27 Januari 2017

5 Cara Menjaga Fokus Menulis




Barusan, saya dapat ide cerita yang menarik. Saking menariknya, saya merasa harus segera menuliskannya. Mungkin jadi sebuah cerita pendek atau malah sinopsis novel, saya enggak tahu. Saya tahu saya harus menuliskannya sekarang juga. Saya membuka laptop dan mulai menuliskan paragraf pertama.

Sial, di tengah-tengah nulis, saya dapat ide cerita yang lain lagi. Ide baru ini lebih menarik dari cerita yang sedang saya tulis. Saya ingin lanjut menulis tapi saya enggak bisa berhenti memikirkan ide baru ini. Saya membuka layar baru di laptop dan mulai menuliskan ide baru tersebut. Sekarang ada dua cerita yang on progress di laptop saya.

Ah, sial, lagi-lagi saya kepikiran ide baru yang lain. Ide ini jauh jauh jauh lebih menarik dari dua ide sebelumnya yang bahkan belum kelar saya tulis. Menjengkelkan sekali!

Kamu pernah mengalami perkara semacam ini? Diserang beberapa ide tulisan sekaligus dalam satu waktu? Kedatangan ide yang lebih menarik di saat kamu sedang mengerjakan tulisan lain? Kalau iya, selamat, kamu enggak sendirian. Ada saya dan banyak lagi penulis di luar sana yang juga mengalami hal serupa. Kesulitan fokus mengerjakan satu ide.

Saya punya langkah-langkah yang biasanya saya lakukan ketika sedang berada di situasi seperti itu. Mungkin kamu bisa mencobanya. Berikut lima hal yang bisa kamu lakukan untuk menjaga fokus mengerjakan satu topik tulisan.

1.     Bikin Bank Ide

Ide yang sama enggak akan datang dua kali. Saya memperlakukan seluruh ide yang menghampiri kepala saya sebagai sesuatu yang unik dan spesial. Begitu kepikiran satu ide, saya akan langsung mencatatnya di bloknot atau ponsel. Saya enggak tahu apakah ide tersebut akan jadi satu cerita utuh atau apa nantinya. Saya mencatatnya saja, merekamnya. Catat ide apapun yang melintas di benak kamu. Enggak ada ruginya. Malah, ketika suatu hari kamu pengin nulis dan enggak punya ide, kamu jadi tinggal buka bloknot atau ponsel untuk melihat simpanan ide kamu. Bikin Bank Ide kamu.

2.     Santai

Pas kedatangan ide baru, santai saja. Jangan buru-buru ingin menggarapnya. Kalau kamu sedang mengerjakan satu proyek tulisan, perlakukan ide-ide lain sebagaimana kamu bereaksi pada sebuah godaan: lirik, rekam, lalu lupakan. Ingat, kamu sedang menjalin hubungan dengan sebuah naskah. Naskah yang lagi kamu kerjakan saat ini adalah pacarmu. Ide-ide lain yang berdatangan kemudian adalah godaan. Godaan selalu tampak lebih menarik daripada pacarmu sendiri. Santai saja, jangan tergoda. Nikmati hubungan dengan pacarmu dulu. Kalau sudah beres urusan sama pacarmu alias putus, baru kamu jajaki godaan kemarin.

3.     Komitmen

Kata Neil Gaiman, kamu akan belajar banyak hal dari menyelesaikan sesuatu. Hal yang paling dibutuhkan untuk menyelesaikan sesuatu adalah komitmen. Komitmen yang kuat. Saya senang menggunakan analogi dua orang yang sedang pacaran untuk menggambarkan hubungan seorang penulis dengan naskahnya. Demi memiliki hubungan yang berhasil, salah satu hal terpenting adalah komitmen. Berkomitmen menyelesaikan tulisan yang sedang kamu garap akan membuatmu teguh dan tidak mudah goyah oleh datangnya godaan ide-ide baru.

4.     Fokus

Kalau sudah memutuskan mengerjakan sebuah proyek tulisan, tujukan segenap perhatianmu pada proyek tersebut. Apapun yang kamu pikirkan dan imajinasikan sehari-harinya mesti berputar di ide tulisan yang lagi kamu garap. Adegan-adegan, dialog-dialog, plot, sub-plot, paragraf pembuka, paragraf penutup, alur kilas balik, karakter-karakter, semua elemen cerita yang kamu pikirkan kamu siapkan untuk memperdalam dan mempertajam ceritamu yang saat ini. Ajak teman dekat atau pacarmu mengobrol tentang tulisanmu yang saat ini. Lakukan riset untuk memperkuat gagasanmu di tulisanmu yang saat ini.

5.     Just, stick to your current project and try to finish it for god’s sake!

Enggak ada solusi lain selain cobalah memaksakan dirimu sendiri untuk menyelesaikan kerjaanmu yang sedang berjalan. Saya tahu, kata memaksakan terasa enggak menyenangkan. Menulis adalah pekerjaan yang melibatkan dorongan emosi, mood, atau apapun itu, jadi kalau menulis saja sudah harus dipaksakan di mana letak kesenangannya? Namun, saya enggak melihatnya sebagai sesuatu yang negatif. Banyak dari cerita pendek dan novel yang saya selesaikan karena saya memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Juga sebaliknya. Hampir pasti enggak ada buku saya yang pernah terbit jika saya enggak memaksa diri untuk menuliskannya.



6 komentar:

Ujang Zein mengatakan...

"Naskah yang lagi kamu kerjakan saat ini adalah pacarmu."

Kenapa harus begitu mas bahasanya.
Seakan², klo sudah disebut pacar...wajar di "garap".

Nafarin Muhammad mengatakan...

Ibarat sebuah pacaran ya bang.
Manti kalo kita fokus ke pacar dulu. Cwe yg menggoda tadi di ambil orang bang..

Hahaha

taufik barli mengatakan...

Kalau saya punya persoalan yang agak mirip dengan yang dibahas bang Bara. Saat membaca buku pikiran saya tak pernah mau diam, selalu diberondong pertanyaan, ide, apa pun yang mendesak-desak untuk ditulis. Jadinya saya susah fokus saat membaca karena bingung meneruskan bacaan atau menulis pertanyaan/ide yang sepertinya menarik untuk ditulis. Eh, jadi gak dikerjakan dua-duanya. haha

benz mengatakan...

Zein: Jangan terlalu harfiah, man.

Nafarin: Sudah saya tulis, kan, di atas. Kalau ada ide baru dicatat, jangan dibiarin lewat.

Taufik: Ya begitulah masalahnya.

Sekar mengatakan...

Ah! Ini persis seperti yang sedang saya alami sekarang. Begitu banyak ide yang mengantre untuk dituangkan ke dalam kata-kata. Saya sudah melakukan yang pertama, lho, Bang Bara. Ide-ide itu saya catat semua di sticky notes desktop, juga di memo ponsel :D

Naifah M P mengatakan...

Hai, Kak Bara. Aku mau tanya nih, kan Kak Bara suka nulis ide-ide atau semacam plot kalau habis baca buku atau nonton -iya gak sih?- kalau kulihat-lihat dari post ig atau snapgram Kakak. Nah, aku tuh juga pengen buat semacam kayak gitu biar nonton sama bacanya lebih berfaedah gitu haha. Tapi gimana ya, suka bingung mau nulis apa. Kira-kira siapa tau Kak Bara mau sharing bagian-bagian apa yang biasanya kakak catat atau kalau boleh sekalian contohnya, hihihi. Tapi kalau ternyata aku khilaf dan sebelumnya Kakak udah posting yang semacam begituan maaf ya, Kak, hihi.