6 Juni 2017

Membaca “Human Acts”, Membaca Kekerasan



Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di Jakartabeat.


Tidak ada negara yang luput dari sejarah kekerasan. Tidak Indonesia, tidak pula Korea. Siapa mengira, negeri ginseng tempat tinggal pemuda dan pemudi idola para penggemar K-Pop itu juga menyimpan cerita-cerita pembantaian manusia. Dalam novel terbaru Han Kang, Human Acts, penulis peraih penghargaan Man Booker Prize International 2016 itu mengungkit peristiwa “Gwangju Uprising”, insiden demonstrasi yang menjadi bercak hitam dalam sejarah Korea Selatan. Insiden yang telah melenyapkan lebih dari enam ratus jiwa manusia.

Han Kang adalah penulis asal Korea teranyar yang saat ini menerima lampu sorot dari kesusastraan dunia. Novel pertamanya yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, The Vegetarian, membawa Korea ke panggung kesusastraan internasional, memberi label berikutnya pada Korea selain sebagai negara penghasil boyband dan girlband dan K-Drama. Di The Vegetarian, kisah perempuan yang mendadak ingin jadi seorang vegan dan mengira dirinya adalah tumbuhan disampaikan dengan puitis sekaligus terkesan sureal. Lewat novel itu, Han Kang mengajukan sebuah pertanyaan penting: Apakah kekerasan merupakan sifat mendasar manusia?

Pertanyaan tersebut masih menjadi persoalan utama yang diolah Han Kang di novel terbarunya, Human Acts (Portobello Books, 2016). Human Acts bercerita tentang peristiwa yang dikenal sebagai “Gwangju Uprising”-sebutan untuk aksi demonstrasi warga Gwangju pada tahun 1980 yang dilakukan menyusul terbunuhnya presiden Korea Selatan keempat, Park Chung-hee, setahun sebelumnya. Peristiwa ini lebih populer dengan nama “5-18”, mengindikasikan tanggal 18 Mei, waktu terjadinya peristiwa itu.

Pasca terbunuhnya Park Chung-hee, gerakan-gerakan massa menuntut penegakan demokrasi yang terbendung selama 18 tahun kediktatorannya kembali menyeruak. Gelombang massa ini yang kemudian ditekan oleh Chun Doo-hwan, petinggi militer Korea Selatan yang melakukan kudeta untuk mengambil alih kendali negara. Sosok yang disebut Han Kang di novelnya sebagai “The Butcher”. Orang yang bertanggungjawab atas kematian sekurangnya 600 jiwa warga Korea.

*

Human Acts merupakan novel polifonik. Terdiri atas enam bagian, masing-masing bagian memiliki protagonisnya sendiri dan dituturkan menggunakan sudut pandang penceritaan yang berbeda-beda. Enam bagian tersebut ditutup dengan sebuah epilog yang dituturkan oleh Han Kang sendiri sebagai penulis novel, berisi gambaran tentang apa yang ia alami ketika peristiwa pembantaian itu berlangsung serta bagaimana cerita ketika ia mencoba melacak dokumen-dokumen tentang “5-18”.

Pada bab pertama novel, “The Boy. 1980”, pemuda yang menjadi fokus narasi Han Kang terlihat membantu para sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan oleh tentara. Pemuda ini kemudian kita ketahui bernama Dong-ho, dan melalui serangkaian adegan, kita akan paham bahwa ia juga merupakan salah satu korban pembantaian. Han Kang membuka Human Acts dengan deskripsi seorang pemuda belia yang sedang melihat hujan. “It looks like rain,” you mutter to yourself. Kalimat pertama itu memberi saya jalan masuk untuk membayangkan cuaca yang mengiringi situasi mencekam di Gwangju, sekaligus merasakan sesuatu yang puitis-nuansa yang kerap muncul tiap membaca narasi Han Kang.

Bagian kedua, “The Boy’s Friend. 1980”, mengingatkan saya pada mayat di pembukaan novel My Name Is Red, Orhan Pamuk, karena mereka sama-sama mayat yang berbicara. Bagian ketiga, “The Editor. 1985”, menuturkan kisah Kim Eun-sook, jurnalis yang mencoba melupakan tujuh tamparan personil tentara dalam sebuah interogasi. Bagian keempat, “The Prisoner. 1990”, tentang mantan narapidana yang menceritakan pengalamannya disiksa tentara. Di bagian kelima, “The Factory Girl. 2002”, seorang pekerja dipaksa mengingat masa kelamnya semasa demonstrasi. Di bagian terakhir, “The Boy’s Mother. 2010”, seorang ibu mengenang kematian anaknya.

Han Kang berpindah-pindah dari satu protagonis ke protagonis berikutnya dan bercerita menggunakan sudut pandang penceritaan orang pertama, kedua, dan ketiga. Meski awalnya sedikit sulit mengikuti peralihan sudut pandang penceritaan yang terus-menerus ini, pada akhirnya kita akan memahami gambar besar yang dilukis Han Kang. Semua tokoh yang ia ceritakan merupakan bagian dari satu kelompok yang sama: kelompok masyarakat yang melawan kekuatan militer Chun Doo-hwan. Kelompok yang menjadi korban kekerasan negara.

Selain memperlihatkan bahwa kekerasan dan kekuasaan kerap tampil sebagai saudara sedarah, Human Acts juga menunjukkan bagaimana perlawanan selalu muncul dari bawah. Seluruh bagian kelompok demonstrasi Gwangju yang beraksi menghadap tentara adalah masyarakat sipil. Mereka yang tidak terlatih memegang senjata dan hanya berbekal keberanian, kenekatan, serta solidaritas kuat yang berakar pada satu keyakinan: Bahwa mereka benar. Bahwa kehendak mereka menuntut demokrasi adalah sesuatu yang benar dan pantas.

Jika dibanding dengan novel sebelumnya, The Vegetarian, novel terbaru Han Kang ini menampilkan pemandangan yang lebih brutal. Begitu banyak gambar-gambar yang dapat dikategorikan Not Safe For Work (NSFW). Han Kang mendeskripsikan wujud tubuh mayat korban kekerasan dan adegan-adegan penyiksaan tanpa sensor sama sekali. Namun, kata si pemuda Dong-ho, “Apa yang mengerikan dari mayat-mayat ini? Lebih menakutkan tentara-tentara itu.”

Han Kang menulis sebuah paragraf yang menurut saya sangat kuat di Human Acts. Sebuah pernyataan yang menjadi benang merah atas karya-karyanya. Berikut bunyi paragraf tersebut:

Is it true that human beings are fundamentally cruel? Is the experience of cruelty the only thing we share as a species? Is the dignity that we cling to nothing but self-delusion, masking from ourselves this single truth: that each one of us is capable of being reduced to an insect, a ravening beast, a lump of meat? To be degraded, damaged, slaughtered; is this the essential fate of humankind, one which history has confirmed as inevitable?

*

Human Acts diterjemahkan dari bahasa Korea ke Inggris oleh Deborah Smith, penerjemah asal Inggris berusia 29 tahun yang bersama Han Kang menerima anugerah Man Booker Prize International 2016 lewat terjemahannya untuk The Vegetarian. Dalam pengantarnya di novel Human Acts, Deborah Smith memberi sedikit gambaran tema yang diangkat Han Kang. Bagi saya yang awam sejarah politik dan kekerasan di Korea Selatan, pengantar pendek Deborah Smith amat membantu dalam memahami gagasan dan latar belakang cerita di Human Acts.

Sebagai penulis, garis hidup Han Kang tampak seolah-olah sudah disuratkan. Ayah dan abangnya, masing-masing bernama Han Seung-won dan Han Dong Rim, juga adalah penulis. Han Kang belajar Kesusastraan Korea di Universitas Yonsei dan kini mengajar penulisan kreatif Institut Seni Seoul. Sebelum meraih perhatian dunia lewat kemenangannya di Man Booker, Han Kang sudah lebih dulu mendapat beragam penghargaan kesusastraan di negara asalnya.

Sebuah karya sastra yang baik akan membuat kita mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya berlangsung setiap hari tetapi tidak pernah kita pikirkan secara sadar. Membaca Human Acts membuat saya merenung dalam. Benarkah kekerasan merupakan sesuatu yang inheren pada manusia? Apakah kekerasan adalah fitrah manusia? Jika benar demikian, apa yang bisa manusia perbuat demi melepaskan kekerasan itu dari dirinya, atau sebaliknya, melepaskan dirinya dari kekerasan? Demi mencapai “…sebuah tempat yang disinari cahaya matahari, sebuah tempat di mana bunga-bunga bermekaran.” ***

6 komentar:

Mukhsin Pro mengatakan...

Reviewnya keren kak, jadi pengen baca deh bukunya.

Rizqi Akbar mengatakan...

Jadi penasaran dengan bukunya

Dj Vimax Asli mengatakan...

nice post

Nyai Dasima mengatakan...

,,.,KISAH NYATA ,
Aslamu alaikum wr wb..Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Bismillahirrahamaninrahim,,senang sekali saya bisa menulis dan berbagi kepada teman2 melalui room ini, sebelumnya dulu saya adalah seorang pengusaha dibidang property rumah tangga dan mencapai kesuksesan yang luar biasa, mobil rumah dan fasilitas lain sudah saya miliki, namun namanya cobaan saya sangat percaya kepada semua orang, hingga suaatu saat saya ditipu dengan teman saya sendiri dan membawa semua yng saya punya, akhirnya saya menaggung utang ke pelanggan saya totalnya 470 juta dan di bank totalnya 800 juta , saya stress dan hamper bunuh diri anak saya 2 orng masih sekolah di smp dan sma, istri saya pergi entah kemana dan meninggalkan saya dan anakanaknya ditengah tagihan utang yg menumpuk, demi makan sehari hari saya terpaksa jual nasi bungkus keliling dan kue, ditengah himpitan ekonomi seperti ini saya bertemu dengan seorang teman dan bercerita kepadanya, Alhamdulilah beliau memberikan saran kepada saya, dulu katanya dia juga seperti saya stelah bergabung dengan KIYAI HAJI DAHLAR hidupnya kembali sukses, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama satu minggu saya berpikir dan melihat langsung hasilnya, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KIYAI HAJI DAHLAR DI 085-299-585-055. Semua petunjuk AKI saya ikuti dan hanya 3 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah Demi AllAH dan anak saya, akhirnya 5M yang saya minta benar benar ada di tangan saya, semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha, kini saya kembali sukses terimaksih KIYAI HAJI DAHLAR saya tidak akan melupakan jasa AKI. JIKA TEMAN TEMAN BERMINAT, YAKIN DAN PERCAYA INSYA ALLAH, SAYA SUDAH BUKTIKAN DEMI ALLAH SILAHKAN HUB KIYAI HAJI DAHLAR DI 085-299-585-055. (TANPA TUMBAL/AMAN).

ridwan messi mengatakan...


hammer of thor
thor hammer
semenax

IBU SALMAH mengatakan...

kami sekeluarga tak lupa mengucapkan puji syukur kepada ALLAH S,W,T
dan terima kasih banyak kepada AKI atas bangtuan nomor togel.nya yang AKI
berikan 4 angka ((( 2 6 0 9 ))) alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI.
dan alhamdulillah sekarang saya bisa melunasi semua utan2 saya yang
ada sama tetangga.dan juga BANK BRI dan bukan hanya itu AKI. insya
allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKI..
sekali lagi makasih banyak ya AKI bagi saudara yang suka main togel
yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi AKI SOLEH,,DI NO Cll (((082-313-336-747)))
insya allah anda bisa seperti Saya menang togel 179
juta, wassalam.
dijamin 100% jebol saya sudah buktikan...sendiri....
Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini !!!!

1"Dikejar-kejar hutang
2"Selaluh kalah dalam bermain togel
3"Barang berharga anda udah habis terjual Buat judi togel
4"Anda udah kemana-mana tapi tidak menghasilkan solusi yg tepat
5"Udah banyak Dukun togel yang kamu tempati minta angka jitunya
tapi tidak ada satupun yang berhasil..

Solusi yang tepat jangan anda putus asah....AKI SOLEH akan membantu
anda semua dengan Angka ritwal/GHOIB:
butuh angka togel 2D 3D 4D SGP / HKG / MALAYSIA / TOTO MAGNUM / dijamin
100% jebol
Apabila ada waktu
silahkan Hub: AKI SOLEH DI NO: Cll (((082-313-336-747)))
KLIK DISINI ((((( ANGKA*RAMALAN*TOGEL*HARI*INI ))))
angka GHOIB: singapur 2D/3D/4D/
angka GHOIB: hongkong 2D/3D/4D/
angka GHOIB; malaysia
angka GHOIB; toto magnum 4D/5D/6D/
angka GHOIB; laos