31 Januari 2017

Other Colors, Orhan Pamuk




Buku pertama Orhan Pamuk yang saya baca, novel My Name Is Red (1998), secara instan langsung bikin saya menyukai Pamuk. Novel itu menjerat saya sejak kalimat pembukanya. I am nothing but a corpse now, a body at the bottom of a well. Dituturkan oleh seorang mayat, novel tersebut menggiring paksa saya untuk masuk ke sebentuk konspirasi besar, misteri pembunuhan yang dilakukan para seniman ilustrasi Kekaisaran Ottoman jelang akhir abad ke-15. Di dalam novel tebal itu-novel yang secara umum dianggap karya terbaik Orhan Pamuk-Pamuk bicara tentang sejarah dan seni. Khususnya sejarah Kekaisaran Ottoman yang menjadi cikal-bakal Republik Turki, dan seni Islam.

Dua hal tersebut, sejarah dan seni, menjadi topik yang tidak pernah absen di dalam karya-karya Pamuk. Tidak hanya di novel, seperti My Name Is Red dan The Museum of Innocence (2008), tetapi juga di karya-karya nonfiksinya: Istanbul: Memories and the City (2003) dan Other Colors: Essays and a Story. Selain itu, Pamuk juga sering menulis tentang kehidupan personalnya. Di Istanbul, ia bercerita cukup banyak tentang keluarganya, termasuk tentang dirinya sendiri dan bagaimana ia menjadi seorang penulis.

Belum lama ini saya rampung membaca Other Colors: Essays and a Story. Buku kumpulan tulisan yang disebut Pamuk “…terbuat dari potongan-potongan ide, imaji, dan fragmen kehidupan yang belum menemukan jalannya untuk hadir di dalam novel-novelku.” Pengantar yang ditulis Pamuk sangat menjelaskan bagaimana bentuk buku ini dan apa tujuannya menulis buku ini. Tidak ada satu tema khusus yang dipakai di Other Colors seperti di Istanbul, misalnya. Sehingga membaca Other Colors terasa seperti membaca isi bloknot atau jurnal pribadi Pamuk. Kadang-kadang terlihat berantakan, tidak terencana, dan suka-suka dia.

Memang tulisan-tulisan Pamuk di Other Colors disusun ke dalam beberapa bab. Sekadar untuk mengelompokkan kepingan-kepingan esei yang saya kira pada awalnya enggak Pamuk rencanakan hadir di satu buku utuh. Ada bab Living and Worrying yang berisi tentang keluarganya; esei-esei pendek yang Pamuk tulis secara rutin di semacam majalah lokal. Books and Reading berisi pembacaan Pamuk tentang buku-buku yang ia suka; Dostoyevsky, Camus, Rushdie, Nabokov. Politics, Europe, and Other Problems of Being Oneself kebanyakan tentang pengalaman Pamuk bersenggolan dengan permasalahan politik dan konflik batinnya sebagai warga Turki. My Books are My Life, Pamuk bicara tentang karya-karyanya sendiri. Picture and Texts, Pamuk mengulas karya-karya seni yang kerap menjadi alusi di novel-novelnya. Other Cities, Other Civilizations, tentang bagaimana Pamuk melihat Amerika dan melihat dunia lain dari Amerika. Bonusnya adalah arsip wawancara Pamuk di The Paris Review, sebuah cerita pendek yang sentimentil, dan pidato penerimaan Nobel Kesusastraan 2006.

Seperti tulisan nonfiksi Orhan Pamuk yang lain, esei-esei pendeknya di Other Colors sangat mudah dibaca. Ia begitu jujur menceritakan apapun yang ada di dalam pikirannya. Kadang-kadang Pamuk tampak seperti orang dewasa yang seperti anak kecil. Ia tidak berusaha mengemas pikiran-pikirannya dengan kalimat-kalimat bersayap demi menyamarkan gagasannya, melainkan berceloteh begitu saja hingga ia kelelahan.

Di sebuah wawancara, Orhan Pamuk pernah menyebut dirinya seorang graphomania. Klaim tersebut akan terbayangkan ketika membaca Other Colors. Jumlah tulisan yang banyak dan pendek-pendek dan seolah-olah melompat dari satu tema ke tema lain memperlihatkan Pamuk punya energi meluap-luap nyaris tidak terkendali untuk menuliskan apapun yang terlintas di kepalanya.

Bagi yang sudah pernah membaca satu-dua novel Orhan Pamuk dan memoar Istanbul, buku ini tidak menawarkan topik yang sangat baru. Pamuk masih berbicara sebagai orang Turki tentang tegangan Timur dan Barat, Asia dan Eropa. Ia masih berbicara serba-serbi mengenai Eropa dan keeropaan. Ia masih membahas satu-dua hal tentang keluarganya. Barangkali dengan sedikit tambahan renungan Orhan Pamuk tentang perkara sehari-hari yang ia alami.

Salah satu hal yang paling saya suka ketika membaca karya-karya nonfiksi Pamuk adalah saat ia bercerita tentang keinginannya menjadi penulis. Seperti sering ia ceritakan di berbagai wawancara, Pamuk sebetulnya bercita-cita jadi arsitek, tapi kemudian berubah jadi penulis. Ia mengurung diri selama satu windu membaca buku-buku koleksi ayahnya, sebelum menuliskan novel pertamanya, Cevdet Bey and His Sons, di usia 22 tahun. Semenjak itu ia kian tenggelam dalam kecintaannya pada dunia sastra.

Sebagai penutup catatan yang enggak penuh analisis ini, saya ingin mengutip bagian Other Colors ketika Pamuk menulis tentang mengapa ia menulis:


Saya menulis karena saya punya hasrat bawaan untuk menulis. Saya menulis karena saya tidak bisa bekerja normal seperti orang lain. Saya menulis karena saya ingin membaca buku seperti yang saya tuliskan. Saya menulis karena saya marah pada Anda semua. Saya menulis karena saya menikmati duduk di sebuah ruangan untuk menulis seharian. Saya menulis karena saya saya suka aroma kertas, pulpen, dan tinta. Saya menulis karena saya mempercayai kesusastraan dan seni penulisan novel melebihi hal-hal lain. Saya menulis karena menulis bagi saya adalah kebiasaan sekaligus sebentuk renjana. Saya menulis karena saya takut orang-orang akan melupakan saya. Saya menulis karena saya ingin sendirian. Mungkin juga saya menulis untuk memahami kenapa saya begitu marah, sangat, sangat, sangat marah pada semua orang. Saya menulis karena saya senang jika orang membaca karya saya. Saya menulis karena orang berharap saya menulis. Saya menulis karena saya percaya pada keabadian perpustakaan. Saya menulis karena saya senang menggubah hal-hal yang indah dari kehidupan ke dalam kata-kata. Saya menulis bukan untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi untuk menciptakan sebuah kisah. Saya menulis karena saya sulit merasa bahagia. Saya menulis karena saya ingin merasa bahagia. ***

30 Januari 2017

Malas Baca Buku? Sama

Foto: Thoughtcatalog.com


Walau saya mengaku sebagai seorang pencinta buku dan sering nunjukin ke orang-orang bahwa saya suka baca buku, jangan kira saya selalu rajin baca buku. Sama seperti hal-hal lain yang bisa bikin kamu senang, suatu hari hal yang sama juga bisa bikin kamu muak, atau seenggaknya capek. Tanpa terkecuali membaca buku.

Saya pernah ngerasa capek baca buku, bahkan sampai mual ngeliat tumpukan buku di kamar. Benda-benda yang tadinya saya kagumi setengah mati, suatu hari jadi tumpukan kertas tak berarti yang bikin saya kesel. "Ngapain saya buang duit buat semua ini?"

Rasa muak semacam itu akan jadi berkali-kali lipat kalau kamu penulis. Setiap habis baca buku bagus, kamu bukan hanya akan merasa gembira, tapi juga stres karena tahu kamu enggak bisa menulis sebagus buku yang kamu baca.

Sial, kalo gitu ngapain saya baca buku?

Makin sial lagi, ternyata saya enggak bisa benar-benar berhenti baca buku. Saya udah coba. Saya pernah berniat membuang seluruh koleksi pribadi saya atau memberikannya ke orang lain atau menjualnya atau apapun yang bisa mengenyahkan buku-buku dari kehidupan saya. Saya pengin ngelakuin hal lain aja yang enggak harus bikin saya baca buku. Namun, akhirnya saya balik lagi ke buku. Akhirnya saya baca buku lagi. Semakin saya berusaha buat enggak baca buku, semakin saya ketarik lagi ke buku-buku itu.

Beberapa hari lalu saya dapat mention di twitter yang isinya pertanyaan. Kira-kira begini bunyinya:

Gimana ya caranya bikin semangat baca buku lagi kalau sedang malas baca buku?

Saya enggak punya trik khusus untuk menumbuhkan semangat membaca buku, karena buat saya baca buku hampir jadi sesuatu yang refleks dan bagian dari kebiasaan. Namun, saya pernah ada di fase malas baca buku. Bukan hanya malas, tapi saya merasa baca buku berbahaya buat saya hingga saya menghindarinya. Meski demikian, barangkali beberapa hal ini bisa kamu coba lakukan:

1. Hijrah ke buku-buku lain

Buku-buku apa yang kamu baca selama ini? Kalau kebanyakan komik, coba sekali-kali baca novel. Kalau sering baca buku-buku nonfiksi, coba baca kumpulan cerita pendek atau kumpulan puisi. Begitu pula sebaliknya. Kalau selama ini hanya baca novel dan cerita pendek atau puisi, coba baca buku-buku nonfiksi. Mulai dengan tema yang menarik buatmu. Membaca buku dalam format yang berbeda akan memberimu pengalaman baru.

2. Keluar dari zona nyaman

Mirip dengan tips pertama. Hanya saja di tips sebelumnya saya bicara tentang membaca buku lintas format, di sini saya menyarankan membaca buku lintas genre/tema yang masih di format yang sama. Kalau kamu sering membaca novel dan selama ini hanya membaca novel-novel urban populer, coba cicipi karya sastra klasik. Kalau zona nyamanmu adalah novel-novel sastra bertema politik dan sejarah yang ditulis dalam gaya realisme, coba baca novel-novel fantasi yang sedang populer. Kalau kamu hobi baca komik yang lucu-lucu dan ringan, coba bergeser sedikit ke karya-karya novel grafis bertema sejarah.

3. Minta rekomendasi dari teman

Kalau kamu punya teman yang juga hobi baca buku tapi jenis buku atau genrenya berbeda denganmu, kamu bisa meminta rekomendasi darinya. Tanya dia apa bacaan favoritnya. Kalau perlu minta dia bikin semacam daftar buku favorit sepanjang masa. Kemudian kamu cari satu-dua buku itu dan mulai membaca.

4. Ikut tantangan membaca

"Memaksa" diri sendiri untuk membaca buku menurut saya enggak selalu merupakan hal yang buruk. Bagi saya malah cara itu berhasil buat mengurangi tumpukan buku tak-terbaca di rak kamar. Saya pemalas, jadi mendisiplinkan diri adalah satu-satunya cara mengatasi hal tersebut. Website semacam Goodreads setiap tahun bikin tantangan membaca. Blog-blog lain juga kadang-kadang bikin tantangan membaca yang lebih variatif dan cukup seru untuk diikuti.

5. Jangan dipaksakan

Agak kontradiktif dengan tips no. 4, tapi harap maklum karena saya Cancer, jadi kontradiktif is my middle name. Maksud saya dengan tips ini adalah, ya sudah jangan dipaksakan kalau emang lagi enggak pengin baca buku. Enggak ada juga yang mewajibkanmu menghabiskan novel-novel di rak bukumu itu. Satu-satunya yang perlu kamu tahu hanya buku-buku tersebut enggak akan membaca dirinya sendiri; hanya kamu yang bisa membaca mereka. Lakukan hal-hal lain yang bikin kamu senang. Kalau emang kamu cinta sama buku, suatu hari kamu pasti akan kembali lagi ke buku.

27 Januari 2017

5 Cara Menjaga Fokus Menulis




Barusan, saya dapat ide cerita yang menarik. Saking menariknya, saya merasa harus segera menuliskannya. Mungkin jadi sebuah cerita pendek atau malah sinopsis novel, saya enggak tahu. Saya tahu saya harus menuliskannya sekarang juga. Saya membuka laptop dan mulai menuliskan paragraf pertama.

Sial, di tengah-tengah nulis, saya dapat ide cerita yang lain lagi. Ide baru ini lebih menarik dari cerita yang sedang saya tulis. Saya ingin lanjut menulis tapi saya enggak bisa berhenti memikirkan ide baru ini. Saya membuka layar baru di laptop dan mulai menuliskan ide baru tersebut. Sekarang ada dua cerita yang on progress di laptop saya.

Ah, sial, lagi-lagi saya kepikiran ide baru yang lain. Ide ini jauh jauh jauh lebih menarik dari dua ide sebelumnya yang bahkan belum kelar saya tulis. Menjengkelkan sekali!

Kamu pernah mengalami perkara semacam ini? Diserang beberapa ide tulisan sekaligus dalam satu waktu? Kedatangan ide yang lebih menarik di saat kamu sedang mengerjakan tulisan lain? Kalau iya, selamat, kamu enggak sendirian. Ada saya dan banyak lagi penulis di luar sana yang juga mengalami hal serupa. Kesulitan fokus mengerjakan satu ide.

Saya punya langkah-langkah yang biasanya saya lakukan ketika sedang berada di situasi seperti itu. Mungkin kamu bisa mencobanya. Berikut lima hal yang bisa kamu lakukan untuk menjaga fokus mengerjakan satu topik tulisan.

1.     Bikin Bank Ide

Ide yang sama enggak akan datang dua kali. Saya memperlakukan seluruh ide yang menghampiri kepala saya sebagai sesuatu yang unik dan spesial. Begitu kepikiran satu ide, saya akan langsung mencatatnya di bloknot atau ponsel. Saya enggak tahu apakah ide tersebut akan jadi satu cerita utuh atau apa nantinya. Saya mencatatnya saja, merekamnya. Catat ide apapun yang melintas di benak kamu. Enggak ada ruginya. Malah, ketika suatu hari kamu pengin nulis dan enggak punya ide, kamu jadi tinggal buka bloknot atau ponsel untuk melihat simpanan ide kamu. Bikin Bank Ide kamu.

2.     Santai

Pas kedatangan ide baru, santai saja. Jangan buru-buru ingin menggarapnya. Kalau kamu sedang mengerjakan satu proyek tulisan, perlakukan ide-ide lain sebagaimana kamu bereaksi pada sebuah godaan: lirik, rekam, lalu lupakan. Ingat, kamu sedang menjalin hubungan dengan sebuah naskah. Naskah yang lagi kamu kerjakan saat ini adalah pacarmu. Ide-ide lain yang berdatangan kemudian adalah godaan. Godaan selalu tampak lebih menarik daripada pacarmu sendiri. Santai saja, jangan tergoda. Nikmati hubungan dengan pacarmu dulu. Kalau sudah beres urusan sama pacarmu alias putus, baru kamu jajaki godaan kemarin.

3.     Komitmen

Kata Neil Gaiman, kamu akan belajar banyak hal dari menyelesaikan sesuatu. Hal yang paling dibutuhkan untuk menyelesaikan sesuatu adalah komitmen. Komitmen yang kuat. Saya senang menggunakan analogi dua orang yang sedang pacaran untuk menggambarkan hubungan seorang penulis dengan naskahnya. Demi memiliki hubungan yang berhasil, salah satu hal terpenting adalah komitmen. Berkomitmen menyelesaikan tulisan yang sedang kamu garap akan membuatmu teguh dan tidak mudah goyah oleh datangnya godaan ide-ide baru.

4.     Fokus

Kalau sudah memutuskan mengerjakan sebuah proyek tulisan, tujukan segenap perhatianmu pada proyek tersebut. Apapun yang kamu pikirkan dan imajinasikan sehari-harinya mesti berputar di ide tulisan yang lagi kamu garap. Adegan-adegan, dialog-dialog, plot, sub-plot, paragraf pembuka, paragraf penutup, alur kilas balik, karakter-karakter, semua elemen cerita yang kamu pikirkan kamu siapkan untuk memperdalam dan mempertajam ceritamu yang saat ini. Ajak teman dekat atau pacarmu mengobrol tentang tulisanmu yang saat ini. Lakukan riset untuk memperkuat gagasanmu di tulisanmu yang saat ini.

5.     Just, stick to your current project and try to finish it for god’s sake!

Enggak ada solusi lain selain cobalah memaksakan dirimu sendiri untuk menyelesaikan kerjaanmu yang sedang berjalan. Saya tahu, kata memaksakan terasa enggak menyenangkan. Menulis adalah pekerjaan yang melibatkan dorongan emosi, mood, atau apapun itu, jadi kalau menulis saja sudah harus dipaksakan di mana letak kesenangannya? Namun, saya enggak melihatnya sebagai sesuatu yang negatif. Banyak dari cerita pendek dan novel yang saya selesaikan karena saya memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Juga sebaliknya. Hampir pasti enggak ada buku saya yang pernah terbit jika saya enggak memaksa diri untuk menuliskannya.



26 Januari 2017

Tiga Buku Indonesia Paling Saya Tunggu di 2017



Jika saya ditanya siapa penulis-penulis Indonesia yang paling saya sukai, saya akan jawab: teman-teman saya sendiri. Teman-teman yang saya maksud adalah penulis-penulis yang "seangkatan" dengan saya, baik itu umurnya maupun periode kepenulisannya. Ya, saya menyukai Eka Kurniawan, Yusi Avianto Pareanom, A. S. Laksana, dan Linda Christanty, tapi saya lebih suka teman-teman saya sendiri. Karena mereka yang sekarang ini bikin saya semangat baca buku-buku penulis Indonesia dan bikin saya merasa optimistis sama masa depan sastra Indonesia. Saya enggak merasa ini pernyataan atau ekspektasi yang berlebihan, karena saya benar-benar melihat kesegaran dan kebaruan dan semangat menawarkan gaya bercerita yang unik di dalam karya teman-teman saya ini.

Di tulisan ini saya pengin bercerita tentang tiga buku baru dari tiga penulis Indonesia yang saya anggap teman-teman saya untuk alasan tadi. Saya sangat menunggu karya mereka, dan akan segera membeli dan membaca bukunya ketika nanti sudah masuk di toko buku.

1. 24 Jam Bersama Gaspar (Sabda Armandio)

Saya kali pertama mengenal Dio kira-kira satu-dua tahun lalu, lewat Twitter. Seorang teman lain, Dea Anugrah, kerap ngeretweet cuitan Dio. Ocehan Dio absurd dan karena itu saya mengikutinya. Saya main-main ke blog Dio dan membaca cerita-cerita pendeknya di sana. Saya sangat menyukainya. Cerita-cerita pendek Dio absurd, sureal, dan menyenangkan. Ketika mengetahui bahwa ia menerbitkan novel perdananya, Kamu, saya enggak pikir panjang untuk langsung membelinya. Saya suka novel itu. Penuh keisengan sekaligus keseriusan. Absurd dan nyata sekaligus. Semenjak itu saya terus mengikuti perkembangan kepenulisan Dio. Kabar terakhir yang saya terima, Dio meraih penghargaan Sayembara Manuskrip Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 lewat novelnya, 24 Jam Bersama Gaspar. Saya enggak sabar ingin membaca novel tersebut. Cuplikan-cuplikan adegan dan ilustrasi serta gambar sampul yang ditayangkan Dio di kanal-kanal medsosnya bikin saya makin penasaran dengan novel terbaru penulis muda absurd ini.

2. Semua Ikan di Langit (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie)

Apa yang bikin saya tertarik dengan sosok penulis satu ini? Tentu saja namanya. Ya, karena namanya. Kali pertama saya mengetahui nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yaitu ketika dia jadi salah satu pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014 lewat naskah berjudul Di Tanah Lada. Ketika novel itu terbit, saya beli dan baca. Saya agak kesulitan menikmati ritme narasinya karena cerita dituturkan lewat protagonis seorang anak kecil. Saya belum selesai membaca buku itu. Karena masih tertarik dengan Ziggy, saya mencoba lagi membaca karyanya yang lain. Kali ini novel berjudul Jakarta Sebelum Pagi. Saya tertarik dengan blurb-nya. Saya bisa lebih menikmati novel ini. Namun, lagi-lagi saya enggak menyelesaikannya karena ada satu hal kecil yang mengganjal di salah satu adegannya dan saya belum sempat membuang ganjalan ini karena merasa harus bertanya langsung ke penulisnya. Jadi saya simpan lagi novel itu. Tetap, saya masih penasaran ingin membaca karya Ziggy sampai kelar. Ketika tahu ia jadi juara pertama Sayembara Manuskrip DKJ 2016 lewat naskah Semua Ikan di Langit, saya memutuskan untuk memasukkan novel Ziggy ke dalam daftar buku Indonesia paling saya tunggu tahun ini. Apalagi setelah membaca cuplikan novelnya di wawancara ini. Premisnya sangat menarik dan bikin penasaran.

3. Elegi (Dewi Kharisma Michellia)

Saya sudah mengenal Michelle sejak ia aktif di website forum penulis pemula Kemudian.com. Kami sama-sama pengguna di sana, dulu. Karya-karya awal Michelle yang saya baca adalah cerita-cerita pendeknya. Saya menyukai cerita-cerita pendek Michelle, karena dituturkan dengan sangat jernih dan itu membuatnya enak dibaca. Novel pertama Michelle, Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, adalah novel yang unik karena menggunakan sudut pandang orang kedua dalam bentuk epistolari, yang sependek pengetahuan saya sebagai pembaca merupakan format narasi yang tidak banyak digunakan di novel-novel kontemporer. Saya menyukai novel itu untuk alasan tersebut. Cerita-cerita pendek Michelle yang kerap tayang di harian lokal maupun nasional sepertinya ia kumpulkan dalam buku terbarunya yang terbit tahun ini, Elegi. Saya enggak tahu apakah ada cerita-cerita pendek baru di sana atau ia mengumpulkan yang sudah pernah terbit di media. Namun, yang jelas, saya selalu menanti karya penulis satu ini. Salah satu cerita pendek Michelle yang saya suka berjudul Rindu. Narasi cerita-cerita Michelle yang pelan, teratur, dan bernuansa melankolis, dengan mudah merasuk ke dalam benak saya ketika membacanya.

-

Itu dia tiga buku dari penulis Indonesia yang paling saya tunggu di tahun 2017. Tiga buku ini juga yang saya rekomendasikan kepada kalian. Saya ingin kalian memastikan bahwa jatah belanja buku kalian tahun ini kalian pakai untuk membeli 24 Jam Bersama Gaspar, Semua Ikan di Langit, dan Elegi.


25 Januari 2017

5 Hal yang Saya Lakukan Supaya Dapat Ide Nulis



Tahu jawaban paling membosankan yang akan kamu terima setiap bertanya ke penulis dari mana mereka mendapatkan ide tulisan-tulisannya? Ya, benar. "Dari mana saja." Namun, ada alasan kenapa sesuatu menjadi klise, dan salah satunya adalah karena hal tersebut memang benar adanya.

Ide bisa datang dari mana saja. Cerita pendek, novel, dan caption Instagram saya yang galau-galau itu enggak saya ambil dari sebuah ruangan khusus yang di pintunya tertempel kertas putih bertuliskan ADA IDE DI SINI. Percikan-percikan ide buat menulis muncul di beragam tempat yang saya kunjungi dan momen-momen yang saya hadiri setiap hari. Kadang-kadang, ide-ide itu yang mengunjungi saya ketika saya enggak sedang memikirkan apapun untuk menulis.

Jadi, alih-alih menjelaskan datang dari mana ide menulis, saya lebih memilih untuk bercerita tentang momen-momen seperti apa yang biasanya membuat saya mendapatkan ide tulisan.

Berikut adalah lima momen yang paling sering memberi saya ide menulis:

1. Baca buku

Kalau lagi mentok sama tulisan yang sedang dikerjakan, atau benar-benar kehabisan ide, saya sangat menyarankan kamu untuk membaca buku. Buku fiksi maupun nonfiksi, bebas. Saya lebih sering baca novel atau kumpulan cerita karena menyukainya, dan karena saya sendiri lebih banyak menulis fiksi. Buku-buku nonfiksi saya baca dalam rangka riset. Membaca novel memberi saya sudut pandang penceritaan yang beragam dan tema-tema cerita yang sebelumnya tidak terpikirkan. Kalau kamu juga menulis fiksi, membaca novel akan memberimu referensi teknik menulis yang luas.

2. Nonton film

Sering nonton film di bioskop atau di laptop? Suka drama korea? Mestinya kamu enggak akan kekurangan ide. Film-film bagus, sama seperti buku-buku bagus, memberimu insight dan perspektif yang baru. Saya banyak belajar cara membentuk plot novel dan mengatur tempo cerita dari menonton film. Seperti kamu tahu, dibanding novel, film punya durasi yang lebih singkat sehingga film dituntut untuk sangat ketat dalam menjaga plot. Kamu juga bisa belajar cara merangkai dialog yang efektif dari percakapan-percakapan di film.

3. Ngobrol

Novel Cinta dengan Titik saya tulis dari curhatan seorang teman. Gagasan besar dalam cerita-cerita pendek di buku Metafora Padma saya tulis setelah mengobrol panjang dengan sahabat masa kecil tentang kekerasan horisontal antaretnis dan antaragama. Suatu hari, saya mengobrol via telepon dengan seorang teman lain tentang mengapa manusia harus mencintai orang yang salah terlebih dahulu sebelum bertemu orang yang tepat, dan ini memberi saya ide cerita. Gagasan-gagasan menarik muncul dari obrolan-obrolan dengan orang-orang yang juga memiliki pemikiran-pemikiran menarik.

4. Ngelamun

Jangan anggap remeh the power of daydreaming. Orang-orang yang senang melamun dan berkhayal punya daya imajinasi tinggi, dan cerita-cerita menarik lahir dari kemampuan kita berimajinasi, membayangkan sesuatu yang belum ada. Bagi kamu yang senang melamun, ini adalah kabar gembira: kamu punya modal baik untuk menjadi seorang pencerita. Tentu saja lamunanmu jangan berhenti hanya jadi lamunan. Ubah lamunan dan khayalanmu jadi sebuah gagasan tertulis, kemudian rangkai sebuah cerita.

5. Mengingat masa lalu

Sebagai seorang Cancer, sudah sifat alami saya untuk mengenang masa lalu. Itu sebabnya orang-orang Cancer kebanyakan susah move on. Eaak. Ini bukan hal yang buruk-buruk amat, terutama kalau kamu seorang penulis. Seseorang pernah berkata bahwa pada usia 25 tahun kamu sudah mendapatkan semua hal yang bisa kamu tuliskan. Ada benarnya, karena di usia tersebut kamu mengalami cukup banyak hal. Ingat-ingat lagi apa saja yang pernah kamu alami dalam hidupmu, dan cari sesuatu yang menarik dari sana. Takut dianggap curhat? Ah, biarin aja. Pada satu titik, setiap penulis itu sebenarnya lagi curhat kok. Lagipula saya enggak merasa curhat itu hal yang buruk. Yang lebih penting adalah gimana caranya mengemas curhatanmu jadi sesuatu yang menarik untuk dibaca dan orang-orang bisa merasa terkonek dengan apa yang kamu coba sampaikan.

Kamu pikir, buku-buku saya itu bukan curhatan?

-

Itu dia lima hal yang saya lakukan untuk mendapatkan ide menulis. Enggak ada yang unik, kan? Memang. Menulis itu bukan rahasia besar, kok. Gagasan-gagasan menarik juga bisa muncul dari pengalaman-pengalaman yang amat sepele. Bagi saya, yang paling penting adalah memperkuat ikatan dengan "Dunia Ide", dan caranya yaitu sering-sering melakukan kelima hal di atas. Tentu saja ini hanya beberapa dan ada hal-hal lain yang bisa kamu lakukan untuk dapetin ide. Misalnya dengan menulis cerita dari beberapa kata yang dipilih secara acak, atau menulis cerita dari sebuah potret, atau menulis cerita dari sebuah puisi. Macam-macam lah.

Asal niat dan intens terus memikirkan cerita, mengasah kepekaan pada hal-hal yang terjadi dalam hidupmu dan dunia sekitarmu, saya yakin selama kamu bernapas kamu enggak akan kekurangan ide menulis, karena ide cerita datang dari sumber terbesar cerita-cerita, yakni kehidupan itu sendiri. ***

16 Januari 2017

What Makes You Put Down a Book?




Belakangan ini saya sedang baca Other Colors: Essays and a Story, kumpulan esei Orhan Pamuk. Kebanyakan esei pendek, beberapa wawancara terpilih, baik tentang dirinya maupun buku-bukunya. Di salah satu eseinya, Pamuk sedikit menyinggung tentang apa yang membuatnya berhenti membaca buku. Meski di situ ia tidak secara khusus membahas hal tersebut, saya kira itu topik yang menarik.

Harus saya katakan bahwa saya tidak mudah berhenti membaca buku di tengah jalan. Saya tidak suka melakukannya. David Mitchell bilang, "A half-read book is a half-finished love affair." Saya tidak suka hal yang setengah selesai. Saya hampir selalu membaca cover to cover (sedikit pengecualian pada War and Peace dan The Satanic Verses). Saya mendapat kepuasan dari menyelesaikan sesuatu. Setiap akan membaca buku, saya terlebih dahulu mengira-ngira apakah saya bisa menyelesaikannya. Jika tidak, maka saya cari buku lain yang saya yakin bisa membacanya hingga selesai.

So, what makes me put down a book? Seperti saya bilang tadi. Jika saya sudah memutuskan membaca sebuah buku, maka 99,9% saya pasti akan menyelesaikannya. Namun, ada sisa 1% yang membuat saya bisa menutup buku sebelum selesai membacanya.

Berikut hal-hal yang bisa bikin saya berhenti membaca buku:


1. Logika cerita yang bolong

Sebetulnya, saya termasuk pembaca yang punya rasa toleransi besar terhadap buku yang sedang saya baca. Jika di tengah-tengah novel saya menemukan logika yang ganjil, saya enggak langsung berhenti membaca. Ingat bahwa setiap memutuskan membaca sebuah buku maka saya akan melakukan apapun demi merampungkannya. Saya akan bersabar dan berasumsi bahwa mungkin logika yang ganjil ini disengaja oleh penulisnya. Jangan lupa bahwa saya penikmat cerita-cerita sureal, fantasi, bahkan absurd, jadi saya sudah akrab dengan novel-novel yang memakai logika yang tidak umum. Namun, kadang-kadang penulisnya memang missed, dan ada logika yang kacau di novelnya. Kalau saya sudah enggak tahan lagi, saya akan menutup buku dan move on ke buku lain.

2. Timeline cerita yang membingungkan

Saya tidak bisa kasih contoh yang lebih baik untuk poin ini daripada The Satanic Verses. Novel Salman Rushdie yang kontroversial itu bikin saya cukup kelelahan membacanya. Bukan karena jelek, tetapi saya tidak mendapatkan kronologi cerita yang jelas. Transisi antarbagian pun sangat samar. Apalagi, Rushdie berpindah-pindah dari semesta realis ke surealis. Novel-novel tipe seperti ini harus sangat memperhatikan transisi antaradegan agar tidak menciptakan kebingungan dan kehilangan perhatian pembacanya; termasuk saya.

3. Bahasa yang kelewat rumit

Ini lebih sering terjadi di novel-novel berbahasa Inggris. Lagi-lagi saya enggak bisa mengelak dari memberi contoh The Satanic Verses. Bahasa Inggris Salman Rusdhie di novel ini rumit sekali. Saya enggak keberatan baca novel sambil buka kamus di ponsel, bahkan saya hampir selalu melakukannya jika memang ada kata-kata yang tidak saya mengerti. Namun, kalau saya harus buka kamus tiap baca satu kalimat, lama-lama capek juga.

4. Gaya bercerita yang sulit dinikmati

Saya percaya bahwa sebagai pembaca kita harus beradaptasi pada perkembangan gaya bercerita penulis. Artinya, jika ada novel yang penulisnya menggunakan gaya yang belum pernah kita lihat, bukan berarti kita harus menyalahkan si penulis atas gaya narasi yang aneh. Namun, apa boleh buat, kita kadang-kadang tidak bisa menghindar dari pengaruh selera. Saya teringat pada novelnya Toni Morrison, Beloved. Saya kesulitan membaca buku itu karena gaya menulis Morrison bagi saya terasa ganjil dan mengganggu. Tentu saja tidak berarti ini salah Morrison.

5. Tidak memberi saya pengetahuan baru

Kalau ini, saya enggak akan sampai menutup buku di tengah jalan. Paling jauh saya baca secara skimming.

-

Hal-hal yang saya jelaskan di atas tentu jadi catatan dan pengingat pribadi juga buat saya. Karena saya penulis, maka sebisa mungkin saya enggak menulis buku yang di dalamnya ada lima hal di atas. Jika kalian membaca buku saya dan menemukan hal-hal di atas, saya mohon maaf ya, he he he. Semoga saya bisa menulis lebih baik lagi di setiap buku yang saya terbitkan nantinya.

Nah, sekarang, bagaimana denganmu? What makes you put down a book?

14 Januari 2017

5 Toko Buku Favorit Bara



Saya mengenal toko buku di usia 12 tahun. Waktu itu saya kelas satu SMP. Sebelumnya, saya enggak pernah tahu ada sebuah tempat yang di dalamnya berisi banyak sekali buku. Meski saya lahir di kota, saya tumbuh besar di desa. Di desa saya, Anjongan, terletak 73 kilometer dari kota Pontianak, Kalimantan Barat, enggak ada yang namanya toko buku. Saya memperoleh buku-buku pertama saya (yang hampir seluruhnya komik) dari pemberian teman-teman kantor ibu saya dan membeli di sebuah toko baju lelong di Siantan (bagaimana toko baju bisa menjual buku hingga sekarang pun saya masih heran dan kagum, mungkin kali lain saya akan bercerita khusus tentang ini). Satu-satunya tempat atau ruang berisi banyak buku yang pernah saya lihat selama di desa adalah mobil perpustakaan keliling milik pemerintah daerah dan, tentu saja, perpustakaan pribadi saya sendiri.

Saat berusia 12 tahun, saya melanjutkan SMP di kota (Pontianak) dan tinggal bersama nenek. Saya termasuk murid yang rajin dan patuh aturan, tapi sebagaimana anak-anak lain, saya pun enggak suci-suci amat dari "dosa". Suatu hari teman saya mengajak belet (bolos dalam bahasa Melayu Pontianak) dari jam pelajaran, dan kami pergi ke mal yang letaknya meski tidak dekat-dekat amat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di mal, teman saya asyik menghabiskan waktu di area permainan semacam Amazon. Namun, saya terhipnotis dengan sebuah ruangan berisi banyak buku. Banyak sekali. Buku-buku di dinding-dinding, di rak di lantai, dan di pilar-pilar. Itu Gramedia di Mal Matahari, toko buku pertama yang saya kunjungi seumur hidup saya (momen ini kemudian memperkuat keinginan lugu saya untuk menjadi penulis).

Namun, saya baru rajin pergi ke toko buku ketika kuliah di Yogyakarta, dan setelah lulus kuliah saya baru mengenal ada yang namanya toko buku impor, yakni toko buku yang menjual buku-buku yang didatangkan dari luar negeri, buku-buku berbahasa Inggris. Dua-tiga tahun belakangan, baru saya mengenal ada istilah toko buku jaringan dan toko buku independen, dan tentu saja toko buku daring (online). Macam-macam toko buku mengisi garis hidup saya, baik sebagai pembaca maupun penulis. Saya bahkan punya impian bisa jalan-jalan ke seluruh dunia hanya untuk pergi ke toko buku-toko buku di sana, dan tentu saja menuliskannya (semoga ada yang membaca tulisan ini dan berbaik hati membiayai saya memenuhi impian mulia ini).

Dari beragam toko buku yang pernah saya kunjungi, berikut lima toko buku favorit saya belakangan ini. Toko buku ini masuk ke dalam daftar saya untuk macam-macam alasan, yang akan saya jelaskan di masing-masing poinnya.


1. POST

Toko buku independen yang terletak di kawasan Pasar Santa, Jakarta, ini menjadi menarik karena dikelola oleh pasangan yang sangat mencintai buku. Mereka Maesy dan Teddy. Kali pertama saya mengetahui keberadaan POST melalui pemberitaan di media sosial tentang kebangkitan kembali Pasar Santa. Ketika hampir semua orang berbondong-bondong ke Pasar Santa karena jajanan-jajanan yang dijual di sana, saya tertarik dengan satu spot yang menjual buku. Tidak sulit untuk jatuh hati pada POST, karena selain mereka menjual buku-buku yang dikurasi secara ketat oleh pemiliknya sendiri, Maesy dan Teddy adalah orang-orang menyenangkan. Saya tidak pernah pergi ke POST tanpa merasa bahwa saya sedang mengunjungi rumah seorang teman. Mereka akan mengajakmu berbincang tentang buku, bertanya buku seperti apa yang kamu suka, dan merekomendasikan buku-buku yang menurut mereka menarik atau yang sesuai dengan selera kamu. Selain itu, POST juga secara rutin mengadakan acara-acara bertema buku, tulis-menulis, dan topik kreasi seni lainnya.

Lokasi: Lantai 2 Pasar Santa, Jakarta (bersebelahan dengan kedai Miechino)
Koleksi buku: Buku-buku Indonesia dari penerbit independen dan buku-buku impor
Nilai plus: Suasana nyaman, guyub. Bisa baca di tempat sambil ngopi dan makan mi ayam. Playlist lagu yang diputar enak. Selain Maesy dan Teddy, Nisa, penjaga POST, juga ramah dan bisa kamu ajak mengobrol tentang buku.





2. Kedai Jual Buku Sastra (JBS)

Terletak di bagian selatan Yogyakarta. Toko buku ini diawaki pasangan suami-istri pencinta buku. Mereka juga penyair. Mutia Sukma dan Indrian Koto punya koleksi banyak sekali buku-buku sastra Indonesia terbitan lama. Jika para pencinta buku di Yogyakarta sudah familier dengan toko buku seperti Social House Agency, maka Kedai JBS ini memiliki koleksi serupa. Kalau kamu berniat mencari buku-buku sastra terbitan Pustaka Jaya, Balai Pustaka, atau penerbit lain yang sudah lawas yang buku-bukunya tidak bisa kamu dapatkan di Gramedia, datanglah ke Kedai JBS. Bagi yang tidak tinggal di Yogyakarta, jangan khawatir, mereka melayani pembelian secara online dan mereka punya katalog: Jual Buku Sastra. Tinggal pilih dan pesan, praktis. Jadi kapan-kapan kalau main ke Jogja, selain beli Gudeg Yu Djum, jangan lupa main-main ke Kedai JBS. Lokasinya berdekatan.

Lokasi: Gang Semangat No. 150, Wijilan, Yogyakarta
Koleksi buku: Buku-buku Indonesia terbitan lama
Nilai plus: Koleksi buku sastra lawasnya lengkap





3. Toko Budi

Toko buku independen ini berkongsi tempat dengan penerbitan independen dan kedai kopi. Kalau belum familier dengan namanya, itu karena Toko Budi memang berusia muda. Anak-anak gaul Yogyakarta yang senang kopi dan buku mungkin lebih familier sama kafe Dongeng Kopi atau penerbit Indie Book Corner; Toko Budi berada di bawah atap yang sama dengan mereka. Buku-buku dari penerbit independen merupakan jualan utama mereka. Karena letaknya satu lokasi dengan kedai kopi, kamu bisa sekalian membaca buku yang baru kamu beli sembari menikmati secangkir kopi tubruk dan semangkuk kentang goreng.

Lokasi: Jalan Wahid Hasyim No. 3, Gorongan, Condong Catur, Yogyakarta
Koleksi buku: Buku-buku Indonesia dari penerbit independen
Nilai plus: Satu rumah dengan kedai kopi dan bersebelahan dengan warung burjo




4. Toga Mas

Mahasiswa di Yogyakarta pasti sudah akrab dengan toko buku yang memberi diskon seumur hidup kepada para pelanggannya ini. Ya, kamu enggak salah baca, Toga Mas memang menjual buku-bukunya dengan harga diskon, dan tidak hanya pada momen-momen tertentu, tetapi selamanya. Buku-buku koleksi pertama saya ketika berkuliah di Yogyakarta saya beli dari toko buku ini. Saya terutama mencari buku-buku puisi Indonesia di sini. Selain menjual buku-buku baru, mereka juga punya koleksi buku-buku sastra lama. Gedungnya berlantai dua, dan di lantai dua ada Djendelo Koffie, kafe yang pernah saya pakai sebagai latar cerita di novel pertama saya, Kata Hati.

Lokasi: Ada beberapa, tapi yang paling sering saya kunjungi di Jalan Gejayan
Koleksi buku: Buku-buku Indonesia baru dan lawas
Nilai plus: Harga bukunya selalu diskon



5. Kinokuniya

Saya enggak bisa memungkiri bahwa dua-tiga tahun belakangan saya lebih banyak membeli buku impor, dan di antara toko buku impor yang ada di Indonesia, saya paling sering belanja di Kinokuniya. Sesekali saya membeli buku di Periplus, Books & Beyond, dan Aksara. Namun, lebih banyak di Kinokuniya. Itu karena mereka punya koleksi yang lebih beragam, mulai dari buku-buku terbitan paling baru hingga novel-novel klasik. Kinokuniya favorit saya ada di Plaza Senayan, Jakarta. Kadang-kadang saya menemukan buku yang saya cari di Kinokuniya Grand Indonesia yang tidak ada di Plaza Senayan. Namun, saya lebih sering belanja di Kinokuniya PS.

Lokasi: Ada beberapa (Plaza Senayan, Grand Indonesia, Pondok Indah Mall)
Koleksi buku: Buku-buku impor
Nilai plus: Koleksi buku impor yang lengkap



-

Apa kalian punya toko buku favorit? Share di kolom komentar di bawah tulisan ini ya. Jangan lupa kasih tahu lokasinya secara rinci dan apa keunggulan toko buku tersebut sehingga jadi toko buku favorit kalian. Kali-kali aja pas saya main-main ke kotamu, saya jadi bisa berkunjung ke toko buku-toko buku yang kalian rekomendasikan. Have a great day!

(Catatan: Seluruh foto dari dokumentasi pribadi, kecuali foto-foto Kedai JBS yang saya ambil dari laman Facebooknya)

12 Januari 2017

5 Tips Mereview Buku À la Bara



Baru sekitar empat tahun yang lalu, saya mulai membuat catatan tentang buku-buku yang saya baca. Awalnya terinpirasi dari blog Eka Kurniawan. Sampai hari ini, saya masih menghindari sebutan review atau ulasan untuk menamai catatan-catatan buku yang saya buat di blog ini, termasuk juga resensi. Alasannya, saya merasa apa yang saya tulis tidak tepat memenuhi format resensi buku yang biasanya saya lihat dibikin oleh orang lain.

Namun, demi kemudahan dan supaya relatable, saya pakai istilah review khusus untuk tulisan ini. Saya bikin tips ini demi menjawab pertanyaan beberapa pembaca via instagram maupun e-mail tentang topik mereview buku.

Pertama-tama, perlu dicatat bahwa saya enggak punya metode khusus dalam menulis review buku. Saya juga enggak punya format yang jadi pakem setiap kali membuat review. Isi review saya dari satu buku ke buku lain bisa beda-beda. Di satu buku, misalnya, saya akan memulai dengan menceritakan sedikit kisah dari bukunya, sementara di buku lain saya bisa membuka tulisan dengan membahas sosok penulisnya.

Hal pertama yang saya lakukan ketika bikin review buku adalah mengingat-ingat, apa momen di dalam cerita yang paling berkesan buat saya. 

Meski demikian, saya mencoba mencatat poin-poin yang biasanya saya tulis ketika membuat review buku dan merumuskannya jadi serangkaian pertanyaan. Kamu bisa memakai daftar pertanyaan ini kali berikutnya kamu menulis review untuk buku yang baru saja selesai kamu baca.

Berikut ini lima tips mereview buku à la Bernard Batubara:


  • What's the most memorable moments from the book?
Hal pertama yang saya lakukan ketika bikin review buku adalah mengingat-ingat, apa momen di dalam cerita yang paling berkesan buat saya. Apakah adegan seorang tokoh utama bersembunyi dari kejaran penjahat? Atau percakapan antara sang hero dengan heroine di sebuah tempat yang ganjil? Ketika bikin review buat novel My Name Is Red (Orhan Pamuk) yang kali pertama saya ingat adalah paragraf pembukanya, yaitu mayat yang menceritakan kepada kita bagaimana dia dibunuh. Momen paling berkesan dari cerita di buku akan membawa kita ke hal-hal lain yang ingin kita tulis dalam review.


  • How does the book make you feel?
Karena saya cowok Cancer, apa-apa dibawa ke perasaan, termasuk kalau lagi baca buku. Jadi saat mereview pun saya mengingat-ingat, apa yang saya rasakan saat membaca buku ini? Buku-buku tertentu seperti novel-novelnya Haruki Murakami bikin saya tenggelam dalam melankoli dan detached dari dunia nyata. Novela The Hour of the Star (Clarice Lispector) bikin saya marah sama Tuhan, dan novela Bukan Pasarmalam (Pramoedya Ananta Toer) bikin saya terharu dan merasa kangen sama bapak. Saat membaca buku, kita bisa terbawa dengan emosi yang dituangkan atau dirancang oleh penulis buku tersebut. Bagaimana perasaanmu saat membaca buku itu? Jabarkan dengan rinci...


  • How does the book change the way you see the world?
Buku yang bagus dapat menggoyahkan bahkan mengubah caramu berpikir dan memandang dunia. 

Sebagai manusia, kita punya pemikiran dan konsep-konsep yang kita pegang saat memandang dunia dan kehidupan pada umumnya. Misalnya, kamu memandang bahwa dunia ini indah, sementara temanmu seorang yang selalu sinis sama dunia. Pemikiran ini terbentuk dari pengalaman hidup dan apa yang otak kita serap dari sekitar. Termasuk dari buku. Buku yang bagus dapat menggoyahkan bahkan mengubah caramu berpikir dan memandang dunia. Novela The Stranger (Albert Camus) mengubah cara saya memandang kehidupan dan kematian. Novel The Brothers Karamazov (Fyodor Dostoyevsky) memberi masukan yang sangat kuat terhadap cara saya melihat kebaikan, kejahatan, dan nasib manusia. Apakah buku yang kamu baca mengubah caramu berpikir? Tuliskan dampak semacam apa yang dimunculkan buku tersebut bagi konsep berpikir dan prinsip-prinsipmu.


  • Go outside of the book. Find more about the author.
Kalau buku yang saya baca bagus dan saya menyukainya, saya akan mencari informasi lain di luar buku. Yang pertama saya cari biasanya biodata penulisnya. Kedua, wawancara-wawancara tentang penulisnya. Saya sering dapat banyak hal dari melakukan ini, misalnya saya jadi tahu bagaimana Haruki Murakami menuliskan novel-novelnya dengan visi yang sangat abstrak dan tidak terencana, dan bahwa ternyata Orhan Pamuk orangnya sangat mekanis ketika merancang plot. Hal-hal trivial dari riwayat hidup penulis juga menarik dimasukkan ke review. Ketika baca novel Piramid (Ismail Kadare) dan nyari tahu tentang penulisnya, saya jadi dapat info bahwa buku ini ternyata pernah dilarang, dan naskahnya terpisah-pisah demi menghindari sensor sebelum dapat digabungkan kembali dan terbit jadi buku. Mencari tahu tentang sosok penulis juga bisa memberi kita pemahaman lebih dalam tentang apa yang dia tulis.

Kita menyukai sebuah buku karena kita merasa menemukan bagian dari diri kita sendiri di dalamnya. 

  • How do you relate to the book?
Kita menyukai sebuah buku karena kita merasa menemukan bagian dari diri kita sendiri di dalamnya. Buku-buku favorit kita biasanya mengonfirmasi apa yang sebenarnya sudah pernah atau sedang kita rasakan. Ketika baca novel-novelnya Haruki Murakami, saya merasa tokoh-tokohnya gue banget. Senang menyendiri, soliter, dan kadang-kadang clueless kalau menghadapi perempuan. Saya bisa merasa related sama bukunya karena apa yang tokoh-tokoh di buku itu pikirkan sama seperti apa yang saya pikirkan. Kalau kamu menemukan hal serupa ketika membaca buku, gambarkan apa yang membuatmu merasa buku itu gue banget. Mungkin orang lain juga merasakan hal sama denganmu.


Last but not least: Don't spoil anything!

Meskipun mungkin kadang-kadang saya keceplosan, tapi saya sebisa mungkin menghindar memberikan spoiler. Kecuali buku-buku klasik semacam The Brothers Karamazov, misalnya, saya merasa enggak masalah menyebut satu-dua hal kunci dalam ceritanya karena butuh untuk membahasnya, dan saya menganggap kalaupun saya ngasih spoiler, bukunya tetap layak dibaca dan enggak akan mengganggu pembacaan orang yang baru mau baca. Saya sangat berusaha enggak spoiler terutama buku-buku terbitan baru atau novel-novel tipis.

Membuat catatan tentang buku yang kita baca membantu kita memahami buku tersebut lebih dalam lagi.

Selamat membaca dan mencatat buku-buku yang kamu baca ya. Cheers!