O tahu, seperti monyet-monyet lain juga tahu, seperti Entang Kosasih juga tahu, bahwa “Enggak gampang jadi manusia.”

Cerita semi-fabel dalam novel terbaru Eka Kurniawan, O, dimulai dengan ide itu. Saya menyebutnya semi-fabel sebab tak begitu tepat jika menyebutnya fabel. Dalam pengertian yang sederhana, fabel adalah cerita tentang sekumpulan hewan yang diberi kualitas selayaknya manusia, dan jikapun di dalamnya hadir tokoh-tokoh manusia, mereka hanya akan tampil sebagai minoritas. Sedangkan tidak demikian yang terjadi di dalam novel O. Meski cerita dimulai oleh narasi seekor monyet, dan seiring perjalanannya muncul beragam jenis hewan, mulai dari anjing, burung kakatua, tikus, sampai babi, tetap di dalam O ada banyak tokoh manusia, dan mereka tidak hadir sebagai minoritas melainkan sparring partner yang setara bagi tokoh-tokoh binatang.

Binatang dan manusia di dalam O tidak hadir sebagai dua spesies yang hidup di dunia berbeda. Meski masing-masing dari mereka memiliki motivasi dan masa lalu yang unik, jalan hidup bahkan masa depan mereka berkelindan, saling mempengaruhi pada level yang tidak main-main.

Pacar O, si pejantan Entang Kosasih, misalnya, keinginan teguhnya ingin menjadi manusia suatu hari bersilangan dengan Sobar, polisi baik yang dipindahtugaskan ke Rawa Kalong setelah menembak pacar seorang preman. Pertemuan Entang Kosasih dengan Sobar menjadi titik awal yang penting bagi perjalanan Entang Kosasih menjadi manusia, sebab pertemuan itu dihiasi tragedi. Entang Kosasih merebut revolver milik Sobar dan dengan benda itu ia membunuh beberapa ekor monyet dari koloninya sendiri, serta seorang manusia. “Jika kau ingin menjadi manusia,” kata Entang Kosasih kepada O, “kau harus tahu bagaimana mereka membunuh. Sebab dengan cara itu kau mengerti bagaimana mereka bertahan hidup.

Perjalanan Entang Kosasih memenuhi impiannya menjadi manusia mau tak mau membuat O tak bisa tinggal diam. Lama-lama ia hanya melihat kegilaan di dalam kepala kekasihnya itu, alih-alih pancaran semangat dan renjana seekor monyet yang dipenuhi mimpi-mimpi dan keyakinan. “Bukan cinta yang membuat kita buta, tapi keyakinan.” Kalimat itu membuat O mulai meragukan cintanya kepada Entang Kosasih dan sebaliknya. Ia melihat Entang Kosasih telah dibutakan oleh keyakinannya sendiri. Kebutaan itu pun pada akhirnya berujung tragedi lain. Entang Kosasih tertembak, tepat di kepala. Namun, bangkainya tak ditemukan.

Raibnya Entang Kosasih ternyata membuat O meyakini bahwa Entang Kosasih telah mencapai apa yang ia impikan. Kekasihnya itu sudah menjadi manusia. Kini giliran O yang menyusul kekasihnya. Ia enggan melakukan cara-cara yang dilakukan Entang Kosasih, karena cara-cara tersebut tak menghasilkan apapun selain tragedi. O akan menjalankan usahanya menjadi manusia menggunakan cara yang dilakukan monyet legendaris Armo Gundul di masa lampau. O akan bergabung dengan sirkus topeng monyet. Ia akan belajar bagaimana caranya menjadi manusia dengan menjadi topeng monyet.

Demikianlah perjalanan O dimulai. Ia belajar menghayati hidup manusia melalui beragam perannya sebagai topeng monyet.

*

Dalam novel O, binatang ingin menjadi manusia dan manusia ingin menjadi binatang. Tetapi sebagaimana semua cerita, meski ia berkisah tentang binatang, tumbuhan, maupun benda-benda mati, sebetulnya tetap bercerita tentang manusia. Dan kita dapat melihat bahwa O adalah cerita tentang apa artinya menjadi insan manusia. Apa itu manusia dan bagaimana seharusnya manusia? Melalui narasi kehidupan (dan kematian) dari sudut pandang para binatang, Eka Kurniawan mencoba menjawab pertanyaan mendasar: Apa, sih, artinya menjadi seorang manusia? Sekumpulan binatang pun hadir ke dalam cerita dengan cara-cara alamiah, tanpa dipaksakan, untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Jawaban-jawaban yang ditawarkan Eka Kurniawan kebanyakan adalah jawaban-jawaban yang pahit, tetapi tak dapat disangkal kenyataannya. Menjadi manusia berarti mengetahui kapasitas manusia membunuh sesamanya; menjadi manusia berarti bersiap menghadapi impian yang senantiasa ditertawai nasib buruk dan dihancurkan oleh keadaan; menjadi manusia berarti menindas manusia lain yang lebih lemah; menjadi manusia berarti hidup selamanya dalam dua pilihan, memakan atau dimakan. Sedih tetapi begitulah adanya.

Namun, berdampingan dengan kepahitan itu, ternyata masih ada pula hal-hal baik dari menjadi manusia. Selain membunuh, menindas, menipu, merampok, dan menyiksa, menjadi manusia juga berarti menjadi makhluk yang merasakan salah satu, jika tidak satu-satunya, anugerah terbesar Tuhan, yakni cinta. Menjadi manusia berarti merasakan indahnya jatuh cinta. Tentu saja seperti hal lain dalam hidup ini, cinta pun tak selamanya indah. Menjadi manusia berarti siap mengalami manisnya jatuh cinta, beserta kepahitannya.

O adalah serangkaian kisah cinta. Hampir seluruh tokoh di dalamnya, baik binatang maupun manusia, bergerak karena dimotivasi oleh cinta. Mereka melakukan hal-hal besar dalam hidupnya didorong oleh rasa cinta pada kekasih mereka. Kisah cinta O dengan Entang Kosasih hanya satu dari banyak kisah cinta di dalam O. Ada kisah cinta tikus pembaca tanda-tanda bernama Manikmaya dan kekasihnya, tikus pejantan Todak Merah, yang juga berakhir tragis. Betalumur, si pawang topeng monyet yang menjadi majikan O, juga memiliki kisah cintanya sendiri dengan seorang gadis misterius di tengah hutan.


Narasi Eka Kurniawan dalam O sangat lincah dan bergegas, berpindah dari satu adegan ke adegan di tempat lain. Satu cerita menelurkan cerita lain dan begitu seterusnya sehingga O menjadi kisah multi-plot, meski di titik-titik tertentu bagian cerita yang telah lewat akan hadir kembali sehingga membentuk satu plot utuh tanpa lubang. Seluruh karakternya memiliki masa lalu yang kelam dan kehidupan yang tak mudah, penuh ancaman dan bahaya. Hal ini berlaku bagi tokoh binatang maupun manusia. Oleh karena itu, ketika selesai membaca novel ini, kita boleh menyimpulkan bahwa binatang dan manusia, pada satu titik melalui keadaan-keadaan yang memaksa mereka menunjukkan sifat-sifat mendasar dan alaminya, sesungguhnya tak lagi benar-benar bisa dibedakan satu sama lain. Dalam banyak situasi, binatang adalah manusia, sebagaimana manusia adalah binatang. ***