23 Januari 2018

Fields of Blood, Karen Armstrong





Orang-orang modern berasumsi bahwa agama merupakan salah satu sumber utama terjadinya peristiwa kekerasan berskala besar. Asumsi tersebut tidak membuat heran, jika didasarkan pada insiden seperti pengeboman gedung World Trade Center di Amerika pada 9 September 2001 (yang kemudian melahirkan ketakutan akut terhadap Islam atau dikenal dengan istilah islamophobia) dan kejadian-kejadian bersifat teror lainnya yang terkait atau dikait-kaitkan dengan agama. Namun, seberapa akurat kah asumsi itu? Apakah agama, seperti dianggap sebagian orang modern, merupakan sesuatu yang mengandung kekerasan secara inheren?

Karen Armstrong menjawabnya dengan cukup jelas dalam buku Fields of Blood (2014). Fields of Blood, dengan tagline di halaman depan "Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan" betul-betul melakukan apa yang dijanjikannya. Karen Armstrong mengurai simpul ruwet hubungan agama dan kekerasan melalui kisah-kisah kekerasan sistemik yang terjadi sejak zaman pramodern hingga masa terkini, dan penjelasan-penjelasan dari sumber teks setiap agama terkait.

Mundur hingga ke tahun 5000 SM, Karen Armstrong memulai misinya menguraikan hubungan agama dan kekerasan dengan kisah tentang peradaban bangsa Sumeria di dataran Mesopotamia. Pada bagian permulaan ini, Karen Armstrong menjelaskan bagaimana perkembangan masyarakat Sumeria termasuk pengaturan politik bangsa dan agama Mesopotamia, yang merupakan bentuk awal agama pramodern. Gagasan "agama" ini sangat berbeda, bahkan berkebalikan dari gagasan modern kita tentang "agama" sebagai pengalaman spiritual pribadi.

Agama di masa pramodern pada dasarnya adalah urusan politik dan tidak terpisahkan dari kegiatan perekonomian, birokrasi, seni, dan sains. Hal ini disebabkan terutama karena ada upaya untuk menanamkan makna ke dalam eksperimen manusia yang problematik dan berani. Peradaban menuntut pengorbanan, dan orang Sumeria harus meyakinkan diri bahwa apa yang mereka tuntut dari kaum tani memang diperlukan dan sepadan.

Pemerintahan agraria pada masa pramodern melihat negara sebagai milik pribadi dan petani semata-mata berfungsi sebagai pemasok sumber daya alam. Kekerasan terhadap petani dan peperangan yang merupakan ciri peradaban pramodern berkelindan dengan pemujaan kepada dewa-dewa. Karen Armstrong membedah narasi puisi Atra-hasis, tablet tahun 1700 SM bertatahkan epik tentang perselisihan dewa-dewa yang berujung pada penciptaan manusia untuk menanggung beban mereka.

Cerita perkembangan "agama" zaman pramodern ini berlanjut dengan bab-bab berikutnya mengenai religiusitas di India dan Cina. Sekelompok keluarga terpelajar dari bangsa Arya yang bermigrasi ke anak Benua India mengembangkan antologi himne yang telah diwahyukan kepada resi (rishi) zaman dulu dan menambahkan puisi baru mereka, menjadi Rig Weda, yang kemudian dikenal sebagai Weda ("pengetahuan"). Pada periode ini, kekerasan masih terjadi dalam proses peperangan sebagai bagian dari perkembangan peradaban, yang di dalamnya melibatkan dewa-dewa dan manusia.

Hubungan manusia dan dewa-dewa teruraikan pula dalam kebudayaan Cina kuno, yang menganggap bahwa pada awalnya manusia tidak terbedakan dengan binatang. Kemanusiaan bukan sesuatu yang ada sejak semula, melainkan dibentuk dan dibuat oleh penguasa negara. Mitos Raja-Raja Bijak pada penghujung Dinasti Zhou (485-221 SM) menunjukkan peradaban yang tidak bisa bertahan tanpa kekerasan.

Kekerasan dalam sejarah awal Israel bermula pada pengusiran Adam dan Hawa dari surga. Karena ketidakpatuhannya, Adam diturunkan ke bumi untuk menggarap tanah bukan sebagai tuannya, melainkan budak. Pentateuch, lima kitab pertama Alkitab, yang kisah di dalamnya dimulai sekitar 1750 SM ketika Yahweh memerintahkan Abraham menetap di Kanaan, menampilkan pula kisah Yosua sebagai pengganti Musa yang memimpin bangsa Israel pasca perbudakan Mesir dengan menghancurkan semua kota Kanaan dan membantai penghuninya.

Akan tetapi, peristiwa tersebut tidak diperkuat oleh catatan arkeologis. Tidak ada bukti penghancuran massal yang diceritakan dalam Kitab Yosua dan tidak ada indikasi tentang invasi asing yang dahsyat.

Kritik terhadap catatan kekerasan di tiap-tiap agama seperti itu dilakukan Karen Armstrong dalam setiap bab yang ditulisnya. Pada penjelasan mengenai religiusitas India kuno, Karen Armstrong membahas dilema Ashoka, kaisar yang terguncang oleh penderitaan yang disaksikannya sepanjang pertempuran di awal masa kekuasaannya. Ashoka dilanda perasaan dilematis karena kekerasan tersebut membuatnya menyesal sekaligus bingung karena melihat tak ada alternatif lain yang lebih baik untuk mempertahankan pemerintahan yang stabil.

Sebagian besar isi buku Fields of Blood mengurai asumsi-asumsi masyarakat modern terhadap agama sebagai sumber utama kekerasan, dan Karen Armstrong melakukan pekerjaan yang sangat rapi dalam memperlihatkan bagaimana asumsi tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga jauh dari akurat. Gagasan-gagasan Konfusius, Gautama Buddha, hingga Yesus dari Nazareth dan Muhammad dari Mekah, berbicara tentang welas kasih, kesetaraan, dan keadilan sosial.

Sekularisme, yang pada mulanya dicetuskan untuk memisahkan urusan negara dengan agama demi kemajuan negara, merupakan sasaran kritik Karen Armstrong di buku ini. Sekularisme, berasal dari kata dalam bahasa latin saeculum yang berarti "waktu tertentu" atau "tempat tertentu", dimunculkan sebagai alternatif ideologi yang hendak membawa masyarakat ke kehidupan yang lebih baik dalam hal berkurangnya tingkat kekerasan yang selama ini dituduhkan pada agama.

Hal ini dibuktikan Karen Armstrong sebagai kekeliruan yang gamblang. Sekularisme pada zaman modern membawa kekerasannya sendiri. Represi negara meninggalkan cedera sejarah yang sering meradikalkan tradisi agama dan bahkan dapat mendorong visi yang awalnya damai menjadi kekerasan. Pengeboman World Trade Center merupakan buah kerumitan imperialisme dan penindasan sistemik yang bersumber dari sekularisme.

Selain menjelaskan tentang hubungan agama dan kekerasan, Fields of Blood bisa dibaca sebagai kritik tajam terhadap sekularisme sebagai gagasan modern yang digadang-gadang menjadi jawaban atas sisi gelap agama. Namun, sentimen nasionalisme dari negara-bangsa yang memisahkan agama dari kehidupan sosial dan tatanan politik, maupun yang merangkulnya, sama-sama berbahaya.

Pada bagian penutup buku, Karen Armstrong meluncurkan pertanyaan kontemplatif, bahwa "Jika orang-orang mengklaim agama telah bertanggungjawab atas lebih banyak perang, penindasan, dan penderitaan manusia, kita harus bertanya lebih dari apa?" Pemisahan agama dari kehidupan sosial dan politik untuk menyucikan kegiatan tersebut sesungguhnya telah melahirkan agama nasional yang baru. Sesuatu yang kemudian terbukti melahirkan kekerasan yang tidak berbeda dari apa yang dituduhkan terhadap agama-agama.

Fields of Blood buku yang bagus untuk memahami dan melacak asumsi-asumsi kita mengenai hubungan agama dan kekerasan. Buku ini membukakan pandangan kita terhadap semangat baik agama dan bagian gelap modernisme. ***

2 komentar:

Ayu Welirang mengatakan...

anu.. Mas Ben, mau meralat nih. Kayaknya WTC itu 9-11 alias 11 September 2001, bukan 9 September. :D

budhi sugeng mengatakan...

Duhhh belum sempat ke beli...😁 , Ulasan yg menarik mas, mantap