Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Tiga Buku 2017

Gambar
Tiga buku saya yang terbit tahun 2017. Dua kumpulan tulisan pendek bertema cinta dan satu novel adaptasi dari film layar lebar. Ketiganya masih tersedia dan bisa dibeli di toko-toko buku konvensional maupun online. Luka Dalam Bara belum lama ini meraih penghargaan Anugerah Pembaca Indonesia 2017 yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia, kategori Sampul Buku Fiksi Terfavorit (Ilustrator: Alvin Resqy), sedangkan  Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran dan Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan baru saja rilis. Tahun depan ada buku baru? Belum tahu. Kita nikmati dulu sisa-sisa tahun ini sembari membayangkan yang seru-seru untuk tahun 2018.

Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan

Gambar
Buku saya yang ke-13. Kumpulan prosa singkat bertema cinta. Bagi teman-teman pembaca yang sudah akrab dengan buku Luka Dalam Bara, buku ini menawarkan kelanjutan kisah serupa dengan perasaan-perasaan yang mungkin lebih sederhana memilukan. Dicetak hard cover dan isi penuh warna,  Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan akan edar di toko-toko buku jaringan Desember 2017. Selamat menunggu dan kelak menikmati.

MOBIL BEKAS

Gambar
Ini adalah sampul buku saya yang terbaru. Novel “Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran”, yang saya tulis sebagai terjemahan atas film layar lebar  Ismail Basbeth  dari rumah produksi  Bosan Berisik Lab  berjudul sama—yang saat ini sedang berkelana di festival film internasional di Busan dan Tokyo dengan judul bahasa Inggris “The Carousel Never Stops Turning”. # MobilBekas  adalah buku saya yang ke-12, novel saya yang ke-6, sekaligus karya perdana yang saya tulis ber dasarkan film layar lebar. Novel ini akan segera diterbitkan oleh  Bentang Pustaka

Selamat Datang

Gambar
Buku terbaru Bernard Batubara, Luka Dalam Bara Bisikan Busuk adalah blog pribadi  Bernard Batubara (Bara):  penulis penuh-waktu, yang lahir pada Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang  (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati  (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013),  Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014),  Jika Aku Milikmu (2015),  Metafora Padma (2016), dan Elegi Rinaldo (2016). Radio Galau FM  dan Kata Hati  telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Maret 2017, Luka Dalam Bara.

Novel Baru: MOBIL BEKAS

Gambar
Saya senang dapat berkolaborasi dengan seorang kreator yang punya semesta pikiran menarik. Tahun ini saya berkesempatan membuat cerita dari film layar lebar Ismail Basbeth, sutradara Indonesia yang membuat film Mencari Hilal dan Talak Tiga.  Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran adalah film layar lebar terbaru dari Ismail Basbeth dan rumah produksi Bosan Berisik Lab. Saya menulis novel untuk film tersebut. Saat ini draf pertama sudah selesai ditulis dan sedang dalam masa penyuntingan. Doakan lancar. Jika tidak ada hambatan yang berarti, novel terbaru saya MOBIL BEKAS dan Kisah-Kisah dalam Putaran akan terbit melalui Bentang Pustaka akhir tahun 2017.

Bernard Batubara: On Stories, Love, and Heartbreaks (Interview)

Gambar
Kali pertama saya menyadari bahwa saya dilabeli sebagai "penulis romance" oleh orang-orang yang membaca buku saya, saya merasa kesal. Makna dan keinginan saya sebagai penulis seakan-akan direduksi ke dalam sebuah genre: romance. Padahal motivasi awal saya menjadi penulis adalah ingin membuat novel fantasi seperti J. K. Rowling menulis Harry Potter-- novel yang memantik ambisi lugu saya ingin jadi seorang penulis . Namun, lama-lama saya mulai menerima label tersebut sebagai sesuatu yang alami dan tidak terhindarkan. Kini saya menjadikannya fokus, dan senjata untuk menyampaikan gagasan-gagasan di luar label itu. "Cinta" menjadi tema yang saya gunakan sebagai kulit cerita, yang di dalamnya terdapat beragam pikiran saya mengenai banyak hal: konflik sosial, hukum, identitas, hingga agama dan ketuhanan. Bagi saya, pada titik tertentu semua cerita adalah cerita cinta. Saya menggali kenangan tentang cerita-cerita cinta yang pernah saya alami (yang sebagian besar ga

Luka Dalam Bara

Gambar
+ Kenapa orang-orang patah hati malah meresapi kesedihannya dan tidak membuangnya jauh-jauh? - Mungkin, itu cara mereka meyakinkan diri sendiri bahwa cinta yang mereka miliki selama ini adalah sesuatu yang nyata. Kita tidak akan merasa benar-benar sedih kalau tidak benar-benar cinta, kan? Sayangnya, menutup luka tidak akan membuatnya segera sembuh. Menyangkal bahwa kamu sedang terluka tidak akan membuat luka itu hilang. (" Dialog-dialog yang Tidak Pernah Terjadi ") - Menulis, adalah cara saya mengakui bahwa saya terluka. Bahwa saya gagal dalam sesuatu. Bahwa saya tidak berhasil mewujudkan kebahagiaan yang saya rencanakan. Saya tidak tahu apakah akan segera sembuh dengan menuliskan luka-luka saya. Kalian tahu, tidak seperti luka karena terjatuh di jalan atau tersayat pisau, luka karena cinta bukanlah luka luar, yang darah dan sobekannya terlihat jelas. Luka karena cinta dan rindu yang gagal adalah luka dalam. Meski tidak terlihat, luka tersebut ada. Ada, nyata, d

Wawancara Eksklusif: Bintang.com

Gambar
"Dulu aku menulis untuk sarana eskapisme, untuk lari dari kenyataan. Aku membentuk duniaku sendiri dari apa-apa yang aku suka. Tapi semakin ke sini motivasiku berubah-ubah setiap waktu. Sekarang ini tanpa aku sadari aku menuliskan hal-hal yang dulu aku hindari, seperti tema yang berkaitan dengan konflik keluarga. Aku sempat merasa agak berjarak dengan keluargaku, tetapi aku menebusnya dengan menulis. Aku menggunakan nama ibu dan adikku serta memasukkan tokoh-tokoh yang mirip ayahku di cerita-ceritaku. Bagiku itu cara untuk menebus jarak yang ada dengan mereka. Sekarang aku menulis untuk menyembuhkan diriku sendiri." Baca wawancara ekslusif Bara dengan redaksi Bintang.com di sini.