27 Desember 2017

20 Film Favorit di 2017




Dibandingkan buku, kesenangan saya yang lebih serius terhadap film bisa dibilang masih sangat baru. Serius yang saya maksud adalah dengan sengaja mencari rekomendasi film, sutradara, genre, seperti yang dilakukan seseorang saat melakukan riset. Dua tahun belakangan saya mencatat film-film yang saya tonton. Saya sempat melacak semua film layar lebar yang pernah saya tonton sejak kali pertama saya menonton, tentu saja sejauh yang bisa saya ingat. Isinya ternyata tidak begitu banyak.

Tahun ini, seperti yang saya lakukan pada buku, saya mencatat film-film yang saya tonton. Beberapa luput dari catatan karena kadang saya merasa filmnya tidak begitu menarik untuk diingat dan sisanya murni kelupaan. Saya mencoba menonton lebih banyak dan beragam. Film-film pendek, dokumenter, dan animasi, jadi area baru yang saya jelajahi. Awal tahun saya bahkan mengkhususkan diri menonton film-film animasi, dan mendapatkan beberapa film dan sutradara favorit.

Total ada 100 film lebih sedikit yang saya tonton sepanjang tahun 2017. Saya mencoba memilih beberapa di antaranya untuk dimasukkan ke daftar ini.

Berikut 20 film favorit yang saya tonton di tahun 2017:


1. The Lobster

Film romance yang rada ganjil karena aturan-aturan dunia di dalamnya. Aturan tersebut adalah bagi siapapun yang single pada usia mereka seharusnya memiliki pasangan (tidak begitu dijelaskan mengenai ukuran usia ini), akan dibawa ke sebuah hotel untuk menemukan pasangan mereka dalam kurun waktu 45 hari. Jika gagal, mereka akan berubah jadi binatang yang jenisnya mereka tentukan sendiri di awal mendaftar di hotel tersebut. Film ini jadi perkenalan yang menyenangkan bagi saya terhadap film-film Yorgos Lanthimos. Saya langsung mencari dan menonton film-filmnya yang lain, termasuk Dogtooth dan Alps, yang juga jadi favorit saya.


2. Dogtooth

Beberapa review menyebut film-film Yorgos Lanthimos bergenre distopia. Saya sendiri merasa label tersebut kurang pas; tapi juga belum menemukan yang lebih cocok, dan merasa tidak begitu penting menemukannya. Film ini bercerita tentang keluarga yang hidup dengan aturannya sendiri. Si ayah membuat aturan-aturan yang diterima anak-anaknya sebagai dogma. Dogma ini akan terasa absurd bagi kita penonton, tapi dalam bentuk yang lain sebenarnya kita sendiri juga menerima dan hidup dalam dogma sejenis. Sama seperti The Lobster, film ini pun gelap, mengerikan, dan amat relevan.


3. Alps

Masih dari Yorgos Lanthimos. Sutradara asal Yunani satu ini akan jadi favorit saya sepanjang masa. Gagasan-gagasannya yang "tidak populer" dibungkus dalam premis-premis cerita yang ganjil dan nyaris tak terpikirkan oleh saya, didukung dengan nuansa dan tonal film serta akting pemeran-pemeran yang menguatkan impresi keganjilan tersebut. Alps tentang sebuah grup kecil yang menyediakan jasa menggantikan sosok orang yang sudah meninggal. Konflik dimulai ketika terjadi kompetisi internal di dalam grup tersebut. Jika sudah menonton The Lobster dan Dogtooth, jangan lewatkan yang satu ini.


4. Being John Malkovich

Sepertinya tahun ini saya cukup banyak menonton film-film yang temanya rada absurd. Walaupun sesungguhnya yang absurd itu enggak absurd-absurd amat dalam pengertian yang absurd itu masih sangat relevan dan mungkin terjadi dalam wujud berbeda. Being John Malkovich film garapan Spike Jonze, tentang seorang pawang boneka yang secara tidak sengaja menemukan lorong untuk masuk ke kepala orang lain. Penemuan ini kemudian dijadikan lahan bisnis, dan dari sana plotnya jadi semakin menarik. Setelah film ini saya mencari film-film Spike Jonze dan Charlie Kaufman (penulis skenario) yang lain, termasuk Adaptation dan Synecdoche, New York, yang juga jadi favorit saya.


5. Adaptation

Film metafiksi tentang penulis skenario yang diminta mengadaptasi buku Susan Orlean, jurnalis Amerika. Kocak, dan karena metafiksi (belakangan saya tahu ada istilah metacinema) tentu terasa absurd juga. Tadinya saya kurang tertarik menonton karena pemerannya Nicolas Cage (saking jeleknya beberapa film Nicolas Cage terakhir yang saya tonton, saya sampai berusaha keras mengingat kenapa saya pernah menyukai aktingnya), tapi di film ini Nicolas Cage oke. Bisa jadi ini satu-satunya film Nicolas Cage yang bagus. Sedikit mengingatkan pada Stranger Than Fiction.


6. Synecdoche, New York

Menonton ini karena almarhum Philip-Seymour Hoffman. Ceritanya tentang sutradara teater yang hidupnya menyedihkan karena ditinggal istri dan anak, juga mengidap penyakit yang akan merenggut nyawanya. Dia kemudian menggarap satu lakon teater yang melibatkan sangat banyak aktor, yang memerankan orang-orang yang sungguh-sungguh ada di kehidupan sang sutradara. Rada metafiksi di dalam dirinya sendiri. Perlu sedikit lebih teliti mengikuti alurnya biar enggak kebingungan.


7. Dogma

Komedi fantasi tentang, yah, dogma. Banyak pemain yang saya kenal, di antaranya Alan Rickman. Sebagian besar memang menyinggung ajaran Katolik dan gereja, tapi relevan juga dengan agama samawi lainnya dan pandangan umum mengenai Tuhan. Lucu banget. Seperti komedi yang bagus, di dalamnya juga mengandung gagasan-gagasan yang serius.


8. The Godfather Trilogy

Iya, saya rada telat, tapi lebih baik daripada enggak sama sekali. Film yang memikat saya sejak adegan pertama. Karakter Don Vito Corleone membekas banget. Penjahat yang karismatik dan membuat saya menyukainya. Film pertama dan kedua yang saya paling suka. Bagian ketiga kurang menarik. Barangkali drama terbaik yang pernah saya tonton seumur hidup.


9. Embrace of the Serpent

Film yang mengubah cara pandang saya terhadap kemajuan dan peradaban, terhadap apa yang kita anggap sebagai progres dan yang primitif.


10. Chungking Express

Film Wong Kar-Wai pertama yang saya tonton. Kata seorang teman, film-filmnya Wong Kar-Wai itu Cancer banget. Kalau lagi butuh sesuatu yang membangkitkan melankoli dan kangen sama sesuatu yang bahkan enggak kita ketahui, tontonlah film-film Wong Kar-Wai, dimulai dari yang ini.


11. Amores Perros

12. 21 Grams

13. Tekkonkinkreet

14. Paprika

15. Grave of the Fireflies

16. Following

17. 5 Cm Per Second

18. Citizen Kane

19. All Quite on the Western Front

20. Kolya


Deskripsi buat sepuluh film terakhir belum ditulis karena malas, he he, nanti saya update. Sutradara favorit yang tahun ini banyak saya tonton filmnya: Yorgos Lanthimos, Wong Kar-Wai, Makoto Shinkai, Alejandro Gonzaléz Iñárritu, Spike Jonze.

25 Desember 2017

10 Buku Favorit di 2017





Sejujurnya saya kurang happy dengan pencapaian membaca saya di tahun ini, terutama menyangkut jumlah buku yang saya baca. Sejak saya merekam daftar buku yang saya baca di Goodreads, dari tahun ke tahun jumlah buku setiap tahunnya semakin sedikit saja. Tahun ini saya hanya membaca 19 buku dari target 50 buku. Berarti rata-rata saya membaca tidak lebih dari 2 buku setiap bulannya.

Penyebab paling utama dari menurunnya jumlah buku yang selesai saya baca di tahun ini adalah saya menemukan kegemaran baru: belajar menyeduh kopi. Saya berkenalan dengan banyak teman baru dari dunia kopi. Bahkan, saya sempat ikut "sekolah" kopi. Selama beberapa bulan penuh praktis saya tidak membaca buku apapun. Meski sebenarnya dalam masa-masa belajar tentang kopi, saya membaca beberapa buku tentang kopi.

Dalam rangka menjaga tradisi, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya akan menulis daftar buku-buku favorit yang saya baca di tahun ini. Karena saya hanya membaca tidak lebih dari dua puluh buku, jadi membuat daftar ini sama dengan mengambil separuhnya. Untunglah, buku-buku yang saya baca memang kebanyakan bagus, jadi tak begitu sulit memilihnya.

Berikut 10 buku favorit yang saya baca sepanjang tahun 2017:


1. Brave New World (Aldous Huxley)

Novel distopia yang lebih mencekam dari sensasi yang diberikan 1984 George Orwell. Saya menganggap hubungan George Orwell dan Aldous Huxley seperti guru dan murid, karena sama-sama penulis Inggris dan jarak kelahirannya hampir satu dekade. Brave New World dibuka dengan adegan yang mengerikan: sekelompok pelajar diajak study tour ke gedung yang berisi pabrik bayi. Kekuatan novel ini ada pada visi distopia Aldous Huxley, yang sangat relevan dengan pemikiran apapun tentang bagaimanakah itu dunia yang stabil.


2. Other Colors: Essays and A Story (Orhan Pamuk)

Kumpulan tulisan nonfiksi Orhan Pamuk. Kebanyakan tentang masa kecil, keluarga, tips membaca dan menulis, dan tentu saja: Istanbul. Ada juga satu bab yang berisi ulasan Orhan Pamuk atas buku-buku yang pernah dia baca. Tulisan-tulisannya pendek dan enak dikunyah. Kalau sudah pernah baca dan suka novelnya Orhan Pamuk, di buku ini akan kelihatan bagaimana cara Pamuk memandang seni penulisan novel, yang kemudian menjadi landasan praktis saat dia menuliskan novel-novelnya. Ada bonus satu cerita pendek di akhir buku, bercerita tentang almarhum ayahnya dan Pamuk kecil.


3. Slaughterhouse-five (Kurt Vonnegut)

Novel tentang pengalaman Kurt Vonnegut jadi pasukan Amerika waktu Perang Dunia Kedua. Seperti biasa, isinya lucu. Tapi dibanding, misalnya, Gempa Waktu atau Cat's Cradle, yang ini lebih gelap dan terasa lebih serius. Mungkin karena Vonnegut mengalami sendiri apa yang dia tuliskan. Saya bayangkan tentu sulit melucu tentang perang jika betul-betul pernah berada di dalamnya. Menurut review yang umum, ini buku Vonnegut paling notable. Saya sendiri masih lebih suka Gempa Waktu.


4. Human Acts (Han Kang)

Novel polifonik berlatar sejarah tentang pemberontakan sipil di Korea Selatan yang dikenal dengan sebutan Gwangju Uprising, tahun 1980. Buku ini lebih brutal dibanding The Vegetarian, debut Han Kang di dunia sastra internasional. Satu lagi karya yang menegaskan pertanyaan-pertanyaan Han Kang tentang kekerasan dalam diri manusia, dan adakah kemungkinan memiliki jiwa yang polos nan bersih di dunia yang bersimbah kekerasan. Rada bernuansa sureal karena ada bab yang dituturkan oleh mayat (sedikit mengingatkan pada My Name Is Red Orhan Pamuk).


5. The White Book (Han Kang)

Buku Han Kang yang berbentuk cukup unik. Awalnya saya mengira buku ini novel, tapi ketika saya baca ternyata secara format lebih mirip kumpulan puisi. Tapi enggak juga bisa dianggap sepenuhnya sekadar kumpulan puisi karena alur ceritanya cukup jelas. Saya tidak bisa menamai buku ini buku puisi atau novel, atau bahkan sekadar kumpulan prosa. Hal yang penting buat saya adalah bukunya bagus. Soal isinya, buku ini masih bertema kekerasan. Kali ini dituturkan melalui dunia perempuan dan gagasan-gagasan tentang kehamilan, kelahiran, kehidupan, dan kematian. Buku Han Kang paling menyentuh yang pernah saya baca.


6. Sapiens (Yuval Noah Harari)

Buku nonfiksi dari sejarawan Israel. Tahun ini sepertinya jadi salah satu karya nonfiksi yang populer di dunia. Isinya tentang rangkuman sejarah manusia yang dibagi atas tiga periode revolusi (Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian, Revolusi Sains) serta spekulasi-spekulasi tentang masa depan manusia. Bahasanya mudah dicerna dan cukup provokatif. Memang tidak begitu detail karena penulisnya sendiri mengaku dia terpaksa melakukan generalisasi untuk memberikan gambaran umum atas periode kehidupan manusia yang sangat panjang. Buku "lanjutan" dari ini, Homo Deus, juga bagus.


7. Homo Deus (Yuval Noah Harari)

Sekuel Sapiens. Jika Sapiens berisi rangkuman sejarah manusia dari kali pertama ada di bumi hingga masa saat ini, Homo Deus lebih banyak memberikan situasi perkembangan sains dan pengaruhnya terhadap visi manusia dan kehidupan di masa depan. Seperti buku sebelumnya, juga banyak spekulasi menarik yang ditawarkan Yuval Noah Harari di sini, termasuk narasi tentang usaha-usaha korporasi besar dunia mengatasi kematian dan menjadi manusia amortal.


8. Muslihat Musang Emas (Yusi Avianto Pareanom)

Kumpulan cerita dari salah satu penulis Indonesia kesukaan saya. Seperti biasa, lucu dan sedih. Secara umum menggagas pandangan tentang nasib buruk manusia. Beberapa cerita mengangkat persoalan gender. Hal ini menurut saya cukup menarik karena buku Yusi sebelumnya, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi dipandang beberapa pembacanya terutama perempuan sebagai karya yang tidak begitu sensitif menghadapi persoalan gender (kentara male gaze). Tebakan saya buku ini akan masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2018.


9. Max Havelaar (Multatuli)

Novel sejarah bertema kolonialisme dari penulis Belanda bernama asli Eduard Douwes Dekker, yang dikenal pula dengan nama Multatuli (bahasa latin yang berarti "aku telah banyak menderita"). Saya punya kebiasaan buruk menduga novel-novel berlatarkan sejarah sebagai karya fiksi yang lambat dan membosankan. Sebagaimana dugaan saya keliru setelah membaca tetralogi buru Pramoedya Ananta Toer, sekali lagi dugaan saya yang ceroboh itu dipatahkan dengan telak oleh buku ini. Max Havelaar sangat lucu, menghibur, dan menyakitkan. Dengan narasi penuh sarkasme dari karakter-karakter yang kuat, buku ini membongkar sistem pemerintahan kolonial dari dalam, mengungkap praktik-praktik kolonialisme yang menyengsarakan masyarakat jajahannya. Setelah baca buku ini saya jadi paham mengapa Eduard Douwes Dekker menamai dirinya Multatuli.


10. We (Yevgeny Zamyatin)

Sudah baca 1984 George Orwell dan Brave New World Aldous Huxley? Perkenalkan, salah satu dedengkot genre distopia: Yevgeny Zamyatin. Novelnya We, dianggap oleh banyak orang sebagai karya yang menginspirasi Orwell dan Huxley menuliskan masing-masing karya tersebut barusan. Orwell bahkan menerima cukup banyak cemoohan keras dari orang-orang yang membaca We. Mereka menuduh Orwell menjiplak habis tubuh cerita We. Saya sendiri sebenarnya enggak sengaja ketemu buku ini. Asli, bagus banget. Bocoran penting: saya sedang menerjemahkan karya ini ke bahasa Indonesia, doakan bisa terbit tahun depan.



Apa buku-buku favorit yang kamu baca tahun ini? Bagi dong!

6 Desember 2017

Tiga Buku 2017



Tiga buku saya yang terbit tahun 2017. Dua kumpulan tulisan pendek bertema cinta dan satu novel adaptasi dari film layar lebar. Ketiganya masih tersedia dan bisa dibeli di toko-toko buku konvensional maupun online.

Luka Dalam Bara belum lama ini meraih penghargaan Anugerah Pembaca Indonesia 2017 yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia, kategori Sampul Buku Fiksi Terfavorit (Ilustrator: Alvin Resqy), sedangkan Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran dan Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan baru saja rilis.

Tahun depan ada buku baru? Belum tahu. Kita nikmati dulu sisa-sisa tahun ini sembari membayangkan yang seru-seru untuk tahun 2018.