2 November 2017

Rahasia Menembus Penerbit Ala Bernard Batubara!


Foto oleh: Nuri Arunbiarti


Saya selalu mengira bahwa zaman sekarang semua orang serba tahu akan segala hal. Atau setidaknya mudah untuk mengetahui yang belum diketahui. Atas dasar pikiran seperti itu, saya jarang sekali menyebarkan informasi yang saya anggap sudah diketahui secara umum. Salah satunya yang terkait dengan dunia penulis: mengirim naskah ke penerbit.

Anggapan saya, semua orang sudah tahu bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit. Kalaupun belum, saya kira merupakan sebuah common sense untuk mencari tahu di Internet. Maksudnya, kalau enggak tahu cara mengirim naskah, bukankah langkah logis yang merupakan solusinya adalah mengetik di Google: “Cara mengirim naskah ke penerbit”?

Saya tidak tahu apakah ini sudah dilakukan oleh teman-teman yang ingin tahu cara mengirim naskah. Kalau kamu melakukannya, pada halaman pertama saja sudah banyak panduan cara mengirim naskah yang saya kira cukup jelas. Jadi, apa gunanya lagi saya membuat tulisan ini?

Faktanya, meski tidak setiap hari, cukup banyak ternyata teman-teman yang mengirimi saya e-mail dan pesan di Instagram bertanya bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit. Mau saya jawab, kok rasanya malas. Tidak saya jawab, rasanya ada tanggungjawab moral sebagai penulis untuk berbagi informasi. Tapi ya capek juga kalau setiap ada pertanyaan seperti itu dari orang yang berbeda, saya harus mengetik ulang jawaban yang sama.

Jadi, ya sudah, saya bikin saja tulisan ini. Bisa jadi yang dibutuhkan teman-teman bukan sekadar panduan teknis mengirim naskah, melainkan tips tertentu yang membuat kemungkinan naskah diterima semakin mungkin. Kalau perlu langkah-langkah jitu yang menjamin seratus persen penerbit mustahil menolak menerbitkan naskahmu!

Sepuluh tahun berkarir di dunia penulisan kreatif dan di antaranya satu tahun bekerja di sebuah penerbitan sebagai editor, berikut ini beberapa hal yang bisa saya bagi. Saya tidak jamin apakah daftar ini otentik dan belum ditulis oleh penulis ataupun penerbit lain, tapi ini tips dari Bernard Batubara gitu loh.




Masa iya enggak bisa dipercaya?


1. Rapikan Naskahmu

Sejelek apapun naskahmu, kalau diketik dengan rapi, editor masih mau baca setidaknya beberapa halaman lebih banyak daripada naskah yang penulisannya amburadul. Apa itu artinya naskah yang rapi? Artinya secara visual, teks di halaman-halamanmu mudah dibaca.

Bagaimana caranya membuat naskah yang rapi? Jangan pakai font isi Wingdings dengan ukuran 36. Yang wajar-wajar saja. Setiap penerbit memiliki ketentuannya sendiri, tapi kira-kira yang saya pakai ini aman dan bisa dicontoh:

Font: Cambria
Size: 12
Line spacing: 1.15
Page size: A4
Margin: Default MS Word

Kamu boleh mengganti Cambria dengan Times New Roman, Calibri, atau apapun (kecuali Wingdings). Intinya biar enak dibaca aja gitu loh. Bagaimana caranya meyakinkan penerbit bahwa naskahmu itu calon megabestseller internasional kalau hasil ketikannya sulit dibaca?


2. Sesuaikan Genre

Naskah yang ditolak tidak selalu berarti naskah tersebut jelek atau belum layak diterbitkan (meskipun memang seringkali demikian), tapi juga bisa karena naskahmu tidak sejalan dengan visi penerbit yang kamu kirimi naskah. Bagaimana saya bisa mengirim naskah tentang budidaya ikan siluk dan berharap diterbitkan Gagasmedia? Atau naskah anjuran menjadi ateis dan berharap diterbitkan oleh Qultum Media?

Sebagai penulis atau calon penulis, sangat penting untuk mempelajari karakter terbitan setiap penerbit, terutama penerbit yang kamu incar. Apakah penerbit tersebut sudah pernah atau sering menerbitkan buku-buku seperti naskah yang sedang kamu tulis? Beberapa penerbit mainstream saat ini memang memperluas jenis terbitannya sehingga memberi peluang lebih lebar bagi beragam genre, tetapi kamu tetap perlu memastikan apakah kamu menyasar penerbit yang tepat.

Kadang-kadang penulis mengerjakan naskahnya tanpa mengetahui jenis naskah seperti apa sebenarnya yang sedang dia kerjakan. Ini juga perlu diperhatikan. Paling tidak kamu tahu apakah naskahmu karya fiksi atau nonfiksi? Kalau fiksi, apakah karyamu fiksi roman urban, horor, sejarah, remaja, komedi, atau fantasi? Kalau nonfiksi, apakah karyamu bertema kisah perjalanan naratif, panduan melakukan sesuatu, atau buku pendamping pelajaran?


3. Penerbit Mainstream atau Indie?

Dulu, bedanya cukup kentara antara penerbit mainstream dan indie. Sekarang, tidak lagi. Selain soal modal dan jumlah terbitan (dan tentunya kedua hal ini saling berkaitan) saya kira tak lagi ada bedanya antara penerbit mainstream dan indie. Beberapa penerbit indie kini menggunakan sistem seleksi, kurasi, penyuntingan, yang sama ketat dan teraturnya dengan penerbit mainstream.

Pemasaran? Keduanya kini sama-sama mengandalkan jalur-jalur daring (penerbit indie yang punya modal cukup besar atau dengan pertimbangan tertentu juga memasukkan beberapa produknya ke toko buku jaringan) di samping acara-acara offline seperti talkshow, diskusi buku, dan acara komunitas.

Kualitas? Apalagi ini. Saya kira sulit mencari hubungan antara kualitas buku dengan jenis penerbitnya. Buku bagus maupun jelek sama-sama bisa ditemukan baik itu di penerbit mainstream maupun indie. Mutu cetakan? Ini mungkin agak berbeda. Penerbit mainstream umumnya memiliki kualitas produk lebih baik dibanding beberapa kasus buku penerbit indie. Mungkin karena sudah pengalaman produksi buku. Namun, hal ini juga tidak bisa dikatakan perbedaan yang mendasar karena banyak buku dari penerbit mainstream dan indie yang mutu cetakannya sama saja.

Prestise? Saya mengerti jika teman-teman sangat ingin naskahnya diterbitkan oleh penerbit tertentu dengan alasan kayaknya keren dan bergengsi aja gitu. Persis seperti ketika kita mau masuk universitas. Bukan prospek kerja jurusan atau rekam jejak pengajarnya apalagi passion kita yang kita jadikan ukuran, tapi karena keren aja gitu kalau masuk kampus anu dan inu.

Sekarang saya bisa bilang, itu bukan hal yang penting-penting amat. Lebih penting untuk mengetahui apakah penerbit yang kamu incar punya visi yang sesuai dengan karakter naskahmu, punya rekam jejak yang baik mengenai cara memperlakukan penulis, mudah diajak berkomunikasi dan terbuka, bersemangat tinggi untuk sama-sama berkembang, dan memahami keinginan-keinginan kreatifmu sebagai penulis.

Jadi, mainstream atau indie? Kalau pengin naskahmu dicetak banyak, silakan coba tembus penerbit mainstream. Kalau kamu punya visi spesifik yang ternyata tidak atau belum dapat diakomodir penerbit mainstream, coba cari tahu ragam penerbit indie yang ada. Penerbit indie biasanya punya karakter terbitan yang relatif unik dan spektrum genre yang khusus.

Menurut saya, selain mencari tahu apakah naskahmu sebaiknya diserahkan ke penerbit mainstream atau indie, lebih penting mencari tahu naskah macam apa yang pengin kamu tulis, serta sesekali merenung agak dalam dan memikirkan kamu pengin jadi penulis yang seperti apa?


4. Jalur Pengiriman Naskah

Ada banyak cara mengirim naskah ke penerbit. Cara pertama melalui jalur reguler. Yang dimaksud dengan jalur reguler adalah kamu mengirim naskah melalui “pintu depan” penerbit dan meja redaksi. Caranya: mencari tahu alamat pengiriman naskah. Naskah bisa dikirim dalam bentuk cetak maupun berkas digital. Beberapa penerbit sekarang mengizinkanmu mengirim naskah ke e-mail mereka. Manfaatkan kemudahan ini. Kalau saya, sejauh ini masih memilih mengirimkan naskah cetak, karena sebagai editor dan pembaca saya lebih sanggup membaca dengan fokus yang baik naskah dalam bentuk fisik.

Jalur lainnya: kompetisi menulis. Penerbit-penerbit sering membuat kompetisi menulis novel, cerita pendek, bahkan puisi. Manfaatkan media sosial dan Internet untuk mencari tahu informasi mengenai kompetisi-kompetisi menulis. Biasanya para pemenang mendapat hadiah kontrak penerbitan. Meski demikian, waspada pada penipuan dan tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti semua kompetisi.

Satu lagi jalur yang kekinian: “caper” sama penerbit atau editor. Para editor penerbitan tidak lagi hanya duduk di balik meja redaksi menunggu naskah datang. Mereka aktif mencari penulis-penulis baru potensial. Mereka berselancar di kanal-kanal media sosial, forum-forum penulisan kreatif, dan tempat-tempat mana pun yang mungkin memiliki penulis-penulis potensial yang bisa diajak kerjasama.

Bagaimana cara kamu memanfaatkan ini? Rajin-rajinlah menulis di kanal-kanalmu. Twitter, Instagram, Youtube, bisa dipakai dan merupakan satu dari beberapa hal yang diperhatikan penerbit tetapi tidak mutlak. Namun, menurut saya, kanal paling penting dimiliki seorang penulis adalah blog. Mengapa blog? Blog memberi ruang lebih luas untuk memperlihatkan kemampuan kita menulis.

Ingat bahwa memang merupakan kenyataan umum jika kini banyak penulis datang dari dunia kanal-kanal media sosial yang sekilas terlihat tak ada kaitannya dengan dunia tulis-menulis, tetapi bagaimanapun pada akhirnya penerbit berharap kamu bisa menulis. Editor tidak mengerjakan naskahmu. Kamu sendiri yang harus menggarapnya.

Jadi, bukanlah sebuah dosa jika kamu saat ini adalah seorang vlogger atau seleb ask.fm dan berharap menerbitkan bukumu sendiri. Yang penting kamu punya cerita menarik dan berkehendak kuat untuk menulis, juga belajar meningkatkan kemampuan menulis.


5. Sewa Jasa Editor Lepas/Agen Naskah

Barangkali di Indonesia jasa agen naskah tidak lebih umum dikenal daripada editor lepas, meskipun keberadaan jasa editor lepas juga belum amat populer. Akan tetapi, jasa editor lepas atau agen naskah sangat berguna bagimu, terutama jika kamu sama sekali belum punya pengalaman bekerjasama dengan penerbit atau menembus industri penerbitan.

Editor lepas umumnya adalah orang-orang yang pernah bekerja di dunia penerbitan dan kemudian memutuskan membangun jasanya sendiri. Begitupun dengan agen naskah. Jika editor lepas biasanya menyediakan jasa penyuntingan, agen naskah bisa memberikan rekomendasi penerbit atau bahkan langsung menghubungkanmu dengan penerbit serta merekomendasikan naskahmu ke penerbit yang bekerjasama dengannya.

Keberadaan jasa editor lepas/agen naskah juga bisa ditemukan di kanal-kanal media sosial maupun Internet. Googling saja, atau rajin-rajin skrol-skrol Twitter, niscaya bakal ketemu satu-dua individu atau penerbit/percetakan buku yang menyediakan jasa semacam ini. Coba pakai jasa mereka jika kamu merasa butuh.

Saya sendiri menyediakan jasa konsultasi, review naskah, pendampingan penyuntingan naskah. Jika teman-teman tertarik, silakan hubungi saya melalui e-mail: benzbara@gmail.com. Saya akan beri informasi lengkap mengenai persyaratan, mekanisme, dan biayanya.




(Saya berteman dengan beberapa editor lain dan penerbit-penerbit tempat saya pernah bekerjasama, jadi saya bisa merekomendasikan naskah teman-teman ke mereka jika memang saya menyukainya. Sejauh ini sudah ada beberapa orang yang menggunakan jasa saya dan alhamdulillah semuanya puas. Saya merintis jasa ini karena merasa banyak penulis terutama yang berusia amat muda yang menginginkan jasa seperti ini, dan saya kira ini baik bagi perkembangan dan kemunculan penulis-penulis baru, sekaligus memudahkan kerja penerbit karena tinggal mencari naskah potensial di agen-agen naskah atau editor lepas)

-

Sekian yang dapat saya tulis tentang cara mengirim naskah ke penerbit. Memang terlihat umum-umum saja dan kurang teknis, tapi itu semata karena saya tak gemar menulis panjang tentang hal-hal yang terlalu teknis. Teman-teman bisa cari di Internet untuk poin-poin lebih teknis mengenai tebal naskah dan lain-lain.

Ada beberapa pertanyaan yang juga menarik yakni soal kontrak penerbitan bahkan pajak penulis. Soal ini lain kali akan saya bikin tulisannya sendiri.

Oh iya, maaf ya kalau ternyata rahasianya enggak rahasia-rahasia amat. Ya, memangnya cuma portal berita yang bisa bikin judul bombastis demi traffic?

Terima kasih, semoga berguna.


-->
Bara

1 komentar:

Lijata Taz mengatakan...

Waaah...Akhirnya nemu juga. Aku pingin banget bikin buku dan butuh bimbingan. Nanti kapan-kapan mau pakai Mas Bara aja deh. Kalau ada waktu, silahkan mampir ke blog Saya Mas https://anantaaafitri.blogspot.co.id/