31 Mei 2016

Piramid, Ismaïl Kadaré



Kali terakhir saya membaca buku dengan latar Mesir adalah novela Naguib Mahfouz, The Thief and the Dogs. Ceritanya tentang seorang mantan narapidana yang ingin memperbaiki hidup setelah bebas dari penjara, tetapi menemukan dirinya dikhianati oleh semua orang yang ia cintai. Kendatipun bergenre thriller, novela itu sangat puitis. Tidak seperti novel-novel dengan elemen suspense yang umumnya dituturkan dengan kalimat pendek-pendek demi membangun aura tegang, Naguib Mahfouz malah terlihat seperti berpuisi di dalam novelanya. Saya kira itu semata pilihan gaya menulis yang ia ambil, tapi begitu membaca Piramid, novel Ismaïl Kadaré, yang juga berlatarkan Mesir, saya melihat gaya narasi yang sama.

Ismaïl Kadaré adalah novelis dan penyair Albania. Tatkala mengetahui bahwa ia juga seorang penyair, saya baru mengerti mengapa narasi dalam Piramid terasa puitis (Naguib Mahfouz tidak dikenal sebagai penyair-karyanya kebanyakan prosa-tapi caranya menulis seperti berpuisi). Kadaré, sebagaimana Mahfouz, sepanjang karir mereka sebagai penulis sempat terganjal masalah dengan pemerintah atau kelompok di tempat tinggalnya. Mahfouz diteror kelompok Islam ekstremis di Mesir tahun 1994 karena salah satu novelnya yang dianggap kontroversial. Kadaré terpaksa menyelundupkan manuskrip novelnya keluar negeri karena tekanan dan penindasan rezim totaliter Enver Hoxha, pemimpin komunis Albania tahun 1944 hingga 1985.

Piramid, terjemahan dari bahasa Prancis La pyramide-ditulis Kadaré semula menggunakan bahasa Albania berjudul Pluhuri mbretëror -merupakan salah satu karyanya yang menginspirasi usaha penumbangan rezim totaliter Albania. Karena Kadaré senantiasa menulis novel-novelnya dalam bahasa Albania murni tanpa menyelipkan bahasa asing, ia dianggap sebagai pembaharu sastra Albania. Kesetiaan pada bahasa nasionalnya ini merupakan sesuatu yang unik dan dihargai atas dampaknya pada kelestarian bahasa Albania. Kendati demikian, Piramid diselesaikan dalam bahasa Prancis (sedikit mengingatkan saya pada Milan Kundera yang berhenti menulis dalam bahasa Ceko setelah eksil ke Prancis karena masalah dengan pemerintahnya, sejak itu mengalihbahasakan seluruh karyanya ke bahasa Prancis dan mulai menulis dalam bahasa Prancis). Saya sendiri membaca Piramid versi bahasa Indonesia, yang diterjemahkan amat baik oleh Dwi Pranoto.

Secara ringkas, Piramid bercerita tentang seorang firaun yang memerintahkan rakyatnya untuk membangun sebuah piramida bagi dirinya, sebagaimana tradisi Mesir yang telah tertoreh di gulungan-gulungan papirus seolah suratan takdir. Cheops, firaun baru dan masih muda, sebelumnya sempat membuat seluruh jajaran anak buahnya gempar, karena mengeluarkan pernyataan tak layak dan mencemaskan: ia tidak ingin dibuatkan piramida. Celetukan itu merupakan “…berita malapetaka” bagi para penghuni istana. Menurut mereka, firaun baru ini kelewat nyeleneh. Mana ada firaun yang tak mau memiliki piramida? Namun, setelah usaha demi usaha membujuk Cheops, firaun muda itu, akhirnya para penghuni istana berhasil meyakinkan pemimpin mereka bahwa bagaimanapun piramida dibutuhkan, bukan hanya bagi sang firaun, tetapi juga demi rakyat dan bahkan Mesir itu sendiri.

Bab-bab berikutnya adalah proses pembangunan piramida baru bagi sang firaun baru-ini merupakan sebagian besar isi novel Piramid. Kadaré menunjukkan bagaimana pembangunan sebuah piramida betul-betul sesuatu yang krusial bagi Mesir. Bagi firaun, penghuni istana, rakyat Mesir, dan bahkan negara-negara lain yang bertetangga dengan Mesir, pembangunan piramida adalah momen penting layaknya pernikahan pangeran kerajaan atau barangkali bencana nasional. Tahapan-tahapan pembangunan piramid dideskripsikan begitu rinci dan visual, sehingga tatkala membaca novel ini, saya merasa seperti sedang menonton film 10.000 BC.

Keseluruhan cerita dalam Piramid dituturkan secara kronologis, ini berarti tidak ada permainan alur maju-mundur maupun kilas balik. Agak berbeda dengan The Thief and the Dogs Naguib Mahfouz yang terdiri atas serentetan peristiwa, yang karena itu penuh adegan dan dialog, Piramid Kadaré sangat naratif, selayaknya tradisi mendongeng oral zaman dulu. Dialog sangat sedikit dan hanya muncul di bagian-bagian yang memerlukannya. Sisanya, kita mengetahui apa yang terjadi melalui narasi yang, seperti saya katakan tadi, kadang-kadang terasa mengalun dan puitis.

Piramid adalah cerita tentang usaha pemerintah melanggengkan kekuasaannya atas rakyat yang juga rada-rada masokis. Bagaimana tidak, pada saat firaun dan penghuni istana mengumumkan piramida akan mulai dibangun, seluruh rakyat di penjuru Mesir bersorak dan bergembira ria seakan-akan bakal memperoleh rezeki berlimpah, padahal yang terjadi sebaliknya, mereka sedang diseret masuk ke dalam penjara abadi penyiksaan. Penyiksaan ini diperlukan, kata penasihat, demi membangkitkan rasa hormat rakyat pada penguasa, menyegarkan kembali wibawa negara, dan yang paling luar biasa adalah: supaya rakyat tidak hidup bermalas-malasan. Penyiksaan kerja rodi membangun piramida, yang kelak memakan korban jiwa tak terhitung, bertujuan agar rakyat rajin berkegiatan dan produktif!

Rencana besar membangun sebuah piramida tidak terletak pada piramida itu sendiri, melainkan proses pembangunannya. Di sanalah terkandung trik penting dan nilai krusialnya. Piramida hanya akan selesai jika firaun menginginkannya. Jika piramida sudah hampir mencapai puncak, firaun dapat mengubah pikiran dan memerintahkan pembongkaran dan membangun dari awal, atau jika sudah kadung rampung, firaun akan memerintahkan untuk membuat piramida anak atau piramida pendamping, yang kendatipun umumnya berukuran lebih kecil, bisa berjumlah sebanyak yang diinginkan-semuanya sesuka-suka pemimpin. Kerja paksa penuh kesengsaraan itu akan terus berlangsung sejauh dibutuhkan, demi-seperti dinasihatkan para penghuni istana kepada Cheops sang firaun muda-membangkitkan moral, rasa hormat bahkan rasa takut, dan etos kerja rakyat Mesir demi negara dan pemimpinnya.

Tetapi, sebagaimana pada awalnya telah membuat Cheops cemas, pembangunan piramid inipun kelak betul-betul menjadi sebuah paradoks. Ia bingung apakah harus melecut rakyatnya bekerja keras agar piramida cepat rampung seperti tujuan semula yakni demi memacu etos kerja rakyat Mesir, tetapi mengingat bahwa piramida adalah makam bagi firaun, itu membuatnya curiga berat karena berarti orang-orang mengharapkan dirinya cepat mati. Demikian pula jikalau ia membiarkan proses pembangunan piramida berjalan lamban itu menunjukkan wibawanya sebagai firaun mulai pudar dan tidak dianggap, belum lagi kritik dari negara-negara tetangga yang bertanya-tanya kapan piramida selesai, bahkan menuduh bahwa piramida itu hanya omong-kosong Mesir beserta firaunnya. Cheops terjebak dalam usaha melanggengkan kekuasaan yang ia mulai sendiri.

Secara jitu, novel Piramid memperlihatkan bagaimana pemerintah selalu punya cara untuk melanggengkan kekuasaan, bahkan dengan metode-metode yang tak selalu disadari oleh rakyatnya. Kita boleh lebih kritis di masa sekarang ini, tidak seperti zaman rakyat Mesir di bawah pimpinan seorang firaun, tetapi metode hanyalah metode yang senantiasa bisa dimodifikasi. Kalau tidak secara terang-terangan, ya pakai cara halus dan terselubung. Satu-satunya cara agar tidak terperangkap oleh tentakel-tentakel negara yang tidak pernah berhenti mencoba mengontrol habis rakyatnya, adalah dengan merawat kesadaran, berpikir kritis, dan menajamkan nurani.


Dengan isu yang diangkat, penuturan yang mengalir, deskripsi peristiwa yang filmis, serta kompleksitas situasi yang terdapat di dalamnya, novel Piramid karya Ismaïl Kadaré masuk dalam daftar novel terbaik dunia yang pernah saya baca. ***

22 Mei 2016

Persoalan Sementara (Jhumpa Lahiri)

Diterjemahkan dari buku Interpreter of Maladies  (Mariner, 1999)

-

Surat pemberitahuan bilang ini cuma persoalan sementara: selama lima hari ke depan akan ada pemadaman listrik di tempat mereka, mulai pukul delapan malam dan berlangsung selama satu jam. Satu jalur listrik rusak akibat badai salju terakhir, dan demi memperbaikinya teknisi menggunakan saat-saat malam hari yang cuacanya relatif lebih aman. Pekerjaan perbaikan itu hanya akan berdampak pada rumah-rumah di jalanan yang sunyi dengan barisan pohon di pinggir-pinggir, dekat dengan sederet ruko berdindingkan bata dan tempat troli, yang salah satunya ditinggali oleh Shoba dan Shukumar selama tiga tahun terakhir.

“Baik sekali mereka mau memberitahu kita,” Shoba berucap pasrah usai membaca pengumuman itu keras-keras, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri alih-alih terhadap Shukumar. Ia menggeser tali tas kecilnya, yang penuh naskah, hingga terlolos dari pundak, dan membiarkannya tergeletak di lantai dekat pintu masuk rumah seiring ia melangkah ke dapur. Ia mengenakan mantel biru dongker, celana panjang katun abu-abu, dan sepatu kets putih-terlihat selayaknya perempuan 33 tahun yang pada masanya tidak pernah ingin ia jadikan teladan.

Ia baru pulang dari gym. Warna cranberry lipstiknya hanya terlihat pada bibir bagian luar dan bekas eyeliner tertinggal seperti jejak bubuk arang dekat bulu mata bawah. Di waktu-waktu tertentu ia memang jadi seperti ini, pikir Shukumar, kala pagi hari usai pesta atau nongkrong di bar, kala ia terlalu malas membasuh wajahnya dan terlalu ingin cepat-cepat jatuh ke dalam dekapan suaminya. Shoba menjatuhkan setumpuk surat begitu saja di atas meja tanpa menoleh. Matanya masih terpaku pada lembar pengumuman di tangan satunya lagi. “Tapi mestinya mereka ngerjain ini siang-siang.”

“Pas aku lagi di rumah, maksudmu,” kata Shukumar. Ia menggeser penutup kaca di atas panci berisi masakan daging domba, mengaturnya agar sedikit uap yang lolos. Sejak Januari ia bekerja di rumah, berusaha merampungkan bab akhir disertasinya soal pemberontakan agraris di India. “Kapan perbaikannya kelar?”

“Katanya sembilan belas Maret. Hari ini sembilan belas Maret, bukan?” Shoba mendekat ke papan styrofoam pada dinding di sebelah kulkas, yang di sana terdapat kalender bermotif artistik buatan William Morris. Ia menatapnya seakan-akan baru melihat benda itu, menyimak dengan serius motif pada separuh halaman kalender bagian atas, sebelum beralih ke baris dan kolom angka di bawahnya. Seorang teman memberi kalender tersebut sebagai hadiah Natal, kendatipun Shoba dan Shukumar tidak merayakannya.

“Kalau gitu, hari ini dong,” ujar Shoba. “Omong-omong, kamu ada janji sama dokter gigi Jum’at depan.”

Ia meraba giginya menggunakan lidah; pagi itu ia lupa menggosok gigi. Bukan hal baru. Seharian ia tidak keluar rumah, begitupun hari sebelumnya. Semakin lama Shoba berada di luar, semakin banyak pekerjaan yang istrinya lakukan, semakin ia ingin tinggal di rumah saja, tidak pergi bahkan hanya untuk mengecek isi kotak surat ataupun berbelanja buah atau anggur.

Enam bulan lalu, tepatnya September, Shukumar sedang menghadiri konferensi akademis di Baltimore tatkala Shoba berkantor-tiga minggu sebelum tenggat kelahiran bayi mereka. Ia enggan pergi ke konferensi tersebut, tapi istrinya memaksa; perhelatan itu penting baginya dalam membangun jaringan relasi, dan tahun depan ia akan mulai memasuki dunia kerja. Istrinya bilang ia sudah menyimpan nomor telepon hotelnya, dan salinan jadwal kegiatannya, dan nomor penerbangannya, dan ia sudah membuat janji dengan temannya Gillian agar di saat-saat darurat dapat mengantarnya ke rumah sakit. Tatkala pagi itu taksi menjemputnya untuk ke bandara, Shoba berdiri melambai kepadanya, dalam gaun terusan, dengan sebelah tangan ia letakkan santai di atas perut membuncit seolah-olah gundukan tersebut memang bagian tubuh yang sudah ada sejak awal.

Setiap kali ia memikirkan adegan itu, momen kali terakhir ia menyaksikan Shoba hamil, justru taksi yang menjemputnya yang paling ia ingat, sebuah station wagon-sedan panjang, merah dengan huruf-huruf biru. Bagian dalamnya jauh lebih luas dibanding mobil mereka. Kendatipun Shukumar memiliki tubuh setinggi enam kaki, dengan telapak tangan yang terlalu besar bagi saku jinnya, ia tetap merasa seperti kurcaci duduk di kursi belakang. Seiring taksi melaju di Beacon Street, ia membayangkan suatu hari ketika ia dan Shoba mungkin perlu membeli sebuah station wagon, untuk mengantar-jemput buah hati mereka menuju tempat les musik atau pergi ke dokter gigi. Ia membayangkan dirinya memegang setir, kala Shoba memutar badannya ke belakang demi menyodorkan sekotak jus buat anak mereka. Dahulu, bayang-bayang kegiatan mengasuh anak semacam ini mengganggu Shukumar, menambah-nambahkan kecemasan akan statusnya yang masih pelajar dan baru berusia 25 tahun. Tetapi, pada permulaan pagi hari musim gugur itu, tatkala pohon-pohon berat oleh daun-daun yang mulai menua, untuk kali pertama ia menyambut gambaran masa depan itu.

Di tengah-tengah konferensi tersebut, seorang panitia akhirnya berhasil menemukan ia di antara ruang-ruang dalam gedung yang semuanya kelihatan sama, dan kemudian menyerahkan kepadanya secarik memo. Hanya ada angka-angka, tapi Shukumar tahu itu nomor telepon rumah sakit. Saat ia kembali ke Boston, segalanya telah berakhir. Bayi mereka sudah wafat ketika lahir. Shoba tergolek di atas ranjang, tertidur, di dalam ruangan yang begitu kecilnya sampai-sampai tidak ada tempat cukup untuk berdiri di dekat istrinya, di lokasi yang berada pada sisi sayap rumah sakit yang tidak pernah mereka lihat waktu dibawa berkeliling dalam rangka tur persiapan orangtua baru. Ari-ari istrinya melemah dan ia melahirkan secara sesar, kendatipun ternyata tidak cukup cepat ditangani. Dokter menjelaskan bahwa hal seperti ini bisa terjadi. Ia tersenyum seramah yang ia bisa, dengan cara yang paling mungkin ia lakukan kepada orang yang hanya ia kenal secara profesional. Kondisi kesehatan Shoba akan membaik setelah beberapa minggu. Tidak ada indikasi bahwa ia takkan bisa mengandung lagi.

Belakangan, Shoba selalu raib pas Shukumar terbangun. Ia akan membuka mata dan menemukan helai-helai rambut hitam panjang istrinya yang menempel di bantal dan membayangkan istrinya sudah berbusana kerja, menyesap cangkir kopi ketiga, di ruang kantornya di pusat kota, tempat ia melacak kesalahan pengetikan buku-buku teks kemudian menandainya-dengan simbol-simbol yang suatu kali pernah istrinya jelaskan kepadanya-menggunakan sejumlah pensil berwarna. Istrinya berjanji akan melakukan hal sama buat disertasinya kalau ia sudah selesai. Ia merasa iri kepada pekerjaan istrinya yang begitu spesifik, tidak seperti pekerjaannya yang kurang jelas. Ia pelajar biasa yang dapat menyerap hal-hal rinci meski tanpa antusiasme sedikit pun. Hingga bulan September ia menjadi pelajar yang rajin, jika tidak berdedikasi, merangkum bab-bab, merancang kerangka argumentasi di atas lembaran-lembaran kuning. Tetapi, sekarang ia tergolek di kamar tidur mereka sampai bosan, memandangi lemari pakaian yang selalu Shoba biarkan setengah terbuka, memandangi deretan jas dan celana panjang korduroy bergantung di sana, yang tidak perlu ia pilih-pilih kala mengenakannya untuk pergi mengajar. Sepeninggalnya bayi mereka, ia sudah tidak bisa mundur dari tugas mengajar. Tetapi, pembimbingnya telah menyusun jadwal agar ia bisa rehat sepanjang semester musim semi. Saat itu, Shukumar kuliah tahun keenam. “Nah, dengan ini dan musim panas nanti pasti kamu akan semangat lagi,” begitu yang dikatakan pembimbingnya. “Bulan September kamu sudah bisa selesai.”

Tetapi, tidak ada yang membuat Shukumar kembali bersemangat. Alih-alih, ia merenungi bagaimana ia dan istrinya telah begitu ahli saling menghindar di dalam rumah berkamar tiga mereka, menghabiskan waktu sebanyak mungkin berkegiatan di lantai berbeda. Ia memikirkan bagaimana ia tidak lagi menunggu-nunggu akhir pekan, tatkala istrinya duduk berjam-jam di atas sofa dengan pensil berwarna dan naskah kerjaannya, sedemikian rupa sehingga ia khawatir memutar lagu di rumah sendiri merupakan perbuatan terlarang. Ia memikirkan tentang sudah begitu lama sejak kali terakhir istrinya menatap matanya dan tersenyum, atau membisikkan namanya di waktu-waktu yang kini telah langka, ketika mereka masih meraih tubuh satu sama lain sebelum akhirnya tertidur.

Pada mulanya ia percaya bahwa persoalan ini akan berlalu, bahwa ia dan Shoba bagaimanapun akan bisa melewatinya. Istrinya baru berusia 33 tahun. Ia orang yang tegar, dapat kembali berdiri di atas kakinya sendiri. Tetapi, pikiran ini pun tidak menghiburnya. Seringkali sudah hampir jam makan siang ketika Shukumar akhirnya beranjak dari tempat tidur dan turun demi secangkir kopi, menuang sisa dari teko yang Shoba tinggalkan untuknya-bersama sebuah mug kosong-di atas meja.


SHUKUMAR memunguti kulit bawang putih dan membuangnya ke tempat sampah, di atas tumpukan lemak domba. Ia menyalakan keran air bak cuci, membasuh pisau dan talenan, dan menggosok jarinya dengan potongan lemon demi menghilangkan aroma bawang putih-ia belajar dari Shoba. Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Melalui jendela, ia melihat langit hitam tetapi agak pudar. Tumpukan salju yang tidak rata masih menutupi sisi-sisi jalan, kendatipun cuaca sudah cukup hangat hingga orang-orang bisa berjalan-jalan tanpa mengenakan topi ataupun sarung tangan. Saat badai terakhir, salju turun nyaris setebal tiga kaki, hingga selama seminggu orang-orang harus berjalan di satu jalur setapak sempit di sisi parit. Selama seminggu, itulah alasan Shukumar tidak keluar rumah. Tetapi, kini parit sudah mulai meluas, dan air mengalir lancar menuju saluran-saluran di bawah trotoar.

“Dombanya belum matang sampai nanti jam delapan,” ujar Shukumar. “Kita mungkin bakal makan sambil gelap-gelapan.”

“Kita bisa pakai lilin,” Shoba menganjurkan. Ia menggerai rambutnya yang seharian dicepol, kemudian mencopot sepatu kets tanpa melepaskan talinya. “Aku mandi dulu, sebelum mati lampu,” katanya, melangkah ke tangga. “Sebentar aja.”

Shukumar memindahkan tas dan sepatu istrinya ke dekat kulkas. Istrinya tidak pernah seperti ini. Ia biasa menggantung mantelnya, meletakkan sepatunya di rak, dan melunasi tagihan sesaat setelah mereka datang. Tetapi, kini istrinya memperlakukan rumah mereka selayaknya hotel. Fakta bahwa ada sofa kuning tabrakan warna dengan karpet Turki biru-marun di ruang tamu rumah mereka tidak lagi mengusiknya. Di teras belakang, sebuah tas putih masih tergeletak di atas kursi rotan panjang, berisi renda yang tadinya ingin ia jahit menjadi gorden.

Sementara Shoba mandi, Shukumar masuk ke kamar mandi di lantai bawah dan menemukan di bawah wastafel sebuah sikat gigi baru. Bulu sikat gigi murah yang kaku itu membuat gusinya berdarah, dan ia meludah ke wastafel. Di dalam keranjang besi di kamar mandi mereka ada banyak sikat gigi cadangan. Shoba membelinya ketika ada obral dalam sebuah acara yang dikunjungi orang-orang secara impulsif.

Istrinya memang begitu. Ia kerap mengantisipasi hal-hal tak terduga, baik maupun buruk. Jikalau ia menemukan rok atau dompet yang ia suka, ia akan membeli masing-masing dua. Istrinya menyimpan bonus gaji di rekening lain atas namanya. Itu tidak mengganggu Shukumar. Ibunya sendiri terpuruk tatkala ayahnya wafat, lantas pergi begitu saja meninggalkan rumah tempat ia tumbuh besar demi kembali pulang ke Calcutta, menyerahkan semua persoalan kepada Shukumar. Ia senang Shoba tidak begitu. Ia takjub melihat kemampuan istrinya berpikir jauh. Tatkala istrinya masih sering berbelanja, dapur mereka senantiasa sedia berbotol-botol minyak zaitun dan minyak jagung-bergantung apakah mereka akan membuat masakan Italia atau India. Ada berkotak-kotak pasta beragam bentuk dan warna, berkarung-karung beras basmati, potongan utuh domba dan kambing beku dari tukang daging muslim di Haymarket, terbungkus dalam jumlah yang mustahil dihitung. Di hari-hari Sabtu lain, mereka menyusuri deretan rak yang kelak Shukumar kenal betul. Ia menyaksikan tak percaya ketika istrinya membeli lebih banyak makanan, sembari ia mengekor sambil mendekap tas-tas karton, seiring istrinya menyeruak melewati kerumunan orang, dan meski masih sangat pagi sudah berdebat dengan para pedagang yang masih terlalu muda tapi sudah ompong, yang mengambil dari dalam tas karton coklat sejumlah sayur artikok, buah plum, kunyit, ketela, dan menimbang mereka, dan menyerahkannya ke Shoba. Istrinya tidak keberatan berdesak-desakan, bahkan saat dia sudah hamil. Istrinya tinggi, berbahu lebar, dan memiliki pinggul dengan bentuk yang dokter kandungannya bilang memang ditakdirkan untuk beranak. Dalam perjalanan pulang, seiring mobil mereka menikung di Charles, mereka akan terkagum-kagum mengetahui banyaknya makanan yang mereka beli.

Semua itu tidak pernah terbuang mubazir. Tatkala teman-teman mampir ke rumah mereka, Shoba akan membuat masakan yang kelihatannya butuh setengah hari mempersiapkannya, menggunakan bahan-bahan yang ia simpan dalam botol dan dibekukan, bukan bahan-bahan masak kalengan murah melainkan paprika yang sudah ia baluri dengan rosmarin, dan saus chatni yang ia masak di hari minggu dengan mengaduk buah prone dan tomat dalam air mendidih. Sejumlah toples beling miliknya yang masing-masing sudah dinamai berjejer rapi di rak-rak di dapur dan tersegel, cukup, mereka bersepakat, untuk kebutuhan anak hingga cucu mereka. Kini, semuanya telah mereka habiskan. Berangsur-angsur, Shukumar telah menggunakan seluruh pasokan, menyiapkan makanan untuk mereka berdua, mengukur centong nasi, memanaskan daging beku hari demi hari. Setiap sore ia menekuri buku resep istrinya, mengikuti instruksi yang sudah istrinya tandai dengan pensil, agar menggunakan dua sendok teh sahang alih-alih satu, atau memakai kacang polong merah alih-alih yang kuning. Setiap resep tersebut sudah diberi tanggal, menunjukkan kapan kali pertama mereka menyantapnya. Tanggal 2 April, sayur kembang kol dengan adas. Tanggal 14 Januari, ayam dengan kacang almond dan anggur hijau. Sesungguhnya ia tidak ingat pernah memakan semua masakan itu, tetapi buktinya semua tercatat rapi oleh tangan istrinya-seorang penata aksara. Kini, Shukumar menikmati memasak. Membuatnya merasa produktif. Kalau bukan karena dirinya, ia yakin, Shoba bakal menyantap semangkuk sereal untuk makan malamnya.

Malam ini, dalam gelap, mereka akan makan bersama. Sebelumnya, berbulan-bulan mereka memasak sendiri-sendiri, dan ia akan membawa piringnya ke ruang kerjanya, membiarkan makanannya menjadi dingin sebelum menyantapnya tanpa jeda, sementara Shoba membawa piringnya ke ruang tengah dan menonton televisi, atau mengerjakan naskah dengan satu set pensil warna di tangan.

Pada waktu-waktu tertentu di malam hari, istrinya akan menghampiri. Tatkala ia mendengar langkah-langkah kaki sang istri, ia akan menyingkirkan novel yang sedang ia baca dan mulai mengetik di komputer. Istrinya akan memegangi bahunya dan bersama dirinya menatap layar biru monitor. “Jangan diforsir kerjanya,” istrinya akan berkata demikian usai hening satu-dua menit, dan setelahnya beranjak tidur. Itu satu-satunya momen dalam seharian istrinya mencari dirinya, tetapi ia malah merasa ganjil. Ia tahu istrinya memaksakan diri. Suatu kali, istrinya akan menghabiskan waktu melihat-lihat dinding kamar yang pada musim panas lalu telah mereka hias dengan bingkai bebek-bebek berbaris dan kelinci-kelinci bermain terompet dan drum. Pada akhir Agustus sudah ada boks bayi berwarna ceri terletak di bawah jendela, sebuah meja untuk mengganti pakaian bayi berwarna putih dengan kenop hijau permen, dan kursi goyang dengan bantal motif kotak-kotak. Shukumar telah membongkar semuanya sebelum menjemput Shoba di rumah sakit, ia mencopot bebek-bebek dan kelinci-kelinci di dinding menggunakan spatula. Untuk beberapa alasan, kamar itu tidak menghantuinya sebagaimana terjadi pada Shoba. Pada Januari, tatkala ia sudah tidak lagi bekerja di kubikelnya di perpustakaan, dengan hati-hati ia memasang meja kerjanya sendiri di dalam kamar itu, sebagian karena kamar itu membuatnya merasa tenang, dan sebagian lagi karena kamar itu tempat yang paling Shoba hindari.


SHUKUMAR kembali ke dapur dan membuka laci satu demi satu. Ia mencari-cari sebatang lilin di antara gunting, pemecah dan pengocok telur, dan ulekan yang istrinya beli di sebuah pasar di Calcutta, yang ia gunakan untuk menumbuk bawang putih dan kapulaga, dahulu tatkala ia masih sering memasak. Akhirnya, ia menemukan senter, tapi tanpa baterai, serta sekotak lilin ulang tahun yang tinggal setengah terisi. Bulan Mei lalu Shoba memberinya kejutan pesta ulang tahun. Seratus dua puluh orang menyesaki rumah mereka-seluruhnya adalah teman-temannya sendiri, juga teman-temannya teman-teman mereka, yang kini perlahan-lahan mereka hindari. Sebotol anggur vinho verde berdiri santai dalam tumpukan es batu di sisi bathtub. Tatkala itu, Shoba sedang hamil lima bulan, dan ia meneguk jahe dari gelas koktail. Sebelumnya, ia membuat kue krim vanili dengan saus custard dan gula spun. Sepanjang malam, ia menggenggam jemari Shukumar yang panjang-panjang, dan melangkah di antara para tamu pesta.

Setelah September, satu-satunya tamu mereka hanya ibunya Shoba. Ia datang dari Arizona dan menginap di rumah mereka selama dua bulan sejak Shoba pulang dari rumah sakit. Setiap malam ia memasak, menyetir sendiri ke supermarket, mencuci pakaian mereka, dan merapikannya. Ia perempuan yang religius. Ia membuat tempat bersembahyang yang sederhana-sebuah pigura foto dewi berwajah ungu, piring berisi kelopak-kelopak bunga marigold-di atas meja nakas kamar tamu, dan berdoa dua kali sehari demi kesehatan bakal cucunya. Ia bersikap sopan terhadap Shukumar, kendatipun tidak begitu ramah. Ia melipat pakaian menantunya dengan keahlian seorang penjaga toko swalayan. Ia menjahit kancing baru untuk mantelnya dan membuatkannya skarf krem kecoklatan, yang setelah selesai ia berikan kepada menantunya tanpa ekspresi apapun, seakan-akan pemilik skarf itu baru saja menjatuhkan benda tersebut dan tidak menyadarinya. Ia tidak pernah berbincang dengan menantunya mengenai Shoba; sekali waktu, tatkala menantunya menyinggung soal wafatnya bayi mereka, ia mendongak sejenak dari kegiatan menyulamnya, lantas berkata, “Tapi kamu bahkan tidak ada di sana.”

Aneh sekali tidak ada satu pun lilin betulan di rumah ini, pikirnya. Aneh rasanya mengetahui Shoba tidak mempersiapkan apapun untuk situasi darurat yang lazim semacam ini. Sekarang ia mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan alas lilin ulang tahun itu, dan memutuskan memakai pot tanaman ivy yang biasanya diletakkan di jendela dekat wastafel dapur. Kendatipun tumbuhan dalam pot itu sudah setinggi beberapa inci, tanahnya begitu kering sehingga ia harus membasahinya terlebih dahulu demi menancapkan batang lilin-lilin ulang tahun di atasnya agar dapat berdiri tegak. Ia menyingkirkan semua benda di atas meja makan di dapur: tumpukan surat dan buku-buku dari perpustakaan yang belum dibaca. Ia teringat momen perdana mereka makan bersama di meja itu, tatkala mereka begitu antusias membayangkan akan menikah dan pada akhirnya dapat tinggal bersama di bawah satu atap-lebih tidak sabaran ingin bercinta daripada mengisi perut. Ia menyusun dua alas piring tenunan, kado pernikahan dari seorang paman di Lucknow, dan meletakkan piring serta gelas anggur yang biasanya mereka siapkan untuk tamu. Ia meletakkan pot tanaman ivy di tengah-tengah, berhiaskan sepuluh batang lilin ulang tahun. Ia menyetel radio pada frekuensi yang menyiarkan musik jazz.

“Apa ini?” ujar Shoba tatkala ia turun. Kepalanya terbungkus handuk tebal putih. Ia melepas handuk itu dan menggantungnya di atas kursi, membiarkan rambutnya yang hitam dan masih basah terkulai di punggungnya. Terbengong-bengong, ia melangkah ke arah kompor seraya meraih rambutnya yang kusut. Ia mengenakan celana panjang katun, kaus, dan mantel usang berbahan flanel. Perutnya kini rata, pinggangnya ramping menyambung dengan pinggulnya yang montok, dan sabuk mantelnya terikat dalam simpul pita.

Hampir pukul delapan malam. Shukumar meletakkan wadah berisi nasi di atas meja dan memasukkan kacang polong sisa kemarin ke microwave, kemudian memencet-mencet angka pada penunjuk waktu.

“Kamu masak rogan josh,” Shoba mengamati wadah kaca berisi rebusan paprika.

Shukumar mengambil sepotong daging domba matang, menyuwirnya cepat-cepat agar jarinya tidak melepuh. Ia mendorong bagian daging yang lebih besar menggunakan sendok demi melepaskan seluruhnya dari tulang. “Sudah siap,” ia berujar.

Microwave berbunyi tepat sesaat sebelum listrik padam, dan suara musik pun lenyap.

“Pas banget,” kata Shoba.

“Aku cuma nemu lilin ulang tahun ini.” Ia menyalakan pot ivy itu, lantas menyimpan sisa lilin serta korek di dekat piringnya sendiri.

“Nggak apa-apa,” kata istrinya, menyusuri pegangan gelas anggur dengan jemarinya. “Terasa romantis.”

Dalam suasana remang, ia tahu bagaimana istrinya duduk: agak condong ke depan, menyilangkan kaki, dan menyandarkan sikut sebelah kiri di atas meja. Tadi waktu ia mencari lilin, Shukumar menemukan sebotol anggur dalam kotak kayu yang ia kira kosong. Ia menjepit botol anggur di antara pahanya sembari menancapkan lalu memutar sumbat botol. Ia khawatir anggurnya tumpah, sebab itu selagi menuangnya ia memegang gelas begitu dekat ke pangkuan. Mereka berdua mengambil makanan sendiri-sendiri, mengaduk nasi memakai garpu masing-masing, memicing waktu menyingkirkan daun salam dari rebusan. Setiap beberapa menit Shukumar menyalakan lilin baru dan menancapkannya di atas pot tanaman.

“Rasanya kayak di India,” ujar Shoba, menyimak sang suami yang sedang berkutat dengan candelabra buatannya. “Kadang-kadang listrik padam sampai berjam-jam. Aku pernah datang ke annaprashana gelap-gelapan. Si bayi nangis nggak berhenti. Dia pasti kepanasan.”

Bayi mereka tidak pernah menangis, renung Shukumar. Bayi mereka tidak akan pernah dapat annaprashana--perayaan bagi bayi kala memakan nasi pertamanya--kendatipun Shoba telah membuat daftar tamu, dan sudah memutuskan siapa dari tiga abangnya yang akan ia minta untuk menyuapi bayi mereka; kelak setelah ia berusia enam bulan jika laki-laki, tujuh bulan jika perempuan.

“Kamu kepanasan?” ia bertanya kepada istrinya. Ia menggeser pot dengan lilin-lilin menyala menjauh ke sisi meja yang lain, ke arah tumpukan buku dan surat, membuat semakin sulit bagi mereka untuk saling melihat. Tiba-tiba ia merasa kesal tidak bisa naik ke ruangannya dan duduk di depan komputer saja.

“Nggak, kok. Ini enak,” kata istrinya, mengetuk piring dengan garpu. “Beneran enak.”

Ia menuang anggur untuk istrinya, yang membalas dengan ucapan terima kasih.

Dulu, mereka tidak pernah seperti ini. Sekarang ia harus berusaha keras menemukan topik yang menarik bagi istrinya untuk dibahas, topik yang dapat membuat istrinya mendongak dari piring atau naskah kerjaannya. Tetapi pada akhirnya ia berhenti mencoba. Ia belajar menerima kesunyian di antara mereka.

“Aku ingat dulu di rumah nenek, kalau sedang mati lampu kami harus mengatakan sesuatu,” lanjut Shoba. Ia hanya samar-samar menangkap wajah istrinya, tetapi dari nada bicaranya ia tahu istrinya sedang memicing, seolah-olah pandangannya berfokus pada satu benda yang jauh. Itu kebiasaan istrinya.

“Misalnya?”

“Terserah aja. Puisi, guyonan, atau informasi apa lah. Kalau kerabatku sering minta aku ngucapin nama teman-teman di Amerika. Aku nggak tahu kenapa hal itu menarik. Terakhir ketemu bibi, ia bertanya tentang empat gadis yang jadi teman sekolahku di Tucson. Aku bahkan sudah nggak ingat lagi.”

Shukumar tidak pernah tinggal lama di India sebagaimana Shoba. Orangtuanya, yang bermukim di New Hampshire, sering ke sana tanpa dirinya. Kali pertama ia berkunjung waktu masih bayi, ia hampir meninggal terkena disentri. Ayahnya orang yang mudah panik, takut membawanya kembali ke sana kalau terjadi sesuatu lagi, lantas menitipkannya dengan bibi dan pamannya di Concord. Tatkala beranjak remaja, setiap musim panas ia lebih memilih ikut pagelaran kemah mendayung atau mengudap es krim, ketimbang liburan ke Calcutta. Sepeninggal ayahnya bersamaan ia memasuki tahun-tahun akhir kuliah, barulah negara itu menarik perhatiannya, dan ia mempelajari sejarahnya dari buku-buku panduan selayaknya materi perkuliahan. Kini ia berharap bisa punya kisah masa kecil sendiri di India.

“Yuk,” ujar istrinya tiba-tiba.

“Yuk apa?”

“Ucapkan sesuatu.”

“Ucapkan apa? Aku nggak bisa melawak.”

“Nggak, bukan lawakan.” Istrinya berpikir sejenak. “Gimana kalau kita saling mengucapkan hal yang nggak pernah kita kasih tahu sebelumnya.”

“Dulu waktu SMA aku sering main beginian,” Shukumar mengingat-ingat. “Waktu kami lagi mabuk.”

“Maksudmu truth or dare. Nggak, ini beda. Oke, aku yang mulai.” Istrinya menyesap anggur. “Waktu pertama kali ke apartemenmu, aku mengintip buku alamatmu buat ngeliat ada namaku nggak di situ. Kalau nggak salah kita sudah kenal sekitar dua minggu.”

“Aku lagi di mana, ya?”

“Kamu lagi ngobrol di telepon sama ibumu, di ruangan lain. Aku pikir pasti kalian ngobrolnya lama. Aku penasaran apa kamu ngebahas aku.”

“Aku ngebahas kamu nggak?”

“Nggak. Tapi aku nggak menyerah. Nah, sekarang giliran kamu.”

Ia tidak bisa memikirkan apapun, tetapi Shoba menunggu ia mengatakan sesuatu. Bulan-bulan terakhir istrinya tidak pernah terlihat seniat ini. Apa lagi yang belum ia utarakan kepada istrinya? Ia mengingat-ingat saat mereka kali pertama bertemu, empat tahun lampau di dalam ruang kelas di Cambridge, tatkala sekelompok penyair Bengali tengah membacakan sajak-sajak. Mereka duduk bersisian di bangku kayu. Shukumar segera bosan; ia tidak paham kata-kata dalam sajak-sajak itu, dan tidak bisa ikut seperti hadirin yang lain ketika mereka mengangguk khidmat atau menarik napas panjang pada kalimat-kalimat tertentu. Alih-alih, ia mengintip koran di pangkuannya, dan mencari tahu ketinggian derajat suhu di kota-kota sepenjuru dunia. Kemarin tiga puluh dua derajat selsius di Singapura, sepuluh derajat di Stockholm. Tatkala ia menoleh ke kiri, ia melihat perempuan di sebelahnya sedang menulis daftar belanja di bagian belakang selembar map, lantas ia terkesima menyadari betapa menawannya perempuan itu.

“Oke,” katanya, sembari mengingat. “Waktu pertama kali kita pergi dinner, di restoran Portugis, aku lupa kasih tip buat waiter. Besoknya pagi-pagi aku balik ke sana, nyari tahu namanya, terus nitip uang ke manajer tempat itu.”

“Kamu jauh-jauh balik ke Somerville cuma buat ngasih tip?”

“Pakai taksi, kok.”

“Kenapa kamu lupa kasih tip?”

Lilin ulang tahun di meja padam, tetapi ia merekam wajah istrinya begitu jelas dalam kegelapan: sepasang bola mata besar yang mengerling, bibir tebal berona anggur, dan bekas luka jatuh dari kursi tinggi waktu kecil masih tampak berbentuk seperti tanda koma di dagunya. Hari demi hari, Shukumar menyadari, kecantikan istrinya yang dahulu membuatnya terkesima telah perlahan pudar. Kini istrinya butuh berdandan lebih tebal, bukan demi mempercantik dirinya melainkan, dengan suatu cara, justru menunjukkan karakter aslinya.

“Malam itu, pas kita udah mau selesai makan, perasaanku campur aduk dan kepikiran ingin menikahi kamu,” katanya, untuk kali pertama mengakui hal tersebut, terhadap dirinya sendiri juga istrinya. “Mungkin itu bikin aku nggak fokus.”


MALAM berikutnya Shoba pulang kerja lebih awal. Di dapur masih ada daging domba sisa semalam, dan Shukumar memanaskannya agar mereka sudah bisa makan malam pukul tujuh. Hari itu ia keluar rumah, berjalan di atas salju yang mulai mencair, demi membeli dari toko di sudut jalan sekotak lilin betulan dan baterai senter. Ia sudah memacakkan lilin tersebut di meja dapur di atas wadah berbentuk seperti kelopak teratai, tetapi mereka bersantap di bawah naungan sinar lampu berkap tembaga yang menggelantung di langit-langit di atas meja.

Tatkala mereka selesai, Shukumar terkejut demi menyaksikan istrinya menumpuk piring bekas makan mereka dan membawanya ke wastafel. Ia mengira setelah itu istrinya akan langsung beranjak ke ruang tamu mengoreksi naskah.

“Biarin saja piring kotornya,” ia berkata, seraya mengambil piring-piring itu dari tangan istrinya.

“Nggak, lah,” balas istrinya, lantas menuang setetes sabun cuci cair ke spons. “Sudah hampir jam delapan.”

Debaran di dadanya jadi lebih kencang. Sepanjang hari Shukumar telah menanti listrik padam. Ia memikirkan yang Shoba katakan semalam, tentang mengintip ke buku alamatnya. Rasanya menyenangkan mengingat-ingat sosok istrinya pada masa-masa itu, betapa pemberani sekaligus kikuk dirinya, dan betapa penuh harap. Mereka berdiri bersisian di hadapan wastafel, bayangan mereka memantul pada kaca jendela. Ia merasa malu, sebagaimana kali pertama ia berdiri bersisian dengan istrinya di depan kaca. Ia lupa kapan kali terakhir mereka berfoto. Mereka sudah tidak pernah lagi menghadiri pesta, tidak pernah lagi pergi ke manapun berdua. Foto-foto dalam kamera miliknya masih terdapat gambar-gambar Shoba, berada di halaman depan rumah, masih mengandung.

Selesai mencuci piring, mereka bersandar di meja wastafel, mengeringkan tangan dengan handuk kecil-ujung ini di tangan Shukumar, ujung satunya di tangan Shoba. Tepat pukul delapan, listrik pun padam. Shukumar menyalakan sumbu lilin, terpukau dengan apinya yang panjang nan tenang.

“Duduk di luar, yuk,” ujar Shoba. “Jam segini kayaknya masih hangat.”

Mereka masing-masing memegang sebatang lilin dan pergi duduk di atas anak tangga di beranda. Rasanya aneh duduk di luar rumah di waktu salju masih berjatuhan. Tetapi malam ini semua orang keluar rumah, udara yang segar membuat orang-orang terjaga. Pintu-pintu rumah membuka dan menutup. Kelompok kecil warga melintas dengan senter di tangan.

“Kami mau ke toko buku,” seru seorang pria berambut perak. Ia berjalan bersama istrinya, seorang perempuan kurus berjaket parasut yang membawa seekor anjing dengan tali kekang. Mereka keluarga Bradford, suatu kali pernah memasukkan ke kotak surat di rumah Shoba dan Shukumar sebuah kartu ucapan belasungkawa. “Katanya mereka punya genset.”

“Harusnya,” balas Shukumar. “Kalau nggak, kalian bakal cari buku gelap-gelapan.”

Istri tetangganya itu tertawa, lantas menggamit lengan suaminya. “Kalian ikut?”

“Nggak, makasih,” Shoba dan Shukumar menjawab serempak. Shukumar kaget dengan hal tersebut.

Ia menebak-nebak apa yang akan Shoba sampaikan kepadanya. Ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk. Bahwa istrinya berselingkuh. Bahwa istrinya tidak suka ia sudah 35 tahun tetapi masih berstatus pelajar. Bahwa istrinya menyalahkannya karena ia dan ibunya berada jauh di Baltimore waktu istrinya melahirkan. Namun, ia tahu semua itu tidak benar. Istrinya setia, sebagaimana dirinya. Istrinya percaya kepadanya. Istrinya lah yang memaksanya pergi ke Baltimore. Apa lagi yang belum mereka tahu mengenai satu sama lain? Ia tahu istrinya mengepalkan tangan jikalau tidur, dan sedikit lasak jikalau bermimpi buruk. Ia tahu istrinya lebih suka semangka ketimbang melon. Ia tahu tatkala mereka pulang dari rumah sakit, hal pertama yang istrinya lakukan ketika masuk rumah adalah mengambili benda-benda dan melemparkannya ke lorong menjadi tumpukan: buku-buku dari rak, pot-pot tanaman dari jendela dapur, lukisan-lukisan dari dinding, foto-foto dari pigura, serta panci dan wajan dari gantungan dekat kompor. Shukumar tidak mencegahnya. Tatkala ia telah puas, istrinya berdiri memandangi tumpukan benda-benda itu, lantas bibirnya mengerucut seperti mau meludah. Kemudian, ia menangis.

Ia mulai menggigil duduk di anak tangga beranda. Ia merasa harus bicara lebih dulu, menganggap ini gilirannya.

“Waktu ibumu ke rumah,” akhirnya istrinya yang bicara. “Pas aku bilang terpaksa kerja lembur, sebenarnya aku pergi bareng Gillian dan minum martini.”

Ia mengamati paras istrinya, batang hidung ramping dan rahangnya kaku seperti pria. Ia ingat betul malam itu: ia makan dengan ibunya, lelah usai mengajar dua kelas berturut-turut, berharap Shoba ada bersama mereka agar istrinya bisa mengatakan sesuatu yang baik, karena dirinya senantiasa salah bicara. Sudah dua belas tahun sejak ayahnya wafat, dan ibunya berkunjung ke rumah mereka demi menemaninya berkabung. Setiap malam ibunya memasak makanan kesukaan ayahnya, lantas merasa begitu sedih dan kecewa mengetahui hanya ia sendiri yang menyantap makanan itu, dan airmatanya berlinang seiring Shoba mengusap-usap punggung tangannya. “Aku jadi ikut sedih,” kala itu Shoba berkata kepadanya. Kini, ia membayangkan Shoba bersama Gillian duduk di atas sofa beludru di bar-tempat yang biasa ia dan Shoba datangi usai menonton di bioskop-dan istrinya memastikan ekstra buah olive pesanannya ada di gelasnya, lantas mengambil sebatang rokok dari Gillian. Ia membayangkan istrinya curhat, dan Gillian bersimpati kepadanya atas kedatangan mertuanya. Gillian yang mengantar Shoba ke rumah sakit.

“Giliranmu,” sang istri membuyarkan lamunannya.

Di ujung jalan, Shukumar mendengar suara bor dan teriakan si teknisi. Ia memandangi fasad rumah-rumah berjejer di seberang jalan. Terlihat nyala lilin di jendela salah satunya. Terlepas cuaca yang sebenarnya sudah agak hangat, tampak asap membubung dari cerobong rumah itu.

“Aku nyontek pas ujian mata kuliah Peradaban Asia,” ujarnya. “Waktu semester akhir, ujian terakhirku. Ayah meninggal beberapa bulan sebelumnya. Aku bisa lihat kertas ujian orang di sebelah. Cowok Amerika, maniak. Dia tahu bahasa Urdu dan Sanskrit. Aku nggak ingat contoh puisi di soal itu ghazal atau bukan. Aku nyontek jawaban dia.”

Ia melakukan hal tersebut lebih dari lima belas tahun silam. Kini ia merasa lega telah mengungkap hal itu kepada istrinya.

Istrinya menoleh, tidak kepadanya melainkan sepatunya-mokasin lawas yang ia injak saja seperti memakai sandal, bagian tumitnya tergencet rata dengan alas sepatu. Ia menduga apakah istrinya tidak senang atas ceritanya barusan? Istrinya meraih tangannya dan menggenggamnya. “Kamu nggak perlu kasih tahu alasan kamu nyontek,” ujarnya, seraya bergeser mendekat.

Mereka duduk berdua hingga pukul sembilan, dan listrik pun kembali menyala. Mereka mendengar orang-orang bertepuk tangan dari beranda rumah masing-masing, dan televisi di rumah-rumah dihidupkan lagi. Keluarga Bradford berjalan melintas dan sembari menjilati es krim, mereka melambai. Shoba dan Shukumar membalas lambaian mereka. Kemudian, mereka berdua bangkit-masih bergenggaman tangan-dan masuk ke rumah.


BERIKUT-BERIKUTNYA, tanpa ada yang mengatur, situasi di antara mereka senantiasa berubah jadi arena mengumbar pengakuan-mengenai hal-hal sepele yang mereka lakukan demi mengecewakan satu sama lain, bahkan diri mereka sendiri. Keesokan hari Shukumar bimbang, antara harus mengaku soal ia menyobek foto seorang wanita di majalah langganannya dan menyelipkannya di buku yang ia bawa selama berminggu-minggu, atau mengaku bahwa ia sudah berbohong tatkala dulu berkata ia menghilangkan rompi rajutan yang istrinya berikan sebagai kado peringatan hari pernikahan mereka, dan bahwa ia menjual benda tersebut di Filene’s dan kemudian pergi minum-minum sendirian siang bolong di bar hotel. Pada hari itu, istrinya sudah memasak beragam hidangan untuk makan malam mereka. Rompi rajut itu membuatnya frustrasi. “Istriku kasih rompi rajut buat ngerayain nikahan kami,” ia curhat ke bartender, sedang kepalanya sudah goyang akibat cognag. “Lha, mestinya gimana?” balas si bartender. “Bung, kan, memang sudah nikah.”

Mengenai foto wanita di majalah, ia tidak paham kenapa ia menyobeknya. Bukannya wanita itu lebih cantik dari Shoba. Wanita itu mengenakan gaun payet, mukanya cemberut dan kakinya kurus seperti kaki pria. Kedua lengan wanita itu terangkat, tangannya mengepal di dekat wajah, dan berpose seperti hendak meninju dirinya sendiri. Gambar tersebut iklan produk stoking. Tatkala itu Shoba sedang mengandung, perutnya ujug-ujug membuncit, begitu buncit sampai Shukumar enggan menyentuhnya. Pertama ia melihat foto wanita itu ia sedang tiduran di samping istrinya, yang tengah membaca buku. Begitu ia melihat majalah tersebut di tempat sampah, ia menemukan foto wanita itu dan menyobeknya dengan sangat berhati-hati. Setiap hari selama seminggu, ia mengintip foto itu. Libidonya naik, tetapi setelahnya ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Itu satu-satunya aksi berselingkuh yang pernah ia lakukan.

Pada malam ketiga pemadaman listrik ia mengutarakan kepada istrinya tentang rompi rajut, dan pada malam keempat tentang foto wanita itu. Istrinya diam saja waktu ia bicara, tidak protes ataupun mencela. Istrinya mendengar saja, lalu meraih tangannya dan menggenggamnya seperti kemarin-kemarin. Pada malam ketiga pemadaman, istrinya bilang bahwa dulu suatu kali tatkala mereka pulang kuliah, saat ia mengobrol dengan seorang dosen, istrinya tidak memberitahu kalau ada remah-remah roti di dagunya. Kala itu istrinya sedang kesal kepadanya karena suatu hal, lantas membiarkan dirinya terus mengobrol dengan dosen mengenai beasiswa perkuliahan semester depan, tanpa memberi isyarat kepadanya bahwa dagunya kotor. Pada malam keempat pemadaman, ia mengaku bahwa sebenarnya ia tidak suka puisi yang pernah ia tulis, satu-satunya puisi yang ia tulis dan dimuat di suatu majalah sastra di Utah. Ia menulis puisi itu usai pertemuannya dengan Shoba. Istrinya bilang, puisinya kelewat sentimentil.

Hal baru telah terjadi semenjak pemadaman: mereka kembali mengobrol. Pada malam yang ketiga, seusai makan, mereka duduk di sofa, dan begitu listrik padam ia mengecup pipi dan kening istrinya dengan agak kikuk, dan kendatipun sudah gelap, ia tetap memejam, dan tahu istrinya melakukan hal yang sama. Pada malam keempat, mereka melangkah canggung menaiki tangga menuju kamar tidur, sama-sama diam sejenak ketika menjejak di lantai atas, kemudian bercinta dengan keputusasaan yang telah terlupa. Istrinya menangis tanpa suara, membisikkan namanya, dan dalam kegelapan menyusuri alisnya menggunakan jemari. Dalam percintaan mereka, ia memikirkan apa lagi yang harus ia ceritakan besok malam, apa lagi yang istrinya ceritakan-dan semua ini membuatnya bergairah. “Peluk aku,” ia berkata, “dekap aku.” Begitu listrik kembali menyala, mereka telah tertidur pulas.


PAGI pada hari terakhir pemadaman, Shukumar mendapat surat pemberitahuan dari perusahaan listrik: jalur listrik sudah kembali normal, lebih awal dari jadwal semula. Ia kecewa. Ia sudah berencana memasak udang malaikari buat Shoba, tetapi tatkala ia tiba di swalayan ia sudah tidak selera lagi. Suasananya bakal berbeda, ia pikir, kalau listrik tidak padam. Dalam pandangannya, udang-udang itu terlihat kurus dan tidak menarik. Kotak-kotak santan siap saji itu berdebu dan kemahalan. Kendati demikian, ia tetap membeli semua, beserta sebatang lilin aromaterapi dan dua botol anggur.

Istrinya pulang pukul setengah delapan malam. “Kayaknya permainan kita sampai di sini ya,” ujar Shukumar tatkala melihat istrinya membaca surat pemberitahuan.

Istrinya menoleh. “Kamu masih bisa nyalain lilin kalau mau.” Malam ini istrinya tidak berangkat ke gym. Ia mengenakan kemeja di balik mantelnya. Ia sudah memulas riasannya lagi.

Tatkala istrinya ke lantai atas untuk bersalin, Shukumar menuang anggur buat dirinya sendiri dan memutar lagu: album Thelonius Monk, favorit istrinya.

Setelah istrinya kembali, mereka bersantap bersama. Istrinya tidak bilang terima kasih atau memujinya. Mereka makan saja dalam cahaya remang-remang, diterangi pendar lilin aromaterapi. Mereka telah melewati masa-masa krisis. Mereka melahap habis udang di meja. Mereka meneguk tandas botol anggur pertama dan langsung membuka yang kedua. Mereka duduk di situ sampai lilin hampir habis. Istrinya menggeser posisi, dan sesaat Shukumar mengira ia akan mengatakan sesuatu. Alih-alih, istrinya meniup lilin hingga padam, beranjak dari kursinya, menyalakan lampu, kemudian duduk lagi.

“Nggak dibiarin gelap aja?” tanya Shukumar.

Istrinya menyingkirkan piring di hadapan dan memasang gestur serius. “Aku mau kamu lihat aku saat aku mengatakan ini…,” ujarnya tenang.

Jantungnya berdentam keras. Hari ketika istrinya memberitahu bahwa dirinya mengandung, ia bicara persis seperti ini, persis dengan ketenangan yang sama, seusai mematikan televisi saat ia sedang menonton pertandingan basket. Kala itu ia tidak siap. Sekarang sudah.

Hanya saja ia enggan mendengar jikalau istrinya mengandung lagi. Ia tidak mau berpura-pura senang.

“Aku sempat cari-cari apartemen, dan sudah dapat,” ujar istrinya seraya memicing, pandangannya terarah ke bahu kirinya. Bukan salah siapa-siapa, istrinya melanjutkan. Mereka sudah sama-sama lelah. Ia butuh menyendiri. Ia punya tabungan. Apartemen baru itu terletak di Beacon Hill, jadi ia bisa jalan kaki ke kantor. Ia sudah meneken kontrak sewanya tadi sebelum pulang.

Istrinya enggan menatap matanya, tapi Shukumar memandanginya lekat-lekat. Jelas sekali istrinya sudah melatih ucapannya. Selama ini ia menghabiskan waktunya mencari apartemen, mengecek tekanan air, bertanya ke agen properti apakah ada fasilitas air panas di sana. Semua ini membuat Shukumar pening-mengetahui istrinya melewati malam-malam belakangan mempersiapkan hidup baru tanpa dirinya. Ternyata inilah inti permainannya.

Kini, giliran ia bicara. Ada satu hal yang ia sudah bersumpah tidak akan memberitahu istrinya, dan selama setengah tahun terakhir ia berusaha tidak memikirkannya. Sebelum USG, istrinya meminta dokter merahasiakan jenis kelamin bayi mereka, dan Shukumar setuju. Istrinya ingin kejutan.

Kelak, tatkala mereka sempat beberapa kali membahasnya, istrinya bilang setidaknya mereka telah berbagi rahasia. Istrinya seperti bangga dengan keputusannya itu, sebab dengan demikian ia dapat mencari perlindungan di dalam ketidaktahuan. Shukumar tahu, istrinya mengira hal tersebut juga menjadi misteri baginya. Setahu istrinya ia terlambat kembali dari Baltimore-tatkala segalanya telah berakhir dan istrinya tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Padahal tidak. Ia tiba cukup awal demi melihat bayi mereka, dan pula sempat mendekapnya sebelum upacara kremasi dilakukan. Awalnya ia tersentak dengan saran mendekap jenazah bayinya, tetapi dokter berkata mungkin hal itu dapat membantunya melalui proses berduka. Shoba sudah terlelap. Sang bayi sudah dimandikan, matanya terpejam untuk selamanya.

“Anak kita laki-laki,” ia berkata. “Kulitnya lebih kemerahan ketimbang coklat. Rambutnya hitam. Beratnya dua kilo. Tangannya mengepal terus, persis seperti kamu kalau lagi tidur.”

Kini Shoba menoleh, tampak begitu nestapa. Suaminya menyontek saat ujian kuliah dan menyobek foto wanita dari majalah. Suaminya menghilangkan sweter pemberiannya dan pergi mabuk-mabukan. Ini semua yang suaminya katakan kepadanya. Suaminya mendekap bayi mereka, yang hanya mengetahui kehidupan di dalam rahim dirinya, di dalam ruangan remang di kamar terkucil di rumah sakit. Suaminya mendekap bayi mereka hingga perawat mengetuk pintu dan memboyong bayi itu pergi, dan ia berjanji tidak akan memberitahu Shoba, sebab ia masih mencintainya, dan rahasia itu satu-satunya kejutan yang ingin ia peroleh dalam hidupnya.


SHUKUMAR bangkit dan membereskan piring makan. Ia membawa piring-piring itu ke wastafel, tetapi alih-alih mencucinya ia justru memandang ke luar jendela. Di luar, malam masih hangat, dan keluarga Bradford terlihat berjalan bergandeng tangan. Saat ia masih memperhatikan mereka, mendadak lampu padam, lantas ia berbalik. Shoba yang mematikannya, kemudian kembali ke meja makan dan duduk lagi, dan beberapa saat kemudian Shukumar juga. Bersama mereka menangis, demi hal-hal yang kini telah mereka ketahui. ***

Interpreter of Maladies, Jhumpa Lahiri




Sebetulnya saya nggak pernah memikirkan hal ini, tetapi gara-gara membaca tulisan wawancara yang dilakukan seorang penulis terhadap seorang penulis lain (saya mengenal dan menyukai karya kedua penulis tersebut) saya jadi turut memikirkan salah satu bahasan dalam wawancara itu, yakni soal berapa banyak buku penulis perempuan yang dibaca oleh si narasumber. Saya bertanya sendiri, berapa banyak ya buku penulis perempuan yang saya baca? Nggak butuh waktu lama buat mengingat, saya langsung tahu bahwa selama ini buku yang saya baca lebih banyak ditulis oleh laki-laki ketimbang perempuan.

Lantas, memangnya kenapa? Ya, nggak kenapa-kenapa. Saya yang tadinya nggak kepikiran jadi penasaran saja, tapi rasa penasaran itu pun nggak tahu diarahkan ke mana. Respons saya atas pertanyaan tersebut sederhana: mengambil dari rak perpustakaan pribadi di kamar, sebuah buku yang ditulis perempuan. Ada cukup banyak sebenarnya novel maupun buku nonfiksi oleh penulis perempuan dalam rak saya, tetapi karena sedang nggak selera baca novel, puisi, maupun nonfiksi, akhirnya saya memutuskan mengambil sebuah kumpulan cerita: Interpreter of Maladies, karya Jhumpa Lahiri.

Interpreter of Maladies adalah karya debut Jhumpa Lahiri yang terbit pada tahun 1999 dan setahun kemudian langsung diganjar penghargaan Pulitzer. Buku ini berisi sembilan cerita pendek yang hampir seluruhnya sempat dimuat di media semacam The New Yorker dan The Louisville Review. Novel pertama Lahiri, The Namesake, juga melejitkan kepopulerannya seiring alihwahana novel tersebut ke film berjudul sama yang disutradarai Mira Nair, perempuan India seperti Lahiri. Tidak cuma itu, karya lainnya pun memenangi penghargaan: kumpulan cerita Unaccustomed Earth untuk Frank O’ Connor International Short Story Award dan The Lowland dinominasikan untuk Man Booker. Hampir tidak ada karya Lahiri yang tidak menyentuh penghargaan.

Dengan catatan gemilang semacam itu, saya bertanya-tanya lagi ke diri sendiri, kenapa saya belum membacanya ya? Ya, sudahlah. Mungkin belum tergerak saja, sebagaimana puluhan buku lain dalam rak perpustakaan pribadi saya yang juga belum dibaca. Intinya saya sudah akan mulai membaca Jhumpa Lahiri, penulis India-Amerika berzodiak Cancer-seperti saya-yang pada usianya ke-48 tahun sudah mendulang banyak penghargaan. Mari kita lihat bagaimana isi buku debutnya ini.

Saya terbiasa membaca kumpulan cerita secara urut, itu artinya membaca dari yang pertama, kedua, hingga terakhir. Cerita pendeknya panjang-panjang, sama seperti cerita-cerita yang umumnya dimuat di The New Yorker (kecuali semacam Etgar Keret) sekira lima belas halaman kalau diketik ulang di Word. Kendatipun demikian, saya membaca seluruh ceritanya dengan mengalir, santai saja. Setiap hari saya membaca satu cerita, menepis waktu yang sebenarnya masih tersedia untuk membaca cerita berikutnya, demi meresapi yang baru selesai saya baca.

Cerita pertama, A Temporary Matter, adalah kisah dengan konflik rumahtangga. Dua tokoh utamanya, pasangan muda Shoba dan Shukumar, menghabiskan hari-hari mereka saling menghindari. Usut punya usut, ternyata masalahnya berakar pada peristiwa meninggalnya bayi mereka. Semenjak tragedi tersebut, mereka jarang bicara lagi, suasana di rumah mulai berubah nggak nyaman, dan begitu terus sampai suatu hari datang surat pemberitahuan dari perusahaan listrik yang mengatakan bahwa di kompleks mereka akan kena pemadaman sementara akibat jalur listrik rusak terkena badai salju, dan semenjak itu mereka mulai bisa mengobrol baik sampai akhirnya terungkap bahwa sang istri ingin berpisah.

When Mr. Pirzada Came to Dine bercerita tentang hubungan satu keluarga India di Amerika dengan seorang warga India bernama Mr. Pirzada, yang terpisah dari istri dan anak-anaknya karena konflik politik di India. Cerita ini ditulis dengan latar pemisahan kerajaan Inggris-India tahun 1947 atau disebut Partition; memisahkan kerajaan itu menjadi kerajaan Pakistan-yang kelak terpisah lagi menjadi Pakistan dan Bangladesh-dan menyebabkan pembentukan negara Republik India. Dituturkan dari kacamata seorang anak perempuan yang tidak tahu menahu tentang konflik politik tersebut.

Cerita yang judulnya diambil menjadi judul buku, Interpreter of Maladies, berkisah tentang seorang sopir cum pemandu perjalanan yang mengantar satu keluarga keturunan India tetapi lahir di Amerika (pasutri itu mengutarakan info ini dengan rasa bangga) berkeliling di India. Melalui adegan demi adegan, kita tahu bahwa si sopir, Mr. Kapasi, ternyata punya pekerjaan sampingan yaitu sebagai penerjemah yang bekerja pada seorang dokter. Ia membantu para pasien yang orang India menyampaikan keluhan mereka kepada dokter yang hanya bisa berbahasa Inggris. “Penerjemah luka”, kalau saya boleh mengartikannya asal. Di tengah cerita Mr. Kapasi mulai naksir Mrs. Das, kliennya sendiri, yang ternyata menyimpan masalah serius mengenai rumahtangganya.

Menggunakan narasi yang sederhana dan sangat mengalir, Lahiri menunjukkan ketegangan-ketegangan subtil di dalam diri manusia maupun hubungan antar dua orang manusia atau lebih, yang lahir karena pertentangan budaya, dalam hal ini India dengan Amerika. Tokoh-tokohnya kebanyakan bersentuhan dengan konflik yang muncul karena pertentangan semacam itu. Kadang-kadang hadir potret sebentuk culture shock seperti di bagian-bagian tertentu dalam cerita saat keterangan simpel keluar dari celetukan narator tentang, misalnya, setir mobil di India yang terletak sebelah kanan (sementara di Amerika orang mengemudi di kiri). Atau, di momen-momen lain, Lahiri seolah menampilkan budaya India sebagai sesuatu yang menjadi terasing di tempat baru, kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang tergerus karena modernitas negara maju. Semua ini keluar dengan cara yang begitu halus, tidak ambisius, dalam deskripsi situasi yang sangat rinci.

Kembali ke persoalan penulis perempuan. Saya tidak tahu apakah karena Lahiri seorang perempuan sebab itu narasi miliknya terasa halus jika tidak lembut. Kita membaca Harper Lee dan tidak menemukan cara bertutur serupa. J. K. Rowling pun tidak. Jadi, ya, baiklah ini bukan tentang perempuan atau laki-laki. Ini soal pilihan cara bertutur dan teknik menulis yang pas. Lagipula saya sendiri nggak tahu kenapa awalnya saya mulai membaca dan menilai buku dari segi gender penulisnya. Oh iya, tadi ceritanya saya baru sadar kalau begitu sedikit membaca buku-buku dari penulis perempuan. Tetapi sebenarnya menarik juga kalau kita mencoba membaca lebih teliti dan membuat semacam perbandingan antara cara menulis penulis perempuan dan penulis laki-laki. Kapan-kapan deh ya.


Apapun itu, saya suka dengan kumpulan cerita Jhumpa Lahiri ini. Cerita-cerita Lahiri sangat enak dibaca, nggak bikin penat, tetapi meski terlihat sederhana sama sekali nggak sederhana. Kalau mau cari yang menulis dengan cara agak mirip, coba baca cerita-ceritanya Raymond Carver. Nah, Lahiri menulis kira-kira dengan pendekatan yang sama, walaupun jauh lebih rinci dan utuh daripada Carver. Selesai membaca Interpreter of Maladies, saya menemukan di dalam rak perpustakaan pribadi saya dua buku lain Lahiri, The Namesake dan Lowland, yang sepertinya akan jadi buku-buku berikutnya dalam daftar baca saya. ***

12 Mei 2016

Eka Kurniawan: Aku Menunggu Buku yang Menggangguku

Saya mewawancarai Eka Kurniawan tentang beberapa hal, termasuk novelnya yang terbaru, O. Hasil wawancara selama kurang lebih dua jam itu kali pertama tayang di Pindai.org


Ilustrasi: Damar N. Sosodoro
Tulisan disunting oleh: Fahri Salam


"SETIDAKNYA ada tiga hal,” kata laki-laki itu dengan nada santai tatkala seseorang bertanya kepadanya perihal alasan apa yang selama ini membuatnya menulis, “Pertama, untuk mencatat. Kedua, untuk membagi catatan itu kepada orang lain. Ketiga, mungkin yang terlihat sepele tapi bagiku penting, yaitu untuk bermain-main. Tanpa yang terakhir itu, semuanya akan terasa sekadar aktivitas mekanik.”
Kamis, 28 April 2016, saya bertemu Eka Kurniawan di Yogyakarta. Hari itu selepas azan asar, saya sedang duduk santai di pelataran Radio Buku bersama Fairuzul Mumtaz dan Faiz Ahsoul ketika Eka muncul di hadapan kami. Ia mengenakan sepatu hitam, jin biru, dan kaus Joger biru telur asin (bertuliskan “HIDUP INI BISA JADI TAMBAH INDAH, JIKA KITA MAU & TIDAK TAKUT BERUBAH, DIUBAH & MENGUBAH”). Untuk lawatan ini, ia membawa ransel punggung, dan mengajak adik laki-lakinya. Eka tersenyum dan menyapa. “Kami habis makan pempek tadi di sana,” katanya santai.
Sore itu Radio Buku mengadakan rangkaian acara memperingati 10 tahun kematian Pramoedya Ananta Toer. Eka datang pada hari kedua untuk membicarakan buku terbarunya, novel berjudul O. Acara mengobrol bersama Eka Kurniawan merupakan bagian dari “Kata Rupa Festival” yang berlangsung selama tiga hari. Gramedia Pustaka Utama, pihak penerbit buku-buku Eka, menghubungi saya dan meminta kesediaan saya memandu acara bincang-bincang bareng dia di Yogyakarta. Dengan senang hati saya mengiyakan.
Ngobrolin apa nih kita, Mas?” tanya saya iseng saat duduk di kursi menghadap meja bundar di halaman depan Radio Buku.
Eka mengambil tempat di sebelah kiri saya, di sebelahnya lagi Fairuz dan Faiz. Angin pukul tiga sore berembus dan bikin ngantuk. Suasana lokasi acara masih sepi. Meski demikian, beberapa menit berikutnya satu-dua pengunjung berdatangan. Saya membenarkan posisi duduk, mencari pose yang nyaman.
“Terserah mau ngobrol apa,” jawab Eka, seraya nyengir dan meregangkan tubuh.
“Pura-pura dia itu,” sahut Faiz merujuk ke saya. “Pasti sudah siapkan tiga puluh halaman pertanyaan buatmu.”
Saya tertawa.
Di dalam tas, ada empat lembar berisi pertanyaan untuk acara ini.
Acara dimulai terlambat satu jam. Kursi-kursi hampir terisi penuh. Selama dua jam, saya berusaha melontarkan seluruh pertanyaan yang sudah saya susun beberapa hari sebelumnya. Saya mencoba mengungkap sebanyak mungkin sisi Eka—kesuksesannya di luar negeri, ihwal penerjemahan karya-karyanya, hobi membaca buku, novel O, hingga kehidupan personalEka menjawab dengan santai, tidak terburu-buru, dan efektif. Sesekali ia mencoba menyelipkan lawakan, yang memang berhasil membuat orang-orang tertawa.
Masuk nominasi Man Booker International Prize 2016 dan meraih World Readers Award 2016 di Hong Kong. Bagaimana rasanya?
Terkejut dan senang (hening sebentar). Ya, itu saja, sih.
Punya ekspektasi khusus dari pembaca di luar negeri usai karya-karyamu diterjemahkan ke bahasa asing?
Kalau bahasa asing lain (selain Inggris), aku tidak punya bayangan, karena sama sekali tidak tahu seperti apa pembaca dan industri buku mereka. Tapi kalau yang dalam bahasa Inggris, sedikit banyak aku membayangkan penerimaan atas buku-bukuku sesuai dengan penerbitnya. Bukuku yang diterbitkan New Direction (Beauty is a Wound), misalnya. Aku berharap para pembaca New Direction suka dengan bukuku.
New Direction bukan penerbit besar, mereka penerbit menengah yang memang hanya menerbitkan buku-buku sastra. Mirip Pustaka Jaya kalau di Indonesia-walau Pustaka Jaya juga menerbitkan selain sastra. Jadi, aku membayangkan buku-bukuku sebetulnya tidak begitu dibaca dengan sangat luas seperti buku-buku yang diterbitkan oleh penerbitmainstream yang lebih besar lagi.
Meski begitu, ternyata hasilnya sedikit melebihi perkiraanku. New York Times sampai mengulas bukuku sebanyak tiga kali dan The New Yorker satu kali. Itu sesuatu yang jarang terjadi. Mereka sebetulnya jarang membahas buku sastra yang sangat spesifik, lebih sering ke buku-buku mainstream.
Buku-bukumu lebih laku di luar negeri ketimbang di Indonesia. Dan tentu hasil penjualannya lebih besar?
Iya. Ketimbang di Indonesia, lebih laku di sana.
Mungkin karena bukuku di luar dijual dengan harga lebih mahal. Kalau dijadikan Rupiah, novel Cantik itu Luka (2002) harganya sampai tiga ratus ribu. Di sini, enggak sampai seratus ribu. Persoalan royalti, sih, sama saja. Tapi, misalnya, kalau di sini bukuku butuh tiga belas tahun lamanya untuk mencapai angka penjualan tertentu, sedangkan di Amerika hanya butuh satu tahun.
Tetapi, itu juga enggak bisa dibilang laku banget, karena di sana ukurannya beda. Di Amerika, kamu bisa menjual buku sebanyak 30.000 eksemplar itu hitungannya enggak gede-gede banget. Gede itu berarti ratusan ribu atau bahkan jutaan eksemplar.
Bagaimana peluang bagi buku-buku penulis Indonesia lain untuk juga dilihat oleh pembaca di luar?
Selama ini kita membayangkan pintu atau gerbang tersebut (untuk menembus pasar luar negeri) sulit ditembus, padahal sebenarnya tidak. Kesempatan itu selalu ada. Tapi barangkali sebagian besar penulis tidak tahu pintu-pintu atau gerbang itu. Gerbang selalu ada di tempatnya. Mungkin kita tidak menemukannya, tidak tahu, atau tidak berani mencoba.
Seberapa penting, bagi seorang penulis, karyanya dibaca di luar negeri?
Sebenarnya, yang jauh perlu dipertanyakan adalah: Penting enggak bagi mereka membaca karya sastra Indonesia? Ketika kita menulis dalam bahasa Indonesia dan hendak menawarkan tulisan tersebut dalam bahasa lain, itu seperti kita sedang memasak sesuatu dan menjajakan makanan tersebut, lantas bertanya: Penting enggak menjual makanan ini? Ya, tentu saja penting untuk menghasilkan duit atau alasan lain. Tapi persoalannya adalah, mereka butuh enggak makanan yang kita masak itu?
Selama kamu berpromosi di luar negeri, apa yang paling sering ditanyakan pembaca di sana?
Karena mereka baru mendengar namaku, baru tahu buku dari Indonesia, dan bahkan beberapa baru tahu soal Indonesia, hal yang paling umum ditanyakan adalah perkara teknis, seperti kenapa butuh waktu sampai tiga belas tahun untuk bukuku diterjemahkan ke bahasa Inggris. Menurut mereka, itu waktu yang sangat lama. Aku jawab, enggak ada jawaban pasti buat pertanyaan itu, justru aku masih beruntung akhirnya bukuku bisa terbit dalam bahasa Inggris, karena kalau tidak mungkin seumur hidup enggak bakal terbit (tertawa).
Hal berikutnya adalah, mereka selalu masuk ke dalam buku. Ketika berhadapan dengan buku, mereka bertanya hal-hal yang memang ada di buku itu. Buatku itu menyenangkan, karena aku telah menulis sesuatu dan mereka bertanya tentang apa yang aku tulis. Misalnya, mereka akan bertanya dari mana kamu dapat ide soal manusia keluar dari kuburan, dan setelahnya mau tidak mau aku bercerita tentang pengaruh novel-novel horor dan novel-novel silat yang kubaca. Mereka tidak bertanya di luar itu, seperti konteks politik atau lainnya, karena tentu saja mereka harus cari tahu dulu mengenai hal-hal tersebut. Kalau mereka tertarik, baru mereka akan bertanya.
Bagaimana ceritanya buku-bukumu bisa diterjemahkan dan dipasarkan di luar negeri?
Akhir tahun 2008 aku bertemu Pak Ben (alm. Benedict Anderson) di Jakarta untuk mengobrol biasa saja. Tapi di ujung pertemuan itu dia bilang bukuku harus dibaca di luar negeri, diterjemahkan ke bahasa Inggris atau Prancis atau keduanya. Dia tidak secara spesifik menyebut buku yang mana. Sampai tiga tahun kemudian aku enggak melakukan apa-apa, karena malas (tertawa).
Kemudian, akhir 2011 aku bertemu Tariq Ali, karib dekat Ben. Dia bilang, dia diberi pesan oleh Benedict Anderson untuk menemuiku. Dia tanya apa bukuku sudah diterjemahkan, dan aku jawab belum. Terjemahkan sekarang juga, katanya, dan aku iya-iya saja. Tapi begitu dia pulang aku lagi-lagi enggak melakukan apapun.
Tapi Tariq mengirimiku e-mail terus-terusan sampai-sampai aku merasa terteror (tertawa). Jadi aku menghubungi Mirna, editorku di Gramedia, dan bertanya apa kita punya penerjemah. “Gue males, nih, diteror mulu,” kataku. Kami mengontak empat penerjemah dan meminta contoh hasil terjemahan mereka. Waktu itu kami putuskan menerjemahkan Lelaki Harimau (2004), karena tipis, jadi enggak terlalu mahal ongkosnya dan masuk akal buat proyek penerjemahan pertama. Dari contoh hasil terjemahan yang masuk, terpilihlah Dalih (Labodalih Sembiring), dia berasal dari Bantul.
Pada saat yang bersamaan, pada 2011, aku dapat e-mail dari Annie Tucker. Dia bertanya apa dia boleh menerjemahkan novel Cantik itu Luka? Saat itu dia sudah menerjemahkan satu bab. Aku membacanya dan aku suka hasil terjemahannya. Saat itu dia lagi penelitian di Malang, dan karena aku akan ke Radio Buku, aku mengajaknya bertemu di Yogya. Jadi aku bertemu dengan Annie dan Dalih di waktu yang sama.
Kepada Dalih aku hanya bilang bahwa aku dan Ben bersepakat kamu yang akan mengerjakan Lelaki Harimau. Sementara ke Annie aku mengajukan dua syarat: Pertama, kamu harus menyelesaikan terjemahan Cantik itu Luka apapun yang terjadi. Kedua, aku enggak mau kamu menawarkan kepada siapapun di Indonesia. Kamu harus tawarkan buku ini ke Amerika atau Inggris.
Jadi Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka diterjemahkan di waktu yang sama. Lelaki Harimau sudah lebih dulu mendapatkan penerbitnya, Verso, karena Tariq Ali yang memasukkannya, kemudian baru dapat penerjemah. Sedangkan Cantik itu Luka lebih dulu mendapatkan penerjemah baru kemudian penerbitnya.
Soal Cantik itu Luka, setelah Annie selesai menerjemahkannya, dia bawa naskah itu ke Amerika dan mendapat dana terjemahan dari PEN American Center. Dari situ naskah terjemahannya dibaca oleh empat penerbit. Termasuk dalam keempat itu adalah New Direction. Karena aku sudah mengenal banget buku-buku terbitan New Direction, aku bilang ke Annie apa kita bisa sama mereka, dan ternyata New Direction sendiri juga sangat tertarik. Mereka minta contoh hasil terjemahan lebih banyak, sekira sembilan bab—separuh buku—yang baru selesai dikerjakan Annie. Setelahnya mereka langsung bikin kontrak.
Terjemahan bahasa Inggris novel Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka sama-sama dapat kontrak tahun 2013 dan terbit dua tahun kemudian.
Seberapa penting menerjemahkan karya sastra dari bahasa Indonesia ke bahasa asing atau sebaliknya?
Sangat penting. Tetapi menurutku, daripada kita menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa asing, jauh lebih penting menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa asing ke Indonesia. Kalau karya-karya terbaik di luar masuk ke Indonesia, kita bisa membaca karya-karya bagus, dan kalau kita membaca karya-karya bagus, kita akan menghasilkan karya-karya yang insyaallah juga bagus. Jika karya-karya kita bagus, otomatis mereka juga ingin baca.
Mereka di luar juga sebetulnya selalu butuh dan mencari karya-karya dari luar negara mereka untuk diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Tetapi memang agak berbeda antara Amerika dan Inggris dengan negara-negara di Eropa. Di Amerika dan Inggris, hanya tiga persen jumlah karya terjemahan, sedangkan di Eropa seperti Prancis dan Jerman porsinya bisa sampai empat puluh persen—mereka menerjemahkan banyak karya sastra luar karena percaya enggak bakal bisa hidup hanya dari konten lokal. Sebaliknya, Amerika dan Inggris merasa sudah cukup membaca karya-karya dari mereka sendiri.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Aku rasa di Indonesia juga seperti Amerika dan Inggris, hanya konteksnya beda. Kalau di Amerika dan Inggris menerjemahkan begitu sedikit karya sastra dari luar negara mereka karena merasa cukup dengan karya sendiri. Sementara di Indonesia bukan karena itu, tapi mungkin juga karena kurang kesadaran untuk menerjemahkan karya sastra dari bahasa asing.
Seberapa sering kamu menerjemahkan karya sastra luar ke Indonesia?
Sekarang, sih, sudah jarang. Kalau dulu masih punya banyak waktu, aku sering menerjemahkan karya-karya yang aku suka, hampir setiap hari.
Aku menerjemahkan karena ingin tahu bagaimana kata per kata ditulis oleh si penulis karya tersebut. Penting bagi penulis untuk menerjemahkan karya sastra, karena kita dipaksa menemukan kata-kata dan ekspresi tertentu dari cerita yang bukan milik kita tetapi harus kita tulis dalam bahasa kita sendiri, sehingga kita jadi terlatih menemukan kata-kata dan ekspresi tertentu yang tepat.
Lebih asyik menerjemahkan karya orang lain atau menulis karya sendiri?
Kesenangannya berbeda. Menerjemahkan enggak begitu pusing karena ceritanya sudah ada, tinggal mengalihbahasakannya. Kesulitannya hanya saat berusaha menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Kalau menulis karya sendiri kita membangun semua dari nol, mencari kata-kata sendiri, hampir tanpa panduan sama sekali.
Beberapa penulis mengerjakan bukunya dengan kerangka yang ketat, sedang yang lain menulis tanpa punya outline. Bagaimana caramu menuliskan buku-bukumu?
Sebagian besar bukuku ditulis tanpa outline atau perencanaan apapun. Dalam proses kreatifku, yang lebih penting adalah rewriting—menulis ulang. Kadang, setelah beberapa puluh halaman, aku tiba-tiba sadar nama tokohku berubah, atau plot cerita mendadak belok ke mana-mana. Tapi itu semua peristiwa yang alami, karena kita menulis tanpa perencanaan. Jadi aku biarkan tetap mengalir.
Kalau ceritaku sudah sampai di titik enggak tertolong lagi karena benar-benar jelek, aku akan menulis ulang semuanya dari awal, sambil mengingat-ingat di bagian mana tadi aku melakukan kesalahan. Ketika menulis ulang, aku mencoba menemukan ekspresi-ekspresi baru. Jika tulisan sebelumnya terasa menjemukan atau gaya menulisnya enggak enak, aku akan tulis cerita yang sama dengan cara yang baru. Prosesnya hampir selalu begitu, dan aku melakukannya sampai aku merasa novel itu sudah menemukan bentuknya.
Cantik itu Luka, misalnya, aku tulis ulang sebanyak dua-tiga kali. O, aku sudah enggak bisa hitung, sepanjang delapan tahun sudah berapa kali menulis ulang novel itu. Karena proses menulis ulang itu, selalu ada beberapa versi dari novel-novelku. Ada yang perbedaannya sedikit, ada yang cukup jauh.
Cerita pendekmu juga ditulis dengan cara yang sama?
Kurang-lebih sama. Tapi kalau cerita pendek, karena enggak sepanjang novel, jadi enggak lebih merepotkan. Kadang-kadang begitu selesai menulis satu cerita sudah ketahuan di mana letak bolongnya. Kadang pula sekali ditulis sudah enggak perlu ditulis ulang lagi karena sudah rapi. Ada cerita yang pembukaannya sudah oke, bagian akhirnya sudah oke, tapi pertengahannya kurang, maka bagian itu yang aku bongkar.
Aku enggak bisa membongkar novel dengan cara seperti itu, karena novel itu panjang dan proses pengerjaannya lama. Satu bagian dibongkar, bagian lain harus ikut. Kalau di bagian tengah ceritanya nggak jalan, ya sudah, aku tulis ulang semuanya dari awal. Akibat dari menulis ulang itu, naskah yang tadinya aku anggap sudah oke mau enggak mau aku rombak lagi.
Bagaimana caramu mempertahankan konsistensi suara cerita pada naskah yang proses pengerjaannya hingga bertahun-tahun?
Naskah akhir yang kemudian terbit jadi buku adalah naskah yang aku kerjakan selama waktu yang tidak jauh dari waktu terbitnya. O, misalnya, yang mulai aku kerjakan dari tahun 2008, tentu saja apapun di naskah tersebut yang ada pada tahun itu sudah tidak ada lagi dalam versi akhirnya sekarang. Cerita besar dari naskahnya masih ada, tetapi versi yang akhirnya terbit adalah cerita yang aku tulis secara maraton dalam setahun terakhir. Kalau enggak begitu, pasti akan ada tone cerita yang berubah dan enggak enak.
Kamu punya jam khusus untuk menulis?
Kalau masih dalam proses pengerjaan draf, enggak ada jadwal khusus. Kapanpun aku pengin menulis, ya aku tulis. Kalau sedang enggak pengin, hingga berhari-hari pun aku enggak akan menulis.
Tetapi begitu satu naskah sudah ada beberapa versi dan aku melihat sepertinya aku bisa merampungkan ini dengan membuat versi akhirnya, aku akan menulis maraton, setiap hari selama lima sampai delapan jam sehari. Pada tahap itu, aku enggak mengerjakan apapun selain naskah akhir tersebut.
Versi akhir harus dikerjakan dengan cara maraton, karena kalau pengerjaannya terputus, misalnya aku tinggalkan naskah itu selama dua minggu saja, sudah sulit untuk memasukinya lagi. Hari Sabtu dan Minggu biasanya aku pakai beristirahat.
Punya tempat favorit pada saat menulis?
Aku bisa menulis di mana saja. Rumah, kantor, atau tempat-tempat di luar. Aku bisa menulis selama tidak ada yang mengajak ngobrol. Aku enggak masalah menulis di tempat yang banyak orang berlalu-lalang.
Kamu juga menulis skenario. Pengaruh macam apa yang diberikan oleh proses membuat skenario ini terhadap kerja membuat novel?
Aku banyak menulis skenario untuk televisi, sejak tahun 2005 ketika aku tinggal di Jakarta. Waktu itu, aku sudah menerbitkan dua novel, kemudian masuk ke rumah produksi dan menulis skenario. Setelah itu aku keluar dari PH, tetapi di tengah-tengah promosi novel terbaruku tahun lalu pun aku masih menulis skenario.
Hal yang aku pelajari dan sangat berguna dari menulis skenario adalah adanya batasan durasi tayangan film atau televisi yang ketat dan sangat terbatas. Lebih-lebih di televisi, benar-benar sudah dihitung kapan commercial break atau music break masuk, dan sudah tidak bisa lebih longgar lagi.
Itu membuat seorang penulis harus bekerja dan mencari tahu bagaimana cara mengatur cerita dalam ruang sempit, memperkenalkan karakter-karakter tanpa bertele-tele, dan dengan demikian bercerita secara efektif. Pelajaran dari kerja menulis skenario ini aku pakai saat menulis novel maupun cerpen.
Novel atau cerita pendek sebenarnya tidak punya batasan seperti skenario. Kita bisa menulis sebanyak apapun. Tetapi aku sudah memiliki disiplin itu, bekerja dalam kerangka yang efektif dan tidak mengizinkan cerita untuk melebar ke sana dan ke mari. Sebisa mungkin cerita harus terus berjalan. Kalaupun kita ingin cerita berhenti sebentar, harus ada tujuan mengapa cerita itu menjadi lambat, atau mengapa kita membuatnya kembali cepat.
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014) dan O punya tempo cepat seperti film. Novel-novel itu ditulis dalam pengaruh kerja menulis skenario?
Ya, memang. Buatku, efektifitas itu sangat penting. Selain menulis dengan efektif dan efisien, dari penulisan skenario aku juga belajar bagaimana membuat visual. Dua novel pertamaku menggunakan teknik telling—mengatakan, sementara du novel terakhirku lebih showing—menunjukkan, sehingga ada lebih banyak adegan dan dialog. Itu aku pelajari dari menulis skenario film dan televisi.
Aku merasa selama ini aku menulis cerita lebih banyak sebagai pendongeng, dan kini aku ingin menciptakan narator yang lebih objektif. Aku mau meletakkan saja adegan-adegan dan dialog-dialog tanpa intervensi dari narator.
Selain cerpen, novel, skenario, kamu juga menulis di blog. Bagaimana awal kamu membuat blog?
Aku membuat ekakurniawan.com dari tahun 2000, tetapi waktu itu memang enggak begitu rajin menulis di blog. Aku bikin blog karena saat itu melihat ada hal baru yang menyenangkan: Internet. Ketika media mainstream di masa itu masih kuat, Internet hadir menjadi media alternatif. Semua orang ingin mencobanya, termasuk aku.
Aku mulai rajin menulis di blog baru selama beberapa tahun terakhir, didorong rasa bosan terhadap media mainstream—koran dan majalah—sampai aku merasa enggak terlalu pengin menulis di sana lagi, kecuali satu-dua kali aku masih menulis esai. Tetapi, di waktu yang bersamaan, sebenarnya aku melihat Internet pun sudah mulai jadimainstream. Semua orang ada di sana.
Aku sempat ingin meninggalkan blog juga, tapi kupikir kalau blog enggak punya dan koran atau majalah juga enggak aku baca, terus mau ngapain? Akhirnya aku pertahankan blog agar aku masih bisa menulis dan menyimpan satu-dua ide kecilku.
Dalam kesusastraan dan dunia Internet, blog adalah sesuatu yang unik. Kita tahu di kesusastraan ada yang namanya jurnal, tetapi jurnal sifatnya sangat personal, ditulis untuk diri sendiri. Aku melihat blog sebagai media yang personal sekaligus terbuka buat publik. Sifat blog yang semacam itu menjadi tantangan buatku, bagaimana caranya menulis sesuatu yang personal sekaligus juga bisa dibaca banyak orang.
Di blog, kamu sering mengulas buku yang kamu baca. Enggak khawatir sumber pengetahuanmu sebagai penulis ketahuan orang?
Enggak, lah. Terserah saja kalau orang mau mencuri ilmu atau membaca buku yang sama dengan yang aku baca. Lagipula, sumber-sumberku menulis justru dari buku-buku yang tidak aku ulas di blog (tertawa).
Kalaupun aku enggak mengulas buku-buku yang aku baca, ada banyak orang yang tetap mampu melacak apapun dari tulisan-tulisanku. Satu-satunya cara menjadi orisinal adalah menulis dengan pintar. Kalau mau meniru satu penulis, sebisa mungkin jangan tiru plek-plek. Harus kreatif. Ibarat ada bahan buah kedondong dan mangga, kita enggak hanya membuatnya jadi rujak, tapi bikin sesuatu yang lain.
Justru bacaan yang aku buka ke publik menjadi tantangan buatku untuk menulis dengan lebih baik lagi.
Pernah menghitung berapa banyak buku yang kamu sudah baca?
Enggak. Karena aku enggak punya rak yang besar, koleksi pribadiku juga sebetulnya enggak begitu banyak, hanya sekitar seribu lima ratus buku. Kalau sudah melebihi itu, biasanya aku sortir dan sisanya akan aku sumbangkan ke perpustakaan.
Sepertiga koleksi bacaanku novel sastra dari Indonesia maupun luar negeri—termasuk buku-buku lama Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap, sedikit buku-buku filsafat, dan yang jumlahnya agak banyak adalah buku-buku sejarah, karena buku-buku itu agak sulit ditemukan kembali.
Buku-buku sejarah sulit dicari dan jarang diterbitkan ulang, sehingga kalaupun suatu saat nanti koleksi buku sejarahku bertambah dan memenuhi rak, aku akan merelakan buku-buku yang lain tergeser. Buku-buku sejarah penting bagiku buat mencari referensi. Beda dengan novel, setelah aku baca dan sudah tahu ceritanya belum tentu aku baca ulang. Kecuali, beberapa novel yang aku sangat suka, baru akan aku simpan terus.
Buku yang bagus itu bagaimana?
Buku-buku bagus adalah buku-buku yang menggangguku, secara intelektual maupun emosi, baik itu melalui isi cerita maupun teknik menulisnya. Ada buku yang bagus tetapi dalam pengertian ia hanya menghiburku, tidak membuatku tertarik melihatnya kembali. Tetapi, ada buku-buku yang setelah aku selesai membacanya, aku tahu aku akan kembali dan melihatnya lagi untuk merasakan ulang gangguan itu. Bahkan saat aku sudah bisa memecahkan misteri mengapa buku itu menggangguku, aku akan terganggu lagi oleh hal lain.
Buku-buku semacam itu yang aku anggap buku bagus.
Di blog, kamu bilang pernah membuat satu proyek panjang yang diberi judulMalam Seribu Bulan. Bisa ceritakan tentang itu?
Ide awalnya datang dari salah satu buku yang aku suka, Seribu Satu Malam. Di sana terdapat banyak cerita yang digabung menjadi satu oleh sebuah kerangka: Syahrazad yang mendongeng dari malam ke malam. Cerita-cerita dalam buku itu sangat menarik. Aku membayangkan diriku membuat proyek serupa memakai latar Indonesia. Mungkin aku akan menuliskan kisah-kisah yang lebih urban dan modern, tetapi tetap dengan elemen-elemen serupa buku itu: violence, seks, hal-hal gaib—segala genre dongeng yang ada di sana.
Setelah Lelaki Harimau terbit kali pertama, aku mulai mengumpulkan banyak cerita demi proyek panjang Malam Seribu Bulan. Satu-satunya tantangan bagiku adalah aku tidak ingin menceritakannya seperti Syahrazad menceritakan Seribu Satu Malam. Setelah bertahun-tahun proyek itu jalan, aku mulai terlunta-lunta karena kehilangan arah, sampai akhirnya beberapa bagian dari proyek panjang itu aku putuskan untuk menjadi satu novel utuh yang berdiri sendiri. Bagian dari proyek itu adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan O.
Bagaimana gagasan awal tentang monyet bisa muncul di dalam novel O?
Sebenarnya monyet datang belakangan. O masih bagian dari proyek panjang Malam Seribu Bulan, tetapi bagian monyet baru muncul pada tahun 2012.
Ketika itu aku sudah punya anak dan anakku senang melihat topeng monyet, yang pada masanya masih diperbolehkan di Jakarta. Mulanya aku terpikir untuk menulis fabel tentang monyet, namun seiring jalan aku memutuskan, baiklah ini akan masuk saja ke proyek panjang itu. Ide membuat fabel anak-anak tentang kisah monyet kemudian buyar begitu saja.
Aku tidak punya satu rencana jelas ingin membuat novel apa. Aku jalan bersama banyak cerita yang aku kumpulkan. Gagasan dasarnya hanya: Akan ada banyak cerita yang bergabung menjadi sebuah novel. Aku mulai menulis dari awal satu persatu cerita. Beberapa akhirnya berakhir sebagai cerita pendek saja, yang juga masuk dalam kumpulanPerempuan Patah Hati yang Menemukan Kembali Cinta Melalui Mimpi.
Bayangan bentuk yang lebih utuh tentang satu novel baru mewujud ketika cerita tentang monyet itu bergabung.
O adalah novel multi-plot. Tapi apakah ada gagasan tunggal di dalamnya?
Gagasan tunggalnya adalah bahwa cerita tidak berdiri sendiri. Sebelum O, aku sudah membuat cerita multi-plot di Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, meskipun di sana ada satu plot yang lebih kuat yang menjadi tulang punggung sub-plot sub-plot lain.
Kemudian, dari kedua novel tersebut aku mencoba menarik satu hal, yaitu bagaimana sub-plot dan plot utama tidak memiliki posisi yang hierarkis—baik plot utama maupun sub-plot berada sejajar. Si monyet di O, meskipun namanya menjadi judul novel, sebenarnya hanya bagian dari banyak karakter yang ada di sana.
Soal karakter dalam fiksimu, ada tokoh polisi bernama Joni Simbolon di O yang ternyata juga pernah muncul di Lelaki Harimau. Kamu memang punya teman polisi?
Joni Simbolon itu memang nama polisi di Pangandaran.
Ada kalimat, “Manusia, dari sampah kembali ke sampah” di bagian akhir novel O. Kamu pesimistis dengan nasib umat manusia?
Aku tidak melihat dari konteks itu. Kalau soal pesimistis atau optimistis juga aku tidak tahu. Tetapi, gagasan kecil soal O adalah mengenai hidup yang berulang. Si monyet O yang setelah hidupnya berakhir sebagai monyet, ia akan menjadi manusia, walau monyet-monyet itu sebenarnya enggak pernah tahu bagaimana kelak nanti kalau mereka jadi manusia.
Mirip dengan kita yang mungkin sering bertanya: Setelah hidup sebagai manusia, lalu apa? Kita pun enggak pernah tahu. Kita hanya bisa menebak-nebak dan sok yakin, setelah mati nanti akan masuk surga atau neraka. Tidak ada yang pernah bisa membuktikannya. Sama dengan O yang tidak pernah bisa membuktikan saat menjadi manusia nanti seperti apa.
Kalimat yang ada di akhir cerita itu aku maksudkan sebagai coda, bagian yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan sebelumnya, tetapi mengulang info yang ada di awal. Aku memelesetkan kalimat penutup itu dari frasa terkenal “From dust to dust.” (Earth to earth, ashes to ashes, dust to dust).
Banyak hewan di dalam O. Kamu merasa terhubung dengan yang mana?
Burung kakaktua, yang menyuruh orang salat tapi dirinya sendiri kagak salat.
“Keyakinan bisa membunuh,” katamu di satu bagian O. Apa artinya ini?
Orang yang sudah yakin biasanya memang tidak membutuhkan bukti apapun untuk keyakinannya. Kalau sudah yakin, ya yakin. Menurutku, semestinya semua keyakinan harus dipertanyakan terus-menerus.
Kamu mencantumkan kalimat dari Animal Farm karya George Orwell di dalam O.  Saat menuliskan O kamu terpengaruh novel itu?
Kutipan yang aku letakkan dari Animal Farm itu semacam joke, meskipun memang ada paralelisme antara novel Orwell dan novelku. Orwell menulis fabel dan di novelku juga terdapat bagian yang berupa fabel, tetapi kalau dilihat lagi, struktur kedua novel tersebut amat berbeda.
Orwell menulis tentang totalitarianisme—binatang melakukan kudeta pada manusia, lalu menciptakan dunia totaliternya sendiri. Sementara di novelku, fabel beroperasi dengan terbalik. Binatang-binatang di dalam novelku sangat anarki. Kirik, misalnya, anjing yang tidak memiliki tuan dan tidak mempertuan siapapun.
Jadi, quote dari Animal Farm yang aku letakkan di dalam O itu semacam lelucon yang juga aku harap dapat membuat orang membaca atau membaca ulang novel George Orwell setelah membaca novelku dan kemudian membandingkannya.
(Kutipan dari Animal Farm itu: “Hewan-hewan di luar menoleh dari si babi ke manusia, dari si manusia ke babi, dan dari si babi ke manusia lagi: tapi sudah tak mungkin membedakan yang satu dari lainnya.)
“Dongeng selalu menjadi racun,” bunyi kalimat salah satu bagian novel O. Apakah ini visimu sebagai penulis? Caramu mengatakan bahwa novel yang menyenangkan dibaca itu novel yang berwujud seperti dongeng?
Sebetulnya kalimat itu adalah responsku buat novel Don Kihote. Don Kihote membaca novel-novel tentang kisah ksatria, dan saking tergila-gilanya dia sama novel-novel itu, dia menganggap dirinya sendiri ksatria, sehingga dia akhirnya keluar dengan membawa perisai, pedang, kuda, dan berkelana seperti ksatria di novel-novel yang dia baca.
Entang Kosasih seperti dicuci otaknya oleh dongeng-dongeng yang ia dengar. Sebagai penulis, kamu punya intensi mencuci otak pembacamu melalui novel-novelmu?
Tentu saja. Jika itu berhasil (tertawa). Aku rasa itu mirip seperti pertanyaan yang juga cukup sering diajukan orang: Apakah sebuah novel bisa mengubah dunia? Buatku, hal semacam itu penting nggak penting, tentang bisa atau tidak novel mengubah dunia. Tetapi, yang paling penting dan lebih bisa diusahakan adalah, bagaimana sebuah novel bisa mengubah cara orang melihat dunia. Karena ketika cara pandang orang terhadap dunia bisa berubah, dunia juga bisa berubah.
Apa tugas terbesar seorang penulis?
Ya, itu dia tadi, mengubah cara pandang orang terhadap sesuatu. Setiap orang punya gagasan dan cara melihat dunia. Bagaimana kita pada dasarnya saling mencoba mempengaruhi dalam memperlihatkan cara yang lebih baik untuk melihat hal-hal tertentu. Tentu saja masing-masing melakukannya dengan metode yang berbeda. Beberapa mungkin memilih cara yang straight to the point dengan mengatakan kamu harus begini dan harus begitu. Tetapi buatku, novel tidak beroperasi seperti itu. Novel masuk dan kemudian mengubah cara pandang seseorang tanpa orang itu menyadarinya.
Ada banyak novel bagus yang berhasil membuatku melihat dunia dengan cara yang berbeda. Salah satu kekagumanku terhadap Pram adalah dia berhasil membuatku melihat Indonesia dengan cara yang berbeda.
Dari novelmu yang pertama sampai yang sekarang, terlihat keinginan untuk terus mengubah gaya bercerita. Seberapa penting eksplorasi gaya menulis buatmu?
Bagiku, yang lebih penting adalah evolusi atau perkembangan. Perkembangan yang terjadi pada situasi, cerita, serta konteks sosial, politik, pengetahuan, intelektual, dan lain-lainnya menuntut perubahan-perubahan tertentu. Jika aku menuliskan Cantik itu Luka di masa kini, aku rasa bentuknya sudah pasti akan berbeda. Ada pengetahuan-pengetahuan baru dan cara-cara bercerita yang lebih baik, atau setidaknya lebih membuatku senang.
Perubahan gaya menulis bagiku sesuatu yang mengalir saja. Aku tidak, misalnya, mengharuskan diriku untuk terus berubah. Kalau aku merasa suatu cerita harus ditulis dengan cara yang sama seperti cerita sebelumnya, ya aku tulis saja.
Di beberapa novelmu, kamu menggunakan kampung halamanmu sendiri sebagai latar cerita. Apakah memang sebaiknya penulis mengambil materi tulisannya dari tempat ia tinggal?
Ketika menulis, yang paling penting kamu mengenal tempat yang sedang kamu tulis. Mengenal dalam artian kamu pernah berada di sana atau melakukan riset atas tempat itu. Kamu, kan, menulis untuk membuat orang lain percaya dengan apa yang kamu tulis—bahwa cerita tertentu terjadi di ruang dan waktu tertentu. Untuk membuat orang percaya, kamu harus meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu tahu pasti apa yang kamu tulis.
Tetapi, yang lebih perlu diperhatikan adalah apa pentingnya aku menulis dengan latar tempat tertentu. Jika suatu cerita bisa aku tulis menggunakan latar tempat yang aku lebih familiar, aku akan memakai tempat itu. Artinya, pemilihan latar tempat cerita harus memiliki konteks dan makna. Jangan sampai kita menuliskan tempat tertentu tidak lebih hanya karena kita menganggap tempat itu eksotis tanpa memberikan makna apapun terhadapnya, karena dengan demikian kita sudah melakukan semacam “kolonialisme baru”.
*
Bakda isya, sesi mengobrol dan tanya-jawab rampung. Sebelum beranjak dari lokasi acara, seorang peserta sempat menyampaikan rasa ingin tahunya kepada Eka dan bertanya apa yang Eka harapkan dari penulis-penulis yang datang dari generasi lebih baru. Eka menjawab, “Seperti aku menyukai buku-buku yang menggangguku, aku juga berharap dan menunggu akan ada buku-buku seperti itu. Buku-buku yang menawarkan cara pandang baru atas dunia dan membuatku memikirkan cara pandang tersebut.”*