13 Juni 2017

Sebuah Panduan Berbuat Jahat


(Foto dari redaksi Mojok)


Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di Mojok.


Saya rindu membaca cerita yang dimulai dengan niat jahat. Meski tentu saja tidak semuanya, tetapi novel-novel terakhir yang saya baca selalu bermula dengan protagonis yang memiliki kehendak mulia, lalu menghadapi masalah yang menghalau kehendak mulianya, namun berakhir bahagia dan ditutup dengan keberhasilan si protagonis menunaikan niat mulianya itu. Saya rindu orang jahat. Saya rindu orang jahat yang menjadi tokoh utama. Saya rindu sebuah cerita yang membuat saya percaya bahwa sama seperti kebaikan, kejahatan pun bisa sungguh-sungguh menang.

Novel 24 Jam Bersama Gaspar karya Armandio Alif menunaikan kerinduan saya akan hal-hal tersebut.

Armandio Alif adalah penulis Indonesia berusia muda yang cemerlang. Saya katakan cemerlang, karena sejak awal kemunculannya di dunia sastra Indonesia, Dio-panggilan akrabnya, walau menurut saya “Sabda” terdengar lebih agung-sudah menorehkan prestasi baik. Novel debut Dio, Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya, menjadi satu dari lima buku terbaik tahun 2015 pilihan majalah Rolling Stone Indonesia. Tidak butuh waktu lama bagi Sabda Armandio untuk mencuri perhatian para pelaku dan penikmat karya sastra Indonesia, karena karya keduanya, novel 24 Jam Bersama Gaspar, menjadi pemenang unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016.

Kurang keren apa lagi coba?

Sebelum membaca kedua novel Sabda Armandio, saya lebih dulu mengenal karya-karyanya yang dia pajang di blog pribadinya. Kebanyakan cerita pendek. Ada pula cerita yang sangat pendek dan beberapa cerita terjemahan. Selain menulis cerita pendek dan novel, Dio juga menerjemahkan cerita-cerita pendek dari penulis yang saya asumsikan merupakan penulis kesukaannya. Salah satu dari penulis kesukaannya itu dia pinjam dan jadikan tokoh di 24 Jam Bersama Gaspar, yaitu sebuah motor bernama Cortazar (ya, dari Julio Cortazar).


*

Saat membaca cerita-cerita Dio di blognya, hal pertama yang saya tangkap adalah jiwa iseng si penulis. Dio senang bermain-main di dalam ceritanya dan hal tersebut memunculkan kesan bahwa dia tidak sungguh-sungguh ingin menulis sesuatu yang bagus. Alur cerita, dialog, karakter-karakter dalam cerita-ceritanya cenderung absurd, ganjil, dan terkesan asal bikin saja. Tidak terlihat niat atau perencanaan yang matang untuk membuat plot dan gagasan yang matang.

Tapi, tunggu dulu, apa memang benar begitu?

Cerita bagus biasanya dimulai dengan kesan main-main. Sama seperti seorang pelawak yang sedang beraksi di panggung, Sabda Armandio melalui panggung naskahnya memulai cerita-ceritanya dengan humor yang membuat saya tertawa dan lengah. Setelah lawakannya berhasil, barulah dia menembakkan gagasan-gagasan yang kerap membuat saya terkejut dan berpikir panjang.

Itu terjadi di cerita-cerita pendek yang ia pajang dan bisa dibaca gratis di blog pribadinya. Itu yang terjadi di novel Kamu. Itu pula yang terjadi di 24 Jam Bersama Gaspar.

Humor Sabda Armandio bahkan sudah terasa sejak pembukaan novel. Sebuah pengantar yang ditulis dengan gaya parodi membuat saya benar-benar meramban di mesin pencari laptop saya untuk mengenal lebih jauh siapa itu Arthur Harahap. Setelah tidak menemukan hasil yang bikin saya puas, saya membangun imajinasi akan Arthur Harahap di kepala saya sendiri.

Pengantar 24 Jam Bersama Gaspar yang ditulis oleh sosok fiktif (meskipun ini masih bisa diperdebatkan) bernama Arthur Harahap merupakan sebentuk metafiksi yang segar dan sukses bikin saya penasaran, tidak hanya pada siapa sebenarnya yang menulis pengantar buku ini, tetapi juga sosok sang protagonis, Gaspar.


*

Gaspar adalah seorang laki-laki berusia pertengahan tiga puluh yang senang bermain musik dan punya hasrat membunuh orang. Saya langsung jatuh hati pada Gaspar sejak Sabda Armandio memberikan deskripsi tentang dia. Melalui sudut pandang penceritaan orang pertama, Gaspar berkata bahwa dia adalah “…yang diceritakan naga-naga dewasa kepada anak-anak mereka agar cepat tidur.” Gaspar juga sesumbar, “Dulu Kim Il Sung menyebut namaku beserta segala kemampuanku untuk menghentikan rengekan Kim Jong Il kecil.”

Sungguh seram dan menarik.

Gambaran jahat itu tentu saja bukan omdo alias omong doang. Gaspar membuktikannya dengan memberi tahu pembaca bahwa dia akan merampok sebuah toko emas 24 jam dari sekarang. Bersama motor kesayangannya, Cortazar, dan tokoh-tokoh lain yang dengan hasutan tertentu menjadi partner in crime (literally!) Gaspar, layaknya Momotaro pergi untuk menumpas monster di pulau jauh, Gaspar berangkat ke toko emas untuk mengambil sebuah kotak hitam misterius. Apa isi kotak hitam yang memotivasi niat jahat Gaspar? Ya, baca aja novelnya.

Dalam delapan bab yang sangat menghibur, cerita 24 Jam Bersama Gaspar berjalan di dua alur yang paralel. Dalam alur pertama, kita mengikuti pergerakan Gaspar bersama teman-teman gengnya yang dia bentuk dadakan dan sebenarnya tidak sangat bahagia mengikuti rencana absurd Gaspar; dan di alur kedua, kita membaca (atau “mendengar”) rekaman wawancara seorang polisi dengan seorang nenek-nenek anggota komplotan kriminal Gaspar. Kedua alur paralel yang sedikit mengingatkan saya pada novel Kafka on the Shore karya Haruki Murakami (di novel Haruki ada tiga alur paralel) ini bersaling-silang membangun misteri dan ketegangan yang berusaha dibentuk Sabda Armandio demi menepati janjinya di sampul buku: novel ini adalah sebuah cerita detektif.

Gagasan tentang apa itu jahat dan apa itu baik menjadi energi utama cerita novel 24 Jam Bersama Gaspar. Melalui tindakan-tindakan karakternya, Sabda Armandio mengajak saya mempertanyakan kembali akan makna kejahatan dan kebaikan. Tidak hanya lewat Gaspar, tetapi juga karakter-karakter lain termasuk sasaran Gaspar, sang pemilik toko emas, orang yang menyimpan kotak hitam incaran Gaspar: Wan Ali.

Wan Ali yang telah berbuat jahat demi kebaikan menurut versinya, dan Gaspar yang berbuat jahat demi membalas kejahatan Wan Ali, adalah karakter-karakter yang kita temukan di kehidupan sehari-hari. Orang-orang jahat di dunia nyata dan tokoh-tokoh jahat di film-film Hollywood kerap menggunakan alasan “ini semua demi kebaikan” untuk membenarkan tindak jahat mereka. Sabda Armandio, lewat mulut Gaspar, seakan ingin berkata: kalau jahat ya jahat saja.

Membaca novel 24 Jam Bersama Gaspar, selain membuat saya tertawa karena penuh lawakan segar, juga bikin saya merenung tentang makna jahat dan baik, sekaligus menggerakkan jari-jari tangan saya untuk mencari sebuah puisi yang sejak tadi saya coba ingat. Sebuah puisi yang dalam bahasa Inggris kira-kira berjudul There is a Field, karya Jalaluddin Rumi:

Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing,
there is a field. I’ll meet you there.
When the soul lies down in that grass,
the world is too full to talk about.
Ideas, language, even the phrase each other
doesn't make any sense.


Saya membayangkan bertemu Gaspar di sebuah warung makan Tegal di suatu sore yang adem, dan Gaspar mengucapkan dua kalimat pertama dari puisi Rumi, dan kami akan duduk-duduk di selokan di pinggir sawah yang masih hijau, dan berbicara panjang lebar tentang kejahatan dan kebaikan. ***

6 Juni 2017

Membaca “Human Acts”, Membaca Kekerasan



Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di Jakartabeat.


Tidak ada negara yang luput dari sejarah kekerasan. Tidak Indonesia, tidak pula Korea. Siapa mengira, negeri ginseng tempat tinggal pemuda dan pemudi idola para penggemar K-Pop itu juga menyimpan cerita-cerita pembantaian manusia. Dalam novel terbaru Han Kang, Human Acts, penulis peraih penghargaan Man Booker Prize International 2016 itu mengungkit peristiwa “Gwangju Uprising”, insiden demonstrasi yang menjadi bercak hitam dalam sejarah Korea Selatan. Insiden yang telah melenyapkan lebih dari enam ratus jiwa manusia.

Han Kang adalah penulis asal Korea teranyar yang saat ini menerima lampu sorot dari kesusastraan dunia. Novel pertamanya yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, The Vegetarian, membawa Korea ke panggung kesusastraan internasional, memberi label berikutnya pada Korea selain sebagai negara penghasil boyband dan girlband dan K-Drama. Di The Vegetarian, kisah perempuan yang mendadak ingin jadi seorang vegan dan mengira dirinya adalah tumbuhan disampaikan dengan puitis sekaligus terkesan sureal. Lewat novel itu, Han Kang mengajukan sebuah pertanyaan penting: Apakah kekerasan merupakan sifat mendasar manusia?

Pertanyaan tersebut masih menjadi persoalan utama yang diolah Han Kang di novel terbarunya, Human Acts (Portobello Books, 2016). Human Acts bercerita tentang peristiwa yang dikenal sebagai “Gwangju Uprising”-sebutan untuk aksi demonstrasi warga Gwangju pada tahun 1980 yang dilakukan menyusul terbunuhnya presiden Korea Selatan keempat, Park Chung-hee, setahun sebelumnya. Peristiwa ini lebih populer dengan nama “5-18”, mengindikasikan tanggal 18 Mei, waktu terjadinya peristiwa itu.

Pasca terbunuhnya Park Chung-hee, gerakan-gerakan massa menuntut penegakan demokrasi yang terbendung selama 18 tahun kediktatorannya kembali menyeruak. Gelombang massa ini yang kemudian ditekan oleh Chun Doo-hwan, petinggi militer Korea Selatan yang melakukan kudeta untuk mengambil alih kendali negara. Sosok yang disebut Han Kang di novelnya sebagai “The Butcher”. Orang yang bertanggungjawab atas kematian sekurangnya 600 jiwa warga Korea.

*

Human Acts merupakan novel polifonik. Terdiri atas enam bagian, masing-masing bagian memiliki protagonisnya sendiri dan dituturkan menggunakan sudut pandang penceritaan yang berbeda-beda. Enam bagian tersebut ditutup dengan sebuah epilog yang dituturkan oleh Han Kang sendiri sebagai penulis novel, berisi gambaran tentang apa yang ia alami ketika peristiwa pembantaian itu berlangsung serta bagaimana cerita ketika ia mencoba melacak dokumen-dokumen tentang “5-18”.

Pada bab pertama novel, “The Boy. 1980”, pemuda yang menjadi fokus narasi Han Kang terlihat membantu para sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan oleh tentara. Pemuda ini kemudian kita ketahui bernama Dong-ho, dan melalui serangkaian adegan, kita akan paham bahwa ia juga merupakan salah satu korban pembantaian. Han Kang membuka Human Acts dengan deskripsi seorang pemuda belia yang sedang melihat hujan. “It looks like rain,” you mutter to yourself. Kalimat pertama itu memberi saya jalan masuk untuk membayangkan cuaca yang mengiringi situasi mencekam di Gwangju, sekaligus merasakan sesuatu yang puitis-nuansa yang kerap muncul tiap membaca narasi Han Kang.

Bagian kedua, “The Boy’s Friend. 1980”, mengingatkan saya pada mayat di pembukaan novel My Name Is Red, Orhan Pamuk, karena mereka sama-sama mayat yang berbicara. Bagian ketiga, “The Editor. 1985”, menuturkan kisah Kim Eun-sook, jurnalis yang mencoba melupakan tujuh tamparan personil tentara dalam sebuah interogasi. Bagian keempat, “The Prisoner. 1990”, tentang mantan narapidana yang menceritakan pengalamannya disiksa tentara. Di bagian kelima, “The Factory Girl. 2002”, seorang pekerja dipaksa mengingat masa kelamnya semasa demonstrasi. Di bagian terakhir, “The Boy’s Mother. 2010”, seorang ibu mengenang kematian anaknya.

Han Kang berpindah-pindah dari satu protagonis ke protagonis berikutnya dan bercerita menggunakan sudut pandang penceritaan orang pertama, kedua, dan ketiga. Meski awalnya sedikit sulit mengikuti peralihan sudut pandang penceritaan yang terus-menerus ini, pada akhirnya kita akan memahami gambar besar yang dilukis Han Kang. Semua tokoh yang ia ceritakan merupakan bagian dari satu kelompok yang sama: kelompok masyarakat yang melawan kekuatan militer Chun Doo-hwan. Kelompok yang menjadi korban kekerasan negara.

Selain memperlihatkan bahwa kekerasan dan kekuasaan kerap tampil sebagai saudara sedarah, Human Acts juga menunjukkan bagaimana perlawanan selalu muncul dari bawah. Seluruh bagian kelompok demonstrasi Gwangju yang beraksi menghadap tentara adalah masyarakat sipil. Mereka yang tidak terlatih memegang senjata dan hanya berbekal keberanian, kenekatan, serta solidaritas kuat yang berakar pada satu keyakinan: Bahwa mereka benar. Bahwa kehendak mereka menuntut demokrasi adalah sesuatu yang benar dan pantas.

Jika dibanding dengan novel sebelumnya, The Vegetarian, novel terbaru Han Kang ini menampilkan pemandangan yang lebih brutal. Begitu banyak gambar-gambar yang dapat dikategorikan Not Safe For Work (NSFW). Han Kang mendeskripsikan wujud tubuh mayat korban kekerasan dan adegan-adegan penyiksaan tanpa sensor sama sekali. Namun, kata si pemuda Dong-ho, “Apa yang mengerikan dari mayat-mayat ini? Lebih menakutkan tentara-tentara itu.”

Han Kang menulis sebuah paragraf yang menurut saya sangat kuat di Human Acts. Sebuah pernyataan yang menjadi benang merah atas karya-karyanya. Berikut bunyi paragraf tersebut:

Is it true that human beings are fundamentally cruel? Is the experience of cruelty the only thing we share as a species? Is the dignity that we cling to nothing but self-delusion, masking from ourselves this single truth: that each one of us is capable of being reduced to an insect, a ravening beast, a lump of meat? To be degraded, damaged, slaughtered; is this the essential fate of humankind, one which history has confirmed as inevitable?

*

Human Acts diterjemahkan dari bahasa Korea ke Inggris oleh Deborah Smith, penerjemah asal Inggris berusia 29 tahun yang bersama Han Kang menerima anugerah Man Booker Prize International 2016 lewat terjemahannya untuk The Vegetarian. Dalam pengantarnya di novel Human Acts, Deborah Smith memberi sedikit gambaran tema yang diangkat Han Kang. Bagi saya yang awam sejarah politik dan kekerasan di Korea Selatan, pengantar pendek Deborah Smith amat membantu dalam memahami gagasan dan latar belakang cerita di Human Acts.

Sebagai penulis, garis hidup Han Kang tampak seolah-olah sudah disuratkan. Ayah dan abangnya, masing-masing bernama Han Seung-won dan Han Dong Rim, juga adalah penulis. Han Kang belajar Kesusastraan Korea di Universitas Yonsei dan kini mengajar penulisan kreatif Institut Seni Seoul. Sebelum meraih perhatian dunia lewat kemenangannya di Man Booker, Han Kang sudah lebih dulu mendapat beragam penghargaan kesusastraan di negara asalnya.

Sebuah karya sastra yang baik akan membuat kita mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya berlangsung setiap hari tetapi tidak pernah kita pikirkan secara sadar. Membaca Human Acts membuat saya merenung dalam. Benarkah kekerasan merupakan sesuatu yang inheren pada manusia? Apakah kekerasan adalah fitrah manusia? Jika benar demikian, apa yang bisa manusia perbuat demi melepaskan kekerasan itu dari dirinya, atau sebaliknya, melepaskan dirinya dari kekerasan? Demi mencapai “…sebuah tempat yang disinari cahaya matahari, sebuah tempat di mana bunga-bunga bermekaran.” ***