29 Januari 2018

God, Reza Aslan



Tiga ratus ribu tahun lalu, Tuhan telah menunjukkan tanda-tanda keberadaannya di dunia. Seiring manusia berevolusi, Tuhan pun mengalami perubahan yang radikal dan, seringkali, membuat manusia sendiri kebingungan dalam memahaminya. Manusia, bahkan hingga saat ini, masih terus bertanya dan mencari kebenaran mengenai Tuhan. Esensi, keberadaan, fungsi, dan maknanya. Salah satu yang barangkali cukup mengganggu adalah pertanyaan berikut. Mana yang benar: Tuhan yang menciptakan manusia, atau manusia yang menciptakan Tuhan?

Pertanyaan itu salah satunya yang ditawarkan dan dijawab sendiri oleh buku God, Reza Aslan. Buku ini menjelaskan bagaimana awal ceritanya manusia bisa memikirkan Tuhan, dan selanjutnya melalui rangkaian peristiwa sejarah dan perubahan budaya yang panjang, menciptakan apa yang kemudian kita kenal sebagai agama. Buku terakhir yang saya baca yang membahas topik tersebut adalah Sejarah Tuhan, Karen Armstrong. Buku bagus. God dari Reza Aslan membahas cakupan yang mirip dengan lebih ringkas.

Buku God terasa seperti novel karena memiliki protagonis, yaitu Adam dan Hawa. Reza Aslan menggunakan pasangan manusia tersebut untuk menjelaskan perkembangan hubungan manusia dengan Tuhan dan agama-agama. Meski demikian, saya tak begitu fokus pada keberadaan Adam dan Hawa dalam cerita Reza Aslan, karena saya tidak tahu Adam dan Hawa dari sumber mana yang dia pakai, sebab Adam dan Hawa yang saya pahami dalam Islam punya cerita yang berbeda.

Reza Aslan memulai bukunya dengan pemaparan tentang situs-situs purbakala yang menampilkan gambar-gambar primitif yang mengindikasikan awal mula kesadaran spiritual manusia. Pemaparan ini disusul dengan penjelasan kehidupan manusia (Adam dan Hawa setelah diusir dari taman surga) zaman paleolitikum. Ini masa ketika manusia hidup dengan berburu binatang dan mengumpulkan makanan.

Bagian penting tahap ini adalah cerita tentang Hawa yang melihat "wajah di pohon" ketika sedang berada di hutan mengumpulkan makanan. Hawa terkejut menemukan pohon yang berwajah seperti manusia, dan menceritakannya kepada Adam ketika mereka bertemu di gua.

Momen Hawa melihat "wajah di pohon" ini adalah apa yang oleh ilmuwan kognitif sebagai Hypersensitive Agency Detection Device (HADD). Sederhananya, HADD adalah apa yang membuat manusia mendeteksi bentuk-bentuk seperti atau yang berasal dari kegiatan manusia, pada momen-momen alam yang tak terjelaskan (bentuk wajah di awan, suara-suara yang tidak kelihatan sumbernya, dan lain-lain).

Teori kognitif lainnya adalah apa yang disebut dengan Theory of Mind, yakni fungsi pada otak manusia yang membuat manusia mampu memahami orang lain sebagaimana dirinya sendiri. Tidak hanya itu, karena fungsi ini manusia juga, secara instingtif, melekatkan sifat-sifat dirinya ke apapun yang menyerupai dirinya. Misalnya, ketika kita melihat sesuatu yang seperti kepala dan wajah, maka secara instingtif, kita meyakini bahwa sesuatu tersebut haruslah seperti kita.

HADD dan Theory of Mind menjelaskan bagaimana mulanya pemicu untuk berketuhanan muncul dalam otak manusia, di samping kesadaran manusia tentang keberadaan jiwa (soul), sesuatu yang menurut Reza Aslan tidak kita ketahui sebab-musababnya. Kedua penjelasan mengenai aktivitas kognitif manusia tersebut pula yang menjawab mengapa manusia memahami Tuhan sebagai sesuatu yang bertindak seperti manusia, dan tepat inilah yang menjadi salah satu persoalan penting yang dibahas di buku God: permasalahan dalam memahami Tuhan sebagai sesuatu yang antropomorfis.

Manusia memanusiakan Tuhan pada awalnya karena hanya dengan cara itu manusia dapat memahami, serta memaknai Tuhan. Tidak terpikirkan sebelumnya oleh manusia bagaimana bisa merasakan hubungan dengan Tuhan, jika Tuhan tidak berpikir dan bertingkahlaku seperti manusia. Pandangan seperti inilah yang kemudian membuat manusia yang pada zaman bertani dan hidup menetap merekatkan pada fenomena-fenomena alam, sosok "tuhan" atau dewa-dewa, yang memiliki sifat-sifat manusiawi.

Persoalan dari memanusiakan Tuhan (humanizing god) adalah, kita jadi tidak hanya merekatkan sifat-sifat manusia yang baik kepadanya, tetapi juga sifat-sifat buruk. Tuhan menjadi tidak hanya mengasihi dan melindungi, tetapi juga membenci dan menghancurkan. Manusia mulai bertanya-tanya: bagaimana bisa Tuhan memiliki, di dalam dirinya, sifat-sifat yang bertentangan? Bagaimana bisa Tuhan menciptakan dan juga membunuh? Bagaimana bisa Tuhan laki-laki sekaligus perempuan?

Tindakan memanusiakan Tuhan yang membingungkan ini masih terus berlangsung hingga zamannya agama-agama samawi. Reza Aslan menutupnya dengan jawaban yang sepertinya dia peroleh dari perjalanan spiritual pribadinya: sufisme. Sufisme menjadi titik akhir persoalan memanusiakan Tuhan dengan memberikan cara pandang yang melepaskan kemanusiaan dari Tuhan (dehumanizing god), tetapi Reza Aslan tidak membahas banyak mengenai ini.

Bagian-bagian mengenai agama-agama samawi lebih berfokus pada prinsip mendasar mengenai ketuhanan yang diusung agama-agama tersebut. Yahudi dengan keyakinan pada satu Tuhan yakni Yahweh/Elohim (kita akan mendapatkan penjelasan ringkas yang cukup menyenangkan tentang proses penggabungan "dua Tuhan" yang seakan-akan berbeda), Kristen dengan Trinitas (terdapat penjeasan mengenai perdebatan mengenai Bapa, Putera, dan Roh Kudus), dan Islam dengan tauhid (keyakinan pada Tuhan yang esa). Penjelasan tersebut disertai pemaparan peristiwa sejarah, yang juga singkat-singkat.

Saya sempat merasa agak kecele oleh tebal bukunya yang hampir tiga ratus halaman, sebab ternyata isi bukunya hanya lebih sedikit dari separuhnya. Penjelasan merinci tentang paragraf-paragraf singkat di bab-bab yang juga pendek, diletakkan Reza Aslan di bagian belakang buku sebagai catatan kaki/bagian dari daftar pustaka. Bab-bab pendeknya membuat God mudah dibaca, di samping gaya bahasa Reza Aslan yang juga kadang-kadang rada nyeleneh, mengingatkan saya pada gaya bertutur Richard Dawkins di buku-bukunya yang juga menyenangkan.

Bagi yang ingin mengetahui sejarah perkembangan relasi manusia dengan Tuhan, God bisa jadi buku pengantar yang cocok. Meski demikian, untuk cakupan yang mirip dan informasi yang lebih rinci, saya merekomendasikan Sejarah Tuhan, Karen Armstrong. Saya melihat God lebih sebagai cara halus Reza Aslan menganjurkan sufisme sebagai jawaban atas problematika yang muncul akibat memanusiakan Tuhan (Reza Aslan sendiri pada mulanya menganut Islam, kemudian Kristen, dan yang terakhir kembali ke Islam sufisme). ***

27 Januari 2018

Maze Runner: The Death Cure



Film Hollywood genre distopia sudah menjadi salah satu personal favourite saya sejak lama. Barangkali karena semenjak kecil, saya menyenangi cerita-cerita bergenre fantasi. Bagi saya, cerita bergenre distopia semacam kisah fantasi versi dewasa, karena selain memuat plot petualangan seperti umumnya kisah-kisah fantasi, tetapi juga kadang-kadang (bahkan seringkali) memiliki dimensi sosial dan politik yang kental.

Pada kemunculannya yang pertama di layar lebar tiga tahun lalu, film The Maze Runner (2014) langsung menarik perhatian saya. Ide tentang sekumpulan anak remaja yang diletakkan di tengah-tengah “arena” berbentuk labirin untuk berjuang antara hidup dan mati, seketika memantik rasa penasaran. Apa yang akan mereka temui di dalam labirin? Dengan cara apa mereka bertahan hidup? Siapa yang meletakkan mereka di sana? Untuk apa?

Baru setelah selesai menonton The Maze Runner (2014) saya tahu bahwa film tersebut, dan kedua film setelahnya, merupakan adaptasi dari novel berjudul serupa karangan James Dashner. Sekuel filmnya berturut-turut, The Scorch Trials (2015) dan The Death Cure (2018) adalah cerita yang menjawab pertanyaan-pertanyaan pertama saya di paragraf sebelumnya, dan menyajikan plot yang lebih rumit dan tidak kalah menegangkan dibanding pendahulunya.

Maze Runner: The Death Cure bagian akhir dari trilogi The Maze Runner, tayang tiga tahun setelah The Scorch Trials. Jarak yang cukup lama, sehingga saya perlu agak mengingat kembali apa yang terjadi di film sebelumnya. Untungnya, seakan memahami hal tersebut, The Death Cure menampilkan beberapa adegan yang akan mengembalikan kita ke bagian-bagian penting dari cerita awal The Maze Runner. Jadi tidak begitu sulit bagi saya mengikuti The Death Cure.

Meski demikian, tidak ada salahnya jika menonton ulang The Maze Runner dan The Scorch Trials, sebelum menikmati ketegangan yang cukup panjang di The Death Cure (total durasi 141 menit).

Fokus utama film Maze Runner: The Death Cure adalah misi penyelamatan salah seorang sahabat sekaligus rekan Thomas sang protagonis, yakni Minho. Adegan pembuka film mengingatkan saya pada opening salah satu seri Fast & Furious: satu skuad mobil mengejar kereta barang dalam sebuah misi pembajakan.

Adegan yang menegangkan ini jadi betul-betul terasa immersive, karena saya menontonnya di studio 4DX CGV Blitz. Dari beberapa kali menonton di studio 4DX CGV, di film Maze Runner: The Death Cure efek getaran kursinya paling berasa. Kalibrasi timing getaran kursi dengan momen-momen gerakan mobil yang melaju, melayang, dan menubruk daratan, betul-betul pas, sehingga ketika menonton saya sungguh-sungguh merasa seolah sedang berada di mobil Thomas atau Brenda. Beberapa menit pertama Maze Runner: The Death Cure memberi kesan yang sangat baik dan membuat saya bersemangat untuk bagian selanjutnya.

Jika The Maze Runner yang pertama berfokus pada perjuangan para remaja bahan eksperimen dalam arena labirin yang mengerikan dan penuh bahaya, The Scorch Trials berkutat pada pencarian regu sekutu merancang penyerangan terhadap korporasi besar bernama WCKD (Wicked) yang menjadi biang kerok dari apa yang dialami para remaja tersebut, termasuk Thomas, maka The Death Cure adalah eksekusi terhadap WCKD.

Sekaligus, pengungkapan jawaban atas seluruh rangkaian eksperimen WCKD.

Untuk film berdurasi hampir dua setengah jam, saya harus akui The Death Cure jauh dari kata membosankan. Barangkali karena saya sudah terpikat sejak awal oleh ide meletakkan anak-anak remaja dalam eksperimen menggunakan arena labirin. Sisanya adalah kisah persahabatan, pengkhianatan, dan pengorbanan yang mengharukan.

Satu lagi, saya harus acung jempol untuk tim efek visual The Death Cure. Sosok Crank (manusia yang sudah sepenuhnya terinfeksi Virus Suar) betul-betul tampil dengan meyakinkan. Visual pembuluh-pembuluh darah yang berwarna gelap di permukaan kulit tangan dan wajah, tangan dan kaki yang hancur akibat infeksi, dan aura mayat hidup yang berbahaya sungguh-sungguh bikin tegang. Sensasi melihat segerombolan Crank yang mengepung Thomas dan kawan-kawan seperti yang saya alami ketika menonton film-film zombie yang menakutkan.

The Death Cure sarat dengan adegan-adegan aksi yang menegangkan. Bagian pembukanya betul-betul didukung oleh kalibrasi kursi dan efek di studio 4DX CGV Blitz. Namun, adegan-adegan aksi yang terjadi setelahnya pun tidak kalah menegangkan. Bau asap, cipratan air, dan embusan angin di padang pasir luas yang menggigilkan, semuanya betul-betul terasa di studio, seakan-akan saya tidak berada di atas kursi bioskop, melainkan bergabung dengan Thomas mencari Minho.


Bagi kamu yang sudah mengikuti serial Maze Runner, The Death Cure adalah penutup yang menyenangkan. Jangan lupa, untuk pengalaman dan sensasi menonton yang lebih seru, tonton The Death Cure di studio 4DX CGV Blitz. Saya jamin, kamu akan setuju dengan pendapat saya tentang adegan pembukanya yang betul-betul seru! Segera cek jadwalnya di CGV Blitz dan tonton filmnya!

23 Januari 2018

Fields of Blood, Karen Armstrong





Orang-orang modern berasumsi bahwa agama merupakan salah satu sumber utama terjadinya peristiwa kekerasan berskala besar. Asumsi tersebut tidak membuat heran, jika didasarkan pada insiden seperti pengeboman gedung World Trade Center di Amerika pada 9 September 2001 (yang kemudian melahirkan ketakutan akut terhadap Islam atau dikenal dengan istilah islamophobia) dan kejadian-kejadian bersifat teror lainnya yang terkait atau dikait-kaitkan dengan agama. Namun, seberapa akurat kah asumsi itu? Apakah agama, seperti dianggap sebagian orang modern, merupakan sesuatu yang mengandung kekerasan secara inheren?

Karen Armstrong menjawabnya dengan cukup jelas dalam buku Fields of Blood (2014). Fields of Blood, dengan tagline di halaman depan "Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan" betul-betul melakukan apa yang dijanjikannya. Karen Armstrong mengurai simpul ruwet hubungan agama dan kekerasan melalui kisah-kisah kekerasan sistemik yang terjadi sejak zaman pramodern hingga masa terkini, dan penjelasan-penjelasan dari sumber teks setiap agama terkait.

Mundur hingga ke tahun 5000 SM, Karen Armstrong memulai misinya menguraikan hubungan agama dan kekerasan dengan kisah tentang peradaban bangsa Sumeria di dataran Mesopotamia. Pada bagian permulaan ini, Karen Armstrong menjelaskan bagaimana perkembangan masyarakat Sumeria termasuk pengaturan politik bangsa dan agama Mesopotamia, yang merupakan bentuk awal agama pramodern. Gagasan "agama" ini sangat berbeda, bahkan berkebalikan dari gagasan modern kita tentang "agama" sebagai pengalaman spiritual pribadi.

Agama di masa pramodern pada dasarnya adalah urusan politik dan tidak terpisahkan dari kegiatan perekonomian, birokrasi, seni, dan sains. Hal ini disebabkan terutama karena ada upaya untuk menanamkan makna ke dalam eksperimen manusia yang problematik dan berani. Peradaban menuntut pengorbanan, dan orang Sumeria harus meyakinkan diri bahwa apa yang mereka tuntut dari kaum tani memang diperlukan dan sepadan.

Pemerintahan agraria pada masa pramodern melihat negara sebagai milik pribadi dan petani semata-mata berfungsi sebagai pemasok sumber daya alam. Kekerasan terhadap petani dan peperangan yang merupakan ciri peradaban pramodern berkelindan dengan pemujaan kepada dewa-dewa. Karen Armstrong membedah narasi puisi Atra-hasis, tablet tahun 1700 SM bertatahkan epik tentang perselisihan dewa-dewa yang berujung pada penciptaan manusia untuk menanggung beban mereka.

Cerita perkembangan "agama" zaman pramodern ini berlanjut dengan bab-bab berikutnya mengenai religiusitas di India dan Cina. Sekelompok keluarga terpelajar dari bangsa Arya yang bermigrasi ke anak Benua India mengembangkan antologi himne yang telah diwahyukan kepada resi (rishi) zaman dulu dan menambahkan puisi baru mereka, menjadi Rig Weda, yang kemudian dikenal sebagai Weda ("pengetahuan"). Pada periode ini, kekerasan masih terjadi dalam proses peperangan sebagai bagian dari perkembangan peradaban, yang di dalamnya melibatkan dewa-dewa dan manusia.

Hubungan manusia dan dewa-dewa teruraikan pula dalam kebudayaan Cina kuno, yang menganggap bahwa pada awalnya manusia tidak terbedakan dengan binatang. Kemanusiaan bukan sesuatu yang ada sejak semula, melainkan dibentuk dan dibuat oleh penguasa negara. Mitos Raja-Raja Bijak pada penghujung Dinasti Zhou (485-221 SM) menunjukkan peradaban yang tidak bisa bertahan tanpa kekerasan.

Kekerasan dalam sejarah awal Israel bermula pada pengusiran Adam dan Hawa dari surga. Karena ketidakpatuhannya, Adam diturunkan ke bumi untuk menggarap tanah bukan sebagai tuannya, melainkan budak. Pentateuch, lima kitab pertama Alkitab, yang kisah di dalamnya dimulai sekitar 1750 SM ketika Yahweh memerintahkan Abraham menetap di Kanaan, menampilkan pula kisah Yosua sebagai pengganti Musa yang memimpin bangsa Israel pasca perbudakan Mesir dengan menghancurkan semua kota Kanaan dan membantai penghuninya.

Akan tetapi, peristiwa tersebut tidak diperkuat oleh catatan arkeologis. Tidak ada bukti penghancuran massal yang diceritakan dalam Kitab Yosua dan tidak ada indikasi tentang invasi asing yang dahsyat.

Kritik terhadap catatan kekerasan di tiap-tiap agama seperti itu dilakukan Karen Armstrong dalam setiap bab yang ditulisnya. Pada penjelasan mengenai religiusitas India kuno, Karen Armstrong membahas dilema Ashoka, kaisar yang terguncang oleh penderitaan yang disaksikannya sepanjang pertempuran di awal masa kekuasaannya. Ashoka dilanda perasaan dilematis karena kekerasan tersebut membuatnya menyesal sekaligus bingung karena melihat tak ada alternatif lain yang lebih baik untuk mempertahankan pemerintahan yang stabil.

Sebagian besar isi buku Fields of Blood mengurai asumsi-asumsi masyarakat modern terhadap agama sebagai sumber utama kekerasan, dan Karen Armstrong melakukan pekerjaan yang sangat rapi dalam memperlihatkan bagaimana asumsi tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga jauh dari akurat. Gagasan-gagasan Konfusius, Gautama Buddha, hingga Yesus dari Nazareth dan Muhammad dari Mekah, berbicara tentang welas kasih, kesetaraan, dan keadilan sosial.

Sekularisme, yang pada mulanya dicetuskan untuk memisahkan urusan negara dengan agama demi kemajuan negara, merupakan sasaran kritik Karen Armstrong di buku ini. Sekularisme, berasal dari kata dalam bahasa latin saeculum yang berarti "waktu tertentu" atau "tempat tertentu", dimunculkan sebagai alternatif ideologi yang hendak membawa masyarakat ke kehidupan yang lebih baik dalam hal berkurangnya tingkat kekerasan yang selama ini dituduhkan pada agama.

Hal ini dibuktikan Karen Armstrong sebagai kekeliruan yang gamblang. Sekularisme pada zaman modern membawa kekerasannya sendiri. Represi negara meninggalkan cedera sejarah yang sering meradikalkan tradisi agama dan bahkan dapat mendorong visi yang awalnya damai menjadi kekerasan. Pengeboman World Trade Center merupakan buah kerumitan imperialisme dan penindasan sistemik yang bersumber dari sekularisme.

Selain menjelaskan tentang hubungan agama dan kekerasan, Fields of Blood bisa dibaca sebagai kritik tajam terhadap sekularisme sebagai gagasan modern yang digadang-gadang menjadi jawaban atas sisi gelap agama. Namun, sentimen nasionalisme dari negara-bangsa yang memisahkan agama dari kehidupan sosial dan tatanan politik, maupun yang merangkulnya, sama-sama berbahaya.

Pada bagian penutup buku, Karen Armstrong meluncurkan pertanyaan kontemplatif, bahwa "Jika orang-orang mengklaim agama telah bertanggungjawab atas lebih banyak perang, penindasan, dan penderitaan manusia, kita harus bertanya lebih dari apa?" Pemisahan agama dari kehidupan sosial dan politik untuk menyucikan kegiatan tersebut sesungguhnya telah melahirkan agama nasional yang baru. Sesuatu yang kemudian terbukti melahirkan kekerasan yang tidak berbeda dari apa yang dituduhkan terhadap agama-agama.

Fields of Blood buku yang bagus untuk memahami dan melacak asumsi-asumsi kita mengenai hubungan agama dan kekerasan. Buku ini membukakan pandangan kita terhadap semangat baik agama dan bagian gelap modernisme. ***

16 Januari 2018

Along With the Gods




Sebelum menonton Along With the Gods, yang saya tahu tentang film-film produksi Korea hanya drama cinta yang sedih-sedih atau yang lucu-lucu. Namun, ketika suatu hari melihat poster film Korea yang tampaknya beraroma fantasi, saya langsung tertarik. Dengan video-video musik K-pop yang kerap memperlihatkan teknologi efek visual yang canggih, bagaimana jadinya jika Korea membuat film drama fantasi? Bakal seperti apa filmnya?

Jawabannya: keren. Film fantasi Korea keren banget.

Selama ini saya hanya pernah menonton film-film fantasi yang diproduksi Hollywood. Teknologi computer-generated imagery atau yang lebih sering dikenal dengan singkatan CGI milik Hollywood tentu tidak perlu dipertanyakan lagi kecanggihannya. Hingga hari ini sudah banyak film-film Hollywood bagus yang menampilkan kecanggihan CGI sebagai satu dari sekian aspek yang diunggulkan. Sebut saja misalnya Avatar atau favorit saya, serial Harry Potter.

Namun, Korea merupakan hal baru buat saya, terutama dalam hal film layar lebar bergenre fantasi. Sejujurnya saya belum pernah menonton film Korea bergenre fantasi. Along With the Gods adalah pengalaman pertama, dan pengalaman pertama yang sangat menyenangkan.

Along With the Gods bercerita tentang seorang pria yang bekerja sebagai pemadam kebakaran, yang suatu hari tewas ketika menyelamatkan anak kecil dari gedung yang terbakar. Tepat saat kematiannya, dia dijemput dua orang malaikat atau dewa pelindung (kelak satu orang malaikat atau dewa pelindung lagi akan bergabung, menjadi tiga) yang mendampinginya melewati 7 persidangan di akhirat, agar dapat bereinkarnasi.

Pemadam kebakaran yang baru saja tewas ini ternyata dianggap oleh akhirat merupakan seorang "Paragon", atau suri tauladan, dan karenanya dia akan mendapat banyak kemudahan dalam melewati 7 persidangan akhirat. Konflik batin muncul di hati si pemadam kebakaran, karena dia tahu dirinya sama sekali bukan suri tauladan seperti yang akhirat putuskan terhadapnya. Kelak kita akan mengetahui mengapa dia berpikir demikian, dan hal ini yang akan menjadi inti cerita.

Along With the Gods sudah membuat saya gembira sejak awal karena visualnya yang memanjakan mata. Mulai warna-warna pakaian dan pemandangan yang kontras, kostum para pemeran yang keren, dan visual akhirat beserta neraka-neraka dan dewa penjaganya yang bikin saya merasa seperti sedang menonton game. Tidak terkecuali penampakan pedang, kilatan-kilatan cahaya, api, dan monster-monster neraka yang muncul. Bagi seseorang yang menyukai genre fantasi dan gim konsol, visual Along With the Gods akan jadi sesuatu yang menggembirakan.

Bagian favorit saya: saat salah satu dari malaikat pelindung kejar-kejaran dengan seorang roh pendendam yang kelakuannya di dunia mengacaukan situasi di akhirat.

Namun, kegembiraan saya tidak berhenti di efek visual yang menyenangkan. Along With the Gods adalah film Korea, jadi sejak awal selayaknya kita mengantisipasi sesuatu yang sedih-sedih. Benar, ternyata selain film fantasi yang seru, film ini juga bikin nangis. Saya enggak bakal menutup-nutupi, iya saya sempat menitikkan airmata di bagian mendekati akhir dari film ini. Korea juaranya bikin penonton nangis, dan ternyata filmnya yang bergenre fantasi bukan pengecualian.

Pengalaman menonton Along With the Gods didukung banget sama studio 4DX CGV Blitz. Setiap kali terjadi pertarungan antara malaikat-malaikat atau dewa-dewa pelindung dengan monster-monster neraka dan roh pendendam di dunia, atau ketika terjadi sesuatu di setiap neraka yang mereka lintasi, kursi yang saya duduki goyang-goyang, asap keluar dari bawah, cipratan halus air menyembur ke muka, asap yang betul-betul keciuman, dan angin yang dingin mengembus dari samping. Efek-efek studio 4DX bikin saya seolah-olah berada di dalam neraka dan di sebelah dewa-dewa pelindung serta roh pendendam, menyaksikan mereka bertarung dari jarak sangat dekat!

Along With the Gods bikin saya tertarik untuk mencari dan menonton film-film Korea bergenre fantasi yang lainnya. Desain kostum, efek visual, dan karakterisasi tokoh-tokohnya kuat dan membekas di ingatan. Bagi kalian yang pengin menonton Along With the Gods, saya sangat rekomendasikan menonton filmnya di studio 4DX CGV Blitz. Pengalamannya immersive, dan memorable banget! Cek jadwal filmnya sekarang juga di website CGV Blitz dan tonton filmnya!


12 Januari 2018

WE, Yevgeny Zamyatin



Hal terbaru yang saya kerjakan tahun ini: menerjemahkan novel. Sejak akhir tahun lalu, hingga awal tahun ini, saya menerjemahkan novel We (1924) karya Yevgeny Zamyatin (1884-1937), penulis Rusia era Uni-Soviet. Saya menemukan novelnya secara tidak sengaja ketika mencari bahan bacaan di Internet. Setelah beres membaca dan merasa novel ini sangat bagus, saya tergerak untuk menerjemahkannya. Usut punya usut, secara kebetulan ada penerbit yang memang ingin menerjemahkan novel ini. Saya menawarkan diri, dan mereka mengiyakan.

Novel We bercerita tentang dunia distopia kira-kira pada abad ke-26. Sebagian pembacanya menganggap novel ini merupakan pelopor genre distopia, yang kemudian dikembangkan dan menjadi lebih populer oleh karya-karya sastra berikutnya seperti Brave New World Aldous Huxley dan 1984 George Orwell. Film-film Hollywood genre distopia yang modern dan populer seperti trilogi The Hunger Games, The Maze Runner, dan semacamnya, merupakan variasi atas dunia dan gagasan-gagasan yang telah muncul sebagai embrio dalam novel We.

We, Yevgeny Zamyatin, akan diterbitkan oleh Noura Publishing. Rencananya mungkin bulan keempat atau kelimat. Saat ini naskah sudah berada di tangan editor. Ini pengalaman yang cukup baru buat saya, walaupun saya sudah pernah menerjemahkan beberapa cerita pendek yang saya suka dan ditayangkan di blog ini. Mari sama-sama berdoa prosesnya lancar agar We dapat hadir sesuai rencana dan lekas dinikmati teman-teman semua.

Hidup Para Digit!



Bara