27 Desember 2017

20 Film Favorit di 2017




Dibandingkan buku, kesenangan saya yang lebih serius terhadap film bisa dibilang masih sangat baru. Serius yang saya maksud adalah dengan sengaja mencari rekomendasi film, sutradara, genre, seperti yang dilakukan seseorang saat melakukan riset. Dua tahun belakangan saya mencatat film-film yang saya tonton. Saya sempat melacak semua film layar lebar yang pernah saya tonton sejak kali pertama saya menonton, tentu saja sejauh yang bisa saya ingat. Isinya ternyata tidak begitu banyak.

Tahun ini, seperti yang saya lakukan pada buku, saya mencatat film-film yang saya tonton. Beberapa luput dari catatan karena kadang saya merasa filmnya tidak begitu menarik untuk diingat dan sisanya murni kelupaan. Saya mencoba menonton lebih banyak dan beragam. Film-film pendek, dokumenter, dan animasi, jadi area baru yang saya jelajahi. Awal tahun saya bahkan mengkhususkan diri menonton film-film animasi, dan mendapatkan beberapa film dan sutradara favorit.

Total ada 100 film lebih sedikit yang saya tonton sepanjang tahun 2017. Saya mencoba memilih beberapa di antaranya untuk dimasukkan ke daftar ini.

Berikut 20 film favorit yang saya tonton di tahun 2017:


1. The Lobster

Film romance yang rada ganjil karena aturan-aturan dunia di dalamnya. Aturan tersebut adalah bagi siapapun yang single pada usia mereka seharusnya memiliki pasangan (tidak begitu dijelaskan mengenai ukuran usia ini), akan dibawa ke sebuah hotel untuk menemukan pasangan mereka dalam kurun waktu 45 hari. Jika gagal, mereka akan berubah jadi binatang yang jenisnya mereka tentukan sendiri di awal mendaftar di hotel tersebut. Film ini jadi perkenalan yang menyenangkan bagi saya terhadap film-film Yorgos Lanthimos. Saya langsung mencari dan menonton film-filmnya yang lain, termasuk Dogtooth dan Alps, yang juga jadi favorit saya.


2. Dogtooth

Beberapa review menyebut film-film Yorgos Lanthimos bergenre distopia. Saya sendiri merasa label tersebut kurang pas; tapi juga belum menemukan yang lebih cocok, dan merasa tidak begitu penting menemukannya. Film ini bercerita tentang keluarga yang hidup dengan aturannya sendiri. Si ayah membuat aturan-aturan yang diterima anak-anaknya sebagai dogma. Dogma ini akan terasa absurd bagi kita penonton, tapi dalam bentuk yang lain sebenarnya kita sendiri juga menerima dan hidup dalam dogma sejenis. Sama seperti The Lobster, film ini pun gelap, mengerikan, dan amat relevan.


3. Alps

Masih dari Yorgos Lanthimos. Sutradara asal Yunani satu ini akan jadi favorit saya sepanjang masa. Gagasan-gagasannya yang "tidak populer" dibungkus dalam premis-premis cerita yang ganjil dan nyaris tak terpikirkan oleh saya, didukung dengan nuansa dan tonal film serta akting pemeran-pemeran yang menguatkan impresi keganjilan tersebut. Alps tentang sebuah grup kecil yang menyediakan jasa menggantikan sosok orang yang sudah meninggal. Konflik dimulai ketika terjadi kompetisi internal di dalam grup tersebut. Jika sudah menonton The Lobster dan Dogtooth, jangan lewatkan yang satu ini.


4. Being John Malkovich

Sepertinya tahun ini saya cukup banyak menonton film-film yang temanya rada absurd. Walaupun sesungguhnya yang absurd itu enggak absurd-absurd amat dalam pengertian yang absurd itu masih sangat relevan dan mungkin terjadi dalam wujud berbeda. Being John Malkovich film garapan Spike Jonze, tentang seorang pawang boneka yang secara tidak sengaja menemukan lorong untuk masuk ke kepala orang lain. Penemuan ini kemudian dijadikan lahan bisnis, dan dari sana plotnya jadi semakin menarik. Setelah film ini saya mencari film-film Spike Jonze dan Charlie Kaufman (penulis skenario) yang lain, termasuk Adaptation dan Synecdoche, New York, yang juga jadi favorit saya.


5. Adaptation

Film metafiksi tentang penulis skenario yang diminta mengadaptasi buku Susan Orlean, jurnalis Amerika. Kocak, dan karena metafiksi (belakangan saya tahu ada istilah metacinema) tentu terasa absurd juga. Tadinya saya kurang tertarik menonton karena pemerannya Nicolas Cage (saking jeleknya beberapa film Nicolas Cage terakhir yang saya tonton, saya sampai berusaha keras mengingat kenapa saya pernah menyukai aktingnya), tapi di film ini Nicolas Cage oke. Bisa jadi ini satu-satunya film Nicolas Cage yang bagus. Sedikit mengingatkan pada Stranger Than Fiction.


6. Synecdoche, New York

Menonton ini karena almarhum Philip-Seymour Hoffman. Ceritanya tentang sutradara teater yang hidupnya menyedihkan karena ditinggal istri dan anak, juga mengidap penyakit yang akan merenggut nyawanya. Dia kemudian menggarap satu lakon teater yang melibatkan sangat banyak aktor, yang memerankan orang-orang yang sungguh-sungguh ada di kehidupan sang sutradara. Rada metafiksi di dalam dirinya sendiri. Perlu sedikit lebih teliti mengikuti alurnya biar enggak kebingungan.


7. Dogma

Komedi fantasi tentang, yah, dogma. Banyak pemain yang saya kenal, di antaranya Alan Rickman. Sebagian besar memang menyinggung ajaran Katolik dan gereja, tapi relevan juga dengan agama samawi lainnya dan pandangan umum mengenai Tuhan. Lucu banget. Seperti komedi yang bagus, di dalamnya juga mengandung gagasan-gagasan yang serius.


8. The Godfather Trilogy

Iya, saya rada telat, tapi lebih baik daripada enggak sama sekali. Film yang memikat saya sejak adegan pertama. Karakter Don Vito Corleone membekas banget. Penjahat yang karismatik dan membuat saya menyukainya. Film pertama dan kedua yang saya paling suka. Bagian ketiga kurang menarik. Barangkali drama terbaik yang pernah saya tonton seumur hidup.


9. Embrace of the Serpent

Film yang mengubah cara pandang saya terhadap kemajuan dan peradaban, terhadap apa yang kita anggap sebagai progres dan yang primitif.


10. Chungking Express

Film Wong Kar-Wai pertama yang saya tonton. Kata seorang teman, film-filmnya Wong Kar-Wai itu Cancer banget. Kalau lagi butuh sesuatu yang membangkitkan melankoli dan kangen sama sesuatu yang bahkan enggak kita ketahui, tontonlah film-film Wong Kar-Wai, dimulai dari yang ini.


11. Amores Perros

12. 21 Grams

13. Tekkonkinkreet

14. Paprika

15. Grave of the Fireflies

16. Following

17. 5 Cm Per Second

18. Citizen Kane

19. All Quite on the Western Front

20. Kolya


Deskripsi buat sepuluh film terakhir belum ditulis karena malas, he he, nanti saya update. Sutradara favorit yang tahun ini banyak saya tonton filmnya: Yorgos Lanthimos, Wong Kar-Wai, Makoto Shinkai, Alejandro Gonzaléz Iñárritu, Spike Jonze.

25 Desember 2017

10 Buku Favorit di 2017





Sejujurnya saya kurang happy dengan pencapaian membaca saya di tahun ini, terutama menyangkut jumlah buku yang saya baca. Sejak saya merekam daftar buku yang saya baca di Goodreads, dari tahun ke tahun jumlah buku setiap tahunnya semakin sedikit saja. Tahun ini saya hanya membaca 19 buku dari target 50 buku. Berarti rata-rata saya membaca tidak lebih dari 2 buku setiap bulannya.

Penyebab paling utama dari menurunnya jumlah buku yang selesai saya baca di tahun ini adalah saya menemukan kegemaran baru: belajar menyeduh kopi. Saya berkenalan dengan banyak teman baru dari dunia kopi. Bahkan, saya sempat ikut "sekolah" kopi. Selama beberapa bulan penuh praktis saya tidak membaca buku apapun. Meski sebenarnya dalam masa-masa belajar tentang kopi, saya membaca beberapa buku tentang kopi.

Dalam rangka menjaga tradisi, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya akan menulis daftar buku-buku favorit yang saya baca di tahun ini. Karena saya hanya membaca tidak lebih dari dua puluh buku, jadi membuat daftar ini sama dengan mengambil separuhnya. Untunglah, buku-buku yang saya baca memang kebanyakan bagus, jadi tak begitu sulit memilihnya.

Berikut 10 buku favorit yang saya baca sepanjang tahun 2017:


1. Brave New World (Aldous Huxley)

Novel distopia yang lebih mencekam dari sensasi yang diberikan 1984 George Orwell. Saya menganggap hubungan George Orwell dan Aldous Huxley seperti guru dan murid, karena sama-sama penulis Inggris dan jarak kelahirannya hampir satu dekade. Brave New World dibuka dengan adegan yang mengerikan: sekelompok pelajar diajak study tour ke gedung yang berisi pabrik bayi. Kekuatan novel ini ada pada visi distopia Aldous Huxley, yang sangat relevan dengan pemikiran apapun tentang bagaimanakah itu dunia yang stabil.


2. Other Colors: Essays and A Story (Orhan Pamuk)

Kumpulan tulisan nonfiksi Orhan Pamuk. Kebanyakan tentang masa kecil, keluarga, tips membaca dan menulis, dan tentu saja: Istanbul. Ada juga satu bab yang berisi ulasan Orhan Pamuk atas buku-buku yang pernah dia baca. Tulisan-tulisannya pendek dan enak dikunyah. Kalau sudah pernah baca dan suka novelnya Orhan Pamuk, di buku ini akan kelihatan bagaimana cara Pamuk memandang seni penulisan novel, yang kemudian menjadi landasan praktis saat dia menuliskan novel-novelnya. Ada bonus satu cerita pendek di akhir buku, bercerita tentang almarhum ayahnya dan Pamuk kecil.


3. Slaughterhouse-five (Kurt Vonnegut)

Novel tentang pengalaman Kurt Vonnegut jadi pasukan Amerika waktu Perang Dunia Kedua. Seperti biasa, isinya lucu. Tapi dibanding, misalnya, Gempa Waktu atau Cat's Cradle, yang ini lebih gelap dan terasa lebih serius. Mungkin karena Vonnegut mengalami sendiri apa yang dia tuliskan. Saya bayangkan tentu sulit melucu tentang perang jika betul-betul pernah berada di dalamnya. Menurut review yang umum, ini buku Vonnegut paling notable. Saya sendiri masih lebih suka Gempa Waktu.


4. Human Acts (Han Kang)

Novel polifonik berlatar sejarah tentang pemberontakan sipil di Korea Selatan yang dikenal dengan sebutan Gwangju Uprising, tahun 1980. Buku ini lebih brutal dibanding The Vegetarian, debut Han Kang di dunia sastra internasional. Satu lagi karya yang menegaskan pertanyaan-pertanyaan Han Kang tentang kekerasan dalam diri manusia, dan adakah kemungkinan memiliki jiwa yang polos nan bersih di dunia yang bersimbah kekerasan. Rada bernuansa sureal karena ada bab yang dituturkan oleh mayat (sedikit mengingatkan pada My Name Is Red Orhan Pamuk).


5. The White Book (Han Kang)

Buku Han Kang yang berbentuk cukup unik. Awalnya saya mengira buku ini novel, tapi ketika saya baca ternyata secara format lebih mirip kumpulan puisi. Tapi enggak juga bisa dianggap sepenuhnya sekadar kumpulan puisi karena alur ceritanya cukup jelas. Saya tidak bisa menamai buku ini buku puisi atau novel, atau bahkan sekadar kumpulan prosa. Hal yang penting buat saya adalah bukunya bagus. Soal isinya, buku ini masih bertema kekerasan. Kali ini dituturkan melalui dunia perempuan dan gagasan-gagasan tentang kehamilan, kelahiran, kehidupan, dan kematian. Buku Han Kang paling menyentuh yang pernah saya baca.


6. Sapiens (Yuval Noah Harari)

Buku nonfiksi dari sejarawan Israel. Tahun ini sepertinya jadi salah satu karya nonfiksi yang populer di dunia. Isinya tentang rangkuman sejarah manusia yang dibagi atas tiga periode revolusi (Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian, Revolusi Sains) serta spekulasi-spekulasi tentang masa depan manusia. Bahasanya mudah dicerna dan cukup provokatif. Memang tidak begitu detail karena penulisnya sendiri mengaku dia terpaksa melakukan generalisasi untuk memberikan gambaran umum atas periode kehidupan manusia yang sangat panjang. Buku "lanjutan" dari ini, Homo Deus, juga bagus.


7. Homo Deus (Yuval Noah Harari)

Sekuel Sapiens. Jika Sapiens berisi rangkuman sejarah manusia dari kali pertama ada di bumi hingga masa saat ini, Homo Deus lebih banyak memberikan situasi perkembangan sains dan pengaruhnya terhadap visi manusia dan kehidupan di masa depan. Seperti buku sebelumnya, juga banyak spekulasi menarik yang ditawarkan Yuval Noah Harari di sini, termasuk narasi tentang usaha-usaha korporasi besar dunia mengatasi kematian dan menjadi manusia amortal.


8. Muslihat Musang Emas (Yusi Avianto Pareanom)

Kumpulan cerita dari salah satu penulis Indonesia kesukaan saya. Seperti biasa, lucu dan sedih. Secara umum menggagas pandangan tentang nasib buruk manusia. Beberapa cerita mengangkat persoalan gender. Hal ini menurut saya cukup menarik karena buku Yusi sebelumnya, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi dipandang beberapa pembacanya terutama perempuan sebagai karya yang tidak begitu sensitif menghadapi persoalan gender (kentara male gaze). Tebakan saya buku ini akan masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2018.


9. Max Havelaar (Multatuli)

Novel sejarah bertema kolonialisme dari penulis Belanda bernama asli Eduard Douwes Dekker, yang dikenal pula dengan nama Multatuli (bahasa latin yang berarti "aku telah banyak menderita"). Saya punya kebiasaan buruk menduga novel-novel berlatarkan sejarah sebagai karya fiksi yang lambat dan membosankan. Sebagaimana dugaan saya keliru setelah membaca tetralogi buru Pramoedya Ananta Toer, sekali lagi dugaan saya yang ceroboh itu dipatahkan dengan telak oleh buku ini. Max Havelaar sangat lucu, menghibur, dan menyakitkan. Dengan narasi penuh sarkasme dari karakter-karakter yang kuat, buku ini membongkar sistem pemerintahan kolonial dari dalam, mengungkap praktik-praktik kolonialisme yang menyengsarakan masyarakat jajahannya. Setelah baca buku ini saya jadi paham mengapa Eduard Douwes Dekker menamai dirinya Multatuli.


10. We (Yevgeny Zamyatin)

Sudah baca 1984 George Orwell dan Brave New World Aldous Huxley? Perkenalkan, salah satu dedengkot genre distopia: Yevgeny Zamyatin. Novelnya We, dianggap oleh banyak orang sebagai karya yang menginspirasi Orwell dan Huxley menuliskan masing-masing karya tersebut barusan. Orwell bahkan menerima cukup banyak cemoohan keras dari orang-orang yang membaca We. Mereka menuduh Orwell menjiplak habis tubuh cerita We. Saya sendiri sebenarnya enggak sengaja ketemu buku ini. Asli, bagus banget. Bocoran penting: saya sedang menerjemahkan karya ini ke bahasa Indonesia, doakan bisa terbit tahun depan.



Apa buku-buku favorit yang kamu baca tahun ini? Bagi dong!

6 Desember 2017

Tiga Buku 2017



Tiga buku saya yang terbit tahun 2017. Dua kumpulan tulisan pendek bertema cinta dan satu novel adaptasi dari film layar lebar. Ketiganya masih tersedia dan bisa dibeli di toko-toko buku konvensional maupun online.

Luka Dalam Bara belum lama ini meraih penghargaan Anugerah Pembaca Indonesia 2017 yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia, kategori Sampul Buku Fiksi Terfavorit (Ilustrator: Alvin Resqy), sedangkan Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran dan Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan baru saja rilis.

Tahun depan ada buku baru? Belum tahu. Kita nikmati dulu sisa-sisa tahun ini sembari membayangkan yang seru-seru untuk tahun 2018.





25 November 2017

Mencari Rasa yang Dulu Pernah Ada



Apa yang menjadikan secangkir kopi terasa enak?

Sebagian orang akan menjawab kualitas kopinya dan menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dimaksud dengan kualitas. Sebagian yang lain akan menjawab dengan siapa kopi tersebut diminum. Sisanya barangkali akan menjawab di mana dan pada momen seperti apa kopi tersebut dinikmati.

Saya punya jawaban lain: memori.

Menurut saya, hal yang membuat secangkir kopi terasa nikmat adalah memori yang menyertai detik-detik kopi tersebut masuk ke mulut dan perut kita.

-

Belakangan ini, saya sedang dilanda rasa rindu pada kampung halaman. Homesick, bahasa umumnya. Sudah sepuluh tahun lebih saya tinggal di Yogyakarta. Kampung halaman saya di Pontianak, Kalimantan Barat. Saya rutin mudik ke rumah orangtua paling tidak satu kali dalam setahun, biasanya setiap jelang bulan ramadan hingga usai acara lebaran.

Saya hampir tidak pernah merasa homesick sebelumnya. Saya senang-senang saja tinggal di Yogyakarta dan merasa cukup pulang kampung satu kali setahun. Toh, di waktu-waktu tertentu saya menelepon ibu, ayah, atau adik saya, dan bagi saya itu sudah cukup untuk membuat hati terisi kembali oleh kabar baik dari rumah. Saya tidak merasa perlu untuk setiap satu kali sebulan pulang.

Namun, belakangan ini saya merasakan rindu yang lebih kentara dari sebelum-sebelumnya terhadap rumah. Saya tidak tahu penyebab yang persis. Mungkin karena memang sudah cukup lama saya tinggal di Yogyakarta. Mungkin sedang tidak ada hal baru yang menarik perhatian saya di kota ini khususnya. Mungkin saya merasa ingin melakukan hal baru di rumah.

Saya merasa ada sesuatu yang hilang.

-

Setengah tahun belakangan, saya rutin menyeduh kopi sendiri di kamar indekos di Yogyakarta. Perjalanan hidup telah membawa saya bertemu dengan orang-orang dari dunia kopi. Mereka orang-orang yang menyenangkan karena tak sungkan berbagi kepada saya tentang apa yang mereka sukai: kopi. Saya mulai penasaran dan akhirnya memutuskan untuk mempelajari kopi lebih dalam.

Semenjak itu, saya bertemu dengan cukup beragam jenis kopi. Kopi dari dalam negeri maupun luar negeri. Kopi yang disangrai dengan beragam cara maupun yang menjalani proses beragam pula. Kopi-kopi tersebut memberi warna bagi pemahaman saya terhadap salah satu minuman yang sangat populer di dunia ini. Semakin hari, saya semakin bersemangat mengenal kopi.

Lantas, pada suatu pagi yang biasa-biasa saja, saya merasakan kerinduan itu. Rasa rindu pada kampung halaman. Rasa rindu pada secangkir kopi yang ada di kota kelahiran saya, Pontianak.

Saya merindukan secangkir kopi susu yang sederhana saja. Secangkir kopi susu yang saya nikmati sembari membaca lembar-lembar koran, tatkala saya duduk di warung kopi yang menghadap ke jalan raya yang dilintasi kendaraan-kendaraan dan sesekali rintik hujan.

Namun, saya tidak bisa segera pulang kampung. Masih ada pekerjaan dan urusan-urusan yang harus saya selesaikan di Yogyakarta, tempat saya tinggal. Aduh, bagaimana caranya?

Bagaimana menemukan rasa yang dulu pernah saya nikmati?

-

Sepulang dari bekerja di luar, saya menyempatkan diri mampir ke minimarket di dekat indekos. Saya mengambil satu pak Kopi Kapal Api rasa kopi susu. Saya ingin menikmati sesuatu yang membuat saya teringat pada warung kopi di kampung halaman.

Esok paginya, saya menyeduh secangkir kopi susu Kapal Api. Aromanya seketika membuat saya terlempar ke bangku plastik di halaman depan warung kopi di kota kelahiran. Cuaca riuh kota dan kendaraan-kendaraan menyala dalam kepala.

Apa yang membuat secangkir kopi menjadi nikmat? Memori. Apa yang membuat kita selalu kembali pada kopi? Karena ada rasa tertentu yang kita rindu.

Menakjubkan ketika menyadari bagaimana secangkir kopi dapat membuat saya mengingat sesuatu, atau mewakili ingatan-ingatan saya akan tempat-tempat dan perasaan-perasaan tertentu. Untuk alasan tersebut, saya merasa Kapal Api memang jelas lebih enak. Karena secangkir kopinya dapat membuat saya menebus rindu pada kampung halaman.

Akhirnya, karena Kopi Kapal Api , saya menemukan kembali rasa yang dulu pernah ada.

-

Hei, penulis dan pencinta kopi!

Tahu enggak kalau sekarang Kapal Api membuat kompetisi blog. Bagi kamu yang punya blog dan senang menulis, harus ikutan kompetisi #KapalApiPunyaCerita.

Caranya? Gampang sekali. Buka halaman ini: #KapalApiPunyaCeritaBlog Competition dan ikutin ketentuannya. Menangkan Samsung Galaxy Note 8 serta 50 voucher belanja senilai Rp 200.000,- jadi rugi kalau enggak ikutan.

Semoga beruntung!




24 November 2017

Hotel Nyaman di Malang Dekat Alun-Alun

Kalau kamu liburan di Malang, lokasi yang paling strategis untuk menginap adalah di kawasan sekitar alun-alun dan Balaikota Malang. Lokasi ini sangat strategis, berada di pusat kota dan dekat dengan fasilitas umum seperti stasiun, pusat kuliner dan perbelanjaan, dan pastinya mudah dijangkau dari kawasan manapun.
Belum punya gambaran mau menginap di mana selama di Malang? Beberapa hotel di dekat alun-alun ini bisa menjadi pilihanmu.

Hotel Tugu
sumber:tuguhotels.com

Letak hotel ini tepat berada di depan alun-alun tugu dan Balaikota Malang. Mudah saja menjangkau Hotel Tugu, dari Stasiun Kotabaru, kamu tinggal jalan kaki selama kurang dari lima menit untuk sampai disana.
Tidak hanya strategis, Hotel Tugu juga dikenal sebagai penginapan legendaris di Malang. Nuansa bangunan dan dekorasi dalam kamar yang bertema tradisional, dengan sentuhan Jawa yang amat kental, dan makanan lezat yang tidak akan kamu temukan di hotel lainnya.

Hotel Montana

sumber:sahidhotels.com

Hotel ini terletak sekitar 15 meter dari Tugu Malang. Bangunannya masih bergaya tradisional, dengan kamar yang nyaman dan bersih serta resto yang memiliki makanan lezat. Meski dari luar bangunannya nampak sederhana, namun setelah masuk ke dalamnya kamu pasti akan betah karena nuansanya sangat hangat dan akrab.

Splendid Inn

sumber:web.facebook.com/Splendid-Inn-Hotel-158728680849171

Bersebelahan langsung dengan Balaikota Malang, Splendid Inn adalah penginapan yang sudah berdiri sejak zaman Belanda. Bangunan hotel ini pun masih bernuansa Belanda, dengan gerbang yang sedikit nampak spooky, namun sebenarnya hotel ini bersih dan nyaman. Tak seseram bayangan orang.

Hotel Kartika Kusuma

sumber:panoramio.com

Hotel yang terletak di Jl. Kahuripan ini hanya sekitar 10 meter saja dari Tugu Malang. Bangunannya sederhana, namun hotelnya nyaman untuk ditinggali, dengan kamar-kamar yang bersih dan rapi. Di bagian depan hotel terdapat café yang menyediakan kopi dari berbagai daerah dengan suasana yang nyaman. Hanya dengan berjalan kaki ke depan hotel, megahnya Tugu Malang sudah terlihat jelas.

Same Hotel

sumber: @samehotelmalang.com

Hotel ini terletak di Jl. Pattimura, sekitar 500 meter dari Alun-Alun Tugu Kota Malang. Dibandingkan dengan beberapa hotel sebelumnya, Same Hotel termasuk baru, dengan bangunan yang tinggi menjulang. Dari hotel ini, kamu bisa melihat pemandangan malam kota Malang yang tenang.

Hotel Helios

sumber:traveloka.com

Letaknya sekitar 300 meter dari Alun-Alun Tugu, dan tempat ini adalah salah satu hotel budget terbaik di Malang. Setiap harinya ada banyak turis dari luar negeri yang menginap disana, sebagian besar adalah mereka yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Gunung Bromo.

The 101 Hotel Malang

sumber:phm-hotels.com

Terletak di Jl. Cipto, hotel ini lokasinya sekitar 700 meter dari alun-alun Tugu. Selain kamar yang nyaman, The 101 Hotel Malang juga memiliki Sky Resto yang sudah terkenal dengan kelezatan makanan dan juga pemandangan yang cantik. Dari puncak hotel ini, pemandangan gunung-gunung yang ada di sekitar Malang nampak dengan jelas. Sangat cocok untuk tempat menginap bagi kalian yang sedang jatuh cinta di kota Malang.

Hotel Gajah Mada Graha

sumber:hotelgajahmadagraha.com

Di Jl.Cipto juga terdapat hotel Gajah Mada Graha yang juga nyaman dan bersih. Dari hotel ini, kamu bisa menuju alun-alun Tugu dengan mudah, dan ada banyak kuliner khas Malang yang ada di dekatnya, seperti bakso bakar pak Man yang nggak boleh kamu lewatkan.

-->
Masih ada banyak lagi hotel dekat Tugu yang nyaman dan bersih. Kamu tinggal memilih sesuai dengan kebutuhan dan juga budget buat liburan di Malang. ***

14 November 2017

Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan




Buku saya yang ke-13. Kumpulan prosa singkat bertema cinta. Bagi teman-teman pembaca yang sudah akrab dengan buku Luka Dalam Bara, buku ini menawarkan kelanjutan kisah serupa dengan perasaan-perasaan yang mungkin lebih sederhana memilukan.

Dicetak hard cover dan isi penuh warna, Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan akan edar di toko-toko buku jaringan Desember 2017.

Selamat menunggu dan kelak menikmati.


2 November 2017

Rahasia Menembus Penerbit Ala Bernard Batubara!


Foto oleh: Nuri Arunbiarti


Saya selalu mengira bahwa zaman sekarang semua orang serba tahu akan segala hal. Atau setidaknya mudah untuk mengetahui yang belum diketahui. Atas dasar pikiran seperti itu, saya jarang sekali menyebarkan informasi yang saya anggap sudah diketahui secara umum. Salah satunya yang terkait dengan dunia penulis: mengirim naskah ke penerbit.

Anggapan saya, semua orang sudah tahu bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit. Kalaupun belum, saya kira merupakan sebuah common sense untuk mencari tahu di Internet. Maksudnya, kalau enggak tahu cara mengirim naskah, bukankah langkah logis yang merupakan solusinya adalah mengetik di Google: “Cara mengirim naskah ke penerbit”?

Saya tidak tahu apakah ini sudah dilakukan oleh teman-teman yang ingin tahu cara mengirim naskah. Kalau kamu melakukannya, pada halaman pertama saja sudah banyak panduan cara mengirim naskah yang saya kira cukup jelas. Jadi, apa gunanya lagi saya membuat tulisan ini?

Faktanya, meski tidak setiap hari, cukup banyak ternyata teman-teman yang mengirimi saya e-mail dan pesan di Instagram bertanya bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit. Mau saya jawab, kok rasanya malas. Tidak saya jawab, rasanya ada tanggungjawab moral sebagai penulis untuk berbagi informasi. Tapi ya capek juga kalau setiap ada pertanyaan seperti itu dari orang yang berbeda, saya harus mengetik ulang jawaban yang sama.

Jadi, ya sudah, saya bikin saja tulisan ini. Bisa jadi yang dibutuhkan teman-teman bukan sekadar panduan teknis mengirim naskah, melainkan tips tertentu yang membuat kemungkinan naskah diterima semakin mungkin. Kalau perlu langkah-langkah jitu yang menjamin seratus persen penerbit mustahil menolak menerbitkan naskahmu!

Sepuluh tahun berkarir di dunia penulisan kreatif dan di antaranya satu tahun bekerja di sebuah penerbitan sebagai editor, berikut ini beberapa hal yang bisa saya bagi. Saya tidak jamin apakah daftar ini otentik dan belum ditulis oleh penulis ataupun penerbit lain, tapi ini tips dari Bernard Batubara gitu loh.

30 Oktober 2017

MOBIL BEKAS


Ini adalah sampul buku saya yang terbaru. Novel “Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran”, yang saya tulis sebagai terjemahan atas film layar lebar Ismail Basbeth dari rumah produksi Bosan Berisik Lab berjudul sama—yang saat ini sedang berkelana di festival film internasional di Busan dan Tokyo dengan judul bahasa Inggris “The Carousel Never Stops Turning”.
#MobilBekas adalah buku saya yang ke-12, novel saya yang ke-6, sekaligus karya perdana yang saya tulis berdasarkan film layar lebar.
Novel ini akan segera diterbitkan oleh Bentang Pustaka

21 September 2017

Selamat Datang


Buku terbaru Bernard Batubara, Luka Dalam Bara


Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir pada Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), Jika Aku Milikmu (2015), Metafora Padma (2016), dan Elegi Rinaldo (2016). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Maret 2017, Luka Dalam Bara.


23 Agustus 2017

Novel Baru: MOBIL BEKAS




Saya senang dapat berkolaborasi dengan seorang kreator yang punya semesta pikiran menarik. Tahun ini saya berkesempatan membuat cerita dari film layar lebar Ismail Basbeth, sutradara Indonesia yang membuat film Mencari Hilal dan Talak Tiga. 

Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran adalah film layar lebar terbaru dari Ismail Basbeth dan rumah produksi Bosan Berisik Lab. Saya menulis novel untuk film tersebut. Saat ini draf pertama sudah selesai ditulis dan sedang dalam masa penyuntingan. Doakan lancar.

Jika tidak ada hambatan yang berarti, novel terbaru saya MOBIL BEKAS dan Kisah-Kisah dalam Putaran akan terbit melalui Bentang Pustaka akhir tahun 2017.


12 Agustus 2017

Kamu Orang Mana?




Ada banyak hal yang saya senangi di hidup ini, salah satunya berkenalan dengan orang baru. Namun, dari banyak hal yang saya senangi ketika bertemu kenalan baru, ada satu pertanyaan yang tidak pernah bisa saya jawab dengan lekas. Pertanyaan yang senantiasa disampaikan sebagai pembuka, pengisi obrolan, atau bahkan di penghujung tukar-pikiran. Di mana pun letaknya, pertanyaan ini niscaya muncul:

“Kamu orang mana?”

Saya selalu bingung harus menjawab apa.

Apa itu maksudnya: Kamu orang mana?

Beberapa teman saya menerjemahkan pertanyaan tersebut sebagai keingintahuan akan daerah asal atau lebih spesifik lagi tempat kelahiran. Jika kamu lahir di Yogyakarta, maka jawabannya: “Saya orang Jogja.” Beberapa yang lain menganggap kata tanya mana mengacu pada kelompok etnis. Jika kamu lahir dari kedua orangtua Betawi, maka kamu akan menjawab: “Saya orang Betawi.”

Jawaban ini bukan tanpa persoalan. Masalahnya, kalau kedua orangtua saya berasal dari suku yang berbeda, saya harus menjawab dengan apa?

“Saya orang Batak, sih, tapi juga Melayu.:”

Menjadi lebih rumit lagi jika ayah dan ibu saya tidak murni Batak maupun Melayu.

“Saya orang Batak, sih, tapi juga Melayu. Ada India-nya sedikit, tapi udah jauh…”

Rumit, kan.





Ini bukan persoalan sederhana. Belasan tahun sejak kali pertama mendapat pertanyaan itu saya masih saja kebingungan menjawabnya. Semakin sulit bagi saya menerjemahkan dan memberi respons atas pertanyaan, “Kamu orang mana?” ketika saya terus berpindah tempat tinggal dari desa masa kecil di Anjongan Kalimantan Barat, Pontianak, hingga kini di Yogyakarta.

Di Anjongan saya tinggal hingga usia 11 tahun. Di Pontianak saya menghabiskan waktu 6 tahun. Di Yogyakarta, saya sudah tinggal selama 10 tahun lebih, hingga beberapa kali ketika driver ojek bertanya basa-basi tentang berapa lama saya tinggal Yogyakarta, mereka merespons dengan, “Wah sudah jadi orang Jogja ya.” setelah saya menyebut 10 tahun.

Jadi saya ini orang mana sebenarnya?

Secara teknis, saya adalah orang Batak campur Melayu dan sedikit India. Itupun karena saya hanya sanggup melacak hingga tiga generasi ke atas. Saya tidak tahu ibunya nenek buyut saya orang mana, belum lagi nenek buyutnya nenek buyut.

Jika dibilang orang Batak karena ayah saya Batak, saya sesungguhnya tidak paham-paham amat perihal tradisi Batak. Begitu pula dengan Melayu, suku ibu saya; saya bicara dalam bahasa Melayu pergaulan selama enam tahun, tapi tidak benar-benar mengenal secara dalam dan fasih tentang budaya Melayu. Kini, ketika saya tinggal di Yogyakarta, saya merasa memahami sedikit lebih banyak soal Yogyakarta ketimbang Pontianak, kota kelahiran saya.

Jadi, disebut apa laki-laki yang lahir dari orang Batak dan orang Melayu yang tidak benar-benar tahu mengenai budaya Batak dan Melayu dan merasa dirinya lebih dekat pada kebiasaan orang-orang Jawa?





Suatu hari, saya jatuh cinta.

Pada sebuah percakapan dengan orang yang saya cintai, dia tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuat saya agak tidak siap.

“Coba kamu ngomong pakai bahasa Melayu.”

Saya belum pernah jatuh cinta dengan orang yang melemparkan permintaan ganjil seperti itu. Tidak ada pernah ada yang notice dengan aksen Melayu saya, yang meski jarang muncul, sesekali bisa hadir dalam kata-kata saya terutama jika saya merasa nyaman dengan lawan bicara.

Kekasih saya pada saat itu (yang kini sudah menjadi kekasih orang lain) kerap meminta saya berbicara dengan aksen Melayu. Jika selama beberapa jam saya berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang cukup formal, dia akan sadar kemudian bertanya: “Kok kamu enggak ngomong pakai bahasa Melayu lagi, sih?”

Saya tidak pernah merasa sangat bangga menjadi orang Melayu, hingga orang yang saya cintai terus-terusan meminta saya bicara dalam aksen Melayu. Ketika saya bertanya mengapa, dia bilang dia menyukai cara saya bicara ketika saya bicara dalam aksen Melayu. Semenjak itu, saya kerap bicara dengannya seperti saya bicara kepada teman-teman sekolah saya di Pontianak.

*

Pada titik itu saya mulai merasa dapat relate dengan sesuatu.

Bagaimanapun, di dalam diri saya ada darah Melayu. Di dalam pembuluh yang sama, juga terdapat darah Batak. Nama belakang saya Batubara, dan ari-ari saya ditanam di tanah Khatulistiwa. Saya tumbuh sebagai anak kecil dan remaja di Pontianak, Kalimantan Barat, dan menjadi dewasa di kota Yogyakarta di pulau Jawa. Saya adalah semua yang ada di diri saya. Seluruh bahasa, budaya, dan identitas yang menjejak di tempat bernama Indonesia.

Suatu hari, saya jatuh cinta pada seseorang yang mengingatkan rasanya menjadi orang Indonesia. Setelah itu, saya jatuh cinta pada kenyataan bahwa saya orang Indonesia. Jika ada orang yang bertanya, “Kamu orang mana?” saya akan jawab dengan santai dan mudah, “Saya orang Indonesia.”






-->
Tulisan ini bekerjasama dengan Giordano Indonesia dan #OneIndonesia.