31 Januari 2017

Other Colors, Orhan Pamuk




Buku pertama Orhan Pamuk yang saya baca, novel My Name Is Red (1998), secara instan langsung bikin saya menyukai Pamuk. Novel itu menjerat saya sejak kalimat pembukanya. I am nothing but a corpse now, a body at the bottom of a well. Dituturkan oleh seorang mayat, novel tersebut menggiring paksa saya untuk masuk ke sebentuk konspirasi besar, misteri pembunuhan yang dilakukan para seniman ilustrasi Kekaisaran Ottoman jelang akhir abad ke-15. Di dalam novel tebal itu-novel yang secara umum dianggap karya terbaik Orhan Pamuk-Pamuk bicara tentang sejarah dan seni. Khususnya sejarah Kekaisaran Ottoman yang menjadi cikal-bakal Republik Turki, dan seni Islam.

Dua hal tersebut, sejarah dan seni, menjadi topik yang tidak pernah absen di dalam karya-karya Pamuk. Tidak hanya di novel, seperti My Name Is Red dan The Museum of Innocence (2008), tetapi juga di karya-karya nonfiksinya: Istanbul: Memories and the City (2003) dan Other Colors: Essays and a Story. Selain itu, Pamuk juga sering menulis tentang kehidupan personalnya. Di Istanbul, ia bercerita cukup banyak tentang keluarganya, termasuk tentang dirinya sendiri dan bagaimana ia menjadi seorang penulis.

Belum lama ini saya rampung membaca Other Colors: Essays and a Story. Buku kumpulan tulisan yang disebut Pamuk “…terbuat dari potongan-potongan ide, imaji, dan fragmen kehidupan yang belum menemukan jalannya untuk hadir di dalam novel-novelku.” Pengantar yang ditulis Pamuk sangat menjelaskan bagaimana bentuk buku ini dan apa tujuannya menulis buku ini. Tidak ada satu tema khusus yang dipakai di Other Colors seperti di Istanbul, misalnya. Sehingga membaca Other Colors terasa seperti membaca isi bloknot atau jurnal pribadi Pamuk. Kadang-kadang terlihat berantakan, tidak terencana, dan suka-suka dia.

Memang tulisan-tulisan Pamuk di Other Colors disusun ke dalam beberapa bab. Sekadar untuk mengelompokkan kepingan-kepingan esei yang saya kira pada awalnya enggak Pamuk rencanakan hadir di satu buku utuh. Ada bab Living and Worrying yang berisi tentang keluarganya; esei-esei pendek yang Pamuk tulis secara rutin di semacam majalah lokal. Books and Reading berisi pembacaan Pamuk tentang buku-buku yang ia suka; Dostoyevsky, Camus, Rushdie, Nabokov. Politics, Europe, and Other Problems of Being Oneself kebanyakan tentang pengalaman Pamuk bersenggolan dengan permasalahan politik dan konflik batinnya sebagai warga Turki. My Books are My Life, Pamuk bicara tentang karya-karyanya sendiri. Picture and Texts, Pamuk mengulas karya-karya seni yang kerap menjadi alusi di novel-novelnya. Other Cities, Other Civilizations, tentang bagaimana Pamuk melihat Amerika dan melihat dunia lain dari Amerika. Bonusnya adalah arsip wawancara Pamuk di The Paris Review, sebuah cerita pendek yang sentimentil, dan pidato penerimaan Nobel Kesusastraan 2006.

Seperti tulisan nonfiksi Orhan Pamuk yang lain, esei-esei pendeknya di Other Colors sangat mudah dibaca. Ia begitu jujur menceritakan apapun yang ada di dalam pikirannya. Kadang-kadang Pamuk tampak seperti orang dewasa yang seperti anak kecil. Ia tidak berusaha mengemas pikiran-pikirannya dengan kalimat-kalimat bersayap demi menyamarkan gagasannya, melainkan berceloteh begitu saja hingga ia kelelahan.

Di sebuah wawancara, Orhan Pamuk pernah menyebut dirinya seorang graphomania. Klaim tersebut akan terbayangkan ketika membaca Other Colors. Jumlah tulisan yang banyak dan pendek-pendek dan seolah-olah melompat dari satu tema ke tema lain memperlihatkan Pamuk punya energi meluap-luap nyaris tidak terkendali untuk menuliskan apapun yang terlintas di kepalanya.

Bagi yang sudah pernah membaca satu-dua novel Orhan Pamuk dan memoar Istanbul, buku ini tidak menawarkan topik yang sangat baru. Pamuk masih berbicara sebagai orang Turki tentang tegangan Timur dan Barat, Asia dan Eropa. Ia masih berbicara serba-serbi mengenai Eropa dan keeropaan. Ia masih membahas satu-dua hal tentang keluarganya. Barangkali dengan sedikit tambahan renungan Orhan Pamuk tentang perkara sehari-hari yang ia alami.

Salah satu hal yang paling saya suka ketika membaca karya-karya nonfiksi Pamuk adalah saat ia bercerita tentang keinginannya menjadi penulis. Seperti sering ia ceritakan di berbagai wawancara, Pamuk sebetulnya bercita-cita jadi arsitek, tapi kemudian berubah jadi penulis. Ia mengurung diri selama satu windu membaca buku-buku koleksi ayahnya, sebelum menuliskan novel pertamanya, Cevdet Bey and His Sons, di usia 22 tahun. Semenjak itu ia kian tenggelam dalam kecintaannya pada dunia sastra.

Sebagai penutup catatan yang enggak penuh analisis ini, saya ingin mengutip bagian Other Colors ketika Pamuk menulis tentang mengapa ia menulis:


Saya menulis karena saya punya hasrat bawaan untuk menulis. Saya menulis karena saya tidak bisa bekerja normal seperti orang lain. Saya menulis karena saya ingin membaca buku seperti yang saya tuliskan. Saya menulis karena saya marah pada Anda semua. Saya menulis karena saya menikmati duduk di sebuah ruangan untuk menulis seharian. Saya menulis karena saya saya suka aroma kertas, pulpen, dan tinta. Saya menulis karena saya mempercayai kesusastraan dan seni penulisan novel melebihi hal-hal lain. Saya menulis karena menulis bagi saya adalah kebiasaan sekaligus sebentuk renjana. Saya menulis karena saya takut orang-orang akan melupakan saya. Saya menulis karena saya ingin sendirian. Mungkin juga saya menulis untuk memahami kenapa saya begitu marah, sangat, sangat, sangat marah pada semua orang. Saya menulis karena saya senang jika orang membaca karya saya. Saya menulis karena orang berharap saya menulis. Saya menulis karena saya percaya pada keabadian perpustakaan. Saya menulis karena saya senang menggubah hal-hal yang indah dari kehidupan ke dalam kata-kata. Saya menulis bukan untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi untuk menciptakan sebuah kisah. Saya menulis karena saya sulit merasa bahagia. Saya menulis karena saya ingin merasa bahagia. ***

1 komentar:

Fevy Sophia mengatakan...

kok saya merasa hangat ya membaca ending review ini?