21 September 2017

Selamat Datang


Buku terbaru Bernard Batubara, Luka Dalam Bara


Bisikan Busuk adalah blog pribadi Bernard Batubara (Bara): penulis penuh-waktu, yang lahir pada Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; kini tinggal di Yogyakarta. Bara belajar menulis puisi, cerita pendek, dan novel sejak 2007. Buku-bukunya yang telah terbit: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta. (2013), Surat untuk Ruth (2013), Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014), Jika Aku Milikmu (2015), Metafora Padma (2016), dan Elegi Rinaldo (2016). Radio Galau FM dan Kata Hati telah diadaptasi ke layar lebar. Buku terbarunya terbit Maret 2017, Luka Dalam Bara.


13 Juni 2017

Sebuah Panduan Berbuat Jahat


(Foto dari redaksi Mojok)


Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di Mojok.


Saya rindu membaca cerita yang dimulai dengan niat jahat. Meski tentu saja tidak semuanya, tetapi novel-novel terakhir yang saya baca selalu bermula dengan protagonis yang memiliki kehendak mulia, lalu menghadapi masalah yang menghalau kehendak mulianya, namun berakhir bahagia dan ditutup dengan keberhasilan si protagonis menunaikan niat mulianya itu. Saya rindu orang jahat. Saya rindu orang jahat yang menjadi tokoh utama. Saya rindu sebuah cerita yang membuat saya percaya bahwa sama seperti kebaikan, kejahatan pun bisa sungguh-sungguh menang.

Novel 24 Jam Bersama Gaspar karya Armandio Alif menunaikan kerinduan saya akan hal-hal tersebut.

Armandio Alif adalah penulis Indonesia berusia muda yang cemerlang. Saya katakan cemerlang, karena sejak awal kemunculannya di dunia sastra Indonesia, Dio-panggilan akrabnya, walau menurut saya “Sabda” terdengar lebih agung-sudah menorehkan prestasi baik. Novel debut Dio, Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya, menjadi satu dari lima buku terbaik tahun 2015 pilihan majalah Rolling Stone Indonesia. Tidak butuh waktu lama bagi Sabda Armandio untuk mencuri perhatian para pelaku dan penikmat karya sastra Indonesia, karena karya keduanya, novel 24 Jam Bersama Gaspar, menjadi pemenang unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016.

Kurang keren apa lagi coba?

Sebelum membaca kedua novel Sabda Armandio, saya lebih dulu mengenal karya-karyanya yang dia pajang di blog pribadinya. Kebanyakan cerita pendek. Ada pula cerita yang sangat pendek dan beberapa cerita terjemahan. Selain menulis cerita pendek dan novel, Dio juga menerjemahkan cerita-cerita pendek dari penulis yang saya asumsikan merupakan penulis kesukaannya. Salah satu dari penulis kesukaannya itu dia pinjam dan jadikan tokoh di 24 Jam Bersama Gaspar, yaitu sebuah motor bernama Cortazar (ya, dari Julio Cortazar).


*

Saat membaca cerita-cerita Dio di blognya, hal pertama yang saya tangkap adalah jiwa iseng si penulis. Dio senang bermain-main di dalam ceritanya dan hal tersebut memunculkan kesan bahwa dia tidak sungguh-sungguh ingin menulis sesuatu yang bagus. Alur cerita, dialog, karakter-karakter dalam cerita-ceritanya cenderung absurd, ganjil, dan terkesan asal bikin saja. Tidak terlihat niat atau perencanaan yang matang untuk membuat plot dan gagasan yang matang.

Tapi, tunggu dulu, apa memang benar begitu?

Cerita bagus biasanya dimulai dengan kesan main-main. Sama seperti seorang pelawak yang sedang beraksi di panggung, Sabda Armandio melalui panggung naskahnya memulai cerita-ceritanya dengan humor yang membuat saya tertawa dan lengah. Setelah lawakannya berhasil, barulah dia menembakkan gagasan-gagasan yang kerap membuat saya terkejut dan berpikir panjang.

Itu terjadi di cerita-cerita pendek yang ia pajang dan bisa dibaca gratis di blog pribadinya. Itu yang terjadi di novel Kamu. Itu pula yang terjadi di 24 Jam Bersama Gaspar.

Humor Sabda Armandio bahkan sudah terasa sejak pembukaan novel. Sebuah pengantar yang ditulis dengan gaya parodi membuat saya benar-benar meramban di mesin pencari laptop saya untuk mengenal lebih jauh siapa itu Arthur Harahap. Setelah tidak menemukan hasil yang bikin saya puas, saya membangun imajinasi akan Arthur Harahap di kepala saya sendiri.

Pengantar 24 Jam Bersama Gaspar yang ditulis oleh sosok fiktif (meskipun ini masih bisa diperdebatkan) bernama Arthur Harahap merupakan sebentuk metafiksi yang segar dan sukses bikin saya penasaran, tidak hanya pada siapa sebenarnya yang menulis pengantar buku ini, tetapi juga sosok sang protagonis, Gaspar.


*

Gaspar adalah seorang laki-laki berusia pertengahan tiga puluh yang senang bermain musik dan punya hasrat membunuh orang. Saya langsung jatuh hati pada Gaspar sejak Sabda Armandio memberikan deskripsi tentang dia. Melalui sudut pandang penceritaan orang pertama, Gaspar berkata bahwa dia adalah “…yang diceritakan naga-naga dewasa kepada anak-anak mereka agar cepat tidur.” Gaspar juga sesumbar, “Dulu Kim Il Sung menyebut namaku beserta segala kemampuanku untuk menghentikan rengekan Kim Jong Il kecil.”

Sungguh seram dan menarik.

Gambaran jahat itu tentu saja bukan omdo alias omong doang. Gaspar membuktikannya dengan memberi tahu pembaca bahwa dia akan merampok sebuah toko emas 24 jam dari sekarang. Bersama motor kesayangannya, Cortazar, dan tokoh-tokoh lain yang dengan hasutan tertentu menjadi partner in crime (literally!) Gaspar, layaknya Momotaro pergi untuk menumpas monster di pulau jauh, Gaspar berangkat ke toko emas untuk mengambil sebuah kotak hitam misterius. Apa isi kotak hitam yang memotivasi niat jahat Gaspar? Ya, baca aja novelnya.

Dalam delapan bab yang sangat menghibur, cerita 24 Jam Bersama Gaspar berjalan di dua alur yang paralel. Dalam alur pertama, kita mengikuti pergerakan Gaspar bersama teman-teman gengnya yang dia bentuk dadakan dan sebenarnya tidak sangat bahagia mengikuti rencana absurd Gaspar; dan di alur kedua, kita membaca (atau “mendengar”) rekaman wawancara seorang polisi dengan seorang nenek-nenek anggota komplotan kriminal Gaspar. Kedua alur paralel yang sedikit mengingatkan saya pada novel Kafka on the Shore karya Haruki Murakami (di novel Haruki ada tiga alur paralel) ini bersaling-silang membangun misteri dan ketegangan yang berusaha dibentuk Sabda Armandio demi menepati janjinya di sampul buku: novel ini adalah sebuah cerita detektif.

Gagasan tentang apa itu jahat dan apa itu baik menjadi energi utama cerita novel 24 Jam Bersama Gaspar. Melalui tindakan-tindakan karakternya, Sabda Armandio mengajak saya mempertanyakan kembali akan makna kejahatan dan kebaikan. Tidak hanya lewat Gaspar, tetapi juga karakter-karakter lain termasuk sasaran Gaspar, sang pemilik toko emas, orang yang menyimpan kotak hitam incaran Gaspar: Wan Ali.

Wan Ali yang telah berbuat jahat demi kebaikan menurut versinya, dan Gaspar yang berbuat jahat demi membalas kejahatan Wan Ali, adalah karakter-karakter yang kita temukan di kehidupan sehari-hari. Orang-orang jahat di dunia nyata dan tokoh-tokoh jahat di film-film Hollywood kerap menggunakan alasan “ini semua demi kebaikan” untuk membenarkan tindak jahat mereka. Sabda Armandio, lewat mulut Gaspar, seakan ingin berkata: kalau jahat ya jahat saja.

Membaca novel 24 Jam Bersama Gaspar, selain membuat saya tertawa karena penuh lawakan segar, juga bikin saya merenung tentang makna jahat dan baik, sekaligus menggerakkan jari-jari tangan saya untuk mencari sebuah puisi yang sejak tadi saya coba ingat. Sebuah puisi yang dalam bahasa Inggris kira-kira berjudul There is a Field, karya Jalaluddin Rumi:

Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing,
there is a field. I’ll meet you there.
When the soul lies down in that grass,
the world is too full to talk about.
Ideas, language, even the phrase each other
doesn't make any sense.


Saya membayangkan bertemu Gaspar di sebuah warung makan Tegal di suatu sore yang adem, dan Gaspar mengucapkan dua kalimat pertama dari puisi Rumi, dan kami akan duduk-duduk di selokan di pinggir sawah yang masih hijau, dan berbicara panjang lebar tentang kejahatan dan kebaikan. ***

6 Juni 2017

Membaca “Human Acts”, Membaca Kekerasan



Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di Jakartabeat.


Tidak ada negara yang luput dari sejarah kekerasan. Tidak Indonesia, tidak pula Korea. Siapa mengira, negeri ginseng tempat tinggal pemuda dan pemudi idola para penggemar K-Pop itu juga menyimpan cerita-cerita pembantaian manusia. Dalam novel terbaru Han Kang, Human Acts, penulis peraih penghargaan Man Booker Prize International 2016 itu mengungkit peristiwa “Gwangju Uprising”, insiden demonstrasi yang menjadi bercak hitam dalam sejarah Korea Selatan. Insiden yang telah melenyapkan lebih dari enam ratus jiwa manusia.

Han Kang adalah penulis asal Korea teranyar yang saat ini menerima lampu sorot dari kesusastraan dunia. Novel pertamanya yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, The Vegetarian, membawa Korea ke panggung kesusastraan internasional, memberi label berikutnya pada Korea selain sebagai negara penghasil boyband dan girlband dan K-Drama. Di The Vegetarian, kisah perempuan yang mendadak ingin jadi seorang vegan dan mengira dirinya adalah tumbuhan disampaikan dengan puitis sekaligus terkesan sureal. Lewat novel itu, Han Kang mengajukan sebuah pertanyaan penting: Apakah kekerasan merupakan sifat mendasar manusia?

Pertanyaan tersebut masih menjadi persoalan utama yang diolah Han Kang di novel terbarunya, Human Acts (Portobello Books, 2016). Human Acts bercerita tentang peristiwa yang dikenal sebagai “Gwangju Uprising”-sebutan untuk aksi demonstrasi warga Gwangju pada tahun 1980 yang dilakukan menyusul terbunuhnya presiden Korea Selatan keempat, Park Chung-hee, setahun sebelumnya. Peristiwa ini lebih populer dengan nama “5-18”, mengindikasikan tanggal 18 Mei, waktu terjadinya peristiwa itu.

Pasca terbunuhnya Park Chung-hee, gerakan-gerakan massa menuntut penegakan demokrasi yang terbendung selama 18 tahun kediktatorannya kembali menyeruak. Gelombang massa ini yang kemudian ditekan oleh Chun Doo-hwan, petinggi militer Korea Selatan yang melakukan kudeta untuk mengambil alih kendali negara. Sosok yang disebut Han Kang di novelnya sebagai “The Butcher”. Orang yang bertanggungjawab atas kematian sekurangnya 600 jiwa warga Korea.

*

Human Acts merupakan novel polifonik. Terdiri atas enam bagian, masing-masing bagian memiliki protagonisnya sendiri dan dituturkan menggunakan sudut pandang penceritaan yang berbeda-beda. Enam bagian tersebut ditutup dengan sebuah epilog yang dituturkan oleh Han Kang sendiri sebagai penulis novel, berisi gambaran tentang apa yang ia alami ketika peristiwa pembantaian itu berlangsung serta bagaimana cerita ketika ia mencoba melacak dokumen-dokumen tentang “5-18”.

Pada bab pertama novel, “The Boy. 1980”, pemuda yang menjadi fokus narasi Han Kang terlihat membantu para sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan oleh tentara. Pemuda ini kemudian kita ketahui bernama Dong-ho, dan melalui serangkaian adegan, kita akan paham bahwa ia juga merupakan salah satu korban pembantaian. Han Kang membuka Human Acts dengan deskripsi seorang pemuda belia yang sedang melihat hujan. “It looks like rain,” you mutter to yourself. Kalimat pertama itu memberi saya jalan masuk untuk membayangkan cuaca yang mengiringi situasi mencekam di Gwangju, sekaligus merasakan sesuatu yang puitis-nuansa yang kerap muncul tiap membaca narasi Han Kang.

Bagian kedua, “The Boy’s Friend. 1980”, mengingatkan saya pada mayat di pembukaan novel My Name Is Red, Orhan Pamuk, karena mereka sama-sama mayat yang berbicara. Bagian ketiga, “The Editor. 1985”, menuturkan kisah Kim Eun-sook, jurnalis yang mencoba melupakan tujuh tamparan personil tentara dalam sebuah interogasi. Bagian keempat, “The Prisoner. 1990”, tentang mantan narapidana yang menceritakan pengalamannya disiksa tentara. Di bagian kelima, “The Factory Girl. 2002”, seorang pekerja dipaksa mengingat masa kelamnya semasa demonstrasi. Di bagian terakhir, “The Boy’s Mother. 2010”, seorang ibu mengenang kematian anaknya.

Han Kang berpindah-pindah dari satu protagonis ke protagonis berikutnya dan bercerita menggunakan sudut pandang penceritaan orang pertama, kedua, dan ketiga. Meski awalnya sedikit sulit mengikuti peralihan sudut pandang penceritaan yang terus-menerus ini, pada akhirnya kita akan memahami gambar besar yang dilukis Han Kang. Semua tokoh yang ia ceritakan merupakan bagian dari satu kelompok yang sama: kelompok masyarakat yang melawan kekuatan militer Chun Doo-hwan. Kelompok yang menjadi korban kekerasan negara.

Selain memperlihatkan bahwa kekerasan dan kekuasaan kerap tampil sebagai saudara sedarah, Human Acts juga menunjukkan bagaimana perlawanan selalu muncul dari bawah. Seluruh bagian kelompok demonstrasi Gwangju yang beraksi menghadap tentara adalah masyarakat sipil. Mereka yang tidak terlatih memegang senjata dan hanya berbekal keberanian, kenekatan, serta solidaritas kuat yang berakar pada satu keyakinan: Bahwa mereka benar. Bahwa kehendak mereka menuntut demokrasi adalah sesuatu yang benar dan pantas.

Jika dibanding dengan novel sebelumnya, The Vegetarian, novel terbaru Han Kang ini menampilkan pemandangan yang lebih brutal. Begitu banyak gambar-gambar yang dapat dikategorikan Not Safe For Work (NSFW). Han Kang mendeskripsikan wujud tubuh mayat korban kekerasan dan adegan-adegan penyiksaan tanpa sensor sama sekali. Namun, kata si pemuda Dong-ho, “Apa yang mengerikan dari mayat-mayat ini? Lebih menakutkan tentara-tentara itu.”

Han Kang menulis sebuah paragraf yang menurut saya sangat kuat di Human Acts. Sebuah pernyataan yang menjadi benang merah atas karya-karyanya. Berikut bunyi paragraf tersebut:

Is it true that human beings are fundamentally cruel? Is the experience of cruelty the only thing we share as a species? Is the dignity that we cling to nothing but self-delusion, masking from ourselves this single truth: that each one of us is capable of being reduced to an insect, a ravening beast, a lump of meat? To be degraded, damaged, slaughtered; is this the essential fate of humankind, one which history has confirmed as inevitable?

*

Human Acts diterjemahkan dari bahasa Korea ke Inggris oleh Deborah Smith, penerjemah asal Inggris berusia 29 tahun yang bersama Han Kang menerima anugerah Man Booker Prize International 2016 lewat terjemahannya untuk The Vegetarian. Dalam pengantarnya di novel Human Acts, Deborah Smith memberi sedikit gambaran tema yang diangkat Han Kang. Bagi saya yang awam sejarah politik dan kekerasan di Korea Selatan, pengantar pendek Deborah Smith amat membantu dalam memahami gagasan dan latar belakang cerita di Human Acts.

Sebagai penulis, garis hidup Han Kang tampak seolah-olah sudah disuratkan. Ayah dan abangnya, masing-masing bernama Han Seung-won dan Han Dong Rim, juga adalah penulis. Han Kang belajar Kesusastraan Korea di Universitas Yonsei dan kini mengajar penulisan kreatif Institut Seni Seoul. Sebelum meraih perhatian dunia lewat kemenangannya di Man Booker, Han Kang sudah lebih dulu mendapat beragam penghargaan kesusastraan di negara asalnya.

Sebuah karya sastra yang baik akan membuat kita mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya berlangsung setiap hari tetapi tidak pernah kita pikirkan secara sadar. Membaca Human Acts membuat saya merenung dalam. Benarkah kekerasan merupakan sesuatu yang inheren pada manusia? Apakah kekerasan adalah fitrah manusia? Jika benar demikian, apa yang bisa manusia perbuat demi melepaskan kekerasan itu dari dirinya, atau sebaliknya, melepaskan dirinya dari kekerasan? Demi mencapai “…sebuah tempat yang disinari cahaya matahari, sebuah tempat di mana bunga-bunga bermekaran.” ***

21 Maret 2017

Slaughterhouse-Five, Kurt Vonnegut



Satu hal yang paling ingin saya pelajari dari Kurt Vonnegut adalah bagaimana ia membuat lelucon tentang hal-hal yang gelap. Perang, merupakan tema yang seakan tidak habis-habisnya menjadi samsak latihan tinju Vonnegut. Pukulan demi pukulan ia lancarkan dan luncurkan untuk menghajar habis peperangan. Buku-buku Vonnegut bagi saya adalah buku-buku anti-war terbaik, karena ia memperlihatkan cara paling ampuh untuk mengejek sesuatu: membuat lawakan tentangnya.

Yang lebih menyenangkan lagi, tentu saja, ejekan Vonnegut terhadap perang ditulis dalam bentuk cerita fiksi. Buku terakhir darinya yang saya baca, Slaughterhouse-Five, adalah sebuah novel yang menceritakan kisah hidup seorang optometris bernama Billy Pilgrim. Billy Pilgrim menjelajah ruang dan waktu (khas Vonnegut) bolak-balik ke masa lalu, masa depan, dan masa sekarang, untuk memaknai salah satu bagian dari peristiwa perang dunia kedua yang tidak banyak diekspos: pengeboman di Dresden tahun 1945.

Kurt Vonnegut menjadi salah satu penulis favorit saya karena selera humornya yang menyenangkan. Dia bisa membuat cerita perang jadi terasa enteng karena ditulis dalam buku yang, saya kira tidak keliru kalau saya melabelinya: bergenre komedi. Buku-buku Vonnegut bagi saya adalah buku-buku komedi. Timequake dan Cat’s Cradle betul-betul bikin saya ngakak.

Namun, di Slaughterhouse-Five, salah satu karya Vonnegut yang paling populer, saya merasa Vonnegut bicara dengan nada yang agak lebih serius dibanding dua buku sebelumnya. Seolah-olah Vonnegut tidak bisa banyak melawak untuk ceritanya yang satu ini. Cerita tentang hidup Billy Pilgrim dan pengeboman di Dresden selama Perang Dunia Kedua.

Sama seperti buku-buku Vonnegut yang saya baca sebelumnya, Slaughterhouse-Five juga mengangkat tema peperangan dan dibungkus nuansa fiksi-sains. Buku ini terasa lebih semi-otobiografis. Di kehidupan nyata, Vonnegut memang pernah menjadi anggota tentara Amerika Serikat dan turut serta dalam Perang Dunia Kedua. Bersama satuannya, Vonnegut diterbangkan ke Eropa, dan tertangkap oleh pihak Jerman. Vonnegut menjadi tahanan militer di Dresden, kemudian berhasil selamat dari pengeboman pihak sekutu setelah mengumpet di kotak penyimpanan daging di rumah potong (slaughterhouse) tempat ia ditahan.

Itu juga adalah cerita hidup Billy Pilgrim, protagonis dalam Slaughterhouse-Five. Selain menjadi tentara, Billy Pilgrim merupakan seorang optometris; dokter mata yang turut membuat resep untuk kacamata (barangkali juga melakukan bisnis produksi kacamata), dan seorang pejalan waktu. Karena sebuah peristiwa, mendadak Billy Pilgrim bisa melompat ke masa lalu, masa depan, dan kembali ke masa sekarang, lalu ke masa depan dan masa lalu lagi dan begitu seterusnya.

Perjalanan Billy Pilgrim bahkan tidak hanya mengitari lintasan waktu, tetapi juga hingga bertualang ke planet lain. Planet Tralfamadore, semesta yang kerap menjadi dunia paralel dengan bumi dalam karya-karya Vonnegut. Pertemuan Billy Pilgrim dengan manusia lain, seorang wanita bernama Montana Wildhack, melalui serangkaian adegan yang bernuansa fantasi membawanya pada perenungan tentang makna dan tujuan hidup.

Slaughterhouse-Five secara umum dianggap sebagai magnum opus Kurt Vonnegut. Namun, sesungguhnya saya lebih terhibur ketika membaca Gempa Waktu (terjemahan Timequake) dan Cat’s Cradle. Di Slaughterhouse-Five, Kurt Vonnegut terlihat tidak bisa terlalu banyak melucu. Mungkin karena pengalaman kelam yang pernah ia jalani secara langsung membuatnya kehilangan selera humor dan menjadikan ceritanya terasa relatif lebih suram dan “serius” ketimbang dua buku yang saya sebut sebelumnya.

Meski demikian, Slaughterhouse-Five tetap merupakan karya yang kuat. Cara pandang Vonnegut melalui tuturan narator serba-tahu tentang arah alir waktu yang tidak linear, melainkan bagai sebentuk panorama yang tersusun atas beberapa peristiwa-peristiwa yang berjalan paralel, memberikan semacam penghiburan atas rasa takut manusia pada kematian.

Kematian, dalam gagasan Vonnegut, merupakan sesuatu yang tidak lagi menakutkan karena ia bukan sebuah titik akhir dari garis hidup yang linear. Ketika seseorang mati, ia hanya mati di salah satu dari sekian banyak garis kehidupan. Di waktu bersamaan, ia masih hidup sehidup-hidupnya di garis-garis yang lain.

Vonnegut sangat mahir dalam memunculkan kekonyolan-kekonyolan yang membuat kita tiba-tiba merasa isu tentang peperangan jadi tidak serius-serius amat. Setidaknya, dapat dicerna sebagai sesuatu yang menghibur.


Kematian dan peperangan. Everything was beautiful and nothing hurt. ***

13 Maret 2017

Luka Dalam Bara Siap Menemui Kamu!



"Kata-katamu selimut tebal tidur lelapku. Kata-katamu lampu taman jalan setapak kisah mimpiku. Kata-katamu sejuk pagi yang sabar menantiku. Kau tahu, pada akhirnya aku merasa bukan hanya aku dan kamu yang mencintai kata-kata. Kata-kata pun, menyayangi kita."

Buku terbaruku, Luka Dalam Bara, saat ini sudah selesai dicetak. Buku yang dipegang oleh gadis dalam foto di atas adalah hasil final yang akan teman-teman terima (bagi yang ikut pre-order) dan temukan di toko-toko buku. Hari ini, pre-order Luka Dalam Bara sudah ditutup. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah ikut ramai-ramai memesan bukunya.

Luka Dalam Bara seluruhnya dicetak hard cover. Bagi yang ingin membeli secara online, bisa memesan di toko buku dalam daftar ini. Bukunya sendiri akan beredar di toko-toko buku jaringan (Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas, dll.) mulai akhir bulan Maret.

Selamat menunggu datangnya luka.

1 Maret 2017

PO: Luka Dalam Bara TAHAP 2


Hai, teman-teman semuanya. Buku terbaruku, Luka Dalam Bara saat ini sudah dapat dipesan selama sesi pre-order tahap kedua melalui beberapa toko buku online. Di sesi pertama kemarin, 500 buku bertandatangan Bara + bonus pouch sudah habis dalam 4 hari saja. Sama seperti sesi pertama, di sesi kedua ini masa pre-order juga berlangsung satu minggu. Mulai tanggal 1 - 7 Maret 2017.

Hanya tersedia 500 eksemplar buku bertandatangan Bara + bonus pouch berilustrasi cantik bagi para pemesan di sesi pre-order kedua ini.

Silakan melakukan pemesanan ke toko-toko buku berikut (klik tautan pada nama toko):

Mizanstore
LINE: @mizanstore (pakai @)

Bukabuku
WA/SMS: 089-888-999-50
LINE: bukabuku

Pengenbuku
E-mail: pesanpengenbuku@gmail.com
WA: 0851-007-49052

Bukukita
WA/SMS: 0812-85000-570

Temanbuku
WA: 0857-2209-6918

Parcelbuku
WA: 0878-7789-2584
LINE: @kiu9952d (pakai @)
E-mail: pesan.parcelbuku@gmail.com

Bukubukularis

Kupkupbuku
WA: 0821-2698-1310


Kali ini teman-teman harus bergerak lebih gesit, agar tidak ketinggalan buku bertandatangan Bara + bonus pouch berilustrasi dan berpuisi. Selamat memesan Luka Dalam Bara. 

17 Februari 2017

Luka Dalam Bara



+ Kenapa orang-orang patah hati malah meresapi kesedihannya dan tidak membuangnya jauh-jauh?

- Mungkin, itu cara mereka meyakinkan diri sendiri bahwa cinta yang mereka miliki selama ini adalah sesuatu yang nyata. Kita tidak akan merasa benar-benar sedih kalau tidak benar-benar cinta, kan? Sayangnya, menutup luka tidak akan membuatnya segera sembuh. Menyangkal bahwa kamu sedang terluka tidak akan membuat luka itu hilang.

("Dialog-dialog yang Tidak Pernah Terjadi")

-

Menulis, adalah cara saya mengakui bahwa saya terluka. Bahwa saya gagal dalam sesuatu. Bahwa saya tidak berhasil mewujudkan kebahagiaan yang saya rencanakan.

Saya tidak tahu apakah akan segera sembuh dengan menuliskan luka-luka saya. Kalian tahu, tidak seperti luka karena terjatuh di jalan atau tersayat pisau, luka karena cinta bukanlah luka luar, yang darah dan sobekannya terlihat jelas. Luka karena cinta dan rindu yang gagal adalah luka dalam. Meski tidak terlihat, luka tersebut ada. Ada, nyata, dan terasa.

Saya tidak tahu apakah kisah-kisah dalam buku ini akan menyembuhkan saya. Namun, jika ingin jatuh cinta lagi, jika saya ingin sembuh dari luka lama, jika saya ingin merancang kebahagiana baru, saya tahu saya harus memulai sesuatu.

Dari buku ini, catatan-catatan personal ini, serta dengan bantuanmu yang mungkin juga sedang patah hati, saya mencoba menyembuhkan diri sendiri. Mungkin, jika kamu membaca buku ini, kamu dapat menyembuhkan dirimu juga.

Mari patah hati bersama. Mari sembuh, dan jatuh cinta lagi, bersama.

Buku terbaruku, LUKA DALAM BARA, terbit eksklusif dalam edisi cetak hardcover di Noura Books, Februari 2017.


3 Februari 2017

Wawancara Eksklusif: Bintang.com



"Dulu aku menulis untuk sarana eskapisme, untuk lari dari kenyataan. Aku membentuk duniaku sendiri dari apa-apa yang aku suka. Tapi semakin ke sini motivasiku berubah-ubah setiap waktu. Sekarang ini tanpa aku sadari aku menuliskan hal-hal yang dulu aku hindari, seperti tema yang berkaitan dengan konflik keluarga. Aku sempat merasa agak berjarak dengan keluargaku, tetapi aku menebusnya dengan menulis. Aku menggunakan nama ibu dan adikku serta memasukkan tokoh-tokoh yang mirip ayahku di cerita-ceritaku. Bagiku itu cara untuk menebus jarak yang ada dengan mereka. Sekarang aku menulis untuk menyembuhkan diriku sendiri."

Baca wawancara ekslusif Bara dengan redaksi Bintang.com di sini.

31 Januari 2017

Other Colors, Orhan Pamuk




Buku pertama Orhan Pamuk yang saya baca, novel My Name Is Red (1998), secara instan langsung bikin saya menyukai Pamuk. Novel itu menjerat saya sejak kalimat pembukanya. I am nothing but a corpse now, a body at the bottom of a well. Dituturkan oleh seorang mayat, novel tersebut menggiring paksa saya untuk masuk ke sebentuk konspirasi besar, misteri pembunuhan yang dilakukan para seniman ilustrasi Kekaisaran Ottoman jelang akhir abad ke-15. Di dalam novel tebal itu-novel yang secara umum dianggap karya terbaik Orhan Pamuk-Pamuk bicara tentang sejarah dan seni. Khususnya sejarah Kekaisaran Ottoman yang menjadi cikal-bakal Republik Turki, dan seni Islam.

Dua hal tersebut, sejarah dan seni, menjadi topik yang tidak pernah absen di dalam karya-karya Pamuk. Tidak hanya di novel, seperti My Name Is Red dan The Museum of Innocence (2008), tetapi juga di karya-karya nonfiksinya: Istanbul: Memories and the City (2003) dan Other Colors: Essays and a Story. Selain itu, Pamuk juga sering menulis tentang kehidupan personalnya. Di Istanbul, ia bercerita cukup banyak tentang keluarganya, termasuk tentang dirinya sendiri dan bagaimana ia menjadi seorang penulis.

Belum lama ini saya rampung membaca Other Colors: Essays and a Story. Buku kumpulan tulisan yang disebut Pamuk “…terbuat dari potongan-potongan ide, imaji, dan fragmen kehidupan yang belum menemukan jalannya untuk hadir di dalam novel-novelku.” Pengantar yang ditulis Pamuk sangat menjelaskan bagaimana bentuk buku ini dan apa tujuannya menulis buku ini. Tidak ada satu tema khusus yang dipakai di Other Colors seperti di Istanbul, misalnya. Sehingga membaca Other Colors terasa seperti membaca isi bloknot atau jurnal pribadi Pamuk. Kadang-kadang terlihat berantakan, tidak terencana, dan suka-suka dia.

Memang tulisan-tulisan Pamuk di Other Colors disusun ke dalam beberapa bab. Sekadar untuk mengelompokkan kepingan-kepingan esei yang saya kira pada awalnya enggak Pamuk rencanakan hadir di satu buku utuh. Ada bab Living and Worrying yang berisi tentang keluarganya; esei-esei pendek yang Pamuk tulis secara rutin di semacam majalah lokal. Books and Reading berisi pembacaan Pamuk tentang buku-buku yang ia suka; Dostoyevsky, Camus, Rushdie, Nabokov. Politics, Europe, and Other Problems of Being Oneself kebanyakan tentang pengalaman Pamuk bersenggolan dengan permasalahan politik dan konflik batinnya sebagai warga Turki. My Books are My Life, Pamuk bicara tentang karya-karyanya sendiri. Picture and Texts, Pamuk mengulas karya-karya seni yang kerap menjadi alusi di novel-novelnya. Other Cities, Other Civilizations, tentang bagaimana Pamuk melihat Amerika dan melihat dunia lain dari Amerika. Bonusnya adalah arsip wawancara Pamuk di The Paris Review, sebuah cerita pendek yang sentimentil, dan pidato penerimaan Nobel Kesusastraan 2006.

Seperti tulisan nonfiksi Orhan Pamuk yang lain, esei-esei pendeknya di Other Colors sangat mudah dibaca. Ia begitu jujur menceritakan apapun yang ada di dalam pikirannya. Kadang-kadang Pamuk tampak seperti orang dewasa yang seperti anak kecil. Ia tidak berusaha mengemas pikiran-pikirannya dengan kalimat-kalimat bersayap demi menyamarkan gagasannya, melainkan berceloteh begitu saja hingga ia kelelahan.

Di sebuah wawancara, Orhan Pamuk pernah menyebut dirinya seorang graphomania. Klaim tersebut akan terbayangkan ketika membaca Other Colors. Jumlah tulisan yang banyak dan pendek-pendek dan seolah-olah melompat dari satu tema ke tema lain memperlihatkan Pamuk punya energi meluap-luap nyaris tidak terkendali untuk menuliskan apapun yang terlintas di kepalanya.

Bagi yang sudah pernah membaca satu-dua novel Orhan Pamuk dan memoar Istanbul, buku ini tidak menawarkan topik yang sangat baru. Pamuk masih berbicara sebagai orang Turki tentang tegangan Timur dan Barat, Asia dan Eropa. Ia masih berbicara serba-serbi mengenai Eropa dan keeropaan. Ia masih membahas satu-dua hal tentang keluarganya. Barangkali dengan sedikit tambahan renungan Orhan Pamuk tentang perkara sehari-hari yang ia alami.

Salah satu hal yang paling saya suka ketika membaca karya-karya nonfiksi Pamuk adalah saat ia bercerita tentang keinginannya menjadi penulis. Seperti sering ia ceritakan di berbagai wawancara, Pamuk sebetulnya bercita-cita jadi arsitek, tapi kemudian berubah jadi penulis. Ia mengurung diri selama satu windu membaca buku-buku koleksi ayahnya, sebelum menuliskan novel pertamanya, Cevdet Bey and His Sons, di usia 22 tahun. Semenjak itu ia kian tenggelam dalam kecintaannya pada dunia sastra.

Sebagai penutup catatan yang enggak penuh analisis ini, saya ingin mengutip bagian Other Colors ketika Pamuk menulis tentang mengapa ia menulis:


Saya menulis karena saya punya hasrat bawaan untuk menulis. Saya menulis karena saya tidak bisa bekerja normal seperti orang lain. Saya menulis karena saya ingin membaca buku seperti yang saya tuliskan. Saya menulis karena saya marah pada Anda semua. Saya menulis karena saya menikmati duduk di sebuah ruangan untuk menulis seharian. Saya menulis karena saya saya suka aroma kertas, pulpen, dan tinta. Saya menulis karena saya mempercayai kesusastraan dan seni penulisan novel melebihi hal-hal lain. Saya menulis karena menulis bagi saya adalah kebiasaan sekaligus sebentuk renjana. Saya menulis karena saya takut orang-orang akan melupakan saya. Saya menulis karena saya ingin sendirian. Mungkin juga saya menulis untuk memahami kenapa saya begitu marah, sangat, sangat, sangat marah pada semua orang. Saya menulis karena saya senang jika orang membaca karya saya. Saya menulis karena orang berharap saya menulis. Saya menulis karena saya percaya pada keabadian perpustakaan. Saya menulis karena saya senang menggubah hal-hal yang indah dari kehidupan ke dalam kata-kata. Saya menulis bukan untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi untuk menciptakan sebuah kisah. Saya menulis karena saya sulit merasa bahagia. Saya menulis karena saya ingin merasa bahagia. ***