29 September 2016

Delusi (Atas) Tuhan, Richard Dawkins




Tidak sebelum memasuki usia seperempat abad saya memiliki ketertarikan untuk membaca buku-buku tentang agama, tuhan, atau ketuhanan. Buku pertama yang saya baca adalah Sejarah Tuhan, Karen Armstrong. Saya menyukainya. Pengantar yang bagus untuk memasuki percakapan-percakapan dengan tema seperti itu. Buku itu, secara ringkas, adalah kumpulan informasi mendasar dan umum soal sejarah tiga agama samawi-Yahudi, Kristen, Islam-juga kepercayaan lain yang muncul sebelum maupun sesudah kelahiran tiga agama itu (paganisme dan ateisme).

Buku berikutnya yang saya baca adalah The God Delusion, Richard Dawkins (judul yang dipakai penerbitnya masih berbahasa Inggris). Sama seperti buku Karen Armstrong, saya membaca buku ini dalam terjemahan bahasa Indonesia. Juga sama seperti Karen Armstrong, saya tidak punya pengetahuan awal tentang sosok Richard Dawkins. Saya mengetahui latar belakang pendidikan Dawkins dan siapa dirinya seiring membaca buku tersebut. Saya hanya tahu buku ini populer (dan belakangan baru tahu ternyata juga kontroversial).

Karena satu-satunya referensi yang saya punya akan buku bertema agama dan ketuhanan adalah Sejarah Tuhan, mau tidak mau saya sering membandingkan The God Delusion dengan buku itu, dan membangun ekspektasi saya berdasarkan buku itu. Saya mengira Richard Dawkins membahas tema serupa dalam lingkup yang sama dengan Karen Armstrong di Sejarah Tuhan, hanya menggunakan cara pembahasan yang berbeda. Tetapi, perkiraan ini keliru.

*

Richard Dawkins secara tegas menyatakan dirinya ateis dan mendorong orang-orang (setidaknya yang membaca bukunya) untuk meninggalkan agama. Dalam The God Delusion, Dawkins memaparkan argumen-argumen yang menyatakan bahwa keyakinan akan keberadaan Tuhan adalah sebentuk igauan (delusi). Tak ada alasan logis dan kuat untuk terus mempertahankan keyakinan akan adanya Tuhan.

Dalam mengatakan hal tersebut, Dawkins menggunakan teori evolusi Darwin. Ia mendekati permasalahan-permasalahan (yang ada dalam tubuh) agama dengan cara pandang Darwinian. Dawkins juga memaparkan alasan-alasan apa saja yang dipakai orang-orang berkeyakinan (believer) demi mendukung keyakinan Tuhan itu ada, dan apa yang menurut Dawkins sangat keliru tentang alasan-alasan itu.

Berbeda dengan Karen Armstrong yang meleburkan seluruh referensi teorinya ke dalam narasi yang enak dibaca, penjelasan Dawkins diselingi kutipan sumber lain di sana-sini. Kadang-kadang sulit melacak opini asli Dawkins karena kerap kali ia mengutip teori orang-orang lain sebagai pendukung maksudnya, tanpa berusaha memasukkannya ke dalam elaborasi yang mulus seperti Armstrong lakukan. Meski demikian, nada bicaranya yang keras dan tajam buat saya sangat menghibur, sehingga saya tetap bisa menyelesaikan seluruh buku tanpa macet.

*

Saya memasuki buku The God Delusion Dawkins sebagai pembaca dan pemeluk sebuah agama. Dalam hal ini, Islam. Sehingga saya setengah berharap Dawkins membahas Tuhan yang diyakini orang-orang Islam. Sayangnya untuk yang satu ini saya harus agak kecewa.

Dawkins sedikit sekali menyinggung agama Islam, saking sedikitnya hingga bisa dianggap tidak ada. Hampir seluruh isi The God Delusion ditulis Dawkins untuk orang-orang Kristen. Dawkins melontarkan kritik pedas terhadap keyakinan pemeluk agama Kristen, muatan injil, para pendeta, dan gereja sebagai institusi. Tentang Islam, Dawkins seakan sengaja menghindar untuk tidak menyentuhnya (kabarnya Dawkins takut, tapi saya belum mencari lebih jauh tentang ini)

Jadi, kadang-kadang seiring membaca, saya tidak merasa buku ini ditujukan buat saya. Berbeda dengan Sejarah Tuhan yang membahas cukup banyak soal Islam, baik itu sekilas sejarah Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT-Tuhan dalam konsepsi orang-orang Islam-maupun muatan kitab sucinya: Al-Quran. Kritik Karen Armstrong mengena di pikiran saya sebagai seorang muslim. Sementara celaan dan sergahan Dawkins tidak sungguh-sungguh menyentuh batin saya, karena saya bukan orang Kristen.

Tetapi, pendapat-pendapat Dawkins tetap menarik bagi saya sebagai seorang believer, dan terus terang kebanyakan pendapatnya yang masuk akal. Saya kira, tujuan Dawkins menulis The God Delusion adalah untuk membuka “kesadaran” manusia-dalam bahasa Dawkins, menyingkap burka-menggunakan sains, demi memperlihatkan bahwa apa yang selama ini diyakini manusia sebagai Tuhan tidak lebih dari sebuah delusi. Lebih jauh lagi: bahwa manusia sebenarnya tidak butuh Tuhan (dan atau agama) untuk menjadi manusia baik dan menjalani kehidupan yang baik.

*

Salah satu bagian yang menarik bagi saya adalah ketika Dawkins berkata bahwa sebaiknya anak kecil tidak dicekoki orangtuanya hal-hal mengenai agamanya. Kira-kira begini bunyi bagian itu: “Seorang anak bukan anak Islam, atau anak Kristen, atau anak Yahudi, melainkan anak dari orangtua yang Islam, Kristen, atau Yahudi.” Menurut Dawkins, anak-anak tak selayaknya dibebani label agama sampai mereka dapat berpikir dan memilih untuk dirinya sendiri.

Saya tidak berniat bersepakat atau menentang pendapat-pendapat Dawkins di tulisan ini. Saya hanya ingin menggambarkan apa yang ditulis Dawkins di dalam bukunya. Bagi saya topik ini adalah pencarian panjang, yang belum tentu ada ujungnya, tetapi saya senang menjalaninya. Saya senang berbicara dengan orang yang punya ketertarikan serupa terhadap tema-tema agama dan ketuhanan. Tapi tidak di tulisan saya sendiri. Belum.

Ketika baca The God Delusion, saya teringat saat suatu hari mengunggah foto Sejarah Tuhan di Instagram. Seseorang semacam curhat di kolom komentar foto itu dan berkata bahwa temannya menuduh dia sudah berubah jadi ateis hanya karena temannya menemukan ia membaca buku tersebut. Saya sama sekali tidak merasa Sejarah Tuhan punya kemampuan mengubah seorang teis jadi ateis. Buku Dawkins lebih punya kekuatan untuk tujuan itu. Semata-mata karena dia terang-terangan mendorong pembacanya meninggalkan agama dan keyakinan terhadap Tuhan mereka, tak seperti Armstrong yang hanya memberi kronologi.

Kalau sudah pernah baca Sejarah Tuhan sebagai pengantar, The God Delusion bisa jadi bacaan lanjutan yang bagus. Tentu memasuki bukunya harus dengan santai. Kalau gampang tersulut, baru masuk pembukaan barangkali sudah tidak berselera lagi untuk melanjutkan sampai selesai. Rileks saja dan ikuti apa yang coba disampaikan Dawkins. Secara personal, saya menganggap The God Delusion buku yang penting dibaca, terutama bagi para teis (agnostik dan ateis kayaknya sudah tidak butuh baca ini lagi-tetapi Dawkins beberapa kali juga memberi kritik kepada rekan-rekannya yang ateis)

Alih-alih menjadi ateis, sebagaimana saya kira yang paling diharapkan Dawkins dari pembaca The God Delusion, saya malah jadi pengin baca buku-buku Biologi. Dulu, sebagai anak IPA, Biologi mata pelajaran yang paling saya sukai. Saya bahkan sempat mengikuti tes masuk universitas dan mengambil program studi MIPA Biologi. Hal yang paling menarik dari Biologi adalah, saya belajar tentang diri saya sendiri. Tubuh saya sendiri. Apa yang tampak dari luar sebagai sesuatu yang sederhana, ternyata di dalamnya begitu rumit dan hampir-hampir ajaib.


Kegemaran belajar Biologi itu membuat saya semakin lama semakin takjub pada siapapun (atau apapun) yang menciptakannya. Karena satu-satunya nama yang saya tahu adalah Tuhan, maka semakin lama belajar Biologi semakin saya kagum sama Tuhan. Rada-rada kontradiktif dengan harapannya Dawkins ya?

22 September 2016

Mencari yang Terbaik dalam Ketidakterbatasan



Saya berusia 12 tahun ketika pertama kali naksir seseorang. Teman satu sekolah. Saya menyukainya karena terbiasa melihatnya di kelas, kantin, dan lapangan. Ia tidak sangat cantik, tetapi pintar. Di usia 13 tahun, saya naksir adik kelas. Sayang sekali tidak sempat pacaran karena saya telat nembak. Waktu SMA, saya naksir beberapa kali dengan adik kelas, teman seangkatan, maupun kakak kelas. Semua berada di sekolah yang sama. Saya tidak punya referensi lain selain apa yang bisa saya lihat sehari-hari di sekolah.

Semua itu terjadi dalam kurun tahun 2001-2007. Saya hanya punya ponsel Nokia 8250, tanpa internet maupun media sosial. Tidak ada Facebook dan Twitter. Ada Friendster, tetapi saya bukan pengguna setia. Orang-orang yang saya taksir saya temukan di dunia nyata, di dalam ruang lingkup kegiatan sehari-hari: sekolah.

Pilihannya tentu saja terbatas, tetapi saya tidak memikirkan hal itu. Gadis-gadis idola di sekolah hampir pasti sudah ditaksir oleh teman-teman atau senior yang lebih tampan dan populer. Saya tidak masuk ke dalam dua kategori tersebut. Saya cowok biasa anggota ekskul kelompok debat bahasa Inggris, tidak bisa main basket dan bukan pengurus paskibra; tidak juga badass seperti anak-anak siswa pencinta alam. Saya tidak punya daya tawar untuk menggaet cewek-cewek cantik populer di sekolah. Praktis, jika pengin punya pacar, saya cuma bisa nekat cari perhatian ke mereka yang belum digaet senior. Ini membuat pilihan semakin terbatas.

Saya akhirnya punya pacar. Adik kelas yang konon menyukai saya ketika melihat saya menabuh triol saat pameran ekskul drum band. Kami pacaran tiga tahun.

*

Sepuluh tahun kemudian, empat mantan dan empat patah hati kemudian, benda asing bernama Internet dan media sosial yang kini tidak asing lagi dan menjadi kebutuhan primer manusia, telah mengubah seseorang yang tadinya hanya bisa naksir orang-orang di lingkup kegiatannya di dunia nyata-sekolah, kampus, kantor-menjadi seorang pengembara yang dapat menemukan cinta di mana pun ia ingin, tanpa terkekang batasan-batasan geografis.

Saya yang berada di Yogyakarta bisa jatuh hati pada seorang gadis berkacamata yang sedang membaca buku dan minum kopi di satu sudut coffee shop di Jakarta, atau seorang mahasiswi yang menunggu bus di sebuah halte di Jerman. Selama kami berada di dalam Internet, kami saling terkoneksi, lebih-lebih jika kanal-kanal media sosial kami saling terhubung. Praktis tidak ada batasan pencarian calon jodoh.

Perubahan seperti ini sangat membantu bagi seseorang seperti saya yang tidak punya ruang lingkup tertentu untuk bersosial dan berkegiatan. Saya penulis, tiap hari bekerja hanya dengan laptop dan bloknot; tanpa manusia. Saya tidak punya teman kantor sehingga mustahil bisa cinta lokasi. Seakan itu belum cukup parah, saya juga penyendiri. Saya punya banyak teman yang tinggal sekota tetapi jarang hangout. Sesekali mungkin, tetapi saya bukan jenis yang menghabiskan hari-harinya dalam sebuah kumpulan, baik itu untuk pekerjaan maupun bersuka-ria.

Dari mana saya bisa dapat pacar jika tidak pernah bertemu manusia di dunia nyata? Zaman digital menjawabnya: Internet dan media sosial, saudara-saudara.

*

Apakah dengan eksis di Twitter, Facebook, dan Tinder, otomatis seseorang bisa lebih mudah mendapatkan jodoh ketimbang ketika ia hidup di zaman ketika hal-hal itu belum ada? Jawabannya ternyata rada kontradiktif dengan kemungkinan-kemungkinan menyenangkan yang jejaring sosial tersebut tawarkan.

Jika kamu punya uang satu juta rupiah dan ingin membeli sepatu di sebuah toko yang hanya menyediakan dua jenis pasang sepatu yang keduanya seharga satu juta, kemungkinan kamu akan memilih satu dari mereka. Tetapi ketika kamu tahu bahwa ada toko lain, dalam jumlah sangat banyak hingga tidak terbatas, yang menyediakan sepatu seharga serupa dengan jenis-jenis lebih beragam lagi, kemungkinannya adalah kamu tidak akan buru-buru menyerahkan satu juta milikmu kepada toko pertama. Kamu menunggu kesempatan datang ke toko lain dan menemukan jenis yang lebih baik atau terbaik bagimu (atau seleramu).

Kesadaran bahwa ada pilihan lain di luar sana membuat kita tidak bisa dengan segera menentukan pilihan. Bahkan setelah kita merasa bahwa pilihan yang ada di hadapan kita sudah terbaik. Kita akan berpikir, “Jangan-jangan ada yang lebih terbaik lagi.” Jika benar terbukti demikian, bukankah kita telah menyia-nyiakan waktu bersama seseorang yang kita kira sudah terbaik padahal tidak lebih baik dari kemungkinan lain yang bisa kita dapatkan?

*

Sebagian dari kita barangkali akan merespons ilustrasi barusan dengan berkata: “Yang terbaik selalu ada, tetapi kita harus tahu kapan berhenti.” Pernyataan yang harus saya akui terdengar amat bijak, meskipun di sisi lain rada menjebak. Sikap seperti itulah yang memunculkan kasus-kasus di mana seseorang bertahan pada hubungan yang tidak membahagiakannya. Dia telah berhenti, pada yang ia kira sudah terbaik. Sementara akal pikirannya tahu persis dunia begitu luas dan di dalamnya ada terlalu banyak pilihan lebih baik yang, ia juga tahu, bisa dicapai.

Pilihan yang sempit membuat seseorang lebih mudah memilih. Pilihan yang tak terbatas membuat seseorang terjebak dalam kerangka berpikir bijaksana yang mengatakan kepadanya bahwa ia harus berhenti di satu orang, pada waktu yang sama menyadari bahwa ada lebih banyak pilihan yang bisa dan sangat mungkin diperoleh.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Saya, sih, pragmatis saja. Seorang teman pernah berkata, jika sedang bergembira, zoom in kegembiraanmu dan nikmati detailnya, tetapi jika bersedih, zoom out dari kesedihanmu untuk melihat “gambar besar” yang telah dirancang sangat baik oleh Tuhan-dengan kata lain, diam-diam Tuhan sudah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagimu dan karenanya kamu tidak perlu bersedih.

Saya mengubah sedikit kerangka berpikir tersebut dengan meletakkannya pada konteks mencari jodoh di zaman digital. Hasilnya kira-kira begini: Jika sudah dan sedang punya pacar yang di dalam hubungan itu kamu berbahagia, maka nikmati detailnya dan lupakan bahwa mungkin ada seseorang di luar sana yang jauh jauh jauh lebih baik daripada pacarmu.

Namun, jika kamu bersedih karena baru saja putus atau ditolak oleh seseorang yang sangat kamu sukai, ingat bahwa di zaman Internet kamu tinggal log in ke Twitter atau Tinder untuk menemukan sosok yang, saya berani bertaruh segelas double shots iced shaken espresso atau lebih mahal lagi, lebih menarik dari orang yang dengan tega hati memutuskan atau menolak cintamu.

Dunia ini sempit sekaligus luas, luas tetapi sempit dalam pengertiannya masing-masing. Agar dapat menikmatinya, jadilah seorang Cancer yang fleksibel-untuk tidak menyebut plin-plan-sehingga bisa menyesuaikan pengaturan cara pandang terhadap dunia berdasarkan situasi-situasi tertentu yang sedang ia alami. Kalau takdir sudah sedemikian jahat tidak melahirkanmu sebagai Cancer, maka kamu masih bisa mengubah hidupmu jadi lebih baik, yakni dengan jatuh cinta kepada seorang Cancer.


***

15 September 2016

Mencungkil Peluru dan Bertahan Hidup




Ketika kamu mencintai seseorang, sulit membayangkan hidupmu tanpa dirinya. Di pikiranmu, hanya ada satu kehidupan, yakni kehidupan yang di dalamnya ada dia. Tidak ada versi lain. Tidak mungkin ada. Tetapi saya katakan dengan tegas: kamu bisa hidup tanpa orang yang kamu cintai.

Sebagai orang yang perasa, rasa-rasanya mustahil kalimat barusan terlontar dari mulut saya. Keterikatan emosional membuat saya benar-benar bergantung pada hubungan yang sedang saya miliki. Namun, pengalaman lima kali pacaran telah membuktikan bahwa betapapun saya berkata tidak bisa hidup tanpa seseorang yang sangat saya cintai, pada akhirnya saya bisa. Saya masih bernapas setelah kehilangan. Saya masih berkarya. Saya bahkan kembali berbahagia.

Seorang teman pernah berkata, ketika mencintai seseorang, kamu adalah budak. Kamu menjadi budak bagi perasaanmu sendiri. Bagi rasa takut kehilangan, yang membuatmu melakukan apapun yang diperlukan demi mempertahankan orang yang kamu cintai. Walau kamu tahu hubunganmu dengan dia tidak berkembang ke arah yang lebih baik, kamu tetap akan mempertahankannya, karena kamu takut kehilangan. Kamu tidak ingin membayangkan rasanya terbangun di pagi hari tanpa sapaan “Selamat pagi…” atau telepon dari seseorang yang bermakna bagimu.

*

Cinta membawa jebakan-jebakannya sendiri. Mereka bilang kamu tidak boleh melepaskan seseorang yang mencintaimu dan kamu cintai. Benarkah begitu? Apa mereka tahu bahwa dua orang bisa saling mencintai dan melukai sekaligus? Bagaimana dengan cinta dan hubungan yang seperti itu, apakah kita tetap harus mempertahankannya? Kalau iya, untuk berapa lama? Seumur hidup?

Bagi saya, sebuah hubungan (relationship) sama seperti kehidupan itu sendiri, harus tumbuh dan berkembang. Mulai dari bibit, tunas, berbatang, berbunga, dan berbuah. Setelah berbuah, ia tetap tumbuh: memperkuat batang, memperdalam akar, melebatkan daun-daun, dan menyuburkan bunga-bunga dan buahnya. Tak boleh stagnan. Hubungan yang stagnan seperti tanaman yang gagal berkembang. Mencintai seseorang saja sudah tindakan gila. Mempertahankan hubungan yang stagnan, itu lebih gila.

Contoh hubungan yang stagnan: masalah serupa muncul berulangkali. Bahkan keledai hanya jatuh dua kali di satu lubang (pada beberapa keledai lain mungkin lebih). Tentu saya tidak ingin menjadi keledai dan punya hubungan yang seperti keledai. Saya ingin berada dalam hubungan yang, jikapun ada masalah (dan pasti ada masalah; hubungan yang tak ada masalah bukanlah sebuah hubungan) selalu berbeda dari waktu ke waktu, dan lebih esensial.

Kata Agnes Monica, cinta kadang-kadang tak pakai logika. Amin. Tapi, pada suatu titik saya akan mengambil lagi otak yang saya tinggal di dalam lemari pakaian, dan menimbang-nimbang apakah cinta ini masih layak dipertahankan? Apakah hubungan dengan pacar saya ini masih bertumbuh dan berkembang? Ataukah sudah mentok dan berputar-putar lagi di masalah yang itu-itu saja? Apakah kami berdua bisa tidak lebih saling menyakiti lagi di masa depan?

*

Hubungan terakhir saya bertahan dua setengah tahun. Dia perempuan luar biasa dan menyenangkan. Dia senang membaca buku, gemar menulis, menyukai sastra sebagaimana diri saya. Dia seperti anak kecil yang manja, manis, menggemaskan di waktu-waktu tertentu, dan menjadi perempuan dewasa bijak dan tenang di waktu-waktu lain. Dia Scorpio, memahami sepenuhnya sifat sensitif dan tingkah aneh seorang Cancer seperti saya. Hanya dia yang mengerti cara saya berpikir, dan hanya dia yang tertawa pada lawakan-lawakan absurd saya.

Saya sangat mencintainya sebagaimana dia mencintai saya.

Tetapi saya tetap harus melepaskannya, sebagaimana dia melepaskan saya.

“Kamu bisa mencintai sesuatu dan tetap harus membiarkannya pergi.” Itu dialog seorang figuran dalam cerita pendek seorang penulis Israel yang saya sukai. Saya termenung membaca kalimat itu. Ternyata cinta tidak memberi legitimasi pada kita untuk terus-terusan mempertahankan seseorang, sehingga pertanyaan aneh seperti: “Kok kalian putus? Kan, masih sayang.” harusnya masuk ke dalam kitab daftar hal-hal usang yang tidak relevan, sejenis dengan pertanyaan kapan kawin.

Mencintai adalah satu hal, berada dalam relationship hal lain. Kamu tidak bisa cuma bermodal cinta untuk punya hubungan langgeng sampai mati. Saya cinta pacar saya, tetapi saya tidak bisa menghindari hal-hal yang melukainya. Begitu pula dengan dia. Pada awalnya kami masih percaya diri bisa menangani masalah ini. Tetapi selalu ada akhir bagi sesuatu, termasuk daya tahan dan kesabaran.

Mencintai seseorang sembari terus-terusan melukainya adalah bentuk terburuk dari cinta. Kamu bisa berada di posisi keduanya: yang dilukai atau melukai. Saya, barangkali, mengambil peran yang terakhir. Saya tidak bisa melihat pacar saya bersedih karena saya tidak mampu mengontrol pikiran-pikiran saya. Saya tidak ingin memerangkapnya dengan asumsi-asumsi dan ketakutan saya sendiri. Saya tidak mau menarik kakinya, apalagi mematahkan sayapnya yang sedang terbang ke tempat-tempat yang lebih jauh dan dia inginkan.

Saya ingin dia terus terbang tinggi, tetapi barangkali lebih baik jika dia terbang tanpa saya.

*

Penting bagi saya mengambil waktu untuk merenungi hubungan yang sedang saya miliki. Salah satu pertanyaan yang akan saya ajukan ke diri sendiri adalah: apakah saya menghambat ia bertumbuh? Jika ya, barangkali saatnya menguatkan hati dan melepaskannya pergi. Mungkin jatah perjalanan saya dengannya sampai di sini saja. Tentu saja pertanyaan tadi bisa dibalik. Apakah dia menghambatmu bertumbuh?

Ada banyak keputusan berat yang harus diambil sepanjang hidup, salah satu dari yang paling berat adalah melepaskan seseorang yang kamu kira sudah terbaik. Kamu tidak bisa membayangkan ada orang yang lebih memahami ambisi dan mimpi-mimpimu sekaligus terhibur oleh lawakan-lawakanmu yang garing. Tidak ada orang yang lebih bisa menggila, membicarakan hal remeh-temeh, sekaligus mendiskusikan makna kehidupan selama berjam-jam di telepon denganmu.

Namun, saat keputusan harus diambil, jadilah orang berani. Tentu saja rasanya sakit. Hanya orang bodoh atau punya kelainan fungsi saraf-saraf sensorik yang bisa bilang putus cinta dan patah hati rasanya biasa saja. Kamu tidak akan baik-baik saja. Kamu akan bersedih ketika genggamanmu pada akhirnya harus kamu kendurkan, dan lepaskan. Tetapi untuk sembuh, peluru di paha prajurit harus dicungkil besi panas dan kaki yang terkena ranjau musti diamputasi.

Tidak ada yang lebih melegakan daripada membuang racun di tubuhmu. Kamu juga harus paham jangan-jangan kamu yang jadi racun bagi dia. Jika kamu telah menyadarinya dengan baik, jangan berlama-lama. Segera lepaskan. Kamu tidak berhak memerangkap seseorang yang kamu cintai dalam hubungan yang tidak membuatnya bertumbuh, begitu pula sebaliknya.

Seperti seorang prajurit yang tubuhnya bersarang belasan peluru, kamu akan tetap hidup setelah peluru-peluru itu dicungkil dan dibuang. Sakit, hampir mau mati, bahkan kamu berharap nyawamu dicabut-tetapi kamu akan bertahan. Kamu akan melihat kehidupan lain yang di dalamnya tidak ada orang yang kamu cintai. Kehidupan dalam bentuk yang sedikit berbeda. Kehidupan yang jangan-jangan lebih indah dan lebih baik bagimu, juga bagi dia.


***

6 September 2016

Tidak Benar-Benar Sendirian (Etgar Keret)

Diterjemahkan dari buku Suddenly, A Knock on the Door

*

Tiga laki-laki yang pacaran dengannya pernah mencoba bunuh diri. Ketika menceritakan hal tersebut, ia terdengar sedih, tetapi juga agak bangga. Satu dari mereka bahkan berhasil melakukannya: melompat dari atap gedung fakultas humaniora. Tubuhnya ambyar tak keruan, walaupun jika dilihat dari agak jauh dia tampak utuh, bahkan sepertinya mati dengan tenang. Ia tidak ke kampus di hari pemuda itu mati. Teman-temannya yang memberi kabar.

Kadang-kadang, saat ia sedang di rumah sendirian, ia bisa merasakan kehadiran pemuda itu; di ruang tamu bersamanya, memperhatikannya. Ketika itu terjadi, mula-mula ia merasa agak takut, tetapi ia senang. Karena ia tahu bahwa ia tidak benar-benar sendirian.

Aku? Oh, ia sangat menyukaiku. Suka, tetapi tidak tertarik. Dan hal itu membuatnya sedih, seperti aku yang bahkan merasa lebih sedih. Karena ia sangat ingin tertarik dengan orang sepertiku. Seseorang yang pintar, santun, dan sungguh-sungguh mencintainya.

Setahun ini ia punya affair dengan pedagang barang seni yang usianya lebih tua. Laki-laki itu sudah menikah dan sama sekali tidak berencana cerai dari istrinya. Kepada laki-laki itulah, ia tertarik. Jahat sekali. Jahat bagiku dan jahat baginya.

Hidup akan lebih simpel andai saja ia tertarik padaku.

*

Ia mengizinkanku menyentuhnya. Kadang-kadang kalau punggungnya sakit, ia bahkan memintaku melakukannya. Saat aku memijatnya ia akan memejam dan tersenyum. “Enak,” ia bilang, “enak banget.”

Sekali waktu, kami bahkan bercinta. Usai merenunginya, ia bilang itu kesalahan. Sebagian dari dirinya terlalu menginginkan hubungan kami berhasil sehingga ia tidak berpikir panjang. Tetapi wangiku, tubuhku, sesuatu di antara kami tidak bisa klop. Ia sudah empat tahun kuliah psikologi dan tetap tak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Pikirannya menginginkanku, tetapi tubuhnya enggan.

Memikirkan momen bercinta kami malam itu membuatnya sedih. Banyak hal yang membuatnya sedih. Ia masih seperti kanak-kanak. Hampir seluruh masa kecilnya ia lalui sendirian. Ayahnya sakit, sekarat, lalu meninggal. Ia tidak punya abang yang bisa mengerti dirinya, yang bisa mengemongnya. Aku satu-satunya yang bisa ia anggap abang. Aku, dan Kuti; itu nama laki-laki yang lompat dari gedung fakultas  humaniora.

*

Ia bisa mengobrol selama berjam-jam denganku tentang apapun. Ia bisa tidur denganku, melihatku tanpa pakaian, dan berada di sekitarku tanpa pakaiannya. Tidak ada hal apapun di antara kami yang membuatnya malu. Bahkan ketika aku masturbasi di sampingnya. Walaupun meninggalkan noda di seprei, dan itu membuatnya sedih. Sedih karena ia tak bisa mencintaiku, tetapi jika hal tersebut bisa membuatku merasa baikan, ia rela membersihkan noda itu.

Sebelum ayahnya wafat, mereka berdua sangat dekat. Ia dan Kuti juga dekat. Kuti jatuh cinta padanya. Aku satu-satunya orang yang dekat dengannya yang masih hidup. Namun, pada akhirnya aku mulai kencan dengan gadis lain, dan ia kembali sendiri. Ia tahu, ini pasti terjadi. Dan ketika betul-betul terjadi, ia bersedih. Sedih pada dirinya sendiri, tetapi juga bahagia untukku karena aku menemukan cinta.

Saat aku keluar, ia mengusap wajahku dan berkata bahwa meskipun ia merasa sedih, ia juga tersanjung. Tersanjung, karena di antara seluruh perempuan yang ada di dunia, ia satu-satunya yang aku bayangkan ketika aku masturbasi.

*

Pedagang barang seni yang tidur dengannya juga, dia lebih pendek dariku dan berbulu lebat. Entah di mana menariknya. Dia tentara Netanyahu, dan berteman dengannya. Benar-benar berteman. Kadang, saat dia mengunjungi pacarku, dia bilang kepada istrinya bahwa ia pergi ke tempat Bibi-Netanyahu itu sendiri.

Suatu hari, ia tidak sengaja bertemu laki-laki itu bersama istrinya di mal. Jarak mereka cuma beberapa langkah. Ia tersenyum kepada laki-laki itu; senyum tipis dan diam-diam. Laki-laki itu mengabaikannya; melihatnya tetapi seperti tidak melihat apa-apa. Seakan-akan ia hanya udara kosong.

Ia mengerti laki-laki itu tidak bisa membalas senyumnya atau menyapanya karena istrinya ada di sana, tetapi tetap saja rasanya menyakitkan. Ia berdiri sendirian di sebelah telepon umum dan mulai menangis.

Malamnya adalah malam ketika kami bercinta untuk kali pertama. Usai merenunginya, ia bilang itu kesalahan.

*

Empat laki-laki yang pacaran dengannya pernah mencoba bunuh diri. Dua dari mereka bahkan berhasil melakukannya. Keduanya adalah laki-laki yang paling ia pedulikan. Mereka dekat dengannya, sangat dekat, seperti abang kandung.


Kadang-kadang, saat ia sedang di rumah sendirian, ia bisa merasakan kehadiran kami; di ruang tamu bersamanya, memperhatikannya. Ketika itu terjadi, mula-mula ia merasa agak takut, tetapi ia senang. Karena ia tahu bahwa ia tidak benar-benar sendirian.