21 Maret 2017

Slaughterhouse-Five, Kurt Vonnegut



Satu hal yang paling ingin saya pelajari dari Kurt Vonnegut adalah bagaimana ia membuat lelucon tentang hal-hal yang gelap. Perang, merupakan tema yang seakan tidak habis-habisnya menjadi samsak latihan tinju Vonnegut. Pukulan demi pukulan ia lancarkan dan luncurkan untuk menghajar habis peperangan. Buku-buku Vonnegut bagi saya adalah buku-buku anti-war terbaik, karena ia memperlihatkan cara paling ampuh untuk mengejek sesuatu: membuat lawakan tentangnya.

Yang lebih menyenangkan lagi, tentu saja, ejekan Vonnegut terhadap perang ditulis dalam bentuk cerita fiksi. Buku terakhir darinya yang saya baca, Slaughterhouse-Five, adalah sebuah novel yang menceritakan kisah hidup seorang optometris bernama Billy Pilgrim. Billy Pilgrim menjelajah ruang dan waktu (khas Vonnegut) bolak-balik ke masa lalu, masa depan, dan masa sekarang, untuk memaknai salah satu bagian dari peristiwa perang dunia kedua yang tidak banyak diekspos: pengeboman di Dresden tahun 1945.

Kurt Vonnegut menjadi salah satu penulis favorit saya karena selera humornya yang menyenangkan. Dia bisa membuat cerita perang jadi terasa enteng karena ditulis dalam buku yang, saya kira tidak keliru kalau saya melabelinya: bergenre komedi. Buku-buku Vonnegut bagi saya adalah buku-buku komedi. Timequake dan Cat’s Cradle betul-betul bikin saya ngakak.

Namun, di Slaughterhouse-Five, salah satu karya Vonnegut yang paling populer, saya merasa Vonnegut bicara dengan nada yang agak lebih serius dibanding dua buku sebelumnya. Seolah-olah Vonnegut tidak bisa banyak melawak untuk ceritanya yang satu ini. Cerita tentang hidup Billy Pilgrim dan pengeboman di Dresden selama Perang Dunia Kedua.

Sama seperti buku-buku Vonnegut yang saya baca sebelumnya, Slaughterhouse-Five juga mengangkat tema peperangan dan dibungkus nuansa fiksi-sains. Buku ini terasa lebih semi-otobiografis. Di kehidupan nyata, Vonnegut memang pernah menjadi anggota tentara Amerika Serikat dan turut serta dalam Perang Dunia Kedua. Bersama satuannya, Vonnegut diterbangkan ke Eropa, dan tertangkap oleh pihak Jerman. Vonnegut menjadi tahanan militer di Dresden, kemudian berhasil selamat dari pengeboman pihak sekutu setelah mengumpet di kotak penyimpanan daging di rumah potong (slaughterhouse) tempat ia ditahan.

Itu juga adalah cerita hidup Billy Pilgrim, protagonis dalam Slaughterhouse-Five. Selain menjadi tentara, Billy Pilgrim merupakan seorang optometris; dokter mata yang turut membuat resep untuk kacamata (barangkali juga melakukan bisnis produksi kacamata), dan seorang pejalan waktu. Karena sebuah peristiwa, mendadak Billy Pilgrim bisa melompat ke masa lalu, masa depan, dan kembali ke masa sekarang, lalu ke masa depan dan masa lalu lagi dan begitu seterusnya.

Perjalanan Billy Pilgrim bahkan tidak hanya mengitari lintasan waktu, tetapi juga hingga bertualang ke planet lain. Planet Tralfamadore, semesta yang kerap menjadi dunia paralel dengan bumi dalam karya-karya Vonnegut. Pertemuan Billy Pilgrim dengan manusia lain, seorang wanita bernama Montana Wildhack, melalui serangkaian adegan yang bernuansa fantasi membawanya pada perenungan tentang makna dan tujuan hidup.

Slaughterhouse-Five secara umum dianggap sebagai magnum opus Kurt Vonnegut. Namun, sesungguhnya saya lebih terhibur ketika membaca Gempa Waktu (terjemahan Timequake) dan Cat’s Cradle. Di Slaughterhouse-Five, Kurt Vonnegut terlihat tidak bisa terlalu banyak melucu. Mungkin karena pengalaman kelam yang pernah ia jalani secara langsung membuatnya kehilangan selera humor dan menjadikan ceritanya terasa relatif lebih suram dan “serius” ketimbang dua buku yang saya sebut sebelumnya.

Meski demikian, Slaughterhouse-Five tetap merupakan karya yang kuat. Cara pandang Vonnegut melalui tuturan narator serba-tahu tentang arah alir waktu yang tidak linear, melainkan bagai sebentuk panorama yang tersusun atas beberapa peristiwa-peristiwa yang berjalan paralel, memberikan semacam penghiburan atas rasa takut manusia pada kematian.

Kematian, dalam gagasan Vonnegut, merupakan sesuatu yang tidak lagi menakutkan karena ia bukan sebuah titik akhir dari garis hidup yang linear. Ketika seseorang mati, ia hanya mati di salah satu dari sekian banyak garis kehidupan. Di waktu bersamaan, ia masih hidup sehidup-hidupnya di garis-garis yang lain.

Vonnegut sangat mahir dalam memunculkan kekonyolan-kekonyolan yang membuat kita tiba-tiba merasa isu tentang peperangan jadi tidak serius-serius amat. Setidaknya, dapat dicerna sebagai sesuatu yang menghibur.


Kematian dan peperangan. Everything was beautiful and nothing hurt. ***

13 Maret 2017

Luka Dalam Bara Siap Menemui Kamu!



"Kata-katamu selimut tebal tidur lelapku. Kata-katamu lampu taman jalan setapak kisah mimpiku. Kata-katamu sejuk pagi yang sabar menantiku. Kau tahu, pada akhirnya aku merasa bukan hanya aku dan kamu yang mencintai kata-kata. Kata-kata pun, menyayangi kita."

Buku terbaruku, Luka Dalam Bara, saat ini sudah selesai dicetak. Buku yang dipegang oleh gadis dalam foto di atas adalah hasil final yang akan teman-teman terima (bagi yang ikut pre-order) dan temukan di toko-toko buku. Hari ini, pre-order Luka Dalam Bara sudah ditutup. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah ikut ramai-ramai memesan bukunya.

Luka Dalam Bara seluruhnya dicetak hard cover. Bagi yang ingin membeli secara online, bisa memesan di toko buku dalam daftar ini. Bukunya sendiri akan beredar di toko-toko buku jaringan (Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas, dll.) mulai akhir bulan Maret.

Selamat menunggu datangnya luka.

1 Maret 2017

PO: Luka Dalam Bara TAHAP 2


Hai, teman-teman semuanya. Buku terbaruku, Luka Dalam Bara saat ini sudah dapat dipesan selama sesi pre-order tahap kedua melalui beberapa toko buku online. Di sesi pertama kemarin, 500 buku bertandatangan Bara + bonus pouch sudah habis dalam 4 hari saja. Sama seperti sesi pertama, di sesi kedua ini masa pre-order juga berlangsung satu minggu. Mulai tanggal 1 - 7 Maret 2017.

Hanya tersedia 500 eksemplar buku bertandatangan Bara + bonus pouch berilustrasi cantik bagi para pemesan di sesi pre-order kedua ini.

Silakan melakukan pemesanan ke toko-toko buku berikut (klik tautan pada nama toko):

Mizanstore
LINE: @mizanstore (pakai @)

Bukabuku
WA/SMS: 089-888-999-50
LINE: bukabuku

Pengenbuku
E-mail: pesanpengenbuku@gmail.com
WA: 0851-007-49052

Bukukita
WA/SMS: 0812-85000-570

Temanbuku
WA: 0857-2209-6918

Parcelbuku
WA: 0878-7789-2584
LINE: @kiu9952d (pakai @)
E-mail: pesan.parcelbuku@gmail.com

Bukubukularis

Kupkupbuku
WA: 0821-2698-1310


Kali ini teman-teman harus bergerak lebih gesit, agar tidak ketinggalan buku bertandatangan Bara + bonus pouch berilustrasi dan berpuisi. Selamat memesan Luka Dalam Bara.