16 Januari 2017

What Makes You Put Down a Book?




Belakangan ini saya sedang baca Other Colors: Essays and a Story, kumpulan esei Orhan Pamuk. Kebanyakan esei pendek, beberapa wawancara terpilih, baik tentang dirinya maupun buku-bukunya. Di salah satu eseinya, Pamuk sedikit menyinggung tentang apa yang membuatnya berhenti membaca buku. Meski di situ ia tidak secara khusus membahas hal tersebut, saya kira itu topik yang menarik.

Harus saya katakan bahwa saya tidak mudah berhenti membaca buku di tengah jalan. Saya tidak suka melakukannya. David Mitchell bilang, "A half-read book is a half-finished love affair." Saya tidak suka hal yang setengah selesai. Saya hampir selalu membaca cover to cover (sedikit pengecualian pada War and Peace dan The Satanic Verses). Saya mendapat kepuasan dari menyelesaikan sesuatu. Setiap akan membaca buku, saya terlebih dahulu mengira-ngira apakah saya bisa menyelesaikannya. Jika tidak, maka saya cari buku lain yang saya yakin bisa membacanya hingga selesai.

So, what makes me put down a book? Seperti saya bilang tadi. Jika saya sudah memutuskan membaca sebuah buku, maka 99,9% saya pasti akan menyelesaikannya. Namun, ada sisa 1% yang membuat saya bisa menutup buku sebelum selesai membacanya.

Berikut hal-hal yang bisa bikin saya berhenti membaca buku:


1. Logika cerita yang bolong

Sebetulnya, saya termasuk pembaca yang punya rasa toleransi besar terhadap buku yang sedang saya baca. Jika di tengah-tengah novel saya menemukan logika yang ganjil, saya enggak langsung berhenti membaca. Ingat bahwa setiap memutuskan membaca sebuah buku maka saya akan melakukan apapun demi merampungkannya. Saya akan bersabar dan berasumsi bahwa mungkin logika yang ganjil ini disengaja oleh penulisnya. Jangan lupa bahwa saya penikmat cerita-cerita sureal, fantasi, bahkan absurd, jadi saya sudah akrab dengan novel-novel yang memakai logika yang tidak umum. Namun, kadang-kadang penulisnya memang missed, dan ada logika yang kacau di novelnya. Kalau saya sudah enggak tahan lagi, saya akan menutup buku dan move on ke buku lain.

2. Timeline cerita yang membingungkan

Saya tidak bisa kasih contoh yang lebih baik untuk poin ini daripada The Satanic Verses. Novel Salman Rushdie yang kontroversial itu bikin saya cukup kelelahan membacanya. Bukan karena jelek, tetapi saya tidak mendapatkan kronologi cerita yang jelas. Transisi antarbagian pun sangat samar. Apalagi, Rushdie berpindah-pindah dari semesta realis ke surealis. Novel-novel tipe seperti ini harus sangat memperhatikan transisi antaradegan agar tidak menciptakan kebingungan dan kehilangan perhatian pembacanya; termasuk saya.

3. Bahasa yang kelewat rumit

Ini lebih sering terjadi di novel-novel berbahasa Inggris. Lagi-lagi saya enggak bisa mengelak dari memberi contoh The Satanic Verses. Bahasa Inggris Salman Rusdhie di novel ini rumit sekali. Saya enggak keberatan baca novel sambil buka kamus di ponsel, bahkan saya hampir selalu melakukannya jika memang ada kata-kata yang tidak saya mengerti. Namun, kalau saya harus buka kamus tiap baca satu kalimat, lama-lama capek juga.

4. Gaya bercerita yang sulit dinikmati

Saya percaya bahwa sebagai pembaca kita harus beradaptasi pada perkembangan gaya bercerita penulis. Artinya, jika ada novel yang penulisnya menggunakan gaya yang belum pernah kita lihat, bukan berarti kita harus menyalahkan si penulis atas gaya narasi yang aneh. Namun, apa boleh buat, kita kadang-kadang tidak bisa menghindar dari pengaruh selera. Saya teringat pada novelnya Toni Morrison, Beloved. Saya kesulitan membaca buku itu karena gaya menulis Morrison bagi saya terasa ganjil dan mengganggu. Tentu saja tidak berarti ini salah Morrison.

5. Tidak memberi saya pengetahuan baru

Kalau ini, saya enggak akan sampai menutup buku di tengah jalan. Paling jauh saya baca secara skimming.

-

Hal-hal yang saya jelaskan di atas tentu jadi catatan dan pengingat pribadi juga buat saya. Karena saya penulis, maka sebisa mungkin saya enggak menulis buku yang di dalamnya ada lima hal di atas. Jika kalian membaca buku saya dan menemukan hal-hal di atas, saya mohon maaf ya, he he he. Semoga saya bisa menulis lebih baik lagi di setiap buku yang saya terbitkan nantinya.

Nah, sekarang, bagaimana denganmu? What makes you put down a book?

10 komentar:

Khemal Sundah Prasasti mengatakan...

Poin nomor 3 tepat menggambarkan Infinite Jest punya David Foster Wallace.Setiap baca beberapa kalimat pasti ada yang bikin buka kamus. Capek. Atau mungkin karena level bahasa Inggrisku yang gak nyampe.
Tapi pengen nyelesein. Terus terbentur masalah yang sama lagi. Repeat. ��

humaiidi mengatakan...

paling ngena nomor 5.Mau diselesaikan ya gak dapet hal baru,selalu mikir daripada baca buku 'kosong' begini mending nyari yg bisa ngasih hal baru,biar aja bikin pusing.haha

analysia kinanti mengatakan...

bagi saya, gaya bahasa sangatlah penting. gaya bahasa merupakan bumbu penting untuk membuat cerita lebih menarik. jika tidak menarik, bagaimana bisa menikmati sebuah buku dengan nyaman?
ah satu lagi, saya ingin bertanya. mengapa Bang Bara sering membaca novel luar negri? mengapa bukan novel Indonesia
terima kasih. mohon maaf jika banyak kesalahan dan terkesan sok tau.
semangat!

cerita kata mengatakan...

Biasanya aku karena narasinya kepanjangan dan temponya terasa lama. Jafinya jenuh. Tapi nggak sampai menutup buku. Palingan aku selingi baca buku yg lain dan suatu saat pasti buku tersebut aku selesaikan. Ini terjadi waktu aku baca murakami yg norwegian wood, maryam- okky madasari. Pada akhirnya selesai juga sih. Soalnya tidak mrnyelesaikan satu buku rasanya kayak punya utang

Wignya Wirasana mengatakan...

Bab pertama dan kedua yang membosankan.

Nisrina mengatakan...

Setuju banget, Bang. Kalau saya sudah membaca satu buku, sebisa mungkin saya akan berusaha menyelesaikannya walaupun dengan terseok-seok :")
Saya pribadi lebih memilih untuk tidak membaca buku yang dari judulnya kurang menarik perhatian saya. Yang lebih saya lihat biasanya penulis dan ulasan pembaca lainnya di Goodreads.

benz mengatakan...

Khemal: Kalau kendalanya di kata-kata dan kamus terlalu bikin ribet, biasanya saya lanjut baca terus sampai paham konteksnya. Nanti baru balik lagi sesekali nyari arti kata per kata.

Humaidi: Kadang-kadang baca buku "kosong" boleh juga buat ngosongin pikiran. Haha.

Kinanti: Saya belakangan lebih banyak baca buku dari penulis luar Indonesia karena sedang senang saja. Sesekali saya juga baca buku dari penulis Indonesia.

Cerita: Sama. Kalau enggak beres baca kayak lagi utang. Enggak enak.

Wignya: Haha, kadang-kadang saya pun begitu.

Nisrina: Menarik. Saya juga kadang liat review di Goodreads.

Sita Ahmad mengatakan...

Nomor 2.

Sita Ahmad mengatakan...

Nomor 2.

FARIDA mengatakan...

HI...saya "penikmat"mu yang baru. Kamu sangat menginspirasi saya untuk mau membaca lagi, berawal dari iseng stalking twit-twitmu. Mungkin ini pertanyaan konyol karena saya tipikal senang beli buku tapi mudah bosan saat buku itu mulai membuat ngantuk; bagaimana caranya mengusir kantuk saat membaca buku? Pleaseeeee.....jiwa saya lapaaar ingin melahap isi buku-buku itu tapi mata mudah lelah.