27 Januari 2018

Maze Runner: The Death Cure



Film Hollywood genre distopia sudah menjadi salah satu personal favourite saya sejak lama. Barangkali karena semenjak kecil, saya menyenangi cerita-cerita bergenre fantasi. Bagi saya, cerita bergenre distopia semacam kisah fantasi versi dewasa, karena selain memuat plot petualangan seperti umumnya kisah-kisah fantasi, tetapi juga kadang-kadang (bahkan seringkali) memiliki dimensi sosial dan politik yang kental.

Pada kemunculannya yang pertama di layar lebar tiga tahun lalu, film The Maze Runner (2014) langsung menarik perhatian saya. Ide tentang sekumpulan anak remaja yang diletakkan di tengah-tengah “arena” berbentuk labirin untuk berjuang antara hidup dan mati, seketika memantik rasa penasaran. Apa yang akan mereka temui di dalam labirin? Dengan cara apa mereka bertahan hidup? Siapa yang meletakkan mereka di sana? Untuk apa?

Baru setelah selesai menonton The Maze Runner (2014) saya tahu bahwa film tersebut, dan kedua film setelahnya, merupakan adaptasi dari novel berjudul serupa karangan James Dashner. Sekuel filmnya berturut-turut, The Scorch Trials (2015) dan The Death Cure (2018) adalah cerita yang menjawab pertanyaan-pertanyaan pertama saya di paragraf sebelumnya, dan menyajikan plot yang lebih rumit dan tidak kalah menegangkan dibanding pendahulunya.

Maze Runner: The Death Cure bagian akhir dari trilogi The Maze Runner, tayang tiga tahun setelah The Scorch Trials. Jarak yang cukup lama, sehingga saya perlu agak mengingat kembali apa yang terjadi di film sebelumnya. Untungnya, seakan memahami hal tersebut, The Death Cure menampilkan beberapa adegan yang akan mengembalikan kita ke bagian-bagian penting dari cerita awal The Maze Runner. Jadi tidak begitu sulit bagi saya mengikuti The Death Cure.

Meski demikian, tidak ada salahnya jika menonton ulang The Maze Runner dan The Scorch Trials, sebelum menikmati ketegangan yang cukup panjang di The Death Cure (total durasi 141 menit).

Fokus utama film Maze Runner: The Death Cure adalah misi penyelamatan salah seorang sahabat sekaligus rekan Thomas sang protagonis, yakni Minho. Adegan pembuka film mengingatkan saya pada opening salah satu seri Fast & Furious: satu skuad mobil mengejar kereta barang dalam sebuah misi pembajakan.

Adegan yang menegangkan ini jadi betul-betul terasa immersive, karena saya menontonnya di studio 4DX CGV Blitz. Dari beberapa kali menonton di studio 4DX CGV, di film Maze Runner: The Death Cure efek getaran kursinya paling berasa. Kalibrasi timing getaran kursi dengan momen-momen gerakan mobil yang melaju, melayang, dan menubruk daratan, betul-betul pas, sehingga ketika menonton saya sungguh-sungguh merasa seolah sedang berada di mobil Thomas atau Brenda. Beberapa menit pertama Maze Runner: The Death Cure memberi kesan yang sangat baik dan membuat saya bersemangat untuk bagian selanjutnya.

Jika The Maze Runner yang pertama berfokus pada perjuangan para remaja bahan eksperimen dalam arena labirin yang mengerikan dan penuh bahaya, The Scorch Trials berkutat pada pencarian regu sekutu merancang penyerangan terhadap korporasi besar bernama WCKD (Wicked) yang menjadi biang kerok dari apa yang dialami para remaja tersebut, termasuk Thomas, maka The Death Cure adalah eksekusi terhadap WCKD.

Sekaligus, pengungkapan jawaban atas seluruh rangkaian eksperimen WCKD.

Untuk film berdurasi hampir dua setengah jam, saya harus akui The Death Cure jauh dari kata membosankan. Barangkali karena saya sudah terpikat sejak awal oleh ide meletakkan anak-anak remaja dalam eksperimen menggunakan arena labirin. Sisanya adalah kisah persahabatan, pengkhianatan, dan pengorbanan yang mengharukan.

Satu lagi, saya harus acung jempol untuk tim efek visual The Death Cure. Sosok Crank (manusia yang sudah sepenuhnya terinfeksi Virus Suar) betul-betul tampil dengan meyakinkan. Visual pembuluh-pembuluh darah yang berwarna gelap di permukaan kulit tangan dan wajah, tangan dan kaki yang hancur akibat infeksi, dan aura mayat hidup yang berbahaya sungguh-sungguh bikin tegang. Sensasi melihat segerombolan Crank yang mengepung Thomas dan kawan-kawan seperti yang saya alami ketika menonton film-film zombie yang menakutkan.

The Death Cure sarat dengan adegan-adegan aksi yang menegangkan. Bagian pembukanya betul-betul didukung oleh kalibrasi kursi dan efek di studio 4DX CGV Blitz. Namun, adegan-adegan aksi yang terjadi setelahnya pun tidak kalah menegangkan. Bau asap, cipratan air, dan embusan angin di padang pasir luas yang menggigilkan, semuanya betul-betul terasa di studio, seakan-akan saya tidak berada di atas kursi bioskop, melainkan bergabung dengan Thomas mencari Minho.


Bagi kamu yang sudah mengikuti serial Maze Runner, The Death Cure adalah penutup yang menyenangkan. Jangan lupa, untuk pengalaman dan sensasi menonton yang lebih seru, tonton The Death Cure di studio 4DX CGV Blitz. Saya jamin, kamu akan setuju dengan pendapat saya tentang adegan pembukanya yang betul-betul seru! Segera cek jadwalnya di CGV Blitz dan tonton filmnya!

5 komentar:

Annisa Dewi mengatakan...

saya agak nggak terima kalau newt akhirnya harus tewas. tapi setelah ending dibacakan surat dari newt untuk thomas, seketika meleleh sayaaa dan yaaa mau nggak mau harus tetep nerima ending yang begitu hikss

benz mengatakan...

Jangan dibongkar di sini atuh! : ) )

Muhamad Septian Wijaya mengatakan...

Hahaha saya juga suka bang film ini, sampe nangis hahaha kmrn nontonnya. Penantian yg lama emang, tapi worth it banget sih setelqh nonton.

Amy Rahmiyanti mengatakan...

Suka divergent atau maze runne?

Agus Sutisna mengatakan...

Dua duanya.