17 Februari 2018

Sapiens, Yuval Noah Harari





Secara ringkas, Sapiens adalah buku cukup tebal yang menceritakan perjalanan hidup manusia dari menjadi anggota kerajaan binatang yang tidak berarti hingga kesuksesan mereka menjelma Tuhan. Kata “mereka” bisa kita ganti “kita”, karena memang begitulah adanya. Buku ini bercerita tentang kita, manusia yang tadinya merupakan spesies tak penting kini menjadi yang paling berkuasa di muka bumi.

Yuval Noah Harari, sejarawan berkebangsaan Israel dan profesor sejarah di Hebrew University of Jerusalem, membuka dongengnya di buku Sapiens dengan gambaran efektif tentang kondisi semesta pada 13,5 miliar tahun silam: Ledakan Besar. Lantas, secara teratur ia memberikan pemahaman tentang apa yang disebut fisika, kimia, dan biologi. Dari sana, ia memberitahu tiga peristiwa penting yang membentuk riwayat manusia. Riwayat kita.

Tiga peristiwa tersebut adalah Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian, dan Revolusi Sains. Revolusi Kognitif merupakan peristiwa tatkala manusia mengembangkan kemampuan mentalnya untuk melakukan apa yang selama ini belum pernah mereka lakukan. Revolusi Pertanian merupakan periode ketika manusia mulai berhenti mencari makanan dengan terus berpindah tempat untuk kemudian menanam dan mendomestikasi binatang-binatang lain. Sedangkan Revolusi Sains adalah masa manusia membangun teknologi untuk barangkali mencapai sesuatu yang berada setelah mereka. Sesuatu yang disebut adimanusia.

Perlu diingat bahwa “manusia” dalam buku ini merujuk pada Homo sapiens, yakni spesies kita sendiri. Pada bab pertama Sapiens, Yuval Noah Harari dengan segera mengingatkan kita akan fakta kecil penting yang barangkali dilupakan oleh banyak manusia-yang juga merupakan salah satu hal terpenting dalam buku ini-bahwa kita, sapiens, bukan satu-satunya Homo. Kita bukan satu-satunya spesies dalam genus Homo, dan jelas bukan satu-satunya penghuni bumi.

Dengan narasi yang padat dan tajam, Yuval Noah Harari mengantarkan pembaca pada pengetahuan tentang bagaimana kita, sapiens, berevolusi menjadi spesies paling cerdas, berkuasa, sekaligus berbahaya di alam bumi. Secara sengaja maupun tidak, kita menyingkirkan dan barangkali menjadi salah satu penyebab punahnya saudara-saudara kita, Homo yang lain, di antaranya erectus, Neandertal, dan Denisova.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Homo sapiens memiliki bahasa yang kompleks dan memungkinkan kita membangun sebuah fiksi. Hewan-hewan lain dapat memberitahu anggota kawanannya akan keberadaan ancaman dengan serangkaian kode (berupa suara maupun tindakan), tetapi hanya kita, Homo sapiens, yang dapat menyampaikan pesan mengenai sesuatu yang belum tentu nyata. Dengan kata lain, kita mampu berimajinasi.

Apa dampak kemampuan berimajinasi ini? Ternyata sangat besar. Imajinasi dan keterampilan membangun fiksi membuat manusia dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama. Hal ini yang menjadi pembeda krusial Homo sapiens dengan Homo lain dan juga binatang-binatang lain. Menurut penelitian psikologi dan kebiasaan hewan, satu orang anggota hanya dapat mengenal dengan baik serta mempengaruhi paling banyak 150 orang anggota kawanannya. Lebih dari itu, komunikasi kehilangan kekuatannya.

Namun, kita, Sang Manusia Bijak, dapat mengarang sebentuk fiksi yang membuat manusia di tempat lain dalam kelompok yang lain melakukan hal serupa seperti apa yang kita lakukan. Misalnya, ketika seekor rusa melihat seekor singa, ia dapat memberi peringatan kepada kawanannya bahwa ada seekor singa. Akan tetapi, Homo sapiens dapat berkata kepada anggota kawanannya bahwa singa tersebut merupakan arwah penjaga hutan.

Fiksi adalah fitur canggih yang baru dimiliki Homo sapiens dan tidak Homo lainnya. Fiksi kemudian menjadi alat penentu yang membuat manusia mampu bergerak bersama-sama dalam jumlah sangat besar. Tatkala sekelompok amat besar anggota manusia bertindak bersama, tidak yang tidak bisa dilakukan. Ekspansi, penjajahan, bahkan pemusnahan masal. Apapun.

Setelah Revolusi Kognitif, tahapan berikutnya mengubah posisi Homo sapiens secara signifikan adalah Revolusi Pertanian. Manusia dari jenis sebelumnya, atau yang kita kenal sebagai manusia purba, hidup berpindah-pindah dan memakan beragam sumber makanan. Tidak terpikirkan oleh mereka untuk menanam makanan maupun beternak hewan untuk konsumsi sehari-hari. Tatkala menemukan fungsi api sebagai alat memasak dan mulai berpikir untuk mendomestikasi hewan, Homo sapiens mulai membangun tempat tinggal permanen dan menanam makanannya sendiri.

Kekhawatiran akan masa depan salah satunya merupakan pemicu yang membuat manusia mengumpulkan benda-benda, termasuk suplai makanan. Melalui serangkaian pengalaman, manusia tahu bahwa ada musim-musim ketika mereka kesulitan mendapatkan makanan. Maka manusia mulai menanam dan menyimpan makanan untuk masa-masa paceklik atau musim yang kurang baik.

Namun, penemuan keterampilan bercocok tanam tersebut membawa musibah baru yang tidak disadari manusia. Manusia jadi memiliki tuntutan-tuntutan baru untuk melakukan produksi makanan lebih banyak, dan pada akhirnya membuat diri mereka (kita) lebih sibuk dan kehilangan waktu berharga daripada sebelum-sebelumnya. Ketakutan akan ketidakpastian, keinginan untuk memiliki kemudahan hidup membuat manusia menciptakan cara-cara yang di kemudian hari ternyata dapat menjebak diri mereka sendiri.

Revolusi terakhir yang kini masih berlangsung hingga revolusi berikutnya terjadi, adalah Revolusi Sains. Hingga periode ini tiba, manusia merasa sudah tahu akan segala hal yang bisa mereka lihat dalam lingkup tempat tinggalnya maupun area kekuasaannya (kita akan banyak membaca kisah-kisah umum mengenai imperium dan koloni di bagian ini dalam buku Sapiens), tetapi baru setelah manusia mengakui ketidaktahuan mereka, ilmu pengetahuan berkembang dalam ketukan yang cepat tak terbendung.

Manusia menciptakan penemuan-penemuan baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahkan dalam imajinasi paling liar manusia sekalipun. Manusia bahkan melihat kemungkinan untuk mengembangkan spesies mereka sendiri, menciptakan sesuatu yang kelak akan kita sebut adimanusia. Bergerak jauh melalui serangkaian revolusi canggih, manusia bertransformasi dari binatang yang tak berarti hingga sosok yang menyerupai Tuhan.

Buku ini ditulis dengan sangat apik oleh Yuval Noah Harari. Pemilihan kata yang akurat dan kalimat-kalimat yang menggugah membuat kita larut dalam sejarah jutaan tahun hidup manusia. Buku ini mestinya membuat kita mengingat kembali bahwa kita bukan satu-satunya makhluk yang layak atas bumi ini, dan dengan demikian membuat kita lebih berhati-hati, sembari menebus dosa-dosa yang telah kita lakukan terhadap saudara-saudara kita yang lain: binatang-binatang yang tersisa. Buku ini seharusnya membuat manusia tidak lagi congkak menganggap dirinya Manusia Bijak (Homo sapiens) selagi kita masih melakukan banyak kehancuran di muka bumi. ***

2 Februari 2018

Pertunjukan Paling Agung di Bumi, Richard Dawkins





Saya tidak tahu banyak tentang teori evolusi, tapi barangkali teori ini salah satu yang sejak awal kemunculannya hingga sekarang masih terus menjadi bahan yang banyak dikaji, dikomentari, ditegaskan, dan dilawan. Dalam kepala saya, Charles Darwin dan teorinya mengenai seleksi alam hanya hidup sebagai potongan-potongan ingatan yang datang dari masa-masa bersekolah. Saya senang pelajaran Biologi, tapi pada saat itu saya tidak begitu meletakkan perhatian pada Charles Darwin, apalagi ilmuwan-ilmuwan yang menyusul di belakangnya.

Bahkan hingga saat ini saya belum pernah membaca bukunya yang monumental itu, On the Origin of the Species, terbit pada pertengahan abad kedelapanbelas. Saya justru mengenal potongan-potongan teorinya dari ilmuwan-ilmuwan kontemporer yang meneruskan kiprah Darwin dalam pembahasan mengenai sejarah dan perkembangan manusia, termasuk di antaranya Richard Dawkins, yang buku-bukunya saya sukai, tidak terkecuali yang saya tulis dalam catatan ini, Pertunjukan Paling Agung di Bumi.

Pertunjukan Paling Agung di Bumi adalah terjemahan bahasa Indonesia untuk bukunya yang berbahasa Inggris, The Greatest Show on Earth. Richard Dawkins membuka buku ini dengan pernyataan mengenai banyaknya buku yang membahas teori evolusi, tanpa memperlihatkan bukti-bukti bagi evolusi itu sendiri. Richard Dawkins tampak sekali ingin mengatakan, melalui penegasan yang diulang-ulang, bahwa "teori evolusi" bukanlah "teori", melainkan "evolusi" saja, dan demi tujuan tersebut, Dawkins menulis sebuah buku tebal berisi banyak bukti akan terjadinya evolusi.

Pada dasarnya, dalam buku ini Richard Dawkins memperlihatkan sembari menjelaskan proses serta bukti-bukti evolusi pada beberapa spesies hewan, sekaligus memberi bantahan-bantahan umum terhadap "teori evolusi" dan prinsip-prinsip Darwinian, termasuk salah satunya anggapan mengenai "mata rantai yang hilang" atas kesimpulan Charles Darwin mengenai simpanse dan manusia yang berbagi nenek moyang yang sama. Dawkins juga berulangkali menjernihkan pernyataan ini, yang menurutnya kerap disalahpahami oleh orang-orang yang membantah "teori evolusi". Manusia tidak berevolusi dari simpanse, dia menegaskan dengan nada kalimat yang agak kesal, melainkan berbagi nenek moyang yang sama dengan simpanse, meskipun sangat mungkin nenek moyang bersama tersebut lebih mirip simpanse ketimbang manusia.

Meski demikian, pembahasan mengenai manusia dalam buku Pertunjukan Paling Agung di Bumi tidak lebih banyak dibanding pemaparan bukti-bukti evolusi pada spesies serangga, burung, dan reptil. Malah, spesies manusia hanya memperoleh satu-dua bab pendek dalam buku setebal tidak kurang dari lima ratus halaman ini (versi terjemahan Indonesia). Walaupun, pada pemaparan mengenai serangga, burung, dan reptil (ada bab yang juga khusus membahas kura-kura) Dawkins menghubungkannya dengan anggapan-anggapan masyarakat umum mengenai evolusi manusia.

Bagian yang menarik bagi saya dari buku ini adalah bab yang menjelaskan bagaimana waktu dihitung dari sudut pandang evolusi. Jam evolusi, dijelaskan Dawkins dalam bab-bab yang cukup panjang dan merinci sebagaimana bab-bab lainnya mengenai bukti-bukti evolusi, dihitung dengan beragam cara, di antaranya meneliti cincin-cincin pohon (ingat pelajaran waktu sekolah tentang "lingkaran tahun"?), terumbu karang, dan sesuatu yang disebut dengan jam radioaktif, yakni menghitung usia batuan beku melalui zat-zat radioaktif yang terkandung di dalamnya. Dengan acara inilah ilmuwan mengetahui, dalam perkiraan yang kasar, seberapa tua planet bumi yang kita huni.

Hal menarik lainnya bagi saya adalah bab-bab yang menyinggung sedikit mengenai embriologi, tapi tidak cukup merinci dan seperti anjuran Dawkins, saya perlu mencari buku lain jika ingin mengetahui lebih dalam tentang topik ini. Dawkins membahas embriologi dalam konteks menjawab pertanyaan masyarakat awam tentang proses evolusi yang tidak cukup masuk akal. Hampir seluruh isi buku ini, selain ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat awam, juga barangkali bahkan terutama, ditujukan kepada pernyataan-pernyataan kaum kreasionis yang menentang teori evolusi (saya sendiri belum membaca banyak tentang apa itu kaum kreasionis dan bagaimana pemikiran mereka).

Khususnya bagi yang tertarik dengan teori evolusi, sejarah kehidupan, dan tema-tema biologi, Pertunjukan Paling Agung di Bumi akan jadi buku yang menarik untuk dibaca. Siapkan waktu yang cukup untuk mengikuti pemaparan Dawkins yang amat merinci mengenai bukti-bukti evolusi di beragam spesies hewan (Dawkins sangat rinci dalam buku ini). Meski demikian, tidak perlu khawatir akan merasa bosan, karena gaya tutur Dawkins yang kadang-kadang mengandung sarkasme yang eksplisit akan sangat menghibur dan bikin betah membaca bukunya hingga selesai. ***