31 Desember 2016

20 Buku Terbaik 2016

Dibanding dua hingga tiga tahun sebelumnya, tahun ini saya membaca lebih sedikit. Jauh lebih sedikit. Sepertinya semakin tahun jumlah buku yang saya baca semakin berkurang. Saya enggak tahu apa alasannya. Mungkin karena tahun ini saya lebih banyak menulis, atau menonton film (saya menonton kurang-lebih seratus film). Barangkali saya memang sedang malas saja. Saya juga membeli buku lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, saya tetap gembira karena hampir semua buku yang saya baca tahun ini adalah buku-buku bagus. Menurut statistik di Goodreads tempat saya mencatat buku-buku yang saya baca, saya membaca 38 buku. Saya nyaris memutuskan tidak lagi membuat daftar buku terbaik tahun ini karena sulit memilih beberapa dari seluruh buku yang saya baca sebagai buku terbaik, karena bagi saya hampir semuanya bagus. Namun, toh saya tetap membuat daftar ini, karena tradisi blog ini saja.

Sebelumnya saya sudah membuat tulisan Dosa Besar yang Membuat Saya Berkeliling Dunia, semacam usaha merekomendasikan buku-buku favorit saya dengan cara yang agak berbeda. Namun, akhirnya saya merasa ingin memilih buku-buku paling bagus dari daftar favorit saya itu. Maka jadilah tulisan ini. Berikut daftar 20 buku terbaik yang saya baca di tahun 2016, lintas genre mulai dari fiksi, puisi, hingga nonfiksi:





Tahun ini saya menantang diri sendiri untuk membaca karya sastra klasik. Bayang-bayang bahwa karya sastra klasik itu berat dan membosankan ternyata runtuh oleh buku pengarang besar Rusia ini. Saya mulai membacanya setelah terlebih dahulu menonton Karamazovi, film tahun 2008 karya sutradara Ceko, Petr Zelenka. Usai menonton film itu saya langsung tertarik baca novelnya. Ternyata novelnya sangat seru. Ceritanya tentang parricide, pembunuhan yang terjadi di dalam keluarga oleh anggota keluarga sendiri (dalam hal ini keluarga Karamazov). Saya menyukai karakter-karakternya dan percakapan-percakapan di novel ini. Perbincangan mengenai moral, ketuhanan, dan skandal percintaan mendominasi salah satu karya terbaik Fyodor Dostoyevsky ini.



Saya menggemari Orhan Pamuk sejak tahun lalu ketika selesai membaca novelnya My Name Is Red. Semenjak itu saya mencari dan membaca buku-bukunya yang lain. Buku ini salah satu karya nonfiksinya. Berisi kuliah umum yang ia sampaikan di sebuah universitas atas permintaan seorang temannya. Pamuk menceritakan tentang apa yang ia lihat dari sebuah novel ketika menjadi pembaca, dan apa yang ia pikirkan ketika menulis novel. Berangkat dari esei Schiller tentang puisi dan seni, Pamuk membuat teorinya tentang novel menggunakan cara pandang yang sama: naive dan sentimental. Buku ini sangat menarik bagi siapapun yang ingin belajar membaca dan menulis novel memakai kacamata seorang pemenang nobel kesusastraan.

Belum pernah saya merasa sepuas ini membaca novel Indonesia. Raden Mandasia bikin perhatian saya terjerat sejak paragraf pembuka dan saya tidak bisa melepaskan novel ini tanpa memikirkannya. Adegan-adegannya sangat filmis, bikin saya membayangkan sebuah film laga kolosal, dengan humor yang meledak di sana-sini. Petualangan Sungu Lembu dan Raden Mandasia bikin saya memimpikan memiliki perjalanan seru serupa bersama seorang sahabat, tentu saja di tengah-tengahnya saya berharap bertemu seorang Nyai Manggis. Buku ini mengembalikan kesenangan murni membaca cerita yang telah lama hilang dari diri saya. Barangkali salah satu novel Indonesia terbaik yang pernah saya baca seumur hidup. Ini tidak berlebihan.

Terjemahan bahasa Indonesia dari Timequake (1997). Saya muntah empat kali sepanjang membaca buku ini, enggak bohong. Vonnegut bikin saya ngakak dari awal sampai akhir, mulai dengan ejekannya pada karya Ernest Hemingway hingga teka-teki tentang kotoran burung. Ceritanya sendiri bernuansa fiksi sains. Cara menulis Vonnegut yang seperti bermain-main mungkin salah satu hal yang membuat buku ini sangat menghibur. Selera humor Vonnegut ampun-ampunan. Leluconnya gelap. Ia meledek perang dan lain-lainnya, sembari menekankan betapa pentingnya peran sebuah keluarga besar.

Buku lain dari Kurt Vonnegut yang bikin saya ngakak. Kali ini ceritanya rada waras. Masih bernuansa fiksi sains, tentang perburuan komponen kimiawi yang bisa membekukan cairan dan menciptakan kiamat. Tendensi Vonnegut untuk bermain-main dengan topik yang serius dan menggunakan cara pandang yang humoris dalam melihat sesuatu adalah hal yang paling saya sukai dari penulis Amerika satu ini. Selain membahas perang, di Cat's Cradle Vonnegut juga menyinggung tentang agama dan Tuhan.

Terjemahan Indonesia dari In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos (2005), tentang reportase Richard semasa penugasannya di Indonesia dalam kurun 1996-1998. Richard Lloyd Parry adalah koresponden luar negeri untuk The Independent. Dalam buku ini ia melaporkan dengan sangat detail peristiwa konflik di Jakarta, Papua, dan Kalimantan Barat jelang turunnya Soeharto. Saya membaca buku ini ketika melakukan riset literatur untuk Metafora Padma. Membaca buku Richard seperti membaca novel, karena deskripsinya sangat filmis dan cara bertuturnya sangat enak dibaca, meskipun tentu saja peristiwa yang ia laporkan begitu kelam dan menyedihkan. Salah satu bacaan penting tentang 1998.

Kumpulan cerita pendek tentang cinta. Buat saya, Raymond Carver salah satu contoh paling baik penulis yang menulis cerita cinta, karena ia begitu subtil. Carver tidak menjual drama dan menyampaikan konflik di antara tokoh-tokohnya secara eskplisit, melainkan memberi situasi-situasi yang membuat kita mengerti bahwa sedang terjadi masalah. Cerita-ceritanya terkesan sederhana, tetapi di dalamnya terdapat konflik yang kompleks, seperti cinta itu sendiri.

Memoar tentang kota Istanbul dari kacamata penulis yang tinggal di sana selama tidak kurang dari setengah abad. Dalam suatu wawancara, Orhan Pamuk pernah berkata bahwa penulis-penulis lain mendapatkan inspirasinya dari bepergian ke negara-negara lain, sementara Pamuk selama lima puluh tahun tidak pernah keluar Turki. Ia melihat Istanbul sebagai kota yang diselimuti melankoli, kota yang masih menyimpan sisa-sisa keagungan masa lalu, menolak kalah, tetapi tidak dapat menghindar dari keruntuhan dan kesenduan yang membungkusnya. Seperti buku Pamuk yang lain, buku ini bikin saya memasukkan Turki sebagai negara yang sangat ingin saya kunjungi sebelum saya mati.

Penulis yang paling banyak saya baca bukunya tahun ini. Saya membaca lima kumpulan cerita pendek Keret dan satu memoarnya. Buku memoar ini adalah yang terbaik. Keret menggunakan kelihaiannya bercerita untuk menuturkan fragmen-fragmen menarik dalam hidupnya. Tujuh tahun yang dimaksud dalam memoar ini adalah tahun-tahun di antara kelahiran anak pertama Keret dan kematian ayahnya. Periode yang, disebut Keret sebagai "Masa di mana saya merasakan menjadi ayah dari seorang anak dan anak dari seorang ayah". Saya berkali-kali tersentuh oleh cerita-cerita Keret di buku ini. Optimisme dari seorang sinis yang mengharukan dan humor yang menyenangkan adalah dua dari sekian hal yang saya sukai di buku ini.

Terjemahan Indonesia dari La casa de papel (2002), novela penulis Argentina Carlos Maria Domínguez. Buku dari dan untuk para pencinta buku. Sama seperti buku-buku penulis Amerika Latin lainnya, tidak ada satu halaman pun yang membosankan dari buku ini. Misteri dan percakapan-percakapan tentang buku di dalam buku ini bikin saya ketawa dan haru di saat yang sama. Penerjemah Ronny Agustinus bekerja dengan sangat baik, tidak ada kata-kata atau kalimat yang membingungkan sepanjang saya menikmati membaca novela ini. Novela terbaik setelah Pedro Paramo.

Buku yang menegaskan tentang kekejaman Tuhan, seenggaknya saya melihatnya demikian. Ini buku pertama yang saya baca dari penulis Brazil. Saya tidak punya banyak penulis perempuan favorit, dan karena novel tipis ini Lispector masuk ke dalam daftar penulis perempuan favorit saya. Ia menulis tentang seorang gadis lugu di perkampungan Brazil bernama Macabéa, dan bagaimana gadis tersebut menemui ajalnya.

Etgar Keret dari versi negara seberang. Hassan Blasim menyajikan cerita-cerita brutal tentang perang di Irak. Kadang-kadang cerita-ceritanya bernuansa sureal, sama seperti cerita-cerita Keret. Saya sering menyarankan kepada beberapa orang teman untuk membaca kumpulan cerita pendek Etgar Keret dan Hassan Blasim berdampingan. Sensasinya unik. Saya membeli buku ini tanpa pikir panjang setelah membaca cerita pembukanya, tentang sekumpulan teroris yang tidak ingin menyebut diri mereka teroris, melainkan pelaku seni, karena mereka membunuh dan memajang mayat-mayat di seantero kota layaknya membuat sebuah pameran. Kumpulan cerita yang brutal dan penuh ironi.

Buku yang mengubah cara pandang saya terhadap agama, Tuhan, dan ketuhanan. Buku yang bagus, tetapi tidak cukup ampuh untuk membuat saya jadi seorang ateis. Richard Dawkins memaparkan dengan teratur (seringkali disertai rujukan pendapat orang-orang lain) beragam alasan mengapa menurutnya Tuhan tidak lebih dari sebentuk delusi di dalam kepala manusia. Salah satu buku yang penting dibaca bagi siapapun yang sedang berada dalam pencarian Tuhan dan kebenaran agama.

Novel Indonesia kedua terbaik setelah Raden Mandasia. Absurd seabsurd-absurdnya, tetapi sangat menyenangkan untuk dibaca. Ditulis dengan cara bertutur orang gila, dalam format buku nonfiksi panduan (how to) dan dilengkapi beragam gambar, tabel, dan grafik yang sama ngawurnya, yang berisi ejekan dan kritik terhadap banyak hal, di antaranya peran pegawai negeri sipil dan gaya hidup manusia modern. Novel yang bikin kamu merasa hidupmu baik-baik saja sebelum membacanya.

Novela tentang cinta dan obsesi. Meskipun isinya serius, tapi saya berkali-kali ngakak bacanya, karena merasa punya kesamaan dengan Juan Pablo Castel, pelukis yang terobsesi sama seorang perempuan dan overthinking abis. Dia enggak berbuat banyak tapi pikirannya luar biasa bawel. Paranoid dan terlalu banyak pertimbangan daripada beraksi. Meskipun buat saya menghibur, tapi sebenarnya novela ini tragis dan depresif.

Saya enggak pernah menyangka bahwa selain punya dunia hiburan yang sangat sukses, Korea juga punya sastra yang keren. Kemenangan Han Kang dalam penganugerahan Man Booker Prize International 2016 (menyingkirkan Orhan Pamuk, Kenzaburo Oe, dan Eka Kurniawan) adalah salah satu buktinya. Meminjam prolog The Metamorphosis Kafka, Kang menuturkan cerita seorang perempuan usia tigapuluhan yang mengalami perubahan signifikan di dirinya, dalam usaha membersihkan bekas-bekas kekerasan yang pernah terjadi di masa lalu. Sedikit informasi kecil: Han Kang sendiri hanya pernah jadi vegan, sekarang ia sudah makan daging demi alasan kesehatan.

  • Sergius Mencari Bacchus, Norman Erikson Pasaribu
Buku puisi Indonesia terbaik yang terbit tahun ini. Norman mengangkat tema-tema LGBT dengan bentuk pengucapan yang belum pernah saya lihat, semacam campuran antara puisi dan prosa, tetapi kian menarik karena ia sering menggunakan kata-kata yang barangkali tidak dianggap cukup puitis untuk dimasukkan ke teks puisi. Gaya bahasanya segar, jauh dari bikin ngantuk. Norman menulis puisi-puisi menggunakan kosakata dari masa kini dan alusi yang jauh ke belakang hingga abad ke-4. Penyair muda yang bikin saya optimistis sama masa depan dunia puisi Indonesia.

Cerita tentang laki-laki India yang ingin membebaskan diri dari jerat kemiskinan. Gaya bertutur Aravind Adiga yang selengean dan bertabur umpatan bikin saya merasa seperti sedang membaca The Wondrous Life of Oscar Wao, Junot Díaz. Novel ini menyenangkan sekali, dan sangat page-turner. Aravind Adiga memperlihatkan sisi kelam India, dan di beberapa tempat saya bahkan merasa seperti sedang membaca cerita tentang Indonesia.

Terjemahan Indonesia dari La Pyramide atau Piramida (1992) karya penulis Albania, tentang pembangunan piramida baru oleh firaun muda yang berubah dari tidak menginginkan simbol kekuasaan apapun, menjadi terobsesi dengannya. Kadaré menekankan topik ironi kekuasaan lewat firaun Cheops dan kesengsaraan serta kebanggaan warga Mesir yang terlibat dalam pembangunan piramid tersebut. Buku yang bikin saya berkali-kali nahan napas membayangkan piramid yang gigantik dan kekacauan berdarah yang berlangsung dalam proses pembuatannya.

Kumpulan cerita terfavorit saya tahun ini. Cerita-cerita Lahiri tentang India sangat sederhana dan universal, sehingga membuat saya sangat mudah merasa related dengan manusia-manusia yang ia kisahkan. Lahiri sangat detail dalam menggambarkan suasana dan saya menyukainya. Konflik dalam cerita-ceritanya hadir begitu subtil, sekaligus intens. Selain cerita yang menjadi judul buku ini, cerita lain yang saya sukai adalah A Temporary Matter, karena bikin saya teringat pada masa kecil ketika seisi kompleks mati lampu dan kami bermain-main di luar rumah. Karena buku ini juga, saya memasukkan Jhumpa Lahiri ke daftar penulis perempuan favorit saya, dan saya berencana membaca buku-bukunya yang lain tahun depan.

- - -

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang juga penikmat buku bertanya kepada saya, "Kamu ingin baca apa tahun depan?" Saya sempat berpikir sejenak karena tidak bisa segera menjawab. Saya tidak punya target khusus selain berharap bisa membaca lebih banyak buku bagus. "Mungkin ingin baca karya-karya klasik lagi," jawab saya akhirnya. Semoga saja harapan itu tercapai. Tapi kalian tahu lah saya ini Cancer. Saya senang berencana tapi enggak merasa masalah kalau menyeleweng dari rencana awal untuk memberi ruang bagi hal-hal menarik yang datang. Maksudnya, saya bisa saja membuat daftar membaca tahun 2017, tapi sangat mungkin di tengah-tengah saya membaca buku lain yang tidak pernah masuk daftar tersebut. Intinya, sih, fleksibel saja.

Kalau kalian, bagaimana buku-buku bacaan kalian tahun ini? Apakah kalian membuat daftar seperti ini? Buku-buku apa yang ingin kalian baca tahun depan? Share di kolom komentar ya.

Selamat tahun baru!


28 Desember 2016

Dosa Besar yang Membawa Saya Keliling Dunia




1

Dari daftar tujuh dosa besar, rasa iri adalah dosa yang seperti mendarah-daging di dalam diri saya. Saya gampang merasa iri dengan hal-hal yang menurut saya keren. Saya iri pada orang-orang yang bisa menyanyi, melukis, bermain musik, dan jago sepakbola. Saya iri pada orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak saya miliki. Lebih parah lagi, saya masih merasa iri pada orang-orang yang punya ketertarikan sama dengan saya. Misalnya orang-orang yang senang baca buku dan menulis. Saya iri pada teman-teman saya yang bacaannya lebih bagus dan menulis lebih baik.

Untungnya, rasa iri itu jarang menghancurkan saya. Alih-alih, justru membuat saya ingin melakukan apa yang mereka lakukan. Dalam hal ini membaca buku-buku bagus. Sebenarnya baru tiga tahun belakangan saya mulai membaca “buku-buku bagus” (mari tidak berdebat sekarang tentang bagus, kapan-kapan saja lah kalau kita bertemu langsung). Terhitung terlambat kalau dibandingkan teman-teman saya yang sudah membaca buku-buku bagus sejak zaman kuliah.

Ketika pertama mengetahui keberadaan buku-buku bagus, jujur saja, ada sejenis perasaan ingin mengejar ketertinggalan. Saya membuat daftar buku yang ingin dan harus saya baca. Semacam pekerjaan rumah yang harus saya selesaikan. Iri pada teman-teman yang memulai lebih dulu petualangan mereka, saya bertekad menyusul, memangkas jarak, hanya sampai saya menyadari bahwa sebenarnya tidak pernah ada kompetisi dalam membaca.

Demi mengejar ketertinggalan itu, saya mewajibkan diri sendiri untuk membaca setiap hari. Saya membuat kurikulum sepanjang satu tahun. Saya memberi tugas kepada diri sendiri. Namun, bukan berarti saya jadi tidak menikmati kegiatan membaca. Saya tetap menikmatinya, dan sesekali saya melenceng dari program atau jadwal membaca yang sudah ditetapkan. Misalnya ketika ada buku terbitan baru yang lebih menarik ketimbang melanjutkan membaca War and Peace.


2

Penyakit iri berikutnya adalah iri kepada mereka yang sering jalan-jalan ke luar negeri. Saya sangat ingin jalan-jalan ke luar negeri, tapi apa boleh buat, duit saya sudah disiapkan dan ditabung untuk hal lain yang menurut saya lebih penting. Jadi saya baca buku saja. Meskipun belum bisa melihat Istanbul secara langsung, saya cukup senang membaca memoar Orhan Pamuk, Istanbul, dan jalan-jalan ke sudut-sudut kota tersebut yang, menurut kacamata Pamuk, dipenuhi melankolia.

Dari Istanbul, saya terbang ke Tel Aviv. Melalui cerita-cerita Etgar Keret di buku-bukunya: The Bus Driver Who Wanted to be God, Suddenly A Knock on the Door, The Nimrod Flip Out, Missing Kissinger, dan The Seven Good Years, saya melihat dua laki-laki menodongkan pistol ke seorang penulis di apartemennya dan bom meledak di badan jalan di sekitar Ramat Gan; sepasang suami istri menelungkup di tepi pedestrian, menjepit anak laki-laki mereka yang bersorak sorai “Aku suka pastrami! Pastrami sangat hebat!”

Merasa cukup dengan Israel, saya terbang sejauh 3.500 kilometer menuju Rusia. Di sana, saya bertemu tiga bersaudara Karamazov. Alyosha atau Alexey, Dmitri, dan Ivan. Ketika saya bertanya ke salah satu dari mereka, Dmitri menjawab bahwa mereka sedang rusuh dengan sang ayah, Fyodor Karamazov, perkara harta warisan dan macam-macam. Baiklah. Hal terakhir yang ingin saya lakukan di Rusia adalah mengobrol dengan seseorang yang lagi mabuk dan marah. Meski saya tertarik berbincang-bincang dengan Ivan. Tapi sedari tadi dia diam saja dan tampak tidak berminat pada apapun.

Saya tinggalkan The Brothers Karamazov dan Fyodor Dostoyevsky. Rugi sekali rasanya kalau tidak mengobrol dengan siapapun di Rusia. Jadi, saya mencoba menemui Anton Chekhov di sebuah rumah sakit jiwa. Ternyata dia sedang asyik berbalas-balasan argumen dengan seseorang di Ruang Inap No. 6. Saya nguping saja karena tidak ingin mengganggu. Chekhov memberi Pengakuan pada orang itu dan sebaliknya juga. Ah, orang-orang Rusia terlalu serius. Saya jadi kangen ketemu Keret.

Merasa ingin mendengar sesuatu yang lucu, saya mengingat-ingat pesan seorang teman. Katanya, ada pelawak yang sangat kocak di Amerika. Namanya Vonnegut. Kurt Vonnegut. Dari Eropa saya menyeberang ke Amerika. Namun, sial betul, di langit pesawat yang saya tumpangi terkena Gempa Waktu. Saya jadi harus balik ke Rusia dan membeli tiket pesawat lagi dan check-in lagi dan naik pesawat yang sama lagi untuk kali kedua. Untungnya, sesampainya di Amerika, Tuan Vonnegut sendiri yang menjemput saya di bandara. Bukannya ngajak makan atau nawarin ngopi, dia malah mainan karet gelang di depan saya dan bertanya: Do you know why this is called Cat’s Cradle? Although, there’s no damn cat, and there’s no damn cradle.

Ah, embuh lah.

Saya langsung males dan beli tiket lagi untuk pergi dari Amerika. Ke mana ya? Sepertinya saya pengin ke India. Dulu waktu SMA saya sering nonton Bollywood, sampai naksir berat dengan Kajol dan Rani Mukerji. Jadi saya membuat janji temu dengan seorang perempuan. Namanya Jhumpa Lahiri. Meski dia mengaku dirinya orang Amerika, tapi tetap saja dia tidak bisa melepaskan hal-hal tentang India dari dirinya. Kami mengobrol cukup panjang. Dia orang yang melankolis dan serius, tapi juga menyenangkan. Saya bertanya tentang kabar Pak Kapasi. Apakah dia masih jadi pemandu wisata dan penerjemah? Ia tersenyum, berkata bahwa nanti Pak Kapasi yang akan mengantar kami berkeliling.

Celotehan Lahiri tentang Interpreter of Maladies membuat saya terhanyut, tapi saya harus lekas beranjak. Masih banyak tempat yang ingin saya kunjungi. Kami berpisah dan berjanji untuk bertemu kembali kelak.

Karena kebanyakan minum, saya kebelet. Saya masuk ke toilet bandara. Tiba-tiba seorang laki-laki yang sedang kencing di sebelah saya berbicara. “Gimana India, enak? Tempat ini kayak kandang ayam, kau tahu gak. Semua orang ingin bebas. Aku ingin bebas.” Saya tanya dia siapa. “Aravind Adiga, itu nama saya.” jawabnya sembari menaikkan risleting celana. Kami tidak bersalaman tentu saja. Saya tersenyum kepadanya. Ketika kami sama-sama mencuci tangan di wastafel, saya melirik ke pantulan wajahnya di cermin. Alih-alih menemukan wajahnya, di cermin muncul kepala harimau putih. “Gimana, kau suka The White Tiger?” kata harimau dengan jas itu. “Sangat suka,” jawab saya. Dia nyengir puas dan keluar dari toilet.

Saya memasang headphone dan mendengar lagu-lagunya Blackpink. Saya sudah memutuskan, saya akan ke Korea. Tiba di bandara Incheon, saya naik taksi dan minta diantar ke Institut Seni Seoul. Di sana, saya bertemu Han Kang yang baru saja selesai mengajar. Dia tersenyum ramah sekali. Iseng-iseng saya tanya, sudah berapa lama dia jadi vegetarian? “Belum lama, kok,” katanya. Dia tertawa rendah campur malu-malu ketika saya membahas tentang The Vegetarian yang menang penghargaan internasional. “Tapi aku tetap makan daging sedikit, demi alasan kesehatan,” ujar Kang. Buat saya, ia sosok yang menyenangkan dan misterius.

“Kamu pernah ke Brazil, enggak?” saya tanya Kang. Ia menggeleng. Saya bilang saya akan ke Brazil. Korea pernah bikin sulit Brazil di piala dunia. Semenjak itu saya menyimpan ketertarikan pada Korea. Kang mengaku dia enggak mengikuti perkembangan sepakbola. Saya tersenyum maklum.

Dari Korea Selatan, saya terbang ke Brazil-17.000 kilometer. Nyaris seharian penuh di pesawat bikin pantat saya pegal. Tidak pakai basa-basi, saya diajak jalan-jalan Clarice Lispector ke sudut-sudut suburban Brazil. “Omong-omong,” saya tiba-tiba penasaran, “anda sudah wafat, kan?” Lispector terbahak. Sembari mengembuskan asap rokok, ia berkata: “Apa aku tampak mati bagimu?” Saya mengamati wajahnya, rahangnya yang tegas, dan bibirnya yang mengerucut. “Anda cantik sekali,” kata saya tanpa sadar. Ia terbahak sekali lagi. Setelahnya, ia bercerita tentang Macabéa, gadis kecil dalam The Hour of the Star.

“Kenapa novel itu baru terbit setelah Anda wafat?” tanya saya. Lispector kembali mengisap rokoknya. Ia tidak menjawab, hanya menerawang, seperti mengenang
Macabéa. Pelan-pelan, tubuh Lispector memudar, kemudian menjadi debu dan lenyap bersama angin. Saya pergi dari tempat itu, samar-samar mendengar suara seorang gadis yang memanggil, tapi tidak saya hiraukan.

Karena jaraknya dekat, saya memutuskan mampir di Argentina sebentar. Hanya dua jam dari Sao Paolo. Menurut kabar angin, pelukis bernama Juan Pablo Castel sedang mengadakan pameran di sana. Namun, ketika saya tiba di lokasi pameran saya tidak menemukan Castel. Kata petugas pameran, Castel tiba-tiba saja pergi mengejar seorang perempuan. Padahal saya pengin curhat sama dia, karena setelah membaca The Tunnel, saya merasa kami sama-sama insecure dan suka overthinking, terutama kalau lagi jatuh cinta. Saya juga gagal bertemu Ernesto Sabato. Mungkin dia sedang merokok bareng Clarice Lispector di surga.

“Kayaknya saya main ke Rumah Kertas saja, deh,” saya pikir. Benar saja, Carlos Maria Domínguez sedang di sana sama Prof. Bluma Lennon. Saya spontan ngikik. Mereka sedang membahas bagaimana rencana kematian Bluma Lennon (saya melihat Bluma Lennon menggenggam buku puisi Emily Dickinson). Kayaknya mereka sedang seru-serunya, dan saya paling enggak enak kalau mengganggu percakapan orang. Saya pamit tanpa menyapa mereka.

Naik taksi lagi, saya buka-buka ponsel dan membaca berita. Ada satu yang lagi heboh: pembangunan Piramid baru di Mesir. Konon, piramida baru ini akan menjadi yang tertinggi yang pernah dibuat. Ketika berita dilansir, sudah muncul desas-desus pembangunan tersebut memakan banyak korban jiwa. Saya ke sana untuk melihatnya langsung. Benar saja, Firaun Cheops, yang tadinya tidak ingin membangun piramida lagi, malah mendadak jadi ambisius. Ismail Kadare kali ini jadi pemandu saya. Dia bicara panjang-lebar tentang dampak buruk apa yang terjadi terhadap warga Mesir saat ini.

Sekelompok pasukan Firaun Cheops mendadak muncul dan mengejar saya dan Kadare. Mungkin kami dikira mata-mata atau anggota pemberontak. Kami kabur. Saya berpamitan sekadarnya pada Kadare dan buru-buru terbang ke tempat lain. Kali ini tujuan saya Inggris dan saya tidak hanya menemui satu orang, melainkan tiga sekaligus. Karen Armstrong sang teis-lepas, Richard Dawkins sang ateis, dan Richard Lloyd Parry si jurnalis.

Saya tanya pendapat mereka tentang Cheops, dan Armstrong mulai mendongeng tentang Sejarah Tuhan. Tentu saja diinterupsi berkali-kali oleh Richard Dawkins, seakan tidak sabar ingin bilang kalau Tuhan itu hanya delusi. “Kau baca The God Delusion, kan? Bukuku itu?” Dawkins tiba-tiba menoleh ke saya. Saya mengangguk. “Sekarang kau masih percaya Tuhan?” Namun, sebelum sempat saya menjawab, Richard Lloyd Parry sudah mengajak saya bicara hal lain. Mungkin karena melihat wajah saya seperti orang Indonesia yang pernah ia temui di Kalimantan Barat tahun 1997, ia bertanya apakah saya mengalami kerusuhan antaretnis seperti ia laporkan di bukunya Zaman Edan. “Tidak,” saya bilang. “Saya tidak mengalami langsung, tapi desa tempat saya tinggal terkena imbasnya.”

Richard Parry tampak tertarik. “Kalo Irak, kau mengikuti kabar dari sana tidak?” Saya menggeleng. Saya tahu sedikit hal tentang Irak tapi tidak pernah mengikuti berita tentang tempat itu. “Aku kasih kontak seseorang di sana, kau harus temui dia segera, dia punya banyak cerita menarik buatmu.” Ia lantas meminta ponsel saya dan mengetikkan sebuah nama. Saya membacanya. Hassan Blasim.

Keesokan harinya saya berangkat ke Irak. Saya dijemput sopir yang dipesan oleh Blasim. Kami berkirim pesan di malam saat saya bersama trio Inggris. “Datang ke tempatku, ya, kami sedang bikin pameran mayat,” katanya di telepon. “Pameran apa?” tanya saya, tidak yakin. Dia berkata sampai jumpa dan menutup telepon. Setiba di lokasi saya melihat sekelompok orang yang saya kira teroris sedang semacam melakukan penyuluhan tentang bagaimana menyusun mayat-mayat di tengah kota. “Ingat, kita bukan teroris,” kata sang komandan, “kita bekerja dengan seni, kita membuat seni.” Saya melihat spanduk di dekat pintu masuk: The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq.

Saya mual dan tidak kuat berlama-lama di sana. Segera saya pamit ke Blasim dan berdoa semoga warga Irak baik-baik saja dan dia baik-baik saja. Dia berterima kasih dan berniat mengantar saya ke bandara, tapi terpaksa mengurungkan niat karena dipanggil teman-temannya yang mengajaknya bermain menghilangkan pisau. “Sampai ketemu lagi, ya!” katanya. Saya mengangguk dan pergi.

Rasanya cukup dengan hal-hal yang bikin kepala pusing. Saya pengin curhat soal cinta. Tadi enggak sempat ketemu Juan Pablo Castel yang lagi nguber cewek. Jadi saya kembali ke Amerika dan bertemu dengan Raymond Carver di sebuah kafe. “What We Talk About When We Talk About Love,” katanya, “is that love doesn’t try to kill people.” Saya angguk-angguk. Carver menawari saya segelas wiski, tapi saya bilang saya enggak minum. Dia agak kecewa, tapi sesaat kemudian kembali bicara tentang cinta. “I just wouldn’t call Ed’s behaviour love, you know. That’s all I’m saying.” Carver mengetukkan puntung rokoknya ke pinggir asbak. “What about you?”

Saya mengangkat bahu. “Mungkin Ed punya alasan sendiri,” kata saya asal saja. “Tapi, kau tahulah, aku masih muda, enggak tahu apa-apa tentang cinta.” Carver tertawa rendah dan kembali meneguk wiski. “Kau, kan, penulis novel romance. Masa enggak tahu apa-apa tentang cinta?” Sekali lagi, saya mengangkat bahu. Beberapa saat kemudian Carver melihat jam tangannya, lalu berkata bahwa ia harus menemui Ed. Saya mengangguk. Kami bersalaman dan ia pun pergi.

Karena capek, saya memilih untuk berdiam di tempat itu. Kebetulan saya duduk menghadap pintu kafe. Tidak lama, saya melihat seorang laki-laki tua kurus dan berkumis membuka pintu, berjalan masuk. Saya sempat mengira dia Dali, tapi bukan. Ia celingak-celinguk sebentar sebelum akhirnya menghampiri meja saya dan duduk di kursi yang ditinggalkan Carver. Ia menyalakan rokok dan bicara. “Just like heaven. Ever’body wants a little piece of lan’. I read plenty books out here. Nobody never gets to heaven, and nobody gets no land. It’s just in their head.”

“Pak Steinbeck,” saya menyalaminya. “Saya turut berduka atas Lennie. Of Mice and Men bikin saya nangis.”

John Steinbeck menggeleng. Ia beranjak dari kursi dan pergi.

Samar-samar saya mendengar suara perempuan mengalun dari pelantang yang terpasang di sudut-sudut langit-langit kafe. Saya tahu lagu ini, Kokoro No Tomo. Aneh juga dengerin lagu Jepang diputar di kafe Amerika. Tapi ini, kan, perjalanan saya. Saya jadi pengin main ke Jepang. Mungkin tidak untuk bertemu dengan Haruki Murakami karena dia pasti tidak mau ditemui.

Saya pengin ketemu sama Yasunari Kawabata. Setiap baca cerita-ceritanya saya pasti jadi mellow. Saya membeli tiket ke Jepang dan bertemu Kawabata di Osaka. Ia mengajak saya jalan-jalan melintasi sebuah jembatan. “Di sini pemuda angkuh dan gengsian itu kehilangan topinya.” Saya mengenang. Kawabata tertawa rileks. “Kenapa orang-orang di dalam cerita-cerita Anda fatalis semua?” Saya bertanya. “Nasib manusia seperti garis di telapak tangan,” jawabnya, “pendek dan tak bisa diubah.” Saya mengangguk saja. “Seratus empat puluh lebih Cerita-cerita Telapak Tangan, berapa yang sudah kamu baca?” Saya bilang hanya baca separuhnya. Ia mengangguk pelan. Saya berdiam mengamati pohon-pohon di dekat kuil. Ketika menoleh lagi, Kawabata sudah tiada, terbang bersama kelopak-kelopak sakura.

Di langit, saya lihat Ifreet melayang-layang dengan dua jin lain. Barangkali kaki-tangannya. “Kalian mau ke mana?” Saya berteriak. Ifreet berkata bahwa dia mau menemui Salman Rushdie dan menyuruhnya menulis ulang seribu satu malam. “Ditulis ulang jadi kayak gimana?” Saya bertanya lagi. Ifreet mendengus. “Apa kek, diubah jadi Two Years Eight Months and Twenty-eight Nights gitu.” Saya ngikik. “Itu, kan, cuma diganti penyebutannya.” Ifreet terlihat jengkel. “Eh, boleh nebeng gak? Aku juga pengin ketemu Pak Rushdie.” Ia melengos dan menyuruh kaki-tangannya membawa saya. Kami terbang ke New York. Setibanya di sana, Salman Rushdie sedang tertawa-tawa dengan seorang perempuan cantik. Saya kira dia Dunia. Baru saja saya mau menyapa, tiba-tiba mereka berdua lenyap.

“Ke mana mereka?” tanya saya. Ifreet berdecak. “Paling nyamperin Ibn Rushd di alam barzah. Si filsuf sinting itu.”

Mumpung dapat tumpangan jin, saya meminta Ifreet menyuruh kaki-tangannya mengantarkan saya ke Lanzarote. “Lanza apaan?” Ifreet mengernyit. “Lanzarote, kalau enggak salah di Spanyol.” “Mau ngapain kau ke sana? Mending ikutan kami ke dunia jin, kita mabok-mabokan cewek-cewek cakep.” “Cewek cakepnya jin juga?” Saya bertanya dengan bodohnya. “Ya, iyalah.” Saya menolak dan bilang terima kasih, mungkin lain kali.

Saya terbang ke kepulauan Canary dan bertemu seorang laki-laki yang sedang berlibur. Sepanjang pertemuan kami dia mengomeli kelakuan turis. “Kenapa kau memilih Lanzarote buat liburan?” Saya bertanya. Dia bilang dia memilih asal saja dan petugas travel tempat ia membeli tiket menawarkan Lanzarote. Lantas, saya memintanya menemani saya ke Meksiko. “Sayang sekali, aku harus segera balik ke Perancis. Tapi kapan-kapan kalau ada waktu berlibur kita bisa ketemu lagi. Ini kartu namaku.” Namanya tercantum di sana dengan lengkap. Michel Houellebecq.

Dari Lanzarote saya ke Meksiko dan bertamu ke rumah gembong narkoba. Tapi alih-alih bertemu dengan sang gembong, saya disambut seorang anak kecil. “Aku Tochtli. Kau siapa?” Saya memperkenalkan diri. Tochtli memberi saya sebuah topi detektif, seperti yang dipakai Sherlock Holmes. Sebagai tanda persahabatan, katanya. Saya membuka koper dan memberinya topi caping. Dia girang sekali, dan membawa saya masuk ke rumahnya. “Papa sibuk dan aku enggak dibolehin keluar rumah, jadi tiap hari aku main di rumah.” Saya bertanya apa bagian paling menarik di rumahnya. “Down the Rabbit Hole,Tochtli menjawab, “ada banyak senapan dan granat punya papa. Papa dapat dari temannya, Om Pablo.” Apakah Pablo yang ia maksud Juan Pablo Villalobos, saya tanya lagi. Tochtli mengangguk cepat.

Tochtli mengajak saya berburu pygmy hippopotamus di Liberia, Afrika. Saya berkata kepada Tochtli bahwa saya sangat ingin bermain dengannya, tapi karena sebentar lagi malam tahun baru, saya harus segera pulang ke Indonesia bertemu beberapa teman lain. Tochtli tampak sedih tapi segera tersenyum kembali ketika saya berjanji akan kembali ke Meksiko kelak. “Bener, ya. Awas kalau kau enggak datang, menunggu itu devastating banget lho,” katanya. Saya tersenyum simpul dan mengacak-acak rambutnya.


3


Saya tiba di kamar kos dan secara spontan mengecek saldo tabungan melalui m-banking di ponsel. Tidak ada yang berubah. Tentu saja, karena saya tidak pernah membeli tiket pesawat untuk pergi ke Turki, Israel, Brazil, Amerika, Inggris, dan India dan negara-negara lain. Saya hanya punya buku. Buku-buku itu tiket saya jalan-jalan keliling dunia, dan perjalanan saya bermula dari sebuah dosa besar.

26 Desember 2016

Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos




Kamu pernah membayangkan jadi anak seorang gangster? Saya belum pernah, tapi tertarik memikirkannya. Gimana ya kalau bapak saya dedengkot penjahat? Gimana rasanya tinggal di rumah besar dengan halaman luas yang dibeli hasil bisnis senjata api ilegal dan membunuh orang, punya banyak orang yang jadi bodyguard, melihat bapak saya menyuap para pejabat dan sesekali kedatangan kiriman potongan anggota tubuh dari kaki-tangan yang dibunuh pihak musuh? Tampak seperti kehidupan yang kacau dan menarik.

Omong-omong, kehidupan semacam tadi dimiliki Tochtli, seorang bocah berusia tujuh tahun (sekira kelas 2 SD) yang tinggal bersama ayahnya, seorang gembong narkoba di Meksiko, dalam novela karya Juan Pablo Villalobos, Down the Rabbit Hole. Buku ini debut Villalobos, penulis kelahiran 1973 berkebangsaan Meksiko, yang hingga saat ini telah menerbitkan tiga buku (termasuk Quesadillas dan I’ll Sell You a Dog)

Kali pertama saya melihat buku Villalobos yang ini di sebuah toko buku kecil di kawasan Pasar Santa, Jakarta. Beberapa kali saya membaca Down the Rabbit Hole disebut di tweets beberapa teman di Twitter. Mengetahui penulisnya berasal dari Meksiko, saya langsung tertarik. Saya selalu tertarik dengan karya-karya penulis Amerika Latin. Sampai kemudian saya sadar kalau Meksiko itu di Amerika Utara.

Iya, pelajaran Geografi saya dulu dapat nilai jelek. Ini serius.

Anyway, akhirnya saya membeli buku ini. Down the Rabbit Hole tipis, tapi karena buku impor jadi tetap saja cukup mahal seperti buku-buku impor lainnya. Kesan pertama, saya sangat suka dengan desain sampulnya. Dominasi warna dasar orange dengan font judul dan nama penulis yang sederhana dan mudah dibaca. Di kanan judul, tampak seorang bocah menunggangi seekor hewan yang awalnya saya kira badak. Sang bocah menggenggam sebilah samurai dan mengenakan topi hingga tujuh tingkat. Posenya semacam mengingatkan saya pada potret Don Quixote.

Sampai mulai membaca halaman pertama, saya tidak tahu kalau Down the Rabbit Hole dituturkan oleh narator anak kecil. Saya semakin tertarik ketika membaca paragraf pembuka. “Some people say I’m precocious. They say it mainly because they think I know difficult words for a little boy. Some of the difficult words I know are: sordid, disastrous, immaculate, pathetic, and devastating.” Menurut saya, sangat sulit menulis cerita dengan narator anak kecil. Ada batasan-batasan yang harus dipatuhi dan logika berpikir yang mesti sesuai dan konsisten. Villalobos bikin saya kian penasaran dengan menghadirkan Tochtli, sang narator, seorang bocah penggemar topi yang disebut ayahnya “…genius,” dan “little bastard.”

Buku pertama yang melintas di benak saya saat membaca narasi Tochtli adalah The Curious Incident of the Dog in the Night-Time, Mark Haddon. Naratornya anak kecil laki-laki yang mengidap sindrom asperger. Meski Tochtli tidak mengidap sindrom autisme, saya kira tantangannya sama berat, dalam hal meyakinkan pembaca bahwa narator cerita sungguh-sungguh anak kecil dan narasinya bersih dari jalan berpikir orang dewasa yang menuliskannya. Menurut saya, Villalobos cukup berhasil dalam menggunakan sudut pandang pertama anak kecil. Kecuali “kata-kata sulit” yang diketahui Tochtli (dan sudah dijelaskan sejak pembuka novel), cara berpikir dan bertindak Tochtli memang seperti umumnya anak kecil.

Melalui kacamata Tochtli, kita mengetahui kehidupan di rumahnya dan karakter-karakter lain yang ada di sana. Ayahnya serta beberapa kaki-tangannya (tidak begitu dijelaskan tentang ketidakhadiran sosok ibu). Dengan bahasanya sendiri, Tochtli si bocah menceritakan kehidupan sehari-hari mereka; apa saja yang ia lakukan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Gambaran lingkungan rumah si gembong narkoba, ayah Tochtli sendiri, dan hal-hal yang terdapat di rumah juga disampaikan dengan gaya berpikir anak kecil (In the garden, opposite the dining room on the terrace, we also have cages with our animals, which are divided into two groups: the birds and the cats. For birds we have eagles, falcons, and a cage full of parakeets and brightly colored parrots, macaws, and that sort of thing. For cats we have a lion in one cage and two tigers in another. On the same side as the tigers there’s a space where we’re goingn to put the cage of our Liberian pygmy hippopotamus.)

Hobi ganjil Tochtli mengoleksi topi dan ketertarikannya pada hippopotamus juga merupakan hal yang menghibur. Dan, seperti yang sudah saya duga, topi dan hippopotamus ini tidak hadir semata-mata untuk memberi sentuhan unik pada karakter Tochtli, tetapi berperan penting dalam pergeseran plot dari satu titik krusial menuju titik krusial lain. Melalui topi milik Tochtli dan hippopotamus yang kelak mereka dapatkan dari perburuan, Villalobos membangun konflik dalam psikologis Tochtli.

Sama seperti Christopher di The Curious Incident of the Dog in the Night-Time yang melakukan perjalanan sendirian mencari tahu siapa pembunuh anjingnya, pergolakan batin Tochtli karena merasa dibohongi oleh ayahnya sendiri semakin menajam menjelang akhir cerita. Tanpa meninggalkan logika berpikir anak-anak dan kemarahan dalam gaya anak-anak, Villalobos membuat kita terbawa dalam perubahan emosi Tochtli sekaligus bersimpati pada kekecewaannya.

Karena bukunya tipis, saya enggak akan cerita tentang plotnya. Kalau ingin baca, coba cari bukunya. Selain tentang berburu hippopotamus dan kehidupan bocah anak gembong narkoba, Villalobos menyelipkan ejekan atau kritiknya terhadap Meksiko itu sendiri, menyebutnya sebagai “…disastrous country.” tentu dengan kerangka berpikir dan logika anak kecil (meski di tempat lain Villalobos juga menyebut Meksiko sebagai “wonderful country”)

Saya senang membaca novela karena tidak menghabiskan banyak waktu. Sama seperti membaca cerita pendek, hanya agak lebih panjang dan memberi sedikit sensasi yang biasanya saya rasakan saat membaca novel, meski tak seluruhnya. Down the Rabbit Hole menambah daftar novela favorit saya, setelah Hear the Wind Sing (Haruki Murakami), Bukan Pasarmalam (Pramoedya Ananta Toer), Pedro Paramo (Juan Rulfo), dan The Hour of the Star (Clarice Lispector).

Kalau kamu ingin baca sesuatu yang lebih panjang dari cerita pendek tetapi tidak amat panjang seperti novel yang akan menghabiskan banyak waktu dan tenagamu, boleh coba baca novela. Beberapa saya sebut di paragraf sebelum ini. Sisanya monggo cari sendiri. Kapan-kapan saya bikin daftar lebih lengkap dan rapi untuk novela favorit saya (saat nulis ini enggak begitu ingat semuanya).

Setelah ini saya bakal bikin tulisan tentang perjalanan membaca sepanjang tahun 2016. Buat saya, tahun ini menyenangkan karena walaupun saya membaca lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya, buku-buku yang saya baca hampir semuanya bagus dan memuaskan. Saya akan bagi buku-buku favorit saya dalam tulisan yang akan datang (semoga sudah saya post sebelum pergantian tahun).


Selamat liburan!

25 Desember 2016

The Seven Good Years, Etgar Keret




Apa yang bisa kita pelajari dari membaca buku? Banyak hal. Mengetahui tentang sejarah, belajar bagaimana cara menghadapi penderitaan, atau mengembangkan imajinasi (atau mengembalikan kemampuan berimajinasi yang semakin soak seiring bertambahnya usia). Buku bagus selalu membuat kita belajar sesuatu. Namun, apa yang bisa kita pelajari dari buku yang bercerita secara spesifik tentang hidup orang lain? Apa yang bisa kita dapatkan dari membaca sebuah biografi, otobiografi, atau memoar?

Tahun ini saya membaca cukup banyak buku Etgar Keret. Malah, Etgar Keret satu-satunya penulis yang bukunya paling banyak saya baca tahun ini. Ada lima. Empat di antaranya kumpulan cerita pendek. Satu, yang justru paling saya sukai, adalah buku memoarnya, The Seven Good Years. Isinya tentang fragmen–fragmen pengalaman hidup Keret dalam rentang waktu tujuh tahun, sejak kelahiran anak pertamanya dan kematian ayahnya. Tahun-tahun yang, kata Keret, “Satu-satunya masa ketika saya merasakan jadi ayah bagi seorang anak dan anak dari seorang ayah.”

Merupakan hal yang unik bagi saya, ketika menyadari saya lebih menyukai buku nonfiksi Keret ketimbang kumpulan ceritanya. Salah satunya mungkin karena cerita-cerita Keret kadang-kadang absurd dan ganjil, sedang fragmen-fragmen di memoarnya dituturkan lebih apa adanya dalam gaya realisme, dan tentu saja limpahan humor. Cara Keret menuliskan memoarnya saya kira turut membuat The Seven Good Years sangat mudah dinikmati. Ia menuliskan sketsa-sketsa, persis seperti ia menuliskan cerita-cerita pendeknya.

Sebagai orang yang menulis fiksi, hal yang paling saya hindari adalah bercerita tentang hidup saya sendiri. Saya merasa hidup saya enggak semenarik itu untuk diceritakan ke orang lain, kecuali orang-orang terdekat seperti pacar atau teman kecil. Hal terakhir yang ingin saya tulis adalah tulisan-tulisan semacam memoar (walaupun di beberapa cerita pendek atau bagian novel yang saya tulis, kalau mau jujur-jujuran, memang mengambil ide dari kehidupan pribadi saya, hehe).

Namun, sebagai pembaca, saya tertarik mengetahui kehidupan seorang penulis, terutama penulis-penulis yang saya sukai. Memoar pertama yang saya baca buku Haruki Murakami, What I Talk About When I Talk About Running. Saya menyukai buku itu karena Haruki tidak hanya bercerita tentang kehidupannya, tetapi ia memilih bagian yang menarik dari kehidupannya (hobi berlari maraton) dan mengaitkannya dengan bagaimana ia menuliskan novel-novelnya. Sebagai fan Haruki, tentu saya sangat ingin tahu bagaimana proses kreatifnya, terlebih lagi bagaimana cara ia memandang kegiatan menulis itu sendiri.

Buku memoar lain yang saya baca dan sukai adalah Istanbul-nya Orhan Pamuk. Jika Haruki memulai ceritanya ketika ia berusia 30-an dan punya hobi berlari maraton, Pamuk betul-betul memulai ceritanya dari masa kecilnya. Berbeda dengan Haruki yang tidak banyak menulis tentang keluarganya ataupun Jepang secara umum, Pamuk lebih banyak bercerita soal Istanbul, seni, dan keluarganya. Sesuai judulnya, dalam Istanbul Pamuk menampilkan sisi-sisi lain kota tersebut (dan membuat saya semakin pengin pergi ke sana).

Sementara itu, salah satu dari sekian hal yang saya sukai dari membaca memoar Etgar Keret adalah cara Keret menggambarkan anggota keluarganya, terutama istri dan anaknya. Sangat menghibur. Di sebuah fragmen yang bercerita tentang bagaimana Keret menghindar dari sales yang meneleponnya untuk menawarinya barang, Keret menggambarkan istrinya sebagai orang kaku dan lugas (istrinya bilang kalau enggak tertarik sama jualan si sales bilang saja enggak tertarik, jangan cari-cari alasan). Di fragmen lain, Keret menggambarkan anak bayinya sebagai laki-laki dewasa bertubuh mini (“Beri ia jas dan briefcase dan ia akan melakukan negosiasi apapun yang kau inginkan”)

Jika kita memandang The Seven Good Years sebagai kumpulan cerita, maka ia semacam kompilasi best of the best Etgar Keret. Hampir seluruh fragmennya saya sukai, mulai tahun pertama hingga ketujuh. Keret tahu bagian-bagian menarik dalam hidupnya yang bisa diceritakan (atau ia menceritakan hidupnya dengan cara yang membuatnya jadi menarik).

Keret membuka dan menutup memoarnya dengan cerita yang tepat. Seorang wartawan meminta pendapatnya tentang perang dan ia kecewa ketika Keret tidak bisa memberi opini yang orisinil. “Hal baru apa yang bisa orang katakan tentang perang?” Ia menatap anaknya yang baru lahir dan berharap suatu hari dunia akan lebih damai dan ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang perang dengan visi yang baru. Cerita penutup, “Pastrami” adalah salah satu favorit saya, menggambarkan dengan sangat bagus bagaimana Keret dan istrinya bekerjasama menenangkan anak mereka di tengah situasi perang.

Selain bikin ngakak, kadang-kadang cerita Etgar Keret juga membuat sedih dan terharu. Lebih sering ketika ia mulai bercerita tentang ayahnya-orang yang memunculkan sikap optimisme dalam pikiran-pikiran sinis Keret. Dalam sebuah fragmen, Keret menulis tentang sepatu ayahnya. Ia pergi ke sebuah acara sastra di luar Israel beberapa minggu setelah ayahnya meninggal. Alih-alih membawa sepatunya sendiri, ia membawa sepatu ayahnya. Namun, ketika ia mengenakan sepatu itu, ternyata ukurannya pas.

“Buku adalah cermin, ia hanya merefleksikan apa yang sebenarnya sudah ada di dalam dirimu,” kata Carlos Ruiz Zafón. Rasanya saya cukup sepakat. Membaca The Seven Good Years bikin saya kangen sama ayah, ibu, dan adik saya sendiri. Saya merantau dan hanya pulang sekali setahun dan hanya menelepon mereka di saat mereka berulangtahun. Kadang-kadang saya merasa bersalah. Buku-buku yang bercerita tentang keluarga, seperti memoar Etgar Keret tersebut, kerap memunculkan perasaan-perasaan semacam itu.

Untuk kesederhanaan sekaligus keragaman emosi yang muncul di dalamnya, saya menobatkan The Seven Good Years sebagai salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini-di samping sebagai karya terbaik Etgar Keret sendiri. Ia berhasil membuat saya tertawa, bersedih, terharu, dan merenung, dalam kisah-kisah ringkas yang dituturkan sepanjang satu hingga dua halaman.

Etgar Keret adalah penulis favorit saya tahun ini. Cerita-cerita pendeknya punya visi yang menarik yang mempengaruhi saya dalam memandang sebuah cerita. Saya sangat menunggu buku Keret selanjutnya. Saya ingin tahu lebih banyak tentang ayah dan ibunya, yang merupakan penyintas Holocaust (mereka tinggal bersembunyi di rubanah selama dua tahun demi menghindar dari tentara Nazi Jerman), dan bagaimana ayahnya hidup bersama para mafia dan tinggal di rumah pelacuran dan menyebut mafia dan pelacur itu orang-orang paling baik yang pernah ia kenal selama hidupnya.


(Saya butuh 62 kata lagi untuk menggenapkan tulisan ini jadi 1.000 kata-batas yang saya tentukan sendiri dan kadang-kadang malah menyusahkan, tapi saya anggap sebagai tantangan saja untuk konsisten, tapi ya begitulah jadinya saat sudah kehabisan ide untuk dibahas saya jadi bikin paragraf kayak begini demi mendapatkan 62 kata ekstra yang kalau dihapus atau enggak dibaca juga enggak apa-apa karena enggak berhubungan sama tulisan ini, nah saya sudah dapat 1.000 kata malah kelebihan jadi 1.018, oke terima kasih, sampai jumpa!)