17 Februari 2017

Luka Dalam Bara



+ Kenapa orang-orang patah hati malah meresapi kesedihannya dan tidak membuangnya jauh-jauh?

- Mungkin, itu cara mereka meyakinkan diri sendiri bahwa cinta yang mereka miliki selama ini adalah sesuatu yang nyata. Kita tidak akan merasa benar-benar sedih kalau tidak benar-benar cinta, kan? Sayangnya, menutup luka tidak akan membuatnya segera sembuh. Menyangkal bahwa kamu sedang terluka tidak akan membuat luka itu hilang.

("Dialog-dialog yang Tidak Pernah Terjadi")

-

Menulis, adalah cara saya mengakui bahwa saya terluka. Bahwa saya gagal dalam sesuatu. Bahwa saya tidak berhasil mewujudkan kebahagiaan yang saya rencanakan.

Saya tidak tahu apakah akan segera sembuh dengan menuliskan luka-luka saya. Kalian tahu, tidak seperti luka karena terjatuh di jalan atau tersayat pisau, luka karena cinta bukanlah luka luar, yang darah dan sobekannya terlihat jelas. Luka karena cinta dan rindu yang gagal adalah luka dalam. Meski tidak terlihat, luka tersebut ada. Ada, nyata, dan terasa.

Saya tidak tahu apakah kisah-kisah dalam buku ini akan menyembuhkan saya. Namun, jika ingin jatuh cinta lagi, jika saya ingin sembuh dari luka lama, jika saya ingin merancang kebahagiana baru, saya tahu saya harus memulai sesuatu.

Dari buku ini, catatan-catatan personal ini, serta dengan bantuanmu yang mungkin juga sedang patah hati, saya mencoba menyembuhkan diri sendiri. Mungkin, jika kamu membaca buku ini, kamu dapat menyembuhkan dirimu juga.

Mari patah hati bersama. Mari sembuh, dan jatuh cinta lagi, bersama.

Buku terbaruku, LUKA DALAM BARA, terbit eksklusif dalam edisi cetak hardcover di Noura Books, Februari 2017.


3 Februari 2017

Wawancara Eksklusif: Bintang.com



"Dulu aku menulis untuk sarana eskapisme, untuk lari dari kenyataan. Aku membentuk duniaku sendiri dari apa-apa yang aku suka. Tapi semakin ke sini motivasiku berubah-ubah setiap waktu. Sekarang ini tanpa aku sadari aku menuliskan hal-hal yang dulu aku hindari, seperti tema yang berkaitan dengan konflik keluarga. Aku sempat merasa agak berjarak dengan keluargaku, tetapi aku menebusnya dengan menulis. Aku menggunakan nama ibu dan adikku serta memasukkan tokoh-tokoh yang mirip ayahku di cerita-ceritaku. Bagiku itu cara untuk menebus jarak yang ada dengan mereka. Sekarang aku menulis untuk menyembuhkan diriku sendiri."

Baca wawancara ekslusif Bara dengan redaksi Bintang.com di sini.