29 Januari 2018

God, Reza Aslan



Tiga ratus ribu tahun lalu, Tuhan telah menunjukkan tanda-tanda keberadaannya di dunia. Seiring manusia berevolusi, Tuhan pun mengalami perubahan yang radikal dan, seringkali, membuat manusia sendiri kebingungan dalam memahaminya. Manusia, bahkan hingga saat ini, masih terus bertanya dan mencari kebenaran mengenai Tuhan. Esensi, keberadaan, fungsi, dan maknanya. Salah satu yang barangkali cukup mengganggu adalah pertanyaan berikut. Mana yang benar: Tuhan yang menciptakan manusia, atau manusia yang menciptakan Tuhan?

Pertanyaan itu salah satunya yang ditawarkan dan dijawab sendiri oleh buku God, Reza Aslan. Buku ini menjelaskan bagaimana awal ceritanya manusia bisa memikirkan Tuhan, dan selanjutnya melalui rangkaian peristiwa sejarah dan perubahan budaya yang panjang, menciptakan apa yang kemudian kita kenal sebagai agama. Buku terakhir yang saya baca yang membahas topik tersebut adalah Sejarah Tuhan, Karen Armstrong. Buku bagus. God dari Reza Aslan membahas cakupan yang mirip dengan lebih ringkas.

Buku God terasa seperti novel karena memiliki protagonis, yaitu Adam dan Hawa. Reza Aslan menggunakan pasangan manusia tersebut untuk menjelaskan perkembangan hubungan manusia dengan Tuhan dan agama-agama. Meski demikian, saya tak begitu fokus pada keberadaan Adam dan Hawa dalam cerita Reza Aslan, karena saya tidak tahu Adam dan Hawa dari sumber mana yang dia pakai, sebab Adam dan Hawa yang saya pahami dalam Islam punya cerita yang berbeda.

Reza Aslan memulai bukunya dengan pemaparan tentang situs-situs purbakala yang menampilkan gambar-gambar primitif yang mengindikasikan awal mula kesadaran spiritual manusia. Pemaparan ini disusul dengan penjelasan kehidupan manusia (Adam dan Hawa setelah diusir dari taman surga) zaman paleolitikum. Ini masa ketika manusia hidup dengan berburu binatang dan mengumpulkan makanan.

Bagian penting tahap ini adalah cerita tentang Hawa yang melihat "wajah di pohon" ketika sedang berada di hutan mengumpulkan makanan. Hawa terkejut menemukan pohon yang berwajah seperti manusia, dan menceritakannya kepada Adam ketika mereka bertemu di gua.

Momen Hawa melihat "wajah di pohon" ini adalah apa yang oleh ilmuwan kognitif sebagai Hypersensitive Agency Detection Device (HADD). Sederhananya, HADD adalah apa yang membuat manusia mendeteksi bentuk-bentuk seperti atau yang berasal dari kegiatan manusia, pada momen-momen alam yang tak terjelaskan (bentuk wajah di awan, suara-suara yang tidak kelihatan sumbernya, dan lain-lain).

Teori kognitif lainnya adalah apa yang disebut dengan Theory of Mind, yakni fungsi pada otak manusia yang membuat manusia mampu memahami orang lain sebagaimana dirinya sendiri. Tidak hanya itu, karena fungsi ini manusia juga, secara instingtif, melekatkan sifat-sifat dirinya ke apapun yang menyerupai dirinya. Misalnya, ketika kita melihat sesuatu yang seperti kepala dan wajah, maka secara instingtif, kita meyakini bahwa sesuatu tersebut haruslah seperti kita.

HADD dan Theory of Mind menjelaskan bagaimana mulanya pemicu untuk berketuhanan muncul dalam otak manusia, di samping kesadaran manusia tentang keberadaan jiwa (soul), sesuatu yang menurut Reza Aslan tidak kita ketahui sebab-musababnya. Kedua penjelasan mengenai aktivitas kognitif manusia tersebut pula yang menjawab mengapa manusia memahami Tuhan sebagai sesuatu yang bertindak seperti manusia, dan tepat inilah yang menjadi salah satu persoalan penting yang dibahas di buku God: permasalahan dalam memahami Tuhan sebagai sesuatu yang antropomorfis.

Manusia memanusiakan Tuhan pada awalnya karena hanya dengan cara itu manusia dapat memahami, serta memaknai Tuhan. Tidak terpikirkan sebelumnya oleh manusia bagaimana bisa merasakan hubungan dengan Tuhan, jika Tuhan tidak berpikir dan bertingkahlaku seperti manusia. Pandangan seperti inilah yang kemudian membuat manusia yang pada zaman bertani dan hidup menetap merekatkan pada fenomena-fenomena alam, sosok "tuhan" atau dewa-dewa, yang memiliki sifat-sifat manusiawi.

Persoalan dari memanusiakan Tuhan (humanizing god) adalah, kita jadi tidak hanya merekatkan sifat-sifat manusia yang baik kepadanya, tetapi juga sifat-sifat buruk. Tuhan menjadi tidak hanya mengasihi dan melindungi, tetapi juga membenci dan menghancurkan. Manusia mulai bertanya-tanya: bagaimana bisa Tuhan memiliki, di dalam dirinya, sifat-sifat yang bertentangan? Bagaimana bisa Tuhan menciptakan dan juga membunuh? Bagaimana bisa Tuhan laki-laki sekaligus perempuan?

Tindakan memanusiakan Tuhan yang membingungkan ini masih terus berlangsung hingga zamannya agama-agama samawi. Reza Aslan menutupnya dengan jawaban yang sepertinya dia peroleh dari perjalanan spiritual pribadinya: sufisme. Sufisme menjadi titik akhir persoalan memanusiakan Tuhan dengan memberikan cara pandang yang melepaskan kemanusiaan dari Tuhan (dehumanizing god), tetapi Reza Aslan tidak membahas banyak mengenai ini.

Bagian-bagian mengenai agama-agama samawi lebih berfokus pada prinsip mendasar mengenai ketuhanan yang diusung agama-agama tersebut. Yahudi dengan keyakinan pada satu Tuhan yakni Yahweh/Elohim (kita akan mendapatkan penjelasan ringkas yang cukup menyenangkan tentang proses penggabungan "dua Tuhan" yang seakan-akan berbeda), Kristen dengan Trinitas (terdapat penjeasan mengenai perdebatan mengenai Bapa, Putera, dan Roh Kudus), dan Islam dengan tauhid (keyakinan pada Tuhan yang esa). Penjelasan tersebut disertai pemaparan peristiwa sejarah, yang juga singkat-singkat.

Saya sempat merasa agak kecele oleh tebal bukunya yang hampir tiga ratus halaman, sebab ternyata isi bukunya hanya lebih sedikit dari separuhnya. Penjelasan merinci tentang paragraf-paragraf singkat di bab-bab yang juga pendek, diletakkan Reza Aslan di bagian belakang buku sebagai catatan kaki/bagian dari daftar pustaka. Bab-bab pendeknya membuat God mudah dibaca, di samping gaya bahasa Reza Aslan yang juga kadang-kadang rada nyeleneh, mengingatkan saya pada gaya bertutur Richard Dawkins di buku-bukunya yang juga menyenangkan.

Bagi yang ingin mengetahui sejarah perkembangan relasi manusia dengan Tuhan, God bisa jadi buku pengantar yang cocok. Meski demikian, untuk cakupan yang mirip dan informasi yang lebih rinci, saya merekomendasikan Sejarah Tuhan, Karen Armstrong. Saya melihat God lebih sebagai cara halus Reza Aslan menganjurkan sufisme sebagai jawaban atas problematika yang muncul akibat memanusiakan Tuhan (Reza Aslan sendiri pada mulanya menganut Islam, kemudian Kristen, dan yang terakhir kembali ke Islam sufisme). ***

3 komentar:

Gunardi omex mengatakan...

Boleh nih beli bukunya ....

ada di gramedia ngak?

salam

Jual Septic Tank

m4le mengatakan...

Belum ada kyknya. Krn buku itu versi bhs inggris

benz mengatakan...

Iya belum ada.