30 Januari 2017

Malas Baca Buku? Sama

Foto: Thoughtcatalog.com


Walau saya mengaku sebagai seorang pencinta buku dan sering nunjukin ke orang-orang bahwa saya suka baca buku, jangan kira saya selalu rajin baca buku. Sama seperti hal-hal lain yang bisa bikin kamu senang, suatu hari hal yang sama juga bisa bikin kamu muak, atau seenggaknya capek. Tanpa terkecuali membaca buku.

Saya pernah ngerasa capek baca buku, bahkan sampai mual ngeliat tumpukan buku di kamar. Benda-benda yang tadinya saya kagumi setengah mati, suatu hari jadi tumpukan kertas tak berarti yang bikin saya kesel. "Ngapain saya buang duit buat semua ini?"

Rasa muak semacam itu akan jadi berkali-kali lipat kalau kamu penulis. Setiap habis baca buku bagus, kamu bukan hanya akan merasa gembira, tapi juga stres karena tahu kamu enggak bisa menulis sebagus buku yang kamu baca.

Sial, kalo gitu ngapain saya baca buku?

Makin sial lagi, ternyata saya enggak bisa benar-benar berhenti baca buku. Saya udah coba. Saya pernah berniat membuang seluruh koleksi pribadi saya atau memberikannya ke orang lain atau menjualnya atau apapun yang bisa mengenyahkan buku-buku dari kehidupan saya. Saya pengin ngelakuin hal lain aja yang enggak harus bikin saya baca buku. Namun, akhirnya saya balik lagi ke buku. Akhirnya saya baca buku lagi. Semakin saya berusaha buat enggak baca buku, semakin saya ketarik lagi ke buku-buku itu.

Beberapa hari lalu saya dapat mention di twitter yang isinya pertanyaan. Kira-kira begini bunyinya:

Gimana ya caranya bikin semangat baca buku lagi kalau sedang malas baca buku?

Saya enggak punya trik khusus untuk menumbuhkan semangat membaca buku, karena buat saya baca buku hampir jadi sesuatu yang refleks dan bagian dari kebiasaan. Namun, saya pernah ada di fase malas baca buku. Bukan hanya malas, tapi saya merasa baca buku berbahaya buat saya hingga saya menghindarinya. Meski demikian, barangkali beberapa hal ini bisa kamu coba lakukan:

1. Hijrah ke buku-buku lain

Buku-buku apa yang kamu baca selama ini? Kalau kebanyakan komik, coba sekali-kali baca novel. Kalau sering baca buku-buku nonfiksi, coba baca kumpulan cerita pendek atau kumpulan puisi. Begitu pula sebaliknya. Kalau selama ini hanya baca novel dan cerita pendek atau puisi, coba baca buku-buku nonfiksi. Mulai dengan tema yang menarik buatmu. Membaca buku dalam format yang berbeda akan memberimu pengalaman baru.

2. Keluar dari zona nyaman

Mirip dengan tips pertama. Hanya saja di tips sebelumnya saya bicara tentang membaca buku lintas format, di sini saya menyarankan membaca buku lintas genre/tema yang masih di format yang sama. Kalau kamu sering membaca novel dan selama ini hanya membaca novel-novel urban populer, coba cicipi karya sastra klasik. Kalau zona nyamanmu adalah novel-novel sastra bertema politik dan sejarah yang ditulis dalam gaya realisme, coba baca novel-novel fantasi yang sedang populer. Kalau kamu hobi baca komik yang lucu-lucu dan ringan, coba bergeser sedikit ke karya-karya novel grafis bertema sejarah.

3. Minta rekomendasi dari teman

Kalau kamu punya teman yang juga hobi baca buku tapi jenis buku atau genrenya berbeda denganmu, kamu bisa meminta rekomendasi darinya. Tanya dia apa bacaan favoritnya. Kalau perlu minta dia bikin semacam daftar buku favorit sepanjang masa. Kemudian kamu cari satu-dua buku itu dan mulai membaca.

4. Ikut tantangan membaca

"Memaksa" diri sendiri untuk membaca buku menurut saya enggak selalu merupakan hal yang buruk. Bagi saya malah cara itu berhasil buat mengurangi tumpukan buku tak-terbaca di rak kamar. Saya pemalas, jadi mendisiplinkan diri adalah satu-satunya cara mengatasi hal tersebut. Website semacam Goodreads setiap tahun bikin tantangan membaca. Blog-blog lain juga kadang-kadang bikin tantangan membaca yang lebih variatif dan cukup seru untuk diikuti.

5. Jangan dipaksakan

Agak kontradiktif dengan tips no. 4, tapi harap maklum karena saya Cancer, jadi kontradiktif is my middle name. Maksud saya dengan tips ini adalah, ya sudah jangan dipaksakan kalau emang lagi enggak pengin baca buku. Enggak ada juga yang mewajibkanmu menghabiskan novel-novel di rak bukumu itu. Satu-satunya yang perlu kamu tahu hanya buku-buku tersebut enggak akan membaca dirinya sendiri; hanya kamu yang bisa membaca mereka. Lakukan hal-hal lain yang bikin kamu senang. Kalau emang kamu cinta sama buku, suatu hari kamu pasti akan kembali lagi ke buku.

9 komentar:

Harianti Eja mengatakan...

Wah, keren ni Mas..terima kasih tipsnya,

Nur Atika mengatakan...

"Kalau emang kamu cinta sama buku, suatu hari kamu pasti akan kembali lagi ke buku."
-Benzbara

M. Iqbal mengatakan...

Tips yang menarik, seperti goodreads saya sudah. Berdebu

rizal muhammad mengatakan...

Keren om

rizal muhammad mengatakan...

Keren om

Irma Fitria mengatakan...

I like it sebagai sesama cancerians...lol.

Ray Indra Taufik Wijaya mengatakan...

Gw ga percaya zodiak dan semacamnya, tapi kasusnya hampir sama. Gw excited banget pas beli buku, tapi males bacanya. Keseringan ditunda-tunda, tergantung mood juga.

anonim mengatakan...

halo bara, sama-sama cancer ternyata hehehe. Selain suka ketipu sm sinopsis dan cover yang menurut gw bagus buat dibaca itu buku, alasan gw baca karena mengapresiasi penulis tsb. Tapi lagi-lagi embel-embel apresiasi itu ga ngaruh juga alias gw suka menyudahi apresiasi thdp satu buku karena pas baca bbrp lembah udah ilfell duluan . thanks

anggitdarbe mengatakan...

Halo Bara! Berasa telat sih baru komen sekarang. Secara ini tulisan dipasang akhir Januari kan ya. Haha. Tapi setelah baca postingan ini ya bener sih. Aku ngelakuin semuanya. Keluar dari zona nyaman yang baru-baru ini gencar dilakuin. Dari dulu sebenarnya aku emoh baca Murakami (dan sering menghakimi dalam hati kalo nemu orang yang baca Murakami. Duh jahat xD).

Bukannya aku ga suka tulisan-tulisan muram, toh aku sangat suka tulisan-tulisannya Kawabata. Tapi kalo Kawabata aku bisa ngeh kenapa dia kayak gitu (bagian dari generasi Jepang yang menanggung malu akibat kekalahan di Perang Dunia kalo menurutku). Sementara aku ga relate kenapa sih Murakami semuram itu. Haha.

Tapi akhirnya 2 hari kemaren aku maksain diri buat baca Murakami sampe habis. Dan aku bacalah Dengarlah Nyanyian Angin (karena paling tipis, lol). Setelah paksain baca, somehow aku jadi ngeh banget. Dan anehnya, ada semacam "perasaan diterima" sewaktu baca absurditas-absurditas yang dia hadirin lewat bangunan emosi yang datar di novelnya (halah bahasa akik xD). Ngerasa diterima karena ngerasa nemu orang (dalam ini ya si Murakami) yang membiarkan absurditas-absurditas itu tetep jadi bagian dari dirinya. Aku ga tau yang lain sih, tapi aku juga punya absurditas personal yang karena saking anehnya ga pernah aku biarkan buat diketahui orang lain. Dan lewat novelnya ini si Murakami seolah bilang "It's OK for having it inside yourself." Terus karena merasa diterima kumemutuskan buat baca tulisan-tulisan dia yang lain yang notabene selama ini aku tolak buat kubaca. Hahahaha. Dan bertambahlah jam baca akik karena antusias. Lol.

Duh kenapa akik jadi panjang lebar yes? Maafkan. Thanks for writing it Bara!