Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Other Colors, Orhan Pamuk

Gambar
Buku pertama Orhan Pamuk yang saya baca, novel My Name Is Red (1998), secara instan langsung bikin saya menyukai Pamuk. Novel itu menjerat saya sejak kalimat pembukanya. I am nothing but a corpse now, a body at the bottom of a well. Dituturkan oleh seorang mayat, novel tersebut menggiring paksa saya untuk masuk ke sebentuk konspirasi besar, misteri pembunuhan yang dilakukan para seniman ilustrasi Kekaisaran Ottoman jelang akhir abad ke-15. Di dalam novel tebal itu-novel yang secara umum dianggap karya terbaik Orhan Pamuk-Pamuk bicara tentang sejarah dan seni. Khususnya sejarah Kekaisaran Ottoman yang menjadi cikal-bakal Republik Turki, dan seni Islam.
Dua hal tersebut, sejarah dan seni, menjadi topik yang tidak pernah absen di dalam karya-karya Pamuk. Tidak hanya di novel, seperti My Name Is Red dan The Museum of Innocence(2008), tetapi juga di karya-karya nonfiksinya: Istanbul: Memories and the City(2003)dan Other Colors: Essays and a Story. Selain itu, Pamuk juga sering menulis ten…

Malas Baca Buku? Sama

Gambar
Foto: Thoughtcatalog.com

Walau saya mengaku sebagai seorang pencinta buku dan sering nunjukin ke orang-orang bahwa saya suka baca buku, jangan kira saya selalu rajin baca buku. Sama seperti hal-hal lain yang bisa bikin kamu senang, suatu hari hal yang sama juga bisa bikin kamu muak, atau seenggaknya capek. Tanpa terkecuali membaca buku.

Saya pernah ngerasa capek baca buku, bahkan sampai mual ngeliat tumpukan buku di kamar. Benda-benda yang tadinya saya kagumi setengah mati, suatu hari jadi tumpukan kertas tak berarti yang bikin saya kesel. "Ngapain saya buang duit buat semua ini?"
Rasa muak semacam itu akan jadi berkali-kali lipat kalau kamu penulis. Setiap habis baca buku bagus, kamu bukan hanya akan merasa gembira, tapi juga stres karena tahu kamu enggak bisa menulis sebagus buku yang kamu baca.
Sial, kalo gitu ngapain saya baca buku?
Makin sial lagi, ternyata saya enggak bisa benar-benar berhenti baca buku. Saya udah coba. Saya pernah berniat membuang seluruh koleksi prib…

5 Cara Menjaga Fokus Menulis

Gambar
Barusan, saya dapat ide cerita yang menarik. Saking menariknya, saya merasa harus segera menuliskannya. Mungkin jadi sebuah cerita pendek atau malah sinopsis novel, saya enggak tahu. Saya tahu saya harus menuliskannya sekarang juga. Saya membuka laptop dan mulai menuliskan paragraf pertama.
Sial, di tengah-tengah nulis, saya dapat ide cerita yang lain lagi. Ide baru ini lebih menarik dari cerita yang sedang saya tulis. Saya ingin lanjut menulis tapi saya enggak bisa berhenti memikirkan ide baru ini. Saya membuka layar baru di laptop dan mulai menuliskan ide baru tersebut. Sekarang ada dua cerita yang on progress di laptop saya.
Ah, sial, lagi-lagi saya kepikiran ide baru yang lain. Ide ini jauh jauh jauh lebih menarik dari dua ide sebelumnya yang bahkan belum kelar saya tulis. Menjengkelkan sekali!
Kamu pernah mengalami perkara semacam ini? Diserang beberapa ide tulisan sekaligus dalam satu waktu? Kedatangan ide yang lebih menarik di saat kamu sedang mengerjakan tulisan lain? Kalau i…

Tiga Buku Indonesia Paling Saya Tunggu di 2017

Gambar
Jika saya ditanya siapa penulis-penulis Indonesia yang paling saya sukai, saya akan jawab: teman-teman saya sendiri. Teman-teman yang saya maksud adalah penulis-penulis yang "seangkatan" dengan saya, baik itu umurnya maupun periode kepenulisannya. Ya, saya menyukai Eka Kurniawan, Yusi Avianto Pareanom, A. S. Laksana, dan Linda Christanty, tapi saya lebih suka teman-teman saya sendiri. Karena mereka yang sekarang ini bikin saya semangat baca buku-buku penulis Indonesia dan bikin saya merasa optimistis sama masa depan sastra Indonesia. Saya enggak merasa ini pernyataan atau ekspektasi yang berlebihan, karena saya benar-benar melihat kesegaran dan kebaruan dan semangat menawarkan gaya bercerita yang unik di dalam karya teman-teman saya ini.

Di tulisan ini saya pengin bercerita tentang tiga buku baru dari tiga penulis Indonesia yang saya anggap teman-teman saya untuk alasan tadi. Saya sangat menunggu karya mereka, dan akan segera membeli dan membaca bukunya ketika nanti sudah m…

5 Hal yang Saya Lakukan Supaya Dapat Ide Nulis

Gambar
Tahu jawaban paling membosankan yang akan kamu terima setiap bertanya ke penulis dari mana mereka mendapatkan ide tulisan-tulisannya? Ya, benar. "Dari mana saja." Namun, ada alasan kenapa sesuatu menjadi klise, dan salah satunya adalah karena hal tersebut memang benar adanya.

Ide bisa datang dari mana saja. Cerita pendek, novel, dan caption Instagram saya yang galau-galau itu enggak saya ambil dari sebuah ruangan khusus yang di pintunya tertempel kertas putih bertuliskan ADA IDE DI SINI. Percikan-percikan ide buat menulis muncul di beragam tempat yang saya kunjungi dan momen-momen yang saya hadiri setiap hari. Kadang-kadang, ide-ide itu yang mengunjungi saya ketika saya enggak sedang memikirkan apapun untuk menulis.

Jadi, alih-alih menjelaskan datang dari mana ide menulis, saya lebih memilih untuk bercerita tentang momen-momen seperti apa yang biasanya membuat saya mendapatkan ide tulisan.

Berikut adalah lima momen yang paling sering memberi saya ide menulis:

1. Baca buku

Ka…

What Makes You Put Down a Book?

Gambar
Belakangan ini saya sedang baca Other Colors: Essays and a Story, kumpulan esei Orhan Pamuk. Kebanyakan esei pendek, beberapa wawancara terpilih, baik tentang dirinya maupun buku-bukunya. Di salah satu eseinya, Pamuk sedikit menyinggung tentang apa yang membuatnya berhenti membaca buku. Meski di situ ia tidak secara khusus membahas hal tersebut, saya kira itu topik yang menarik.

Harus saya katakan bahwa saya tidak mudah berhenti membaca buku di tengah jalan. Saya tidak suka melakukannya. David Mitchell bilang, "A half-read book is a half-finished love affair." Saya tidak suka hal yang setengah selesai. Saya hampir selalu membaca cover to cover (sedikit pengecualian pada War and Peace dan The Satanic Verses).Saya mendapat kepuasan dari menyelesaikan sesuatu. Setiap akan membaca buku, saya terlebih dahulu mengira-ngira apakah saya bisa menyelesaikannya. Jika tidak, maka saya cari buku lain yang saya yakin bisa membacanya hingga selesai.

So, what makes me put down a book? Seper…

5 Toko Buku Favorit Bara

Gambar
Saya mengenal toko buku di usia 12 tahun. Waktu itu saya kelas satu SMP. Sebelumnya, saya enggak pernah tahu ada sebuah tempat yang di dalamnya berisi banyak sekali buku. Meski saya lahir di kota, saya tumbuh besar di desa. Di desa saya, Anjongan, terletak 73 kilometer dari kota Pontianak, Kalimantan Barat, enggak ada yang namanya toko buku. Saya memperoleh buku-buku pertama saya (yang hampir seluruhnya komik) dari pemberian teman-teman kantor ibu saya dan membeli di sebuah toko baju lelong di Siantan (bagaimana toko baju bisa menjual buku hingga sekarang pun saya masih heran dan kagum, mungkin kali lain saya akan bercerita khusus tentang ini). Satu-satunya tempat atau ruang berisi banyak buku yang pernah saya lihat selama di desa adalah mobil perpustakaan keliling milik pemerintah daerah dan, tentu saja, perpustakaan pribadi saya sendiri.

Saat berusia 12 tahun, saya melanjutkan SMP di kota (Pontianak) dan tinggal bersama nenek. Saya termasuk murid yang rajin dan patuh aturan, tapi s…

5 Tips Mereview Buku À la Bara

Gambar
Baru sekitar empat tahun yang lalu, saya mulai membuat catatan tentang buku-buku yang saya baca. Awalnya terinpirasi dari blog Eka Kurniawan. Sampai hari ini, saya masih menghindari sebutan review atau ulasan untuk menamai catatan-catatan buku yang saya buat di blog ini, termasuk juga resensi. Alasannya, saya merasa apa yang saya tulis tidak tepat memenuhi format resensi buku yang biasanya saya lihat dibikin oleh orang lain.
Namun, demi kemudahan dan supaya relatable, saya pakai istilah review khusus untuk tulisan ini. Saya bikin tips ini demi menjawab pertanyaan beberapa pembaca via instagram maupun e-mail tentang topik mereview buku.
Pertama-tama, perlu dicatat bahwa saya enggak punya metode khusus dalam menulis review buku. Saya juga enggak punya format yang jadi pakem setiap kali membuat review. Isi review saya dari satu buku ke buku lain bisa beda-beda. Di satu buku, misalnya, saya akan memulai dengan menceritakan sedikit kisah dari bukunya, sementara di buku lain saya bisa membuka…