24 November 2016

Pemesanan Awal Elegi Rinaldo



Novel terbaru saya, Elegi Rinaldo, sudah bisa dipesan (pre-order) di beberapa toko buku daring. Untuk pemesanan awal yang berlangsung 24 November - 9 Desember ini, tersedia 300 buku bertandatangan. Bukunya sendiri baru akan masuk toko-toko buku jaringan sekitar akhir Desember.

Berikut adalah daftar toko buku yang melakukan pre-order Elegi Rinaldo. Kamu bisa memesan novel saya di salah satunya (klik nama toko buku):

Demabuku (IG: @demabuku)

19 November 2016

Buku Bagi Penggila Buku




Saya senang membaca buku. Dari banyak hal yang saya senangi-memotret, mendengar musik, mengendus seprei baru, membersihkan kipas angin, makan, minum kopi, berbincang santai, berdiam diri, memandangi orang-membaca buku adalah hal yang paling saya senangi. Jika saya membuat daftar tentang hal-hal menyenangkan dalam hidup saya, tanpa ragu saya akan meletakkan “buku” di urutan teratas.

Sebagai orang yang senang membaca buku, saya ingin orang-orang lain juga suka membaca buku. Namun, ternyata gampang-gampang susah untuk menunjukkan kepada orang lain betapa menyenangkannya membaca buku. Lebih susah lagi memberitahu mereka yang tidak punya hobi membaca buku tentang bagaimana setumpuk kertas yang dijilid, seperti kata Carlos María Domínguez dalam novela Rumah Kertas, “…mengubah takdir hidup orang-orang.”

Barangkali saya kurang pandai menunjukkan ke teman-teman saya bagaimana buku merupakan salah satu benda paling menyenangkan di dunia. Saya sekadar berkata bahwa baca buku itu asyik. Mereka tidak bisa memahami hanya dengan penjelasan tersebut. Itu bahkan bukan sebuah penjelasan. Gimana lagi dong? Baca buku itu emang asyik. Kadang saya merasa enggak perlu menjelaskan lebih jauh karena bagi orang yang suka baca buku penjelasan saya enggak diperlukan, dan bagi yang enggak suka baca buku, penjelasan saya enggak berguna.

Tapi, sekarang saya sudah punya alat bantu. Sebuah buku bagus berjudul Rumah Kertas karya penulis Amerika Latin, Carlos María Domínguez (judul asli bukunya La casa de papel, bahasa Inggris: The House of Paper). Bukunya tipis sekali, hanya 76 halaman. Namun, after effect-nya seperti habis membaca novel 700 halaman.

Karena novelnya sangat tipis, jadi kurang bijak jika saya memberi tahu tentang ceritanya. Jika saya mengatakannya tidak akan ada lagi yang tersisa untuk anda baca. Sebagai gambaran umum kira-kira begini saja: Seorang laki-laki menerima kiriman buku, tapi karena merasa pengirimnya salah alamat, ia menelusuri jejak si pengirim untuk mengembalikan bukunya, dan dalam penelusurannya itu ia menemukan cerita-cerita yang menakjubkan.

(Gambaran di atas tidak begitu akurat, tetapi kalau saya bikin lebih akurat lagi saya terpaksa memberi spoiler)

Saya merasa novela Rumah Kertas adalah buku yang ditulis dari dan untuk para pencinta buku. Orang-orang yang senang membaca buku akan memahami apa yang sedang disampaikan si penulis dalam buku tipis ini. Tidak, senang adalah kata yang kurang akurat. Gila, mungkin lebih tepat. Orang-orang yang gila buku, yang tidak hanya senang membaca buku tetapi juga mengoleksinya, menumpuk, mengendus; orang-orang yang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli dan memburu buku; orang-orang yang rela kelaparan asal masih bisa membaca buku; orang-orang seperti ini niscaya akan merasa terwakili perasaannya oleh buku Carlos María Domínguez.

Novela pengarang asal Buenos Aires, Argentina ini diterjemahkan dengan sangat enak oleh Ronny Agustinus (saya lebih senang memakai kata enak daripada baik untuk menggambarkan hasil terjemahan). Sebelum Rumah Kertas saya membaca dua-tiga buku terjemahan Ronny Agustinus, semuanya fiksi karya para penulis Amerika Latin. Ketika awal memutuskan akan membeli buku ini pun salah satu alasannya karena penerjemahnya Ronny.

Jadi, apakah buku ini bisa dinikmati oleh mereka yang tidak amat suka membaca buku? Atau setidaknya, tidak sampai gila dengan buku? Saya kurang yakin. Tapi mungkin saja dengan membaca Rumah Kertas anda jadi bisa membayangkan mengapa ada orang-orang yang gila dengan setumpuk kertas dijilid dan dijual dengan harga mahal yang terlihat tidak memberikan manfaat apa-apa selain dua sampai lima jam waktu tersia-siakan di atas tempat tidur, bangku kafe, atau sofa ruang tamu.

Ada banyak referensi buku yang disebut penulisnya dalam Rumah Kertas. Lewat dialog-dialog antartokohnya, nama-nama seperti Dostoyevsky, Conrad, Tolstoy, Faulkner, Hugo, beserta karya-karya mereka menjadi bahan diskusi utama yang juga menjadi bagian dari inti atau tujuan untuk apa buku ini ditulis. Banyak juga sindiran pedas terhadap dunia sastra serta para pelakunya (termasuk industri penerbitan), yang meskipun konteksnya terjadi di Buenos Aries, menurut saya sangat relevan dengan situasi di Indonesia, dan barangkali juga di negara-negara lain.

Supaya saya tidak dianggap pelit, saya kasih secuil percakapan dari buku Rumah Kertas. Dari sini anda bisa membayangkan kira-kira bagaimana isi bukunya. Part yang saya ambil ini terjadi saat protagonis bertemu seorang pencinta buku yang merupakan sahabat dekat dari orang yang sedang ia cari.

“Berapa banyak buku yang Anda punya?” tanyaku.

“Jujur saja, saya sudah berhenti menghitung. Tapi saya rasa pasti ada sekitar delapan belas ribu. Sejauh yang saya ingat, saya sudah lama membeli buku di sana sini. Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka.”

“Saya kurang begitu paham,” sahutku.

“Anda tambahkan terus buku-buku ke rak dan kelihatan banyak, tapi kalau boleh saya bilang, itu cuma ilusi. Kita ikuti tema-tema tertentu, dan sesudah suatu waktu, kita temukan bahwa kita sedang merumuskan dunia; atau bila Anda suka, bahwa kita sedang menapak tilas jejak-jejak sebuah perjalanan, dan untungnya jejak-jejak tersebut masih bisa kita lestarikan. Ini tidak gampang lho. Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. Kendati harus saya akui bahwa pembacaan saya sendiri sangat terbatas. Saya perlu membaca semua catatan yang ada di sebuah buku untuk menjernihkan makna tiap-tiap konsep, jadi sulit bagi saya untuk duduk membaca buku tanpa ditemani dua puluh buku lain di sampingnya, kadang hanya untuk menafsirkan satu bab saja secara utuh. Tapi tentu saja, justru kerepotan inilah yang memukau saya.”

Ia menyungging senyum tahu-sama-tahu yang membuatku ikut tersenyum.

Sepanjang membaca Rumah Kertas, saya seolah-olah saling bertukar senyum tahu-sama-tahu dengan Carlos María Domínguez. Anda tahu, kan, rasanya ketika ketawa bareng teman gara-gara jokes internal yang hanya dimengerti oleh kita sendiri? Rumah Kertas seperti 76 halaman jokes internal yang hanya dimengerti oleh para pencinta buku. Itu tadi sebab saya bilang bahwa Rumah Kertas seperti buku yang ditulis oleh dan untuk para pencinta buku. Tidak, para penggila buku.


Namun, bukan tidak mungkin buku ini juga memikat orang-orang yang tidak gila buku. Ingat bahwa Rumah Kertas ditulis oleh pengarang Amerika Latin, dan saya belum pernah membaca buku jelek dari pengarang Amerika Latin. Cara mereka menulis sangat efektif, diksi dan kalimatnya akurat, seringkali penuh humor, dan demi alasan-alasan tersebut buku bagus ini menjadi lebih menyenangkan lagi untuk dibaca. ***

17 November 2016

Buku Baru! Elegi Rinaldo




Buku saya ke-10. Novel keempat. "Elegi Rinaldo" terbit bulan depan (Desember 2016), Falcon Publishing. Elegi Rinaldo sudah bisa dipesan pracetak (pre-order) di toko buku daring berikut:

Demabuku (IG: @demabuku)


Kredo Keret




Salah satu ranjau darat yang diletakkan penulis bagi pembacanya adalah narasi yang terlalu panjang dan sia-sia. Kita bisa mati di sana. Bukan mati terhormat, tapi mati konyol. Seperti mati terinjak lumpur isap yang di baliknya tumpukan kotoran sapi. Sudah konyol, bau pula. Seorang penulis bisa menghabiskan sepuluh halaman novelnya dengan narasi amat panjang yang tidak mengatakan apa-apa. Tuhan melindungi kita dari penulis-penulis semacam ini (jika penulis itu saya, semoga Tuhan melindungi anda sekalian)

Untunglah Tuhan baik. Ia turunkan Etgar Keret sebagai nabi para pencerita yang membawa sepuluh perintah. Sembilan perintah terakhir tidak penting. Perintah pertama yang paling krusial: Dilarang menyia-nyiakan kata-kata. Itu yang Etgar Keret lakukan dan beri contoh kepada siapapun yang ingin menjadi pencerita. Ketika orang lain membuat novel tebal yang dipanjang-panjangkan, Keret tahu perbuatan tersebut adalah dosa besar, sehingga apa yang bisa ia ucapkan dalam satu paragraf, ia sampaikan lewat satu paragraf saja.

Penyakit lain yang dimiliki penulis selain tidak tahu kapan harus memulai adalah kapan harus berhenti. Banyak cerita bagus yang memuakkan hanya karena tidak diakhiri dengan tepat. Penulisnya merasa pembaca terlalu dungu untuk paham apa yang ingin ia sampaikan, atau memang dasarannya ia tidak tahu bagaimana cara menutup mulut. Tidak seperti Keret. Keret tahu betul kapan harus berhenti bicara.

Sejauh ini saya membaca tiga kumpulan cerita Keret. Buku yang terakhir saya baca, Suddenly, A Knock on the Door, buat saya yang terbaik. Ini buku kedua terbaru dari Keret sebelum memoar The Seven Good Years. Secara bentuk tidak jauh beda dengan dua kumcer sebelumnya, The Bus Driver Who Wanted to be God dan The Girl on the Fridge. Masih super pendek, ringkas. Tapi di buku ini Keret menyampaikan gagasannya dengan jauh lebih efektif, mengena, dan ibarat peluru senapan penembak jitu, daya hancurnya lebih besar dari yang pernah ada.

Ada 35 cerita di buku ini. Pembukanya, “Suddenly, A Knock on the Door” tentang penulis yang ditodong tiga orang laki-laki dengan pistol dan dipaksa menulis cerita. Saya kira cerita pembuka ini adalah kredo kepengarangan Keret. Bukan hanya tentang tekanan dari luar yang memaksa ide-ide kreatif (bikin saya mau tidak mau teringat pada dongeng Syahrazad yang bercerita di bawah ancaman hukum penggal raja Syahriar), tetapi juga ada clue di dalamnya tentang mengapa Keret memilih menuliskan cerpen-cerpennya sangat pendek, terkadang absurd, imajinatif, dan mengandung unsur fantasi. Itu semua pilihan yang berasal dari pengalaman Keret hidup dalam situasi di Israel.

Lihat salah satu dialog menarik ini dalam cerita tersebut (saya terjemahkan ke bahasa Indonesia): “Ayolah, beri kami cerita. Yang pendek-pendek aja, gak usah beranalisis. Hidup udah susah, tahu. Pengangguran, bom bunuh diri, orang-orang Iran. Semua orang butuh hal lain. Kau pikir kami ke rumahmu ini kenapa? Kami desperate, tahu. Desperate!”

Si penulis, sang protagonis cerita, berdeham dan mengulang karangannya. Tiba-tiba salah satu dari penodong kembali protes. “Oi, itu bukan cerita. Itu laporan pandangan mata. Kau cuma ngasih tahu apa yang saat ini sedang terjadi. Kami setengah mati menjauh dari hal-hal itu-dari kenyataan-tahu tidak? Jangan kau limpahkan kami dengan cerita kenyataan kayak mereka itu sampah. Pakailah imajinasimu itu. Ciptakan hal baru.”

Cerpen-cerpen Keret kadang-kadang memang terasa seperti eskapisme. Israel hadir dalam cerpen-cerpennya dengan beragam sisi konflik yang ia miliki, tetapi mereka senantiasa diiringi humor, absurditas, situasi-situasi komikal, dan unsur-unsur fantasi yang membuat mereka bergeser dari jalan realisme. Ternyata itu bukan sebuah kebetulan, seperti saya catat tadi.

Kemarin saya menonton wawancara Keret di Youtube. Pewawancara, Michael Chabon, memberi pertanyaan-pertanyaan sederhana dan menarik. Selain nama “Etgar” yang ternyata unik bagi orang Israel, Chabon juga membahas tentang salah satu cerpen Keret berjudul “Lieland” (ada di buku Suddenly, A Knock on the Door). Premis cerpen itu: tentang kebohongan. Ketika kita berbohong, ada dunia lain yang hadir paralel sebagai manifestasi dari kebohongan-kebohongan kita.

Bagi Keret, kebohongan merupakan sesuatu yang esensial. Hidup dalam situasi konflik perang membuat Keret menyadari apa makna sebuah penghiburan. Lie, kebohongan, menjadi eskapisme.

“Suatu hari aku naik pesawat yang turbulensi parah. Aku duduk di sebelah perempuan Italia. Aku bilang kepadanya bahwa aku teknisi pesawat, dan kita sedang naik pesawat paling aman di dunia. Aku berbohong. Tapi perempuan yang tadinya berteriak-teriak histeris itu jadi tenang dan kemudian ia berterima kasih.” Di video lain yang saya tonton, Keret menceritakan pengalamannya berbohong. “Jenis kebohongan seperti ini, aku tidak keberatan melakukannya. Kalaupun hari itu pesawat kami jatuh dan kami mati, buatku lebih baik mati setelah seseorang di sampingmu mengatakan hal-hal baik, daripada mati dalam kondisi histeris.”

Cerpen-cerpen Keret adalah kebohongan-kebohongan yang menghibur. Tentu saja di antara kebohongan-kebohongan tersebut kita tetap bisa melacak realitas. Tetap ada duka kematian karena perang, kehilangan orang yang dicintai, bahkan perceraian. Bukankah cerita yang bagus seperti itu? Menyodorkan serangkaian kebohongan, situasi-situasi yang dikarang belaka, untuk menyampaikan secuil kebenaran dan realitas? Yang barangkali kita semua sudah tahu, tetapi rasanya akan berbeda jika realitas itu masuk kembali ke kesadaran kita melalui cerita.

Cerita favorit saya di buku Suddenly, A Knock on the Door adalah “Pick a Color”. Menurut saya ini cerita terbaik tentang rasisme. Apapun yang berkaitan dengan konflik identitas terangkum dalam dan terwakili dengan sangat baik oleh cerita ini.

Kadang-kadang cerita Keret tidak menyampaikan gagasan apapun, selain ingin membawa kita ke sebuah petualangan ringkas yang menyenangkan. Saya kira itu bentuk paling murni dari cerita. Kita tenggelam dalam cerita itu sendiri tanpa perlu mencari tahu apa sebenarnya yang ingin disampaikan si pencerita. Karena memang tidak ada. Membaca cerita seperti mengupas bawang bombay untuk pertama kali dan penasaran ada apa di intinya. Jawabannya: tidak ada apa-apa.


Namun, selesai membaca cerita-selesai mengupas sisik-sisik bombay-kita tanpa sadar bisa berurai airmata. Ada efek samping yang hadir. Tidak lagi penting apa sesungguhnya yang ingin disampaikan sebuah cerita, karena cerita itu sendiri sudah mengubah satu bagian dari diri kita sebagai manusia. ***

15 November 2016

Berbohong Cara Etgar Keret

"Kebohongan itu seperti pisau. Kalau kau pakai pisau buat menusuk orang, ya itu salah. Tapi kalau pisau itu kau pakai pisaumu untuk mengoles mentega ke roti, enggak ada yang salah dengan itu.

Saya pernah suatu kali terbang dari Berlin ke Milan. Turbulensinya sangat parah. Penerbangan yang buruk sekali. Lalu, saya dengar seorang perempuan menangis, dan berteriak dalam bahasa Italia. Dia pakai baju dengan simbol salip. Saya berharap ada pramugari menghampirinya dan menenangkan perempuan itu. Namun, pas saya lihat ke belakang, dua pramugari semuanya menangis.

Perempuan tadi terus menangis histeris dan berteriak-teriak. Saya pikir, harus ada yang berbuat sesuatu.

Saya lihat kursi di sebelah perempuan itu kosong. Saya buka seat belt, saya pindah ke sebelahnya, saya pasang seat belt. Saya genggam tangan perempuan itu dan saya bilang ke dia:

'Coba liat saya, saya keliatan ketakutan tidak?'

'Tidak,' kata perempuan itu. 'Kenapa Anda tidak ketakutan?'

'Karena saya teknisi penerbangan, dan saya tahu kita sedang naik pesawat paling aman di dunia. Kita akan baik-baik saja.'

Perempuan itu masih menggenggam tangan saya, tapi sekarang dia sudah bisa mengatur napas.

'Tuhan mengirim Anda untuk saya,' katanya. 'Berapa kemungkinannya dari setiap hari dalam hidupku, bisa bertemu seorang teknisi penerbangan di pesawat dalam keadaan seperti ini?'

-

Inilah jenis kebohongan yang saya tidak keberatan melakukannya. Saya pikir, kalaupun saat itu pesawat kami kecelakaan, meninggal dalam kondisi histeris tidak lebih baik dibanding meninggal setelah mendengar seseorang di sampingmu mengatakan kebohongan yang menenangkan."
-->




14 November 2016

Metafora Padma, The Jakarta Post (14/11)


"'I think that a strong story comes from something that is actually experienced by its writer,' he said.

The short stories [in Metafora Padma] are fictional, but are inspired by true events, such as the deadly ethnic conflict between the Dayak and Madurese people in 1996 in Anjongan village in Pontianak, West Kalimantan; his place of birth.

The title, Metafora Padma, is taken from one of the 14 short stories. It's about a rendezvous between a woman named Padma, who witnesses 1996 bloody conflict, and a man, who later realizes that the woman he talks to is a ghost.

For Bernard, writing about a ghost was not without reason.

'When I was little, I lived in a village where mystical things and supernatural beings existed,' he said."

Metafora Padma: A journey back in time, The Jakarta Post (14/11).