10 Januari 2017

Brave New World, Aldous Huxley




Saya selalu senang dengan cerita-cerita berjenis dystopian. Baik itu dalam format novel maupun film. Buat yang belum tahu apa itu dystopian, ingat-ingat aja arti dari “utopia”. Nah, dystopian atau distopia itu kebalikannya (sebelum menulis ini saya sempat ngecek di KBBI, ternyata meskipun kata “utopia” sudah terdaftar, “distopia” belum) Jika cerita-cerita utopia menggambarkan dunia dalam bentuk paling ideal dengan nilai-nilai sosial yang baik dan sempurna (yang mana tidak akan terjadi, makanya disebut utopia), cerita-cerita dystopian merupakan sisi koin sebaliknya, menggambarkan dunia yang mengerikan dan umumnya punya ciri terjadinya dehumanisasi, kestabilan sosial yang semu, dan pemerintah yang totaliter.

Ingat film The Hunger Games, The Giver, atau Divergent? Itu film-film dystopian (demikian pula dengan novelnya). Saya sendiri belum pernah membaca novel-novel utopia, tapi saya punya beberapa novel dystopian favorit. Yang pertama Nineteen Eighty-Four, George Orwell, dan yang kedua, novel yang pengin saya bahas dalam tulisan ini: Brave New World, Aldous Huxley.

Tiga tahun setelah membaca Nineteen Eighty-Four, saya membaca Brave New World. Tahukah kalian saudara-saudara sekalian? Novel si “senior” ini jauh lebih gila dari juniornya.

Aldous Huxley lahir pada akhir abad ke-18, tepatnya 1894. Hampir satu dekade sebelum bapak “Big Brother”, George Orwell, lahir. Huxley penulis yang sangat produktif. Selama hidupnya (ia meninggal pada usia 69 tahun), Huxley menulis tidak kurang dari 70 buku, dan tidak hanya novel. Ia juga menulis artikel, buku kumpulan cerita, naskah drama, bahkan buku puisi dan buku cerita anak. Untuk novel sendiri, Huxley menerbitkan sebelas. Namun, kayaknya novel Brave New World yang membuatnya namanya populer di kalangan dunia sastra. Novel ini bahkan jadi rujukan untuk pembelajaran di sekolah-sekolah di Inggris, semacam jadi karya sastra wajib baca yang kemudian dianalisa oleh murid-murid bersama gurunya. Seperti cerita Robohnya Surau Kami A. A. Navis, atau puisi-puisi Sapardi Djoko Damono kalau di Indonesia.

Novel Brave New World sering dibanding-bandingkan dengan karya “juniornya”, Nineteen Eighty-Four atau 1984. Meski novel Aldous Huxley terbit tujuhbelas tahun lebih awal daripada punya George Orwell, saya lebih dulu membaca karya si junior, dan saya sangat menyukainya. Tiga tahun setelah membaca Nineteen Eighty-Four, saya membaca Brave New World. Tahukah kalian saudara-saudara sekalian? Novel si “senior” ini jauh lebih gila dari juniornya.

Brave New World dibuka dengan adegan deskripsi singkat sebuah gedung yang berlokasi di London, tertulis dalam kapital: CENTRAL LONDON HATCHERY AND CONDITIONING CENTRE-pusat penetasan dan pengondisian. Apa pula yang ditetaskan dan dikondisikan? Telur ayam? Bukan, melainkan manusia. Kalimat berikutnya masih pada paragraf pertama, menggambarkan semacam plang yang bertuliskan sebuah slogan atau moto, juga ditulis dengan kapital: COMMUNITY, IDENTITY, STABILITY. Paragraf pembuka yang hanya terdiri dari dua kalimat ini sangat efektif dalam menggambarkan situasi keseluruhan dunia di dalam novel, dunia yang disebut penulisnya Brave New World.

Paragraf berikutnya menggambarkan aktivitas seorang petugas dengan jabatan tinggi sedang membimbing sekumpulan anak sekolahan melihat-lihat gedung itu. Semacam study tour atau orientasi. Anak-anak ini diperlihatkan bagian-bagian gedung tersebut oleh sang Director of Hatcheries and Conditioning. Sang Direktur tanpa nama ini menjelaskan kepada serombongan murid sekolah tentang proses inkubasi manusia, dan bagaimana tiap manusia dikondisikan untuk menempati pos-pos hidupnya kelak.

"Tall and rather thin but upright, the Director advanced into the room. He had long chin and big… Old, young? … It was hard to say. And anyhow the question didn’t arise; in this year of stability, A. F. 632, it didn’t occur to you to ask it."

Hal pertama yang perlu disadari ketika membaca Brave New World adalah latar waktunya. Seperti novel dystopian lain, novel ini berlatar jauh di masa depan. Di Brave New World, cerita dimulai pada tahun A. F. 632-A. F. adalah After Ford (ingat penanggalan Julian/Gregorian: B. C. untuk Before Christ, A. D. untuk Anno Domini atau masehi) Catatan di Internet yang saya temukan menyebut A. F. 632 di Brave New World adalah tahun 2540 masehi. Sehingga, dunia di novel adalah kurang-lebih enam abad di masa depan.

Meski tidak mutlak, keterangan waktu ini penting untuk memasuki dunia dalam novel dystopian. Itu sebabnya Aldous Huxley meletakkan keterangan A. F. 632 di bab pertama novel (Tall and rather thin but upright, the Director advanced into the room. He had long chin and big… Old, young? … It was hard to say. And anyhow the question didn’t arise; in this year of stability, A. F. 632, it didn’t occur to you to ask it). Sejak awal, Aldous Huxley sudah menjelaskan periode dunia seperti apa yang akan kita hadapi di dalam novelnya.

Maka kita bisa masuk ke bagian berikutnya tentang gambaran lebih detail dunia yang diciptakan Aldous Huxley. Dunia dalam Brave New World adalah dunia yang “stabil”, dengan manusia yang lahir melalui metode yang disebut Bokanovsky’s Process. Manusia tidak lahir dari satu embrio menjadi satu individu, melainkan satu embrio dapat dibelah menjadi delapan hingga sembilan puluh enam embrio sempurna, yang masing-masing menjadi individu. Manusia dibikin dengan cara seperti kita menduplikasi berkas di laptop, tinggal copy-paste sebanyak yang kita mau. Praktis, efisien, dan tentunya menciptakan kondisi masyarakat yang stabil karena tidak terdapat perbedaan antara satu individu dengan individu lain.

Bangunan sosial terdiri dari manusia yang telah dibagi menjadi kasta-kasta, dari yang tertinggi hingga terendah: Alpha, Beta, Gamma, Delta, Epsilon (konsep yang serupa dipakai The Hunger Games untuk pembagian divisi dan Divergent untuk pembagian faksi, meski di kedua cerita tersebut tidak terdapat perbedaan secara hirarkis antardivisi/faksi). Pembagian kasta ini mudah dipahami. Individu kasta tertinggi memiliki postur dan rupa yang sangat baik, serta tugas-tugas yang lebih “mulia” dibanding kasta-kasta di bawahnya (Epsilon digambarkan seperti buruh yang hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar).

Mustapha Mond menjelaskan mengapa ia memilih dunia yang sekarang ketimbang dunia dulu, mengapa puisi, seni, cinta, komitmen dalam berhubungan, dan kebebasan adalah sumber ketidakbahagiaan, dan bagaimana hal-hal tersebut harus dihapuskan demi manusia mencapai tujuan hidupnya, yakni kebahagiaan itu sendiri. 

Sisanya adalah cerita mengenai Bernard Marx, seorang Alpha, protagonis novel ini. Bernard memiliki sedikit “cacat” karena meskipun ia Alpha, ia tidak bertubuh tinggi seperti Alpha umumnya, malah cenderung mirip orang-orang Epsilon. Rumor mengatakan ada yang enggak sengaja meneteskan alkohol ke tabungnya saat proses inkubasi. Kecacatan ini membuat Bernard tidak sepenuhnya berpikir layaknya seorang Alpha. Ia tertarik pada manusia dan kehidupan primitif, serta menganggap doktrin-doktrin yang diberikan oleh sistem sangat membosankan. Perilaku menyimpang ini kemudian membawa masalah bagi Bernard. Termasuk juga kepada temannya, Helmholtz, seorang Alpha yang punya ketertarikan lebih pada puisi dan perasaan-perasaan (ingat film The Giver saat sang protagonis menyadari bahwa dulu dunia berwarna dan lebih indah).


Tokoh penting di novel ini adalah John the Savage. Orang primitif yang kemudian hari dibawa Bernard ke “dunia beradab”, dunianya. Percakapan antara John the Savage dengan Mustapha Mond, sang kontrolir, adalah percakapan terbaik yang pernah saya baca sejauh ini. Kedalamannya setara dengan percakapan Alexey dengan Ivan Karamazov. Sementara the Savage atau Sang Liar memandang dunia beradab sebagai dunia yang mengerikan dan tidak seharusnya, Mustapha Mond menjelaskan mengapa ia memilih dunia yang sekarang ketimbang dunia dulu, mengapa puisi, seni, cinta, komitmen dalam berhubungan, dan kebebasan adalah sumber ketidakbahagiaan, dan bagaimana hal-hal tersebut harus dihapuskan demi manusia mencapai tujuan hidupnya, yakni kebahagiaan itu sendiri. ***

2 komentar:

Noor Titan Hartono mengatakan...

Has always been my favorite read. The imagery of hatchery is frightening and fascinating at the same time.

benz mengatakan...

Noor: Yes, the entire book and the premise is frightening and fascinating at the same time.